Tampilkan postingan dengan label Stephen Tong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stephen Tong. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 November 2014

Kembali Kepada Tuhan

Pdt. Dr. Stephen Tong
“Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,…” (Efesus 4 : 11-12) 


Surat Efesus adalah surat yang sangat penting untuk mengerti apa itu Tubuh Kristus, apa itu Gereja. Di seluruh ciptaan hanya ada satu tempat yang paling penting yaitu bumi, karena di bumi ada manusia, yang merupakan ciptaan Allah yang paling mulia, yang diciptakan menurut peta dan teladan Allah. Di antara manusia, yang difokuskan adalah manusia yang percaya kepada Tuhan. Di antara orang yang percaya kepada Tuhan, difokuskan lagi, yaitu mereka yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan dan mau melayani Tuhan. Dari sini kita tahu, walaupun sebagai Penginjil, kita tidak kaya seperti konglomerat, tidak pintar seperti profesor, tetapi kita mencintai Tuhan lebih daripada mereka. Jika hamba Tuhan tidak mengerti nilai sendiri, bahwa kita berkenan kepada Tuhan, kita tidak mungkin melayani Tuhan dengan baik.

Biarlah semua hamba Tuhan berdiri di atas fondasi yang benar, di atas karunia Tuhan, di atas kesucian Roh Tuhan yang suci. Jika engkau memberitakan iman yang salah, harus minder, jika engkau melayani dengan tidak jujur, harus minder, dan bukan hanya minder melainkan juga harus mundur. Jika engkau sungguh-sungguh melayani Tuhan, jangan takut karena Tuhan menyertai engkau. Orang yang menjadi hamba Tuhan harus mempunyai harkat, penghargaan diri yang tidak boleh digoncangkan oleh siapapun. Ketika kita, semua Pendeta-Pendeta di Indonesia, semua berdiri dengan tekun, dan tegar dihadapan Tuhan, siapapun kita, kita tidak boleh takut, karena Tuhan menyertai kita.

Gereja adalah fokus di antara seluruh ruang-waktu, dan di dalam Gereja, orang yang mencintai Tuhan adalah fokus di antara semua orang yang menamai diri mereka Kristen. Orang-orang yang sungguh-sungguh mengetahui kehendak Tuhan, yang melayani Tuhan, adalah orang-orang yang difokuskan oleh Tuhan,  seperti butir mata di dalam diri Yesus, yang dipilih oleh Tuhan Yesus. Di hari Pantekosta pertama Roh-Kudus turun Gereja dibangkitkan, Gereja hadir di dunia, menjadi saksi Kristus sampai Yesus datang kembali.

Di dalam Gereja, ada Rasul, ada Nabi, ada Pengabar injil, ada Gembala/Pendeta dan Pengajar. Ini adalah lima jabatan Gerejawi yang paling penting di dalam setiap zaman. Mereka lebih penting dari elders/tua-tua, dan semua yang melayani di dalam Gereja.

Mengapa Rasul ditaruh sebelum Nabi? Rasul di Perjanjian Baru, Nabi di Perjanjian Lama. Di dalam 1 Kor 12:28-29, disebutkan “Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam jemaat: pertama sebagai Rasul, kedua sebagai Nabi”. Bukankah Nabi terlebih dahulu datang? Karena Roh-Kudus yang mewahyukan ini kepada Paulus, dan Paulus tidak boleh menukar urutan ini. Perjanjian Baru adalah sesuatu yang pernah disimpan dan dikandung di dalam Perjanjian Lama. Perjanjian Lama mengatur Perjanjian Baru, Perjanjian Baru menguduskan dan menggenapi Perjanjian Lama.

Nubuat di Perjanjian Lama terlaksana di Perjanjian Baru, seperti Yesus lahir, Nabi-nabi sudah memberikan nubuat. Bagaimana Yesus dijual dengan 30 keping perak (Mat 26:15, Mat 27:9), semuanya ditulis dalam Perjanjian Lama (bandingkan dengan Zak 11:12-13). Karena Perjanjian Lama mengatur Perjanjian Baru, dan Perjanjian Baru melaksanakan dan menguduskan Perjanjian Lama. Itulah sebabnya Perjanjian Baru harus lebih penting daripada Perjanjian Lama.

Efesus 2:20 mengatakan “yang dibangun di atas para Rasul dan para Nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru”. Dasar Gereja adalah Kitab Suci, dasar Kitab Suci adalah Yesus Kristus. Di atas Kristus yang menjadi batu penjuru ini dibangun fondasi, fondasinya ini adalah ajaran Rasul dan Nabi, berarti Gereja hanya berdasarkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang diberikan kepada kita adalah Yesus Kristus yang menjadi batu penjuru. Itu sebab Gereja yang tidak lagi berakar dalam Kitab Suci, harus dibuang. Gereja yang tidak lagi memberitakan Kitab Suci akan menjadi Gereja yang layu. Pendeta-pendeta yang tidak lagi memberitakan Kitab Suci akan mati pelan-pelan dan tidak ada lagi.

Karena Tuhan memberikan kepada Gereja, Rasul dan Nabi, itu sebab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang diwakili oleh Rasul dan Nabi, adalah berdasarkan ajaran tentang Yesus Kristus. Dari setiap Kitab di dalam Kitab Suci, yang dibicarakan adalah Kristus, di dalam setiap pasal, ada bayang-bayang yang intinya adalah ajaran Kristus.

Kita bersyukur kepada Tuhan, karena hanya Kristus yang mempunyai kelimpahan yang tidak akan punah. Orang yang mencintai Kristus akan memberitakan Kristus. Karena itu seumur hidup khotbah-nya tidak habis-habis. Saya berkhotbah sudah 32.000 kali, kepada kira-kira 32 juta manusia di seluruh dunia. Setelah berkhotbah 56 setengah tahun, khotbah saya belum habis, karena khotbah tentang Kristus, tentang inti daripada Alkitab tidak akan mungkin habis.

Tuhan memberikan kepada kita kelimpahan, di dalam Kristus yang tidak habis-habis, kita boleh bersyukur kepada Tuhan. Dan setelah Perjanjian Baru dan Lama, Kitab Suci sudah lengkap dan tidak ada lagi pewahyuan. Jangan percaya kepada Pendeta yang berkata, “Kemarin, Tuhan berbicara kepada saya”.  Itu semua omong-kosong, palsu, penipu. Tidak ada Rasul lagi, tidak ada Nabi lagi, karena Kitab Suci sudah lengkap, sudah genap, diwahyukan oleh Tuhan. Seluruh Firman Tuhan kepada manusia berada di dalam satu-satunya buku, yang mencatat semua wahyu Tuhan kepada Rasul dan Nabi, yaitu Alkitab.

Pendeta-Pendeta yang mengatakan bahwa mereka sudah menerima wahyu Tuhan, beranikah mereka menulis Kitab yang baru. Mereka pasti tidak berani. Jika dibandingkan dengan Kitab Paulus lebih tinggi yang mana? Kalau Kitab Paulus lebih tinggi, buat apa membaca Kitab mereka? Sekali lagi kita harus kembali kepada Alkitab. Kita tidak boleh dikibuli, kita harus mendapatkan fondasi yang kuat.

Firman Tuhan itu Firman Tuhan, yang bukan Firman Tuhan itu bukan Firman Tuhan. Karena segala sesuatu mengenai hidup, mengenai ibadah sudah seluruhnya diwahyukan di dalam Alkitab. Kitab Suci sudah lengkap, segala sesuatu mengenai hidup mengenai ibadah, sudah seluruhnya diwahyukan, dari dunia dicipta, sampai bagaimana dunia diakhiri seluruhnya ada di dalam Alkitab. Jadi apa lagi yang kurang?

Tetapi Alkitab tidak mengajarkan bagaimana menjadi kaya dan sukses, yang ada adalah bahwa orang yang percaya harus memikul salib dan mengikut Kristus (Mat 16:24). Yang tidak mau menyangkal diri, memikul salib, namun mau menjadi Pendeta, tidak akan menjadi Pendeta yang baik, tetapi menjadi pendusta.

Lebih baik menjadi Pendeta yang menderita, daripada menjadi Pendeta yang kaya, tetapi menipu orang. Banyak orang yang begitu kecewa kepada Gereja, karena mereka sering dirugikan oleh Pendeta yang berdagang. Pendeta yang berdagang, yang mau mencari uang, dan tidak mau menghormati Tuhan, silahkan turun dari mimbar. Di Amerika ada seorang pengemudi taksi, yang sewaktu mengemudikan taksi selalu memakai toga Pendeta. Ketika ditanya mengapa dia melakukan hal itu, dia menjawab bahwa dia menjadi Pendeta uangnya tidak cukup tetapi dengan mengemudi taksi dan dengan memakai toga uangnya lebih banyak. Kalau kita mau melayani, kita harus melayani dengan sungguh-sungguh dan percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita. Kalau kita mau menjadi Pendeta, lalu mau menjadi kaya, lebih baik tidak melakukan itu.

Kalau ada Pendeta yang berani mengatakan bahwa apa yang diwahyukan kepada dia lebih tinggi dari Alkitab maka dia telah menghujat Tuhan. Kalau mereka mengatakan lebih baik mendengarkan perkataan mereka, daripada perkataan Alkitab, maka itu berarti dia berusaha mengalihkan iman kita kepada mereka, keluar dari iman kita kepada Tuhan. Kalau perkataan mereka lebih rendah, maka buat apa ikut dia; kalau sama-tinggi, maka Alkitab sudah cukup, buat apa ikut dia. Itulah sebabnya kita harus kembali kepada Alkitab, Sola Scriptura  yang menjadi berita di dalam hidup kita.

Maka Rasul dan Nabi tidak ada lagi, karena Kitab Suci sudah genap diwahyukan. Kalau ada orang yang berkata, “Saya ini Nabi baru”, maka katakan kepada dia, “Enyahlah engkau!”. Kalau ada orang yang berkata, “Saya ini Rasul baru”, maka katakan kepadanya, “Pendusta kamu!”. Karena Alkitab adalah Firman Tuhan yang sudah sempurna, maka kita tidak perlu mencari wahyu lain dari Pendeta-pendeta yang sesat.

Di dalam Gereja, PengabarInjil, Pendeta dan Pengajar-pengajar harus ada dari zaman ke zaman. Di dalam setiap zaman, setiap generasi, setiap abad, harus ada tiga macam manusia yaitu Penginjil, Pendeta dan Pengajar.

Siapakah Penginjil itu? Mengapa mereka di taruh di tempat yang paling depan? Di dalam Kitab Suci ada dua macam urutan, ada kalanya yang terakhir yang paling penting, tetapi di lain tempat, yang pertama adalah yang paling penting. Di dalam ordo penciptaan, manusia sebagai ciptaan yang paling penting dicipta yang paling terakhir. Tetapi dalam ordo pelayanan, yang disebut di depan adalah yang lebih penting.

Penginjil ditulis sebelum Pendeta, mengapa diurutkan seperti ini? Karena Penginjil mencari jiwa, mempertobatkan orang, memberitakan Kristus, mempunyai kuasa mengubah orang yang belum bertobat menjadi bertobat, orang yang belum beriman menjadi beriman, orang yang milik setan menjadi millik Kristus, dari orang berdosa menjadi anak-anak Tuhan.

Untuk mengabarkan Injil memerlukan kuasa yang paling besar, menghadapi pertarungan yang lebih sengit, berperang dengan setan untuk merebut orang-orang dari tangannya. Pekerjaan ini tidak mungkin dapat dilakukan dengan kekuatan sendiri, maka kita harus banyak berdoa kepada Tuhan, supaya di dalam peperangan Penginjilan, kita disertai, kita dipenuhi, dan diurapi oleh Roh-Kudus.

Penginjil itu penting di Gereja, tetapi Penginjil yang tidak mempertobatkan orang lebih baik dia mundur. Kalau engkau tidak menjadikan orang untuk mempunyai hidup yang baru, dan hanya bisa mengoceh, engkau lebih baik mundur. Berdoalah kepada Tuhan supaya Dia memberikan kuasa, kekuatan, supaya engkau dapat merampas orang keluar dari tangan setan dan membuat mereka datang kepada Tuhan. Bisa menyalurkan hidup Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya, boleh memberikan terang hidup bagi orang yang mendengarkan Firman-Nya. Penginjil sangat penting karena Penginjil membawa orang kembali kepada Tuhan.

Sesudah itu, orang yang baru bertobat harus digembalakan, barulah kemudian Pendeta bekerja untuk mengasuh jiwa, membawa manusia untuk bertumbuh di dalam iman. Tugas Pendeta, mempertumbuhkan orang untuk menjadi lebih dalam hidup rohaninya.

Sesudah digembalakan, orang harus diajarkan dengan doktrin agama, iman yang penting supaya mereka mempunyai pengetahuan tentang apa arti iman. Seperti Paulus berkata (2 Tim 1:12), “I Know whom I have believed”.  Aku mengetahui siapa yang kupercaya. Jadi iman harus ada terlebih dahulu sebelum pengetahuan. Iman mendahului pengetahuan, iman mendahului pelajaran. Iman kepada Tuhan, sesudah itu baru tahu apa yang diimani. Bedanya orang Karismatik dan Reformed adalah orang Reformed beriman dan kemudian dia mau tahu dia beriman kepada siapa, apa pengetahuan tentang iman yang Tuhan berikan kepadanya. Sedangkan orang Karismatik bukan mencari pengetahuan, mereka menggunakan iman untuk mencari keuntungan. Mereka mengatakan “Aku percaya Engkau Maha Kuasa, maka sembuhkan kankerku”. Jadi melalui iman, mereka memerintah Tuhan, mereka menginginkan segala kelimpahan yang harus Tuhan berikan kepada mereka. Sebaliknya, kedaulatan Tuhan harus menjadi dasar anugerah, bukan doa-doa yang ngotot. Iman bukan mencari anugerah, iman harus mencari kebenaran. Lalu bagaimana anugerah itu datang? Tidak usah takut, Tuhan sudah mempersiapkan banyak sekali anugerah kepada kita, tetapi kita harus mengingat Yesus berkata (Mat 6:33) “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka semuanya itu akanditambahkan kepadamu”. Ayat ini tidak menggunakan kata “diberikan” tetapi “ditambahkan”, jadi tidak usah serakah, jangan minta lebih banyak lagi. Banyak orang mendapat uang banyak akhirnya dirampas oleh perampok, dihamburkan untuk pelacur, dan dihabiskan oleh berbagai perbuatan dosa. Carilah dahulu Kerajaan Allah sesudah itu semua yang engkau butuhkan pasti akan ditambahkan kepadamu.

Saya bersyukur, saya tidak kaya tetapi saya sangat mengerti apa itu “bahagianya” orang kaya. Saya tidak mengharapkan mereka menjadi kaya, karena mengetahui mereka mempunyai kepahitan hati yang luar biasa. Karena uang tidak pernah memberikan kepuasan di dalam hati seseorang. Mengerti kebenaran lebih penting daripada mempunyai kekayaan. Tetapi saya puas, saya bersyukur kepada Tuhan, karena mengerti kebenaran adalah lebih penting daripada mempunyai kekayaan.

Penginjil, Gembala dan Pengajar dapat diibaratkan sebagai melahirkan anak, membesarkan anak dan mendidik anak. Yang mana yang lebih penting? Ketiga-tiganya penting. Kalau tidak ada yang melahirkan, mau membesarkan siapa? Kalau tidak ada yang membesarkan, mau mendidik siapa? Tetapi yang paling dasar adalah tetap yang melahirkan, karena dengan melahirkan, baru membuktikan bahwa keluarga itu subur, bahwa ada hari depan.

Bangsa-bangsa yang tidak melahirkan anak-anak, adalah bangsa yang hari depannya suram. Di Jerman, tingkat kelahirannya semakin berkurang, dan mereka mengimpor orang Turki ke negara mereka. Di dalam 30 tahun akan lebih banyak orang Islam daripada Kristen di Jerman. Jika orang-orang muda tidak mau melahirkan anak, dan orang-orang tua tidak mau mati, maka celaka sekali. Di Jepang, ribuan bahkan puluhan ribu orang yang berumur di atas 100 tahun, karena pelayanan kesehatan semakin baik. Yang tua tidak mau mati, yang muda tidak mau melahirkan. Orang yang pensiun menjadi jauh lebih banyak dibanding orang-orang muda yang harus membayar pajak untuk membayar pensiun orang-orang tua. Makin lama makin sedikit orang yang bekerja.

Demikian pula di dalam Gereja. Orang-orang semakin tua. Jika tidak ada orang-orang yang dilahirkan baru, hari depan Gereja semakin suram. Gereja akan membunuh dirinya sendiri. Itulah sebabnya Penginjil itu penting.

Setiap minggu Pendeta berkhotbah untuk menggembalakan. Di dalam Yoh 21:15-17, Yesus berkata kepada Petrus tiga kali: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”. Petrus menjawab tiga kali juga: “Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau”. Kemudian Yesus berkata kepadanya tiga kali juga: ”Gembalakanlah domba-dombaku”. Setelah orang di Injili, mereka tidak bisa dibiarkan, mereka harus digembalakan.

Setelah digembalakan, mereka juga harus dididik, diajar dengan doktrin-doktrin yang penting. Doktrin dikuatkan, hati dibakar, supaya kita menjadi orang yang berotak dan berapi. Kalau berotak tetapi tidak berapi, itu sama saja dengan kepala besar. Jika berotak tapi tidak berapi, engkau sakit malaria. Biarlah kita mempunyai iman, dan mempunyai kemampuan mengerti Firman dan memberitakan Firman. Dokter saya berkata, ini adalah minggu terakhir sebelum saya dioperasi jantung dan karena itu saya tidak boleh khotbah. Saya sudah siapkan KIN begitu lama, dan untuk menyelesaikan KIN, saya harus berkhotbah berkali-kali. Dokter memberitahu bahwa saya sewaktu-waktu bisa lumpuh, stroke atau mati. Saya bilang mati ataupun tidak mati pokoknya pekerjaan Tuhan yang utama. Saya tidak perduli kesehatan saya sendiri.

Kita melihat Penginjil, Gembala dan Guru. Engkau bisa bilang, saya pilih satu saja, jadi Pendeta lebih gengsi. Atau jadi guru saja, karena hanya perlu mengajarkan hal yang itu-itu saja. Atau jadi Penginjil saja, yang paling susah, karena perlu penyangkalan diri, perlu pengabdian, perlu doa, perlu pikul salib.

Tetapi saya berkata kepada Tuhan, “Berkati saya, saya berjanji, seumur hidup, saya ingin bukan hanya menjadi satu, saya ingin menjadi ketiga-tiganya, saya mau mengerjakan ketiga-tiganya, menjadi Penginjil, menjadi Gembala, menjadi Guru”.

Mungkinkah itu? Mungkin, tetapi susah. Menjadi ketiga-tiganya: menjadi Penginjil, sekaligus menjadi Pendeta, sekaligus menjadi Guru, itu sulit. Tetapi saya sudah buktikan. Tuhan sudah menolong saya dari umur 17 sampai umur 73, tiga-tiganya saya lakukan. Di Gereja lain lebih enak, Pendeta khotbah hari minggu, sesudah itu istirahat 6 hari. Hari senin, telepon pun tidak mau diangkat. Lalu setelah bekerja 6 tahun, dapat 1 tahun sabatical leave. Saya mau bertanya, mengapa pedagang tidak mau berhenti berdagang setelah 6 tahun berdagang? Karena kurang untung. Pendeta tidak takut kurang untung, karena setelah 1 tahun istirahat, gajinya sama.

Mari kita lebih giat melayani Tuhan, dan kalau mungkin, semua dari kita, menjadi Penginjil, sekaligus juga menjadi Pendeta, sekaligus juga menjadi Pengajar. Engkau coba kerjakan tiga-tiganya, engkau akan menjadi orang yang kuat luar-biasa, rohaninya kuat, perjuangannya kuat, pelayanannya kuat, khotbahnya kuat.

Paulus Penginjil bukan? Paulus Pengajar bukan? Paulus menggembalakan bukan? Kenapa sekarang yang menjadi Pendeta tidak mau menginjili, kenapa menginjili tetapi tidak tahu teologi, kenapa tahu teologi tetapi tidak mau menjadi Pendeta? Karena ini adalah didikan teologi barat yang telah merusak Asia. Setelah pulang dapat gelar Doktor, menjadi orang penting, akademisi, menjadi Pendeta, selain membaca buku tidak mau mengabarkan Injil.

Orang yang mengabarkan Injil, capek tetapi senang. Yang tidak mengajarkan Injil, tidak capek, tetapi juga tidak senang. Puji Tuhan!

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

(Khotbah Pdt Stephen Tong di hadapan ribuan Penginjil dari seluruh pelosok Indonesia, yang menghadiri KIN (Konvensi Injil Nasional) 2013)


Sumber : http://www.nusahati.com/2014/01/kembali-kepada-tuhan-konvensi-injil-nasional/

Hajaran Tuhan



Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. … Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. (Ibrani 12 : 5-10) 


Bagian yang baru kita baca memberikan kita suatu contoh yang mudah, supaya kita mengerti artinya, apabila kita dihajar oleh Tuhan. Saudara, nasihat di atas mengatakan, Tuhan menghajar orang-orang yang dikasihi-Nya sebagaimana seorang ayah mengajar anaknya. Seorang ayah mengajar anaknya menurut apa yang dia anggap baik, demikian kata Alkitab, tetapi Ayah kita di surga mengajar kita supaya kita menjadi baik, dan beroleh bagian di dalam kekudusan-Nya. Di sini kita melihat suatu tujuan akhir yang sangat tinggi nilainya.

Saudara, kita dihajar oleh Tuhan supaya kita beroleh bagian di dalam kekudusan Allah. Tujuan ini memberi pengharapan yang sangat menghibur kita masing-masing. Alkitab berkata, “Tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibr.12:14). Dengan segala kesedihan dan penyesalan saya harus mengatakan dengan jujur, bahwa kegagalan pelayanan Kristen sering kali disebabkan oleh hidup yang tidak suci. Maksudnya, orang yang tidak suci melayani Tuhan, akibatnya merugikan pekerjaan Tuhan. Gereja dicela, orang Kristen dicaci-maki dan kekristenan dihina di dalam dunia karena banyak pelayan Tuhan tidak mementingkan sifat kesucian sebagai hal yang pokok dan sebagai dasar yang penting untuk melayani Tuhan.
Di seluruh dunia, di tempat-tempat yang saya kunjungi, pemuda-pemudi ingin sekali saya menandatangani Alkitab mereka. Saya selalu melihat dulu berapa kira-kira umur mereka. Kalau mereka masih muda, saya suka memberikan ayat 2 Timotius 2:21, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, … ia dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” Saudara, dipakai oleh Tuhan adalah hak yang terbesar, suatu kemuliaan yang luar biasa, yang bisa diperoleh seorang Kristen. Namun Allah memberikan ayat yang penting ini, yaitu supaya kita menjadi suci, sehingga layak dipakai oleh Tuhan. Kesucian merupakan sifat Allah sendiri. Bukankah kita ingin melayani Tuhan, ingin giat bekerja dalam ladang Tuhan? Bagaimana kita dapat memakai tangan yang kotor untuk pekerjaan Tuhan yang suci? Bagaimana kita dapat dengan pikiran-pikiran yang najis memikirkan hal-hal surgawi? Sebab itu, kalau tanganmu kotor, bersihkan dirimu; kalau pikiranmu bercabang, konsentrasikan hatimu. Jika hati yang belum dibersihkan, sucikan dirimu di dalam rencana dan cara yang Tuhan tetapkan, sehingga kita boleh melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh! 

Gereja harus selalu menekankan, selalu memperingatkan orang Kristen tentang hidup dalam kesucian sebagai satu-satunya hal yang penting sekali untuk melayakkan kita melayani Tuhan. Jika gereja bertobat, orang Kristen bertobat, setiap pelayan Tuhan bertobat, meninggalkan hal-hal yang najis, hal-hal yang rendah, tidak mungkin kebangunan tidak datang kepada gereja; tidak mungkin kebangunan tidak tiba kepada setiap pelayan Tuhan secara pribadi, dan dia mendapatkan berkat besar.

Saudara, salah satu ajaran ibu saya sejak saya kecil ialah, “Hati-hati, jangan engkau dipakai oleh setan. Berbuat dosa gampang sekali, beberapa menit cukup engkau berzina, beberapa menit cukup engkau berbuat dosa, tetapi berpuluh-puluh tahun tidak cukup engkau menyesali apa yang sudah engkau perbuat.” Kalimat itu datang dari ibu yang setia. Sejak saya berumur tiga tahun, dia sudah menjadi janda. Dia sering berkata kepada kami, “Kalau engkau besar, engkau mau melayani Tuhan, engkau menjadi hamba Tuhan, jangan lupa: hidup suci, pikiran yang suci, perkataan yang suci, hati yang suci, motivasi yang suci, dengan jiwa yang suci, baru engkau bisa dipakai oleh Tuhan.”

Saudara, saya khusus membicarakan kesucian digabungkan dengan pengajaran. Allah menghajar anak-anak-Nya. Dia mencambuk. Ini perlu sekali untuk kita masing-masing. Dalam Amsal, Salomo berkata agar para ayah jangan takut memukul anaknya, agar dia tidak pergi kepada kebinasaan (Ams. 23:13, 14). Kalau anak kecil, anak remaja, tidak diajar dengan disiplin ketat, hari depannya akan ke mana? Dalam kebebasan yang tak terkendalikan, yang mencari kebuasan, berapa banyak kebudayaan, orang pribadi atau massa secara kolektif telah memilih kebinasaan bagi diri sendiri? Allah tidak mau orang Kristen yang santai-santai dan hidup sembarangan, tidak menerima pengajaran dan disiplin.

Saudara, mendisiplin anak merupakan tugas seorang ayah atau orang tua. Mendisiplinkan anak juga dikerjakan oleh Bapa segala roh. Oleh sebab itu, jangan dengan enteng memandang pengajaran Tuhan. Hal ini harus ditanggapi dengan serius sebagai suatu hal yang bermakna, suatu hal yang bersangkut-paut dengan kemajuan rohani dan suksesnya pelayanan kita masing-masing. Pada waktu Tuhan menghajar, kadang-kadang kita tidak bisa menerimanya karena seolah-olah terlalu berat. Kita protes, mengapa orang lain berdosa sama seperti saya, tetapi tidak dihajar sekeras ini?

Saudara, bersyukurlah kepada Tuhan, jika tangan Tuhan berat atas dirimu. Bersyukurlah kepada Tuhan, jika sedikit pun Tuhan tidak mau engkau menoleransi dosa. Makin keras, makin ketat disiplin atas dirimu, makin menyatakan kemungkinan engkau dipakai Tuhan lebih daripada orang lain. Calvin berkata, “Seorang suci bukan orang yang tidak berbuat dosa. Seorang suci adalah orang yang mempunyai kepekaan yang besar terhadap dosa.” Jika engkau tidak lagi peka terhadap dosa, karena engkau memandang enteng hajaran Tuhan berkali-kali, akhirnya Tuhan akan membiarkan engkau. Paling celakalah orang yang dengan bebas dan lancar berbuat dosa, tidak ada lagi suara hatinya menegur dia. Tetapi berbahagialah, jika tangan Tuhan masih mencampuri hidupmu, jika engkau masih dihajar oleh-Nya, jika Roh Kudus masih menegur hatimu, jika hati nuranimu masih digerakkan oleh terang firman Tuhan melalui Roh-Nya. Saudara, jangan pandang enteng, jangan meringankan, jangan anggap sepi pengajaran Tuhan Allah

Saat engkau bertemu dengan orang yang menjengkelkan dalam pelayanan, itulah saatnya motivasi pelayananmu diuji. (Stephen Tong)

...

 
Sumber : http://www.nusahati.com/2014/01/hajaran-tuhan/

Minggu, 02 November 2014

Tanya Jawab : Pdt. Dr. Stephen Tong



Pdt. Dr. Stephen Tong
Tanya : Apakah perpuluhan hanya boleh diberikan pada gereja, dimana kita jadi anggota. Meski kita tahu, mereka tak memakainya untuk pekerjaan Tuhan?

Jawab : Jangan memberikan uang kepada gereja yang tidak menjalankan kehendak Tuhan. Karena orang-orang seperti Benny Hinn misalnya, yang membayar Body Guard, beli pesawat pribadi... merupakan perampok yang mengenakan jubbah pendeta, hamba setan yang menyusup ke dalam gereja, menipu orang Kristen yang sangat hormat pada hamba Tuhan, bahkan berani meniup udara, membuat orang berjatuhan lalu mengklaimnya sebagai pekerjaan roh kudus. Itu adalah kerjasama dengan setan untuk mengacaukan kekristenan. 

Karena Alkitab mengatakan: Roh Kudus datang untuk membangkitkan bukan untuk menjatuhkan orang. Jadi, maaf kalau saya kata, orang Kristen yang bodoh akan tertipu oleh ‘nabi palsu, pendeta palsu, rasul palsu, guru palsu’ yang kelak akan masuk neraka, kalau tidak bertobat. Banyak orang Kristen menyerahkan uangnya pada pemimpin Karismatik yang kelihatannya punya karisma besar, bukan pada hamba Tuhan yang melayani dengan sungguh. Saya merasa sedih untuk anak-anak Tuhan yang tak mau dididik; disadarkan dari penipuan yang mereka derita. 

Jadi, jangan berikan uangmu pada gereja yang tidak menjalankan kehendak Tuhan. Sudah berulang kali saya tegaskan: jangan mencintai GRII lebih dari mencintai Tuhan. Itu dosa! Dan Yesus juga mengajarkan: ‘barangsiapa melakukan kehendak Tuhan, dialah ibuku, saudaraku’. Gereja punya tiga tugas yang penting:  
  1. Berbakti pada Tuhan, memberikan mulia, hormat yang tertinggi padaNya bukan pada manusia, dan mematuhi perintahNya. 
  2. Menjalankan kehendak Tuhan dengan pengertian doktrin yang benar. Karena tanda dari gereja adalah: keep all the teachings inherited from the apostles dari zaman ke zaman. Jadi, barangsiapa memalsukan atau menyelewengkan ajaran rasul, lalu memasang plang gereja sebenarnya bukan gereja. 
  3. Bersekutu di dalam kasih. 
  4. Mengabarkan injil. 
Kalau gereja menjalankan semua ini, kau boleh memberikan dana mendukung program yang sungguh-sungguh dia lakukan untuk Tuhan. Kemarin, saya mendengar laporan: khotbah kita yang ditayangkan di sembilan belas stasiun TV, mendapatkan respon baik dari pemirsa. Itu berarti, setelah GRII diuji dua puluh dua tahun, Tuhan memimpin kita masuk ke satu fase baru: menyampaikan firman Tuhan ke seluruh Nusantara, bahkan kelak, ke seluruh dunia. Karena nothing is impossible for our God. Dan puji Tuhan, Dia menggerakkan para pemirsa turut serta mendukung dana yang kita butuhkan untuk acara penyiaran di TV. Karena GRII menjalankan kehendak Tuhan. Jadi, you only give your money to those, who does the work of God faithfully
 
Jadi, misalnya, karena GRII tak mencetak Alkitab, dan kau jelas akan pimpinan Tuhan, tergerak untuk menyalurkan dana untuk lembaga Alkitab atau Palang Merah atau sekolah teologi lain... Silahkan! Karena uang adalah pemberian Tuhan, maka setialah pada Tuhan bukan pada manusia. Sebagai hamba Tuhan, saya harus punya konsep Kingdom of God --- universal, bukan hanya GRII --- lokal. Begitu juga semua pendeta di GRII, mulai ditutus memimpin KKR Regional, merambah ke gereja yang kudus dan am (Artinya: universal), dipimpin selangkah demi selangkah agar mempunyai wawasan Kingdom of God. Maka mereka super sibuk, bahkan ada kalanya sedikit keteteran. Tapi saya percaya, Tuhan akan memimpin kita semakin sesuai dengan kehendakNya, membawa orang mengenal Tuhan, amin? Maka sebagai orang Kristen, kalau Tuhan mengizinkan kau kaya, bukan jadi sombong, lalu menghina yang miskin tapi dukunglah pekerjaanNya. Adakah orang yang memberi pada Tuhan ditelantarkan olehNya? Tidak ada! Itu sebab, saya terus dan terus memberi untuk kemuliaan Tuhan.

Tanya : Saya percaya, orang pilihan yang hidup di zaman sebelum Yesus Kristus juga diselamatkan, tapi saya sulit menjelaskannya pada orang lain. Mohon dibantu. 

Jawab : Dua ribu tahun silam, Yesus lahir --- Dia yang kekal datang ke dunia yang sementara, Dia yang tak nampak menerobos masuk ke dunia yang nampak. Itulah the greatest visitation: Yesus Kristus sang Pencipta (Yoh.1:1-3) menjadi daging, tinggal di tengah-tengah kita (Yoh.1:14). Saat Dia datang, sejarah sudah ada. Dan setelah Dia mati, bangkit, naik ke sorga, sejarah tetap ada. Dimanakah kita berada? Di sejarah sesudah kedatanganNya. Dimanakah Yesaya, Yehezkiel, Daniel, Musa berada? Di sejarah sebelum kedatanganNya. Bagaimana caranya orang-orang di P.L. diselamatkan? Memandang ke depan, kepada Yesus yang akan datang. Karena saat Dia  belum datang, sudah ada nubuat tentang kedatanganNya. Yang diberikan oleh: Allah sendiri. Ingat: nubuat keselamatan yang pertama (Kej.3:15) bukan disampaikan oleh nabi tapi oleh Allah sendiri. Karenanya, semua orang di P.L. look forward to the coming Christ dan diselamatkan karena iman. Tapi orang-orang yang hidup setelah Kristus naik ke sorga sampai hari kiamat, termasuk kita: look backward pada keselamatan yang sudah Dia genapkan. Tapi baik mereka yang memandang ke depan maupun kita yang memandang ke belakang, berada di atas satu garis linear yang diawali dengan titik Alfa dan diakhiri dengan titik Omega. (Alfa – Omega adalah Kristus). Karenanya pengertian sejarah orang Kristen adalah linear tipe bukan circle type, seperti yang dianut oleh orang India dan Gerika. Siapa yang mengawali pengertian ini? Yesaya, yang mengatakan: ‘Tuhan berfirman, Aku adalah Allah, Who point from the Alpha point to the Omega point --- linear. Maka those who lived before Christ came to this world looked forward, and those who live after Christ went back to heaven look backward. Mereka sama-sama berada di sejarah yang Tuhan cipta, sama-sama dipilih oleh Allah sebelum dunia dicipta. Dan akan disatukan di akhir zaman atas dasar iman yang sama, yang tertuju pada Kristus, the only central; focal point of the universe.

Tanya : Yesus pernah mengutus murid-muridNya pergi menginjili berdua-dua. Dan berpesan: kalau orang tak menerima, kebaskanlah debu di kakimu. Pertanyaannya: apakah kita juga harus mengadopsinya, sehingga tak menghabiskan waktu buat mereka yang menolak injil?

Jawab : Seorang tidak boleh mambaca satu ayat, lalu mengambil bagian ini dan menolak bagian itu, atau mencomot satu ayat guna menyerang Tuhan. Karena ayat-ayat di Alkitab menggunakan bahasa manusia yang sangat terbatas. Sehingga ada kalanya, kita memerlukan bantuan dari ayat-ayat lain, agar pengertian kita jadi proposional. Saat kita menginjili orang dan ditolak, bolehkah kita mengebaskan debu di kaki sambil berkata: go to hell? Kalau penginjilan memang semudah itu, tentu tugas menginjili seluruh dunia sudah kita selesaikan dalam waktu satu bulan. Mengapa Alkitab juga mengajar kita untuk membimbing seorang dengan sabar dan kasih, tidakkah itu bertentangan? Bukan bertentangan, tapi kebenaran harus dimengerti dari banyak aspek. Saat kita menginjili satu tempat, dan mereka tak mau menerima. Bukan berarti kita tak perlu menginjili tempat itu lagi. Di kota Kediri, terdapat satu gereja yang sangat rajin mengabarkan injil. Tapi karena kurang sabar, hasilnya kurang. Bahkan membuat orang menutup hati untuk injil. Sampai datang misionari-misionari yang mengabarkan injil dengan sabar, baru menghasilkan satu buah dan disusul dengan buah yang kedua.... sama seperti di China, sebenarnya di abad ke-7, injil sudah diberitakan di kota Xi an (ibukota China yang paling kuno) oleh Nestorian. Catatan tentang hal itu terdapat di da qing jing jiao bei; batu replica yang memuat dokumen kekristenan pertama. Sementara batu aslinya dikirim ke Vatikan. Di batu itu terdapat istilah Allah Tritunggal, Yesus Kristus, Elohim... istilah-istilah penting kekristenan. Sayang, Nestorian adalah bidat. Yang melakukan indigenization, menyelaraskan secara paksa akan kekristenan dan ajaran Budha yang bahkan tak mengenal sorga, hanya mengenal nirwana. Mereka mengadopsi istilah istilah ajaran Budha, agar orang Tionghoa menganggap Kristen identik dengan Budha dan mau jadi orang Kristen. Tapi Tuhan tak berkenan akan cara itu, maka dua ratus tahun kemudian: di abad ke-9, Nestorian di Tiongkok punah. Baru pada abad ke 13, yaitu empat ratus tahun kemudian, John of Montecorvino, diutus oleh misi Katholik ke Tiongkok. Saat itu, ibukota China bukan lagi di Xi an, tapi di Da du (sekarang: Bei jing). Siapa yang memindahkannya? Orang Mongolia; cucu dari Gengkis khan yang menjadikan Bei jing sebagai ibukota dari Dinasti Yuan.  

John of Montecorvino mengabarkan injil di istana, kepada orang Monggolia yang tak mengenal Tuhan. Tapi, Dinasti Yuan hanya bertahan sembilan puluh delapan tahun. Digantikan oleh Dinasti Ming, yang diawali oleh kaisar Zu yuan zhang atau Hong wu. Dinasti ini tak menerima ajaran Kristen, lebih memilih ajaran Konfusionisme. Baru di masa akhir Dinasti ini, ada banyak orang Katholik ke Tiongkok, termasuk Matteo Ricci. Setelah Dinasti Ming berakhir, dan diteruskan oleh dinasti terakhir: Dinasti Qing, yang memerintah dua ratus tujuh puluh tahun. Lalu di th. 1911, Sun yat sen mengakhiri sistem dinasti, mendirikan Republic of China. Jadi, dalam sejarah dinasti di China, kekristenan pernah beberapa kali diterima dengan baik oleh kaisar. Diantaranya, kaisar Kang xi-lah yang menerima kekristenan paling baik. Sampai hampir jadi Kristen, hanya masih merasa keberatan dengan larangan menyembah leluhur. Maka dia menulis surat dan menyuruh orang membawanya ke Vatikan, menyampaikan keinginannya untuk menjadikan Tiongkok sebagai negara Kristen. Asal Paus mengizinkan mereka tetap menyembah leluhur. Tapi karena surat itu dibawa lewat jalan darat oleh penunggang kuda, perlu waktu satu tahun empat bulan baru tiba di Vatikan. 

Dan Paus, yang sangat simpati dengan kebudayaan Tiongkok itu sudah meninggal dunia. Setelah Paus yang baru membaca surat dari Kang xi, dia membalas surat, menolak permohonannya. Surat ini juga perlu waktu satu tahun empat bulan lagi baru tiba. Setelah Kang xi membacanya, dia marah besar, langsung menyatakan putus hubungan dengan kekristenan dan Paus. (Kalau anda ke Bei jing, dapat menyaksikan: di luar pintu Gereja Katholik Cong wen men terdapat satu tembok, dimana terdapat tulisan tangan kaisar Kang xi tentang pujiannya terhadap kekristenan, yang diukir diatas marmer. Inilah sejarah penginjilan, begitu tidak mudah, memerlukan kesabaran yang sangat besar baru dapat membimbing orang Chinese meninggalkan agama mereka; jadi orang Kristen. 

Tak mungkin seorang datang menginjili, dan bila ditolak lalu mengebaskan debu dan pergi. Karena bangsa yang kebudayaannya makin ketat dan makin dalam, makin sulit diinjili. Begitu juga mama saya, meski sudah diinjili puluhan kali oleh seorang wanita Kristen, dia tetap menolak, bahkan pernah mengusirnya. Lewat beberapa bulan, waktu orang itu mendengar berita: kakak saya sakit parah, dia datang lagi. Mengapa dia yang pernah diusir mau datang lagi, apa karena dia bodoh atau tak waras? Bukan, karena Tuhan menggerakkan dia datang mendoakan kakak saya. Dan sore itu, Tuhan melakukan mujizat: kakak saya sembuh. Barulah mama membawa kami ke gereja. Jadi, kita tak dapat menjalankan ayat itu secara harafiah: saat orang yang kita injili tak mau menerima, kita langsung mengebaskan debu di kaki dan pergi; tak kembali lagi. Karena sesungguhnya, di dalam konteks ayat itu, masih ada hal-hal yang perlu kita dalami lagi.

Tanya : Bukankah Yesus itu Juruselamat dunia, mengapa Dia mengatakan: Aku hanya diutus kepada domba-domba terhilang di Israel?

Jawab : Selama tiga puluh tiga setengah tahun Yesus di dunia, memang Dia tak pernah ke tempat lain; terus di Israel. Dibandingkan dengan tempat yang pernah saya jelajah: Rusia, Eropa, Amerika, Australia, New Zealand, Afrika.... ribuan kali lebih luas dari tempat yang pernah Dia jelajah. Karena janji Yesus: ‘kamu akan mengerjakan hal yang lebih besar dariKu’. Mengindikasikan teladan yang Dia berikan pada kita: seorang pemimpin yang baik, mengharapkan penerusnya lebih hebat darinya. Waktu Yesus inkarnasi, memang Dia hanya berada di Israel. Tapi setelah Dia bangkit, Dia memerintahkan muridNya ‘pergi ke seluruh dunia, mengabarkan injil, menjadikan semua bangsa muridKu’, menyatakan bahwa masaNya berada di tengah-tengah Israel sudah berakhir. And afterward, becomes global evangelization.

Tanya : Tolong jelaskan perbedaan antara: tidak ada sebelum kita ada di dunia, dan tidak ada setelah kita tidak lagi di dunia.

Jawab : Kita memang berbeda dengan Allah yang ada dari kekal sampai kekal. Karena hanya Dia yang ada dari kekal sampai kekal. Kita juga berbeda dengan materi yang ada hanya untuk sementara dan akan lenyap. Kita juga berbeda dengan binatang, yang punya nafas untuk hidup di dunia, tapi tak tak punya roh, maka setelah bintang mati, ya tidak ada lagi. Jadi, hanya Allah yang ada sebelum dan sesudah dunia dicipta; ada dari kekal sampai kekal; eternal self existing for ever and ever. Dengan kata lain, kekekalan Allah itu tanpa awal dan tanpa akhir. Sementara manusia, ada setelah dia dicipta, tapi karena dia punya peta teladan Allah; mirip dengan Allah, maka keberadaannya adalah kekal; dari dicipta sampai selamanya; kekekalan yang ada awal - tak ada akhir.

Tanya : Bagaimana kita tahu: kita adalah orang yang dipilih dan diselamatkan oleh Tuhan?

Jawab : Kau punya kesempatan mendengar injil, itulah tanda kau adalah pilihan Allah. Karena sebenarnya, kau tak mau dan tak pernah berencana jadi orang Kristen. Jadi, kalau kau bisa mendengar injil bahkan bertemu Tuhan, adalah karena predestinasi Tuhan dan pimpinanNya. Sama seperti Paulus, pernahkah dia berencana jadi orang Kristen? Tidak; yang dia rencanakan adalah menangkap, memenjarakan bahkan membunuh orang Kristen. Tapi mengapa dia malah mendengar suara: “Saulus, Saulus, mengapa kau menganiaya Aku?” Karena Tuhan merencanakan dan memberinya kesempatan, lalu menggerakan hatinya untuk menerima Tuhan. Jadi, Tuhan berencana menerimamu, dan kau, menerima penerimaanNya; the exceptance of the exceptance. Inilah kalimat Martin Luther yang paling agung: I do not know why, You want to except a wrecked sinner like me? Tapi karena hal itu sudah menjadi satu fakta, aku hanya dapat menerima fakta bahwa Kau sudah menerima aku. Jadi, dari mana kita tahu bahwa kita dipilih?  
  1. Punya kesempatan mendengar injil, dan hatimu digerakkan untuk menerima Tuhan.  
  2. Roh Kudus menerangimu, membuatmu punya guilty feeling, so sad for your sin.  
  3. Mau menerima Kristus, dan merasa sukacita karena dosamu telah Dia ampuni.  
  4. Sifatmu berubah: membenci hal yang Tuhan benci dan mencintai hal yang Tuhan cinta --- menandakan kau sudah jadi a new creation in Jesus Christ. Tidak lagi memikirkan hal-hal yang tak berkenan pada Tuhan, yang melawan Dia. Melainkan mencintai yang Tuhan cinta dan membenci yang Tuhan benci.  
  5. Berbeban untuk mengasihi sesamamu, mengabarkan injil Kristus pada mereka. Jadi, orang yang tak punya perubahan hidup, tak mau mengabarkan injil, tak peduli pada sesamanya, sulit tahu dia itu pilihan Tuhan atau bukan.  
Tanya : Menurut Alkitab, Tuhan Yesus datang untuk menebus, tapi juga akan datang menghakimi.  Apakah orang yang sudah ditebus masih perlu dihakimi?

Jawab : Baca Ibr.9:28, waktu Kristus datang kedua kali, tak ada hubungan dengan menghukum orang beriman. Karena dosanya sudah diampuni; dia sudah diselamatkan once for ever, tak perlu dicampakkan ke neraka. Lalu bagaimana dengan orang Kristen yang malas, yang tidak setia? Tetap akan dihakimi. Karena sebenarnya, di Alkitab terdapat tujuh jenis penghakiman (baca di buku saya: Dosa, Penghakiman dan Keadilan). Diantaranya, ada dua penghakiman yang paling penting:  
  1. Penghakiman untuk orang Kristen, bukan untuk mencampakkannya ke neraka, melainkan memberinya pahala atau teguran, karena tidak mengabarkan injil, kurang setia, kurang mematuhi perintah Tuhan dan sebagainya --- the jugment before the throne of Christ.  
  2. Penghakiman di depan tahta putih yang disediakan bagi orang-orang yang menolak, yang akan dilempar ke neraka. Jadi, orang Kristen yang sudah diselamatkan tak mungkin binasa. Tapi mungkin akan menerima teguran yang membuatmu malu luar biasa. Dengan kata lain, meski masuk sorga, tapi bukan masuk dengan gagah. Berbeda dengan mereka yang setia, yang memperkenan Tuhan, yang masuk sorga dengan gagah, karena menerima the crown of life.
Tanya : Mungkinkah kelak, di penghakiman terakhir, kita dihakimi oleh Tuhan dari agama lain?

Jawab : Tentu tidak! Karena Tuhan yang sejati itu Esa, Dia adalah Tuhan yang tertulis di Alkitab: Tuhan yang Mahasuci, Mahaadil, Mahakasih, Mahabajik, Mahabesar dan Mahabenar --- Tuhan Yesus Kristus. Bukan ‘tuhan’ yang membeda bedakan tuntutNya pada pemimpin dan pengikut, juga bukan tuhan buatan tangan manusia atau tuhan yang tak punya sifat ketuhanan yang sejati. Untuk apa kau kuatirkan soal bertemu dengan Tuhan yang lain? Karena sesungguhnya, tak ada Tuhan yang lain.

Tanya : Bukankah Yohanes pembaptis itu nabi yang terakhir, mengapa di Kis. 11:27-28 terdapat nabi?

Jawab : Istilah ‘nabi’ mengacu pada: 1. Segi yang sempit: orang yang punya jabatan sebagai nabi. 2. Segi yang luas: orang Tuhan urapi untuk menyampaikan firmanNya. ‘Yohanes pembaptis disebut nabi yang terakhir’ karena ‘nabi-nabi’ di P.L., menubuatkan Yesus yang inkarnasi, dan Yohanes pembaptis, tak perlu menubuatkan hal itu, karena Yesus sudah inkarnasi, dan dia sudah bertemu denganNya. Maka dia disebut ‘nabi yang terakhir’. 

Lalu mengapa di P.B. masih ada nabi? di Kisah Para Rasul terdapat: 1. Agabus, yang bernubuat tentang Paulus, Yerusalem. Dan nubuatnya terwujud. 2. empat orang anak perempuan Philip, the evangelist yang dapat bernubuat. Jadi, di GRII juga ada ‘nabi’? Tidak ada. Karena dua perkara tadi terdapat di masa Kisah Para Rasul, masa dimana Kitab Suci belum diwahyukan secara lengkap. Tapi setelah Alkitab selesai ditulis, tidak ada jabatan nabi atau rasul lagi. Di gereja hanya ada tiga jabatan: 1. Penginjil: orang yang memberitakan injil, membawa orang percaya Yesus. Bagai ‘ibu’ yang melahirkan anak. 2. Guru: instruktur bagi anak-anak yang sudah lahir baru. 3. Gembala: Membalut domba yang luka, membawa yang sakit ke dokter, memberi makan.... namun meski jabatan nabi, rasul sudah tak ada, fungsi sebagai nabi, rasul tetap ada. 

Maka kata Paulus, tuntutlah karunia menjadi nabi. Maksudnya: tuntutlah karunia untuk menyampaikan firman Tuhan; berkhotbah. Bukan menubuatkan kedatangan Yesus. Empat macam nubuat di Alkitab:  
  1. Prophesied of Jesus Christ to come: Yesus akan lahir di Betlehem, akan disalib, mati di atas kayu salib.... 
  2. Prophecied of God’s judgment to all the nations: Babilonia akan digulingkan, Mesir akan dihancurkan, Sidom dan Tirus akan mendapat melapetaka.... --- menyatakan keadilan Tuhan. 
  3. Prophecied of some small things will happen in the few days: ‘Ahab, kau akan mati, darahmu akan dijilat oleh anjing’ ‘Tak akan ada hujan...’ Nubuat mana yang lebih penting: kedatangan Yesus atau kematian seseorang? Kristologi. Tapi sekarang, Karismatik membalikkan ordo di Alkitab: tak menganggap penting akan kedatangan Kristus, menganggap penting hal-hal kecil yang akan terjadi.  
  4. Satu-satunya nubuat yang belum digenapkan: the second coming of Christ. Gereja harus menegaskan pada dunia, Yesus akan datang lagi. Tapi bukan meramalkan tanggal kedatanganNya ---- nabi palsu. 
Seperti yang dilakukan oleh pendiri dari stasiun TV: Family Channel, orang Amerika, yang sudah berusia tujuh puluh sekian tahun, yang dengan penuh percaya diri meramalkan kiamat akan terjadi pada tgl. 25 Mei – tapi ternyata tak terjadi. Mengundang tertawaan orang. Inilah yang sudah saya sampai di khotbah: Investasi Setan dan Ambruknya Gereja: setan memperbolehkan pemimpin ‘kristen’ jadi ‘hebat’; ‘besar’ dan menghancurkannya secara tiba-tiba. Karena dia memang bukan mengerjakan pekerjaan Tuhan. 

Mari kita tidak mengikuti kemauan diri, menganggap diri pintar, hebat. Karena setan jauh lebih lebih lincah, lebih cerdas dari pendeta yang mengaku-ngaku ‘hamba tuhan’. Saya tak tahu, apa jadinya setelah fakta pendiri Family Channel menyampaikan nubuat kosong itu terkuak? Mungkin menggoncang ratusan juta orang, membuat orang semakin menghina kekristenan. Saya harap, GRII tidak menjadi gereja yang tak beres, mengundang banyak orang mempermalukan Tuhan.

(ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah--EL)

...

Pengkhotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong
...


Sumber : http://www.noah.byethost22.com/index.php?hal=RingkasanKhotbah

Jumat, 31 Oktober 2014

Hati Seorang Pemimpin


 


Saudara mau tidak mau dipanggil Tuhan untuk memimpin sekelompok orang. Namun dari manakah asalnya seorang pemimpin itu? Pemimpin itu dilahirkan atau dibentuk? Hal ini selalu menjadi pertanyaan di dalam ilmu kepemimpinan. Orang yang percaya pemimpin dilahirkan dan tidak memerlukan pembentukan atasnya, menjadikan mereka pesimistik dan tidak akan terjun di dalam melatih pemimpin. Orang yang percaya bahwa pemimpin bukan dilahirkan tetapi hasil pendidikan, akan selalu kurang melihat apa yang Tuhan tanam di dalam diri orang-orang tertentu yang bertugas menjalankan mandat surgawi yang penting. 


Saya sendiri percaya secara potensi pemimpin dilahirkan. Secara aktualisasi, pemimpin perlu dibentuk. Jadi setiap pemimpin yang besar, ada unsur potensinya, tetapi kalau unsur potensi tidak diperkembangkan akan menjadi bakat yang mati.

Maka Yesus sendiri selama 33,5 tahun di dunia meluangkan seluruh waktu pelayanannya 3,5 tahun untuk melatih pemimpin. Pemimpin harus dilatih di dalam banyak aspek. Seorang pemimpin memerlukan hati yang lebar dan lapang. Kesempitan seseorang akan membatasi kekuatan kepemimpinan orang itu. Sampai di mana takaran kemungkinan menampung orang lain dalam dirimu, itu menjadi potensi kemungkinan engkau memimpin berapa banyak orang. Ini dalil dan prinsip yang penting sekali.

Ketika Salomo dipilih menjadi pemimpin, dari saudara-saudaranya yang sama-sama keturunan Daud, ia adalah yang kecil, bukan kakak yang besar. Tapi mandat surga beserta panggilan dan pelantikan Tuhan datang kepadanya sehingga mengakibatkan kakaknya iri hati. Lalu di antara permintaannya kepada Tuhan sebelum menjabat sebagai raja Israel, Salomo berkata dalam 2 Tawarikh 1:10, “Berilah sekarang kepadaku hikmat dan pengertian, supaya aku dapat keluar dan masuk sebagai pemimpin bangsa ini, sebab siapakah yang dapat menghakimi umat-Mu yang besar ini?” (bnd. 1Raj. 3:9), karena Salomo tahu bahwa dia akan memerintah dan memimpin rakyat yang banyaknya seperti pasir laut. Ini adalah satu permintaan dan satu doa yang sangat sesuai dari seorang yang bersiap menjadi pemimpin. Kalau hatimu hanya bisa menampung lima orang, besok kamu akan menjadi pemimpin untuk paling banyak lima orang. Kalau hatimu bisa menampung lima juta orang, kamu mungkin berpotensi memimpin lima juta orang. Krisis kekristenan selalu terjadi berawal dari krisis kepemimpinan.

Seorang pemimpin yang hatinya sempit bukan saja menyusahkan orang yang dipimpin, namun terlebih dahulu menyusahkan diri sendiri. Apakah perbedaan Saul dan Daud sebagai pemimpin umat Allah? Perbedaanya adalah Saul tidak bisa mengalahkan musuh yang ada di dalam hatinya, yaitu kesempitannya. Salah satu dosa yang paling sulit kita kalahkan, salah satu kelemahan yang paling sulit kita atasi adalah pada saat kita mendengar penilaian orang lain yang membandingkan diri kita dengan penilaian orang lain terhadap orang lain. Saat terjadinya penilaian orang terhadap dirimu, tidak sebaik penilaian orang terhadap orang lain, itu sebenarnya menjadi saat engkau memikul salib.

Tetapi kalau kita lupa bahwa kita dipanggil untuk memikul salib, langsung kita terjerumus di dalam kuasa kematian dan tidak akan melihat kuasa kebangkitan. Kalimat yang didengar oleh Saul waktu melihat Daud berhasil mengalahkan dan membunuh Goliat adalah “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” (1Sam. 18:7). Perkataan ini menanamkan suatu kebencian dan suatu dendam yang tidak pernah selesai di dalam sisa hidup Saul. Mulai saat itu kepemimpinannya goncang.

Saya minta kepada saudara-saudara untuk meminta kepada Tuhan memberikan hati yang lapang untuk melihat keunggulan orang lain. Kalau itu tidak saudara selesaikan, saudara akan memikul salib yang tidak perlu dan tidak ada pahalanya. Saudara akan menyiksa diri di dalam kepahitan yang terus merongrong tidak habis-habisnya. Saya merasakan ada beban untuk membicarakan tema ini kepada saudara yang mungkin di antara kalian ada yang dibangkitkan Tuhan menjadi pemimpin-pemimpin yang penting untuk abad 21.

Toleransi dan Menghargai Keunggulan Orang Lain

Saudara-saudara, hati yang lapang memiliki toleransi dan menghargai keunggulan orang lain. Kesuksesan orang lain bukan menjadi penyebab untuk iri tetapi seharusnya menjadi penyebab kita belajar. Di belakang kesuksesan yang diraih orang lain, ada banyak air mata yang pernah dialirkan yang kita tidak melihatnya. Di belakang kesuksesan orang lain, berapa banyak jalan yang berliku-liku yang ditempuh, kita tidak tahu.

Tetapi tidak ada kesuksesan yang tidak membayar harga. Ini satu pengertian yang harus tertanam di dalam hati kita masing-masing untuk mengagumi fondasi yang tidak kelihatan lebih daripada mengagumi bangunan yang kelihatan. Bangunan yang tinggi kalau tidak mempunyai fondasi yang mendalam, akan memiliki kemegahan yang sementara. Bangunan yang tinggi harus mempunyai fondasi yang memadai untuk menjamin dan mendukung yang kelihatan. Jikalau manusia hanya mementingkan bagian yang kelihatan dan selalu melalaikan bagian yang tidak kelihatan, maka saatnya kita sebagai hamba Tuhan menyatakan perbedaan kita dengan yang lain.

Kita harus lebih mementingkan dasar yang tidak kelihatan daripada fenomena yang kelihatan karena dasar itulah yang menunjang keberadaan fenomena, bukan fenomena yang menjadi penunjang dasar yang tidak kelihatan itu. Hati yang lapang selain toleransi dan menghargai keunggulan orang lain, juga harus rendah hati dan bersedia mempelajari segala upaya yang dikorbankan sebelum meraih kemenangan itu. Hati yang lapang dan yang luas juga adalah hati yang menoleransi kelemahan orang yang kurang dan gagal. Jikalau seseorang mengagumi kesuksesan orang lain tetapi menghina kegagalan orang lain, dia tetap tidak bisa menjadi pemimpin yang baik. Kepada atasan, kepada mereka yang lebih mencapai kesuksesan dari kita, kita bersyukur kepada Tuhan yang memberi karunia yang begitu besar, kita bersyukur kepada Tuhan memberi potensi yang begitu baik, kita bersyukur kepada Tuhan memberi kesempatan yang begitu indah, dan kita bersyukur kepada Tuhan memberikan niat perjuangan yang begitu berharga, kita bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan telah memimpin kesulitan yang begitu lama sehingga ada hari kesuksesan orang lain.

Sebaliknya, pada saat kita melihat orang lain mengalami kegagalan, kelemahan, dan kekurangan, reaksi pertama yang seharusnya ada dari hati orang yang luas adalah: mau menemukan kekurangan kita di dalam kewajiban menolong dia lebih dari melihat kekurangan dia yang tidak mencapai kesuksesan. Setiap kali kita menyadari kelemahan kita melalui kegagalan orang lain, saat itu kita masih mungkin maju di dalam kerohanian. Setiap kali kita melalaikan kewajiban kita, hanya insaf kegagalan orang lain, di situ kita kemungkinan diperalat setan untuk menghina yang lain dan merebut kemuliaan Tuhan. (Bersambung)



Sumber : http://www.nusahati.com/2014/01/hati-seorang-pemimpin/

Kasih Yang Sempurna (Bagian III)



Kasih Yang Sempurna (Bagian III)
Tingkatan Kasih Kepada Manusia
Kini kita perlu secara khusus membahas lebih terperinci tentang cinta kasih yang terjadi di antara sesama manusia. Cinta kasih yang terjadi di antara sesama manusia ini masih perlu kita bagi lagi menjadi beberapa tingkatan.

