Senin, 21 November 2011

Sepuluh Hukum – Hukum Ketiga


Kita sudah menyelesaikan pembahasan hukum kedua. Allah tak mengenal kompromi terhadap penyembahan allah palsu. Allah sejati yang suci, tidak akan membiarkan manusia yang Dia ciptakan seturut peta teladan-Nya, membagi kemuliaan yang seharusnya diberikan kepada-Nya kepada objek lain. Dia memberi hidup kekal di dalam Yesus Kristus kepada orang yang mencintai Dia dengan segenap hati, tetapi menuntut orang yang membenci-Nya sampai tiga atau empat generasi. Maka hukum kedua adalah satu-satunya di Sepuluh Hukum yang mengandung warning dan promise.

Hukum ketiga bukan melarang kita menyerukan nama Tuhan, melainkan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Sama juga, orang Kristen boleh memiliki ambisi besar asal bukan untuk diri sendiri. Saya memiliki ambisi yang sangat besar. Saya tidak puas jika gedung gereja selesai dibangun. Gedung yang besar hanyalah anugerah Tuhan yang terkecil bagi gereja.

Anugerah Tuhan yang lebih penting adalah iman, firman, cinta kasih, kuasa Roh Kudus, mengerti kehendak Allah, dan berpartisipasi dalam rencana kekal-Nya. Kalau kita semua mengerti hal ini tentu tak akan tertipu oleh hal-hal sekunder lalu melalaikan hal-hal primer. Oleh karena itu, kata “jangan sembarangan” penting untuk mengerti seluruh ayat.

Nama dan Kualitas Realitasnya
Rektor Sekolah Theologi saya mengingatkan, jangan bergaul dengan orang yang buka mulut tutup mulut selalu menyebut nama Tuhan. Saya setuju dengan pendapatnya karena orang yang selalu membawa-bawa nama Tuhan jangan-­jangan dirinya justru tidak mengenal Tuhan. Demikian pula, banyak pendeta yang berteriak-teriak dan banyak berseru tentang Roh Kudus, sebenarnya malah tidak mengerti doktrin Roh Kudus. Mereka berani mempersamakan Roh Kudus dengan gejala-gejala, baptisan Roh dengan berbahasa lidah. Arti kata “baptis” adalah menguduskan. Namun mereka bukan menekankan pertobatan, pembersihan jiwa, pikiran, dan kelakuan melainkan karunia berbahasa roh — salah tafsir Alkitab yang telah menyesatkan banyak orang. Mengapa Allah melarang kita menyebut nama-Nya dengan sembarangan? Untuk itu, kita perlu pertama-tama mengetahui siapa yang ada di balik nama itu. Filsafat Konfusius mengajarkan zheng ming lun (teori nama yang benar)yang selama 2.500 tahun dijunjung tinggi oleh kebudayaan Tionghoa, yaitu: nama harus sesuai dengan fakta. Pemikiran seperti ini tidak kita temui dalam filsafat Aristoteles maupun Sokrates.

Pada suatu saat, ada seorang murid saya melakukan praktek khotbah. Judul khotbahnya sangat menarik, yaitu “Roh Kudus menggerakkan dan mengarahkan keinginan seseorang yang terdalam”. Pada awalnya saya mengira dia sudah memikirkan tema yang sedemikian penting dan besar secara mendalam. Namun, ketika saya mendengarkan khotbahnya, ternyata khotbahnya kacau sekali dan tidak beres. Maka saya menanyakan mengapa dia memberikan judul khotbah yang begitu besar dan luar biasa, tetapi isinya tidak karuan. Dia menjawab bahwa dia menemukan pernyataan yang bagus itu dari sebuah buku, lalu dia pakai menjadi judul khotbah, tetapi kemudian dia mengaitkan berbagai hal dengan menggunakan judul itu. Itu hal yang tidak benar. Ketika kita memakai satu judul maka judul itu harus sesuai dengan isi yang dibahas. Kalau tidak, akan jadi bahan tertawaan orang. Itu sebabnya, Tuhan mengingatkan kita, anak-anak-Nya untuk menyadari makna dari nama Tuhan sehingga kita tak menyebut nama-Nya dengan motivasi yang tidak beres.

Sesuaikah nama Tuhan dengan realitasnya? Mengapa kau membeli arloji Rolex? Karena di balik nama itu terdapat falsafah Wardolf, yang dia kemukakan pada tahun 1905: Kami memproduksi arloji bermutu dengan bahan yang terbaik. Falsafah itu tetap dianut sampai sekarang, arloji Rolex bisa dipakai enam puluh bahkan delapan puluh tahun asal dibersihkan secara berkala. Tahun 1932 atau 1934, seorang perenang wanita mengenakan Rolex, berenang dari Inggris ke Perancis di Strait of Dover yang ombaknya ganas. Ketika dia mendarat, di bawah kaca arloji tak terdapat embun, tak setetes air masuk ke dalamnya. Lalu di tahun 1952, Lord Hillary mengenakan Rolex Explorer One naik ke puncak Gunung Everest yang saat itu ketinggiannya 8.892 m. Arloji Rolex-nya berfungsi dengan baik. Berikutnya, di sebuah kapal yang sudah tenggelam 27 tahun di Aegean Sea, orang menemukan arloji Rolex. Setelah dibersihkan ternyata arloji itu masih berfungsi. Ketiga peristiwa itu membuat nama Rolex melambung. Mengapa orang percaya akan arloji Omega? Karena di tahun 1959, Omega memproduksi Speed Master. Awalnya merek dan tipe ini tidak dikenal orang, sampai NASA secara diam-diam membeli empat puluh jenis arloji yang termahal, diuji dengan delapan belas jenis ujian yang ketat, termasuk di suhu yang dingin sekali, panas sekali, di bawah air, dijatuhkan dengan kecepatan tertentu, bahkan kecepatan roket yang mencapai 50.000 km per jam. Apakah arloji itu masih berfungsi dengan baik? Hasilnya, tiga puluh sembilan jenis tak lulus (termasuk Rolex), satu­-satunya yang lolos adalah Omega Speed Master. Mereka memberitahu Pabrik Omega, “Selamat, Speed Masterproduksimu adalah arloji terbaik. Kami telah melakukan uji yang paling keras dan paling berat terhadap beberapa jenis arloji, dan arloji milikmu adalah satu-satunya yang bisa melewati semua ujian tersebut. Maka arlojimu yang akan kami bawa ke bulan.” Sejak itu, di balik Speed Mastertertulis: the only watch to wear in the mission of NASA to the moon, dan dijuluki “Moon Watch”. Saat Apollo kesekian pulang ke bumi, semua peralatan rusak, hanya kronograf Speed Master yang bisa menghitung kapan mereka tiba di bumi dan tepat.

Sayang, di tahun 70-an, Omega melakukan mass production, memproduksi versi khusus untuk pasaran di China dengan harga terjangkau. Ternyata hal itu merupakan bumerang bagi mereka, sehingga di tahun 1980 Omega rugi seratus juta dollar. Mengapa arloji buatan Swiss begitu mahal, bukankah bahan dasarnya murah? Karena kepercayaan, mutu, sejarah, inovasi manusia yang dicipta menurut peta teladan Allah jauh lebih berharga dari bahan dasar. Ketika kita mendengarkan khotbah, bobot khotbah juga berbeda-beda, tergantung siapa yang berkhotbah, karena substansi realitasnya berada di balik namanya. Tiga bulan terakhir ini, saya sangat sedih karena seorang Kristen membangun sekolah Kristen yang diberi nama John Calvin, kemudian karena kesulitan uang lalu dijual dan dibeli oleh orang non-Kristen, namun tetap menyandang nama tokoh Reformed terbesar yang bisa mengecoh banyak orang. Mengapa bisa begitu? Orang Kristen terlalu sembrono dalam hal menggunakan nama, hanya memikirkan untung tanpa memikirkan akibatnya.

Penyebutan dan Motivasinya
Apa motivasi orang ketika menyebut nama Tuhan? Tuhan Yesus berkata “Dengan sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan semua orang yang menyebut nama-Ku akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, hanya mereka yang melakukan kehendak Allah yang dapat masuk sorga” (Mat.7:21). Karena nama adalah sesuatu yang penting sekali, memancarkan realitas, substansi, mutu yang dia miliki. “Allah” adalah nama dari Pribadi yang paling adil, paling bajik, paling sempurna, paling mutlak, paling suci, paling benar, paling indah, paling tinggi, dan seterusnya. Maka ketika engkau menyebut nama Allah, tidak boleh tanpa memiliki rasa tanggung jawab.

Mengapa ada orang yang berani menyebut nama Allah dengan sembarangan? Karena mereka tidak tahu siapa itu Allah. Di dalam Kitab Suci, ada satu kitab yang sama sekali tak menyinggung nama Allah, Yehovah, Tuhan, sang Pencipta, sang Penebus, yaitu Kitab Ester. Tetapi ketika orang membacanya, langsung menyadari penyertaan Tuhan atas umat-Nya, tangan-Nya menyelamatkan kaum pilihan-Nya, meski saat mereka berada di pembuangan, dikuasai oleh Raja Persia. Maka orang Israel pun tak berani memandangnya sebagai kitab atheis dan menyingkirkannya dari kanon Alkitab. Ketika saya bertemu dengan Bob Pierce, pendiri World Vision, di Switzerland, dia mengatakan, “Sekalipun di dalam kitab Ester tidak satu kali pun disebutkan nama Allah, tetapi di sana ada huruf-huruf yang bisa disusun menjadi JHWH (Jehovah).” Maksudnya, nama Allah tersimpan di sana meski istilah itu tak muncul. Memang ada dua jenis orang Kristen: i) orang yang setiap saat menyebut-nyebut nama Allah, tapi hidupnya tidak karuan; dan ii) orang yang tak sembarangan menyebut nama Allah, tetapi hidupnya mencerminkan penyertaan Tuhan. Nama Allah adalah the subjectivity of truth in person, the subjectivity of the holiness in person, the subjectivity of righteousness in person, the subjectivity of the perfect in person, the subjectivity of the absolute in person. Suatu hari, saya mendengar Zhen Xiu Yi, penginjil wanita lulusan Seminari di Shanghai, mengisahkan di khotbahnya “waktu saya berumur sepuluh tahun, saya melihat gambar-gambar, ada gambar seorang tua, saya serta-merta berkata, ini mirip Allah. Papa langsung menampar saya dan katanya, ‘jangan menyebut nama Allah dengan sembarangan.’ Maka mulai hari itu, saya tahu, nama Tuhan itu suci, tak boleh disebut dengan sembarangan.” Akhirnya, dia menjadi seorang penginjil yang sangat cinta Tuhan, rela berkorban bagi-Nya.

Dalam hal apa saja seseorang memakai nama Allah? Sering kali orang memakai nama Tuhan untuk bersumpah. Kita harus berhati-hati dengan orang yang mudah sekali bersumpah dengan nama Tuhan. Kita harus berhati-hati dengan orang yang selalu mengatakan “gampang, nanti saja”. Manusia sulit sekali dipercaya. Mempercayai manusia yang tidak bisa dipercaya adalah tindakan bodoh. Tetapi adalah bebal jika kita tidak bisa mempercayai Allah yang patut kita percaya. Dialah obyek iman, pengharapan, dan kasih kita. Orang sering memakai nama Tuhan untuk bersumpah agar orang percaya padanya. Apa sebenarnya yang menjadi tujuan dan motivasi manusia menggunakan atau menyebut suatu nama?

1. Meraup Untung. Pernah ada seorang menemui saya dan menunjukkan kartu nama Pdt. Dr. John Paul di Hong Kong dan mengaku sebagai kawannya. Kemudian ia menyatakan bahwa dia kehilangan dompet, paspor, tak punya uang. Maka saya pun meminjamkan uang padanya. Tak lama kemudian, saya mendengar seseorang menceritakan bahwa ada orang yang mengaku sebagai kawan John Paul kehilangan dompet. Maka saya tahu bahwa orang yang menemui saya itu adalah penipu. Suatu kali, ketika saya berada di Hong Kong, saya bertemu dengan orang itu di lift, maka sapa saya, “Kamu kawannya John Paul, bukan?” “Saya tak kenal John Paul.” “Kau pernah ke Indonesia dan mengaku kehilangan dompet, bukan?” “Saya tak pernah ke Indonesia.” Saya terus bertanya dan dia terus mengelak. Dia lupa Tuhan membuat wajah, sidik jari, cara jalan, suara yang menjadi meterai pribadi kita. Ketika keluar dari lift, saya mengingatkan dia, “Jangan menipu lagi.” Mungkin orang-orang bingung, mengira saya memarahi orang di lift. Suatu kali, dia menipu kakak saya di Hong Kong. Kata kakak saya, “Kau ingin pinjam uang? Karena sekarang saya tak punya uang, saya pergi sebentar pinjam ke kawan saya.” Dia menunggu. Ternyata kakak saya bukan meminjamkan uang tetapi memanggil polisi untuk menangkap dia. Dia berlutut minta ampun, tetapi kakak saya berkata, “Berapa kali sudah kau lakukan ini, adik saya dan orang lain kau tipu dengan mengaku sebagai teman John Paul?” Nama siapakan yang paling sering diperalat? Nama Tuhan.

2. Menipu. Di dalam sejarah Amerika, empat puluh sekian Presiden saat dilantik harus mengucap­kan sumpah dengan meletakkan tangan di atas Kitab Suci: demi nama Tuhan yang kupercaya, aku berjanji pada rakyat Amerika menjadi Presiden yang baik. Tetapi pernah terjadi, seorang Presiden ketika disumpah menggunakan dua buah Kitab Suci, akhirnya terbukti dia adalah presiden yang paling jelek, yaitu Richard Nixon, yang terpaksa harus turun karena tidak jujur. Jadi, jangan mempermainkan Allah. Kata Konfusius, “Kalau kau bersalah terhadap langit, tidak ada yang bisa mendoakanmu.” Secara theologis, Konfusius tidak mempunyai konsep mediator, tetapi dia mengingatkan kita secara etika bahwa berdosa pada Tuhan jauh lebih berat daripada bersalah kepada manusia. Celakalah kau yang mengaku Kristen, tapi bisnismu lebih najis, lebih tak etis, lebih rakus, lebih egois ketimbang mereka yang non-Kristen, nama Tuhan kau permalukan.

