Tampilkan postingan dengan label Visions. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Visions. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Januari 2016

Kemenangan Semu

Kalau ribut dengan pelanggan, Walaupun kita menang,
Pelanggan tetap akan lari.

Kalau ribut dengan rekan sekerja,  Walaupun kita menang,
Tiada lagi semangat bekerja dalam tim.


Kalau kita ribut dengan boss, Walaupun kita menang,
Tiada lagi masa depan di tempat itu.

Kalau kita ribut dengan keluarga, Walaupun kita menang,
Hubungan kekeluargaan akan renggang.

Kalau kita ribut dengan guru, Walaupun kita menang,
Keberkahan menuntut ilmu dan kemesraan itu akan hilang

Kalau ribut dengan kawan, Walaupun kita menang,
Yang pasti kita akan kekurangan kawan.

Kalau ribut dengan pasangan, Walaupun kita menang,
Perasaan sayang pasti akan berkurang.

Kalau kita ribut dengan siapapun, Walaupun kita menang,
Kita tetap kalah…

Yang menang cuma ego diri sendiri, itu hanyalah kemenangan semu. Yang susah adalah mengalahkan ego diri sendiri. Namun, jika kita mampu menaklukan diri sendiri, ialah pemenang sejati.


Apabila menerima teguran, tidak perlu marah, bersyukurlah, masih ada yang mau menegur kesalahan kita.

...


Sumber : https://www.instagram.com/p/6_hs-8Nbhb/

Sabtu, 29 November 2014

Pengalaman Buruk

Louis Armstrong
Louis Armstrong dilahirkan di New Orleans pada 04 Agustus 1901 (ada yang mengatakan 04 Juli 1900). Pada malam tahun baru ketika ia berusia 13 tahun, ia ikut dalam perayaan tersebut dan menembakkan pistol milik ayah tirinya ke udara. Ia segera ditahan polisi dan dimasukkan ke penampungan anak kulit hitam, Home for Colored Waifs.


Rumah itu ketat dan sangat disiplin. Meski demikian, rumah itu memiliki marching band yang terkenal. Louis sangat ingin bergabung. Ia memohon pada pemimpin band, Peter Davis untuk mendapat kesempatan audisi. Tetapi Davis menolak.

Selama enam bulan, ia menunda memenuhi permintaan Louis, sampai akhirnya menyerah dan mengundang anak itu ikut latihan band. Ketika Louis tiba, ia disodori tamborin. Hanya seminggu setelah itu, Pak Davis mengijinkannya memainkan alto horn. Kemudian terompet dan akhirnya cornet. Davis tidak hanya mengajarkan musik kepada Louis tetapi juga disiplin, nilai moral, dan keyakinan.

Setahun di bawah bimbingan Davis, Louis menerima penghargaan tertinggi dalam hidupnya. Ia ditunjuk menjadi pemimpin band sekolah itu. Louis Armstrong muncul, menunjukkan talenta, kepemimpinan dan sifat murah hati yang membuatnya menonjol selama kariernya.

Usia 35, ia mengadakan tur ke seluruh Eropa bersama bandnya sendiri. Sampai saat ini, seluruh dunia mengenalnya sebagai biangnya musik jazz dan pemusik jenius. Ia dikenal sebagai sosok karismatik di atas panggung, suara parau sekaligus permainan trompetnya, pengaruh Armstrong jauh melampaui musik jazz. Pada akhir kariernya pada tahun 1960-an, ia secara luas dianggap berpengaruh besar terhadap musik populer secara umum. Armstrong adalah salah satu dari penghibur Afrika-Amerika populer pertama yang berhasil “lintas ras”. Di Amerika Serikat yang waktu itu sangat terbagi menurut ras, musiknya justru lebih penting daripada warna kulitnya. Ia jarang memolitikkan rasnya sehingga sering mengecewakan sesama Afrika-Amerika.

Langkah kejayaan Louis dimulai dari kenakalannya,

“Tembakan itu, saya yakin telah memulai karir saya. Kesuksesan bermula pada waktu saya ditahan sebagai anak berusia 13 tahun yang berulah. Hal itu membuat saya harus berhenti berjalan di tempat, dan mulai mempelajari sesuatu. Yang terpenting, saya mulai mempelajari musik.”

“Kita mungkin tidak menyadarinya ketika hal itu terjadi, tetapi pengalaman buruk kadang menjadi hal terbaik bagi Kita.” (Walt Disney)

...
Sumber : http://www.nusahati.com/2014/01/pengalaman-buruk/

Minggu, 31 Agustus 2014

Mulai Dari Hal Kecil





Pada sebuah acara motivasi dan pengembangan diri, sang motivator meminta para peserta seminar yang menggunakan jam tangan analog untuk maju ke depan podium. Lima peserta maju dan diminta untuk meletakkan pergelangan tangan di belakang tubuh, agar jam tangan mereka tidak terlihat. - See more at: http://www.nusahati.com/2013/12/mulai-dari-hal-kecil/#sthash.yH0H5zlJ.dpuf

Pada sebuah acara motivasi dan pengembangan diri, sang motivator meminta para peserta seminar yang menggunakan jam tangan analog untuk maju ke depan podium. Lima peserta maju dan diminta untuk meletakkan pergelangan tangan di belakang tubuh, agar jam tangan mereka tidak terlihat.


Setelah memastikan bahwa jam tangan itu tak terlihat, sang motivator menanyakan pada masing-masing peserta berapa usia dan harga jam tangan mereka. Hampir semua pemilik jam tangan ingat berapa usia dan harga mereka, hampir semua jam tangan yang dimiliki telah berusia lebih dari satu tahun. Sang motivator lalu tersenyum dan menanyakan pertanyaan kedua.

“Kalau Anda semua ingat berapa usia dan harga jam tangan tersebut, sekarang coba Anda ingat, berapa kali Anda melihat jam tangan itu setiap hari?”


Semua peserta yang maju mengatakan bahwa mereka sangat sering melihat waktu pada jam tangan itu. Hampir setiap satu jam sekali mereka melihat, bahkan bisa beberapa menit sekali jika mereka sedang menunggu kedatangan seseorang atau bosan. Lalu sang motivator mengatakan,

“Jika sudah memiliki jam tangan ini dalam waktu yang lama, sering memakainya bahkan sering melihat waktu pada jam tangan Anda, ingat juga dengan harganya, sekarang silahkan Anda ingat, tangan tetap di belakang ya! Apakah penanda waktu pada jam tangan Anda memakai angka Arab (1, 2, 3, dst) atau angka Romawi (I, II, III, dst)?”

Para peserta tampak kebingungan dan berpikir keras untuk mengingat apakah penanda waktu pada jam tangan mereka memakai angka Arab atau Romawi. Satu persatu dari mereka menjawab dengan tidak yakin, ada yang memakai angka Arab, ada juga yang memakai angka romawi. Setelah menjawab, sang motivator meminta para peserta melihat jam tangan mereka untuk memastikan apakah tebakan mereka benar atau salah.

Ternyata… hampir semua peserta salah menebak penanda waktu pada jam tangan mereka, hanya satu yang benar. Bahkan ada peserta yang menjawab bahwa penanda jam tangannya memakai angka Romawi, padahal jam tangan miliknya hanya memakai penanda strip ( – ). Sang motivator lalu tertawa renyah dan berbicara dengan nada ramah,

“Loh, bagaimana ini, ingat harga jam tangan tapi kok hampir semua nggak ada yang ingat angka penanda waktu jam tangan sendiri. Padahal jika dalam sehari Anda semua melihat jam tangan itu sepuluh kali saja, sudah berapa ribu kali Anda melihat penanda waktu pada jam tangan Anda, tetapi hal kecil ini justru luput dari pandangan Anda. Yang Anda ingat justru hal besar, harganya saja,”

Sahabat, percobaan kecil ini menjadi tanda bahwa mayoritas dari kita seringkali meremehkan dan meluputkan hal-hal kecil yang sebenarnya justru membantu kita setiap hari. Kita lebih sering berterima kasih pada orang asing yang membawakan kantong belanja kita yang berat, tetapi sudahkah kita berterima kasih pada keluarga yang justru selalu membantu apapun yang kita butuhkan? Mulai dari hal yang kecil seperti mengingatkan waktu makan hingga bantuan tak ternilai lainnya. Kita seringkali meluputkan hal ini dari pandangan mata, padahal kita menerimanya hampir sepanjang hidup kita. Kita harus belajar lebih memerhatikan hal-hal kecil yang sangat berguna tetapi luput dari rasa terima kasih dan syukur kita.


Sumber: http://www.nusahati.com/2013/12/mulai-dari-hal-kecil/#sthash.yH0H5zlJ.dpuf

Rabu, 23 Juli 2014

Roti Gosong

Sebuah Apresiasi

Ketika aku masih anak perempuan kecil, Ibu suka membuat sarapan dan makan malam. Dan suatu malam, setelah ibu sudah membuat sarapan, bekerja keras sepanjang hari, malamnya menghidangkan sebuah piring berisi telur, saus dan roti panggang yang gosong di depan meja ayah. 

Saya ingat, saat itu menunggu apa reaksi dari orang-orang di situ!

Akan tetapi, yang dilakukan ayah adalah mengambil roti panggang itu, tersenyum pada ibu, dan menanyakan kegiatan saya di sekolah.  Saya tidak ingat apa yang dikatakan ayah malam itu, tetapi saya melihatnya mengoleskan mentega dan selai pada roti panggang itu dan menikmati setiap gigitannya!

Ketika saya beranjak dari meja makan malam itu, saya mendengar ibu meminta maaf pada ayah karena roti panggang yang gosong itu.

Dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang ayah katakan: “Sayang, aku suka roti panggang yang gosong.”

Sebelum tidur, saya pergi untuk memberikan ciuman selamat tidur pada ayah.  Saya bertanya apakah ayah benar-benar menyukai roti panggang gosong.

Ayah memeluk saya erat dengan kedua lengannya yang kekar dan berkata,

“Debbie, ibumu sudah bekerja keras sepanjang hari ini dan dia benar-benar lelah. Jadi sepotong roti panggang yang gosong tidak akan menyakiti siapa pun!”

Apa yang saya pelajari di tahun-tahun berikutnya adalah belajar untuk menerima kesalahan orang lain, dan memilih untuk merayakan perbedaannya – adalah satu kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh dan abadi.

Sumber : www.nusahati.com

Jumat, 31 Januari 2014

An Office Boy

A jobless man applied for the position of ‘office boy’ at a very big company. 

The employer interviewed him, then a test: clean the floor.
“You are hired.” – the employer said. ”Give me your email address, and I’ll send you the application to fill, as well as when you will start.”
The man replied, “I don’t have a computer, neither an email.”
“I’m sorry,” said the employer, “if you don’t have an email that means you do not exist. And who doesn’t exist, cannot have the job.”
The man left with no hope. He didn’t know what to do, with only $10 USD in his pocket.
He then decided to go to the supermarket, bought a 10kg tomato crate, then sold the tomatoes door to door. In less than two hours, he succeeded and doubled his capital.
He repeated the operation 3 times and returned home with $60 USD. The man realized that he could survive by this way, and started to go everyday earlier, and returned late. Thus, his money doubled or tripled everyday. Shortly later, he bought a cart, then a truck, and then he had his own fleet of delivery vehicles.
Five years later, the man’s company was one of the biggest food retailers. He started to plan his family’s future, and decided to have a life insurance.
He called an insurance broker and chose a protection plan. When the conversation was concluded, the broker asked him his email. The man replied: “I don’t have an email.”
The broker replied curiously, “You don’t have an email, and yet have succeeded to build an empire. Do you imagine what you could have done if you had an email?”
The man paused for a while, and replied: “An office boy!”

Don’t be discouraged if something is not in your favor today. 
Better opportunities are waiting ahead.


- See more at: http://www.nusahati.com/2014/01/an-office-boy/#sthash.SM5HauQl.dpuf

Rabu, 31 Juli 2013

Jendela Kereta Api



Hari itu, di kereta api terdapat seorang pemuda bersama ayahnya. Pemuda itu berusia 24 tahun, sudah cukup dewasa tentunya. Di dalam kereta, pemuda itu memandang keluar jendela kereta, lalu berkata pada ayahnya.

“Ayah lihat, pohon-pohon itu sedang berlarian”
Sepasang anak muda duduk berdekatan. Keduanya melihat pemuda 24 tahun tadi dengan kasihan. Bagaimana tidak, untuk seukuran usianya, kelakuan pemuda itu tampak begitu kekanakan.
Namun seolah tak peduli, si pemuda tadi tiba-tiba berkata lagi dengan antusiasnya, ”Ayah lihatlah, awan itu sepertinya sedang mengikut kita!”
Kedua pasangan muda itu tampak tak sabar, lalu berkata kepada sang Ayah dari pemuda itu. ”Kenapa Anda tidak membawa putra Anda itu ke seorang dokter yang bagus?
Sang Ayah tersebut hanya tersenyum, lalu berkata. “Sudah saya bawa, dan sebenarnya kami ini baru saja dari rumah sakit. Anak saya ini sebelumnya buta semenjak kecil, dan ia baru mendapatkan penglihatannya hari ini”
Sahabat, setiap manusia di planet ini memiliki ceritanya masing-masing. Jangan langsung kita men-judge seseorang sebelum kita mengenalnya benar. Karena kebenaran boleh jadi mengejutkan kita. Selalu berprasangka baik kepada setiap orang, karena itu yang  diajarkan kitab suci, dan itulah cara yang baik untuk hidup…

Sumber :  http://www.nusahati.com/2013/02/jendela-kereta-api/

Sabtu, 30 Maret 2013

Life Is Like A Kaleidoscope

Add caption
A Native American and his friend were in downtown New York City, walking near Times Square in Manhattan. It was during the noon lunch hour and the streets were filled with people. Cars were honking their horns, taxicabs were squealing around corners, sirens were wailing, and the sounds of the city were almost deafening. Suddenly, the Native American said, “I hear a cricket.”

His friend said, “What? You must be crazy. You couldn’t possibly hear a cricket in all of this noise!”
“No, I’m sure of it,” the Native American said, “I heard a cricket.”

“That’s crazy,” said the friend. The Native American listened carefully for a moment, and then walked across the street to a big cement planter where some shrubs were growing. He looked into the bushes, beneath the branches, and sure enough, he located a small cricket. His friend was utterly amazed.

“That’s incredible,” said his friend. “You must have superhuman ears!”

“No,” said the Native American. “My ears are no different from yours. It all depends on what you’re listening for.”

“But that can’t be!” said the friend. “I could never hear a cricket in this noise.”

“Yes, it’s true,” came the reply. “It depends on what is really important to you. Here, let me show you.” He reached into his pocket, pulled out a few coins, and discreetly dropped them on the sidewalk.

And then, even with the noise of the crowded street still blaring in their ears, they noticed every head within twenty feet turn and look to see if the money that tinkled on the pavement was theirs.

“See what I mean?” asked the Native American. “It all depends on what’s important to you.”


Sumber : http://www.nusahati.com/2012/11/life-is-like-a-kaleidoscope/

Tiada Gunanya Merasa Tidak Adil

Pada dinasti Han, ada 3 orang menteri yang bernama Zhi jian, Zhang Hong dan Gong Suntang. Meskipun 3 orang tersebut pada Dinasti Han dalam waktu yang sama menjadi menteri, tetapi situasi dan latar belakang mereka sangat berbeda.

Zhi Jian pertama datang ke ibukota menjadi pejabat, karena dia berpendidikan tinggi dan pintar, dia langsung diangkat menjadi menteri. Sedangkan Zhang & Gong mereka berdua sejak awal dari seorang pejabat posisi rendah, tetapi karena mereka rajin dan berprestasi oleh sebab itu mereka dipromosikan langkah demi langkah sampai kemudian menjadi menteri.

Walaupun pangkat Zhi sama tinggi dengan mereka berdua, tetapi karena Zhi ada seorang yang picik, melihat mereka berdua dari pejabat rendahan diangkat menjadi menteri, timbul iri hati, dia selalu mencari kesempatan mengadukan kejelekan mereka berdua dihadapan raja.

Pada suatu hari raja sedang berjalan-jalan di taman bunganya. Zhi lalu berpikir ini kesempatan bagus saya harus mempergunakannya, lalu dia bergegas berjalan mengejar raja dan berkata, “Paduka, ada sesuatu yang perlu saya sampaikan kepada paduka, apakah padaku bisa memberikan saya sedikit waktu?”

Raja bertanya, “Ada masalah apa? Coba ceritakan.” Zhi lalu berkata, “Paduka apakah paduka pernah melihat para petani menumpuk kayu bakar? Mereka selalu menumpuk kayu yang baru di bagian bawah, kayu yang lama diletakkan dibagian atas,  apakah baginda tidak merasa hal ini sangat tidak adil untuk kayu yang lama?” Raja sedikit tidak mengerti memandang kepada Zhi, “Engkau menceritakan hal ini apa artinya?”
Zhi berkata,: ”Coba paduka lihat, orang yang seperti Zhang dan Gong seorang pejabat kecil, menurut kepintaran dan senioritas mereka dibawah saya, tetapi mereka berdua yang belakangan menjabat sudah menjadi menteri, seharusnya pangkat saya lebih tinggi dari mereka, paduka dalam hal mempromosikan pejabat seperti petani tersebut menimbun kayu bakarnya bukankah demikian?”

Raja setelah mendengar perkataan Zhi sangat tidak senang, dia merasa Zhi demikian naïf, melihat masalah hanya dari permukaan saja, sangat tidak rasional. Sebenarnya raja sangat ingin memarahi Zhi, tetapi karena mengingat Zhi adalah menteri tua, raja hanya bisa menahan emosinya, tanpa berkata sepatahpun membalikkan badannya meninggalkan Zhi. Sejak saat itu raja tidak pernah lagi meminta saran pada Zhi, maka jabatannya tetap sama selamanya, tidak mungkin naik pangkat lagi.

