Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 November 2014

Karakter Pemimpin

Fiorello La Guardia
Fiorello LaGuardia adalah seorang walikota di kota New York saat terjadi depresi besar saat itu, sebagai walikota tiga periode (1934 – 1945). Walikota ini dekat dengan warganya, bahkan  terlibat dalam tim pemadam kebakaran, atau kegiatan pengamanan polisi adalah hal biasa baginya, (Sepertinya inilah yang ditiru oleh Gubernur DKI saat ini, :)). Pada musim dingin di bulan Januari 1935, sang walikota hadir dalam suatu pengadilan bagi warga miskin di kota itu. 


Karena hormatnya kepada sang Walikota, sang hakim mempersilahkan tempatnya digantikan oleh sang Walikota, dan tidak lama kemudian seorang wanita tua dengan baju yang sangat lusuh dibawa ke meja hakim dengan tuduhan mencuri roti disebuah toko. Di depan sang hakim wanita tua ini menceritakan motivasi kenapa dia mencuri roti adalah karena  suami dari putrinya sudah lama pergi, dan sang putri sedang dalam keadaan sakit sementara dua cucunya sedang kelaparan.

Melihat gelagat yang tidak baik, sang pemilik toko dimana sang wanita tua itu mencuri mengatakan kepada hakim bahwa dia tidak akan menarik tuntutannya, sambil berkata “Ini adalah lingkungan yang buruk namun nyata, yang Mulia” dan dia harus dihukum untuk memberi pelajaran dan efek jera bagi yang lain.”.

Sang walikota menarik nafas, dan memandang kepada wanita tua tersebut dan berkata “Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda 10 dollar dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 10 hari”.

Sang wanita tua itu tertunduk sedih, hatinya remuk. Namun tiba-tiba sang walikota tersebut mengangkat topinya dan memasukkan 10 dollar ke dalamnya dan berkata kepada pengunjung diruang sidang, “saya atas nama keadilan memberikan kepaqda wanita tua itu 10 dollar untuk membayar tuntutan, dan saya meminta pengunjung untuk membayar masing-masing 50 sen karena tinggal di kota ini namun tidak perduli dengan sesamanya, sehingga seseorang harus mencuri roti agar cucunya bisa makan.” Sang juru sita mengedarkan topi tersebut serta memberikan kepada terdakwa.

Keesokannya harinya koran lokal memberitakan tentang seorang wanita tua yang mencuri roti untuk cucunya yang sedang kelaparan menerima 47,5 dollar, bahkan 50 sen dari nilai tersebut berasal dari Toko Roti dimana wanita tua itu mencuri roti.

...


Sumber : http://www.nusahati.com/2014/01/fiorello-la-guardia-karakter-pemimpin/

Jumat, 31 Oktober 2014

Anugerah Penderitaan


 

Mungkin diantara kita tidak pernah tahu  tentang suatu kisah yang sangat inspiratif dari Presiden Amerika Serikat yang ke 32 yaitu Franklin Delano Roosevelt (30 Januari 1882 – 12 April 1945). Ya, di bawah kepemimpinanyalah Amerika dan sekutu berhasil menaklukkan Jerman dan Jepang dalam Perang Dunia kedua. Dan ia adalah satu-satunya presiden Amerika yang terpilih sebanyak 4 (empat) kali dalam jabatan tersebut (Tahun 1933 s.d 1945). 


Adalah film Warm Springs (pemandian air panas) yang mengisahkan tentang kisah nyata bagaimana sebuah keteguhan mental seorang calon Presiden Amerika waktu itu, Franklin Delano Roosevelt (FDR). Kisah Franklin Delano Roosevelt (FDR) yang mengalami kelumpuhan dan harus bertahan hidup di kursi roda dan kala itu ia memutuskan untuk melakukan terapi ke sebuah tempat peristirahatan yang memiliki kolam pemandian air panas di Warm Springs adalah sebuah kota di negara bagian Georgia, Amerika Serikat, dan secara administratif masuk ke wilayah Meriwether County.

Pada 1921, ketika Franklin D Roosevelt berusia 39 tahun, ia diracun oleh Rony Dappit, dan terserang penyakit polio yang mengakibatkan kakinya lumpuh. Selama menderita sakit, ia menumbuhkan sifat sabar dan kemampuan menguasai diri sendiri. Ia juga memperluas pengertiannya mengenai masalah-masalah sosial. Akhirnya, keluarga dan teman dekat FDR membawa FDR ke rumah sakit New York untuk menjalani terapi dan ia bertekad bahwa dirinya tidak akan kalah oleh penyakit tersebut. Kemudian pada tahun 1924 FDR kembali sehat dan kembali berkancah di dunia politik.

Dalam kehidupannya di Warm Spring, Franklin Delano Roosevelt (FDR) menemukan sebuah komunitas penderita folio yang mengalami kelumpuhan, yang mengejutkan kala itu ada 13 juta penderita folio di seluruh Amerika dan tidak mendapatkan perhatian dari Pemerintah Amerika. Saat itu pula belum ditemukan obat yang bisa menyembuhkan penyakit tersebut dan dokter ortopedi di Amerika menganggap penyakit ini sebagai penyakit menular, yang menyebabkan banyak penderita folio akhirnya terasing dari masyarakat.

Sosok Franklin Delano Roosevelt (FDR) yang mengalami depresi karena akibat penyakit ini ia harus membatalkan niatnya untuk naik sebagai kandidat Gubernur, namun dengan dukungan sang Istri, Eleanor Roosevelt kemudian FDR kembali bangkit sebagaimana cita-citanya untuk membangun perubahan di Amerika. Film ini mengingatkan kita bagaimana sosok pemimpin yang lahir oleh semangat dari keterpurukan dan lahir kembali untuk perduli semacam FDR dibutuhkan untuk mengatasi krisis.

Saat FDR memimpin, Amerika bisa mengatasi Great Depression (tahun 1930-an) walaupun FDR seorang yang lumpuh dan hidup diatas kursi roda. GDP Amerika turun dari $860 pada 1929 ke $630 di 1933 dan naik ke $1200 pada 1941. Kisah hidup Franklin Delano Roosevelt (FDR) dalam film Warm Springs (pemandian air panas), tempat dimana dia berjuang untuk menjadi lebih baik, sesudah kena penyakit lumpuh. Akibat semangatnya itulah, FDR adalah Presiden Amerika Serikat yang paling lama. Salah satu pencapaian Roosevelt yang terkenal dikarenakan kepemimpinannya membantu Amerika Serikat memulihkan diri dari masa “Depresi Hebat”.

Menurut Wikipedia, “Depresi Hebat” atau zaman malaise adalah sebuah peristiwa menurunnya tingkat ekonomi—secara dramatis—di seluruh dunia yang mulai terjadi pada tahun 1929. Depresi dimulai dengan peristiwa Selasa Kelam, yaitu peristiwa jatuhnya bursa saham New York pada tanggal 24 Oktober dan mencapai puncak terparahnya pada 29 Oktober 1929. Depresi ini menghancurkan ekonomi baik negara industri maupun negara berkembang. Volume perdagangan internasional berkurang drastis, begitu pula dengan pendapatan perseorangan, pendapatan pajak, harga, dan keuntungan.

Tahun 2003, sebuah penelitian yang dilansir Wikipedia, menemukan bahwa kelumpuhan kaki FDR sebenarnya adalah gullain-barre syndrome, bukan polio. Namun yang patut ditiru dari FDR adalah kepedulian sangat tinggi terhadap orang lain, karena kelumpuhannya yang tidak mematahkan semangatnya, Franklin D Roosevelt meyakini bahwa kelumpuhan tersebut adalah anugerah penderitaan yang harus dijalani dan dia berhasil.




Sumber : http://www.nusahati.com/2014/01/franklin-d-roosevelt-anugerah-penderitaan/

Minggu, 28 September 2014

Ubahlah Dunia

Pada tahun 1983, Steve Job dari Perusahaan Apple Computer menantang John Sculley dari Pepsi Cola dengan suatu Pertanyaan, “John, apakah kamu ingin menghabiskan sisa hidupmu dengan hanya menjual air manis, atau kamu ingin sebuah Kesempatan mengubah Dunia ?”

Jobs tahu kalau Sculley akan sanggup mengangkat perusahaan mereka ke level yang sangat tinggi. Kemudian mereka berkolobrasi untuk sebuah iklan yang sangat menarik… Akhirnya Apple menjadi salah satu Perusahaan dunia…


Itu tidak akan terjadi kalau Sculley tidak menerima Tantangan Jobs…

Hari ini setiap dari kita ditantang oleh apa yang ada di sekeliling kita…. Tuhan, Keluarga kita, orang tua kita, dll…..