Mengasihi Yang Agung

Tingkatan yang pertama adalah bagaimana kita harus mengasihi orang yang agung, yang tinggi, dan hormat. Kita perlu mengasihi orang-orang yang dari mereka kita bisa belajar banyak. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang melampaui zaman. Orang-orang agung  ini adalah orang-orang yang lintas zaman, mereka senantiasa dikenang, dihormati, dan dipelajari oleh orang-orang di segala zaman. Mungkinkah orang di abad ke-21 mencintai orang yang sudah meninggal tiga ribu tahun yang lalu? Mungkin saja. Kita bisa mencintai Musa, Daud, Abraham, atau tokoh-tokoh lainnya. Kita bisa belajar dari teladan hidup mereka, karena mereka begitu anggun, begitu terhormat, begitu bernilai sampai sekarang. Walaupun mereka sudah meninggal sekian lama, sudah menjadi mayat, sudah menjadi tulang belulang, bahkan sudah tidak adalagi bekasnya, namun pikiran dan hidup mereka tetap mempengaruhi manusia dari zaman ke zaman.  Itulah kasih manusia yang melampaui pergerakan zaman dan melampaui waktu. Kita menghormati dan mengasihi Paulus, Petrus, dan murid-murid Tuhan Yesus lainnya atau tokoh-tokoh besar yang kita pelajari satu persatu dalam Ibarani pasal 13. Kita dapat mencintai manusia, bahkan mencintai orang sudah mati ribuan tahun yang lalu. Cinta itu bisa melampaui zaman, melampaui segala bentuk fenomena. Orang mengatakan bahwa Socrates adalah orang yang wajahnya bagaikan badut, tetapi memiliki jiwa Tuhan Allah. Jadi, ketika kita melihat wajahnya, kita akan melihat sedemikian buruknya, tetapi di lain pihak, seluruh dunia menghormatinya karena dia mempunyai jiwa yang anggun sekali. Inilah cinta kepada manusia, yang melampaui zaman, bangsa, suku, keelokan (penampilan fisik). Inilah cinta yang sungguh; cinta kepada orang yang anggun, tinggi, hormat. Jadikanlah dirimu seorang yang patut dikasihi umat manusia; bahkan setelah kamu meninggal beratus tahun lamanya, kiranya hidupmu boleh menjadi hidup yang dirindukan dan diteladani disepanjang segala zaman.
Mengasihi Yang Setara

Tingkatan kedua dari mengasihi sesama adalah bagaimana kita bisa mengasihi sesama kita yang sederajat dengan kita. Itu yang kita kenal sebagai kasih persaudaraan, kasih persahabatan. Sama-sama menjadi Kristen, sama-sama menjadi majelis, sama-sama menjadi hamba Tuhan, sama-sama hidup di dalam satu negara, sama-sama di dalam satu zaman, di tempat dan waktu yang sama. Mari kita mengasihi dengan kasih persaudaraan dan persahabatan sebagai kawan dengan kawan. Ini adalah cinta kasih yang sejajar. Kita tidak mutlak harus luar biasa menghormati seseorang baru dapat mencintainya. Ada orang yang hanya melihat ke atas dan tidak melihat ke bawah; dia menghina orang yang sedikit kalah intelektualitasnya dibandingkan dirinya. Itu tidak boleh dan tidak baik dilakukan. Sebagai seorang pendeta senior, bahkan jauh lebih senior daripada kebanyakan rekan kerja saya di Gereja, saya tetap berusaha untuk mau melihat kebaikan mereka satu per satu. Setiap rekan kerja yang saya undang untuk bersama berjuang dalam pelayanan adalah orang yang saya nikmati kelebihan mereka. Kalau ada orang yang mengatakan bahwa saya tidak bisa memakai orang pandai, saya rasa kalimat itu bohong, fitnah. Dan saya marah sekali, karena di antara rekan kerja yang saya panggil, banyak orang pintar. Dan sepintar apa pun mereka, jika mereka merasa lebih pintar dan tidak mau bekerja sama dengan saya, itu berarti merekalah yang tidak mau bekerja sama dengan saya. Bukan saya yang tidak mau bekerja sama dengan orang pintar.

Mari kita belajar, jangan karena melihat orang memiliki sedikit kekurangan dibandingkan dengan kita, maka kita menghina dia. Ketika saya memanggil rekan-rekan kerja saya, mereka menjadi teman baik saya. Namun, antara teman baik saya dan teman baik saya yang lain, ternyata bisa tidak baik. Si A adalah teman baik saya, demikian pula si B, tetapi A dan B ternyata tidak menjadi teman baik. Saya sangat berharap teman baik saya juga akan berteman baik dengan teman baik saya yang lain. Dengan demikian mereka juga bisa belajar saling mengasihi, saling menghargai, saling menghormati. Dengan demikian, teman baiki saya yang satu dengan teman baik yang lain menjadi teman. Jika saya yang lebih senior mau menjadi teman dari rekan-rekan yang lebih senior mau menjadi teman dari rekan-rekan yang lebih junior, melainkan bisa menikmati kelebihan mereka masing-masing, kiranya teman-teman junior saya juga boleh saling menghormati dan tidak menghina sesama rekan dan juga boleh menikmati kelebihan mereka masing-masing. Kalau bisa, saya mau memupuk, mengoreksi, dan memberi tahu supaya mereka bisa maju dengan sikap yang sama. Tuhan mau dicintai oleh kita, dan Tuhan mau kita juga saling mencintai. Yesusberkata,”Sebagaimana Bapa mencintai Aku, demikian Aku mencintai kamu. Dan Aku memberi perintah kepadamu untuk saling mengasihi.”

Di dalam mengasihi sesama, hal terbaik yang diperlakukan adalah terjadinya saling menerima (coacceptance), kita harus memposisikan diri dalam posisi sejajar dengan orang yang kita kasihi, sehingga kita tidak menjadi superior di hadapan dia. Kita perlu menghargai kelebihan-kelebihan yang dia miliki, sama seperti  dia juga menghargai kelebihan-kelebihan yang kita miliki. Jika kita menghina orang lain karena kita anggap kita lebih superior daripada dia, itu berarti kita tidak bisa melihat kelebihan yang ada pada dia, dan malah mengukur dia  menurut kelebihan-kelebihan kita. Bentuk relasi seperti ini tidak mencerminkan kasih kepada sesama. Khususnya ketika kita mau belajar menerima orang-orang yang sulit kita terima, dibutuhkan suatu kesabaran yang sangat besar. Tetapi  hal ini sangat penting, karena dari sini nanti akan terbentuk suatu harmoni masyarakat. Kalau kita hanya menerima yang mudah kita terima, akan terbentuk pengelompokan masyarakat dan akan berakhir dengan pertikaian dan peperangan. Kasih yang baik kepada sesama merupakan rahasia keharmonisan masyarakat. Maka kata kunci yang penting di dini adalah sinkronisasi. Perlu ada kinerja dan gerak bersama. Saya menerima kamu sebagaimana adanya, dan kamupun menerima saya sebagaimana adanya. Menerima seseorang berarti menerima kelebihan dan sekaligus kelemahannya. Jika kita hanya mau menerima yang baik, lalu menghina semua kekurangan. Itu bukanlah sikap kasih. Tetapi kasih adalah ketika kita menerima seseorang, kita melihat ada kelemahan-kelemahan pada dirinya, dan kita tidak suka pada kelemahan-kelemahan itu, namun kita tetap mengasihi dia dan menerima dia. Itulah kasih yang Tuhan Yesus terapkan dan lakukan terhadap umat-Nya. Dengan demikian, jika kita bisa mengasihi seperti itu, kita baru belajar mengasihi orang yang hebat, yang sangat baik, itu bukan kasih, itu hanyalah suatu kekaguman. Dan sering kali, perasaan kekaguman akan kehebatan orang bisa mengarah kepada motivasi ingin memperalat dan mendapatkan keuntungan dari dirinya. Siapa yang tidak mau menyayangi orang yang sangat cantik, siapa yang tidak mau mencintai orang yang sangat ganteng, siapa yang tidak mau dekat dengan orang yang pandai. Lalu, apakah orang kurang cantik boleh dihina, yang kurang pandai boleh disisihkan? Mengasihi adalah belajar belajar memberikan sesuatu kepada yang tidak patut menerima.

Pada suatu saat, saya membaca sebuah artikel yang menceritakan bagaimana seorang suami begitu mengasihi istrinya, sekalipun istrinya mengalami kecelakaan dan hidungnya hancur. Saya saat itu mencoba mengevaluasi kerohanian saya, apakah saya bisa bersikap seperti suami itu. Suami istri ini mempunyai anak-anak yang baik. Secara teori saya belajar bagaimana mengasihi, tetapi secara praktis ternyata sedemikian sulit bagi kita untuk bisa mengasihi orang yang sulit dikasihi. Saya minta Tuhan mengampuni saya.

Kita harus belajar mengasihi yang tidak patut dikasihi. Kita harus belajar menghormati seseorang karena dia juga manusia. Kita tidak menghormati dia pandai atau baik atau punya keunggulan tertentu. Kita perlu menghormati dia karena dia adalah manusia. Seorang ibu harus menerima bagaimanapun keadaan anaknya, karena memang dia tidak berhak memilih. Memang hal ini tidak terlalu terasa jika anak kita sehat, lahir dengan utuh sempurna, dan rupawan. Tetapi bagaimana jika anak kita lahir cacat? Apakah kita masih bisa tetap mengasihinya? Saya pernah melihat seorang ibu yang menggendong anaknya yang idiot sampai sepuluh tahun. Setelah sepuluh tahun, ibu ini tidak bisa bertahan lagi, lalu menyerahkan anaknya kepada pemerintah Amerika Serikat. Tapi paling tidak ibu ini sudah bisa bertahan sepuluh tahun. Itu bukanlah keadaan yang mudah untuk dijalani. Tuhan telah mengasihi kita, maka kita perlu belajar saling mengasihi. Kalau Tuhan mau mencari kelemahan dan kekurangan kita, pasti setiap kita sudah dibuang ke neraka. Jika Tuhan bisa mengasihi kita yang tidak layak dikasihi ini, sebaliknya kita tidak bisa mengasihi orang lain, lalu kita mengatakan bahwa kita adalah orang Kristen, maka kita adalah penipu dan pembohong. Kita harus belajar mengasihi mereka yang tidak patut kita kasihi, sehingga tidak ada seorangpun yang kita hina atau kita benci. Memang sangat tidak mudah untuk mengasihi yang tidak mengasihi kita, tetapi itulah yang Tuhan kehendaki.

Mengasihi Yang Lebih Rendah

Ketiga, kita juga harus mengasihi mereka yang lebih rendah posisinya daripada kita. Bukan persahabatan, bukan perkawanan, tetapi suatu perasaan belas kasihan. Kita mengagumi orang yang lebih tinggi posisinya daripada kita. Kita mengasihi orang yang sejajar dengan kita, dan kita memberikan belas kasihan kepada mereka yang berada lebih rendah daripada kita. Alkitab mengatakan jika seseorang menutup hatinya dan tidak mau memberi belas kasihan kepada orang lain. Tuhan pun akan menutup hati-Nya dan tidak memberikan belas kasihan kepadanya. Berbahagialah mereka yang memberikan belas kasihan kepada orang lain, karena mereka juga akan mendapatkan belas kasihan Tuhan. Inilah emosi yang begitu tinggi dan anggun dari Tuhan Yesus Kristus. Ketika Tuhan Yesus berinkarnasi di dunia, Alkitab sepuluh kali mencatat Dia tergerak oleh belas kasihan kepada manusia. Memang orang yang bertindak dengan cara yang tidak jujur dan bersifat memeras harus kita didik dan kita hajar, namun mereka yang jujur perlu mendapatkan belas kasihan. Kita harus mengasihani mereka yang betul-betul jujur, tulus dan yang posisinya lebih rendah daripada kita.

Di tengah masyarakat, apalagi belakangan ini, kejahatan semakin merajalela. Ada pegemis-pengemis yang luar biasanya jahatnya. Mereka sengaja memakai pakaian kotor supaya kelihatan miskin untuk mendapatkan uang lebih banyak daripada mereka yang bekerja keras banting tulang. Orang seperti ini bukan memerlukan belas kasihan, tetapi memerlukan hajaran yang keras. Di suatu kota di Indonesia, saya mengetahui ada orang yang menyewakan pakaian seharga dua puluh ribu rupiah sehari. Pakaian itu adalah pakaian yang kotor dan compang camping. Tetapi dengan memakai pakaian itu dan meminta-minta, orang bisa mendapatkan uang lima puluh ribu rupiah sehari. Maka ada orang-orang yang mau menyewa pakaian ini karena berfikir akan mendapatkan keuntungan dengan meminta-minta. Yang lebih jahat lagi, ada orang-orang yang sengaja mematahkan tangan anaknya dan menggendong anak itu untuk mendapatkan uang. Adalah tugas pemerintah untuk menghukum dan membereskan orang-orang seperti ini, karena ini merupakan tindak kejahatan, yaitu melakukan manipulasi terhadap orang-orang yang memiliki hati nurani yang baik.
Alkitab mengatakan, jika kamu memiliki kelebihan uang, berikanlah itu kepada mereka yang patut menerimanya. Tetapi siapakah yang patut menerima itu? Bagi saya, orang yang berhak menerima belas kasihan dan uang kita adalah kepada mereka yang sudah bekerja keras membanting tulang tapi masih tetap hidup dalam kekurangan, dan merasa tidak patut menerima pemberian kita. Orang-orang seperti inilah yang justru patut menerima pemberian kita. Orang yang tidak mau bekerja, yang hanya mau meminta-minta, mengambil keuntungan dari belas kasihan orang, justru patut menerima belas kasihan kita. Kita harus memiliki kebijaksanaan yang cerdik dan cerdas untuk bisa mengatur semua pemberian kita, agar kasih kita tidak dipermainkan dan belas kasihan kita tidak diperalat oleh mereka yang jahat. Banyak anak muda yang penuh dengan rasa belas kasihan akhirnya tertipu oleh orang-orang jahat ini. Saya juga pernah ditipu oleh orang yang mengaku menjadi Krsiten dan mau dibunuh, ternyata dia berbohong. Namun, dosen saya pernah mengatakan,”Lebih baik terus membantu orang lain sekalipun ditipu, daripada tidak pernah membantu karena takut ditipu.” Yang paling jahat adalah kita menipu orang lain yang berbelas kasihan. Yang membahagiakan saya adalah sekalipun sering kali  salah dan tertipu, tetapi saya tidak menipu. Namun, kita perlu terus belajar sehingga kita tidak mudah ditipu, dan lebih jauh lagi, bisa menemukan siapa penipunya dan ikut membereskan kerusakan di dalam masyarakat.

Mengasihi Musuh

Dan kasih yang paling besar bukan lah mengasihi yang lebih tinggi, yang sejajar, atau yang lebih rendah, tetapi mengasihi musuh. Ini adalah pengajaran yang luar biasa dari Alkitab. Kasih inilah yang diajarkan dan dijalankan oleh Yesus Kristus. Tuhan Yesus Kristus mengatakan. “Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang telah mereka perbuat,”. Selain Tuhan Yesus, tidak pernah disepanjang sejarah ada teori kasih seperti itu. Mengasihi musuh dimulai dari pengajaran Yesus Krsitus. Ajaran kasih seperti ini tidak bisa kita temukan dalam filsafat Aristotle, atau Plato, atau Socrates. Demikian juga tidak ada dalam pengajaran Lao Tze, Mao Ze Dong, konfisius, atau Hindusme. Ada pengajaran Lao Tze yang mencoba mendekati ajaran itu. Lao Tze mengajarkan :”Terhadap orang yang baik kepadamu, baiklah juga padanya, dan juga baik kepada orang yang tidak baik kepadamu.” Ini adalah puncak ajaran moral Lao Tze. Etika Konfusius belumlah setinggi itu. Konfusius mengajarkan  :”Moral dibalas  moral: dengan kebajikan membalas kebajikan; dengan tegas dan lurus membalas kejahatan.” Jadi, kalau ada orang yang tidak baik kepadamu, kamu harus tegas dan jujur membalas kejahatannya. Tetapi kalau orang itu baik kepadamu, kamu juga harus baik kepadanya.
Memang Lao Tze mengatakan agar kita juga berbuat baik kepada orang yang tidak baik kepada kita. Tetapi dia sama sekali tidak sampai ketingkat bagaimana kita bukan hanya baik, tetapi mengasihi musuh kita, dan mendoakan dia, mendoakan orang-orang yang menganiaya kita. Tuhan Yesus bukan hanya menjalankan keduanya, yaitu mengasihi musuh dan mendoakan yang menganiaya Dia, tetapi Tuhan Yesus juga mengusahakan pengampunan mereka. Dan Dia rela mati untuk  mereka yang membunuh-Nya. Orang yang agung adalah orang yang hidupnya bisa melampaui teorinya yang sedemikian tinggi. Orang yang hina adalah orang yang teorinya lebih tinggi daripada hidupnya. Orang biasa adalah orang yang tahu teori yang sulit, tetapi lebih sulit lagi menjalankannya dalam hidupnya. Yesus Kristus mati bagi orang-orang yang membunuh-Nya. Dia digantung di kayu salib, tetapi Dia justru mendoakan mereka yang memaku-Nya disana. Itulah Sang Juruselamat.

Penutup

Hambatan dalam mengasihi
Dalam bagian yang terakhir ini, apakah yang menghambat kita untuk mengasihi? Ada tiga hal yang menyebabkan kita terhambat untuk mengasihi. Pertama, Yesus berkata, pada akhir zaman, pelanggaran hukum akan semakin banyak sedangkan kasih semakin sedikit. Mengapa cinta kasih kita hilang. Karena kita berani melanggar hukum. Semakin berani kita melanggar hukum semakin tidak ada cinta kasih. Kedua, mengapa kita tidak ada cinta kasih? Karena  terlalu diisi cinta kepada dunia sehingga akhirnya tidak ada lagi cinta untuk orang lain. Orang yang semakin mencintai dunia, semakin meneladani dunia, dan semakin tidak mencintain Tuhan Allah. Ketiga, orang yang semakin memperhatikan diri sendiri, sehingga tidak ada waktu  dan kesempatan untuk mencintai orang lain, tentu juga tidak sempat lagi mencintai Tuhan.

Membangkitkan Kembali Cinta Kasih Yang Pudar
Bagaiman kita kembali membangkitkan cinta kasih yang telah redup? Pertama, kita perlu penyangkalan diri. Penyangkalan diri mengakibatkan kita mengetahui bagaimana mengasihi orang lain. Kalau diri kita menjadi pusat segala sesuatu, bahkan Allahpun harus melayani kita, maka tidak mungkin kita dapat membagikan sesuatu untuk orang lain.

Kedua, kita harus meneladani Yesus Kristus. Yesus berkata,”Pikulah kuk-Ku dan tanggunglah beban-Ku. Belajarlah dari-Ku. Akulah peta teladan yang menjadi contoh bagimu. Ikutlah teladan-Ku, pikullah Kuk Ku, tanggung bebanKu, beban-Ku ringan adanya.”

Ketiga, kita perlu dipenuhi Roh Kudus, ketika Roh Kudus berbuah, buah pertama yang muncul adalah kasih, Di dalam sembilan citra buah Roh Kudus, justru tidak ada sifat”kudus.” Karena itu adalah sifat essensi paling dasar yang melekat pada Roh Kudus itu sendiri. Buah pertama dari Roh Kudus adalah kasih. Kasih, sukacita, damai sejahtera dan seterusnya. Orang yang dipenuhi Roh Kudus pasti dipenuhi dengan kasih. Jikalau ada yang mengatakan orang ini penuh dengan Roh Kudus, tetapi kamu melihat dia penuh dengan Roh Kudus, tetapi kamu melihat dia penuh dengan kebencian, janganlah kamu melihat dia penuh dengan kebencian, janganlah kamu percaya kepadanya, karena Buah Roh Kudus yang pertama adalah kasih.

Terakhir, kita perlu senantiasa mengingat anugerah-Nya. Kasih itu hilang karena orang lupa bagaimana dia telah menerima anugerah dari Allah. Yesus berkata kepada jemaat Effesus.”Janganlah kehilangan cinta yang semula.” Cinta yang mula-mula selalu bodoh, tetapi cinta yang mula-mula itu selalu murni. Masih ingat cinta pertama anda? Ketika anak saya pertama kali mengatakan.” Pa, saya senang kepada seseorang.” Saya cuman menjawab.”Jangan-jangan itu cinta monyet.” Sebab saat itu dia baru berusia 17 Tahun. Kebanyakan cinta pertama tidak jadi. Kebanyakan cinta pertama juga tidak terlalu bahagia. Cintanya sungguh-sungguh namun bodoh karena tidak berpengalaman. Walaupun demikian, waktu Tuhan mencintai kita, Dia tidak bodoh. Cinta Allah adalah cinta yang murni. Cinta yang diberikan Tuhan di dalam diri kita juga memiliki kemurnian. Pada saat cinta itu tiba pada kita, kita memang masih bodoh, tetapi kita mencintai  dengan cinta yang murni. Kita ingat juga bagaimana kita menerima berkat Allah yang sedemikian besar. Dengan itu kita memupuk  cinta kasih kepada orang lain. Kiranya Tuhan membersihkan cinta kita, baik kepada Tuhan Allah, kepada manusia dan kepada segala sesuatu, sebagai berkat-Nya dan pernyataan kasih-Nya. Amin

...

Diambil dan disalin kembali dari buku  Pdt. Dr. Stephen Tong , DLCE:  Pengudusan Emosi (Hal 384 s.d 397)


Sumber : http://www.nusahati.com/2014/01/kasih-yang-sempurna-bagian-iii/