Ketika Anda menemukan ketidak adilan dan frustasi, siapa yang akan muncul didalam benak Anda? Jika Zhi seperti orang yang dicerita diatas, hanya bisa menyalahkan dan iri hati kepada orang lain tidak mencari kedalam hati sendiri, mencari kekurangan diri sendiri, maka akan selamanya tetap ditempat yang sama tidak akan menemukan kebahagiaan dan peningkatan jiwa.

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/11/tiada-gunanya-merasa-tidak-adil/

Kamis, 28 Februari 2013

Ayah Dan Sang Bayi


Hati siapa yang tidak tersentuh melihat seorang pria menarik becak di siang hari yang panas sambil menggendong bayi? Hal ini benar-benar terjadi di India. Pria ini mengasuh bayinya karena sang istri meninggal setelah melahirkan dan tidak ada yang bersedia merawat sang bayi.
Dilansir Dailymail, nama pria ini adalah Bablu Jatav, 38 tahun. Dia dikaruniai seorang bayi perempuan yang diberi nama Damini setelah menikah selama 15 tahun dengan istrinya, Shanti. Pak Bablu mengatakan bahwa dia sangat senang diberkati seorang putri, tetapi dia menyimpan kesedihan mendalam karena sang istri meninggal sesaat setelah melahirkan.
“Shanti meninggal tidak lama setelah melahirkan di rumah sakit pada tanggal 20 September,” ujar pak Bablu. “Sejak saat itu, belum ada seorang pun yang mau merawat putri saya, sehingga saya yang merawatnya, bahkan pada saat saya menarik becak,” lanjutnya.
Pekerjaan pak Bablu sehari-hari adalah penarik becak di kota Bharatpur. Dia tidak memiliki saudara yang bisa merawat bayinya, sehingga jalan satu-satunya adalah merawat sang putri sambil bekerja. Pak Bablu menggendong bayinya dengan kain yang dililitkan di leher. Hal ini terpaksa dia lakukan, bahkan di tengah hari yang sangat panas.
“Saya harus membayar 500 rupee (Rp 55 ribu) per bulan untuk membayar sewa rumah  dan 30 rupee sehari untuk menyewa becak,” katanya. Bablu mengatakan dia takut untuk menikah lagi karena prioritas utamanya sekarang adalah untuk merawat dan membesarkan putrinya.
Kondisi ini memang memprihatinkan, terutama bagi Damini yang masih sangat kecil. Panasnya matahari dan kondisi jalanan membuatnya harus dilarikan di rumah sakit Jaipur beberapa waktu yang lalu. Sang bayi mengalami septikemia, anemia dan dehidrasi akut. Untungnya, kondisi sang bayi membaik setelah dirawat.
Berita ini dengan cepat menyebar di India, sehingga banyak tawaran bantuan yang diterima oleh pak Bablu. Besar kemungkinan bahwa pemerintah India setempat sedang memproses cara untuk membantu merawat sang bayi. Semoga bantuan segera datang, sehingga bayi perempuan ini mendapat perawatan yang lebih baik.

Selasa, 29 Januari 2013

Army Of Angels

A servant of God on furlough told the following true story while visiting his home chapel in Michigan:

”While serving at a small field hospital in Africa, every two weeks I traveled by bicycle through the jungle to a nearby city for supplies.  This was a journey of two days and required camping overnight at the halfway point.  On one of these journeys, I arrived in the city where I planned to collect money from a bank, purchase medicine, and supplies, and then begin my two-day journey back to the field hospital.

Upon arrival in the city, I observed two men fighting, one of whom had been seriously injured.  I treated him for his injuries and at the same time talked to him about the Lord.  I then traveled two days, camping overnight, and arrived home without incident…

Two weeks later I repeated my journey.  Upon arriving in the city, I was approached by the young man I had treated.  He told me that he had known I carried money and medicines.  He said, ”Some friends and I followed you into the jungle, knowing you would camp overnight.  We planned to kill you and take your money and the drugs.  But just as we were about to move into your camp, we saw that 26 armed guards surrounded you. ” At this, I laughed and said that I was certainly all alone in that jungle campsite.

The young man pressed the point, however, and said, ”No, sir, I was not the only person to see the guards, my friends also saw them and we all counted them.  It was because of those guards that we were afraid and left you alone.”

At this point in the sermon, one of the men in the congregation jumped to his feet and interrupted the servant of God and asked if he could tell him the exact day this happened.  The missionary told the congregation the date, and the man who interrupted told him this story.

”On the night of your incident in Africa, it was morning here and I was preparing to go play golf.  I was about to putt when I felt the urge to pray for you.   In fact, the urging of the Lord was so strong; I called some men in this chapel to meet with me here in the sanctuary to pray for you.  (Would all of those men who met with me on that day stand up?)”

The men who had met together to pray that day stood up.  The servant of God wasn’t concerned  with who they were;  he was too busy counting how many men he saw.  There were 26 men.

This story is an incredible example of how the Spirit of the Lord moves in mysterious ways.  If you ever hear such prodding, go along with it. As the above true story clearly illustrates,  ”with God all things are  possible.”  More importantly, God hears and answers the prayers of the faithful!  God works in mysterious ways?


Sumber : http://www.nusahati.com/2012/08/army-of-angels/

Minggu, 23 Desember 2012

Admin : Kebahagiaan Natal

Membaca Surat Khabar memiliki keasyikan tesendiri, dan mata tertuju pada sebuah jajak pendapat global yang digelar lembaga riset Gallup dimana lembaga ini telah mewawancarai  kurang lebih 150.000 responden di 148 negara di dunia tentang kebahagian. Kesimpulan mengejutkan bahwa orang yang tinggal di negara kaya dan makmur tidak sebahagia orang yang tinggal di negara yang produk domestik bruto per kapitanya rendah, konon katanya negara yang bahagia adalah negara yang memiliki dan memelihara nilai-nilai dasar budaya dalam masyarakat semisal memelihara pertemanan, keluarga, dan keagamaan walaupun kehidupan sehari-hari sulit.

Berbicara tentang bahagia saya teringat dengan apa yang dikatakan oleh Margareth istri dari seorang pembicara motivator tentang kebahagiaan bernama John Maxwell saat ditanya apakah dia bahagia bersuamikan John Maxwell dalam sesi tentang kebahagiaan saat itu. Margareth menjawab tidak!, semua orang heran dan terkejut.... " “No!” once again she said, “John Maxwell cannot make me happy.” Everybody looked at Maxwell. Then Margaret continued, “John Maxwell is a very good husband. He is never drunk, and cheats on me. He always tries to fulfil my needs physically and spiritually. But, He still cannot make me happy.” Suddenly there was a voice, “Why?” She said “because, no one in this world is responsible for my happiness than myself.” Hal yang ingin disampaikan oleh Margareth adalah diri kita sendiri yang bertanggung jawab menciptakan kebahagiaan itu.

Kebahagiaan!!! adalah hal yang dirindukan semua insan di dunia ini, khususnya di momentum Natal. Banyak cara dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan natal seperti mengulangi hal-hal istimewa yang pernah dirasakan di masa-masa kecil namun tidak mendapatkannya, bagi yang menyibukan diri dalam ritual-ritual Natal pun mungkin tidak mendapatkannya. Memaksakan diri tersenyum pada semua orang bahwa dia berbahagia pun akan menyusahkan diri lebih dalam, yang sedikit berbahagia adalah para pedagang yang menjual pernik-pernik natal. 

Saya mencoba membandingkan kedua hal di atas survey dan Margareth, dalam survey disimpulkan bahwa uang yang selama ini diyakini dapat membahagiakan pun tidak menjamin bahagia dan hidup lebih berarti, Sementara Margareth mengatakan kita sendirilah yang menentukan kebahagiaan itu. Bagaimana dengan saya? Ada saat dimana saya sedang memikirkan kebaikan dan kasih Tuhan saya berbahagia diluar itu saya menyedihkan.

Baru-baru ini saya diminta tolong oleh seorang teman, bahwa dia akan diwawancara dengan tema makna Natal bagi dia mewakili pemuda dalam komunitas gereja mereka, dia minta diberi gambaran tentang hal tersebut. Hal yang biasa jika saya ditanya tentang Pajak namun kali ini sedikit unik, Saya tidak terkejut dengan permintaan tersebut karena banyak pemuda dewasa dan remaja sekarang yang tidak paham hal tentang Natal sekalipun. Lalu saya memberikan suatu ayat renungan Bayi Natal oleh Pdt. Dr. Stephen Tong yang pernah saya baca. Ayat ini mungkin sering kita dengar dan baca berulang-ulang apalagi dalam suatu kebaktian Natal. Yesaya 9 ayat 5 "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." Ini adalah ayat yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya 700 tahun sebelum Kristus lahir. Ini adalah jawaban yang paling dicari oleh agama, filsafat dan kebudayaan manusia. Beribu-ribu tahun manusia menunggu siapakah yang dapat memberikan perdamaian, nasihat yang terbaik, cara paling ajaib untuk melepaskan kita dari kebodohan, kuasa besar dan bijaksana yang kekal kepada umat manusia, karena hanya Dia yang mampu memenuhi kebutuhan manusia akan hal-hal tersebut. Saya tegaskan kepada teman saya itu itu untuk mengajak pemuda bersama-sama merenungkannya, agar menjadi pemuda/i yang berbahagia dan tidak bersungut-sungut menghadapi hari yang makin jahat ini.

Dalam momen ini tidak lupa saya sebagai admin, mengucapkan kepada para pembaca setia Selamat Hari Natal, Tuhan Memberkati.



Senin, 15 Oktober 2012

Jika Ini Pun Terlupakan

Di sebuah pesta perpisahan sederhana pengunduran  diri seorang direktur. Diadakan sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan, dan  kritikan dari anak buah kepada mantan atasannya yang segera memasuki masa  pensiun dari perusahaan tersebut.

Karena waktu yang terbatas, kesempatan  tersebut dipersilahkan dinyatakan dalam bentuk tulisan. Diantara pujian dan  kesan yang diberikan, dipilih dan dibingkai untuk diabadikan kemudian dibacakan  di acara tersebut, yakni sebuah catatan dengan gaya tulisan coretan dari seorang  office boy yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu.

Dia menulis  semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut, “Yang terhormat Pak Direktur.  Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan kata “tolong” , setiap kali  Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah tanggung jawab saya. Terima kasih Pak  Direktur karena Bapak telah mengucapkan “maaf”, saat Bapak menegur,  mengingatkan dan berusaha memberitahu setiap kesalahan yang telah diperbuat  karena Bapak ingin saya merubahnya menjadi kebaikan.

Terima kasih Pak  Direktur karena Bapak selalu mengucapkan “terima kasih” kepada saya atas  hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk Bapak. Terima kasih Pak Direktur  atas semua penghargaan kepada orang kecil seperti saya sehingga saya bisa tetap  bekerja dengan sebaik-baiknya, dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan  dikecilkan. Dan sampai kapan pun bapak adalah Pak Direktur buat saya. Terima  kasih sekali lagi. Semoga Tuhan memberkati dimanapun Pak Direktur berada. ”

Setelah sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu, serentak  tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Diam-diam Pak Direktur mengusap genangan  airmata di sudut mata tuanya, terharu mendengar ungkapan hati seorang office boy  yang selama ini dengan setia melayani kebutuhan seluruh isi kantor.

Pak  Direktur tidak pernah menyangka sama sekali bahwa sikap dan ucapan yang selama  ini dilakukan, yang menurutnya begitu sederhana dan biasa-biasa saja, ternyata  mampu memberi arti bagi orang kecil seperti si office boy tersebut. Terpilihnya  tulisan itu untuk diabadikan, karena seluruh isi kantor itu setuju dan sepakat  bahwa keteladanan dan kepemimpinan Pak Direktur akan mereka teruskan sebagai  budaya di perusahaan itu.

“Terimakasih, Maaf, dan Tolong” adalah kata pendek yang sangat  sederhana tetapi mempunyai dampak yang positif. Namun mengapa kata-kata itu  kadang sangat sulit kita ucapkan? Sebenarnya secara tidak langsung telah  menunjukkan keberadaban dan kebesaran jiwa sosok manusia yang mengucapkannya.  Apalagi diucapkan oleh seorang pemimpin kepada bawahannya.

Tentu bagi siapapun kita perlu membiasakan mengucapkan  kata-kata pendek seperti terima kasih, maaf, dan tolong dimana pun, kapan pun,  dan dengan siapa pun kita berhubungan. Dengan mampu menghargai orang lain  minimal kita telah menghargai diri kita sendiri.


Sumber : http://www.nusahati.com/2012/08/jika-ini-pun-terlupakan/

Senin, 08 Oktober 2012

Surat Dari Grace

Ada seorang anak perempuan kecil yang bernama Grace Bedell, dan tinggal di New York. Saat berusia 11 tahun, dia menulis surat kepada seorang pria yang sangat terkenal. Surat itu berisi permintaan agar si pria tersebut memelihara jenggot. Grace menganggap wajah pria itu terlalu kurus, dan pria itu akan tampak lebih baik apabila berjenggot.

Suatu hari, ketika pria itu datang ke kota Grace, yaitu kota New York, dengan naik kereta api, dia minta untuk bertemu dengan Grace. Grace pun pergi menemuinya. Ketika pria itu melihat Grace, dia kemudian mencium Grace dan berkata. “Kamu lihat sendiri kan, aku membiarkan jenggot ini tumbuh untukmu, Grace.”

Siapakah pria ini? Anda mungkin sering melihat gambar atau photonya. Namanya tidaklah asing lagi, yaitu Abraham Lincoln, salah satu Presiden Amerika Serikat yang paling terkenal. Inilah isi Suratnya….

N Y
Westfield Chatauque Co
Oct 15. 1860
Hon A B Lincoln
Dear Sir
My father has just home from the fair and brought home your picture and Mr. Hamlin’s. I am a little girl only eleven years old, but want you should be President of the United States very much so I hope you wont think me very bold to write to such a great man as you are. Have you any little girls about as large as I am if so give them my love and tell her to write to me if you cannot answer this letter. I have got 4 brother’s and part of them will vote for you any way and if you will let your whiskers grow I will try and get the rest of them to vote for you   you would look a great deal better for your face is so thin. All the ladies like whiskers and they would tease their husband’s to vote for you and then you would be President. My father is a going to vote for you and if I was a man I would vote for you to but I will try and get every one to vote for you that I can   I think that rail fence around your picture makes it look very pretty   I have got a little baby sister she is nine weeks old and is just as cunning as can be. When you direct your letter dir[e]ct to Grace Bedell Westfield Chatauque County New York

I must not write any more   answer this letter right off
Good bye
Grace Bedell


Kita dapat membayangkan betapa gembiranya Grace, karena seorang presiden mau mendengarkannya. Bahwa surat seorang anak perempuan kecil seperti Grace, mampu mengubah sejarah.

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/07/surat-dari-grace/

Jumat, 31 Agustus 2012

Abraham Lincoln – Sebuah Surat

Dunia, bimbinglah anaku, ia mulai sekolah hari ini !. Semuanya akan menjadi asing dan baru baginya untuk sementara, dan saya berharap Anda memperlakukannya dengan lembut. Sampai sekarang, engkau lihat, ia adalah Raja yang berkuasa. Ia telah menjadi atasan di rumah. Saya selalu berada didekatnya untuk menyembuhkan luka-lukanya, dan saya selalu menolong untuk menenangkan perasaan-perasaannya.

Tetapi sekarang semuanya akan berubah. Pagi ini ia akan melangkah ke muka, melambaikan tangan, dan memulai petualangan besar yang mungkin akan berupa perang dan tragedi bahkan penderitaan.

Untuk hidup di dunia ini diperlukan kepercayaan dan cinta serta keberanian. Maka, dunia, saya berharap Anda akan menggandeng tangan kecilnya dan mengajarkan hal-hal yang harus ia ketahui. Ajarilah ia, tetapi dengan lembut, jika bisa.

Saya tahu, ia harus belajar bahwa tidak semua orang bersikap adil, bahwa tidak semua pria dan wanita bersikap baik. Ajarilah ia, bahwa pada semua orang jahat ada seorang pahlawan, bahwa pada semua musuh ada seorang teman. Biarkan ia belajar sejak dini bahwa orang yang suka menggertak adalah orang yang paling mudah menjilat.

Ajarilah ia keajaiban dari buku-buku. Berikan ia waktu yang tepat untuk merenungi misteri yang abadi dari burung-burung di langit, lebah di siang hari, dan bunga-bunga di bukit hijau. Ajarilah ia bahwa gagal adalah jauh lebih terhormat dari pada menipu. Ajarilah ia untuk memiliki keyakinan pada gagasan-gagasannya sendiri, meskipun setiap orang mengatakan gagasan-gagasannya salah.

Cobalah memberikan kekuatan pada anak saya untuk tidak mengikuti pergaulan, ketika semua orang mengikuti arus. Ajarilah ia untuk mendengarkan orang lain, tetapi menyaring semua hal yang ia dengar dengan saringan kebenaran dan hanya menyerap hal-hal baik.

Ajarilah ia untuk tidak pernah memandang orang lain dari harta yang mereka miliki, dalam hati dan jiwanya. Ajarilah ia menutup telinganya terhadap teriakan banyak orang, tetapi berpendirian dan berjuang jika ia yakin bahwa ia benar. Ajarilah dengan lembut, Dunia, tetapi jangan memanjakannya, karena hanya pengujian dengan apilah yang menghasilkan baja berkualitas.

Ini adalah permintaan besar Dunia, tetapi marilah kita lihat apa yang dapat engkau lakukan.

Ia adalah anak yang manis.

Tertanda Abraham Lincoln

Disadur dari ‘Pulpit Helps’ Februari 1991, dikutif dalam ‘apple seeds’ Jilid 10, No 1, 1994. Surat Abraham Lincoln ini di kutip dari buku YOU CAN WIN karya Shiv Khera hal 123

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/07/abraham-lincoln-sebuah-surat/

Jumat, 28 Oktober 2011

Kemarahan


Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk. Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain.

Hari pertama dia memaku 37 batang di pagar. Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar.

Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya.

Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar. Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar.

Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata:

”Anakku, kamu sudah berlaku baik, tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar.”

Pagar ini tidak akan kembali seperti semula. Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar.

Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka. Tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya tinggal. Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka fisik.

Kawan-kawan adalah perhiasan yang langka. Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat. Mereka bersedia mendengarkan jika itu kau perlukan, mereka menunjang dan membuka hatimu. Tunjukkanlah kepada teman-temanmu betapa kau menyukai mereka.

Untuk mengakhiri:

”Keindahan persahabatan adalah bahwa kamu tahu kepada siapa kamu dapat mempercayakan rahasia.” (Alessandro Manzoni)

Sumber : http://groups.yahoo.com/group/fapet-unsoed/message/858

Sabtu, 08 Oktober 2011

Sebuah Kesungguhan

Saya seorang mantan guru sekolah musik dari Des Moines, Iowa. Saya mendapat nafkah dengan mengajar piano - selama lebih dari 30 tahun. Selama itu, saya menyadari tiap anak punya kemampuan musik yang berbeda. Tapi saya tidak pernah merasa telah menolong walaupun saya telah mengajar beberapa murid berbakat.

Walaupun begitu, saya ingin bercerita tentang murid yang "tertantang secara musik". Contohnya adalah Robby.

Robby berumur 11 tahun, ketika ibunya memasukkan dia dalam les untuk pertama kalinya. Saya lebih senang kalau murid (khususnya laki-laki) mulai ketika lebih muda, saya jelaskan itu pada Robby. Tapi Robby berkata, ibunya selalu ingin mendengar dia bermain piano. Jadi saya jadikan dia murid.

Robby memulai les pianonya dan dari awal saya pikir dia tidak ada harapan. Robby mencoba, tapi dia tak mempunyai perasaan nada maupun irama dasar yang perlu dipelajari. Tapi dia mempelajari benar-benar tangga nada dan beberapa pelajaran awal yang saya wajibkan untuk dipelajari semua murid.

Selama beberapa bulan, dia mencoba terus dan saya mendengarnya dengan ngeri dan terus mencoba menyemangatinya. Setiap akhir pelajaran mingguannya, dia berkata, "Ibu saya akan mendengar saya bermain pada suatu hari."

Tapi rasanya sia-sia saja. Dia memang tak berkemampuan sejak lahir. Saya hanya mengetahui ibunya dari jauh ketika menurunkan Robby atau menjemput Robby. Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan tapi tidak pernah turun.

Pada suatu hari, Robby tidak datang lagi ke les kami. Saya berpikir untuk menghubunginya, tapi karena ketidakmampuannya, mungkin dia mau les yang lain saja. Saya juga senang dia tidak datang lagi. Dia menjadi iklan yang buruk untuk pengajaran saya!

Beberapa minggu sesudahnya, saya mengirimkan brosur ke tiap murid, mengenai pertunjukan yang akan dilaksanakan. Yang mengagetkan saya, Robby (yang juga menerima brosur) menanyakan saya apakah dia bisa ikut pertunjukan itu. Saya katakan kepadanya, pertunjukan itu untuk murid yang ada sekarang dan karena dia telah keluar, tentu dia tak bisa ikut. Dia katakan bahwa ibunya sakit sehingga tak bisa mengantarnya ke les, tapi dia tetap terus berlatih.

"Bu Hondrof.. saya mau main!" dia memaksa.

Saya tidak tahu apa yang membuat saya akhirnya membolehkan dia main di pertunjukan itu. Mungkin karena kegigihannya atau mungkin ada sesuatu yang berkata dalam hati saya bahwa dia akan baik-baik saja.

Malam pertunjukan datang. Aula itu dipenuhi dengan orang tua, teman, dan relasi. Saya menaruh Robby pada urutan terakhir sebelum saya ke depan untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir. Saya rasa kesalahan yang dia buat akan terjadi pada akhir acara dan saya bisa menutupinya dengan permainan dari saya.

Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah. Murid-murid telah berlatih dan hasilnya bagus. Lalu Robby naik ke panggung. Bajunya kusut dan rambutnya bagaikan baru dikocok.

"Kenapa dia tak berpakaian seperti murid lainnya?" pikir saya. "Kenapa ibunya tidak menyisir rambutnya setidaknya untuk malam ini?"

Robby menarik kursi piano dan mulai. Saya terkejut ketika dia menyatakan bahwa dia telah memilih Mozart's Concerto #21 in C Major. Saya tidak dapat bersiap untuk mendengarnya.

Jarinya ringan di tuts nada, bahkan menari dengan gesit. Dia berpindah dari pianossimo ke fortissimo... dari allegro ke virtuoso. Akord tergantungnya yang diinginkan Mozart sangat mengagumkan! Saya tak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan orang seumur dia sebagus itu!

Setelah enam setengah menit, dia mengakhirinya dengan crescendo besar dan semua terpaku disana dengan tepuk tangan yang meriah. Dalam air mata, saya naik ke panggung dan memeluk Robby dengan sukacita.

"Saya belum pernah mendengar kau bermain seperti itu, Robby! Bagaimana kau melakukannya?"

Melalui pengeras suara Robby menjawab, "Bu Hondorf.. ingat saya berkata bahwa ibu saya sakit? Ya, sebenarnya dia sakit kanker dan dia telah berlalu pagi ini. Dan sebenarnya.. dia tuli sejak lahir jadi hari inilah dia pertama kali mendengar saya bermain. Saya ingin bermain secara khusus."

Tidak ada satu pun mata yang kering malam itu. Ketika orang-orang dari Layanan sosial membawa Robby dari panggung ke ruang pemeliharaan, saya menyadari meskipun mata mereka merah dan bengkak, betapa hidup saya jauh lebih berarti karena mengambil Robby sebagai murid saya.

Tidak, saya tidak pernah menjadi penolong, tapi malam itu saya menjadi orang yang ditolong Robby. Dialah gurunya dan sayalah muridnya. Karena dialah yang mengajarkan saya arti ketekunan, kasih, percaya pada dirimu sendiri, dan bahkan mau memberi kesempatan pada seseorang yang tak anda ketahui mengapa.

Peristiwa ini semakin berarti ketika, setelah bermain di Desert Storm, Robby terbunuh oleh pengeboman yang tak masuk akal oleh Alfred P. Murrah Federal Building di Oklahoma pada April 1995, ketika dilaporkan... dia sedang main piano.


Sumber : http://indonesia.heartnsouls.com/cerita/a/c71.shtml

Selasa, 27 September 2011

Sebuah Sapaan

"Ga usah" jawaban bersahabat dari seorang kenek bis kota kampus itu terus terang menghadirkan tanda tanya dalam hatiku "kenapa dia tidak mau menerima ongkos itu ?". Turun di terminal, sobatku yang talkactive itu memulai aksi yang baru, menghampiri gerobak pedagang air tebu.

Bapak itu buru-buru menyodorkan segelas air tebu es kepadanya, padahal dia belum meminta. Rupanya si bapak sudah melihat kedatangannya dari jauh. Bukan hari ini saja, seakan-akan setiap hari selalu ada orang baik untuknya.

Kemaren, ketika dia asyik berceloteh dengan teman-teman sewaktu jam istirahat, seorang ibu yang biasa mengusung dagangannya dari blok ke blok kelas kuliah memanggilnya. Dengan gembira dia kembali, "nih satu buat kamu" sambil membawa dua bungkus tahu isi, "dikasih si Ibu" lanjutnya sambil tersenyum kepada si Ibu yang juga tersenyum dengan bahagia.

Belum lagi, minggu yang lalu dia sukses memindahkan sepiring sate dosen ke tangannya. Aku berusaha sekuat tenaga menyibak kekuatan yang dimilikinya. Sobatku itu seorang yang sederhana, tidak kaya, tidak cantik, tidak terlalu berprestasi. Hanya satu kelebihannya yang tidak dimiliki orang lain. Ya.. aku mulai menyadari. Kelebihan itu juga tidak ada padaku.

Dia sangat hobby menyapa orang lain yang berlanjut dengan obrolan. Anehnya, dia tidak pernah kehabisan bahan. Dari terminal sampai kampus, sang kenek seakan mendapat tambahan semangat ketika dia ajak ngobrol. Begitu juga wajah pedagang tebu ketika dia bertanya tentang keadaan isteri dan anak-anaknya. Aha ! aku juga baru tahu kenapa si ibu rela memberikan tahu cuma-cuma untuknya.

Karena sifatnya yang ramah, dia tidak saja punya teman sesama fakultas, tapi juga dari fakultas lainnya. Merekalah yang "dipaksa"nya untuk membeli dagangan si ibu.

Masih dengan rasa penasaran, kucoba bertanya kepada kenek bis yang selalu memberi gratisan kepadanya "ga rugi tuh ?". Sungguh terperanjat aku mendengar jawaban knek itu "Wah, ga sebanding mba dengan jajan yang selalu diberinya untukku".

Aku tidak mencoba bertanya lebih jauh kepada pedagang air tebu, karena aku sudah menemukan jawabannya. Seperti kata seorang guru "Orang mendapatkan bukan dari apa yang dimintanya tapi dari apa yang diberikannya." Yah, sobatku melakukannya dengan tulus dan suka cita. Keramahtamahan dan kemuliaan budinya langsung dibalas Allah lewat kasih sayang hamba-hamba-Nya yang lain. Semuanya berawal dari sebuah sapaan.


Sumber : http://indonesia.heartnsouls.com/cerita/h/c781.shtml

Minggu, 18 September 2011

Tentang Seorang Murid

Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: “3×8 = 23, kenapa kamu bilang 24?
“Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Sobat, 3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi”. Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan”.
Yan Hui: “Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?”
Pembeli kain: “Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”
Yan Hui: “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu”. Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius.

Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: “3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia.” Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas. Walaupun Yan
Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya..

Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasehat : “Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan
membunuh.” Yan Hui bilang baiklah lalu berangkat pulang. Di dalam perjalanan tiba2 angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu.

Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti. Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut
malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan
seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: “Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?” Confusius berkata: “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon.. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh”.
Yan Hui berkata: “Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.”

Confusius bilang: “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?”
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : “Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu.” Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.


Pesan:

Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya. Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting. Banyak hal ada kadar kepentingannya.

Janganlah gara2 bertaruh mati2an untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat. Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.

Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat kita kasih sample barang lagi, kita akan mengerti)
Bersikeras melawan boss. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat penilaian bonus akhir tahun, kita akan mengerti)
Bersikeras melawan suami. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (suami tidak betah di rumah)
Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Bisa-bisa kita kehilangan seorang teman)

Sumber : http://adeparamitha.wordpress.com/2009/11/06/menang-vs-kalah/

Sabtu, 10 September 2011

Sikap Kasar


Saya bersenggolan dengan seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat.

“Oh, maafkan saya” adalah reaksi saya.

Ia berkata, “Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda.”

Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.

Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh.

"Minggir," kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur.

Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya. Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku, "Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang.

Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu. "Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu."

Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya,

"Bangun, nak, bangun," kataku. "Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?"

Ia tersenyum, "Aku menemukannya jatuh dari pohon. Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru."

Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi."

Si kecilku berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu."

Aku pun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru."

Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari?

Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka. Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan?

Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas?
Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA? Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.
FAMILY = ( F )ather ( A )nd ( M )other, ( I ), ( L )ove, ( Y )ou.

Diterjemahkan dari : HARSH WORDS
Sumber : http://krenungan.org/wordpress/2006/07/10/

Jumat, 09 September 2011

Biarkan Tuhan Menilai

Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi, tetaplah berbuat baik.

Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.

Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah kesuksesanmu itu.

Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka.

Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun.

Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia.

Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik.

Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik.

Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang jujur dan Dia sanggup melihat ketulusan hatimu.


Mother Theresia
Sumber : http://groups.yahoo.com/group/terangduniamail/message/11841