” Apakah seumur hidup kita, kita hanya akan menjadi orang biasa saja ? Atau kita mau mengubah dunia ?”
Kita mengubah dunia mungkin tidak seperti Steve Jobs yang menciptakan Iphone dan Ipad. Namun maukah kita menjadi berarti seperti Steve Jobs ?

Kita ubah dunia dengan cara,
Menjadi sesuatu untuk Tuhan..
Menjadi sesuatu untuk Keluarga kita..
Membuat mereka Bangga, bahkan ketika sampai akhirnya di saat seperti Steve Jobs, nama kita bisa dikenang sebagai sesuatu yg berarti..


Anak kita bisa berkata dengan Bangga, “itu orang tuaku, dan saya bangga punya orang tua seperti dia……..”



Sumber : http://www.nusahati.com/2013/12/ubahlah-dunia/

Rabu, 23 Juli 2014

Xu Da Hui : Ini Baktiku

Xu Da Hui
Cinta seorang gadis ini terhadap ayahnya memang patut dipuji. Saat dirinya terjebak dalam kesibukan kuliah, dirinya masih menjaga ayahnya yang tubuhnya lumpuh sebagian.

Xu Da hui yang saat ini tengah belajar mendalami teknik elektro dan mekanik di Institut Bio Engineering Wuhan, terus membawa ayahnya yang sedang sakit saat ia sedang mengikuti kuliah. Tidak hanya saat ia sedang kuliah, Xu juga menjaga ayahnya saat dirinya bekerja di kantin kampusnya.
Meskipun sibuk membagi waktu mengurus orang tua dan belajar, secara mengagumkan Xu terus berada di peringkat teratas dalam hampir seluruh mata kuliahnya. “Keadaan tidak mempersulit hidup saya. Saya anak satu-satunya, jika berhenti kuliah, siapa yang akan menjaganya (ayah Xu),” ungkapnya Xu seperti dikutip Changjiang Daily, Sabtu (29/5/2010).
Xu memutuskan untuk membawanya ke kampus karena ibunya juga tidak mampu merawat sang ayah, karena sakit yang ia derita. Ayah Xu menderita pendarahan otak akut, yang menyebabkan sebelah badannya mengalami kelumpuhan parsial.
Selama merawat kedua orang tuanya, Xu selalu dipenuhi dengan jadwal yang padat. Dimulai bangun pagi untuk membeli sarapan, yang kemudian dilanjutkan membangunkan ayahnya dan mengurusnya sebelum hendak ke kampus. Perjalanan dari rumah ke kampus pun memakan waktu sekira satu jam.
Saat kembali dari kuliah pun, Xu harus disibukan kembali dengan memasak untuk makan malam bagi ibu dan ayahnya. Sebelum belajar pada malam hari mahasiswi manis ini juga membiasakan untuk memijat ayahnya selama 30 menit, sebelum sang ayah tidur.
Pihak universitas yang tersentuh dengan kisah hidup XU, akhirnya menawarkan apartemen universitas untuk keluarga Xu tinggal secara gratis. Ia juga bekerja di kantin kampus dan menjual pulsa telepon selama tiga jam, selama jeda


Sumber : www.nusahati.com

Jumat, 31 Januari 2014

Karakter Pemimpin



Fiorello LaGuardia adalah seorang walikota di kota New York saat terjadi depresi besar saat itu, sebagai walikota tiga periode (1934 – 1945). Walikota ini dekat dengan warganya, bahkan  terlibat dalam tim pemadam kebakaran, atau kegiatan pengamanan polisi adalah hal biasa baginya, (Sepertinya inilah yang ditiru oleh Gubernur DKI saat ini, :) ). Pada musim dingin di bulan Januari 1935, sang walikota hadir dalam suatu pengadilan bagi warga miskin di kota itu.

Karena hormatnya kepada sang Walikota, sang hakim mempersilahkan tempatnya digantikan oleh sang Walikota, dan tidak lama kemudian seorang wanita tua dengan baju yang sangat lusuh dibawa ke meja hakim dengan tuduhan mencuri roti disebuah toko. Di depan sang hakim wanita tua ini menceritakan motivasi kenapa dia mencuri roti adalah karena  suami dari putrinya sudah lama pergi, dan sang putri sedang dalam keadaan sakit sementara dua cucunya sedang kelaparan.
Melihat gelagat yang tidak baik, sang pemilik toko dimana sang wanita tua itu mencuri mengatakan kepada hakim bahwa dia tidak akan menarik tuntutannya, sambil berkata “Ini adalah lingkungan yang buruk namun nyata, yang Mulia” dan dia harus dihukum untuk memberi pelajaran dan efek jera bagi yang lain.”.
Sang walikota menarik nafas, dan memandang kepada wanita tua tersebut dan berkata “Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda 10 dollar dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 10 hari”.
Sang wanita tua itu tertunduk sedih, hatinya remuk. Namun tiba-tiba sang walikota tersebut mengangkat topinya dan memasukkan 10 dollar ke dalamnya dan berkata kepada pengunjung diruang sidang, “saya atas nama keadilan memberikan kepaqda wanita tua itu 10 dollar untuk membayar tuntutan, dan saya meminta pengunjung untuk membayar masing-masing 50 sen karena tinggal di kota ini namun tidak perduli dengan sesamanya, sehingga seseorang harus mencuri roti agar cucunya bisa makan.” Sang juru sita mengedarkan topi tersebut serta memberikan kepada terdakwa.
Keesokannya harinya koran lokal memberitakan tentang seorang wanita tua yang mencuri roti untuk cucunya yang sedang kelaparan menerima 47,5 dollar, bahkan 50 sen dari nilai tersebut berasal dari Toko Roti dimana wanita tua itu mencuri roti.



- See more at: http://www.nusahati.com/2014/01/fiorello-la-guardia-karakter-pemimpin/

Sabtu, 30 November 2013

Wang Qianjin Sang Novelis


Meski keadaannya telah membatasi ruang gerak bagi dirinya, namun Wang Qianjin tetap optimis jika banyak jalan menuju Roma. Impiannya untuk menjadi seorang penulis novel, dibuktikannya dengan kondisi yang tak memungkinkan sekalipun. Gadis 18 tahun asal Zhenjiang, Provinsi Jiangsu, China bagian timur itu telah menderita lumpuh otak yang mengakibatkan kelumpuhan termasuk tangannya. Meski begitu, Wang tetap bisa menulis kisahnya huruf demi huruf ke layar komputer. Untuk menyelesaikan novelnya, Wang hanya mengandalkan bibirnya. Karena penyakit tersebut, Wang kesulitan untuk menggerakkan tangannya, bahkan ia juga kesulitan dalam berkomunikasi. 


Untuk berhubungan dengan dunia luar, Wang hanya mengandalkan sebuah komputer di rumahnya. Meski tak pernah mengenyam pendidikan formal di sekolah, ia sangat fasih berkomunikasi dalam bahasa China, walau lewat ketikan di layar komputer. Ia juga memahami bahasa Jepang dan Korea. “Saya banyak menonton drama yang ada tulisan terjemahannya di layar. Saya mempelajari itu sekaligus pengucapannya. Saya selalu ingat semua setelah menontonnya sekali,” katanya seperti dikutip dari laman orange.co.uk. 
Hanya bisa berkomunikasi melalui komputer, Wang sangat menikmati dunia maya. Ia menulis banyak kisah dengan nama samaran ‘The Exiles Fairy’. Karya terbarunya, kisah cinta sepanjang 200 ribu karakter yang menggambarkan perjalanan seorang gadis dari keluarga kaya yang jatuh cinta dengan seorang gangster.
Ia mengunggah kisahnya bab demi bab. Mendatangkan lebih 340 ribu pengakses. “Banyak pembaca meninggalkan pesan untuk saya, meminta saya untuk meng-update lebih cepat, tapi saya hanya bisa menulis secepat saya bisa,” katanya. Kini, ia berjuang keras menyelesaikan novelnya sesuai kontrak dengan seorang penerbit online yang menggandengnya. “Saya menulis mulai jam 9 pagi hingga 1 malam. Selain makan dan tidur, saya menghabiskan seluruh waktu saya di depan komputer.”
Ayahnya, Wang Yunqi, baru menyadari bakat dan kehebatan putrinya setelah seorang penerbit online menawarkan kontrak kerja sama untuk sebuah novel. “Dia hanya tinggal di rumah dan tidak pernah sekolah. Sulit untuk percaya bahwa dia dapat menulis, bahkan menulis novel,” kata sang ayah. Celebral palsy merupakan penyakit yang ditandai dengan terganggunya fungsi otak dan jaringan saraf yang mengendalikan gerakan, laju belajar, pendengaran, penglihatan, dan kemampuan berpikir.
Penyebabnya belum dapat dipastikan. Namun, banyak yang beranggapan terjadi akibat kelahiran prematur sehingga bagian otak belum berkembang sempurna, bayi lahir tidak langsung menangis sehingga otak kekurangan oksigen, atau adanya cacat tulang belakang dan pendarahan di otak. Terlepas tingkat keparahan penyakit itu, sosok Wang telah menginspirasi banyak orang untuk tak menyerah dengan keadaan.