3. Menutupi kesalahan diri. Di Alkitab, ada seorang yang bernama Akhan. Dia mencuri dan menyembunyikannya tanpa seorang pun tahu. Akibatnya seluruh Israel dipermalukan, kalah perang melawan kota Ai yang kecil. Yosua sedih sekali “Tuhan, mengapa Kau membiarkan bangsa-Mu dipermalukan orang kafir?” Kata Tuhan, “Di antara kamu ada seorang pencuri!” Mereka membuang undi sampai tujuh kali dan menemukan Akhan, barulah dia mengaku dosa. Apakah dia diampuni? Tidak! Dirajam batu sampai mati, karena pengakuan dosa dia lakukan setelah dosanya diketahui orang. Ingat, Tuhan bukan hanya Pengasih, Dia juga Hakim yang menghakimi seluruh dunia. Satu hal lagi yang harus kita ingat, setelah seorang berdosa, Tuhan mengampuni, tetapi dosanya tetap dicatat di Alkitab. Untuk apa? Peringatan bagi segala zaman. Pernahkah Daud berdosa? Ya. Apakah dia mengakui? Ada. Lalu apakah dosanya dihapus begitu saja tanpa diketahui orang? Tidak, ditulis di Alkitab. Siapa yang berani membongkar perzinahan pembesar pada waktu dia masih menjabat? Tidak demikian dengan Tuhan, kata-Nya, “Daud, kau seorang Raja. Waktu kau masih hidup, Aku menyuruh orang mencatat perzinahanmu.” “Tuhan, bukankah aku ini orang yang berkenan kepada-Mu?” “Tetapi Aku tak berkenan akan perbuatanmu yang satu ini.” “Bukankah aku sudah bertobat?” “Ya, namun Aku akan tetap mencatatnya di Alkitab.” Meski Daud punya kuasa militer yang besar, tak kuasa menghapus ayat-ayat yang Tuhan tulis. Jadi, jangan bermain-main dengan Tuhan, Dia terlampau suci untuk kau permainkan.

4. Meningkatkan status. Tuhan itu hidup, Dia akan mengungkapkan kejahatan semua orang yang ingin memanipulasi nama-Nya. Saya akan mengakhiri perintah ketiga ini dengan satu perkara yang sering orang Kristen tidak sadari: nama Tuhan melekat atas dirinya, maka setiap kali dia berbuat dosa, nama Tuhan dipermalukan. Padahal ini juga termasuk menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Itu sebabnya, biar kita mengikat kebebasan kita dengan kebenaran dan memuliakan Tuhan lewat hidup kita. Suatu kali, saya dan isteri naik bus dari Banda Aceh, tiba di Medan sudah jam 19.00. Semua koper berada di atas bus dan waktu ada yang turun, kenek menurunkan koper yang dimintanya. Saya berkata kepada kenek, “Tolong perhatikan koper saya yang hitam, jangan salah diambil orang.” Jawabannya membuat saya malu luar biasa, “Tenang, koper Bapak aman karena kita masih di daerah Islam. Nanti waktu di daerah Kristen, saya awasi koper Bapak.” Tahun 1969, pertama kali saya ke Paris, di sebuah gereja saya melihat satu jalan yang menuju ke bawah, tenyata menuju ke tempat judi. Saya jadi sangat sedih. Waktu murid-­murid minta Tuhan Yesus mengajarkan mereka berdoa, Yesus mengatakan, “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah; dipermuliakanlah nama-Mu.” Yesus Kristus bukan hanya memuliakan nama Bapa di awal pelayanan-Nya, bahkan sebelum Dia disalibkan, kataNya, “Bapa, muliakanlah Anak-Mu, sebagaimana Anak-Mu telah memuliakan-Mu di dunia” — doa yang besar sekali. Saya harap, sebelum mati berani mengatakan, “Tuhan, pelayanan yang Kau percayakan padaku sudah kutunaikan, sekarang muliakanlah aku sebagaimana aku sudah memuliakan-Mu dalam sepanjang hidupku.” Beberapa orang luar negeri mengatakan, “Pemerintah Indonesia seharusnya memberimu lencana besar. Orang memandang Indonesia dengan sebelah mata karena korupsi, tetapi kau lewat khotbah dan pelayananmu membuat nama Indonesia harum.” Jawab saya, “Tidak. Tuhanlah yang harus dipermuliakan karena saya adalah anak-Nya.” Permisi tanya, melalui keberadaanmu bagaimana orang di sekitarmu menilai gereja? Perintah Tuhan, “Jangan sebut nama-Ku dengan sembarangan.” Kita harus memuliakan bukan mempermalukan nama-Nya. Kita boleh memakai nama Tuhan untuk membentuk persekutuan Kristen, mendirikan sekolah, namun apakah sekolah yang kau dirikan lebih jujur dari sekolah lain? Jangan menyebut nama-Ku, Allahmu dengan sembarangan, karena Aku akan menuntutmu. Kiranya semua jemaat GRII betul-betul mempunyai rasa takut akan Tuhan baik dalam iman, hidup, bisnis, hubungannya dengan sesama, tidak mempermainkan nama Tuhan. Biar kita bagai Omega, Rolex, dipercaya orang karena nama yang sepadan dengan kualitasnya. Tuhan memberkati kita semua.

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : http://www.nusahati.com/2011/11/sepuluh-hukum-hukum-ketiga/

Henry Nouwen


Mari kita renungkan, betapa bahagia dan betapa bangganya perasaan seseorang apabila ia bisa diterima sebagai mahasiswa di universitas yang bergengsi seperti Yale atau Harvard University di USA. Tentunya lebih hebat lagi adalah orang-orang yang bisa menjadi guru besar di Universitas tsb.

Mr. Henri adalah seorang guru besar bukan saja di kedua universitas tsb diatas melainkan juga di Universitas Notre Dame. Ia begitu disegani oleh rekan-rekan maupun para mahasiswanya sebagai wong pinter yang terpandang. Jadi sudah benar-benar berada di puncak kedudukan kariernya seorang ilmuwan. Pada saat dimana ia sedang berada di puncak karier kehidupannya, tiba-tiba ia merubah arah hidupnya! Ia telah merubah arah kehidupannya bukannya untuk UPWARD lagi melainkan ingin DOWNWARD.

Ia melepaskan seluruh jabatannya di ketiga universitas bergengsi tsb. Ia melepaskan ribuan siswa-siswinya untuk diganti hanya oleh 10 orang siswa lainnya. Bahkan untuk para siwa barunya ini ia mengabdikan dirinya 24 jam sehari. Disitu ia telah benar-benar turun menjadi Mr Nobody.

Disitu tidak ada seorang pun yang mengenal dia, bahkan tidak ada seorang pun yang pernah membaca buku hasil karyanya. Begitu juga tidak ada seorang pun yang merasa kagum terhadap dirinya sebagai guru besar yang memiliki gelar sepanjang 1 meter. Disitu ia benar- benar menjadi Mr. Nobody tulen. Masalahnya semua anak didiknya sekarang ini adalah anak-anak yang cacad mental. Melalui anak-anak cacad tsb baru dia menyadari, bahwa segala prestasi yang pernah diraih sebelumnya itu, tidak ada manfaatnya sama sekali dalam pergaulannya dengan mereka.

Boro-boro bisa membaca dan menulis, mandi sendiri pun mereka sudah tidak mampu lagi. Dari guru besar dihadapan ratusan siswa berubah menjadi pelayan untuk melayani anak-anak cacad. Dimana setiap harinya ia harus membersihkan badan mereka dari kotoran-kotorannya. Bantu menyikat gigi maupun mencukur jenggot mereka dan juga membantu memakai pakaiannya sebelumnya diletakan di kursi rodanya.

Salah satu diantaranya adalah seorang pemuda yang bernama Adam. Bagi kebanyakan orang Adam itu sudah benar-benar tidak berguna sama sekali, sehingga sebenarnya percuma saja ia dilahirkan juga. Adam walaupun usianya sudah mencapai 25 tahun, tapi ia masih harus dirawat seperti layaknya seorang bayi. Ia tidak bisa makan maupun minum sendiri, sehingga untuk ini ia harus menyuapi dan menunggunya dengan sabar. Buang air besar pun tidak bisa, maka dari itu setiap hari ia harus mencuci celana maupun badannya yang penuh dengan kotoran yang bau. Ia juga seorang penderita epilepsi yang parah sehingga badannya sering menjadi kejang dan kaku.

Pekerjaan yang tidak ringan maupun mudah dan terlebih lagi membutuhkan banyak kesabaran. Untuk ini tidak ada penghargaan maupun ucapan terima kasih dari Adam, sebab boro-boro bisa berbicara, senyum atau menangispun Adam sudah tidak bisa lagi. Hanya sekali pernah terlihat dimana Adam mengeluarkan air mata yang mengalir di pipinya.

Mungkin bagi orang lain apa yang dilakukan Henri sekarang ini adalah pekerjaan wong rendahan dan tiada artinya sama sekali, tetapi bagi dia bahkan masa hidup yang sekarang inilah yang terpenting di dalam kehidupannya. Henri pernah mengutarakan bahwa ia telah mendapatkan banyak sekali berkat dari pelayanannya ini. Ia menilai bahwa dari fisik dan pikiran Adam muncul seorang manusia yang paling baik yang telah menawarkan dan memberikan kepada dia suatu hadiah yang paling indah daripada apa yang bisa ia berikan kepadanya ialah pelajaran tentang cinta kasih. Dari situlah ia merasa bahwa sebenarnya ialah yang dilayani oleh Adam untuk belajar melayani, bersabar maupun berbagi kasih yang tak berkesudahan.

Apa yang diucapkan oleh Henry ini bukannya hanya sekedar basa-basi, sebab untuk ini ia telah menulis satu buku khusus, mengenai hikmah dan pelajaran apa saja yang telah ia dapatkan dari Adam dalam bukunya “Adam´s Peace”.

Bayangkan saja ia seorang guru besar dari universitas bergengsi, ternyata telah bisa menimba ilmu dari anak-anak cacad. Anak-anak cacad tsb telah berhasil mengajarkan kepada Henry apa artinya cinta kasih itu. Terlebih lagi disitulah baru ia menyadari, bahwa bahwa apa yang membuat kita menjadi manusia, bukanlah gelar, harta, maupun jabatan kita. Begitu juga bukanlah otak kita, tapi hati kita!

Bukan kemampuan kita berpikir, tetapi kemampuan kita untuk mengasihi. Henry telah turun menjadi Mr Nobody dimata dunia, tetapi dilain pihak ia telah berhasil menjadi VIP dimata Sang Pencipta.

Mr. Henry Josef Michael Nouwen (1932 – 1996) dengan sengaja telah meninggalkan komunitas orang-orang hebat dan bergengsi untuk memilih hidup di komunitas anak-anak cacad di L´Arche Daybreak di Toronto. Ia melayani disitu terus sampai dengan akhir hayatnya. Ia juga seorang penulis buku rohani. Lebih dari 40 buku rohani yang pernah ia tulis salah satu bukunya yang paling banyak dibaca ialah: “Innder Voice of Love”.

Menurut ukuran dunia keberhasilan seseorang diukur berdasarkan keberhasilan maupun ketinggian yang bisa diraih oleh orang tsb dengan motto “How high can you fly?” Beda dengan dunia kerohanian. Disana berlaku motto kebalikannya ialah “How low can you go?”. Jalan Tuhan adalah jalan yang menurun kebawah.


Sumber : http://www.nusahati.com/2011/11/henry-nouwen/

Pendahuluan Untuk Mempelajari Surat Ibrani


Ibrani 1:1-3

Ibrani adalah sepucuk surat yang terletak di hampir akhir Kitab Suci, judulnya: surat yang dikirimkan kepada orang Ibrani, namun judul ini bukan ada dari awalnya. Menurut tradisi gereja, judul ini mungkin ditambahkan kemudian, jadi judul ini tidak mempunyai keabsahan untuk membuktikan bahwa surat ini ditujukan kepada orang-orang Ibrani. Salah satu penyebab mengapa surat ini dianggap sebagai surat yang ditujukan kepada orang Ibrani adalah ay. 1: nenek moyang kita telah menerima wahyu dari Tuhan, yang dimaksud nenek moyang tentu adalah para nabi di Ibrani.

Istilah Ibrani mempunyai arti: Orang yang datang dari seberang sungai besar sana, yaitu keturunan Abraham. Abraham dipanggil keluar oleh Tuhan dari kota Ur yang terletak di Mesopotamia, yang mempunyai sebutan the center point of ancient civilization. Mesopotamia terletak di antara dua sungai: Efrat dan Tigris. Tuhan memanggilnya keluar dari tempatnya, dari rumah bapaknya, dari tanahnya, dari negara asalnya, untuk pergi ke mana? Tuhan berfirman, pergilah ke tempat yang akan Ku tunjukkan kepadamu. Itu sebabnya dia disebut sebagai Bapak bagi Orang Beriman, karena dia bersandar kepada Tuhan yang berbicara, tapi tidak memberitahukan hal-hal detail kepadanya, tidak memberitahukan bagaimana jadinya nanti. Dari P.L. sampai P.B. terdapat tuntutan yang sama, ikutlah Tuhan dan jangan banyak tanya; ikutlah Tuhan dengan iman, serahkanlah hidupmu kepadaKu, karena Akulah Tuhan yang akan memimpinmu.

Sampai di mana saja, hal pertama yang Abraham lakukan adalah mendirikan mezbah untuk berbakti kepada Tuhan. Itu menandakan kemanapun dia pergi, dia tidak pernah lupa Tuhan, karena dia tahu, dia mengikut Tuhan, jadi pergi ke mana adalah soal kedua, yang penting adalah di mana saja dia berada, dia berbakti kepada Tuhan. Karena Abraham sadar dewa yang disembah orang Kanaan bukanlah Allah. Allah satu-satunya adalah Allah yang memanggil dirinya keluar dari Ur, itu sebabnya dia taat kepadaNya. Abraham disebut sebagai bapak orang beriman, karena dia menjadi contoh bagi kita semua. Waktu Tuhan memanggilnya, dia menyampaikan semuanya.

Siapakah penulis surat Ibrani? Orang-orang yang mempelajari Alkitab dari abad pertama terus memperdebatkan hal ini. Ada yang berpendapat:

  1. Penulisnya adalah Paulus. Namun karena cara penulisannya, istilah-istilah yang dipakainya, bentuk kalimat dan tata bahasanya, cara pembahasan dan pemikirannya sama sekali berbeda dengan gaya Paulus, sehingga pendapat ini tidak mempunyai alasan yang cukup untuk menegaskan bahwa surat ini ditulis oleh Paulus. Misalnya, Paulus sering menggunakan istilah Injil, tapi surat Ibrani satu kalipun tidak memakai istilah Injil, meskipun seluruh isinya berbicara tentang Injil. Yang ada hanyalah: anugerah keselamatan. Selain itu, istilah kebangkitan Kristus yang mendominasi hampir 30% P.B. hanya muncul satu kali di dalam surat Ibrani. Sebab itu, mungkin sekali, surat Ibrani ini bukan ditulis oleh Paulus.
  2. Penulisnya adalah Barnabas yang pernah melayani bersama-sama dengan Paulus, yang sangat mahir tentang P.L. Tapi pendapat inipun tidak memiliki bukti yang cukup.
  3. Penulisnya adalah Timotius. Tapi pendapat ini juga tidak bisa diterima, karena surat Ibrani ada menyebut soal Timotius.
  4. Penulisnya adalah Apolos, seorang yang sangat mahir dan teliti dalam menjelaskan P.B. Memang sebelum Paulus pergi menginjili di Efesus dan memerintahkan mereka menerima Roh Kudus, Apolos ke sana (Kis. 19). Tapi pendapat ini juga dirasa tidak terlalu mungkin.
  5. Penulisnya adalah Stefanus. Karena menurut mereka, pembahasan surat Ibrani begitu mirip dengan cara khotbah Stefanus sebelum dia dirajam batu sampai mati (Kis. 7). Tetapi pendapat ini pun ditolak.

Tertulianus, seorang bapak gereja berkata, mari kita dengan rendah hati dan terus terang mengakui bahwa kita tidak mengetahui siapa penulis surat Ibrani, kita hanya tahu buku ini diwahyukan oleh Tuhan melalui seseorang yang tidak menuliskan namanya dan tidak memberitahukan kepada kita siapa dirinya.

Mengapa ada kitab yang tidak mencantumkan nama penulisnya, salah satu sebab yang dipikirkan oleh bapak-bapak gereja adalah karena penulisnya begitu rendah hati, dia menyembunyikan nama dirinya agar segala kemuliaan kembali kepada Tuhan. Sebab penulis Ibrani tidak mencantumkan namanya, maka sampai abad ke-2 barulah surat ini dikanonisasikan. Clement dari Roma, pada th. 94-95 untuk pertama kalinya mengutip surat ini di dalam buku yang ditulisnya, maka orang memperkirakan surat ini ditulis sebelum abad pertama berakhir. Tapi karena surat Ibrani sama sekali tidak menyinggung nasib kota Yerusalem yang dibakar oleh Jendral Titus, maka orang memperkirakan, surat ini ditulis sebelum kota Yerusalem jatuh ke dalam tangan orang Roma pada th. 70.

Namun perkiraan ini juga tidak mendapatkan kepastian. Dengan demikian ada begitu banyak misteri yang tidak kita ketahui dari kontennya tentang siapa penulisnya, siapa penerimanya kapan dan di mana buku ini ditulis. Maka, pada akhirnya kita menyerahkan keempat hal tersebut kepada Tuhan.

Kepentingan surat ini di dalam Kitab Suci: ada berita-berita surat Ibrani tidak terdapat di kitab lain, seperti Kristus sebagai Imam yang mempersembahkan korban imamat kepada Tuhan lebih tinggi dari semuanya. Dia adalah Imam besar yang mendoakan kita di tempat yang tertinggi. Maka surat Ibrani memang unik adanya. Ada orang berpendapat, dari kontennya kita tahu surat Ibrani ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang sudah menjadi orang Kristen, tapi pendapat ini juga dibantah. Ada orang berpendapat, bahwa surat ini dituliskan kepada keturunan orang supaya mereka tahu segala kemuliaan Kristus sudah tersimpan di P.L., dan mereka mau berpaling kepada kekristenan. Pendapat inipun bisa dibantah. Ada juga yang berpendapat surat ini ditujukan kepada orang percaya yang tinggal di Qumran karena beberapa sebab:

  1. Mereka percaya ada dua Mesias: Mesias yang adalah Imam dan Mesias yang adalah Raja. Dan Mesias Imam lebih besar dan lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan Mesias Raja. Maka surat Ibrani menyebutkan, Kristus adalah Raja sekaligus Imam untuk mengoreksi konsep mereka: bukan dua Mesias melainkan hanya satu Mesias.
  2. F.F. Bruce berpendapat bahwa mereka percaya segala upacara keimaman akan berhenti untuk sementara, sampai perang dunia yang terakhir terjadi, kaum pilihan akan ditolong dan menang. Baru setelah itu upacara memberi korban kepada Tuhan akan dilanjutkan. Tapi rupanya pendapat itu hanya bisa dipakai sebagai bahan pertimbangan namun tidak bisa disahkan sebagai sesuatu yang mutlak.
  3. Mereka percaya para malaikat mempunyai derajat yang berbeda-beda: ada yang tinggi, ada yang rendah. Malaikat yang tinggilah yang akan menolong kaum pilihan meraih kemenangan di dalam peperangan yang terakhir.

Ada juga yang berpendapat surat ini dituliskan kepada orang Kristen yang terpengaruh oleh pengajaran Gnosticism yang tidak percaya bahwa dunia materi dicipta oleh Allah. Karena menurut mereka Allah itu Mahasuci dan dunia materi maha najis. Ajaran ini sangat salah dan telah ditolak oleh kalimat pertama dari pengakuan iman Rasuli: Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi.

Gnostisisme adalah ajaran dualisme yang mendapat pengaruh dari ajaran Persia, Zoroasterisme, dan digabung dengan konsep keselamatan di dalam kekristenan: mereka percaya dunia ini terdiri dari unsur rohani (suci seluruhnya), dan unsur materi (jahat seluruhnya). Ajaran ini telah ditolak oleh Alkitab karena Alkitab mengajarkan adanya roh jahat, dan juga materi itu ada baiknya. Surat Ibrani beberapa kali menyebutkan materi dicipta oleh Kristus, berdasarkan itu orang berpendapat surat ini dituliskan untuk orang Kristen yang terpengaruh oleh ajaran Gnostisisme.

Sekali lagi, kita tidak tahu kepada siapa surat ini ditulis.

Baca Ibr. 1:1-3. Adakah surat yang lebih kental, lebih bermutu dari surat Ibrani? Mari kita membahas satu tema yang penting, yaitu Allah kita adalah Allah yang berbicara. Our God is a speaking God. Ini adalah suatu pemikiran, dasar kepercayaan, prinsip iman yang sangat penting. Allah berbicara dan sampai puncaknya Dia berbicara kepada kita melalui Kristus.

Abraham adalah bapak bagi orang beriman dan bapak bagi orang beriman ini berkata kepada kita: dia mendengar suara panggilan Tuhan. Ibr. 1:1 juga menegaskan satu presuposisi dan dasar iman yang penting: our God is a speaking God, dan Dia bukan hanya berbicara kepada pada nenek moyang Israel saja, bukan hanya berbicara satu kali saja, karena dikatakan di sini: Dia pernah berbicara kepada nenek moyang Israel: Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Daud dan seterusnya.

Ditegaskan pula bahwa pada zaman dahulu Allah berulang kali bersabda kepada nenek moyang dengan pelbagai cara, dua hal ini penting sekali, untuk menegaskan bahwa Allah sungguh-sungguh berbicara, hal itu disaksikan oleh nenek moyang Israel.

Kedua, Allah yang berbicara adalah Allah yang berbijaksana. Karena di dalam zaman yang berbeda Dia menggunakan pelbagai cara berulang kali berfirman kepada orang yang tidak sama.

Ketiga, Allah yang berbicara adalah Allah yang sabar. Dia mewahyukan firmanNya sedikit demi sedikit, tidak menuangkannya sekaligus karena Dia tahu manusia tidak akan mampu menerimanya.

Bukan saja demikian Allah yang berbicara adalah Allah yang kaya dengan kebenaran. Itulah yang membuat kita bisa terus menerus menerima kebenaran. Tuhan yang kaya berulang-ulang dan memakai pelbagai cara untuk menyampaikan kebenaranNya kepada nenek moyang kita. Itu berarti Dia adalah Tuhan yang kekal. Meskipun nenek moyang dan semua orang yang mendengar kata-kataNya sudah mati Dia tetap berbicara sampai hari ini, dan akhirnya Dia akan stop pembicaraanNya. Apa artinya? Ada saatnya wahyu Tuhan menjadi komplit: Allah memakai AnakNya yang tunggal untuk berbicara kepada kita. Baca Ibr. 1:1-3. Allah berbicara melalui “perantara,” yang pertama melalui siapa? Nabi-nabi. Adakah Allah berbicara tanpa melalui siapa-siapa? Ada. Kapan? Pada waktu Allah berbicara kepada Adam dan Hawa, Allah langsung berbicara kepada mereka. Selain itu, kadang-kadang Allah juga berbicara secara Theophani, seperti waktu Allah datang ke dalam dunia dengan bentuk manusia dan berkata-kata kepada Abraham. Bentuk manusia adalah sebuah perantara, padahal sebenarnya Oknum kedua dari Allah Tritunggal sebelum inkarnasi pernah menyatakan diri dengan wujud manusia. Demikian juga pada waktu Musa menatap Tuhan secara muka dengan muka (arti kiasan) yang berarti personal relationship, personal encounter; Allah tidak menampakkan parasNya melainkan bagian belakangNya saja kepada Musa. Semua itu membuktikan Allah pernah berbicara, tapi seluruh P.L. menyimpulkan: Allah berbicara melalui perantaraan nabi-nabi.

Terakhir, Dia berbicara melalui AnakNya sendiri, inkarnasi. God spoke in Christ in history, God was in Christ; sehingga Yesus yang ada di dalam sejarah adalah klimaks yang mengakhiri semua anak panah yang ditujukan pada penggenapan dari wahyu yang tertinggi, yang telah disampaikan sejak zaman nenek moyang. Maka Yesus berkata, kau melihat Aku, sebenarnya kau bukan melihat Aku melainkan melihat Bapa yang mengutus Aku. Kau percaya kepadaKu, sebenarnya bukan percaya kepadaKu melainkan percaya kepada Bapa yang mengutus Aku. Semua pembicaraan nabi terfokus pada Kristus, karena puncak dari wahyu Allah kepada manusia adalah Kristus. Kalau Kristus adalah pumcak dari wahyu, bagaimana dengan berita yang disampaikan oleh rasul-rasul di dalam P.B.? Rasul-rasul dipilih oleh Anak Allah sendiri, agar mereka mempunyai personal encounter with Christ, Dia memberikan rohNya kepada mereka untuk menjelaskan. Dari sini kita menemukan cara Allah berbicara menjadi tiga tahap:

  1. Tahap persiapan, semua pembicaraan ditujukan kepada Kristus yang akan datang.
  2. Penggenapan di dalam diri Kristus.
  3. Penjelasan yang diberikan rasul-rasul, agar manusia bisa mengerti apa yang Allah beritahukan kepada mereka.

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong, 10 Oktober 1999

(Ringkasan kotbah ini belum dikoreksi oleh Pengkotbah, W.H.)

Sumber : http://www.nusahati.com/2011/11/pendahuluan-untuk-mempelajari-surat-ibrani/

Selasa, 15 November 2011

Wanita Bergaun Hitam


Tuan Zhu, seorang jaksa di Propinsi Jiangsu selama dinasti Qing, diperintahkan untuk mengirim sejumlah uang ke ibu kota negara, Beijing. Perjalanan ini membutuhkan waktu beberapa hari dan dia harus berhenti beberapa kali dalam perjalanan. Salah satu tempat pemberhentian itu ada di pinggiran kota Linqing, di sebelah barat daya Shandong, yang merupakan daerah kekuasaan para penjahat.

Pada saat dia sampai di sebuah penginapan, yang merupakan satu-satunya penginapan di kota itu, beberapa wanita datang, ingin menghibur dia dengan nyanyian. Mereka sebenarnya adalah wanita tuna-susila. Ini adalah kebiasaan di utara bagi pelacur untuk menyanyi di hadapan tamu yang berpotensi dan kaya. Setelah bernyanyi, jika tamu tersebut ingin menghabiskan malam dengan salah seorang dari mereka, yang perlu dilakukan hanyalah meminta wanita itu untuk membawa selimut ke dalam kamarnya. Bayaran mereka hanyalah setengah dibandingkan dengan harga di daerah selatan, tetapi pelacur-pelacur itu sering kali diasosiasikan dekat dengan penyamun daerah. Mereka akan memberitahu penyamun kalau ada tamu mereka yang kaya.

Tuan Zhu sering bepergian. Dia telah mendengar bahwa Linqing adalah daerah yang berbahaya. Dia mengetahui bahwa pelacur-pelacur muda ini tidak bertindak sembarangan. Mereka kelihatannya menerima isyarat apakah mereka harus menyanyi atau menari atau mendekatinya langsung dari gadis berpakaian hitam. Kalau pelacur lainnya menggunakan riasan yang sangat tebal dan memakai pakaian yang sangat seronok, gadis itu tidak menggunakan riasan sama sekali. Tetapi dia tetap kelihatan menarik. Usianya sekitar dua puluh tahun. Zhu menyimpulkan bahwa dia adalah pemimpinnya. Keadaan sekelilingnya sepertinya tidak menguntungkan bagi dirinya. Karena tempat penginapan ini terpencil, membuatnya tidak mungkin untuk melarikan diri atau mencari bantuan.

Tuan Zhu memutuskan untuk berhadapan langsung dengan gadis itu. Dia harus mencoba mengambil kesempatan. Dan itu mungkin adalah satu-satunya kesempatan untuk melepaskan diri dari bahaya maut.

Dia membubarkan gadis-gadis yang lain dan dengan jelasnya menyatakan bahwa dia ingin sendirian dengan gadis berpakaian hitam. Dia kelihatan setuju dengan usulannya dan menerima undangannya untuk makan malam bersama. Zhu mulai bercerita bahwa dia berasal dari keluarga miskin dan dia harus bekerja keras untuk bisa hidup seperti saat ini. Gadis itu berkata bahwa orang tuanya sangatlah miskin untuk menghidupinya sehingga dia harus terjun ke dalam profesi yang memalukan ini untuk bertahan hidup.

Zhu mendengarkannya dengan penuh perhatian dan mulai bercerita tentang bagaimana beberapa pelacur yang terkenal pada zaman dahulu bisa menjadi pahlawan-pahlawan wanita dan pada akhirnya mereka menikah dengan orang-orang berpendidikan tinggi. Zhu memperlihatkan kekagumannya kepada wanita-wanita itu. Kata-kata Zhu kelihatannya telah mempengaruhi gadis ini. Hati gadis ini jadi tergerak.

Percakapan berubah arah. Zhu memutuskan untuk mempercayainya dan memberitahukannya bahwa dia bertanggung jawab atas pengiriman 10 ribu ons perak ke Beijing.

Pada saat mereka berbincang-bincang, salju mulai turun, mengubah tanah menjadi dataran putih mengkilat di bawah sinar bulan yang pucat. Api di perapian sangat kecil, minyak lampu sudah hampir habis, dan ruangan pun menjadi sangat dingin. Melihat bahwa gadis itu menggigil kedinginan di balik gaun hitamnya yang tipis, Zhu mengambil mantel bulu dari tasnya dan memakaikannya ke pundak gadis itu. Mereka berbincang-bincang seperti teman dekat. Tapi Zhu tidak pernah menyentuh gadis itu.

Tanpa mereka sadari, ufuk timur mulai terbit. Sebagaimana peraturan yang berlaku saat itu, pelacur diharuskan keluar pada saat subuh merekah. Gadis itu berdiri di atas kakinya, melepaskan mantel bulu dan bersiap-siap untuk pergi.

“Ambillah,” katanya sambil memberikan mantelnya kepada gadis itu. “Di luar hawa sangat dingin. Kamu membutuhkannya.” Dia juga memberikannya empat ons perak.

“Terima kasih atas kemurahan hati anda. Kamu seharusnya tidak membayar saya. Saya tidak melakukan apapun untuk anda. Saya juga tidak dapat menerima mantel bulu ini.”

“Harap mau menerima mantel ini. Saya memberikannya kepada anda sebagai ungkapan kekaguman dan penghormatan saya atas diri anda. Kamu adalah wanita yang sangat istimewa. Saya sangat menikmati perbincangan kita semalam.”

Gadis itu berterima kasih sekali lagi dan pergi. Zhu masih merasa kuatir. Kira-kira lima belas menit kemudian, ada ketukan di pintu. Ternyata gadis berbaju hitam itu lagi.

“Saya harus berbicara jujur ke anda.” katanya bersungguh-sungguh. “Saya adalah seorang pencuri dan ayah saya adalah pemimpin dari penyamun di daerah ini. Saya berperan sebagai pelacur untuk menjebak pelancong. Tetapi saya masih perawan. Saya tidak pernah membiarkan seorang pun menyentuh saya. Jika seseorang mencoba untuk memaksa saya, saya akan membunuhnya dengan pisauku. Saya sangat menghargai ketertarikan anda terhadap saya. Ketika saya sampai di rumah, saya akan mengutus seseorang untuk mengembalikan mantel ini kepada anda bersama-sama dengan sesuatu yang berharga untuk anda. Bawalah dan teruskanlah perjalanan anda sebelum jalan menjadi terlalu licin ketika salju mulai mencair.”

Zhu membungkuk di hadapannya, merasa sangat lega.

Setengah jam kemudian, seorang kurir datang dengan membawa mantel bulu dan sebuah bungkusan kecil untuk Zhu.

“Ini dari tuan putri kami,” kata orang itu. “Ini sangatlah berguna jika anda menghadapi kesulitan dalam perjalanan anda. Dengarkan. Simpan ini sampai kamu tiba di Yangliuqing dan kemudian berikanlah kepada seorang pria di kantor keamanan setempat yang akan menemui anda dan meminta benda ini dari anda.”

Zhu ingin memberikan tips kepada lelaki itu, tapi ditolaknya, dan dia mengatakan bahwa tuan putrinya melarangnya untuk menerima uang.

Zhu sangat heran melihat isi dari bungkusan itu. Isinya adalah bendera segitiga.

Sekarang dia sudah siap untuk meneruskan perjalanannya, tetapi pengemudi kereta yang dia sewa menolak untuk berangkat, mengatakan bahwa perjalanan tidak aman. Pengemudi itu terkejut ketika Zhu mengeluarkan bendera segitiga dan meletakkannya di jendela kereta.

“Dari mana kamu mendapatkannya?” tanya pengemudi itu. “Cepat! Mari kita berangkat. Kita aman sekarang.”

Setelah sepuluh mil atau lebih, mereka bertemu dengan segerombolan perampok berkuda dan bersenjata yang berjumlah lebih dari dua puluh orang. Mereka mengelilingi keretanya, mengamati bendera itu dengan teliti dan kemudian mereka meninggalkan kereta itu tanpa berbuat onar. Beberapa kejadian serupa terjadi selama beberapa hari sampai mereka tiba di Yangliuqing, sekitar enam mil dari Beijing.

Seorang pria dari kantor keamanan datang untuk menemuinya dan mengundang Zhu untuk makan malam bersama. Pada larut malam, dia datang ke kamarnya Zhu dan menanyakan bagaimana Zhu dapat memperoleh bendera tersebut. Zhu bercerita mengenai gadis berbaju hitam.

“Ini adalah pemberian yang sangat berharga. Dia kelihatannya sangat menyukai anda. Sekarang kamu di Yangliuqing, batas dari daerah kekuasaan mereka. Kamu tidak membutuhkan bendera itu lagi.”

Zhu mengembalikan bendera itu, mengucapkan terima kasih kepada pria itu, dan kemudian meninggalkan tempat itu pada keesokan harinya.

Komentar: Tuan Zhu mengatasi situasi yang berbahaya dengan cara berhadapan langsung dengan sumbernya dan menggunakan akalnya yang cerdik dan sehat. Jika dia panik, kemungkinan besar dia tidak akan berhasil, karena pada saat krisis manajemen seperti itu, tidak ada ruang untuk berbuat kesalahan sekecil apa pun.


Sumber : http://www.nusahati.com/2011/11/wanita-bergaun-hitam/

Account Representative : Antara Pelayanan Prima Dan Pengawasan Prima


Gambaran Umum Tugas Dan Pekerjaan

a. Dasar Hukum Penugasan

Dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 98//KMK/.01/2006 dalam Pasal 2 ayat 1 dijelaskan bahwa seorang Account Representative (AR) memiliki tugas yaitu :

  1. melakukan pengawasan kepatuhan perpajakan wajib pajak (WP);
  2. bimbingan/himbauan dan konsultasi teknik perpajakan kepada WP ;
  3. penyusunan profil WP
  4. analisis kinerja WP , rekonsiliasi data WP dalam rangka intensifikasi ; dan
  5. melakukan evaluasi hasil banding berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Disamping tugas diatas, terdapat tugas yang bersifat ad hoc dari pimpinan dan pembuatan laporan rutin/tidak rutin.

b. Gambaran Pekerjaan Penulis

Jumlah WP yang menjadi tanggung jawab penulis adalah 41 WP (28 WP domisili dan 13 WP Lokasi). Distribusi WP per AR ditentukan secara acak tidak berdasarkan Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU), sehingga penulis harus siap menghadapi wajib pajak yang mempunyai jenis usaha yang berbeda-beda dalam waktu bersamaan.

c. Latar Belakang Masalah

Dari uraian di atas penulis membagi tugas dari seorang AR terdiri dari 2 (dua) konsentrasi yaitu ;

1. Pelayanan.

  • Layanan unggulan dan lainnya
  • Jatuh tempo penyelesaian
  • Konsultasi
  • SOP.

2. Pengawasan.

  • Kenaikan/penurunan penerimaan masa berjalan
  • Wajib Pajak tidak melapor SPT
  • Penerbitan STP
  • Penggalian potensi pajak berbasis profil WP

d. Solusi Dan Rekomendasi

Di sini penulis meyampaikan hal-hal yang penulis lakukan dalam melakukan proses pekerjaan sehingga dapat bekerja maksimal.

1. Pelayanan Prima

a. Pengendalian Pekerjaan. Surat masuk yang masuk disortir berdasarkan urgensi, layanan unggulan dan batas waktu penyelesaian pekerjaan. Hal ini tampak sederhana namun sangat berpengaruh jika tidak terkendali dengan baik.

b. Administratif. Membuat folder per WP dengan sub folder berdasarkan jenis pekerjaan sehingga memudahkan penulis untuk memantau pekerjaan yang telah dilakukan. Atas surat yang sudah selesai dimasukan kedalam rumah berkas per WP dan per jenis surat serta menginput semua dalam aktivitas pada Approweb, hal ini memudahkan dalam mencari kembali dokumen tersebut, dan sangat berguna jika ada perpindahan wajib pajak diantara AR.

2. Pengawasan Prima

a. Pengawasan Masa berjalan. Dilakukan setiap bulan dengan membandingkan data MPN, SIDJP masa berjalan dengan tahun sebelumnya, produk yang dihasilkan adalah penerbitan himbauan dan STP.

b. Penggalian potensi. Dilakukan secara komprehensif dengan model-model analisa yang ada (benchmariking, feeding) dan pengalaman . Atas kegiatan ini penulis melakukannya sampai tuntas yaitu setelah himbauan, konseling, pencairan (pembetulan oleh WP) dan/atau usulan pemeriksaan. Berikut ini contoh penggalian potensi pajak yang penulis lakukan.

Pengawasan dan penggalian potensi (contoh kasus dalam satu perusahaan)

  1. Input semua isi pada SPT Masa kedalam profile WP minimal 3 (tiga) tahun terakhir.
  2. Input semua isi Laporan Keuangan ke dalam profil WP minimal 3(tiga) tahun terkhir
  3. Input semua isi pembayaran pajak yang dilakukan ke dalam profil WP setidaknya 3(tiga) tahun terakhir.
  4. Melakukan permintaan data berupa data rekanan atau supplier, PBB dan data lainnya

Setelah poin di atas penulis selanjutnya melakukan analisa sebagai berikut :

  1. Ekualisasi PPh dan PPN yakni omzet vs penyerahahan PPN, pembelian vs PPN Masukan, biaya dengan obyek PPh pasal 23/21/26/4 ayat 2 dll.
  2. Pengujian data SPT dengan data hasil pemeriksaan tahun sebelumnya, data feeding, benchmarikng, OPDP dan alket serta data infrmasi ekonomi.

Berdasarkan analisa di atas penulis menemukan potensi pajak yang belum dibayar dan selanjutnya mengirim surat himbauan dengan beberapa poin sebagai berikut :

a. Angsuran PPh Pasal 25 tahun berjalan seharusnya bertambah lebih besar, dan atas hal tersebut WP melakukan pembetulan SPT Masa PPh pasal 25 dan dilakukan penerbitan STP.

b. Diketahui bahwa SPM PPN dalam satu masa pajak terdapat pengakuan kompensasi kelebihan dari masa sebelumnya yang tidak seharusnya dilakukan. Dan wajib pajak telah melakukan pembetulan SPT.

c. Pada SPT PPh Badan dalam satu tahun pajak, penulis melakukan koreksi dan wajib pajak mengakui dan melakukan pembetulan SPT

d. Penghasilan lain-lain diluar usaha direposisi ke omset penjualan karena masih menjadi bagian dari core business WP, atas hal tersebut dilaukan pembetulan SPT.

e. Memberikan tambahan koreksi fiskal berdasarkan hasil koreksi pemeriksaan tahun-tahun sebelumnya.

Penutup

Pengalaman dan strategi setiap AR dalam melaksanakan tugas pelayanan dan pengawasan sangatlah variatif. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan salah untuk itu penulis sangat terbuka menerima formula atau strategi yang lebih baik.

Sumber :

Makalah dengan judul : Account Representative antara pelayanan dan pengawasan prima di KPP , Bahan presentasi (Power point), Jumlah Kata : 700. Ditulis berdasarkan keadaan sebenarnya.

“Manajemen diri yang baik meminimalkan distorsi” (Mr. Moonlight)

Senin, 07 November 2011

Sepuluh Hukum – Hukum Kedua


[Keluaran 20] ayat 5-6, terjemahan lainnya jangan sujud menyembahnya, juga jangan melayaninya. Sebab Aku, Allahmu adalah Allah yang cemburu. Barang siapa membenci-Ku, Aku akan menuntut kesalahannya sampai keturunannya yang ketiga dan keempat. Tetapi, barang siapa mengasihi-Ku, memegang perintah-Ku, Aku akan menunjukkan kasih setia-Ku sampai ribuan generasi (bukan beribu-ribu orang).

Sepuluh Hukum sudah menjadi dasar, prinsip, dan pedoman bagi semua hukum di dunia. Hanya saja, hukum dunia mengatur relasi manusia secara horizontal dengan sesamanya, sementara hukum Allah, diawali dengan relasi manusia secara vertikal dengan Allah, yang memberi dia kekuatan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab atas relasinya secara horizontal. Dasar atau motivasi Allah memberi Taurat adalah kasih, bukan benci. Hal itu nyata di dalam dalil yang Paulus rumuskan: kesimpulan semua perintah adalah cinta kasih. Karena Allah adalah kasih. Saat seorang ibu berkata pada anaknya, “Jangan letakkan tanganmu di atas kompor!” Itu perintah. Apakah perintah itu mengekang kebebasan anaknya? Ya. Tapi perlukah dia memberi perintah itu? Perlu sekali. Tanpa perintah itu, tangan anaknya bisa saja terbakar; tak bisa berfungsi dengan normal lagi. Begitu juga Allah, karena kasih-Nya akan dunia, Dia memberi perintah: Taurat. Dasar dari kasih-Nya adalah the holy jealousy maka di dalam hukum kedua Tuhan memerintahkan jangan membuat patung yang berbentuk apa pun. Itu sebabnya, kita perlu merenungkan dua aspek: (i) apakah Alkitab melarang seni rupa? (ii) kalau tak melarang, mengapa Dia memberikan perintah itu? Bukankah benda seni yang terindah adalah yang paling mirip dengan aslinya: ciptaan Tuhan? Karena semua ciptaan Tuhan selain punya substansi juga punya bentuk luar yang sangat artistik. Maka benda seni yang bagus begitu memukau kita, membuat kita ingin melihat dan melihatnya lagi, bahkan menikmati dia lewat memori dan imajinasi kita – salah satu aspek hidup manusia yang sangat bernilai. Itu sebabnya, negara-negara yang mempunyai benda-benda seni bermutu selalu menarik banyak turis. Museum Louvre di Paris, jumlah pengunjung per tahunnya empat sekian kali lipat jumlah turis yang mengunjungi Indonesia, mendatangkan devisa yang amat banyak. Tiket pesawat dari Asia seribu sekian dollar, biaya hidup di Paris per hari dua ratus sekian dollar, tiket masuk museum kira­-kira dua puluh sekian dollar. Mengapa orang suka mengunjungi Louvre? Karena koleksi benda-benda seninya amat sangat bermutu. Lukisan Mona Lisa yang lebarnya tak lebih dari 80 cm, tingginya tak lebih dari 130 cm itu bukan hanya dipelihara dengan baik, bahkan dipasangi kaca anti peluru, dijaga dua orang ajudan yang terlatih lengkap dengan senapan canggih. Jumlah lukisan di Louvre lebih dari sepuluh ribu, total koleksinya tiga juta sekian item. British Museum mengoleksi sembilan juta item benda seni, Leningrad mengoleksi tiga juta item, New York Metropolitan Museum mengoleksi tiga juta sekian item. Museum mengoleksi benda seni yang penting, kristalisasi dari kebijaksanaan dan kreativitas manusia di bidang seni sepanjang sejarah. Taipei Palace Museum mengoleksi 677.000 item benda kuno yang terpenting, representasi dari seni selama delapan ribu tahun sejarah orang Tionghoa, masterpiece benda seni yang terbuat dari perunggu maupun porselen.

Lalu mengapa hukum kedua melarang kita membuat patung yang menyerupai ciptaan Tuhan? Mengapa di gereja Katolik terdapat patung Petrus, Paulus, Bartolomeus, Yohanes? Tidakkah itu melanggar hukum ini? Apa tujuan Allah memberi hukum ini? Kasih. Lalu bagaimana dengan seni? Manusia adalah satu-­satunya makhluk yang mengerti seni yang tinggi (saya tak mengatakan binatang tak mengerti seni). Karena Tuhan memberi manusia daya cipta maka hanya manusia yang bisa menciptakan seni. Allah tak membuat musik, tapi Allah membuat lingkungan yaitu air terjun, hujan, halilintar, burung, deru ombak yang merangsang manusia menciptakan musik, menirukan suara-suara yang ada di alam dengan melodi dan ritme yang harmonis.

Aristotle dan Plato mendefinisikan seni sebagai imitation of the nature. Perlukah kita meniru apa yang ada di alam? Perlu sekali. Karena kita rindu, kita ingin mengingat. Untuk itu alat bantu yang kita butuhkan adalah seni. Tetapi, kalau kau mengerti ayat ini secara harafiah, kau bahkan tak berani menyimpan foto, gambar orang yang Tuhan cipta. Bagaimana dengan KTP, surat nikah yang ditempeli foto kita? Apakah ayat ini harus ditentang atau memang punya interpretasi lain? Biasanya, orang Reformed tak memperbolehkan rupa apa pun, khususnya yang berbentuk Tuhan. Maka Westminster Confession tak menyetujui orang Kristen Reformed memiliki gambar dan sudah barang tentu larangan itu sangat menyulitkan guru-guru sekolah Minggu, yang sering memakai gambar untuk memberi pengertian pada anak-anak. Apakah itu melanggar hukum kedua? Perdebatan atau diskusi tentang itu sudah berlangsung lama sekali. Setelah saya menyelidiki dan berpikir lama sekali, menurut pendapat saya (Anda boleh tak menerima), di Alkitab Allah yang memerintahkan orang Israel tidak membuat patung juga memerintahkan mereka membuat dua Kerubim yang ada di atas Tabut Perjanjian, juga menisik dua malaikat di tirai besar yang memisahkan tempat suci dan tempat mahasuci. Itu mengindikasikan bagian pertama dari hukum kedua ini bukan sesuatu yang mutlak. Baru di bagian kedua kita melihat titik beratnya: jangan beribadah kepadanya; menyembahnya (patung); no worship other gods; only worship God. Mengapa? Karena Allah yang sejati adalah Allah yang cemburu, Dia tak mengizinkan allah palsu merebut kemuliaan-Nya, firman-Nya. I will never give My glory to the false gods. Dia tak mengizinkan yang dicipta merebut kemuliaan Pencipta, yang relatif merebut kemuliaan yang mutlak. Sama halnya seorang wanita tak akan mengizinkan suaminya tidur dengan wanita lain – cemburu yang suci, dalil yang menjaga kelestarian umat manusia. Jadi membuat patung untuk disembah adalah hal yang terlarang, tapi membuatnya sebagai benda seni adalah sesuatu yang mutlak. Karena prinsip yang Allah berikan: Aku tak akan membagikan kemuliaan-Ku pada ilah-ilah palsu. Lalu bagaimana dengan benda yang pernah disembah orang, apa kita harus menghancurkannya, atau stop menyembahnya, hanya memandangnya sebagai benda seni? Contoh: seorang yang tadinya menyembah dewi Kwan Im, waktu dia percaya Yesus: (i) haruskah patung Kwan Im­nya dibakar, dihancurkan? (ii) bolehkah kita mengambil patung itu untuk diletakkan di satu tempat, museum misalnya, guna mengingatkan dunia, pernah ada orang menyembah dewa seperti ini? Padahal Monotheisme adalah salah satu dari lima sumbangsih terbesar kebudayaan Yahudi terhadap dunia. Kalau ada lima orang pria mengaku sebagai ayahmu, tentu kau harus memastikan siapa papamu yang benar, karena papamu hanya satu. Dan orang yang paling berhak memastikan hal itu adalah mamamu. Selain itu, bisa juga lewat pemeriksaan DNA. Begitu juga Allah yang sejati, yang Esa, Roh Kuduslah yang akan memimpin kita tahu siapa Allah sejati sekaligus memastikan kita adalah anak-Nya, karena Dialah yang melahirbarukan kita. Ajaran Alkitab begitu ketat, seluruh pewahyuan Allah berinteraksi satu dengan lain dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Jadi Allah berhak berkata, “I am your God, I am the true God, the only God, the supreme God, the Creator of you. There is no other god beside Me?” Berhak. Apa Dia arogan? Tidak. Karena itu adalah fakta.

Jadi, inti dari hukum yang kedua adalah Tuhan tak mengizinkan kita (i) membuat patung, (ii) menyembah allah lain, karena Dia adalah Tuhan yang cemburu. Perhatikan! Cemburu berbeda dengan iri hati karena iri hati mengandung egosentris, menganggap diri lebih penting dari segalanya. Sementara cemburu, bisa didasarkan atas dalil kebenaran yang harus dipelihara bersama. Seperti kata Paulus kepada jemaat di Korintus, aku marah padamu dengan amarah yang dari Allah. Jadi, ada kemarahan yang tak berdosa, ada amarah yang berdosa. Jika seorang marah-marah terhadap saya, saya tidak akan terganggu melainkan menganalisa apa yang membuatnya marah? Kalau dia marah karena keuntungannya terganggu, marahnya tak bernilai. Tapi kalau dia marah karena nama Tuhan dicela, marahnya adalah marah yang suci. Jadi waktu orang menangis dan marah-marah, jangan cepat terpengaruh, cari dulu alasannya marah, cinta Tuhan atau cinta diri. Kalau dia menangis karena dirinya terganggu, dia melayani the second god, his emotion. Seorang yang melayani emosi, bisa saja menyukai hal yang salah, memusuhi yang benar. Karena dia lebih mementingkan diri ketimbang kebenaran. Sebagai orang Kristen, kita harus jadi orang yang membela kebenaran Tuhan, kebaikan seluruh umat lebih dari bangsa, keluarga, nama sendiri. Karena yang utama harus diutamakan, yang tidak utama jangan kita utamakan, yang mutlak jangan kita buat relatif, supaya jangan kita salah kaprah. Waktu Tuhan berkata, “Aku cemburu,” Dia berkata jujur, Dia tak mau hubungan-Nya dengan kita yang intim diganggu oleh yang lain, termasuk istrimu. Maka kata Yesus, jika kau mencintai istrimu lebih daripada mencintai-Ku, kau tak layak jadi murid-Ku. Sementara manusia, selalu menuntut dicintai lebih daripada Tuhan: Kalau suami berkata, istriku banyak melayani Tuhan, maka saya akan bercerai dengannya. Suami ini sudah dipakai oleh setan tapi tak sadar. Tentu bukan maksud saya menganjurkan istri melayani Tuhan begitu rupa dan menelantarkan suamimu. Jangan salah tafsir!

Kata Tuhan, “Aku adalah Allah yang cemburu, Aku tak mengizinkan kau membuat patung dan menyembahnya.” Mungkinkah orang yang tak membuat patung menyembah allah lain? Mungkin, menyembah sesuatu yang abstrak. Sebaliknya, mungkinkah orang yang membuat tapi tak menyembahnya? Mungkin. Benda seni, tak ada hubungan dengan penyembahan. Adakah orang yang menyembah patung Maria di gereja Katolik? Ada. Itu tak boleh! Karena ada banyak hal di dunia supranatural yang tidak kita mengerti. Science is too low, too narrow, tak mungkin menjawab semua gejala agama. Tuhan berkata, “I am the God of jealousy.” Cemburu karena apa? Kau melanggar satu dalil: tidak memuliakan Tuhan malah memuliakan patung atau yang lain. Padahal firman-Nya, “I do not want to give My glory to the false God.”Itu adalah cemburu yang beres, yang membawa umat manusia tetap berada di jalur kebenaran. Dan itulah sifat Ilahi. Saat Musa masih di atas gunung Sinai, orang Israel menanti-nanti dia sampai sepuluh hari, dua puluh hari, tiga puluh hari Musa tak kunjung turun. Mereka mendatangi Harun, “Sekarang siapa yang memimpin kami? Musa yang membawa kami keluar dari Mesir sampai sekarang tak turun dari atas gunung, mungkin dia sudah mati.” Pemimpin yang betul-betul punya visi dari Tuhan, penggantinya bisa saja menyelewengkan visi itu. Harun menjawab, “Sekarang, berikanlah emas-emasmu kepadaku.” Saya tak habis mengerti Harun ini pemimpin macam apa. Tuhan memanggilnya menjadi mulut bagi Musa, tapi kerohanian dan pengertiannya tentang doktrin Allah begitu kacau. Emas-emas itu memang bukan dia kumpulkan untuk dirinya, tapi dia lebur dan keluarlah satu patung lembu emas lalu katanya, “This is Jehovah, the Lord Who guides you and delivers you from Egypt.” Orang Israel pun menyembah lembu itu, diiringi musik yang gaduh. Saat itulah Musa turun dari gunung dengan membawa dua buahloh batu, Sepuluh Hukum yang ditulis oleh tangan Allah sendiri, katanya, “Suara apa itu? Pasti telah terjadi sesuatu yang tak beres!” Musa punya telinga yang tajam, jiwa yang peka, rasa tanggung jawab sebagai pemimpin yang lain sekali dengan pemimpin lain. Setelah sampai di kaki gunung, dia melihat orang Israel menyembah berhala, dia pun marah sampai melempar kedua buah loh batu itu — satu tindakan yang betul-betul teramat berani. Permisi tanya, waktu Musa menghancurkan dua buah loh batu itu, apakah Tuhan marah padanya? Tidak! Mengapa? Karena kemarahan Musa sinkron dengan kemarahan-Nya; dia sehati dengan Tuhan. Itulah hamba Tuhan yang diperlukan di setiap zaman tapi paling susah dicari. Marah sesuai dengan amarah Tuhan, cemburu sesuai dengan cemburu Tuhan, benci yang sinkron dengan benci Tuhan, cinta yang diarahkan pada Tuhan. Mengapa Yohanes Pembaptis begitu agung? Karena dia lebih baik marah bersama Tuhan, menegur dosa Herodes ketimbang menyenangkan raja. Jadi, orang Kristen tak mengakui dirinya Kristen, orang Reformed tak mau mengakui dirinya Reformed, hanya karena takut menyinggung perasaan orang, itu tidak benar!

Terakhir, John Milton, penyair Inggris terbesar, yang hidup sezaman dengan Händel, John Wesley, Robert Rikes, tokoh-tokoh yang luar biasa, menulis Paradise Lost, di mana terdapat pemikiran theologi yang tak dimiliki theolog sezamannya. Allah minta semua malaikat sembah sujud pada Anak-Nya yang tunggal. Apakah kalimat itu ada di Alkitab? Ada. Let all the angels of God worship Him (di Perjanjian Lama). Di Perjanjian Lama hanya satu kali Allah memerintahkan semua malaikat menyembah Anak-Nya. Semua malaikat pun menyembah-Nya, kecuali satu penghulu malaikat yang menolak, “I am not going to kneel down before Your begotten Son.” Dia memberontak pada Tuhan. Dan Tuhan memvonis dia, “You are satan (arti di bahasa Ibrani: penghalang, penentang).” Mungkin kau berkata, kalau begitu, bukankah Allah diktator? Hanya kebenaran yang benar­-benar mutlak berhak jadi diktator, dan Allah adalah diktator yang baik. Apakah karena vonis itu setan bertobat? Tidak, melainkan dendam. Waktu Yesus jadi manusia, setan balik menyuruh Yesus menyembah dia. John Milton menemukan kebenaran yang sangat dalam ini saat theolog-theolog di Inggris masih buta akan Kristologi. Luar biasa! Jawab Yesus, “Enyahlah kau!” Inilah jiwa kekristenan: spirit yang no compromise. Kalau saja hari itu Yesus menyembah, mungkin kekristenan lebih cepat menjadi besar karena seluruh dunia diberikan pada-Nya. Kita pun tak perlu mengabarkan Injil dengan susah payah, seluruh dunia akan otomatis jadi orang Kristen, yang menyembah pada Juru selamat yang tak menyelamatkan bahkan menyembah setan. Kalau Yesus saat itu menyembah setan, bukankah kita yang percaya pada-Nya juga secara tidak langsung menyembah setan? Kekristenan jadi hancur. Mengapa Reformed tak mau kompromi? Karena kita menangkap semangat ini, tak mengenal kompromi, tak akan membiarkan siapa pun atau apa pun merebut iman kita. Tentang hukum kedua ini, orang Yahudi menyelewengkan pengertiannya, “Allah melarang kita menyembah berhala maka kami tak mau menyembah Yesus.” Padahal Yesus adalah satu-satunya dari Allah Tritunggal yang turun menjadi manusia, Dialah yang layak disembah. Orang Kristen tidak mempunyai kekacauan demikian seperti orang Yahudi. Dikatakan di sini, “Kau mencintai-Ku? Aku akan memberkatimu seribu generasi; Aku memberimu hidup kekal. Tapi, barang siapa membenci Aku, akan Kutuntut dosanya tiga sampai empat generasi.”

Jadi, jangan menginterpretasikan perintah ini secara harafiah. Karena di Kitab Suci tersimpan keajaiban yang mencelikkan mata rohani kita. Jadi, tiga empat generasi orang yang membenci Tuhan akan dituntut dosanya bukan karena mereka harus menanggung dosa keturunan. Begitu juga orang yang cinta Tuhan bukan seribu generasinya otomatis diberkati, karena prinsip total Alkitab: anak-cucu mencontoh teladan leluhurnya. Memang, anugerah keselamatan Allah berikan secara cuma-cuma. Tetapi respons manusia bisa bersifat aktif dan pasif. Waktu Tuhan menggerakkan hatimu, kamu taat, secara pasif biarkan Tuhan yang aktif melakukan rencana-Nya atas dirimu. Atau justru aktif menolak dan melawan. Setelah kau diselamatkan, kesetiaanmu dan cintamu pada Tuhan yang sungguh dicontoh oleh anakmu. Itu sebabnya, orang tua yang hidupnya suci, anak-anaknya tersentuh hatinya, mau hidup suci. Dengan begitu, generasi demi generasi memperoleh berkat-Nya. Di sejarah, ada contoh-contoh konkret. Tahun 1863, Hudson Taylor menerima panggilan Tuhan mengabarkan Injil di China, yang populasinya kira-kira dua ratus juta orang, sementara populasi di Inggris hanya berapa juta. Dia pun membeli peta China yang besar, ditempelkan di dinding kamarnya, setiap hari mendoakan satu provinsi secara bergilir. Tak lama kemudian, dia naik kapal ke China, dua setengah bulan baru tiba. Begitu tiba, dia bertemu rombongan pelayat, hatinya sedih, pikirnya, “Andai saja saya tiba kemarin dan punya kesempatan menginjili dia, mungkin dia tak masuk neraka.” Cintanya yang begitu besar terhadap orang Chinese, membuatnya jadi one of the greatest missionaries of all times, and one of the greatest missionaries who did evangelization in China. Dua statement yang dia ucapkan sebelum mati diingat orang sampai hari ini, “Jika aku punya seribu Pound sterling, semuanya kuberikan untuk penginjilan di China. Jika aku punya seribu nyawa, semuanya akan kupakai untuk menginjili orang Tionghoa. Bagaimana dengan keturunannya? Sebelum Hudson Taylor mati, ia mendengar anaknya berkata, “Pa, aku mau meneruskan pelayananmu di China.” Dan sebelum anaknya mati, ia juga mendengar cucunya berkata, “Aku mau meneruskan pelayanan kakek dan papa di China.” Sampai sekarang, generasinya yang ketujuh masih menginjili orang Chinese.

Perintah kedua ini bukan melarang orang Kristen membuat benda seni yang menyerupai burung, matahari, orang; ciptaan Allah. Penekanannya ada dalam pernyataan: Jangan kau menyembah sesuatu selain Allah. Mengapa? Karena setan sangat berambisi merebut hak Allah menerima sembah sujud manusia. Maka saat kau menyembah foto ayahmu, kakekmu, istrimu, pacarmu, atau tokoh seperti Soekarno, Mao Zedong, Guan Gong, Kwan Im, Kongfuzu yang sudah meninggal, sebenarnya terjadi sesuatu yang tak kau lihat: setan menikmati penyembahanmu. Karena dia memang ingin menjadi seperti Allah, duduk di tempat yang tertinggi. Salahkah kalau seorang ingin menjadi besar? Tidak, karena kata Yesus jika kau ingin menjadi besar… artinya: Tuhan tak melarang kita menjadi besar asal motivasi kita tak salah. Misalnya, saya menginginkan gedung gereja yang besar bukan karena ambisi pribadi melainkan supaya bisa menampung lebih banyak orang mendengar Injil, diselamatkan, bukan memuliakan diri, melainkan soli deo gloria. Jadi, menikmati benda seni, menuangkan bakat seni, nothing wrong, tapi kalau dijadikan object of worship, salah adanya. Karena setan selalu ingin merebut hak disembah. Siapa sih yang tak mau lebih dihormati, dihargai? Tapi saya sering mengingatkan murid-murid, hormat tak bisa didapat dengan cara memaksa, merebut, merayu. Jika kau memang pantas dihormati, orang akan menghormatimu. Tapi orang yang tak patut dihormati masih mengotot minta orang menghormatinya, dia lebih mirip setan. Only God deserves worship. Worship means bend down yourself before the supreme value in the universe. And God is the supreme, the subjective value in person. Dia tak menginginkan yang lain merebut hak menerima worship. Itu sebabnya, Allah mencampakkan setan dari surga. Apa arti “setan”? Arti bahasa Ibrani: penentang, you are My opposer, My challenger. Saya percaya, pujangga besar di Inggris, John Milton, mengerti Kristologi begitu dalam melampaui theolog-theolog sezamannya. Begitu juga Charles Jennens, memilih lima puluh ayat secara akurat diberi judul Messiah dikirimkan ke George Frideric Handel yang menggubahnya menjadi oratorio. Siapakah Charles Jennens, John Milton? Kaum Puritans, Reformed yang sangat cinta Tuhan, meneliti perintah­-perintah dan janji-janji Allah di Alkitab. John Milton, setelah buta total sebelas tahun menulis “Paradise Lost”, syair terpanjang di dalam sejarah Inggris. Ludwig van Beethoven setelah tuli total menggubah simfoni yang teragung. Bukankah itu kemahakuasaan Allah? Berbeda dengan manusia yang selalu menuntut, “Tuhan, kalau Kau Mahakuasa, mengapa orang ini buta, tuli, lumpuh?” Konsep yang naif, stupid itu only manifest your own foolishness before God. Kemahakuasaan Allah dinyatakan atas diri orang yang lemah tapi dimampukan melakukan mission impossible, juga dalam membatasi diri-Nya lewat inkarnasi, maka Allah pantas menerima sembah sujud manusia. Dan kata-Nya, “I am not going to give My glory to the false God.

Di perintah kedua, Allah melarang kita membuat patung dan menyembahnya. Karena the greatest right that we, human being have is to worship God our Creator. Jika kau menyelewengkan hak penyembahanmu yang tertinggi untuk menyembah sesuatu yang bukan Allah, kau menghujat diri, juga menghujat Allah. Jadi inti dari perintah ini adalah penyembahan bukan benda seni. Alkitab berkata, seniman yang membuat pernak-pernik di Bait Allah dipenuhi oleh Roh Kudus. Karena seni memang membutuhkan inspirasi, seni adalah wujud dari kreativitas manusia yang tertinggi, so art is very very expensive. Itu sebabnya kita berani menghabiskan ribuan dollar, mengundang soloist dari New York karena seni memang mahal dan kita berharap saat dia menyanyi, orang di Indonesia terangsang. Karena di Indonesia ada banyak “barang” bagus yang belum dipoles, banyak yang berpotensi tapi tak mau belajar. Saat Michelangelo melukis di langit-langit Sistine Chapel, dia berbaring empat puluh senti dari langit-langit, sudah lama tidak turun, tapi suatu kali, tiba-tiba kehilangan inspirasi, maka dia turun dari stagger yang tingginya kurang lebih dua puluh delapan meter dan menghilang. Paus memerintahkan orang mencari dia di segala penjuru Italia dan membawanya kembali. Beberapa hari kemudian, orang menemukan dia di atas satu bukit dan memanggilnya, “Michelangelo, mengapa kau kabur?” “Aku tidak kabur.” “Mengapa kau di sini?” “Mencari inspirasi, karena I cannot draw anything without inspiration. Maka katakan pada Paus, aku belum bisa kembali.” Sampai suatu hari, waktu dia melihat dua gumpal awan bergerak mendekat, dia memperoleh inspirasi tentang penciptaan. Dia pun menggambar Allah Bapa (saya tak begitu setuju Allah Bapa dilukis, karena Dia tak pernah jadi manusia) mengulurkan tangan-Nya pada Adam yang baru dicipta, yang juga mengulurkan tangan pada Bapa. Begitu kedua tangan bersentuhan, hidup Allah mengalir pada Adam. Ini bukan Alkitabiah melainkan seni. The eyes of God are looking at him, then the eyes of Adam who has just been created are looking at God, suatu lukisan yang bagus luar biasa! Begitu juga dengan lukisannya tentang The Last Judgment, urat di tangan Yesus besar-besar, gambaran Dia segera menghancurkan dunia dengan tangan-Nya yang Mahakuasa.

Saya tak percaya Allah tak mengizinkan manusia melukis. Meski kita juga tak pernah tahu wajah Yesus ketika Dia di dunia tapi mengapa ada lukisan Yesus? Hanya menyatakan Dia pernah jadi manusia. Kalau kau bertanya mana foto Stephen Tong? Foto yang mana, saat dia berusia 67 tahun, 22 tahun, atau 17 tahun? Berbeda-beda. Karena manusia terus berubah. Waktu di sorga, apakah kau bisa mengenali istrimu, wajahnya wajah yang usia berapa? Saya percaya Tuhan mengabadikan parasnya yang paling cantik. Itulah cinta Tuhan. Puji Tuhan! Saya tak percaya Allah tak mengizinkan manusia berseni, karena bakat seni adalah pemberian-Nya. Jadi, jangan menganggap bakat seni dari setan, bakat doa dari Tuhan, bakat bermoral bobrok dari setan, bakat bermoral baik dari Tuhan. Baik dan jahat adalah potensi, tapi semua potensi, hak, bakat berasal dari Allah yang mungkin disalahgunakan oleh manusia. Itu sebabnya, jangan menyamakan benda seni yang telanjang dengan pornografi. Mengapa? Karena seniman melukis orang yang telanjang untuk mengutarakan keindahan dari ciptaan Allah, bukan porno. Waktu orang bertanya pada Michelangelo, ”Mengapa kau banyak melukis lukisan telanjang?” Jawabnya, ”I draw a man as God sees His creature. Orang yang berpakaian adalah orang yang ada di mata sesamanya. Orang yang pakaiannya indah, mahal, dipandang sebagai orang yang berkelas dan dihormati, sementara orang yang pakaiannya jelek dipandang miskin dan dihina. Tapi di mata Tuhan, orang yang berpakaian aristokrat dan yang berpakaian pengemis sama, karena yang Allah cipta bukan pakaiannya melainkan tubuhnya. Dan itulah yang aku lukis.” Kalau kita betul-betul mengerti filsafatnya, barulah kita tahu perubahan pornografi yang insist emphasis bagian sex dan seni yang menonjolkan keindahan ciptaan Allah, mengutarakan moral lewat postur tubuh, misalnya lukisan tangan Maria di abad pertengahan, tangannya diperpanjang sedikit, untuk menyatakan dia menghadap ke surga, dia begitu saleh.

Maka penekanan dari perintah kedua bukan jangan membuat patung melainkan jangan menyembahnya. Apakah hanya patung yang bisa kita jadikan berhala? Tidak, nonbenda pun mungkin manusia jadikan berhala, misalnya, pahlawan, kekasihmu, anakmu, posisimu, hobimu yang kau utamakan lebih daripada Allah. Bagaimana memastikannya? Misalnya, hari Minggu kau seharusnya berbakti, mendadak ada orang mengajakmu berbisnis, bisa mendapat untung seribu dollar, kau pilih bisnis ketimbang berbakti, maka uang adalah berhala bagimu. Hari Senin sampai Sabtu, di mana kau harus memelihara kesucian hidupmu, tapi saat orang menawarimu pergi ke tempat pelacuran, kau memilih kesenangan jasmani ketimbang disiplin hidup. Maka kesenangan jasmani adalah berhalamu. Hobi saya lebih banyak dari siapa pun, dari arsitektur, sampai musik, ukiran, tulisan, sastra, filsafat, tapi waktu Tuhan memanggil saya, saya letakkan semuanya. Tahun 1960, sehari sebelum masuk sekolah theologi, saya mengembalikan enam ratus piringan hitam Beethoven, Haydn, Mozart, Mendelssohn, Wagner, Brahms pada penjualnya secara gratis, menjual arloji berlapis emas yang sangat saya senangi dan uangnya dipersembahkan. Selesai studi, saya membeli lagi Creation, Messiah, St. Paul, Elijah ­ oratorio. Untuk apa? Menyelidiki musik, menggubah lagu untuk Tuhan, bukan untuk diri. Apakah berhala yang merebut tempat Tuhan dalam hidupmu? Buanglah semuanya dan kembalilah pada-Nya dengan segenap hatimu. Inilah hukum kedua.

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : http://www.nusahati.com/2011/11/sepuluh-hukum-hukum-kedua/

Obat Dewa


Dahulu kala ada seorang anak yang hidup bersama ibunya. Ayahnya barus saja meninggal. Suatu saat ibunya sakit keras. Dia mencari seorang tabib dan meminta datang ke rumahnya untuk memeriksa penyakit ibunya.

Sang tabib tidak dapat mendiagnosa penyakit ibunya, lalu dengan sembarangan tabib itu mengatakan kepadanya.

”Menurut saya hanya obat dewa yang bisa menyembuhkan penyakit ibumu,” ujar tabib.

Anak ini setelah mendengar perkataan tabib dengan serius menanggapi, lalu dia pergi ke kota bertanya ke setiap toko yang ada di kota itu.

”Apakah ada jual obat dewa?” Katanya kepada penjual di toko.

Ada pemilik toko yang menjawab tidak ada, ada juga pemilik toko yang menganggapnya hanya iseng ingin membuat onar dan mengusirnya keluar dari toko.

Hari pertama dengan putus asa dia pulang ke rumah. Hari kedua dia pergi ke setiap jalan dan memasuki setiap toko bertanya. Setelah hari gelap dengan sedih menundukkan kepala pulang dengan tangan kosong.

Hari ketiga melihat tubuh ibunya makin hari makin lemah, dia lalu bertekad pergi ke kota yang lebih jauh untuk mencari obat Dewa itu. Dia memasuki setiap toko. Akhirnya dia tiba di sebuah penginapan.

Pada saat itu ada seorang tamu di penginapan tersebut sedang makan siang dan mendengar pertanyaannya. Tamu ini dengan penuh perhatiaan lalu bertanya kepadanya di mana rumahnya dan kenapa harus beli obat dewa?

Anak tersebut lalu menceritakan keadaan ibunya kepada tamu itu. Tamu itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak . Di dalam kotak terdapat berbagai macam obat. Tamu itu mengambil salah satu tablet dan berkata kepadanya.

”Ini adalah obat dewa, engkau bawa pulang untuk menyembuhkan penyakit ibumu!” Lalu dia mengambil satu-satunya uang 1 sen yang dimiliki untuk membayar obat ini.

Anak itu sangat gembira lalu dia pulang ke rumahnya. Sampai di rumah dengan gembira dia berteriak.

”Mama, saya telah membeli obat dewa, setelah mama makan mama akan segera sembuh,” teriaknya.

Keesokan harinya datang seorang tabib yang datang ke rumahnya memeriksa ibunya, mengobatinya dengan akupuntur dan memasak semangkok obat untuknya, lalu dia merasakan badannya menjadi lebih sehat, segera dapat turun dari tempat tidur.

Kedua orang ibu dan anak ini merasa sangat berterima kasih kepada tabib. Mereka berlutut mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan nyawanya. Tabib berkata mereka tidak usah berterima kasih kepadanya, harus berterima kasih kepada orang yang memberikan mereka obat dewa itu.

Rupanya orang yang memberi mereka obat dewa ini adalah seorang pejabat tinggi di Kerajaan. Dia terharu melihat seorang anak yang demikian berbakti kepada ibunya, lalu memerintahkan seorang dari tabib istana datang mengobati penyakit ibunya.

Tabib ini lalu mengeluarkan sepucuk surat yang ditulis oleh pejabat tinggi ini dan memberikan kepada ibunya. Di dalam surat itu tertulis.

”Sungguh beruntung engkau memiliki seorang anak yang demikian berbakti, untuk menyelamatkan engkau, dia pergi keseluruh penjuru mencari obat dewa untuk mengobati penyakitmu. Tetapi engkau harus selalu ingat, yang benar-benar dapat menyelamatkan nyawa manusia sebenarnya bukan obat dewa, tetapi cinta kasih antara sesama manusia.”


Sumber : http://www.nusahati.com/2011/11/obat-dewa/

Sekilas tentang Permohonan SKB PPh Final


Dasar Hukum

Dasar hukum permohonan ini adalah peralihan Pasal II Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2008 sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-28/PJ/2009 tentang Pelaksanaan Ketentuan Peralihan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2008 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 tentang Pembayaran Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau . Atas persyaratan dan kriterianya dapat dibaca dalam peraturan tersebut. Dalam tulisan ini saya hanya khusus membahas Wajib Pajak Badan yang mengajukan SKB untuk tahun-tahun pajak sebelum tanggal 01 Januari 2009 misalnya pajak tahun 2008 namun baru dibuatkan AJB ditahun setelah 2008. Maka hal-hal yang diperhatikan oleh Wajib Pajak dan Account Representative (AR) adalah :

A. Wajib Pajak

Wajib Pajak adalah Perusahaan yang bergerak dalam bidang real estate yang mengajukan SKB atas nama pembeli yang telah diaporkan dalam SPT Tahunan PPh Badan. Dengan memberikan dokumen-dokumen yang dapat membuktikan bahwa atas objek pajak tersebut telah dilaporkan dengan benar diantaranya melampirkan :

  1. Identitas pembeli yang meliputi nama dan NPWP
  2. Identitas unit, yang meliputi luas bangunan/tanah, SPPT PBB serta lokasi
  3. Daftar rekapitulasi pembeli dalam tahun bersangkutan dimana obyek pajak tersebut termasuk didalamnya
  4. Bukti pembelian, yang meliputi kwitansi atau bukti transfer serta invoicenya
  5. Surat pernyataan

hal tersebut di atas adalah bertujuan untuk membuktikan bahwa permohonan yang dilakukan adalah benar telah terjadi dan belum dibuat Akte Jual Beli. Dan untuk memudahkan pelayanan dapat diselesaikan dengan cepat.

B. Account Representative (AR)

Mempelajari semua dokumen yang diserahkan oleh wajib pajak sebagai syarat pengajuan SKB PPh Final yaitu membuat Kertas Kerja Penelitian dimana didalamnya memuat :

  1. Meneliti kelengkapan formal, kadangkala dimungkinkan terjadi kesalahan oleh petugas TPT tentang kelengkapan formal.
  2. Meneliti identitas pembeli dan NPWP, dengan mengecek data pada master file, jika NPWP yang dicantumkan adalah NPWP istri/suami maka dibuktikan dengan Kartu keluarga.
  3. Meneliti identitas unit yang dibeli, yaitu meliputi harga, letak, luas tanah dan/atau bangunan serta mencross cek data pada rekapitulasi pembeli. Jika patokan harga adalah sesuai yang dilaporkan pada SPT Tahunan.
  4. Meneliti bukti pembelian dimana ada arus kas yang benar-benar terjadi dengan melakukan pengecekan pada Faktur Pajak/Invoice/kwitansi beserta rekening koran. Jika tidak melalui rekening yakinkan dengan membuat surat pernyataan bermaterai bahwa transaksi tidak menggunakan rekening.
  5. Lengkapi dengan surat pernyataan bermaterai
  6. Lakukan pengiriman angket ke KPP tempat pembeli berada, agar KPP Setempat dapat melakukan penelitian terhadap SPT Orang pribadi/badannya.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas, maka dalam pengajuan permohonan hendaknya wajib pajak memberikan informasi selengkapnya untuk mempermudah AR dan mempercepat proses penyelesaian.

Sabtu, 05 November 2011

Teologi Penginjilan

Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa- dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci (I Korintus 15:3-4)

Kematian dan kebangkitan Kristus merupakan dua hal yang menjadi fondasi Injil. Apakah itu Injil? Injil adalah satu-satunya kabar baik dari Tuhan Allah, yang Ditujukan bagi orang berdosa, bahwa Kristus yang diutus oleh Allah sudah mati dan sudah bangkit menjadi Penebus orang berdosa. Dia mati karena dosa kita masing-masing, dan Dia bangkit dengan tujuan memberikan kebenaran Allah kepada kita, yang datang kepadaNya. Ada sifat penting dalam Injil yang harus kita pertahankan. Gereja yang kehilangan pegangan atas sifat Injil yang penting ini, pasti akan menjadi gereja yang berkompromi. Sifat paling mendasar dari Injil adalah sifat penebusan — The redemptive nature of the Gospel –. Injil bukan satu pengajaran baru, bukan semacam perubahan moral, bukan satu popularisasi dari ajaran agama Kristen. Mengabarkan Injil bukan satu gerakan menambah anggota gereja, bukan suatu pidato mengenai keagamaan. Mengabarkan Injil merupakan peperangan yang membawa manusia keluar dari tangan setan masuk ke dalam tangan Allah.

Jikalau kita betul-betul mengetahui apakah artinya PI, kita tidak mungkin PI tanpa semangat, jikalau kita belum mengerti apa sifat Injil yang sejati, kita tidak mungkin membedakan kegiatan kita dengan kegiatan agama-agama yang lain. Sifat PI, berdasarkan sifat esensi dari Injil itu sendiri. Injil bersifat penebusan, yang tidak ada di dalam agama lain. Jikalau agama-agama mengajar manusia berbuat baik, dan orang-orang yang menganut agama itu taat pada pengajaran agamanya, maka mereka berbuat segala kebaikan sesudah menerima ajaran agama mereka. Ini tidak berarti perbuatan-perbuatan dosa sebelum itu sudah bisa diselesaikan. Jika seseorang berbuat baik menurut agama mereka, dan sampai mati tidak berbuat dosa lagi, tetap belum membereskan soal dosa kemarin, kemarin dulu dan tahun-tahun yang silam dan waktu-waktu yang sudah lalu.

Agama mengajar manusia bermoral baik, tetapi Kristus menebus manusia keluar dari kuasa dosa dan kuasa setan. Inilah perbedaan agama dan Injil Yesus Kristus. Jikalau orang Kristen tidak mengenal keunikan dan inti dari istilah penebusan ini, kita tidak mungkin berperang dengan semangat, api yang murni, dan ketekunan tanpa henti untuk melayani Tuhan.

Di dalam kematian Kristus, fokus terpenting adalah keunikan Oknum yang telah menderita kematian ini. Siapakah Dia yang dipaku di atas kayu salib? Golgota tidak hanya menyalibkan Yesus. Banyak orang yang dipaku di sana. Perampok-perampok yang diadili menurut hukum dari Romawi dipaku, digantung dan dibunuh di sana. Yesus bukan orang pertama yang disalibkan. Menurut catatan sejarah, pada waktu Yesus berusia 11 tahun sudah lebih dari 100 orang Israel yang dipaku di atas kayu salib di Nazaret. Berarti Yesus yang masih kecil sudah mempunyai kesan: inilah nanti pengalaman yang harus diterimaNya, pada waktu Dia mengakhiri perjalanan dalam melaksanakan kehendak Allah sebagai Mesias.

Tetapi kesengsaraan Kristus lebih dari kesengsaraan penjahat yang disalib, sehingga Dia berteriak, “Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Suatu kesengsaraan yang tidak mungkin dimengerti oleh rasio manusia, melampaui kemungkinan penganalisaan teologis. Martin Luther setelah berjam-jam merenungkan ayat itu pada satu hari Jumat Agung, tetap tidak mengerti, akhirnya dia berdiri, memukul meja dan berkata: “Siapakah yang dapat mengerti Allah Oknum Pertama meninggalkan Allah Oknum Kedua?” Siapakah yang mampu mengerti mengenai hal Allah meninggalkan Allah? Namun setiap orang Kristen yang tidak mengerti secara mutlak dan tuntas akan hal ini harus mengerti satu hal: Dia dibuang oleh Allah, supaya kita bisa diterima kembali oleh Tuhan Allah. Itulah Injil

Suatu kebenaran yang tidak ada di dalam agama-agama, di dalam filsafat, di dalam ilmu-ilmu pengetahuan mana pun yang ditemukan manusia melalui otak yang diberikan oleh Tuhan, untuk menyelidiki rahasia-rahasia kebenaran ciptaan Allah yang tersembunyi di dalam alam. Kematian Kristus harus kita renungkan terus menerus, menjadi dorongan kekuatan yang konsisten untuk menopang gereja. Salib Kristus adalah rahasia kemenangan dari jaman ke jaman bagi gereja Tuhan yang sejati.

Kematian Yesus Kristus di atas kayu salib mengandung empat arti:

  1. The sacrifice of the substitution (Pengorbanan yang menggantikan), Di dalam Alkitab konsep yang penting ini keluar dari mulut Yesus Kristus sendiri, Dia berkata: “… Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45). Yesus Kristus sendiri menyatakan konsep penggantian ini, yang saya sebut — The sacrifice of substitution — karena penggantian ini tidak mungkin dikerjakan oleh orang lain. Tidak ada kematian malaikat yang bisa diterima untuk mengganti kita. Orang yang paling suci sekalipun, tidak ada yang cukup layak menjadi pengganti bagi kita kecuali Anak Allah sendiri. Allah mencari di tengah-tengah manusia adakah seorang yang cukup baik? Tidak seorangpun. Semua sudah berada di bawah murka Allah. Di mana lagi Allah mau mencari? Satu-satunya yang layak untuk menerima hukuman Allah menggantikan manusia adalah Oknum Kedua dari Allah Tritunggal itu sendiri. Konsep ini sudah keluar dari mulut Kristus, yang kemudian dikembangkan oleh Paulus di dalam teologinya. Paulus berkata: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita (II Korintus 5:21) Ini adalah salah satu ayat yang paling sulit dimengerti oleh rasio dan sulit dimengerti dan dijelaskan di dalam Hermenutika. Mengapa? Apa artinya yang tidak mengenal dosa dibuatNya menjadi dosa? Inilah penerobosan dari Yang Kekal ke sementara, dari Yang Tidak Berdosa menjadi berdosa. Allah sendiri yang bekerja. Kristus, yang tidak berdosa, menggantikan kita, yang berdosa. Kita yang berdosa sekarang boleh dilepaskan, dibebaskan dari hukuman dosa, karena Kristus telah menjadi penanggung dosa kita masing-masing. “Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus AnakNya sendiri dalam daging (Roma 8:3), “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib….” (I Petrus 2:24). Jelas sekali, baik dari Petrus, Paulus, ataupun dari Yesus Kristus, maka substitution ini merupakan sesuatu penegakkan teologi yang tepat. Di dalam aliran teologi Liberal, khususnya teologi Jerman pada abad ke 19, banyak orang mulai menolak sifat substitusi ini. Mereka hanya mau mendirikan teologi di atas dasar moral Yesus. Teologi tidak boleh dibangun di atas dasar moral, sebaliknya moral harus dibangun di atas dasar teologi. Jika tidak maka tidak ada jalan yang sesungguhnya. Tuhan Yesus, bukan saja menjadi Guru moral yang terbaik atau Oknum yang hidup paling suci hidupNya di sepanjang sejarah, lebih dari itu, Yesus Kristus adalah Allah dan Tuhan yang datang menjadi manusia dan hamba, dengan tujuan untuk di salib. Suatu kematian yang bersifat mengganti.
  2. The sacrifice of the propitiation (Pengorbanan yang memulihkan), Propitiation berarti pemulihan. Istilah propitiation yang dipakai dalam Kitab Suci bersangkut paut dengan kemarahan Allah, Allah adalah Allah Yang Mahasuci dan Mahaadil.Yesus Kristus datang ke dalam dunia, Dia akan menjalankan dan melaksanakan keadilan dan kesucian Allah yang mutlak. Tuhan Allah adalah Tuhan yang tidak berkompromi ataupun menoleransi dosa. Itu sebabnya Allah sangat murka yang tidak mungkin ditanggung oleh manusia. Siapa yang bisa berdiri di hadapan Allah dan dombaNya pada waktu Anak Domba Allah murka? Tidak ada orang yang bisa tahan berdiri di hadapanNya.Pada waktu kemarahan Tuhan ditimpakan kepada orang berdosa, maka Kristus yang datang untuk menanggungnya. Di atas kayu salib Dia telah mengalami vakum kasih. Satu-satunya tempat, satu-satunya saat, satu- satunya peristiwa di mana tidak ada kasih sama sekali, adalah ketika Yesus disalib. Bukankah Allah mengasihi Dia? Pada waktu itu tidak. Saat itu Allah meninggalkanNya, sehingga Dia berteriak: “Eli, Eli lama sabakhtani? AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Yesus ditinggalkan Allah. Saat itulah vakum kasih. No love of God is there. Bukankah manusia-manusia yang bersimpati dan mengasihiNya mengelilingi salib dan memberikan hiburan kepadaNya? Saya menjawab: “Tidak!” Pada waktu Yesus berada di kayu salib, cinta dari manusia tidak mungkin sampai kepadaNya. Karena Dia sedang menanggung dosa mereka, sehingga dosa mereka yang datang kepada Kristus, kemurkaan Allah yang ditimpakan kepada Kristus. The absolute vacum of love is in the cross.
  3. The sacrifice of redemption (Pengorbanan yang menebus), Kematian Yesus Kristus bersifat penebusan. Apa artinya redemption? Apa artinya atonement? Di dalam bahasa Inggris atonement bisa dipisah menjadi at one ment yang berarti menjadi satu. Di dalam penebusan Dia membayar harga tunai yang tinggi dan sangat berharga sehingga nilai kita ditegakkan, dan kita mengetahui bahwa kita bernilai. Berapa besarkah nilai manusia? berapa mahalkah nilai jiwa manusia? Alkitab Perjanjian Lama memberikan sesuatu rumusan mengenai nilai jiwa manusia di dalam Kejadian 9:6: “Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia….”, ini berarti man is equal to man, manusia nilainya sama dengan manusia. Di dalam Perjanjian Baru rumus yang lain diberikan mengenai nilai manusia, rumus yang baru dikatakan oleh Yesus Kristus: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” Di dalam kalimat tantangan dari Kristus ini, kita melihat betapa bernilainya jiwa. Seorang manusia lebih bernilai daripada seluruh dunia. Lebih jelas lagi di dalam I Petrus 1:18,19 yang berbunyi: “… kamu telah ditebus… bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus … yang tak bercacat.” Darah Kristus menjadi tebusan di mana jiwa kita boleh kembali kepada Tuhan Allah. Penetapan nilai jiwa manusia adalah setinggi darah Kristus. Hak azasi manusia yang diperjuangkan di PBB, yang diperjuangkan oleh Jimmy Carter, yang diperjuangkan di Helsinki, belum pernah menjadi standar yang lebih tinggi dari Kitab Suci. Mereka mengenal manusia tidak lebih tepat dari apa yang Tuhan katakan. Karena Allahlah yang menciptakan manusia, maka Dia yang paling tahu dimana dan berapa besar nilai manusia. Nilai manusia sedemikian berharga sampai jikalau bukan Anak Allah sendiri mati bagi mereka, mereka tidak bisa ditebus dan tidak bisa kembali kepada Tuhan.
  4. he sacrifice of the reconciliation (Pengorbanan yang mendamaikan), Reconciliation berarti memperdamaikan. Pada waktu Kristus mati, harga sudah dibayar, kita ditebus kembali. Pada waktu Yesus Kristus mati, kebencian sudah ditanggung, dan segala kemarahan sudah dihentikan, kita berdamai kembali dengan Tuhan Allah Bapa di dalam surga. Satu pertanyaan yang perlu kita pikirkan adalah Kristus membayar harga untuk menebus kita, harganya dibayar kepada siapa?Iblis atau Allah Bapa atau dunia? Pertanyaan ini baru pada abad ke X dapat dijawab tuntas. Abad I teolog-teolog mempunyai pikiran yang berbeda-beda. Tertullian (abad II) mengatakan: “Membayar harga yang tunai kepada setan, supaya tangan setan tidak lagi bisa memegang kita, dan kita keluar dari tangannya.” Tetapi abad XI seorang yang bernama Anselm menulis buku yang berjudul “Mengapa Allah Menjadi Manusia?” Di dalam bukunya mengatakan, “Kepada siapa kita berhutang?” Jika Allah membayar kepada setan, seolah-olah ada persekongkolan antara Allah dengan setan.Pada waktu kita berdosa, kita berhutang atas kemuliaan Allah. “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” (Roma 3:23) Hutang kemuliaan berarti kehilangan kemuliaan. Dosa tidak bisa dimengerti hanya dari sudut perbuatan dan etika yang kurang baik. Dosa harus dimengerti lebih dari etika dan perbuatan secara lahiriah ke dalam motivasi yang tidak benar. Tetapi Alkitab memberikan ajaran jauh lebih tinggi dari semua filsafat etika dunia dan agama-agama yang lain. Alkitab memberikan jawaban kepada kita, dosa adalah kekurangan kemuliaan, di mana kekurangan kemuliaan itu terjadi itulah dosa. Sekarang setelah kita berhutang kemuliaan Allah, siapa yang bisa membayar kembali? Manusia berhutang kepada Allah yang tidak terbatas. Kristus yang tidak terbatas satu-satunya yang mungkin membayar. Tetapi mengapa waktu Yesus Kristus membayar, kita terlepas dari tangan setan? Karena waktu setan memiliki kita itu bukan dengan hak milik asli. Hak milik setan bukan hak milik asli. Pada waktu kita dimarahi oleh Tuhan, kita dibuang, setan langsung menguasai kita dengan hak yang tidak sah. Dia telah merongrong, telah memiliki manusia dan memojokkan manusia untuk melawan Allah lagi. Tetapi Allah Yang Mahakuasa jauh lebih besar kuasaNya dari setan. Sehingga setelah Kristus membayar lunas hutang kemuliaan dan kesucian kita kepada Allah, di situ Allah berkata: “Aku menerima engkau kembali.”

    Karena Allah menyatakan, “Aku menerima engkau kembali”, pemilik yang tidak sah harus melepas milik yang bukan miliknya. Itu sebab semacam kematian yang bersifat menebus kita, kematian yang bersifat memperdamaikan kita, yaitu Allah yang mempunyai keadilan, kesucian, sekarang karena telah disingkirkan melalui propisiasi itu. Maka Dia mampu memberikan pengampunan kepada kita, pengampunan itu mengakibatkan kita boleh berdamai lagi dengan Tuhan Allah, itu disebut reconciliation.

