Senin, 20 Juni 2011

H A R T A Part II

Nats : Roma 11:36

Mengapa banyak orang agung dilahirkan di keluarga miskin, banyak orang yang dibesarkan di keluarga kaya berakhir dengan tragis? Alkitab mengatakan: tamak harta adalah akar dari segala kejahatan. Alkitab juga mengatakan: harta adalah berkat pemberian Tuhan. Karena pada dasarnya, harta itu netral, namun harta juga bisa menjadi tidak netral. Maka saat kita memiliki harta, kita perlu memikirkan dengan serius: dari manakah datangnya harta kita, bagaimana kita mempertanggungjawabkannya pada Tuhan?

Untuk hal kedua ini, kita perlu mengkaji: apakah yang bisa kita buat dengan harta kita, bagaimana kita mendistribusikannya dengan benar? Saat sebuah sekolah teologi mengadakan acara inagurasi, saya berkata: kiranya Tuhan memberkati datang dan perginya harta sekolah ini, juga memberkati datang dan perginya mahasiswanya. Sekolah teologi yang sehat perlu tahu dari mana muridnya berasal dan ke mana mereka didistribusikan, tahu asal usul dan penggunaan uangnya. Prinsip yang sama juga berlaku bagi gereja, keluarga, usaha kerja bahkan setiap pribadi.

Orang Kristen adalah juru kunci, itu sebabnya kita perlu memiliki teologi juru kunci (stewardship), agar kita mengerti bagaimana mengelola, membudidayakan harta yang Tuhan berikan dengan baik. Rm.11:36 bisa diterjemahkan: segala sesuatu berasal dari Dia, bersandar padaNya, akan kembali padaNya. Dengan dasar itu kita tahu, selain Allah, tidak ada yang eksis dengan sendirinya. Karena hanya Dia yang tidak mempunyai sumber lain sebagai indukNya, juga tidak berubah dari kekal sampai kekal. Itu sebabnya, segala sesuatu di luar Tuhan eksis karena kehendak Tuhan dalam mencipta. Jadi, jika Tuhan tidak mencipta, tidak ada keberadaan lain di luar diriNya. Persis seperti apa yang dikatakan ayat ini, maka kita perlu menyadari dengan sungguh, Tuhanlah Penciptaku, aku bersandar padaNya karena providensiNya, dan kelak, aku akan kembali padaNya untuk mempertanggungjawabkan semuanya.

Kalau kita sudah mengerti hal itu dengan jelas, barulah kita bisa memandang milik kita dengan benar: harta adalah sesuatu yang sekunder, diri kita lebih penting dari harta kita. Dari manakah hidupku? Dari Tuhan. Sebab itu, aku harus bersyukur padaNya, bersandar padaNya. Sesudah itu, barulah kita memikirkan segala sesuatu yang di luar diriku. Harta benda yang ada diluarku itu milikku, tapi diriku adalah milik Tuhan: aku perlu berdamai, membereskan relasiku dengan Allah, baru minta Dia memberiku hikmat untuk bisa memenuhi kebutuhanku, untuk melayani KerajaanNya, menjadi juru kunci yang jujur dan setia, mewakili Tuhan membuka pintu-pintu yang paling rahasia. Bukan berarti kita boleh menggunakan kunci; harta semau kita, karena Dia, yang mempercayakan kunci itu adalah Allah, Dia memperhatikan bagaimana kita mengelola harta yang Dia serahkan pada kita.

Teologi juru kunci tidak pernah dibahas di buku systematic theology juga tidak banyak diajarkan di gereja. Maka tidak heran, di gereja tetap ada banyak orang yang memperoleh harta dengan cara yang tidak beres, tapi gereja masa bodoh, tetap memandang orang yang memberi banyak persembahan sebagai orang penting, tidak menganggap perlu untuk mendidik mereka dengan lebih ketat. Saya kira, GRII harus semakin hari semakin menyenangkan hati Tuhan, segenap jemaat meneladani Abraham Kuyper yang berkata, di dalam hidupku, tidak satu incipun yang tidak dikuasai oleh Allah, Dia berhak menguasai, memberi petunjuk pada setiap segi hidup kita, baik intelektual, emosi, kemauan, sampai cara kita berbisnis, berbicara, memelihara harta milik kita, maupun melayani.

Dua hari yang lalu, konferensi delegasi rakyat Tiongkok yang ke-12 di Beijing menetapkan hukum perlindungan harta pribadi yang didapat dengan benar—salah satu point penting dalam konstitusi PBB, yang berasal dari hukum terakhir dari sepuluh hukum: tak seorang pun boleh melirik milik orang. Itu sebabnya saya yakin, Allah tidak melarang kita memiliki harta, tapi Yesus mengingatkan: jauhkanlah dirimu dari segala keserakahan. Dia juga mengajar kita: mencari dulu Kerajaan dan kebenaranNya, maka segala sesuatu yang kita perlukan akan Dia tambahkan. Itu sebabnya. kita perlu merenungkan: dari mana asalnya harta kita?

  1. Warisan. Kalau kau lahir di keluarga kaya, orang tuamu mewariskan harta padamu, itu adalah wajar. Tapi harta warisan bukanlah harta yang paling membahagiakan. Karena sesuatu yang tidak kau peroleh dengan bayar harga, tidak akan kau pelihara dengan baik. Prinsip ini juga berlaku pada gereja. Mengapa ada gereja yang merosot, ada yang bertumbuh? Gereja merosot. karena dia hanya tahu terima jadi, tidak punya rasa tanggung jawab. Gereja bertumbuh, karena dia pernah menderita kesulitan besar, bahkan tahu betapa sulitnya memenangkan seseorang untuk Tuhan. Dalil ini tidak pernah berubah. Jika kau mewarisi harta karun dari orang tuamu atau memulai usaha dengan modal yang diberi orang tuamu, tidak ada yang bisa kau banggakan. Karena kau tidak memperjuangkannya dari nol. Waktu saya menikah, isteri saya punya rumah yang besar, tapi saya memutuskan untuk tidak tinggal di rumah mertua, mau memulai segalanya dari nol. Mari kita belajar menjadi orang yang berjuang dan nol, berani menghadapi segala kesulitan. Jadi, tidak ada salahnya, kau dilahirkan di keluarga orang kaya. Tetapi kalau harta merintangi, menghambatmu menjadi seorang pemuda yang berjuang, harta itu bukan bahagia tapi bahaya.
    Prinsip ini saya terapkan dengan ketat pada diri putra tunggal saya, sebelum dia studi di Amerika saya katakan padanya "mana yang kau pilih: papa membiayai seluruh studimu atau kau berjuang sendiri, papa hanya membantu sebagian? Pikirkan tiga hari dan beri jawab pada papa. Tiga hari kemudian, anak saya mengatakan, "Papa, saya mau berjuang. Tapi saya ingin tahu, mengapa Papa memberikan alternatif itu pada saya?" Saya jawab, "Kalau saya menunjang seluruh biaya studimu, memang baik, tapi saya tidak mau merampas hak juangmu sebagai orang muda. Itu sebabnya saya tidak menunjang biaya studimu dengan penuh." "Saya mengerti dan saya mau!" katanya. Setiap tahun, dengan susah payah saya hanya memberinya 10.000 dollar. Selebihnya, dia bekerja sampai dini hari jam 2. Saya harus konsisten, apa yang saya ajarkan pada jemaat harus berani saya ajarkan pada anak-anak saya. Jangan biarkan anak-anakmu menerima segalanya begitu saja, jangan berpikir, saya toh punya uang, untuk apa menyiksa anak? Sebenarnya kita bukan menyiksa melainkan melatih. Jangan berpikir, memberi segala sesuatu pada anak adalah wujud dan kasihmu, karena sesungguhnya, dengan berbuat seperti itu, kau sedang merusak dia. Adakah yang lebih berharga dari anakmu, mengapa kau memandang harta lebih penting dan anakmu? Kita adalah juru kunci. Anak yang Tuhan berikan pada kita juga merupakan harta yang harus kita pertanggungjawabkan pada Tuhan, mereka akan dihakimi oleh Tuhan. Itu sebabnya, saya menerapkan prinsip-prinsip Alkitab secara ketat di dalam hidup anak-anak saya.
  2. Jerih lelah. Menurut ajaran etika Aristoteles, uang yang diperoleh dari keringat sendiri tinggi nilainya, tapi uang yang dihasilkan dari uang, rendah nilainya. Tapi di abad ke-20, uang justru dijadikan komoditas, orang tak perlu bekerja sebagai petani, tukang batu dll. Asal pintar memperkirakan mata uang mana yang bakal naik, mana yang bakal turun, sudah cukup. Mengapa Aristoteles berpendapat seperti itu? Baginya dunia bisa maju karena setiap orang bekerja, uang yang diperoleh dengan tidak gampang membangun moral yang tinggi. Tapi uang yang diperoleh lewat memperjualbelikannya, meski mungkin membawa kau jadi kaya, tidak membangun moralmu menjadi tinggi. Itu sebabnya, hanya sedikit orang yang menang lotre meraih sukses. Karena uang yang diperoleh dengan mudah menyeret turun moralnya, mulai memelihara gundik dst. Sejak dini, ajarilah anak-anakmu untuk pintar berkorban bukan pintar mencari uang, ingatkan mereka untuk mendapatkan uang dari bekerja. Orang kaya yang memberi modal pada anaknya, agar anaknya bisa langsung melejit, memang tidak salah. Tapi alangkah baiknya kalau kau mendidik mereka memperoleh uang dari bekerja, karena itulah fondasi dari karakter mereka. Anak-anak yang sejak muda tidak mengenal hal itu akan menghancurkan dirinya juga menghancurkan orang lain.
  3. Penghargaan orang. Karena orang mengenal jerih lelahmu, mengerti kontribusimu, mereka mewujudkan rasa hormat, penghargaan mereka dengan memberi hadiah. Itu adalah wajar. Alkitab mengajarkan, hormatilah mereka yang berjerih lelah di tengah-tengah kamu. Jadi, menerima pemberian seperti itu tidaklah salah, tapi kita perlu tahu, that is a grace or a gift from God, but at the same time as a test and examination from God. Karena saat Tuhan menyerahkan uang yang lebih dari cukup ke dalam tanganmu, Dia akan menguji: bagaimana kau memakainya. Orang Tianghoa punya kebiasaan yang tidak mereka sadari sebagai menabung secara masal: saat salah seorang kenalanmu menikah, kau akan memberinya uang. Nanti, saat anakmu menikah, mereka membalas dengan memberi uang pada anakmu. Jadi, jangan takut menikah. Sejauh kau terbiasa memberi saat orang lain menikah, saat kau menikah, kau bukan saja tidak berkekurangan malah mungkin memperoleh untung. Tapi ingat: jangan hanya mementingkan untungnya tapi tidak mau ikut menabung. Waktu anak laki tunggal saya akan menikah, saya katakan kepadanya, "Saat papa menikah, papa tidak punya apa-apa, tapi papa memutuskan untuk mempersembahkan semua pemberian untuk pekerjaan Tuhan. Saya mengharapkan kau juga cinta Tuhan, mempersembahkan semua pemberian kepada Tuhan. Kau boleh pikir-pikir dulu." Beberapa hari kemudian, dia berkata, "Pa, saya sudah merundingkan hal itu dengan calon isteri saya. "Bagaimana pendapatnya?" "Dia setuju." Itulah ujian terbesar baginya: dia bukan disuruh mempersembahkan sepuluh persen melainkan semuanya. Karena sepuluh persen itu milik Tuhan. Bagaimana dengan yang sembilan puluh persen? Juga milik Tuhan. Masalahnya: relakah kau menyerahkannya pada Tuhan? Padahal waktu itu, dia juga memerlukan uang, tapi dia harus mengutamakan Tuhan dulu. Saya berkata, seorang pria mempersembahkan semua yang dia peroleh pada hari pernikahannya untuk Tuhan, mungkinkah Tuhan tidak memberkati hidupnya? Tidak mungkin! Saya tidak pernah melihat seorang yang sejak awal mengutamakan Tuhan tidak diberkati oleh Tuhan, asal jangan mempersembahkan dengan motivasi yang tidak benar: ingin mendapatkan lebih banyak berkat. Ingat: Your attitude toward your money is one of the proof of how do you love your God.
  4. Berbisnis. Pabrik mobil tertua di Jepang adalah Nissan (artinya product of Japan). Saat produk Jepang masih dipandang sebelah mata, mereka berani menggunakan merk Nissan pada mobil yang mereka produksi untuk membuktikan pada dunia bahwa Jepang bisa memproduksi barang bagus. Memang terbukti, Nissan menjadi salah satu mobil terkuat dan teririt bahan bakarnya. Sampai sepuluh tahun yang lalu, mobil Nissan lebih irit bahan bakar ketimbang mobil Toyota. Lima tahun lalu, Nissan mengalami defisit, mereka menjalin kerja sama dengan Renault, mobil Perancis. G.M. Renault mengunjungi Nissan, mengurangi pekerja pabrik sampai 30%, model yang mirip disuplai dari Renault, disain mobil diperbaharui. Maka di dalam waktu satu tahun, perusahaan yang tadinya mengalami defisit bisa kembali menghasilkan profit. Orang bisnis harus tahu dua cara ini:
    a. menghemat pengeluaran.
    b. Menambah investasi.
    Saya sangat mengagumi pabrik Honda karena di tahun 1949, Honda memulai usahanya hanya dengan modal awal 3.000 dollar untuk memproduksi kipas angin, dinamo, mesin pompa angin mobil, spare part kecil, sepeda motor Honda saat ini, dia menduduki peringkat ke-9 dari produsen mobil di dunia.
  5. Belas kasihan orang. Ada orang memperoleh uang dengan memperalat psikologi orang yang berhati lembut, mendandani diri sebagai orang miskin—suatu perbuatan yang tidak terpuji.

    Di Califomia, ada begitu banyak "pengemis" yang kaya. Saya pernah berkata mengatakan pada rekan saya, bajumu sudah terlalu tua, ganti dengan yang baru. Dia merasa saya terlalu mencampuri hidupnya. Padahal sebenarnya, saya tidak menginginkan dia melakukan hal yang memalukan: mengais belas kasihan orang.

    Tentu kita tidak bisa membenarkan orang miskin meminjam uang untuk membeli pakaian yang wah, melebihi semestinya. Juga kita tidak melarang orang menerima uang dari belas kasihan orang, tapi jangan menjadikannya sebagai motivasi untuk mendapatkan uang. Walaupun dikasihani orang itu tidak salah, tapi kalau kau sengaja memancing belas kasihan orang, kau berdosa.

Ringkasan Khotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong
Tanggal 14 Maret 2004
Sumber : http://www.mriila.org/pustaka/artikel-dan-publikasi/orang-kristen-dan-harta-2/

Tidak ada komentar: