Rabu, 01 Juni 2011

Kristus Adalah Cahaya Kemuliaan Allah

Nats : Ibrani 1:1-3
Selain orang Kristen, siapakah yang bisa melihat arti sejarah? Kalau sejarah hanyalah sesuatu yang membabi buta, tidak mengenal arah, kita pasti merasa cukup berarti untuk melangsungkan hidup ini. Tetapi Tuhan berkata, dunia ini akan mengarah pada satu titik akhir yang mulia. Saat itu, Pewaris, yaitu Kristus yang pernah diberi kesempatan oleh Allah untuk menciptakan segala sesuatu, dan yang menopang segala sesuatu akan mewarisi segala sesuatu. Inilah konsep filsafat sejarah orang Kristen.

Proses sejarah mempunyai titik Alfa dan titik Omega, dari manakah kita yang berada di antara kedua titik ini memperoleh cahaya hidup? Satu kali, dalam soal ujian SIM terdapat pertanyaan: ketika malam hari, ada berapa buah lampu yang menerangi jalan dari Surabaya ke Jakarta? Ada yang menjawab, saya tidak tahu. Ada yang menjawab, pasti ada puluhan ribu lampu. Adapun jawaban yang paling tepat adalah dua buah lampu, yaitu lampu mobil yang saya kendarai. Kita memerlukan cahaya di jalan, itu sebabnya dikatakan di sini, Yesus bukan hanya merupakan Alpha Point, Omega Point, supporting power, Dia juga adalah cahaya yang berada di dalam jalan ini. Alangkah indahya Firman Tuhan! Baca ay.3. Kita bersyukur kepada Tuhan, karena di dalam hidup kita pernah ada cahaya yang menerangi kita, yang membawa kita kepada arah yang benar.

Di dalam sejarah ada cahaya, di dalam hidup setiap pribadi juga ada cahaya dan cahaya adalah sesuatu yang dicipta pada urutan pertama dalam penciptaan. Pada waktu Allah menciptakan segala sesuatu, yang pertama-tama Dia ciptakan adalah terang; Let there be light. Allah menciptakan segala sesuatu, di dalam prosesnya akan mengalami kerusakan, sehingga perlu ada pembaharuan, untuk itu yang pertama-tama kita butuhkan dalam hidup, tetap adalah cahaya, maka Tuhan memerintahkan cahaya muncul dari tengah kegelapan untuk menyinari hati manusia. Let there be light; jadilah terang. Ketika kalimat Oratorio Creation itu diserahkan kepada Joseph Haydn dengan pesan: waktu kau menggubah: liriknya waktu sampai di bagian ini, hanya boleh dinyanyikan satu kali saja, tidak boleh diulang. Tuntutan ini merupakan tantangan yang besar sekali. Karena di dalam lagu-lagu Messiah yang ditulis oleh George Frederick Handel puluhan tahun sebalumnya selalu menggunakan tehnik counter punch yang memungkinkan pengulangan-pengulangan. Haydn merasa gentar waktu menuliskan lagu yang mengutarakan kebesaran ciptaan Tuhan yang pertama ini dan akhirnya dia berhasil mengisahkan kejadian tersebut dengan dramatis: paduan suara menyanyikan, Roh Allah beredar di dunia.
Kemudian, dengan iringan musik yang lembut sekali suara Bariton mewakili Tuhan berkata, jadilah terang. Maka that was light. Light dinyanyikan dengan volume kira-kira 20 kali lebih keras dibandingkan suara lembut yang mengawalinya sambil diiringi seluruh orkestra.

Waktu pementasan perdana dilangsungkan di Viena, Hyden sendiri hadir untuk memastikan apakah kalimat itu sudah dinyanyikan sebagaimana mestinya. Setelah kalimat and that was light dinyanyikan oleh paduan suara dengan begitu meriah, dia tidak bisa menahan tangisnya, dengan berdiri dia berteriak, itu bukan dari saya melainkan Tuhan Allah-lah yang menolong saya. Karena begitu exciting, dia yang sudah sangat tua itu jatuh pingsan. Musik yang agung tidak mungkin ditulis hanya berdasar pada bakat yang dari Tuhan saja, karena selain bakat, juga memerlukan penyertaan Tuhan.

Terang adalah ciptaan Allah yang pertama, terang adalah sesuatu yang sangat ajaib dan sangat sulit dimengerti. Sir Isaac Newton menemukan terang memiliki warna warni yang mulia, hanya saja tidak terlihat oleh mata kita, kecuali kalau kita melihat cahaya lewat kaca yang berbentuk segitiga barulah kita dapat melihat apa yang terkandung di dalam terang. Artinya di dalam terang yang kita anggap biasa itu terdapat kemuliaan warna-warna polychrome, dengan kata lain, sebelum dia memberikan penerangan yang membuat kau bisa membedakan warna merah, biru, kuning, hitam, putih dan sebagainya, cahaya itu sendiri mengandung kemuliaan warna-warni yang luar biasa berlimpah. Inilah kalimat yang kita dapati di ay. 3: Dia adalah cahaya dari kemuliaan Tuhan Allah. Kristus bukan hanya the Lord, the Creator, Dia juga adalah cahaya kemuliaan Allah—the Revealer, sang Pewahyu.