Saya membagikan perdamaian melalui Kristus dan salibNya didalam lima aspek:

  1. Perdamaian kita dengan Allah melalui Yesus Kristus.
  2. Perdamaian kita dengan kita melalui Yesus Kristus.
  3. Perdamaian kita dengan orang lain melalui Yesus Kristus.
  4. Memperdamaikan orang lain dengan orang lain melalui Kristus.
  5. Memperdamaikan orang lain dengan Allah melalui Kristus.

1. Perdamaian antara orang berdosa dengan Allah

Sebelumnya saya berdosa dan menjadi musuh Allah. Sebagai seteru Allah, saya dibenci dan dibuang Allah. Murka Allah ada pada saya, tetapi Kristus yang menanggung, sehingga di dalam Kristus saya kembali kepada Allah. “Oh, Bapa ampunilah saya,” dan Tuhan berkata, “Aku menerima engkau kembali. Sekarang kau bukan musuhKu. Aku memberikan hak kepadamu menjadi anak-anakKu.” Kita berdamai dengan Allah.

2. Perdamaian kita dengan kita melalui Yesus Kristus

Setelah pengampunan dosa kita terima, maka dengan sendirinya terjadi perdamaian kedua: kita berdamai dengan kita sendiri. Berapa banyak orang menjadi manusia yang tidak rela. Hidup tidak rela, terhadap isteri tidak rela, melihat anak nakal tidak rela hati, benci, jengkel terhadap dirimu. Mengapa? Karena ada perpecahan antara dirimu dan dirimu. Engkau menjadi musuh dirimu, engkau jengkel terhadap dirimu, benci diri, engkau begitu mendendam diri, tetapi tidak berani mati. Akhirnya terpaksa hidup terus di dunia. Orang gila, orang yang bunuh diri adalah mereka yang menjadi fanatik dan ekstrim. Melampaui batas, upnormal, terjadi permusuhan antara oknum diri dengan diri secara kelebihan, sehingga mereka menjadi gila dan bunuh diri. Kita yang mengalami kesulitan dan kesulitan terus menerus kadang-kadang tidak bisa mempunyai keharmonisan diri, kita memerlukan perdamaian diri Tuhan Yesus.

Kita boleh mencintai diri tapi kita tidak boleh egois. Mencintai diri menjadi dasar etika mencintai orang lain. Alkitab mengatakan, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Markus 12:31). Jadi, orang yang membunuh orang lain bukan karena membenci orang lain, tetapi karena membenci manusia dan dirinya adalah manusia. Karena membenci diri sekaligus membenci semua yang namanya manusia. Tetapi orang yang mencintai diri, lalu mempunyai konsep bahwa di dalam setiap orang ada diri, akan memperluaskan cinta ini menjadi cinta diri yang lain, itu menjadi dasar mencintai orang lain. Alkitab tidak salah. Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri.

3. Perdamaian kita dengan orang lain melalui Yesus Kristus

Perdamaian dengan diri mengakibatkan engkau mempunyai hidup yang limpah. Setelah berdamai dengan Allah dan berdamai dengan diri sendiri di dalam Kristus, dia mulai bisa melihat setiap orang itu bisa dicintai.

Seorang Kristen yang sudah mengalami kuasa Injil, mau tidak mau mempunyai perdamaian. Orang Kristen yang sudah mengalami Injil mau tidak mau berdamai dengan semua orang. Saya mencintai semua orang, saya harap saya bisa baik-baik hidup selama saya masih diberikan kesempatan bernapas di atas bumi ini, tidak menjadi musuh siapapun.

4. Memperdamaikan orang lain dengan orang lain melalui Kristus

Jika kemana saya pergi saya tidak membikin orang lebih benci satu dengan lain. Tidak menghasut melainkan memberikan benih perdamaian. Saya ke sini, di sini ada damai, ke sana sana ada damai. Inilah janji Tuhan: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Matius 5:9). Puji Tuhan!

5. Memperdamaikan orang lain dengan Allah melalui Kristus

Memperdamaikan orang lain dengan Allah dikerjakan oleh orang yang sudah mengalami perdamaian Allah dalam diri sendiri, mengalami perdamaian antara diri dengan diri, mengalami perdamaian diri dengan orang lain, mengalami memperdamaian orang lain dengan orang lain, puncaknya adalah memperdamaikan orang berdosa dengan Allah Yang Suci melalui penginjilan. Setiap kali engkau mengabarkan Injil berarti memperdamaikan manusia dengan Tuhan Allah melalui Yesus Kristus.

Ini empat sifat dasar dari Injil itu sendiri berdasarkan kematian Kristus. Kematian Kristus bersifat propitiation, berarti memulihkan Allah dari murka, kematian Kristus bersifat redemption, menebus dan membawa kita kembali kepada Tuhan, karena harga yang tunai yang sudah dibayar, kematian Kristus bersifat reconciliation memperdamaikan kita dengan Allah, memperdamaikan kita dengan diri, memperdamaikan kita dengan orang lain dan memungkinkan kita memperdamaikan orang lain dengan orang lain, dan membawa orang lain yang bermusuhan dengan Allah kembali berdamai dengan Tuhan Allah. Ini sifat nuklir dari Injil.

Sifat Unik Injil

a. Injil bersifat Esa Injil hanya satu.

Saya tidak percaya kita mungkin membandingkan Injil dengan yang lain, lalu menyetarakan Injil dengan kebudayaan-kebudayaan lain. Injil bukan berasal dari sejarah dan bersifat sementara. Bukan hasil dari kebetulan dan bukan produksi kebudayaan. Injil merupakan sesuatu yang timbul dari rencana Allah, yang dinyatakan di dalam proses dinamis sejarah. Injil itu Esa, satu- satunya kabar baik, satu-satunya Juruselamat, harus dipegang teguh oleh kaum Injili. Agama banyak, Injil hanya satu. Pendiri agama banyak, Juruselamat hanya satu. Pengajar moral banyak tetapi Pengantara hanya satu. Satu-satunya Pengantara di tengah-tengah manusia dengan Tuhan Allah; satu-satunya Juruselamat yang melepaskan kita dari kuasa dosa, kuasa setan, kuasa maut dan kuasa kutukan Taurat.

Hanya di dalam nama Yesus Kristus kita mendapatkan penebusan dan keselamatan serta hidup yang kekal. “Semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya.” (Yohanes 20:31). “Semua itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” (I Yohanes 5:13). Ini tidak ada di dalam kebenaran agama, sistem filsafat dan ideologi-ideologi manusia yang lain.

b. Injil bersifat sempurna Injil dan kuasa Injil sudah sempurna,

ini berarti jangan ditambah-tambah lagi. Kuasa Kristus, keselamatan yang digenapi oleh Kristus di dalam Injil sudah sempurna, mutlak tidak boleh ditambah-tambah lagi. Di dalam dunia, kita melihat ada dua macam agama, semacam agama yang menolak Kristus. Mereka berpendapat manusia boleh langsung datang kepada Allah tanpa Kristus, tidak perlu pengantara, tidak perlu Juruselamat.

Agama macam kedua, di antara Kristus dan manusia di tambah lagi yang lain: orang suci, rasul-rasul dsb. Mereka bukan hanya berdoa melalui Kristus kepada Bapa, tetapi mereka berdoa kepada bunda Maria, berdoa kepada rasul-rasul lain, berdoa kepada orang-orang suci lain untuk datang kepada Kristus. Yang tambah atau yang kurang, semua tidak menyadari bahwa Kristus sudah cukup dan sudah sempurna.

c. Injil bersifat mutlak Berarti dari kekal sampai kekal tidak ada perubahan.

Biarpun teologi berjalan terus, jangan melanggar kemutlakan Injil. Biarpun penyelidikan dan penafsiran Alkitab terus berkembang, jangan meniadakan Injil dari yang direncanakan oleh Tuhan. Injil mutlak adanya sehingga Paulus berkata: “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” “Jikalau ada orang lain datang mengabarkan Injil kepadamu berlainan dengan apa yang kuajarkan kepadamu, bukan saja jangan terima dia, biar dia dijatuhkan kutukan.” “Jikalau ada orang datang kepadamu, memberitakan injil yang lain, injil yang berbeda dengan apa yang kuberitakan kepada engkau, meskipun malaikat. Jikalau malaikatpun datang mengabarkan injil berlainan dengan Injil di dalam Alkitab, biarlah malaikat itu juga dijatuhkan laknat.” Mengapa perkataan-perkataan begitu keras keluar dari mulut Paulus? Paulus berkata bahwa Injil adalah mutlak dan dipertahankan. Jikalau ada orang mengabarkan Injil kepadamu berlawanan dengan apa yang ku kabarkan, itu bukan Injil, dan mereka harus dijatuhkan laknat, berarti Paulus minta gereja mempertahankan kemurnian dan kemutlakan Injil.

Bagaimana dengan kaum Injili? Orang yang mencintai Injil, peliharalah Injil! Orang-orang yang betul-betul menamakan diri Injili bukan hanya mulut gembar-gembor tapi hati yang setia kepada Injil. Mengerti, memelihara, mencintai dan memelihara Injil dengan setia sampai Yesus Kristus datang kembali.

Dunia akan berubah. Paulus berkata: “Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu.” (Kisah Rasul 20:29), Paulus berkata: “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.” (II Timotius 4:4).

Pada waktu kita memberitakan Injil, kita harus bijaksana. Bijaksana bukan berarti takut, bijaksana bukan berarti kompromi. Orang yang berkompromi, orang yang takut selalu mengatakan: “Ini bijaksana.”

Menurut pikiran Plato dan Socrates, orang Yunani mengatakan: “Suatu hal yang tidak mungkin! Bagaimana saya dapat percaya seorang bodoh seperti Yesus Kristus tersalib tanpa dapat menyelamatkan umat manusia? Bagi logika saya yang sudah dilatih oleh filsafat, saya tidak bisa terima.” Sementara orang Yahudi mengatakan: “Inikah Juruselamat? Inikah Mesias? Omong kosong! Mesias bersifat militer, Mesias bersifat politik, Mesias bersifat dendam, Mesias bersifat kemenangan. Kristus yang menang harus Kristus yang berpolitik, Kristus yang betul-betul mempunyai kekuasaan militer, yang melepaskan Israel itu bisa menjadi Kristus, itu bisa menjadi Juruselamat, tetapi yang dipaku di atas kayu salib ini tidak mungkin! mereka pergi.

Lalu Paulus berkata: “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang- orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan” (I Korintus 1:22), itu Injil.

Sekarang berapa banyak orang mengabarkan Injil mencoba berusaha dengan mujizat dan bijaksana untuk menarik orang datang kepada Tuhan. Saya percaya Tuhan lebih bijak dari siapapun, saya juga percaya Tuhan melakukan mujizat, betul-betul berkuasa sampai sekarang: Dia menyembuhkan orang lain, Dia melakukan mujizat, tetapi pusatnya adalah kayu salib Kristus.

Orang Yunani minta bijaksana, mereka menganggap salib itu bodoh, orang Yahudi minta mujizat, mereka merasa Golgota lemah. Paulus berkata: “Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.” (I Korintus 1:25). Ini saya sebutkan sebagai sifat paradoks, berarti kelihatan salah tetapi benar, kelihatan konflik tetapi harmonis, itu disebut paradoks.

Paradoks pertama adalah salib yang paling lemah, menjadi kuasa terbesar di alam semesta. Karena salib adalah tempat paling bodoh maka melebihi segala bijaksana. Karena salib adalah tempat paling bodoh, tidak mampu membela diri maka di salib terjadi pembelaan terbesar bagi umat manusia. Salib adalah tempat yang memberikan pengampunan. Ketika paku menusuk Dia, pada saat yang bersamaan darah pengampunan keluar, itulah Injil.

Paradoks kedua Waktu kita mengabarkan Injil kepada yang membutuhkan, mereka tidak terima. Ingat waktu Paulus di Troas? Pada waktu Paulus di Troas di waktu malam, mungkin mimpi, mungkin penglihatan, ada orang Makedonia berkata: “Mari menyeberang ke sini, tolonglah kami!” Paulus menyangka pimpinan Tuhan, lalu dia pergi. Paulus pergi ke Makedonia. Kota pertama yang dikunjunginya adalah Filipi. Ia berkhotbah, hari kedua langsung masuk penjara. Ia tidak mengerti, di dalam visi disuruh ke sini, sudah datang, masuk penjara. Itulah Injil. Ketika pengabar Injil datang ke Irian Jaya, pergi, dimakan singa. Engkau bilang Sumatera perlu, ayo datang, Nommenson ke Sumatera hampir dibunuh mati. Jackson ke Birma, Hudson Taylor ke Tiongkok, David Braner ke India, William Carry ke India. Dalam sejarah dari misi, tidak ada satu tempat pun membuka kedua tangan secara luas untuk menyambut Injil. Jikalau mereka bisa begitu baik bereaksi kepada Allah, mereka tidak perlu Injil, justru Injil diperlukan oleh orang yang merasa tidak perlu, Injil dikabarkan kepada mereka yang tidak mau dikabarkan, Injil harus diberitakan kepada mereka yang menolak berita, itu Injil. Injil untuk orang yang belum menjadi Kristen, untuk orang-orang yang belum mengenal Yesus Kristus.

Kita harus hati-hati dan bijaksana sungguh-sungguh, menyediakan hati yang bersedia untuk menerima kesulitan. Tidak ada seorang lebih berat penderitaan dari Kristus. Yesus berkata: “Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya….” Setiap kali kalimat itu diucapkan, dikaitkan dengan penderitaan. Jikalau Kristus sudah menderita begitu berat, maka tidak ada satu orang menderita lebih berat dari Yesus. Jikalau begini, apakah Dia tidak sanggup menghibur engkau? Barang siapa ingin memberitakan Injil, ia harus bersedia untuk masuk kemana saja termasuk penjara. Orang yang bersedia mengabarkan Injil harus mempersiapkan diri dengan mengerti sifat paradoks Injil

Paradok Ketiga, sifat Injil adalah berinisiatif. Tidak tunggu orang lain datang, engkau pergi …. Mentalitas pergi harus dipupuk di antara anggota gereja kita masing-masing. Berapa banyak gereja anggotanya hanya datang satu kali setiap minggu ke gereja. Tetapi itu bukan kehendak Allah. Kehendak Allah adalah setiap orang Kristen pergi. Beberapa tahun yang lalu saya bertemu dengan David Elis yang pernah menjadi ketua OMF Indonesia, dia berkata kepada saya, Stephen, I like to see my church empty. Saya kaget, dia ingin melihat gerejanya kosong? Dia mengatakan, “Saya menghargai gereja saya kosong. Saya tanya mengapa, “Mengapa engkau ingin gerejamu kosong?” Dia berkata, “Saya mau anggota saya semua pergi, pergi ke seluruh dunia, kabarkan Injil, sehingga tidak ada satu yang sisa di dalam gereja.” Pupuklah semangat ini, berikan kepada mereka dorongan seperti ini, biar gereja kita menjadi gereja misioner.

Sumber Artikel:
Sumber: http://sabda.org/reformed/teologi_penginjilan