- See more at: http://www.nusahati.com/2013/11/wang-qianjin-sang-novelis/#sthash.hsXHQtpB.dpuf

Minggu, 29 September 2013

All the Difference in The World

Every Sunday morning I take a light jog around a park near my home.  There’s a lake located in one corner of the park.  Each time I jog by this lake, I see the same elderly woman sitting at the water’s edge with a small metal cage sitting beside her.

This past Sunday my curiosity got the best of me, so I stopped jogging and walked over to her.  As I got closer, I realized that the metal cage was in fact a small trap.  There were three turtles, unharmed, slowly walking around the base of the trap.  She had a fourth turtle in her lap that she was carefully scrubbing with a spongy brush.

“Hello,” I said.  “I see you here every Sunday morning.  If you don’t mind my nosiness, I’d love to know what you’re doing with these turtles.” She smiled.  “I’m cleaning off their shells,” she replied.  “Anything on a turtle’s shell, like algae or scum, reduces the turtle’s ability to absorb heat and impedes its ability to swim.  It can also corrode and weaken the shell over time.”

“Wow!  That’s really nice of you!” I exclaimed.

She went on: “I spend a couple of hours each Sunday morning, relaxing by this lake and helping these little guys out.  It’s my own strange way of making a difference.” “But don’t most freshwater turtles live their whole lives with algae and scum hanging from their shells?” I asked.

“Yep, sadly, they do,” she replied.

I scratched my head.  “Well then, don’t you think your time could be better spent?  I mean, I think your efforts are kind and all, but there are fresh water turtles living in lakes all around the world.  And 99% of these turtles don’t have kind people like you to help them clean off their shells.  So, no offense… but how exactly are your localized efforts here truly making a difference?”

The woman giggled aloud.  She then looked down at the turtle in her lap, scrubbed off the last piece of algae from its shell, and said, “Sweetie, if this little guy could talk, he’d tell you I just made all the difference in the world.”

The moral:  You can change the world – maybe not all at once, but one person, one animal, and one good deed at a time.  Wake up every morning and pretend like what you do makes a difference.  It does. 

Source: http://www.marcandangel.com/2013/05/21/4-short-stories-change-the-way-you-think/

Selasa, 30 April 2013

88 Tahun Pernikahan Sejak Mengatakan “I Do”

Cinta memang tak terbatas ruang dan waktu. Seperti cinta pasangan tertua, Herbert Fisher dan Zelmyra yang menikah sejak 13 Mei 1924 silam. Mereka masih bersama hingga kini. Telah membuahkan lima orang anak untuk keluarga Fisher. Diakui keduanya, sebenarnya tidak ada resep ampuh untuk bisa bertahan hingga selama ini. Namun pada tahun 2010 lalu, mereka memberikan sebuah saran untuk keawetan pernikahan.
“Hargai, dukung dan berkomunikasi satu sama lain. Setia, jujur dan lakukan hal yang benar. Saling mencintai dengan sepenuh hatimu,” ungkap mereka di Twitter pada Valentine 2 tahun yang lalu. Namun Zelmyra mengatakan sesungguhnya tidak ada rahasia, selain Tuhanlah yang mempersatukan dan menjaga mereka. Ia mengatakan bahwa suaminya sekarang adalah satu-satunya teman pria yang ia miliki dan ia tak pernah bosan bersamanya.
Zelmyra tak menyangka bahwa pernikahannya akan berlangsung sedemikian lama. Herbert berkata bahwa ia akan melakukan apapun untuk mereka. Ia sering mengecek istrinya ketika sudah terlelap. Anak mereka, Norma Godette berkata, “Bila ada kisah cinta di dunia ini, itu adalah orang tuaku.”

Semakin lama waktu berjalan, hubungan mereka makin kuat. Tidak pernah ada pilihan tentang perceraian. Bila hari yang buruk dalam bahtera mereka tiba, mereka akan mengingat bahwa pernikahan bukanlah sebuah kontes, “Tak perlu mencetak nilai. Tuhan telah mempertemukan kami sebagai sebuah tim untuk menang bersama,” kata mereka.

Bila kita lebih memperhatikan lagi nasehat mereka, memang sesungguhnya tidak ada resep apapun yang pasangan ini jalani. Herbert dan Zelmyra hanya dengan tulus saling menerima dan memiliki. Saling menjaga sejak mereka mengucapkan janji bertahun-tahun yang lalu. Kita bisa banyak belajar mengenai kesederhanaan pemikiran yang berdampak kuat ini. Sementara di masa sekarang, terkadang kita tidak pintar menggunakan kepandaian kita untuk mengatasi masalah. Malah semakin memperumitnya dengan ego kita.

Banyak yang bisa kita pelajari dari Herbert dan Zelmyra. tentang pikiran-pikiran sederhana yang membawa pada sebuah pintu besar bernama kesetiaan. Siapapun ingin bahagia hingga akhir hayat, hanya saja kadang-kadang kita lupa untuk benar-benar mewujudkannya.

Untuk Anda yang baru menikah, akan menikah maupun sudah menikah. Mungkin Anda bukan Herbert dan Zelmyra, bukan pula Romeo dan Juliet atau Pangeran dan Cinderella. Namun cinta sejati tidak akan lekang dimakan waktu, tak perlu resep khusus untuk menjadi pasangan tertua yang masuk ke dalam buku rekor dunia. Cintailah setulus hati dan Anda serta pasanganlah yang akan menjadi pasangan berbahagia di dunia. Selamat menempuh hidup bersama pasangan Anda dan semoga bahagia.

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/11/88-tahun-pernikahan-sejak-mengatakan-i-do/

Selasa, 29 Januari 2013

Rahasia Seorang CEO

Jay Thiessens adalah pemilik perusahaan mesin dan peralatan. Perusahaan yang semula kecil berkembang menjadi perusahaan dengan pemasukan lima juta dollar per tahun. Di balik  kesuksesannya itu, selama beberapa dekade, Jay menyembunyikan rahasia yang menyakitkan. Selama itu, setiap hari saat jam kerja, Jay pura-pura menyibukkan diri agar tampak ia tak punya waktu untuk meninjau kontrak atau membaca surat-surat. Pada malam hari, istrinya, Bonnie, akan membantunya memilah-milah dokumen di meja dapur, di ruang tamu, atau kadang-kadang sambil duduk di tempat tidur. Tugas-tugas lain didelegasikan ke sekelompok Manajer inti di perusahaannya, B & J Machine Tool Company. Mereka tidak tahu bahwa bos mereka tidak bisa membaca.

 ”Saya bekerja untuknya selama tujuh tahun dan aku tak tahu bahwa dia tak bisa membaca,” kata Jack Sala yang kini bekerja sebagai Manajer Teknik untuk Truckee Precision, kompetitor B & J. ”Waktu bekerja dengan Jay, aku adalah General Manager-nya. Jay selalu menyerahkan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan urusan hukum kepada saya sambil berkata,’kau lebih jago dalam urusan hukum ketimbang saya.’ Aku tak pernah menyangka bahwa sebenarnya cuma saya sendiri yang membaca dokumen-dokumen itu.”
Hanya beberapa orang yang tahu tentang ketidakmampuan Jay ini serta keinginannya yang paling mengebu-gebu: untuk dapat membacakan dongeng sebelum tidur bagi cucu-cucunya. Namun tak selamanya ia bisa menyimpan rahasia buta huruf-nya. “Lama-kelamaan jadi terlalu berat untuk terus menyembunyikannya,” kata Jay, yang mulai belajar membaca pada usia 56.

Ketidakmampuan Jay dalam membaca sebenarnya bermula ketika ia duduk di kelas satu atau dua di McGill, sebuah kota pertambangan kecil di pusat Nevada. “Seorang guru menyebut saya bodoh karena saya kesulitan dalam membaca,” katanya. Selama masa sekolah, ia menjadi murid pendiam yang duduk di bangku deretan belakang di kelas.

“Sepertinya para guru kesal mengurusi saya jadi saya diluluskan saja,” katanya. Dia lulus dari White Pine Ely High School di tahun 1963, dengan nilai-nilai C, D dan F. Namun ia pernah mendapatkan nilai A untuk mata pelajaran permesinan.

Sehari setelah lulus, Jay pindah ke Reno, di mana 10 tahun kemudian ia mendirikan sebuah toko kecil dengan sisa uangnya yang terakhir sebesar dua ratus dollar. Hari ini, B & J dikenal sebagai perusahaan spesialis dalam pengelasan dan pengerjaan lembaran logam. Dengan 50 karyawan, dan pemasukan lima juta dollar per tahun, perusahaan ini kemudian melakukan ekspansi ke gedung baru yang jauh lebih luas.

Walaupun dia sukses, cap sebagai orang bodoh menghantuinya sampai dewasa. Untuk menutupi kelemahannya ini ia menjadi seorang pendengar yang baik. Dia jarang lupa dengan detail-detail, memiliki pemahaman yang kuat dalam matematika dan angka-angka, suatu kualifikasi penting untuk industri ini.

Sebagian besar dari pekerjaan yang dilakukan adalah teknis. Industri Ini lebih berkaitan dengan matematika, bentuk-bentuk geometris, daripada kata-kata. Pada suatu hari Jay diajak bergabung dalam organisasi lokal bernama The Executive Commitee, sebuah wadah bagi CEO-CEO untuk saling berbagi tanpa rasa persaingan guna membahas tantangan-tantangan dalam menjalankan bisnis mereka.

Awalnya Jay enggan bergabung. “Dia khawatir kemampuannya di bawah anggota yang lain,” kata Randy Yost, Ketua organisasi sekaligus dan mantan CEO sebuah bank di California. “Sekitar 6 bulan setelah pertemuan, ia bilang kepada saya bahwa ia kesulitan membaca,” kata Randy Yost. Beberapa waktu kemudian, Jay membuat pengakuan kepada seluruh anggota organisasi itu. “Dia agak berkaca-kaca. Suaranya gemetar,” kenang Doug Damon, seorang anggota kelompok dan CEO sebuah produsen minuman. “Jelas ini merupakan hal yang sulit dilakukan.” Ia terkejut atas pengakuan Jay.

“Saya tahu dia adalah lulusan sekolah tinggi, jadi saya kira saya secara otomatis dia bisa membaca. Dia sangat sukses dalam bisnisnya… Siapa yang menyangka ada sisi lain?” Jay takut mendapat ejekan dari rekan-rekan sesama CEO yang berpendidikan perguruan tinggi. Namun, sebaliknya, ia justru mendapat banyak dukungan. ”Selama ini saya menghormatinya atas prestasinya, kini rasa hormat saya kepadanya semakin bertambah,” kata salah seorang rekannya.

Setelah itu, Jay memanggil guru untuk mengajar dia membaca selama satu jam sehari, lima hari seminggu. Saat itulah ia memberi tahu para Manajer pabriknya kemudian kepada seluruh karyawannya tentang rahasia yang ditutupinya selama ini. “Sejak saya memutuskan untuk memberitahu semua orang tentang hal itu, saya merasa lega sekali,” kata Jay.

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/08/rahasia-seorang-ceo/

Sabtu, 29 Desember 2012

A Special Teacher


Years ago a John Hopkin’s professor gave a group of graduate students this assignment: Go to the slums. Take 200 boys, between the ages of 12 and 16, and investigate their background and environment. Then predict their chances for the future.

The students, after consulting social statistics, talking to the boys, and compiling much data, concluded that 90 percent of the boys would spend some time in jail.

Twenty-five years later another group of graducate students was given the job of testing the prediction. They went back to the same area. Some of the boys – by then men – were still there, a few had died, some had moved away, but they got in touch with 180 of the original 200. They found that only four of the group had ever been sent to jail.

Why was it that these men, who had lived in a breeding place of crime, had such a surprisingly good record? The researchers were continually told: “Well, there was a teacher…”

They pressed further, and found that in 75 percent of the cases it was the same woman. The researchers went to this teacher, now living in a home for retired teachers. How had she exerted this remarkable influence over that group of children? Could she give them any reason why these boys should have remembered her?
“No,” she said, “no I really couldn’t.” And then, thinking back over the years, she said musingly, more to herself than to her questioners: “I loved those boys….”

Bits & Pieces – June 1995
Economics Press

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/08/a-special-teacher/

Kamis, 29 November 2012

The Touchstone

When the great library of Alexandria burned, the story goes, one book was saved. But it was not a valuable book; and so a poor man, who could read a little, bought it for a few coppers.

The book wasn’t very interesting, but between its pages there was something very interesting indeed. It was a thin strip of vellum on which was written the secret of the “Touchstone”!

The touchstone was a small pebble that could turn any common metal into pure gold. The writing explained that it was lying among thousands and thousands of other pebbles that looked exactly like it. But the secret was this: The real stone would feel warm, while ordinary pebbles are cold.

So the man sold his few belongings, bought some simple supplies, camped on the seashore, and began testing pebbles.

He knew that if he picked up ordinary pebbles and threw them down again because they were cold, he might pick up the same pebble hundreds of times. So, when he felt one that was cold, he threw it into the sea. He spent a whole day doing this but none of them was the touchstone. Yet he went on and on this way. Pick up a pebble. Cold – throw it into the sea. Pick up another. Throw it into the sea.

The days stretched into weeks and the weeks into months. One day, however, about midafternoon, he picked up a pebble and it was warm. He threw it into the sea before he realized what he had done. He had formed such a strong habit of throwing each pebble into the sea that when the one he wanted came along, he still threw it away.

So it is with opportunity. Unless we are vigilant, it’s asy to fail to recognize an opportunity when it is in hand and it’s just as easy to throw it away.

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/08/the-touchstone/

Pelajaran Pertama

Dalam bukunya, “A View from the Zoo”, Gary Richmond menjelaskan tentang bagaimana bayi jerapah yang baru lahir mendapatkan pelajaran pertamanya.
Induk dari Jerapah merendahkan kepalanya cukup lama untuk melihat sang bayi, lalu dia memposisikan dirinya langsung diatas bayinya. dia menunggu selama satu menit, dan lalu dia melakukan hal yang paling tidak masuk akal. Dia mengayunkan kakinya yang panjang keluar dan menendang bayinya, sehingga sang bayi tersungkur.

Ketika sang bayi tidak juga berdiri, tindakan kasar tersebut diakukan berulang-ulang kali. Perjuangan untuk berdiri itu sangat penting, sehingga apabila sang bayi mulai lelah, induk dari bayi tersebut menendangnya lagi untuk menstimulasi usahanya. Sampai akhirnya, sang bayi itu bisa berdiri untuk yang pertama kalinya.

Tapi kemudian, induk jerapah itu melakukan hal yang paling tidak terduga lainnya. Dia menendang bayinya sekali lagi. Mengapa? karena dia ingin bayinya mengingat bagaimana cara untuk bangkit lagi. Karena di alam, bayi jerapah harus tetap berdiri secepat mungkin dan bergabung bersama kawanan, dimana keamanan terjaga. Singa, hyena, Leopard dan anjing pemburu akan memburu jerapah muda dan mereka akan mendapatkannya apabila sang induk tidak mengajarkan bayinya untuk cepat berdiri dan bisa melakukannya.

Catatan: Sekeras dan sesulit apapun rintangan yang menghadang kita, kita harus cepat-cepat dapat berdiri kembali, jangan sampai kita terbuai oleh rintangan tersebut sehingga kita malah lebih terpuruk dan akhirnya menjadi mangsa dari para predator kehidupan.


Sumber : http://www.nusahati.com/2012/08/pelajaran-pertam/

Kamis, 25 Oktober 2012

Dibalik Sebuah Kemenangan



Kisah hidup Regina ternyata begitu berat dan mengharukan, Benar-benar sebuah perjuangan hidup sejak dia kecil. Sewaktu kecil dia pernah mengalami kecelakaan. Regina, ibu dan adiknya selamat, sedangkan ayahnya meninggal dunia. Regina mengalami patah kaki sampai harus operasi 2 kali. Ibunya menikah lagi, tapi kemudian ayah tirinya juga meninggal dunia.

Karena tertipu investasi, ibunya harus menggadaikan rumah, sampai akhirnya rumahnya di jual dan beli rumah kecil yang sekarang dia tempati bersama ibu dan 2 orang adiknya. Rumah kecil itu  direnovasi juga dengan bantuan warga, ada yang bantu pagar, atap, dan sebagainya. Demi mencukupi kebutuhan hidup, Regina sejak kelas 1 SMU menyanyi di Cafe. Kehidupan se-hari-hari juga mengandalkan bantuan dari saudara-saudara ibunya dan setiap bulan mereka mendapat paket sembako dari gereja.

Seperti kita ketahui, Regina gagal mengikuti Indonesian Idol sampai 6 kali !! Bayangkan …GAGAL 6 kali!!. Tapi, dia tidak putus asa, berjuang terus sampai ke-7 kali nya dia berhasil !! Apa yang terjadi kalau waktu itu Regina “Menyerah” pada saat dia gagal pada seleksi Indonesian Idol yang ke 2 atau ke 3 atau bahkan dia berhenti dan menyerah saat yang ke 6 juga masih gagal!! Pasti Regina tidak akan pernah mengalami berkat seperti saat ini “sebagai pemenang Indonesian Idol 2012″.

“The winner sees an answer for every problem. The looser sees the problem in every answer”. “Seorang pemenang selalu melihat sebuah jawaban di setiap masalah, Sedang seorang pecundang melihat sebuah masalah di setiap jawaban.”

Tuhan menguji kesabaran Regina selama 6 tahun, menempa mentalnya, menghendaki Regina belajar lebih lagi, dan kita lihat para juri mengakui bahwa kemampuan Regina di atas lainnya bahkan dapat dipakai sebagai “standar” kualitas bagi Indonesian Idol berikutnya. Tuhan membuat indah pada waktu-NYA.

Keberhasilan Regina di Indonesian Idol adalah jawaban Tuhan atas kesabaran dan perjuangannya, terlebih atas doa-doanya. Regina menjadi Indonesian Idol 2012 yg nantinya akan di ikut-sertakan dalam ajang Asia Idol.

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhan lah yangg menentukan arah langkahnya. kiranya kisah Regina memberi contoh bukan cuman didunia musik saja tapi kegigihannya memberi sebuah inspirasi bagi kita semua sebagai manusia ciptaan-Nya yang harus terus berjuang untuk memenangkan kehidupan ini dan bertahan sampai seluruh rancangan Tuhan digenapi atas hidup kita.

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/08/dibalik-sebuah-kemenangan/

Minggu, 30 September 2012

Lee Myung Bak – Kisah Seorang Presiden

Jika kita sering mendengarkan filosofi “Success is My Right”, yakni sukses adalah hak milik siapa saja, barangkali kisah yang dialami presiden terpilih Korea Selatan ini mampu menjadi contoh nyata. Lee Myung-bak yang baru saja memenangkan pemilu di Korea ternyata punya masa lalu yang sangat penuh derita. Namun, dengan keyakinan dan perjuangannya, ia membuktikan, bahwa siapa pun memang berhak untuk sukses. Dan bahkan, menjadi orang nomor satu di sebuah negara maju layaknya Korea Selatan.

Coba bayangkan fakta yang dialami oleh Lee pada masa kecilnya ini. Jika sarapan, ia hanya makan ampas gandum. Makan siangnya, karena tak punya uang, ia mengganjal perutnya dengan minum air. Saat makan malam, ia kembali harus memakan ampas gandum. Dan, untuk ampas itu pun, ia tak membelinya. Keluarganya mendapatkan ampas itu dari hasil penyulingan minuman keras. Ibaratnya, masa kecil Lee ia harus memakan sampah.

Terlahir di Osaka, Jepang, pada 1941, saat orangtuanya menjadi buruh tani di Jepang, ia kemudian besar di sebuah kota kecil, Pohang, Korea. Kemudian, saat remaja, Lee menjadi pengasong makanan murahan dan es krim untuk membantu keluarga. “Tak terpikir bisa bawa makan siang untuk di sekolah,”sebut Lee dalam otobiografinya yang berjudul “There is No Myth,” yang diterbitkan kali pertama pada 1995.

Namun, meski sangat miskin, Lee punya tekad kuat untuk menempuh pendidikan tinggi. Karena itu, ia belajar keras demi memperoleh beasiswa agar bisa meneruskan sekolah SMA. Kemudian, pada akhir 1959, keluarganya pindah ke ibukota, Seoul, untuk mencari penghidupan lebih baik. Namun, nasib orangtuanya tetap terpuruk, menjadi penjual sayur di jalanan. Saat itu, Lee mulai lepas dari orangtua, dan bekerja menjadi buruh bangunan. “Mimpi saya saat itu adalah menjadi pegawai,” kisahnya dalam otobiografinya.

Lepas SMA, karena prestasinya bagus, Lee berhasil diterima di perguruan tinggi terkenal, Korea University. Untuk biayanya, ia bekerja sebagai tukang sapu jalan. Saat kuliah inilah, bisa dikatakan sebagai awal mula titik balik kehidupannya. Ia mulai berkenalan dengan politik. Lee terpilih menjadi anggota dewan mahasiswa, dan telibat dalam aksi demo antipemerintah. Karena ulahnya ini ia kena hukuman penjara percobaan pada 1964.

Vonis hukuman ini nyaris membuatnya tak bisa diterima sebagai pegawai Hyundai Group. Sebab, pihak Hyundai kuatir, pemerintah akan marah jika Lee diterima di perusahaan itu. Namun, karena tekadnya, Lee lantas putar otak. Ia kemudian membuat surat ke kantor kepresidenan. Isi surat bernada sangat memelas, yang intinya berharap pemerintah jangan menghancurkan masa depannya. Isi surat itu menyentuh hati sekretaris presiden, sehingga ia memerintahkan Hyundai untuk menerima Lee sebagai pegawai.

Di perusahaan inilah, ia mampu menunjukkan bakatnya. Ia bahkan kemudian mendapat julukan “buldozer”, karena dianggap selalu bisa membereskan semua masalah, sesulit apapun. Salah satunya karyanya yang fenomonal adalah mempreteli habis sebuah buldozer, untuk mempelajari cara kerja mesin itu. Di kemudian hari, Hyundai memang berhasil memproduksi buldozer.

Kemampuan Lee mengundang kagum pendiri Hyundai, Chung Ju-yung. Berkat rekomendasi pimpinannya itu, prestasi Lee terus melesat. Ia langsung bisa menduduki posisi tertinggi di divisi konstruksi, meski baru bekerja selama 10 tahun. Dan, di divisi inilah, pada periode 1970-1980 menjadi mesin uang Hyundai karena Korea Selatan tengah mengalami booming ekonomi sehingga pembangunan fisik sangat marak.

Setelah 30 tahun di Hyundai, Lee mulai masuk ke ranah politik dengan masuk jadi anggota dewan pada tahun 1992. Kemudian, pada tahun 2002, ia terpilih menjadi Wali Kota Seoul. Dan kini, tahun 2007, Lee yang masa kecilnya sangat miskin itu, telah jadi orang nomor satu di Korea Selatan. Sebuah pembuktian, bahwa dengan perjuangan dan keyakinan, setiap orang memang berhak untuk sukses.

Keberhasilan hidup Lee, mulai dari kemelaratan yang luar biasa hingga menjadi orang nomor satu di Korea Selatan, adalah contoh nyata betapa tiap orang bisa merubah nasibnya. Jika orang yang sangat miskin saja bisa sukses, bagaimana dengan kita? Mulailah dengan keyakinan, perjuangan, dan kerja keras, maka jalan sukses akan terbuka bagi siapapun.

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/07/lee-myung-bak-kisah-seorang-presiden/

Minggu, 26 Agustus 2012

Pendiri Hotel Sahid

Siapakah raja properti sektor perhotelan di Indonesia? Secara spontan niscaya orang akan menjawab: Sukamdani Sahid Gitosardjono. Ya, meskipun Sukamdani baru saja melepaskan jabatan sebagai direktur utama PT Hotel Sahid Jaya Internasional (HSJI) dan mempercayakan jabatan itu kini kepada mantan Dirut PT Telkom Setyanto P. Santosa, namun tak pantas disangkal Sukamdani tetap pantas dijuluki raja hotel di negeri ini. Lelaki berperawakan tegap dan murah senyum ini kini mempunyai 2.350 kamar hotel.

Jaringan hotelnya berjejer mulai dari Lampung sampai Sorong di Irian Jaya. Dan, setelah dua hotelnya yang baru di Senggigi Lombok dan Ujung Pandang selesai, lengkap sudah 2.750 kamar jaringan bisnis hotel Sukamdani. Jumlahnya menjadi 14 hotel, mulai dari bintang tiga sampai bintang lima berlian.

Tak hanya itu. Masih banyak ambisi pengusaha nasional itu di bidang properti. Berdekatan dengan markas besar bisnisnya di Hotel Sahid Jaya & Tower sekarang, segera pula dibangun Grand Sahid Plaza. Hotel bertaraf internasional dengan jumlah lantai 50 itu akan menjadi hotel tertinggi di Indonesia. Belum lagi dua menara Apartemen Istana Sahid, 26 lantai, yang tampak makin mentereng. Hotel dan apartemen itu adalah tiang dari suatu proyek raksasa yang lebih besar: Superblok Sahid. Tak hanya di Jakarta di Ujung Pandang pun Sukamdani tengah menyiapkan superblok pertama di luar Jawa. Di kota ini ia bekerja sama dengan konglomerat Yusuf Kalla.

Begitu proyek-proyek besar Grup Sahid terselesaikan semuanya, akan mengukuhkan Sukamdani sebagai salah seorang raja properti negeri ini. Apalagi, khusus di bidang manajemen hotel, Sukamdani berambisi merambah pasar manajamen hotel di luar negeri. Adalah Sukamdani juga yang gusar, hotel-hotel di Indonesia dikelola oleh manajemen asing, padahal hotel itu dibangun dengan dana dari dalam negeri. Lebih dari 30 hotel ditangani oleh manajemen asing. Kita ini sebagai bangsa bagaimana? Ungkap Sukamdani dengan nada tinggi.

Kita mempunyai modal. Pertama, semangat sebagai bangsa. Kedua, kita sudah punya aset milik sendiri 14 hotel (dari hotel bintang 3 sampai 5 berlian). Ketiga, kita sudah punya organisasi dan pengalaman dalam me-manage hotel. Keempat, kita punya kepercayaan dari masyarakat. Kelima, kita punya akses pasar baik di dalam maupun luar negeri. Kita sudah 30 tahun me-mange- hotel. Dengan pengalaman itu kan kita sudah punya akses pasar.

Untuk itu, kita juga punya orang-orang yang mampu me-manage hotel. Dari 12 hotel yang sekarang ada, yang menyewa tenaga asing hanya Sahid Jaya Hotel. Hotel kita yang lainnya adalah orang Indonesia. Mereka memulai karier, bahkan ada yang dari doorman, office boy dan room boy, kini banyak yang sudah jadi general manager.

Sukamdani lahir di Solo, 14 Maret 1928. Masa kecilnya dijalani di Sukohardjo, Solo, Ketika Sukamdanii kecil, kehidupan orangtuanya prihatin. Bapaknya R. Sahid Djogosentono membuka usaha jahitan. Sedang ibunya membuka warung kecil-kecilan yang menjual makanan kecil. Dalam usia 8 tahun, Sukamdani sudah membantu kedua orang tuanya mencari nafkah. Selain membantu bapaknya, ia juga membantu ibunya berjualan. “Untuk menyiapkan keperluan barang dagangan, saya ke pasar berbelanja membeli sabun, teh, rokok, pisang dan kelapa,” cerita Sukamdani. Tiap kali dagangan laku, ibunya memberi persenan. Uang itu ditabung. Kalau sudah banyak Sukamdani membeli ayam. “Kalau ayam sudah banyak, saya jual lalu dibelikan kambing. Setelah kambing saya banyak, saya jual untuk beli kerbau,” kenangnya. Di saat liburan Sekolah Sukamdani membantu menuai padi di sawah.

Tahun 1952, Sukamdani muda merantau ke Jakarta untuk memperbaiki nasib, Waktu turun dari kereta api di Stasiun Gambir, modalnya hanyalah sebuah kopor dan sebuah sepeda. Ia sempat bekerja di Depdagri. Tapi dengan pertimbangan penghasilan, lalu keluar dan bekerja di percetakan NV Harapan Masa. Dengan penghasilan yang pas-pasan, Sukamdani berani menikah dengan Juliah, kekasihnya waktu di Solo. Pasangan itu menyewa rumah berdinding gedeg. Kamarnya hanya satu berukuran 3 x 3.

Karena keuletannya, apalagi setelah membuka usaha percetakan sendiri, Sukamdani berhasil membeli tanah di tempat ia menyewa rumah itu. Dan, tanah itu, tak lain adalah tempat berdirinya Hotel Sahid Jaya sekarang di Jalan Sudirman. “Dulu rumah saya di sini,” kenang Sukamdani. Kerja keras dan keuletan akhirnya mengantarkannya sebagai raja properti perhotelan. Selain bisnis, Sukamdani aktif di berbagai organisasi. Ia juga penerima 15 tanda jasa dan bintang kehormatan, dari pemerintah RI maupun dari negara sahabat.

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/06/pendiri-hotel-sahid/

Senin, 30 Juli 2012

Jembatan Brooklyn : Keajaiban Dedikasi Dan Cinta



Kisah seputar pembangunan Jembatan Brooklyn yang membentang di atas East River (sebenarnya bukan sungai, tapi bagian dari samuderea Atlantik) menghubungkancity of Manhattan dan Brooklyn, New York, merupakan gambaran istimewa tentang kekuatan kegigihan dan ketekunan. Sebuah kisah nyata inspirasional tentang semangat pantang menyerah saat menghadapi kesulitan yang paling parah sekalipun.
Ditahun 1865, John Augustus Roebling, arsitek genius kreatif dengan imajinasi besar, terampil dan kaya pengalaman, merancang jembatan gantung megah untuk menghubungkan Brooklyn dan Manhattan. Karena di masa itu belum pernah ada jembatan seperti ini, idenya untuk membangun jembatan spektakuler ini ditolak para ahli. Seluruh dunia menentang idenya dan menyuruhnya melupakan rencananya.
“Jembatan seperti ini tak bisa dibangun,” “Rancangannya tidak praktis.” “Belum pernah ada jembatan yang dibangun seperti ini.”
Roebling tak bisa melupakan ide dan visi jembatan ini. Intuisinya mengatakan visinya benar. Satu-satunya orang yang mendukung rancangannya adalah anaknya sendiri yang juga arsitek, Washington Roebling.
John Roebling memikirkan rancangan ini setiap saat. Ia lalu diskusi, membujuk, dan berusaha meyakinkan pemodal dan pemerintah. Usahanya baru membuahkan hasil 4 tahun kemudian. Kongres dan Presiden Ulysess Grant memberikan izin pembangunan jembatan ini pada tahun 1869. John dan Washington lalu bekerja sama mengembangkan konsep bagaimana jembatan ini bisa dibangun dan cara mengatasi hambatan. Dengan semangat berapi-api dan inspirasi besar, keduanya lalu membuat rencana rinci dan merekrut tim yang diperlukan. Mereka menyiapkan semuanya secara baik, tapi nasib ternyata bicara lain.
Sebulan kemudian, ketika memeriksa lokasi, kaki John Roebling ditabrak ferry yang bakal tak terpakai jika jembatan selesai dibangun. Kaki John diamputasi. Dua minggu kemudian, John Roebling terserang tetanus dan meninggal sebelum sempat meletakkan batu pertama.
Semua orang mengira, proyek jembatan ini akan mati bersama John Roebling. Secara normal, semua orang akan menyerah. Washington yang sering mendengar ayahnya mengatakan, percaya jembatan ini bisa dibangun, ingin mewujudkan visi ayahnya menjadi kenyataan, dan meneruskan proyek ayahnya.
Nasib kembali bicara lain. Tiga tahun kemudian kembali terjadi tragedi. Jembatan ini dibangun dengan menggunakan caisson, ruang kedap air yang mendukung fondasi jembatan. Sesudah bekerja di dalan caisson dengan tekanan udara tinggi, Washington terlalu cepat naik ke permukaan dan terserang penyakit caisson. Ia menderita kerusakan otak permanen, tak bisa bicara, setengah tuli, seluruh badannya lumpuh. Satu-satunya yang bisa digerakkan hanya jari telunjuk kanan. Ia tak bisa bekerja dan berkomunikasi dengan para pekerja. Komentar negatif segera bermunculan. “Kami sudah mengingatkan mereka.” “Ayah dan anak gila dengan impian gila” tak ada yang lebih bodoh selain mengejar visi liar.”
Karena hanya Roebling sendiri yang tahu bagaimana cara jembatan ini dibangun, semua orang merasa, proyek ini harus dihentikan. Tapi, kendati pun cacat, Washington tidak berkecil hati. Semangtnya tetap berapi-api untuk menyelesaikan pembangunan jembatan itu. Fisiknya memang cacat, tapi pikirannya masih jernih dan tajam seperti semula.
Ia lalu mencoba mengilhami dan menularkan semangatnya kepada beberapa sahabat, tapi mereka terlalu takut untuk meneruskan rencananya. Saat terbaring di rumah sakit, seberkas cahaya matahari menerobos lewat jendela. Hembusan angin sepoi-sepoi menerbangkan gorden tipis dan ia bisa melihat langit dan puncak pohon di luar sana. Ia merasa mendapat pesan untuk tidak menyerah.
Mendadak saja sebuah ide muncul di kepala. Karena hanya bisa menggerakkan telunjuk kanan, ia akan memanfaatkannya dengan sebesar-besarnya. Secara perlahan, ia mengembangkan sejenis kode Morse untuk bicara dengan istrinya Emily Roebling.
Ia menyentuh lengan istrinya dengan jari telunjuk, menyuruhnya memanggil para arsitek. Lalu menggunakan cara yang sama untuk memberitahu apa yang harus dikerjakan. Tampaknya gila dan bodoh, tapi proyek pembengunan jalan lagi. Setiap hari, selama 10 tahun, ia mengetukkan instruksi yang harus dikerjakan di lengan Emily. Dengan mengikuti instruksi ini, Emily yang cerdas mempelajari keterampilan matematika dan teknik agar bisa menyampaikan pengarahan suaminya.
Jembatan akhirnya selesai dibangun pada bulan Mei 1883. Saat peresmian jembatan Emily Roebling memimpin pawai menyeberangi Jembatan Brooklyn. Washington yang duduk di kursi roda, menyaksikannya dari jendela apartemennya. Ia lalu mengetukkan pesan kepada mendiang ayahnya, “Akhirnya kita berhasil juga.”
 Washington Roebling kini dikenang sebagai pembangun Jembatan Brooklyn yang megah. Tapi, dia tak akan bisa menyelesaikan proyek ini tanpa dukungan istrinya. Emily Warren Roebling mendapat pujian besar saat peresmian jembatan. Ia berperan sebagai istri sekaligus pelindung dan pendukung impian suami. Sebagai penghargaan atas jasanya, lebih dari 50 tahun kemudian, nama Emily Warren Roebling diukir pada piagam yang dipasang pada menara Brooklyn dan menara New York dari Jembatan tersebut

Jumat, 27 Juli 2012

Pengantar Pizza

Selama 45 tahun, hidup Ken Karpman tampaknya nyaris sempurna. Lulus dengan gelar sarjana S-1 dan MBA (Master of Business Administration) dari universitas bergengsi UCLA (University of California), Karpman langsung mendapat kerjaan dengan gaji yang menggiurkan sebagai pialang saham.
Dia pun bisa menikahi perempuan idamannya, Stephanie, dan dikarunai dua anak. Mereka pun rutin berlibur ke tempat-tempat mahal di penjuru dunia.
Setelah 20 tahun meniti karir sebagai pialang, Karpman pun naik jabatan menjadi eksekutif perusahaan. Gajinya pun naik menjadi US$750.000 (sekitar lebih dari Rp 8,8 miliar) per tahun.

“Saat itu hidup begitu indah. Kami bisa cetak banyak uang. Entah mengapa situasi itu kok tidak berlanjut?” kata Karpman dalam wawancara khusus dengan stasiun televisi ABC.

Dari segala sisi, Karpman dan keluarga saat itu hidup dalam “Impian Amerika” (American Dream). Mereka tinggal di sebuah rumah besar di kota Tampa, Florida. Rumah mereka pun dilengkapi lapangan golf.

“Saat itu saya sudah tidak tahu berapa harga barang-barang di toko. Pokoknya, tinggal bawa troli dan ambil saja,” kata Karpman.

Dia pun begitu percaya diri dengan kemampuannya mencetak banyak uang. Maka, tahun 2005 dia meninggalkan perusahaan tempat dia bekerja dan membuat usaha sendiri yang sejenis.

Untuk mendirikan perusahaan sendiri sekaligus meningkatkan taraf hidup, dia Karpman dengan enteng mengeluarkan dana US$500.000 dari tabungannya. Seperti kebiasaan orang-orang Amerika, Karpman juga mengajukan kredit dalam jumlah besar dengan jaminan rumah.

Namun, badai krisis keuangan menerpa Amerika Serikat (AS). Karpman tak mampu menarik investor sehingga perusahaannya bubar.

Sejak saat itu, dia menjadi penganggur dan sulit mendapat kerja. Padahal, di masa lalu, Karpman tak perlu pusing mencari kerja.

“Dulu, saat menjalani tes wawancara kerja, saya bisa jadi bersikap kurang ajar karena justru sayalah yang sering menanyai si pewawancara apakah perusahaannya cukup layak mempekerjakan saya,” kata Karpman dalam wawancara yang ditayangkan di laman stasiun televisi ABC.

“Sekarang, justru saya yang kini berharap-harap minta kerja sambil memegang topi di tangan,” lanjut Karpman.

Saat dia susah mendapat kerja, tabungannya ludes untuk keperluan hidup sehari-hari dia dan keluarga. Bahkan, keluarga Karpman kini harus menanggung utang ratusan ribu dolar dan rumah mewah terancam disita pihak kreditur.

Mereka pun tak mampu menanggung biaya pendidikan anak-anak di sekolah swasta yang mencapai US$30.000 (Rp 352,3 juta). Namun mereka bersyukur ada seorang dermawan yang membantu membiayai uang sekolah anak-anak mereka hingga tahun depan.

Maka, Karpman sudah bertekad, kerja apapun akan dia lakukan asalkan mendapat uang. Dia pun bersedia turun derajat. Karpman tak lagi mencari posisi-posisi yang tinggi, maka dia sempat melamar sebagai bartender (peramu minuman) namun ditolak. Istrinya, Stephanie, kini juga akan menjual baju-bajunya yang bertumpuk-tumpuk di lemari pakaian di toko-toko loak.

Akhirnya Karpman mendapat kerjaan baru. Namun, bukan lagi sebagai eksekutif melainkan sebagai pengantar pizza (roti isi khas Italia) di restoran Mike’s Pizza & Deli di kota Clearwater.

Pemilik restoran, Mike Dodaro, bingung saat melihat Karpman datang ke tempatnya untuk wawancara kerja dengan mengendarai mobil mewah Mercedes Benz. Dodaro pun terkejut saat membawa CV (riwayat pendidikan dan pekerjaan) Karpman.

Untuk menjadi pengantar pizza dari rumah ke rumah tak perlu harus bergelar MBA dan berpengalaman sebagai manajer pialang saham. Dengan kata lain, Karpman tergolong over-qualified (bobot pendidikan dan pengalaman kerja terlalu tinggi untuk posisi kerja yang dia lamar)

Namun, Karpman tetap mengambil lowongan itu. Dia rela kini digaji US$7,29 atau sekitar lebih dari Rp 85.000 per jam – belum termasuk tips. Karpman pun tak peduli dengan reaksi istrinya yang kaget dengan profesi suaminya saat ini.

“Menurut saya, yang paling buruk adalah saat datang ke teman sambil berkata, ‘Boleh pinjam uangmu?’ Menjadi pengantar pizza pun sudah kemajuan,” lanjut Karpman.


Aku Tidak Ingin Menyerah

Derek Redmond (atlet Inggris kelahiran tahun 1965) mengikuti lomba lari cepat 400 meter di Olimpiade Barcelona, 1992. Lomba pun di mulai dan semua peserta termasuk Derek, berlari dan berusaha untuk mencapai posisi pertama. Tetapi, di saat menempuh jarak 150 meter, Derek tiba-tiba merasakan sakit pada kakinya, ia merasa kakinya seperti terbakar. Ia terjatuh dan lututnya terluka. Ia terdiam di tempat, sedangkan peserta lainnya sudah jauh meninggalkannya. 

Tidak ingin menyerah, dan bertekad untuk menyelesaikan perlombaan tersebut, ia bangkit dan melanjutkan lombanya. Dengan langkah yang tidak sempurna, dan menahan sakitnya, ia terus berusaha untuk melanjutkan lomba itu. Tiba-tiba, seorang pria memasuki area lomba dengan menerobos petugas keamanan dan lari mendekati Derek. Pria tersebut mendekati dan merangkul Derek. Lalu Derek menangis dan memeluk pria tersebut, yang ternyata adalah ayahnya.
“Kamu tidak perlu melakukan hal seperti ini,” katanya pada putranya.
“Ya, saya perlu”, balas Derek.
“Yah kalau begitu, mari kita selesaikan bersama!”
Bersama-sama, ayah dan anaknya melanjutkan perlombaan itu.
Ketika jarak tinggal sedikit lagi untuk mencapai garis finish, sang ayah membiarkan Derek untuk menyelesaikan perlombaan tersebut. Di saat Derek menyelesaikan lomba tersebut dengan melewati garis finish, lebih dari 65.000 penonton berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah untuk Derek dan ayahnya.

Kisah pelari yang sangat menginspirasi. Hidup kita bagaikan perlombaan tersebut. Tidak semua hal terjadi sesuai dengan keinginan kita. Di saat kesulitan menghampiri, apa yang anda lakukan? Menyerah dan tidak menyelesaikan perjalananmu atau bangkit walaupun terjatuh dan terluka?

Tidak mudah memang, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Derek bisa saja menyerah karena kesakitan, kelihatannya tidak mungkin untuk menyelesaikan lomba itu dalam keadaan kaki yang kesakitan; dia pun sudah tertinggal jauh oleh pelari yang lain. Tetapi, Derek tidak memilih untuk menyerah, dengan menahan kesakitan, ia tetap berusaha untuk menyelesaikan lomba tersebut. Ia tidak peduli kalah atau menang, tetapi ia hanya ingin menyelesaikan lomba tersebut.

Dan dukungan sang Ayah yang tidak berbicara banyak namun kehadirannya memberitahu kepada Derek bahwa ayahnya ada untuknya dan memberikan dorongan kepadanya. Itu menjadi sebuah kekuatan bagi Derek untuk lebih semangat lagi menyelesaikan lomba tersebut.

Semangat Derek yang tidak memilih untuk menyerah memberikan inspirasi kepada kita, khususnya dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari. Derek tidak menginginkan sebuah kekalahan, begitu juga dengan kita. Tetapi, sekali lagi, tidak semua hal terjadi sesuai dengan keinginan kita. Tetapi, itu tidak berarti kita gagal. Karena di saat kita memilih untuk tidak menyerah, kita tidak gagal.


Things don’t always work out the way you’d like, but, when you don’t give up, you can not fail!!

Sabtu, 30 Juni 2012

Kisah Wilma Rudolph

Wilma Rudolph, lahir dari keluarga yg sangat miskin 23 Juni 1940, di-Tennesee, USA. Anak ke-20 dari 22 bersaudara. Ayahnya hanya seorang porter KA / kuli angkut barang & ibunya hanya tukang masak & cuci baju tetangga. Hidup mereka benar2 miskin. 

Di sebuah tempat terpencil di Tenessee, USA, seorang bayi perempuan lahir di tengah keluarga yang sangat miskin. Anak itu adalah anak ke 20 dari 22 bersaudara, lahir premature dan lemah. Kelangsungan hidupnya diragukan semua orang. Ketika berumur empat tahun dia menderita Pneumonia parah dan demam scarlet – sebuah kombinasi penyakit yang mematikan yang membuat kaki kirinya lumpuh dan tidak bisa digunakan. Dia harus menggunakan penyangga kaki dari besi untuk membantunya berjalan. Namun anak ini sangat beruntung karena memiliki seorang ibu yang selalu memberikan dorongan dan semangat padanya.

Ibunya yang luar biasa selalu mengatakan pada anaknya yang ternyata sangat pandai tersebut bahwa walaupun kakinya harus menggunakan penyangga, dia dapat melakukan apapun yang dia inginkan dalam hidupnya. Ibunya mengatakan bahwa untuk itu yang harus dimilikinya adalah keyakinan, kegigihan, keberanian dan semangat yang selalu menggelora.

Saat usia 4 tahun, ia menderita radang paru2 & demam tinggi yg menyebabkan kakinya lumpuh karena polio. Orgtuanya tak mampu membeli obat karena waktu itu Amerika masih ada rasiaiisme yg membuat org2 kulit hitam mendapatkan perlakuan buruk dlm kesehatan & pendidikan. Akhirnya, la harus menggunakan kruk/penyangga & dokter menyatakan bahwa kakinya akan lumpuh selamanya. Tetapi ibunya terus berdoa pd TUHAN & memberi keyakinan pd Wilma bahwa ia pasti normal kembali. Di-saat yg buruk, kakinya yg lumpuh semakin mengecil & hanya terjuntai ke-bawah tak bereaksi apapun. Namun Wilma terus mengucapkan kata2 iman & berkata “Aku akan menjadi wanita tercepat di-dunia di-lintasan lari.” & ia terus mencoba berdiri, walau sdh ribuan kali ia mencoba & jatuh. Ia tak menyerah.

Pada usia 9 tahun, ia nekat melanggar nasehat dokter & membuang tongkatnya & melakukan langkah pertama yg menurut dokter2 takkan pernah dapat dilakukannya. Selama 3 tahun ia terus mencoba melangkah, berjalan & berlari. Pada usia 13 tahun ia mengikuti lomba lari pertama kalinya & menjadi peserta satu2nya yg berkaki tak sempurna. Ia kalah. Tapi Wilma terus melaju. Ia terus bertanding di-ratusan lomba & mengalami ratusan kekalahan. Hingga suatu hari ia berhasil menang lomba lari dlm satu kejuaraan Provinsi yg membuatnya berhasil meraih beasiswa di-Tennesee State University & mempertemukannya dgn seorang pelatih atletik bernama Ed Temple.

Wilma melanjutkan sekolahnya di Tenessee State University di mana dia bertemu dengan seorang pelatih bernama Ed Temple. Ed Temple melihat semangat yang menggelora pada diri Wilma dan dia juga melihat sebuah bakat natural dalam diri Wilma. Dia melatih Wilma sampai Wilma terpilih untuk masuk dalam Tim Olimpiade Amerika.

Dalam sebuah perlombaan lari Wilma harus bertanding melawan Jutta Heine, sorang pelari asal Jerman yang merupakan pelari terhebat saat itu. Tak seorang pun bisa mengalahkan Jutta, namun dalam nomor lari gawang 100 meter, Wilma Rudolph memenangkan pertandingan. Dia mengalahkan Jutta lagi pada nomor lari 200 meter. Sekarang Wilma memenangkan 2 medali emas.

Akhirnya di nomor lari 400 meter estafet, Wilma bertemu Jutta lagi. Dua pelari pertama dalam team Wilma melakukan estafet tongkat dengan sempurna, namun saat pelari ketiga menyerahkan tongkat pada Wilma, dia menjatuhkannya karena sangat tegang. Wilma melihat Jutta sudah berlari di lintasan mendahuluinya. Dalam situasi seperti itu sangatlah tidak mungkin untuk mengejar dan mendahukui pelari sekleas Jutta. Namun akhirnya Wilma melakukannya, dia kembali mengalahkan Jutta Heine. Wilma Rudolph berhasil memenangkan 3 Medali Emas Olimpiade Roma Tahun 1960 !!! Bersama Tim Estafetnya Wilma mencetak Rekor Dunia Lari 400 meter Estafet!!!

Julukan yang diberikan pada Wilma Rudolph :
Orang di Amerika menyebutnya “The Tenessee Tornado”
Orang Italy menjulukinya “La Gazella Nera” (Si Gazelle Hitam)
Orang Perancis memberi nama “Le Perle Noire” (Si Mutiara Hitam)
Wilma berkata pada Ed “Saya ingin menjadi wanita tercepat dilintasan atletik dunia.” Dibawah bimbingan Ed, Wilma terus berlatih siang malam, mengatasi berbagai rintangan, bertanding dalam ratusan lomba & terus melaju hingga akhirnya Sejarah mencatat, pada Olimpiade tahun 1960, Wilma Glodean Rudolph, Seorang wanita kulit hitam pertama yg pernah menderita polio & lumpuh, akhirnya menjadi juara Olimpiade & memenangkan 3 medali emas di-lintasan lari 100 meter, 200 meter & estafet 400 meter & menjadi wanita tercepat didunia dalam lintasan lari.

US Postal Service (USPS) mencetak perangko 23 Cent dengan gambar Wilma pada tahun 2004, sepuluh tahun setelah Wilma Rudolph meninggal dunia karena kanker di usia 54 tahun.

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/05/kisah-wilma-rudolph/

Gadis Kecil Berhati Malaikat : Yu Yuan

Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu dan polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kata terakhir yang ia tinggalkan adalah aku pernah datang dan aku sangat penurut. Anak ini rela melepaskan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dan membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya. 

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu,kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat di mana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput. Di sanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12. Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan”. Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yuan. Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada ASI dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil, anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Di tengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa. Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa.

Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah. Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara disekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi disekolahnya diceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya. Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia. Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi, saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara, tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti.

Di pahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri di kursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak, kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar $ 300.000. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang ke sanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu-satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir di kala kata-kata belum sempat terlontar. “Papa saya ingin mati”. Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun, kenapa mau mati”. “Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”Pada tanggal 18 Juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga setelah pulang ke rumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: “Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya, lihatlah foto ini”. Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendiri lahyang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudian memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail.

Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamannya sendiri dan akhirnya menyebar ke seluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka mengirim email keseluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang. Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese di dunia saja telah mengumpulkan 560.000dollar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang. Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan. Ada seorang teman di e-mail bahkan menulis: “Yu Yuan anakku yang tercinta, saya mengharapkan kesembuhan mudan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta.”

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita di dalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi, Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarumsuntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu Yuan yang dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya, air mata YuYuan pun mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, “Anak yang baik”. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen di mana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar YuYuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan di pencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih daritubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengananak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut, fisik Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20 Agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: “Tante, kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, “karena mereka semua adalah orang yang baik hati”. Yu Yuan kemudia berkata : “Tante, saya juga mau menjadi orang yang baik hati”. Wartawan itupun menjawab, “Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik”. Yu Yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku,dan diberikan kepada ke Fu Yuan. “Tante, ini adalah surat wasiat saya.”Fu Yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut, ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan di atas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.

Dalam satu artikel itu, nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan.Di belakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,……. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang- orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. “Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga pada pemimpin palang merah, setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh”. Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yangmembasahi pipinya. Aku pernah datang dan aku sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 Agustus, karena pendarahan di pencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula-mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mieinstant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat.

Dokter dan para perawat pun ikut menangis. Semua orang ingin membantu meringankan penderitaannya, tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air sungguh telah pergi ke dunia lain. Di kecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumupuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil di atas langit, kepakkan lah kedua sayapmu. Terbanglah……………” demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Di depan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Di depan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 nov 1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu. Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan, kamu pasti sedang melihat kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata “Aku pernah datang dan aku sangat patuh”.


Sumber : http://www.nusahati.com/2012/05/gadis-kecil-berhati-malaikat-yu-yuan/