Maka kebenaran yang dinyatakan di dalam Ibr. 1:1-3 adalah kebenaran yang berlimpah, yang melampaui kebenaran mana pun dan itulah kebenaran yang diajarkan kepada orang Kristen. Siapakah Kristus? Pencipta. Siapakah Kristus? Pewahyu. Dari mana kita tahu bahwa Dia adalah Pewahyu? Kalimat Dia adalah cahaya kemuliaan Tuhan mempunyai arti Tuhan kita adalah Tuhan yang mulia, tetapi kemuliaanNya tidak mungkin kita lihat, kecuali kemuliaan itu memancarkan cahaya yang dapat kita saksikan.
Ayat ini mengindikasikan Christ is the Revealor of the glory of God, Christ manifest the glory of God in His own light.

Saya merasa tidak layak membahas tentang apa itu light, karena ketika para ahli fisika menyelidiki cahaya, mereka telah menemukan paradoks yang luar biasa besarnya: cahaya adalah sesuatu yang bisa dilihat tetapi tidak bisa diukur beratnya. Bukankah segala sesuatu yang dapat kita lihat dapat diukur beratnya? Memang, kita bisa mengukur semua benda yang kita lihat, bahkan kita bisa mengukur berat dari udara yang tidak kita lihat, mengapa cahaya bisa dilihat justru tidak bisa diukur beratnya? Ini adalah hal yang ajaib. Dan yang lebih ajaib lagi: terang yang bisa dilihat dan tidak bisa diukur beratnya ini mempunyai kecepatan.

Sampai di manakah kecepatan terang? Abad ke-19 telah menemukan, kecepatan terang adalah seratus delapan puluh enam ribu mil per detik. Bumi ini berputar satu kali kira-kira dua puluh empat ribu sekian mil, itu artinya cahaya hanya membutuhkan sepertujuh detik sudah bisa mengelilingi bumi satu kali. Bagaimana manusia bisa menemukan kecepatan yang begitu tinggi? Bagaimana mereka bisa memastikan bahwa penemuan itu benar adanya? Semua itu tidak saya mengerti, tetapi melalui penemuan-penemuan Tuhan membuat manusia semakin hari semakin mengerti cahaya. Saya kira, andai melalui ilmu fisika kita bisa mengerti cahaya dengan sepenuhnya itu berarti kita hanya mengerti cahaya yang berada di dunia materi, sedangkan cahaya yang dimaksudkan di ayat ini jauh lebih dari itu.

Para ahli fisika menyelidiki apa itu cahaya, namun Alkitab telah menuliskan di halaman pertamanya: let there be light. Tuhan juga berkata, I am your light. Yesus berkata, I am the light of the world, Dia juga berpesan, you must be the light of the world too. Inilah ayat-ayat Alkitab yang berbicara tentang cahaya, yang berkesinambungan dari titik permulaan sampai titik akhir di dalam kekekalan. Kelak kita tidak membutuhkan lampu lagi. Karena Christ is the light of the new world.

Ay. 3, di mana ada cahaya, di situ ada penerangan. Peneranganlah yang memungkinkan kita melihat segala sesuatu seturut faktanya. Apakah pakaian ini cukup bersih, apakah toga ini sudah kotor, apakah bangunan ini terawat dengan baik, tanpa cahaya kita tidak mungkin mengetahui dengan jelas. Tanpa cahaya, orang berkulit putih dan orang berkulit hitam sama-sama terlihat hitam, tetapi begitu ada cahaya, kita bisa langsung membedakan. Mengapa? Karena cahaya menyatakan semuanya, seperti yang sudah kita bahas di Ef.5. Di dalam bahasa Ibrani cahaya disebut nur, yang kemudian berubah menjadi hati nurani di dalam bahasa Indonesia. Jika seseorang mempunyai nur di dalam hatinya, hidupnya beres. Tetapi bila hatinya tidak mempunyai nur, maka hidupnya tidak beres.

Siapakah cahaya yang ada di dalam hati manusia? Roh yang dicipta menurut peta teladan Tuhan Allah. Maka di dalam Amsal dikatakan, the spirit of man is the lantern of God; roh manusia adalah cahaya dari Tuhan Allah. Allah tidak memberikan cahaya di dalam hati binatang yang diciptakanNya, tapi Dia memberikan roh yang adalah cahaya diriNya sendiri di dalam hati manusia. Cahaya adalah created light, sedangkan Yesus Kristus adalah cahaya yang mencipta bukan cahaya yang dicipta. Siapakah Kristus? Dia adalah cahaya kemuliaan Tuhan. Orang yang bertemu Yesus Kristus sama halnya bertemu dengan terang. Apakah reaksi orang yang bertemu dengan terang?
Membenci
Senang
Memperoleh manfaat dari cahaya itu

Pada waktu kita memberi cahaya kepada seseorang, ada tiga jenis reaksi yang mungkin dia berikan kepada kita:

menolak cahaya.
Mengapa? Karena manusia memang suka berada di dalam gelap, tidak suka diterangi. Orang-orang yang sudah terbiasa bekerja di pertambangan tidak menikmati cahaya dari luar, hanya mengandalkan lampu, karena itu diafragma mata mereka membesar hingga cahaya yang minim sekalipun sudah cukup bagi mereka untuk melihat segala sesuatu. Namun kalau mereka dibawa ke permukaan bumi, sinar matahari mungkin akan membutakan mereka. Karena mereka belum sempat menyesuaikan diafragma matanya sudah bertemu dengan cahaya yang besar, itu sangat berbahaya bagi syaraf mata mereka. Begitu juga orang yang hidup di dalam dosa, dia tidak mau menerima teguran Firman Tuhan secara mendadak. Yesus berkata, ada orang tidak menyukai terang. Baca Yoh.3:17-21. Ay.21 memberitahukan dua macam reaksi manusia kepada terang: Membenci terang atau datang kepada terang.

Mengapa ada orang yang membenci terang? Karena mereka hidup di dalam kegelapan. Di zaman Yesus, orang-orang Israel berseru kepada Allah: datanglah, Mesias! Sepertinya mereka begitu merindukan kedatangan Yesus, tapi waktu Yesus sudah datang mereka justru membenci Dia. Apa sebabnya? KhotbahNya membongkar dosa-dosa mereka dan mereka tidak mau bertobat, maka mereka yang tiap-tiap hari berseru, datanglah ya Mesias, mereka jugalah yang membawa Yesus kepada Pilatus, Kayafas, Herodes bahkan ke Golgota.

Suka akan terang. Karenanya mereka mau hidup di dalam terang, mau tahu apakah hal-hal yang mereka kerjakan itu sesuai dengan kehendak Allah atau tidak. Kata Yohanes, orang yang datang kepada terang suka akan cahaya.
Inilah prinsip Alkitab.
Orang yang menemukan kemuliaan di dalam terang. Bukan hanya menyukai terang, bahkan menggunakan terang untuk mengenali arah.

Orang yang menjadikan terang sebagai obyek penyelidikan, ingin tahu apa yang ada di dalam terang.
Terang juga rela diketahui oleh manusia. Itulah the nature of the revelation of God God likes you to search, to know, to study, to analyze the Bible as the revelation of God, agar kita tahu betapa berlimpahnya Kitab Suci.

He is the light of the glory of God. Apakah kita sudah menjadi terang? Di mana terang berada di situ terdapat energi, kekuatan dari panas. Mengapa kita dingin, tidak berapi-api? Mengapa kita begitu getol mencari uang tapi begitu dingin mencari kebenaran Tuhan? Mengapa kita begitu bergairah dalam mengejar profit tapi kita tidak memandang hal mengabarkan Injil, mengikuti kebaktian doa, membawa jiwa baru sebagai sesuatu yang mendatangkan profit?
Karena kita merasa hal-hal itu tidak penting, tapi kalau tidak punya uang kita merasa akan mati. Celakalah orang yang berpikir seperti itu. Selama puluhan tahun kau hanya tahu mengejar profit tapi tidak pernah memikirkan bagaimana mengetahui kekayaan dan kemuliaan yang tersimpan di dalam cahaya Kristus. Padahal apa yang kau peroleh di dalam dunia ini tidak mendapatkan tempat di sorga, hanya yang kau lakukan bagi Tuhan akan disimpan sampai selama-lamanya.

Bukan saja demikian, cahaya juga bisa memberi petunjuk. Sebagai orang Kristen, di manapun kau berada, kau harus memberi arah yang benar kepada orang-orang disekitarmu.
Karena Yesus berkata, you are the light of the world. Yesus adalah cahaya sumber dari segala cahaya.

Terakhir, di mana ada cahaya, di situ ada pengorbanan diri. Yesus adalah cahaya yang mulia, cahaya yang mengorbankan diri, Dia juga menghendaki kita mengorbankan diri agar bisa bercahaya seperti Dia. Meski emas bukan cahaya itu sendiri, namun emas pernah dibakar dan dimurnikan, sehingga emas bisa merefleksikan cahaya. Berlian mengkilap, karena pernah diasah dan dipotong. Demikian juga kalau kita mau bercahaya, biarlah kita berkata kepada Tuhan, make me as a sacrifice, make me a student of Jesus Christ, make me learn from my Lord in order to reflect the shining glory of God, to be the light of the world. Maukah saudara berkata seperti itu kepada Tuhan

Ringkasan Khotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : http://id-id.facebook.com/topic.php?uid=287247211376&topic=14198

Tidak ada komentar: