Sabtu, 30 Juni 2012

Sepuluh Hukum – Hukum Ketujuh (Bagian 1)

Hukum kelima hingga kesepuluh adalah enam perintah yang berkaitan dengan relasi antar manusia, agar manusia dapat hidup rukun, suci, aman, dan bahagia. Maka perintah pertama dari bagian ini: Hormatilah ibu-bapa yang telah melahirkan dan membesarkanmu. Meski mungkin mereka bukanlah orang tua yang sempurna, namun setidaknya, Tuhan telah memberi mereka hak untuk mengatur, membesarkan, dan mendidik engkau. Itu sebabnya, perintah ini tidak disertai dengan syarat: kalau orang tuamu tidak beres, engkau boleh saja membunuhnya, melawannya, mengkhianatinya, atau melecehkannya; melainkan Alkitab menegaskan hormatilah orang tuamu tanpa perkecualian. Perintah kedua dari bagian ini: Jangan membunuh. Tuhan tak mengizinkan kita membenci atau menghina orang lain, yang Dia cipta menurut peta teladan-Nya. Karena puncak dari membenci orang adalah mengenyahkan nyawanya. Dia ingin kita menghargai dan menghormati setiap orang, maka firman-Nya: Barangsiapa menumpahkan darah orang, darahnya juga akan ditumpahkan. Dengan itu Allah menegaskan bahwa nilai setiap orang sama. Maka jangan kita memandang orang yang miskin, yang bodoh, yang cacat, atau yang sakit sebagai orang yang tak bernilai, boleh kita perlakukan dengan semena-mena. Dan perintah yang ketiga dari bagian ini, yang akan kita bahas sekarang: Jangan berzinah.
 
Signifikansi Perintah Ini
Kalau kita mengamati dan membandingkan Kitab Suci dengan kitab-kitab agama lain, kita akan menyadari bahwa tidak ada kitab yang lebih tinggi dari Alkitab; firman Tuhan yang mengikat manusia dengan enam perintah: hormatilah orang tuamu, jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan bersaksi dusta, jangan melanggar milik orang lain. Jangan berzinah adalah perintah yang sangat penting.

Kitab Suci, khususnya Perjanjian Lama, begitu menekankan “Jangan berzinah” karena Tuhan kita adalah Tuhan yang suci. Bakat, talenta, ilmu dapat kita pelajari atau palsukan, tetapi kesucian tidak mungkin dipalsukan atau dipelajari, karena kesucian adalah substansi yang paling esensial. Ada pendeta yang mempunyai banyak bakat, talenta, bahkan sanggup memukau massa, tetapi gagal dalam satu perkara, yaitu hidup suci. Ini menunjukkan bahwa kesucian tidak mungkin dipalsukan. Bagaimanapun setan memoles diri hingga terlihat sebagai malaikat terang, ia tetap tidak mungkin mencapai kesucian. Setan adalah si jahat, yang penuh dosa, kepalsuan, dan dia adalah bapa penipu.

Allah kita adalah Allah yang suci, maka hanya Kristus yang dapat menyatakan kesucian yang melampaui semua pendiri agama atau filsafat manapun juga. Socrates, Confucius, Shakyamuni, atau Muhammad tidak mungkin dapat memiliki dan menyatakan kesucian seperti Kristus, karena mereka sendiri mengakui bahwa mereka tidak lepas dari salah dan mereka adalah orang berdosa. Mereka percaya bahwa masih ada jalan keluar dari dosa dengan motivasi agama. Di lain pihak, Kristus suci mutlak, tidak bercacat cela, tanpa noda dan dosa di sepanjang hidup-Nya, sehingga bukan hanya mengatakan dan mengajarkan, tetapi juga menyatakan dan memberi teladan kesucian. Kristus mengatakan: “Barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia yang mengutus Aku” (Yoh. 12:45), yaitu Dia yang menuntut untuk engkau hidup suci di dalam segala perkara (1Ptr. 1:15-16), dan Dia juga yang telah memanggil engkau. Tuhan itu adalah Tuhan yang suci adanya. Oleh karena itu, semua ajaran, perintah, yang keluar dari-Nya pasti akan memiliki sifat moral-Nya yang suci, yang tidak mungkin bisa disejajarkan dengan ilah atau berhala ciptaan manusia.

Kesucian adalah zat ilahi yang tidak terbandingkan. Allah itu adalah Allah yang cemburu. Di dalam terjemahan Alkitab bahasa Mandarin, ayat ini dinyatakan sebagai Allah yang cemburu terhadap kejahatan dan kebobrokan; bukan cemburu karena kita lebih baik atau lebih unggul dari-Nya, melainkan karena kita jahat, penuh noda dan mendukakan Tuhan yang suci. Ia telah menciptakan kita menurut peta teladan-Nya, maka Ia ingin kita juga hidup suci. Dia memberikan kita hati nurani untuk menjadi pengawas yang memancarkan kesucian-Nya. Dengan demikian, kita bisa senantiasa waspada terhadap dosa. Saat hati nurani seseorang tidak berfungsi dengan baik, maka dia akan seperti binatang, bahkan lebih buruk dari binatang, tidak menyadari pentingnya kesucian hidupnya.

Kesucian Seksual
Allah yang suci menuntut kita hidup suci di dalam segala perkara, khususnya di dalam hubungan seksual. Firman Tuhan mengatakan: “Jangan biarkan anakmu menikah dengan bangsa lain yang tidak takut kepada-Ku, karena dia akan terseret ke dalam dosa perzinahan” (Ul. 7:3-4).[1] Bangsa-bangsa yang tidak takut akan Allah sering kali kehidupan seksualnya juga tidak beres. Allah ingin agar kita, umat-Nya, memiliki cara hidup yang berbeda dari mereka. Kita harus hidup suci. Untuk itu, kita harus menguduskan hubungan seksual kita, suatu anugerah yang Tuhan telah berikan kepada kita.

Ketika Revolusi Perancis mulai tercetus dari tahun 1789 hingga 1793, Marie Antoinette dan Louis XVI dipenggal kepalanya dengan guillotine, memberikan dampak memuncaknya semangat humanisme, di mana orang tidak lagi mempunyai rasa takut akan Tuhan. Kebencian terhadap politik dan sikap mulai melakukan hubungan seksual secara sembarangan melanda Perancis. Maka, di abad XIX, Perancis tidak mengalami kebangunan rohani apa pun. Memang di situ ada sekelompok kecil orang Huguenots, yaitu orang-orang Calvinis yang begitu setia memegang firman Tuhan, tetapi secara keseluruhan, Perancis menjadi sangat sekuler. Hidup mereka begitu duniawi, humanistik, egosentrik, dan menjadikan bangsa ini terikat oleh semua dosa-dosa yang keji. Hal ini sama sekali berbeda dengan Inggris. Dalam lima puluh tahun terakhir abad XVIII, muncul orang-orang seperti John Wesley, George Whitefield, Robert Raikes, tokoh-tokoh rohani yang mengabarkan Injil, membawa Inggris dan Irlandia mengalami kebangunan rohani yang amat besar. Puluhan bahkan ratusan ribu orang bertobat. Akibatnya, banyak klub malam, tempat dansa, tempat jual minuman keras dan tempat mabuk, tempat judi, dan prostitusi tutup satu per satu. Inilah kebangunan rohani yang sejati, di mana terdapat buah pertobatan yang nyata. Orang berhenti mabuk, berhenti berjudi, berhenti berzinah, lalu menangisi dosa mereka, bertobat, dan mulai mencari kehendak Tuhan. Mereka mulai sungguh-sungguh membaca Kitab Suci, memuji Tuhan, dan hidup suci. Inilah perbedaan Inggris dan Perancis. Di saat Perancis menjadi semakin humanis, berpusat pada diri, semakin jauh dari Tuhan, di Inggris banyak orang berpaling kepada Tuhan, dan menjadi negara yang paling banyak mengirim misionaris ke seluruh dunia.

Ketika liberalisme mulai menggerogoti Inggris di akhir abad XIX dan awal abad XX, kini giliran Amerika Serikat mulai mengutamakan penginjilan, sehingga di awal abad XX, Amerika Serikat menjadi negara yang paling banyak mengirim misionaris ke seluruh dunia. Kini Amerika Serikat juga sudah mulai merosot, sementara sekalipun Inggris masih dikenal sebagai negara Kristen, saat ini dari seratus pemuda, mungkin hanya satu yang masih menginjakkan kakinya di gereja. Keadaan ini jauh lebih minim daripada keadaan di Indonesia yang dikenal sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia.

Ketika Perancis beralih ke sekularisme di abad XIX, mereka meninggalkan kehidupan yang suci. Di sekitar tahun 1820-an, ada satu lembaga (society) di Paris yang memberikan hadiah besar bagi wanita yang memelihara keperawanannya hingga hari pernikahannya. Pada awalnya masih ada sedikit orang yang menerima hadiah itu, tetapi mulai tahun 1850-an, sampai sekarang, sudah tidak ada yang menerima hadiah itu lagi. Itulah keadaan dunia kita. Bagaimana dengan kita?

Otoritas Kebenaran
Hukum “Jangan berzinah” sejak dari pertama kali Musa menerimanya dari Tuhan hingga hari ini, tetap tidak berubah. Allah adalah Allah yang kekal dan tidak berubah, baik dari dahulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Sekalipun manusia selalu menuntut perubahan, kita perlu menyadari bahwa ada hal yang perlu berubah, tetapi ada juga hal-hal yang tidak perlu berubah. Semua yang benar, yang suci, dan yang sempurna tidak pernah boleh diubah. Jika yang benar diubah, akan menjadi tidak benar; yang suci diubah, akan menjadi tidak suci; dan yang sempurna diubah, tidak akan menjadi sempurna lagi.

Contoh sederhana terjadi di abad XIX, ketika seorang profesor musik di Moskow, Peter Ilich Tchaikovsky yang berada di bawah Anton Rubinstein, rektor di sekolah musik tersebut saat itu. Tchaikovsky menggubah Piano Concerto No. 1 yang sangat indah dan ketika ia tunjukkan kepada sang rektor. Dengan sombongnya Rubinstein mengomentari bahwa piano concerto itu tidak lazim dan perlu banyak koreksi, sehingga tidak pantas untuk dipentaskan. Malam itu Tchaikovsky sangat sedih. Ia menulis dalam buku hariannya, “Apa pun yang sudah sempurna tidak perlu lagi dikoreksi.” Lalu ia mengirimkan karya itu ke Chicago. Ternyata Chicago menilai piano concerto itu luar biasa, dan segera dipentaskan oleh Symphony of Chicago, diperkenalkan sebagai The New Piano Concerto No. 1 from Russia, ditulis oleh Peter Ilich Tchaikovsky. Pementasan itu dihadiri sangat banyak orang dan memberikan sambutan serta applause yang luar biasa. Sejak saat itu nama Tchaikovsky menjadi terkenal di dunia. Tidak lama kemudian, ketika peresmian dari The New York Carnegie Hall, Tchaikovsky diundang sebagai conductor. Di sini kita melihat bahwa gurunya bersikap sedemikian arogan dan terbiasa mengoreksi murid, tanpa mau mengoreksi diri.

Belakangan ini saya terus memperhatikan komentar dari para theolog Liberal yang terus mengkritik dan mau mengoreksi Alkitab. Sikap arogan yang menganggap diri lebih pandai dari Tuhan, tidak mau mengakui wahyu Tuhan, sebenarnya adalah ekspresi dari ketidakpercayaan kepada Tuhan. Maka di hadapan Tuhan ada dua jenis manusia, yaitu 1) yang beriman, dan 2) yang tidak beriman; mereka yang tahu kebenaran dan mau taat, berbeda dari mereka yang tahu tetapi selalu memberontak. Kita tidak boleh bermain-main karena setiap firman yang keluar dari mulut Allah tidak pernah salah dan tidak perlu dikoreksi.

Ketika saya mempelajari psikologi sekitar 20 tahun yang lalu, saya menemukan teori yang mengatakan bahwa kita tidak boleh mengajar anak dengan kata “jangan”. Tetapi mengapa di sini justru Tuhan yang mengajar kita dengan “jangan”? Tuhan mengajar: Jangan membunuh; Jangan berzinah; Jangan mencuri. Ada lima perintah dari Sepuluh Hukum yang diawali dengan kata “jangan”. Apakah itu berarti Allah kurang mengerti psikologi, sehingga perlu dikoreksi oleh psikolog dunia? Tidak! Para psikolog yang mengatakan, “Jangan mengajar anak-anak dengan menggunakan kata ‘jangan’,” sendirinya sudah mengajar dengan memakai kata “jangan”. Bukankah mereka sedang menampar mulut mereka sendiri? Allah tidak pernah bersalah. Manusia memang membutuhkan kata “jangan”. Itu tidak salah. Kita memang membutuhkan larangan agar kita tidak mempergunakan kebebasan kita dengan sembarangan. Manusia dicipta sebagai makhluk yang jauh lebih bebas dari binatang. Binatang bagai sudah diprogram, sehingga ketika mereka melakukan hubungan seks, itu dilakukan berdasarkan nafsu, atau naluri, yaitu kemauan yang paling rendah dan paling minim. Binatang tidak memiliki kelincahan, fleksibilitas, dan kebebasan untuk mencoba dan melakukan hal-hal yang ada di luar naluri (insting) mereka. Kucing tidak pernah punya keinginan untuk jalan-jalan ke Amerika Serikat atau mencoba belajar berenang dengan gaya tertentu. Di lain pihak, manusia bisa menahan diri, bisa memiliki rasa malu, karena Tuhan menciptakan dia berbeda dari semua makhluk. Manusia diciptakan dengan keunikan tersendiri dan dapat menikmati seks secara maksimal. Itu sebabnya, kita harus bersyukur kepada Tuhan untuk anugerah-Nya, di mana kita tidak dilahirkan sebagai kucing, melainkan sebagai manusia yang begitu lincah, begitu indah postur dan desain tubuhnya.

Saya adalah seorang yang menyukai seni dan desain. Saya sudah mengubah lebih dari empat puluh kali desain apartemen yang saya rancang. Saya mencari semua kemungkinan yang bisa membuat lebih indah dan fungsional. Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi Tuhan, dengan cara mencari kemungkinan maksimum (maximum possibility). Seorang perancang pasti mengamati rancangan (desain) orang lain. Jadi wajar sekali kalau seorang perancang mode, mengamati desain terbaru dari Cartier, Dupont, Pierre Cardin, dan lain-lain. Tetapi di antara semua desain yang ada di alam semesta ini, tahukah Anda bahwa desain tubuh manusia adalah desain yang terindah? Ketika kita memperhatikan jari-jari kita saja, kita akan melihat sebuah desain yang begitu luar biasa indah dan fungsional. Jari kita tidak sama bentuk dan sama panjang. Tetapi keseluruhannya membentuk suatu harmoni yang indah dan sekaligus fungsi yang maksimal. Itu yang memungkinkan manusia bisa menciptakan pesawat, kapal, komputer, dan lain-lain. Tidak ada rancangan yang lebih indah dari tubuh manusia. Maka kata Leibniz, seorang filsuf Jerman, “Mungkinkah ada desain yang lebih bagus dari desain tubuh manusia?” Desain Allah akan tubuh manusia sedemikian indah dan sempurnanya. Orang yang pertama menyadari hal ini adalah Daud. Ia menyatakan, “Allah menciptaku dengan begitu indah dan ajaib.” Kita melihat hidung yang dicipta dengan begitu indah, dengan struktur kecil di atas, besar di bawah, dan terbuka menghadap ke bawah. Bisa dibayangkan jika terbuka ke atas, tentu air hujan akan mudah masuk dan kita kerepotan untuk membuat tutupnya. Dan tentu saja kita kesulitan menggantung kacamata kita. Demikian juga alis tidak di bawah mata, tetapi di atas mata, sehingga ketika hujan mata kita tidak kebanjiran. Seluruh penataan dibuat begitu indah.

Perintah Hidup Suci
Tubuh manusia juga dicipta oleh Tuhan sedemikian rupa yang memungkinkan kita menikmati seks secara maksimal. Tetapi aneh, mengapa manusia masih saja tidak puas dan ingin berzinah? Jika engkau ingin menikmati kenikmatan yang paling besar, hendaklah engkau menunggu itu sampai pada malam pengantinmu. Jangan sembarangan telanjang dan naik ke tempat tidur, mengunci kamar berduaan dengan orang yang kau cintai. Apa susahnya untuk tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah? Seorang pria yang tidak mampu menguasai dirinya sendiri, tidak layak untuk mengatur orang lain. Saya, sebagai pemimpin, harus terus waspada, menahan nafsu, mengontrol tabiat, karena sadar bahwa saya harus menjadi teladan. Seorang yang takut akan Tuhan, akan menyadari bahwa Allah senantiasa memperhatikan ke mana pun dia pergi. Tidak adakah Allah di kamar hotel atau di jok belakang mobilmu? Di mana engkau bisa menyembunyikan diri dari hadirat Tuhan?

Perintah “Jangan berzinah” dilandaskan pada kesucian Allah, sesuatu yang sangat kita butuhkan untuk mengikat kebebasan kita. Kerelaan untuk membatasi kebebasan kita adalah cara paling bijaksana untuk menjaga kesucian kita. Jadi, supaya kebebasanmu tidak menjadi buas, engkau perlu dengan rela mengikatnya. Ini adalah konsep yang paradoks. Mengapa kebebasan perlu diikat, bukankah kebebasan itu berarti tidak diikat? Ada orang desa, tidak memiliki pendidikan tinggi, tetapi hidupnya baik, hubungan suami istri beres. Sementara ada banyak orang yang mengaku Kristen, hidup seksualnya tidak beres. Kita perlu mengintrospeksi diri, jangan merasa bangga hanya sudah menjadi Kristen atau anak orang Kristen, tetapi hidup tidak beres; kecuali hatimu sungguh-sungguh taat kepada Tuhan, mau belajar, dan menjalankan firman Tuhan.

Tuhan memerintahkan umat-Nya untuk tidak berzinah karena Tuhan tidak ingin umat-Nya sama seperti orang kafir. Saya tidak habis berpikir, mengapa Abraham begitu tegar tidak mau pulang ke kampung halamannya sampai akhir hayatnya. Horowitz, salah seorang pianis terbesar dari Rusia pernah berjanji bahwa ia tidak mau pulang ke Rusia, kecuali komunis tidak lagi berkuasa di sana. Tetapi ketika sudah berusaha 84 tahun, dia tidak tahan lagi. Ia pun mengirim piano Steinway-nya ke Moskow dan ia pulang. Orang Moskow begitu gembira karena pianis terbesar itu mau pulang ke Rusia. Tetapi Abraham tidak. Ia berusia 75 tahun ketika meninggalkan Haran dan meninggal di usia 175 tahun. Selama seratus tahun itu Abraham tidak pernah kembali lagi ke sana. Saya meneladani dia, yaitu mulai sejak hari pertama saya menyerahkan diri saya, tidak pernah berpikir satu detik pun untuk kembali ke dunia ini, sekali pun diberi tawaran keuntungan duniawi yang sangat menggiurkan. Setelah Abraham menerima panggilan Tuhan, dia mengajak istrinya – yang begitu cantik, karena hingga usia 90 tahun masih diingini oleh raja – untuk pergi meninggalkan Haran. Mereka meninggalkan rumah di Ur, yang menurut data arkeologi paling sedikit memiliki 65 kamar, bahkan sampai 300 kamar, untuk tinggal di tenda sekitar 100 tahun lamanya. Tuhan meminta Abraham meninggalkan rumahnya, tetapi tidak diberi tahu ke mana dia akan pergi. Inilah cara Tuhan memimpin.

Ketika Tuhan memanggil Abraham, tanpa jelas masa depannya, mengapa Abraham mau ikut? Karena Tuhan yang memanggil. Ketika Anda sangat sulit mengikut saya, ketahuilah bahwa saya jauh lebih susah mengikut Tuhan. Tetapi dalam keadaan seperti itu, sampai tua saya tetap tidak kendur. Tuhan ingin kita tidak berpaling, tidak kembali ke jalan yang lama. Sekalipun ada alasan bagi Abraham untuk pulang mencarikan istri bagi anaknya, ia tetap tidak pulang dan memilih mengutus hambanya untuk pulang mencarikan pasangan bagi anaknya. Di sini kita melihat, Abraham tidak membiarkan anaknya mencari perempuan Kanaan, karena perempuan Kanaan terlalu mudah diajak naik ranjang, sementara orang Mesopotamia, sekalipun belum mengenal Allah, masih memelihara kesucian kehidupan seksual. Maka akhirnya hamba Abraham menemukan Ribka. Allah berkata, “Engkau adalah umat-Ku. Aku menghendaki agar engkau hidup suci, karena Aku Allahmu yang memanggil engkau, suci adanya.” Kesucian dimulai dari kesucian hubungan seksual, dari kesucian pernikahan. Itu sebabnya, jauhkan diri kita dari orang-orang yang berzinah. Jangan hidup seperti mereka karena hal itu sangat mendukakan hati Tuhan. Kasih yang tidak dipelihara dan dibatasi bukanlah kasih yang dari Tuhan. Kasih yang dari Tuhan adalah kasih yang suci, kasih yang cemburu akan kesalahan dan kebobrokan, dan kasih yang membenci perzinahan.

Rumah Tangga yang Suci
Hukum ketujuh menyusul perintah “Jangan membunuh” karena membunuh adalah melecehkan hidup sesama manusia dan merampas kuasa Tuhan, sedangkan berzinah adalah menghina ciptaan Tuhan, khususnya manusia dengan cara merusak kesucian. Kita telah membahas bahwa kesucian adalah zat, suatu substansi ilahi, yang tidak mungkin ditiru atau dipalsukan oleh siapa pun. Oleh karena itu, barangsiapa mau hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, mau taat kepada perintah-Nya, dia harus hidup suci.

Hidup suci sangat berkaitan erat dengan hubungan seksual. Dengan kata lain, Alkitab memandang penting akan pentingnya kesucian hubungan seksual. Itulah ciri khas iman Kristen yang murni dan benar. Tanpa melalui hubungan seksual, tidak mungkin suami istri akan melahirkan keturunan, melestarikan hidup seluruh umat manusia. Jadi, unit paling dasar di dalam masyarakat adalah rumah tangga. Masyarakat yang tidak menghargai dignitas rumah tangga akan hancur dengan sendirinya. Jika manusia melakukan hubungan seksual semaunya, dia tidak berbeda dari binatang. Bahkan, binatang yang sekalipun kehidupan seksualnya tidak Tuhan tuntut sedemikian rupa seperti pada manusia, tetap binatang tidak sekeji manusia yang melampiaskan nafsu berahinya tanpa tanggung jawab dan tanpa batas.

Karena rumah tangga adalah unit yang paling dasar dan paling penting di dalam pembentukan masyarakat dan negara, maka suami istri harus memelihara kehidupan rumah tangganya dengan ketat, menjalankan kehendak Tuhan atas dirinya. Oleh karena itu, Tuhan melalui Paulus berfirman kepada para suami, “Cintailah istrimu.” Dan dia menggambarkan cinta itu bagaikan cinta Kristus kepada Gereja-Nya, yang membuat-Nya rela turun dari sorga untuk mencari orang yang sudah menyimpang jauh dari Tuhan, yang sudah memberontak, berkhianat kepada-Nya, rela mati untuk menebus dan membawa mereka berpaling kepada-Nya, serta menjadikan mereka mempelai perempuan-Nya. Gereja adalah mempelai perempuan Kristus, yang disatukan dengan cinta kasih yang suci. Itu sebabnya, suami harus melakukan perintah Tuhan, mengasihi istrinya sama seperti Kristus mengasihi Gereja-Nya. Siapakah itu “Gereja-Nya”? Mereka adalah orang-orang yang tadinya begitu berdosa, menentang Tuhan, berkhianat terhadap kebenaran, merobek-robek janji Tuhan dengan manusia. Gereja-Nya adalah anak-anak yang terhilang, tetapi kasih Kristus menggerakkan mereka untuk bertobat dan menyebut Dia sebagai Tuhannya. Gereja-Nya adalah kaum yang sudah Dia tebus dan kuduskan dan dikumpulkan menjadi satu umat milik Allah yang dipisahkan dari dunia berdosa, untuk menjadi milik Sang Pencipta untuk kedua kalinya.

Di dalam Mazmur 24:1 tertulis, “Dunia dan segenap isinya milik Tuhan.” Bukankah itu berarti orang percaya maupun orang yang belum percaya sama-sama milik Tuhan? Jadi apa bedanya antara orang Kristen dengan non-Kristen? Orang non-Kristen menjadi milik Tuhan karena mereka dicipta oleh Tuhan. Kita menjadi miliki Tuhan karena kita dicipta oleh Tuhan dan ditebus lewat pengorbanan Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Melalui penebusan darah-Nya kita disebut sebagai orang suci, orang yang dikuduskan bagi Tuhan, untuk hidup suci di hadapan-Nya dan memuliakan Dia. Paulus berkata, “Aku telah menjodohkan kamu sebagai gadis yang suci kepada Kristus, maka engkau harus memelihara kesucian dirimu.” Inilah gambaran cinta yang sejati.

Cinta yang sejati itu mengandung tiga unsur yang penting, yaitu: 1) Motivasi yang jujur dan murni, tidak ada kebohongan di dalamnya. Maka orang yang mengatakan “Aku cinta padamu” dengan bergurau, tentu cintanya bukan cinta sejati. Cinta yang palsu, yang diucapkan hanya untuk menipu orang, suatu hari pasti akan terbongkar, karena cinta sejati itu sungguh-sungguh asli dan tulus. 2) Rela memelihara kesucian diri demi orang yang dicintai. Maka orang yang sungguh-sungguh mencintai seseorang, dia tidak mau mencemarkan dirinya dengan sembarangan. Cinta sejati itu suci dan rela memelihara kesucian diri dan kesetiaan untuk menyenangkan orang yang dia cintai. 3) Fokusnya hanya satu, karena kita tidak mungkin bisa mencintai dua orang secara bersama dan mencintai dengan derajat cinta yang sama. Hanya Alkitab yang memberikan penjelasan yang tepat tentang hal ini, yaitu karena Allah mencipta manusia menurut peta teladan-Nya, maka firman-Nya, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul. 6:4-5). Dengan kata lain, Allah yang Esa itu telah mencipta engkau dengan suatu potensi yaitu kasihmu hanya boleh ditujukan kepada-Nya, Allah yang hanya Esa, yang tidak bisa digandakan kepada ilah-ilah lainnya. Hal yang sama berlaku di dalam hubungan suami istri. Dengan demikian tidak mungkin bagimu untuk bisa mengasihi dua orang pada saat yang sama dengan kualitas cinta yang sama. Hanya dengan cara seperti ini manusia bisa melestarikan kehidupannya, yaitu dengan menyelaraskan diri dengan kehendak Tuhan.

Baik psikologi maupun sosiologi membuktikan satu perkara. Sistem pernikahan yang paling baik adalah monogami, bukan poligami. Masyarakat yang menganut poligami tidak mungkin menikmati kebahagiaan yang lebih besar ketimbang masyarakat yang memelihara sistem monogami, di mana seorang pria menikah dengan seorang wanita, lalu keduanya sama-sama setia sepanjang hidupnya. Hanya sistem inilah yang menjamin kelestarian dan kesehatan umat manusia. Sistem ini menjamin kebahagiaan pasangan suami istri dan rumah tangganya. Jika seorang pria bercabang hati, mencintai beberapa perempuan, cintanya pasti tidak murni. Bukan berarti kita adalah malaikat yang bisa dan sanggup memelihara cinta terhadap pasangan hidup kita sepanjang hidup dengan kekuatan kita sendiri tanpa pikiran menyeleweng. Kita harus jujur bahwa kita sulit menikah dengan satu orang dan setia kepadanya seumur hidup tanpa sama sekali ada pikiran menyeleweng. Kita adalah orang berdosa yang diperhadapkan dengan berbagai godaan dan cobaan. Itu sebabnya, kita perlu mengikat janji di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, di dalam upacara pernikahan, mempelai mengucapkan janji untuk mau setia kepada pasangannya, tidak peduli pada saat kaya atau miskin, lancar atau tidak lancar, sakit dan sehat, sampai akhir hidupnya. Untuk apa mempelai mengikat janji? Ikatan janji ini diperlukan untuk mengingatkan diri bahwa dia telah menikah di hadapan Tuhan, sehingga tidak boleh sembarangan dan harus bertanggung jawab. Jadi, ketiga hal ini: kesucian, kekekalan, dan hanya satu arah, adalah ciri dari kebahagiaan rumah tangga.

Negara yang menjunjung tinggi moralitas pasti akan menganut sistem monogami tanpa perkecualian. Meskipun ada agama-agama yang mengizinkan orang menikah dengan lebih dari satu orang, tetapi waktu mereka mendirikan negara, tentu tidak berani mencantumkan di dalam konstitusi mereka. Di Indonesia ada banyak agama, tetapi tetap menjunjung tinggi monogami, bukan poligami. Di dalam Undang-Undang Dasar tidak disebutkan, “Seorang pria boleh menikahi empat wanita,” karena sejak awal Allah hanya menciptakan seorang laki-laki, yaitu Adam, dan seorang wanita, yaitu Hawa. Orang Islam juga mengakui bahwa dalam keadaan darurat perang, di mana ada banyak pria mati di medan perang menyebabkan banyak wanita menjadi janda. Di saat seperti itu, barulah pria diizinkan menikahi janda-janda itu, untuk memelihara dan menghidupi mereka. Masalahnya, sekarang banyak orang menggunakan alasan bahwa Islam memberikan izin pria menikahi empat wanita, sehingga mereka menikah dengan lebih dari satu wanita. Ini mengundang kekacauan dan hilangnya kebahagiaan di dalam kehidupan keluarga. Jadi perintah “Jangan berzinah” Allah berikan demi kebaikan umat manusia.

Fungsi Seks dan Penggunaannya
Tuhan menciptakan fungsi seks menyebabkan manusia dapat melakukan hubungan seksual dengan leluasa dan menikmati kenikmatan tertinggi. Kita telah membahas bahwa binatang tidak mungkin dapat menikmati kenikmatan seks melebihi manusia. Postur tubuh manusia memungkinan diri bergerak lebih lincah puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali dibanding dengan binatang.

Dua tahun lalu, saya membawa beberapa pendeta dan penginjil ke Beijing dan menonton suatu acara akrobat yang mempertontonkan tubuh mereka yang begitu lentur, begitu mengagumkan. Tuhan mencipta tubuh manusia dengan desain yang begitu luar biasa, sehingga memungkinkan kita menikmati hubungan seks puluhan kali lebih nikmat dari binatang. Itu sebab, jika engkau masih kurang puas dan masih mau bermain-main dengan seks, Tuhan akan menghajar engkau. Tetapi kalau suami istri saling setia sampai akhir, berapa banyak pun mereka melakukan hubungan seksual, tidak mungkin terjangkit penyakit kelamin. Tetapi kalau engkau melakukannya dengan orang kedua, ketiga, dan seterusnya, engkau akan memberi peluang terjangkit penyakit kelamin. Betapa besarnya dosa laki-laki yang melakukan hubungan seks dengan pelacur lalu menularkan penyakit kelamin ke istrinya. Begitu juga betapa besar dosa perempuan yang tidak setia kepada suaminya, berhubungan dengan pria lain, lalu menularkan penyakit kelamin ke suaminya. Saya berharap kita menjadi suami yang suci, yang mengasihi istri kita dan menjadi istri yang suci, yang taat kepada suami; sebagaimana Kristus mencintai Gereja, rela berkorban baginya, menyatakan cinta-Nya yang sejati, dan Gereja yang memahami kasih Kristus tentu akan taat dan bersedia membalas kasih-Nya.

Kadang-kadang kita percaya suami kita betul-betul baik, tetapi kenyataannya tidak. Kadang-kadang kita percaya istri kita begitu suci, tetapi ternyata tidak. Konon, jika seorang betul-betul suci seumur hidupnya, ketika di sorga nanti akan mengendarai Rolls-Royce. Dia pun mengendarai mobil itu mencari istrinya. Akhirnya dia menemukan istrinya sedang naik sepeda. Dia baru sadar bahwa cinta istrinya ternyata tidak sesuci cintanya terhadap istrinya. Ada juga orang yang meragukan cinta pasangannya sedemikian hebat, selalu melihat dia tidak setia, tetapi semua dugaannya itu sebenarnya tanpa dasar, sehingga mengundang kesusahan besar bagi dirinya maupun juga pasangannya. Ada seorang laki-laki yang istrinya terlihat jauh lebih muda dari dirinya dan sangat cantik. Ketika masih muda, ia tidak mengalami masalah psikologis apa pun, tetapi ketika ia mulai tua, ia mulai senantiasa ragu apakah istrinya masih mau setia kepadanya. Maka setiap kali istrinya pulang, dia selalu memeriksa pakaiannya, apakah ada rambut pria menempel di sana. Kalau ada, dia langsung menginterogasi istrinya. Istri itu dibuat susah luar biasa. Suatu hari ketika istrinya pulang, suaminya memeriksa pakaiannya sampai setengah jam dan tidak menemukan sehelai rambut melekat di sana, akhirnya dia menangis dengan keras. Dia berkata, “Sekarang saya baru tahu, ternyata orang botak pun kau mau.” Mengapa bisa begitu? Kalau orang sudah curiga, apa pun jadi salah. Betapa bahagianya kalau di dalam rumah tangga suami dan istri dapat saling percaya.

Namun, patutkan engkau dipercayai? Banyak orang ingin dihormati karena sangat tidak enak untuk tidak dihormati. Tetapi orang yang ingin dihormati perlu bertanya kepada diri mereka sendiri, apakah dia patut dihormati. Jika engkau memang patut dihormati, maka orang akan menghormati engkau; kalau engkau tidak layak dihormati, jangan mengharap orang menghormati engkau. Mari kita belajar, suami tidak menipu istri dan istri juga tidak mengelabui suami. Suami istri perlu sungguh-sungguh jujur, transparan, belajar saling menghormati. Memang di Alkitab tertulis, air curian lebih manis rasanya.

Banyak orang yang merasa bahwa melakukan hubungan seks yang tidak sah itu begitu nikmat, begitu manis, baru setelah itu timbullah kepahitan yang tidak kunjung habis di sepanjang hidupnya. Ini menunjukkan bahwa melakukan hal itu adalah suatu kebodohan. Ketika saya masih di Tiongkok, ibu saya selalu memberikan buah zaitun kepada saya. Dia berkata, “Buah ini lain dari yang lain, karena ketika digigit pertama terasa asam, ada seperti rasa tidak enak, bijinya juga tajam sekali, sehingga kalau tidak hati-hati bisa menusuk gusi. Tetapi setelah mulai dikunyah dan ditelan, timbul rasa manis perlahan-lahan setelah itu.” Alkitab mengatakan, “Biarlah istrimu seperti pohon anggur dan anak-anakmu seperti tunas zaitun.” Itu berarti istri jangan suka berlaku galak karena laki-laki paling tidak tahan dengan istri yang galak. Bagaimanapun cantiknya seorang istri, saat dia galak, kecantikannya akan hilang delapan puluh persen. Perempuan yang lembut bagaikan pohon anggur. Dia cantik bukan karena polesan kosmetik, melainkan cantik yang memikat pria. Kebanyakan pria tidak suka diperlakukan kasar oleh istrinya. Mereka ingin diperlakukan lembut oleh kelembutan istrinya. Pokok anggur merupakan lambang Yesus saat Dia di dunia. Yesus berkata, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Bapa-Kulah pengusahanya.” Yesus melambangkan diri-Nya sebagai pokok anggur, bukan pohon cemara yang besar atau pohon ara yang subur, karena Dia ingin menekankan kelembutan dan ketaatan-Nya kepada Bapa-Nya. Sebagaimana Kristus taat kepada Bapa dan Gereja taat kepada Kristus, kiranya begitu juga istri taat kepada suaminya dan memperlakukan suaminya dengan lembut. Lembut bukan berarti kompromi, melainkan lembut karena digerakkan oleh cinta kasih. Semakin engkau taat kepada suamimu, semakin suamimu akan mencintai engkau. Sebaliknya, semakin engkau mencintai istrimu, istrimu semakin rela taat kepadamu. Inilah dalil yang Alkitab nyatakan.

Sang Pencipta tahu, pria membutuhkan wibawa, gengsi, dan otoritas. Wanita yang Dia cipta membutuhkan perlindungan dan kasih yang lembut. Suami yang mengasihi istrinya dengan lembut mendapatkan hati istrinya dan membuat istrinya mau taat kepadanya. Demikian pula istri yang bijaksana, menghargai, dan menghormati suaminya akan disayang oleh suaminya. Dengan demikian, anak-anakmu akan seperti tunas zaitun. Buah zaitun luarnya lembut dalamnya keras. Itu berarti memiliki tulang di dalam dan lembut di luar. Inilah teknik menjalin hubungan dengan sesama yang sangat tinggi dan tidak mudah dicapai. Inilah beda manusia dengan kepiting. Kepiting tulangnya di luar dagingnya di dalam, sementara manusia dagingnya di luar tulangnya di dalam, sehingga kalau dua kepiting bersinggungan akan saling menghancurkan, tetapi manusia ketika bersinggungan akan lembut dan tidak menimbulkan masalah. Itu sebab, manusia harus keras di dalam, tetapi lembut di luar. Artinya, manusia harus punya prinsip yang tegas, tetapi bisa bersahabat dengan orang yang berbeda-beda. Sebagai orang Kristen, kita harus memiliki prinsip iman yang tidak mau kompromi, tetapi tetap harus bisa bersahabat. Di dalam peribahasa Tionghoa dikatakan, “Sikap yang lembut, namun prinsip yang kokoh.” Buah zaitun saat pertama digigit terasa asam dan sepat, tetapi lambat laun terasa manis. Demikian pula rumah tangga yang bahagia.

Istri saya setiap minggu beberapa kali mengatakan kepada anak-anak kami, “Bersusah-susah dulu, bersenang-senang kemudian.” Saat ini begitu banyak pasangan suami istri yang bercerai, padahal di zaman ini orang bebas memilih pacar dan tidak banyak yang dijodohkan seperti pada masa lampau. Tahukah Anda, bahwa di daerah California dan Florida, daerah yang cuaca paling nyaman di Amerika Serikat dan memiliki taraf kehidupan yang relatif sangat baik, tingkat perceraian melampaui 100% dari jumlah pasangan yang ada? Bisa melampaui 100% karena ternyata ada cukup banyak pasangan yang kawin cerai sampai beberapa kali. Dalam bukunya, Revolution of the Sex, Dr. Kingsley menyatakan bahwa revolusi seks di Amerika Serikat telah mengakibatkan kebebasan seks yang tidak terkontrol. Sekitar tahun 1969, delapan puluh lima persen gadis telah kehilangan keperawanannya pada usia 16 tahun. Yang terbanyak, lebih dari enam puluh persen melakukan hubungan seks di jok belakang mobil. Apakah orang yang bebas melakukan hubungan seksual akan bahagia hidupnya? Tidak!

Tuhan memerintahkan kita untuk tidak berzinah. Seorang yang berzinah pasti akan menderita kepahitan hidup. Tidak berzinah adalah aturan dan batasan yang Tuhan berikan untuk menjadi jaminan kelestarian hidup umat manusia dan kebahagiaan rumah tangga. Pada masyarakat kuno, orang-orang muda tidak mempunyai hak untuk memilih pacar sendiri atau menikah dengan orang yang dia sukai. Keluarga atau orang tuanyalah yang menentukan dengan siapa dia harus menikah. Dalam banyak kasus, anak hanya bisa menangis ketika memasuki kehidupan rumah tangga lewat paksaan yang pahit sekali. Ketika ibu saya berusia enam belas tahun, pada suatu hari ia pulang sekolah, ada tiga tamu di rumah. Sesampai di kamar, kakak perempuannya memberitahu dia, bahwa salah satu dari pria itu akan menjadi suaminya. Dia pun menangis. Tetapi kakaknya mengatakan, “Jangan menangis, jalani saja perintah papa dan mama.” Lalu ketika ia mengintip ketiga pria itu, semua jauh lebih tua darinya. Ia harus menikah dengan seseorang yang sudah berusia tiga puluh sembilan tahun, sementara ia sendiri belum genap tujuh belas tahun. Tetapi ayah saya adalah seorang yang sangat pandai. Dia menguasai sepuluh macam bahasa, bekerja sebagai General Manager dari sebuah perusahaan multinasional terbesar di Asia. Dalam kondisi delapan puluh tahun silam, keuntungan per tahunnya sudah mencapai enam puluh lima hingga delapan puluh juta dollar. Ayah saya dijuluki Doktor bisnis, karena dia menguasai bahasa Belanda, Inggris, Perancis, Mandarin, Indonesia, Jepang, Hokkian, Suatao, Shanghai, dan Canton. Dengan itu dia bisa berbisnis dengan sangat lincah dan hebat. Sementara anaknya kurang lincah dan kurang pandai, hanya bisa berkhotbah dalam empat bahasa. Anak saya lebih kurang lagi, karena tidak bisa berkhotbah dalam empat bahasa. Ini yang disebut, generasi berikut lebih kurang dari generasi sebelumnya. Karena papa dari mama saya pikir bahwa papa saya begitu pandai, maka ia menerima pinangan itu, dan mama saya harus menikah dengan papa saya. Tapi dari situlah Stephen Tong lahir. Jadi, awalnya masam tidak apa, akhirnya menjadi manis juga. Ada banyak yang awalnya manis, akhirnya berantakan.

Ada orang-orang yang Tuhan izinkan patah hati beberapa kali baru bisa menikmati cinta yang sungguh. Hidup ini memang mengandung banyak faktor “X” yang tidak bisa kita mengerti. Sebagai orang Kristen, hendaknya kita selalu berkata, “Tuhan, aku puas akan segala pengaturan-Mu, menerima apa pun yang Kau izinkan terjadi di dalam hidupku.” Ada orang-orang yang berkata, “Mengapa kekasihku yang begitu cantik meninggalkan aku? Mengapa aku harus patah hati?” Terkadang hidup itu begitu susah karena Tuhan sedang mempersiapkan engkau untuk bersusah-susah dulu dan bersenang-senang kemudian. Bersyukurlah kepada Tuhan. Dan pada saat Tuhan sudah memberi yang terbaik, biarlah kita belajar untuk hidup suci, menepati janji kita kepada Tuhan, bahwa kita tidak akan berzinah.

Perzinahan tidak pernah membawa kebahagiaan. Kenikmatan seksual di luar jalur nikah hanya memberi kesenangan sesaat, tetapi kemudian rumah tanggamu berantakan, hati nuranimu tak henti­-hentinya menuduh, anak-anakmu tak melihat contoh yang baik, jiwamu tercabik-cabik, karena tidak taat pada Tuhan, rumah tangga kita kehilangan kesaksian yang bermutu. Ada tiga tekanan yang membuat banyak suami istri sama-sama merasa kurang puas, tetapi tidak berani melangkah untuk bercerai, yaitu: 1) Tekanan agama. Saya orang beragama dan agamaku tidak mengizinkan aku bercerai; 2) Tekanan sosial. Kalau masyarakat tahu aku bercerai, reputasiku akan hancur; 3) Tekanan keluarga. Orang tua dan anak-anak membuat kita tidak berani bercerai. Ketiga tekanan ini adalah anugerah umum dari Tuhan. Kalau tidak ditahan oleh anugerah umum, akan banyak manusia yang berbuat sekehendak hatinya. Itu sebabnya, kita patut bersyukur kepada Tuhan akan kekangan itu. Tetapi tentunya ada orang yang karena tidak takut Allah, tidak takut masyarakat, dan tidak takut keluarga, tetap nekat memilih untuk bercerai. Kiranya Tuhan memelihara hati kita untuk senantiasa takut kepada-Nya, takut sesama, takut akibat-akibat perceraian, sehingga kita tidak sembarangan mengambil langkah yang salah ini.

John Dewey, William James, Charles S. Pierce, tiga tokoh yang memelopori Pragmatisme, sebuah arus filsafat baru abad ke-20, di Amerika. John Dewey menulis buku Revolution of Philosophy. Di segi etika, dia mengatakan, “Jika engkau berpikir tentang apa yang akan menjadi akibat dari tindakanmu, engkau akan lebih berhati-hati dalam bertindak.” Ini adalah dalil etika yang paling penting dari filsafat Dewey. Memikirkan akibat dari perbuatan kita adalah penahan dari kerusakan moral dan kebebasan kita. Waktu saya mempelajari filsafatnya, saya tahu itu bukan penemuan John Dewey. 3.450 tahun sebelum Dewey mengutarakan Golden Rule itu, Alkitab telah mencatat pernyataan yang Musa katakan sebelum dia meninggal dunia: “Aku berharap, umatku mau memikirkan akibat dari kelakuan mereka.”

Banyak orang berpikir, “Saya mau begini maka saya berbuat begini.” Mereka tidak pernah memikirkan terlebih dulu apa akibat dari perbuatannya. Pepatah orang Tionghoa berkata, “Pikirkan tiga kali dulu baru bertindak.” Pada umumnya, ketika seorang mau bercerai, dia tidak memikirkan akibatnya secara masak-masak, hanya berpikir, “Aku mau senang, aku ingin bebas, aku ingin mendapatkan perempuan yang lebih cantik, ingin menikmati kenikmatan seks yang lebih segar.” Sebaliknya pikirkan dan pikirkan lagi kalau kau bercerai, bagaimana perasaan istrimu, bagaimana dengan janjimu di hadapan Tuhan, bagaimana perasaan anak-anakmu saat mereka dicemooh oleh kawan-kawannya, bagaimana masa depan mereka? Orang yang dapat memikirkan kemungkinan yang terburuk, mengakibatkan dia memutuskan untuk mengurungkan niatnya bercerai dan mengambil langkah yang lebih baik.

Kita harus menghargai pernikahan, menghargai janji nikah, saling percaya dan saling memperbaiki. Jangan berpikir dan beranggapan bahwa jika ganti pasangan semuanya pasti akan beres. Tidak tentu demikian. Mungkin sekali pasangan yang baru akan lebih buruk dari sebelumnya, bagaikan lepas mulut serigala masuk ke mulut buaya. Ketika engkau bosan dengan istrimu dan beranggapan bahwa wanita lain akan lebih baik, sangat mungkin engkau akan kecewa. Perempuan lain, mungkin senyumnya terlihat menarik, tetapi engkau belum pernah mengalami ketika ia marah meledak-ledak begitu mengerikan. Sering kali kita lupa bahwa saat gunung yang di bawah laut meletus, jauh lebih mengerikan daripada gunung yang ada di permukaan bumi. Saat seorang gadis yang belum menikah, belum pernah melakukan hubungan seksual, mau menikah dengan engkau yang belum mempunyai apa-apa, itu menunjukkan jiwanya masih bersih dan murni sekali. Berhati-hatilah terhadap orang yang berani menyatakan cintanya setelah engkau sukses dan kaya, karena engkau tidak tahu sebenarnya dia mencintaimu atau mencintai kekayaanmu.

Ketika berusia lima belas tahun, saya membaca satu makalah yang bagus sekali, berjudul “Jika aku orang kaya.” Di dalam makalah itu ada dua pernyataan yang sangat berkesan, “Jika aku adalah orang kaya, aku tidak pernah tahu betapa manisnya roti yang kudapat lewat cucuran keringatku. Kalau aku adalah orang kaya, aku tidak pernah tahu, istriku menikah denganku karena mencintaiku atau menginginkan kekayaanku.” Yang penting harus kita ingat, Tuhan menginginkan kita hidup suci. Rumah tangga itu penting sekali. Banyak sekali godaan yang membuat suami istri berpikir untuk bercerai. Tetapi sebagai orang yang takut akan Tuhan, kita harus senantiasa mengingat: Jangan berzinah!  Amin.

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber :http://www.nusahati.com/2012/05/sepuluh-hukum-hukum-ketujuh-bagian-1/


Ringkasan Khotbah Sebelumnya :
Hukum pertama hingga keempat berbicara tentang hukum vertikal, menyatakan relasi antara Pencipta dan ciptaan.
Hukum 1 : Akulah Allah satu-satunya jangan ada ilah lain di hadapan-Ku
Hukum 2 : Jangan Menyembah Berhala
Hukum 3 : Jangan Menyebut Nama Tuhan Dengan Sembarangan
Hukum 4 : Kuduskan Hari Sabat
Hukum kelima mulai membahas relasi antara manusia dengan manusia yang Ia cipta.
Hukum 5 : Hormati Orang Tuamu
Hukum 6 : Jangan Membunuh

Seorang Kondektur

Ayo…. Ayo …. Ancol, Sunter Podomoro, Priok….
Ancol, Sunter Podomoro, Priok….
Tunggu….!!! Tunggu….!!!
Ada sewa! Ayo…ayo naik…. Tarik!
Begitulah, kondektur wanita itu berteriak lantang menawarkan busnya. Tak kenal lelah, panas, hujan, terik, semuanya dilaluinya tanpa merasa terbebani.

Profesi wanita itu hanya sebagai kondektur. Tidak ada yang istimewa dengan dirinya, pakaiannya, gayanya ataupun suaranya yang melengking di tengah deru kendaraan. Yang membuat Anna tertarik untuk memperhatikannya adalah semata-mata karena ia seorang wanita yang bekerja sebagai kondektur. Sebuah profesi yang masih sedikit langka dan sulit dilakukan oleh kaum hawa.

Entah mengapa Anna begitu tertarik memperhatikan gerak-geriknya. Lincah, gesit, spontan dan sangat percaya diri

Bus berjalan perlahan meninggalkan terminal. Di tengah jalan, tidak seberapa jauh dari pusat perbelanjaan besar, bus berhenti. Kami para penumpang biasa menyebutnya dengan istilah “ngetem” yakni berhenti cukup lama untuk mencari penumpang. Tidak beberapa lama setelah penumpang memenuhi bangku-bangku kosong, bus mulai berjalan perlahan, perlahan, perlahan hingga akhirnya bergerak menjauh. Dengan mantap, sang supir pun menginjak pedal gas dalam-dalam. Tak terasa bus sudah berjalan jauh, tanpa komando dari kondektur.

Hingga suatu ketika penumpang yang duduk di kursi belakang berteriak “Pir, kondekturnya ketinggalan, tuh! Kasihan!! Lumayan jauh. ”

Kami, penumpang yang ada di dalam bus, semua tertawa geli mendengar ucapan itu. Supir buru-buru menghentikan bus, menepi dan menunggu kondektur wanita yang ketinggalan. Cukup lama bus menunggu, kira-kira hampir sepuluh menit-an.

Tiba-tiba dari arah belakang bus, sebuah bajaj meluncur kencang dan berhenti persis di depan bus. Dari dalam Bajaj keluarlah sang wanita yang menjadi kondektur tadi, dengan wajah panik dan ketakutan. Ia segera menghampiri supir bus dan menangis sejadi-jadinya. Sambil mennguncang-guncangkan tubuh sang supir.

“Kamu jahat, jahat sekali! Tinggalin begitu aja!
Tau nggak, saya takut, saya panik waktu tahu bus sudah nggak ada. Padahal saya kan lagi bantu nyeberangin penumpang. Apa kamu nggak lihat, gimana sih kamu jadi supir nggak peduli amat?” Kalimat-kalimat itu terus meluncur dari bibir tipis si wanita.

Sudahlah, ma….! Maafkan saya, saya nggak lihat kalau kamu ada di seberang. Ya udah nggak usah nangis, malu dilihat orang. ” ujar sang supir.

Dari dialog mereka, Anna dan penumpang lain baru mengetahui bahwa ternyata supir dan kondektur itu adalah pasangan suami isteri. Seorang penumpang yang duduk paling depan dekat supir segera menjadi penengah pertengkaran tersebut.

“Sudah-sudah tidak usah diperpanjang, maafkan saja Bapak, dia mungkin khilaf tidak melihat. ” lerai bapak itu pada si kondektur wanita. “Ibu juga nggak usah dendam, sama-sama cari uang sama-sama kerja untuk anak, pasti ada susah senangnya. ”

“Pak supir juga harus peduli sama isteri jangan cuek, harus lihat keadaan sekitar, jangan main tancap gas aja!” ujar si bapak tadi menasehati supir.

Akhirnya pertengkaran pun berakhir, mereka saling bersalaman dan berpelukan.

Kami semua para penumpang segera bertepuk tangan dan terharu melihat sikap mereka.

Dalam hati Anna merasa bahwa mereka benar-benar pasangan yang cukup kompak, bahu membahu dalam mencari nafkah untuk keluarga dan mudah memaafkan satu sama lain, mau mengerti keadaan masing-masing dan tidak pantang menyerah.

Satu lagi pelajaran hidup yang bisa dipetik oleh Anna sebagai calon ibu muda adalah bahwa siapa pun dirinya, kelak jika ia telah menikah nanti ia harus bisa bersikap tenggang rasa, tolong menolong dan saling memahami dalam setiap situasi apa pun. Jangan pernah sombong, egois dan merasa lebih tinggi dari pasangannya. Segala upaya untuk menafkahi keluarga harus dilakukan dengan kerja keras, pantang menyerah, disiplin dan ikhlas. Itu kunci utamanya., bisik Anna dalam hati.

Ia sangat salut kepada pasangan supir dan kondektur tadi, karena meskipun kehidupan mereka, kemungkinan sering diwarnai dengan pertengkaran-pertengakaran kecil, namun hal itu tidak mengurangi rasa kompak mereka sebagai pasangan suami isteri. Justru pertengkaran kecil itulah yang menjadi bumbu-bumbu manis dalam menciptakan bangunan rumah tangga.

Dengan itu, masing-masing pasangan akan lebih memahami karakter, kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga di masa mendatang mereka bisa lebih memperbaiki diri. Membuat diri lebih siap menghadapi masalah-masalah kehidupan yang serius, mendidik anak-anak yang berbakti pada orang tua dan menciptakan masyarakat yang sejahtera.

Ibarat pepatah, rumah tangga yang datar-datar saja dan tidak diwarnai dengan sedikit pertengkaran-pertengkaran kecil layaknya sayur tanpa garam.


Sumber : http://www.nusahati.com/2012/05/seorang-kondektur/

Sepuluh Hukum – Hukum Keenam (Part-3 Selesai)

Salah satu isu penting di dalam hukum keenam adalah mengapa Allah memerintahkan bangsa Israel untuk membunuh habis tujuh suku di Kanaan? Pada hari Sepuluh Hukum diturunkan, Musa memerintahkan orang Lewi untuk membunuh tiga ribu saudaranya sendiri. Sebagai suatu perbandingan yang unik, ketika Roh Kudus turun, tiga ribu orang diselamatkan. Ini sungguh suatu rahasia yang Alkitab bukakan kepada kita untuk mengerti bagaimana Tuhan bekerja. 

Konsistensi Allah dan Perintah-Nya

Seorang profesor Buddha dari Taiwan mengomentari hal di atas sebagai alasan bahwa Allah Kristen tidak konsisten dan tidak damai, karena mengizinkan untuk membunuh. Ajaran Buddha menekankan perdamaian. Di Bangkok, di kuil Yu Fu Miao ada satu patung Buddha yang terbuat dari batu giok yang dijuluki Patung Perdamaian. Mereka meyakini bahwa siapa pun yang memiliki patung itu akan menikmati kedamaian. Tetapi demi untuk mendapatkan patung itu, mereka tidak segan-segan berperang. Patung ini diperebutkan oleh Myanmar dan Thailand selama beratus-ratus tahun. Inikah kedamaian? Oleh karena itu, kita tidak boleh mempermainkan perintah “Jangan membunuh” dengan sembarangan. Untuk itu, kita perlu mendalami hukum keenam ini dengan teliti dan yang tidak banyak dibahas di banyak gereja.
  1. Tuhan memakai orang tua yang melanggar hukum. Tuhan memakai Musa yang dilahirkan dari orang tua yang tidak taat kepada hukum Mesir, sehingga Musa tidak sampai mati dibunuh oleh Firaun. Dari fakta ini, kita harus mempelajari sifat hukum Allah yang bersifat paradoks. Kita tidak boleh sembarangan menafsirkan firman Tuhan secara harfiah, tanpa memperhatikan konteks dan pengertian Alkitab secara keseluruhan, sesuai dengan kebenaran Allah.
  2. Tuhan memakai pembunuh untuk memerintahkan jangan membunuh. Sebelum menerima hukum ini, Musa sudah pernah membunuh. Hal ini mengajar Musa untuk tidak sombong karena dia sendiri gagal menjalankan Hukum Taurat. Dengan itu dia belajar mengerti kesulitan orang lain yang jatuh ke dalam dosa dengan melanggar hukum.
  3. Hari Sepuluh Hukum diturunkan, terjadi pembunuhan yang disetujui Tuhan. Hari ketika Musa membawa turun Sepuluh Hukum, orang Israel sedang berbuat dosa dengan menyembah patung lembu emas. Mereka mengira Musa sudah mati di atas gunung dan Yahweh tidak memimpin mereka lagi. Musa marah, membuang kedua loh batu, dan menantang mereka untuk kembali taat kepada Tuhan. Hanya suku Lewi yang waktu itu berdiri di pihak Musa. Maka Musa memerintahkan suku Lewi untuk menghabisi saudara-saudaranya sendiri. Hari itu ada tiga ribu orang yang mati. Mengapa Allah menyetujui Musa memerintahkan suku Lewi untuk membunuh saudaranya? Allah adalah Allah yang mencipta hidup sehingga hanya Dia juga yang berhak untuk mencabut hidup siapapun yang tidak taat kepada-Nya. Jika kita tidak mengerti prinsip-prinsip Kitab Suci, kita mudah sekali mempersalahkan Allah yang menyetujui, bahkan memerintahkan tindakan pembunuhan. Lalu kita merasa lebih benar, meninggalkan Tuhan, dan menjadi atheis. Itu adalah suatu tindakan bodoh dari orang yang tidak mau taat kepada Tuhan. Dia tidak bisa membedakan antara Allah Pencipta yang hidup dengan dirinya sebagai ciptaan.
Tuhan Allah memakai Musa yang pernah membunuh untuk membawa perintah “Jangan membunuh” agar ia sendiri sadar bahwa ia bukan orang benar. Setiap orang adalah pelanggar hukum dan patut dihukum. Orang yang memandang dirinya cukup baik tidak akan dipakai oleh Tuhan. Sebaliknya, orang yang dahulu begitu gagal dan jahat, bisa Tuhan ubah dan dijadikan hamba Tuhan yang tangguh.

Rauschenbusch pernah menulis: “Orang yang paling menentang Farisi adalah Paulus yang pernah menjadi orang Farisi; yang paling melawan militer adalah Tolstoy yang bekas militer; yang paling menentang perbudakan adalah William Wilberforce yang sebelumnya pernah menjadi budak.” Allah memakai orang yang pernah berzinah, tahu betapa bobroknya berzinah, untuk menganjurkan orang agar jangan berzinah. Tuhan memakai orang yang pernah bercerai, mengalami pahit getirnya perceraian guna memperbaiki banyak keluarga yang retak. Biarlah kita belajar cara Tuhan menangani hal-hal seperti ini. Inilah keajaiban Tuhan yang tidak kita sadari.

Musa yang pernah membunuh, akan merasa begitu tidak layak membawa perintah hukum seperti ini. Dia akan merasa gentar dan tidak layak menjadi hamba Tuhan. Tetapi Tuhan justru mau memakai dia. Inilah paradoks, suatu kelebihan Alkitab yang jarang kita temukan di semua ajaran agama. Sayang banyak orang mau mengerti iman Kristen dengan mental agama lain.

Setelah Tuhan memerintahkan orang Lewi untuk membunuh saudaranya hingga tiga ribu orang terbunuh, barulah murka Tuhan berhenti. Ini menyatakan bahwa keadilan Tuhan itu mutlak. Tidak mungkin Allah menghabisi hidup seseorang tanpa alasan cukup karena Dia adalah kebenaran yang absolut. Orang yang tidak mengerti akan berkesimpulan bahwa Allah orang Kristen adalah Allah yang kejam. Seorang profesor di Taiwan menulis buku untuk menghasut para mahasiswa agar jangan menjadi Kristen, karena Kristen adalah agama yang kejam, di mana Allahnya membunuh begitu banyak orang, dan Kitab Suci Kristen adalah Kitab Suci yang penuh darah, tidak seperti agama Buddha yang cinta damai. Di dalam sebuah KKR, seorang mahasiswa menanyakan kepada saya bagaimana komentar saya terhadap buku tersebut. Saya mengatakan kepada mereka, “Jika memang Allah Kristen begitu jahat seperti yang dia tuliskan, pasti dia sudah membunuh profesor itu dulu. Tetapi kenyataannya Allah membiarkan orang yang melawan Dia tetap hidup. Berarti Allah Kristen tidak sedemikian jahat seperti yang dituduhkan.”

Tuduhan terhadap Allah
Apakah Allah adalah Allah yang tidak konsisten dan plinplan karena sambil memerintahkan “Jangan membunuh” sambil melakukan pembunuhan? Allah tidak plinplan. Allah memerintahkan orang Lewi untuk membunuh saudaranya karena umat yang Allah harapkan untuk menurunkan kebenaran Allah harus dituntut dengan ketat agar tidak merusak seluruh dunia. Di sini Allah melakukan penyaringan atas umat-Nya. Suatu hal yang sangat memilukan, tetapi sebuah keharusan mutlak. Lihatlah, ketika Tuhan memilih Abraham, melanjutkan ke Ishak, dan Ismael dikesampingkan; memilih Yakub dan mengesampingkan Esau. Bagaimana dengan Saudara dan saya? Tuhan akan selalu melakukan penyaringan yang ketat kepada umat yang Dia mau pakai.

Ada hamba Tuhan kita yang ketika studi menulis surat kepada saya dan mengatakan bahwa kalau dia kembali, dia hanya mau mengajar dan mengelola sekolah theologi dan tidak mau melakukan lainnya. Saya tidak membalas surat itu karena kalau semua mahasiswa yang dia ajar mengikuti cara dan perbuatannya, seluruh gerakan ini akan hancur. Kalau dia datang pada saya dan berbicara dengan saya, saya akan memberitahukan apa yang seharusnya dia lakukan, bukan dengan cara saya harus mengikuti keinginannya. Akhirnya Tuhan menyaring dia dari gerakan ini. Gerakan ini akan berjalan terus dan Tuhan menyaring hamba-hamba-Nya. Saya harus belajar peka dan ketat memelihara prinsip-prinsip Tuhan di dalam hati. Demikian juga setiap Saudara harus belajar hidup dengan ketat menurut kehendak Tuhan sehingga tidak disaring oleh Tuhan.

Kita telah melihat suatu kondisi paradoks. Saat seorang raja kafir menyuruh Bileam untuk mengutuk orang Israel, Tuhan memutar lidah nabi yang tamak ini menjadi memberkati umat-Nya. Akhirnya Bileam mengaku tidak sanggup mengutuk karena Tuhan tidak memperkenankan. Tetapi ada cara untuk menghancurkan mereka, yaitu buat mereka berzinah sehingga nanti mereka dihukum oleh Tuhan. Dan benar, Tuhan menurunkan wabah kepada mereka yang berzinah, sampai Pinehas membunuh orang yang membawa pelacur ke perkemahan orang Israel. Ini adalah pembunuhan yang Tuhan izinkan karena sesuai dengan isi hati Tuhan. Baru setelah itu redalah murka Tuhan. Kita harus melihat dua macam pembunuhan. Ada pembunuhan yang menghentikan hidup, ada pembunuhan yang menghentikan pembunuhan. Yang satu didasarkan pada kemarahan manusia, sementara yang lain dilakukan atas kehendak Allah.

Maka di sini, kita tidak boleh membunuh diri kita sendiri karena membunuh diri identik dengan membunuh orang lain. Ada orang-orang yang karena penderitaan yang hebat akhirnya bunuh diri. Untuk kasus seperti ini saya mau mengerti kesulitannya, tetapi tetap itu tindakan yang tidak benar dan saya tidak bisa menyetujuinya. Hidup manusia adalah hidup yang sangat serius dan terhormat. Di sisi lain, ada orang yang sengaja terus memperpanjang hidup yang sebenarnya sudah mati, yaitu dengan menggunakan peralatan medis terus. Hendaklah kita belajar menghormati hidup dengan benar.

Hukum Keenam dan Pemikiran Liberal
Berbahaya jika melihat paradoks kehidupan tanpa mengerti dari sudut Tuhan sendiri. Akhirnya muncul tuduhan bahwa Alkitab penuh dengan kontradiksi. Para theolog Liberal yang berakademis tinggi tetapi tidak takut Tuhan lebih baik meninggalkan profesinya dan jangan menjadi orang Kristen. Apa jadinya jika gereja diajar oleh orang-orang seperti ini? Lebih baik kehilangan 400 nabi palsu, lebih baik tidak punya nabi selama 400 tahun, ketimbang diajar dan dikerumuni nabi palsu. Sebelum Paulus bertobat, semakin dia melayani semakin tindakannya melawan kehendak Tuhan. Semakin dia melayani, dia menganiaya umat Tuhan. Hari ini banyak gereja yang kelihatannya giat melayani, tetapi justru merusak nama Tuhan, merusak pekerjaan Tuhan, dan menyesatkan banyak orang. Mereka tidak mau belajar kebenaran Tuhan dengan sungguh-sungguh dan hidup takut akan Tuhan.

Ada dua sikap ketika seorang berhadapan dengan berita yang sulit di Alkitab, yaitu: 1) memanipulasi dan menafsir ayat itu menurut pikirannya sendiri; atau 2) mengabaikan dan tidak mau membahas bagian itu. Tetapi kita perlu menyadari bahwa banyak jemaat dan orang Kristen yang lebih banyak belajar. Mereka bukan orang bodoh. Tugas Reformed adalah mengisi kebutuhan mereka dengan bertanggung jawab. Tidak memutar balik firman atau menyisakan bagian-bagian yang sulit. Setiap orang yang pandai harus takluk pada pimpinan Roh Kudus. Theologi Reformed adalah theologi yang rasional, tetapi bukan rasionalis (memperilah rasio).

Seorang profesor filsafat di Taiwan, Chen Gu Ing, mempertentangkan antara Allah yang kejam dan Yesus yang penuh cinta kasih. Inilah ajaran Liberal. Atheisme dan Liberal adalah sama-sama musuh kekristenan. Atheisme adalah musuh yang jujur di luar sementara Liberal adalah musuh dalam selimut yang lebih jahat karena mengaku sebagai Kristen. Colin Brown memberi komentar, “Tillich di gereja beda dengan Tillich si penulis.” Paul Tillich adalah seorang yang begitu baik ketika berkhotbah di gereja, tetapi menjadi begitu melawan Kristen ketika dia menulis. Ketika berkhotbah dia berusaha menyenangkan jemaat pendengarnya dan mengikuti keinginannya, tetapi ketika menulis buku, ia melawan fondasi kekristenan yang paling ortodoks. Pernah seorang pendeta Liberal ketika akan ditahbiskan, ditanya apakah dia percaya Yesus adalah Anak Allah, dia menjawab “Ya!” dengan begitu yakin. Semua temannya terkejut dan menanyakannya kemudian. Dia berkata: “Sstt… bukankah semua orang juga anak Allah?” Kita perlu berhati-hati dengan pendeta-pendeta seperti ini. Jika orang-orang seperti ini yang mengajar gereja, kita bisa segera mengerti gereja itu akan menjadi seperti apa.

Memang ada bagian-bagian Alkitab yang sulit dimengerti. Tetapi justru di sini Alkitab dengan jujur memaparkan hal-hal yang penting bagi manusia tanpa menyembunyikannya atau mengesampingkannya. Tugas setiap orang percaya untuk belajar dan mengerti, lalu menolong kaum intelektual yang kesulitan ketika mereka mencari kebenaran. Sejak abad ke-19, para theolog Liberal sulit menerima pandangan paradoks Alkitab dan menganggapnya sebagai kontradiksi. Lalu mereka berusaha menyelesaikan masalah ini dengan pendekatan evolusi. Mereka berpikir bahwa agama juga berevolusi sehingga pikiran-pikiran agama bisa berubah dan berevolusi juga. Sebenarnya pemikiran Evolusi sudah muncul sejak Aristoteles, tetapi berkembang meluas setelah terbitnya buku The Origin of the Species dari Charles Darwin pada tahun 1859. Pikiran ini dipasarkan oleh Sir Herbert Spencer dan Sir Thomas Henry Huxley. Gereja menertawakan teori evolusi namun tidak memberikan argumen yang kuat untuk melawan teori ini. Akibatnya dalam waktu 100 tahun, hampir tidak ada dunia akademis yang tidak menerima teori evolusi. Orang beriman dianggap tidak rasional sehingga sulit bagi kaum intelektual untuk beriman. Tetapi bagi Theologi Reformed, Roh Kudus tidak membunuh rasio tetapi membawa rasio yang sesat kembali patuh kepada kebenaran.

Allah menyuruh orang Israel menumpas tujuh suku di Kanaan. Kita sulit mengerti bagaimana penerapan cinta kasih Tuhan. Banyak orang tidak melihat ketuhanan Kristus, tetapi lebih mengedepankan moralitas Yesus. Akibatnya, agama hanya mengurus isu moral. Yesus hanya dilihat sebagai tokoh moral. Mengikuti Immanuel Kant, agama adalah sistem moral dan ibadah. Kita harus melihat agama sebagai sistem kehidupan berkenaan dengan pengharapan akan berkat kekekalan. Kristus yang kekal adalah Yesus yang lahir di palungan; Kristus yang Anak Allah adalah Yesus yang mati di kayu salib. Inilah orang Kristen sejati. Allah menumpas ketujuh suku di Kanaan karena tujuh suku ini adalah suku yang sangat rusak dan jahat. Ibadah mereka penuh dengan moral yang sangat keji. Mereka masuk ke kuil di mana ada musik dengan ritme yang sangat merangsang dan membangkitkan emosi. Lalu dengan dorongan para imam mereka, orang-orang mulai lupa diri, lalu menanggalkan baju dan bersetubuh satu dengan yang lain. Percabulan disetujui bahkan dilakukan saat ibadah. Itu sebabnya Allah memutuskan harus menumpas mereka agar umat Tuhan tidak tercemar oleh cara mereka yang mematikan. Kalau orang-orang seperti ini tidak ditumpas, dunia sudah penuh dengan semua penyakit kelamin dan juga AIDS. Ini bukan masalah evolusi agama atau Allah kurang bermoral. Justru demi menegakkan moral yang suci dan kudus, pembunuhan ini harus dilakukan. Penumpasan ketujuh suku ini adalah wujud kasih-Nya kepada umat manusia, dan otoritas-Nya di dalam mengatur dunia ciptaan-Nya.

Etika Berkenaan dengan Hukum Keenam
1. Peperangan
Perang bukanlah hal yang Tuhan restui, tidak menjadi berkat, dan tidak sesuai dengan kehendak Allah. Tidak ada agama yang menyetujui peperangan. Siapa yang melakukan kekerasan akan menuai kekerasan. Tetapi itu tidak berarti tidak ada peperangan dan tidak ada orang beragama yang berperang. Mao Zedong mengatakan kalau agama tidak menolong apa-apa dan tidak bisa menghentikan peperangan maka agama perlu dienyahkan. Tetapi dia sendiri akhirnya lebih kejam dan lebih suka kekerasan; seharusnya dia konsisten mengenyahkan dirinya. Bagi Theologi Reformed, agama adalah suatu bentuk anugerah umum yang Tuhan pakai untuk mencegah kejahatan yang lebih besar.

Apakah orang Kristen boleh berperang? Ketika menembak mati musuh, apakah melawan hukum keenam? Hanya satu kali pertanyaan ini muncul di Alkitab, ditanyakan oleh seorang serdadu Romawi yang bertobat dan dibaptis kepada Yohanes Pembaptis. Yohanes menjawab dua hal: 1) Cukupkan dengan apa yang ada padamu agar tidak menyalahgunakan pedang yang dipegangnya; 2) Jangan pakai pedang untuk menindas. Kedua hal ini adalah etika militer. Di sini jelas bahwa Yohanes tidak melarang orang untuk berperang. Terkadang perang diperlukan. Di dalam Alkitab Perjanjian Lama umat Tuhan juga berperang. Ini bagaikan tugas seorang algojo yang harus menjatuhkan hukuman mati demi untuk menghentikan kejahatan. Itulah cara Tuhan memelihara keadilan dan hak asasi manusia. Kalimat Yohanes mengindikasikan adanya just war (perang yang adil dan benar). Tuhan memang tidak menginginkan peperangan, tetapi peperangan terkadang diperlukan. Tuhan tidak melarang orang untuk berperang atau menjadi anggota militer.

Martin Luther melihat dua motivasi perang, yaitu 1) Defensif: Jika negaraku dijajah orang, aku tidak boleh melarikan diri dari tanggung jawab terhadap keluarga dan bangsaku yang terancam, sehingga aku harus maju berperang. Perang hanya dibenarkan jika motivasinya benar. Maka sebagai orang Kristen, kita harus menjaga hati nurani kita untuk senantiasa takut akan Tuhan. Dalam kasus ini, kalaupun seorang Kristen harus menembak atau membunuh, maka ia tidak berdosa karena ia sedang menjalankan keadilan Allah di bumi. 2) Agresif: Jika negaraku pergi menjajah negara asing maka sebagai orang Kristen aku tidak mau ikut berperang, walaupun dengan penolakan itu aku harus dihukum atau dibunuh sekalipun. Jadi, Martin Luther tidak menyetujui peperangan yang motivasinya salah. Martin Luther sangat mementingkan aspek hati nurani. Calvin lebih tajam melihat kasus ini, dalam hal ini pemegang tanggung jawab perang adalah yang bertanggung jawab kepada Tuhan. Pelaksana atau prajurit hanya menjalankan tugas dengan setia, dia tidak menanggung dosa akibat kesalahan motivasi yang salah, karena dalam peperangan dia tidak berencana untuk membunuh karena urusan pribadinya. Inilah etika perang yang kita pegang.

2. Algojo
Bagaimana dengan orang yang mengeksekusi narapidana yang divonis mati oleh pengadilan, apakah juga terhitung sebagai membunuh? Dalam kasus ini, jawaban yang kita berikan sama seperti serdadu yang berperang untuk membela negaranya, dia hanya melakukan tugas. Dengan demikian dia bukan membunuh karena benci atau ada kepentingan pribadi, tetapi karena dia menjalankan tugas keadilan yang harus dilakukannya demi menjaga keamanan dan menegakkan keadilan masyarakat.

3. Eutanasia
Eutanasia adalah bunuh diri dengan alasan yang baik. Apakah orang yang tidak lagi punya pengharapan untuk sembuh dari penyakitnya boleh mengakhiri atau diakhiri hidupnya? Prinsip yang pertama adalah jangan menahan waktu kematian seseorang hanya karena faktor emosi. Kedua, kalau waktunya untuk meninggal secara alamiah sudah tiba, relakan dan serahkan dia pada Tuhan. Kalau engkau tidak rela, tetap memperpanjang hidupnya dengan mesin misalnya, satu saat nanti mungkin terpaksa harus melakukan eutanasia — tindakan yang tak bertanggung jawab.

Sekitar tahun 1965-1969 terjadi peristiwa gempar, yaitu suami istri rektor Union Theological Seminary di New York bunuh diri bersama. Ini adalah sebuah seminari Liberal di Amerika Serikat. Ini adalah seminari yang menghasilkan seorang John Sung. Rektor dan istrinya yang sama-sama sudah lanjut usia ini tidak tahan akan rongrongan penyakit, lalu bunuh diri. Hal ini sangat menggemparkan karena rektor seminari yang begitu besar menjadi contoh. Maka, seorang tua yang sudah waktunya untuk pulang, jangan ditolong dengan cara artifisial dengan bantuan mesin-mesin. Orang tua yang dipaksa hidup seperti ini akan sangat menderita. Ada orang tua yang “dipaksa hidup” sampai menghabiskan jutaan rupiah sehingga keluarganya harus berhutang ke sana-sini. Ketika ia meninggal, anak-anaknya harus menanggung hutang bertahun-tahun. Itu terjadi karena mesin-mesin yang menopang dan anak-anaknya tidak berani menghentikannya. Maka jangan pakai alat-alat seperti ini kalau memang waktunya untuk meninggal.

4. Aborsi
Orang berdosa cenderung melakukan aborsi ketika ia hamil di luar nikah. Hal itu dikarena­kan rasa malu dan sangat mengganggu kehormatan keluarga atau rencana studinya. Alasan aborsi adalah janin itu bukan manusia atau belum manusia. Di sini kita melihat bahwa aborsi adalah tindakan yang egois dan tidak bertanggung jawab. Maka perlu dengan tegas dinyatakan bahwa aborsi seperti ini adalah dosa dan sama sekali tidak boleh dilakukan, karena membunuh manusia yang tidak mempunyai kekuatan untuk melawan. Seks itu karunia Tuhan yang indah. Tetapi jika seks disalahgunakan maka akan menjadi hal yang paling bobrok di dalam sejarah manusia. Tuhan dengan bijaksana agungnya menciptakan tubuh manusia dengan sedemikian indah sehingga bisa bergerak dengan lincah ketika melakukan hubungan seks. Sayang manusia tidak menyadari anugerah ini, melainkan hanya mau menikmati seks tanpa mau bertanggung jawab. Itu sebabnya Theologi Reformed tidak merestui seks pranikah. Hubungan seks sebelum nikah cenderung membuat orang lari dari kewajibannya. Oleh karena itu jangan mencoba-coba untuk mencicipi buah terlarang dan memungkirinya di hadapan Tuhan. Hendaklah kita menjadi dewasa dengan: a) punya tanggung jawab cukup; b) mengasihi sesama tanpa ego; dan c) berani melewati keseng­saraan yang sanggup dia pikul. Mengapa orang tega membunuh janin yang tidak punya kekuatan untuk melawan? Karena dia tidak mau bertanggung jawab, takut aibnya diketahui orang.

Tetapi bagaimana jika seorang wanita melakukan aborsi karena tidak tahan akan kepedihan dan beban berat akibat diperkosa? Haruskah dia bertanggung jawab untuk benih pria yang dimasukkan secara paksa ke dalam rahimnya? Saya pernah memberikan jawaban ini dalam acara tanya jawab pada tahun 1998, bahwa bagi orang yang belum percaya atau lemah imannya, di mana ia tidak bisa menerima fakta ini dan melakukan aborsi, kita melihat bahwa Tuhan bisa mengerti keadaan itu, tetapi tetap merupakan dosa (Kis. 17:29-31). Ketika manusia masih belum mengerti, Allah memberikan toleransi, tetapi sekarang Allah memerintahkan semua orang untuk bertobat. Ini adalah pernyataan Paulus di Atena.

Bukankah Athena adalah kota orang-orang pandai? Tetapi pandai secara dunia dianggap bodoh oleh Allah karena mereka tidak mengerti wahyu Allah. Mereka merasa diri mereka pandai, tetapi itulah kebodohan. Mereka tidak mengerti sehingga Allah tidak memperhitungkannya sebagai dosa. Tetapi kesalahan mereka yang terbesar adalah kesalahan epistemologis, kesalahan theologis. Semua nilai kebenaran manusia dan semua ideologi manusia harus didasarkan kepada pengertian theologi yang benar.

Bagaimana dengan anak yang lahir cacat karena faktor keturunan? Apakah kita boleh menggugurkannya karena tidak rela dia lahir cacat? Saya percaya kita harus tetap membiarkan dia lahir. Kalau kemudian di dalam perkembangannya dia meninggal atau cacat, kita minta Tuhan memakainya untuk menggugah hati nurani masyarakat, asal saja cacat itu bukan karena ulah kita sebagai orang tuanya. Di satu kota ada seorang ibu yang lima anaknya bisu. Menurut orang di sana, itu karena mereka tidak ingin mempunyai anak maka ibu itu minum pil kina dalam dosis yang besar. Janinnya tidak gugur, tetapi lahir cacat. Saya tidak tahu apakah alasan ini benar atau tidak, tetapi upaya mengakhiri hidup anak dengan cara demikian adalah tindakan tidak bertanggung jawab. Aborsi adalah pembunuhan berdarah dingin sehingga kita mutlak tidak dapat menye­tu­juinya. Saya bisa mengerti ketika seseorang melakukan aborsi di dalam kebodohannya, buta, tidak memiliki pilihan lain, kecuali ia meminta dokter untuk menggugurkan kandungannya, maka Allah akan menoleransi perbuatan itu, tetapi tetap memandangnya sebagai dosa. Namun, setelah itu, Allah menuntut dia untuk bertobat karena ada hal yang lebih besar di belakang itu, yaitu hari penghakiman Tuhan. Dan sebagai dokter Kristen, engkau tidak boleh melakukan aborsi atau merujuk orang ke dokter yang bisa melakukan aborsi karena itu adalah dosa. Sebagai dokter Kristen engkau harus menjadi orang Kristen yang bertanggung jawab.

Membunuh adalah perkara keji di mata Allah. Di dalam 1 Yohanes 3:15 tertulis bahwa barangsiapa membunuh manusia, tidak ada hidup kekal di dalamnya. Saat kematian yang Allah tetapkan bagi kita telah tiba, maka tidak ada yang bisa memperpanjang hidupnya. Oleh karena itu, janganlah kita membunuh karena Allah sangat membenci pembunuhan. Amin.


Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/04/sepuluh-hukum-%E2%80%93-hukum-keenam-part-3-selesai/

Ringkasan Khotbah Sebelumnya :
Hukum pertama hingga keempat berbicara tentang hukum vertikal, menyatakan relasi antara Pencipta dan ciptaan.
Hukum 1 : Akulah Allah satu-satunya jangan ada ilah lain di hadapan-Ku
Hukum 2 : Jangan Menyembah Berhala
Hukum 3 : Jangan Menyebut Nama Tuhan Dengan Sembarangan
Hukum 4 : Kuduskan Hari Sabat
Hukum kelima mulai membahas relasi antara manusia dengan manusia yang Ia cipta.
Hukum 5 : Hormati Orang Tuamu
Hukum 6 : Jangan Membunuh

Kisah Wilma Rudolph

Wilma Rudolph, lahir dari keluarga yg sangat miskin 23 Juni 1940, di-Tennesee, USA. Anak ke-20 dari 22 bersaudara. Ayahnya hanya seorang porter KA / kuli angkut barang & ibunya hanya tukang masak & cuci baju tetangga. Hidup mereka benar2 miskin. 

Di sebuah tempat terpencil di Tenessee, USA, seorang bayi perempuan lahir di tengah keluarga yang sangat miskin. Anak itu adalah anak ke 20 dari 22 bersaudara, lahir premature dan lemah. Kelangsungan hidupnya diragukan semua orang. Ketika berumur empat tahun dia menderita Pneumonia parah dan demam scarlet – sebuah kombinasi penyakit yang mematikan yang membuat kaki kirinya lumpuh dan tidak bisa digunakan. Dia harus menggunakan penyangga kaki dari besi untuk membantunya berjalan. Namun anak ini sangat beruntung karena memiliki seorang ibu yang selalu memberikan dorongan dan semangat padanya.

Ibunya yang luar biasa selalu mengatakan pada anaknya yang ternyata sangat pandai tersebut bahwa walaupun kakinya harus menggunakan penyangga, dia dapat melakukan apapun yang dia inginkan dalam hidupnya. Ibunya mengatakan bahwa untuk itu yang harus dimilikinya adalah keyakinan, kegigihan, keberanian dan semangat yang selalu menggelora.

Saat usia 4 tahun, ia menderita radang paru2 & demam tinggi yg menyebabkan kakinya lumpuh karena polio. Orgtuanya tak mampu membeli obat karena waktu itu Amerika masih ada rasiaiisme yg membuat org2 kulit hitam mendapatkan perlakuan buruk dlm kesehatan & pendidikan. Akhirnya, la harus menggunakan kruk/penyangga & dokter menyatakan bahwa kakinya akan lumpuh selamanya. Tetapi ibunya terus berdoa pd TUHAN & memberi keyakinan pd Wilma bahwa ia pasti normal kembali. Di-saat yg buruk, kakinya yg lumpuh semakin mengecil & hanya terjuntai ke-bawah tak bereaksi apapun. Namun Wilma terus mengucapkan kata2 iman & berkata “Aku akan menjadi wanita tercepat di-dunia di-lintasan lari.” & ia terus mencoba berdiri, walau sdh ribuan kali ia mencoba & jatuh. Ia tak menyerah.

Pada usia 9 tahun, ia nekat melanggar nasehat dokter & membuang tongkatnya & melakukan langkah pertama yg menurut dokter2 takkan pernah dapat dilakukannya. Selama 3 tahun ia terus mencoba melangkah, berjalan & berlari. Pada usia 13 tahun ia mengikuti lomba lari pertama kalinya & menjadi peserta satu2nya yg berkaki tak sempurna. Ia kalah. Tapi Wilma terus melaju. Ia terus bertanding di-ratusan lomba & mengalami ratusan kekalahan. Hingga suatu hari ia berhasil menang lomba lari dlm satu kejuaraan Provinsi yg membuatnya berhasil meraih beasiswa di-Tennesee State University & mempertemukannya dgn seorang pelatih atletik bernama Ed Temple.

Wilma melanjutkan sekolahnya di Tenessee State University di mana dia bertemu dengan seorang pelatih bernama Ed Temple. Ed Temple melihat semangat yang menggelora pada diri Wilma dan dia juga melihat sebuah bakat natural dalam diri Wilma. Dia melatih Wilma sampai Wilma terpilih untuk masuk dalam Tim Olimpiade Amerika.

Dalam sebuah perlombaan lari Wilma harus bertanding melawan Jutta Heine, sorang pelari asal Jerman yang merupakan pelari terhebat saat itu. Tak seorang pun bisa mengalahkan Jutta, namun dalam nomor lari gawang 100 meter, Wilma Rudolph memenangkan pertandingan. Dia mengalahkan Jutta lagi pada nomor lari 200 meter. Sekarang Wilma memenangkan 2 medali emas.

Akhirnya di nomor lari 400 meter estafet, Wilma bertemu Jutta lagi. Dua pelari pertama dalam team Wilma melakukan estafet tongkat dengan sempurna, namun saat pelari ketiga menyerahkan tongkat pada Wilma, dia menjatuhkannya karena sangat tegang. Wilma melihat Jutta sudah berlari di lintasan mendahuluinya. Dalam situasi seperti itu sangatlah tidak mungkin untuk mengejar dan mendahukui pelari sekleas Jutta. Namun akhirnya Wilma melakukannya, dia kembali mengalahkan Jutta Heine. Wilma Rudolph berhasil memenangkan 3 Medali Emas Olimpiade Roma Tahun 1960 !!! Bersama Tim Estafetnya Wilma mencetak Rekor Dunia Lari 400 meter Estafet!!!

Julukan yang diberikan pada Wilma Rudolph :
Orang di Amerika menyebutnya “The Tenessee Tornado”
Orang Italy menjulukinya “La Gazella Nera” (Si Gazelle Hitam)
Orang Perancis memberi nama “Le Perle Noire” (Si Mutiara Hitam)
Wilma berkata pada Ed “Saya ingin menjadi wanita tercepat dilintasan atletik dunia.” Dibawah bimbingan Ed, Wilma terus berlatih siang malam, mengatasi berbagai rintangan, bertanding dalam ratusan lomba & terus melaju hingga akhirnya Sejarah mencatat, pada Olimpiade tahun 1960, Wilma Glodean Rudolph, Seorang wanita kulit hitam pertama yg pernah menderita polio & lumpuh, akhirnya menjadi juara Olimpiade & memenangkan 3 medali emas di-lintasan lari 100 meter, 200 meter & estafet 400 meter & menjadi wanita tercepat didunia dalam lintasan lari.

US Postal Service (USPS) mencetak perangko 23 Cent dengan gambar Wilma pada tahun 2004, sepuluh tahun setelah Wilma Rudolph meninggal dunia karena kanker di usia 54 tahun.

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/05/kisah-wilma-rudolph/

10 Nubuatan

10 Nubuatan yang Terjadi Pada Hari Kristus Disalibkan (Yohanes 19:28)
 
Kita akan melihat belasan nubuat yang khusus berkata tentang kematian-Nya. Nubuat kematian Kristus yang terjadi di Golgota, dari sejak Yudas menjual Dia sampai Kristus mengembuskan napas terakhir, di dalam beberapa jam itu saja Allah memerlukan waktu kira-kira seribu tahun untuk menubuatkan hal-hal itu. Melalui mulut Daud, Yesaya maupun pemazmur dan penulis lain, Allah telah dengan begitu limpah dan lengkap menubuatkan tentang kematian Yesus Kristus. Nubuat-nubuat yang terjadi selama seribu tahun digenapi dalam satu hari. Nubuat sepanjang seribu tahun, dikonsentrasikan di dalam satu Oknum di dalam satu hari. Jika Yesus bukan Kristus, siapakah Dia? Jika apa yang terjadi pada-Nya bukan menurut rencana Allah, maka itu terjadi menurut rencana siapa? Yohanes 19:28 berkata: “Karena Yesus tahu bahwa segala sesuatu sudah terjadi…lalu Dia berteriak: “Aku haus!” Apakah arti ayat ini? Istilah “segala sesuatu sudah terjadi”, meliputi sepuluh hal yang sudah digenapkan pada hari itu juga.
  1. Dia dijual oleh kawan-Nya sendiri (Mazmur 55:13-15), digenapi dalam Matius 26:47-56. Melalui pemazmur, Tuhan berkata bahwa jikalau musuh yang menjual-Nya, itu masih wajar. Tetapi, yang menjual Kristus adalah kawan yang dekat, yang dipercaya. Yesus tidak dijual oleh orang Farisi, tetapi justru dijual oleh Yudas, yang siang malam selama tiga setengah tahun ada bersama dengan Dia.
  2. Dia akan dijual dengan tiga puluh keping perak (Zakharia 11:12), digenapi dalam Matius 26:15-16. Yudas telah menjual Yesus dengan upah tiga puluh keping perak. Yudas sudah menerima pikiran dari Iblis dan menetapkan hatinya untuk berbuat kejahatan serta menjual Yesus Kristus. Yudas sudah mengambil tekad yang tidak akan berubah.
  3. Penggembala harus dibunuh dan domba-dombanya akan bercerai-berai (Zakharia 13:7), digenapi dalam Matius 26:56. Siapakah Yesus Kristus? Dia adalah Gembala. Gembala yang besar, Gembala yang sulung. Tetapi, Alkitab berkata bahwa Gembala itu akan dibunuh dan domba-domba-Nya akan bercerai-berai ke sana-kemari. Pada waktu Yesus Kristus ditangkap, murid-murid-Nya pergi ke sana-kemari. Pada waktu dipaku di atas kayu salib, Dia tahu bahwa Dia akan menggembalakan domba-domba-Nya. Dan domba-domba di luar kandang akan dibawa-Nya kembali untuk bersatu dengan domba-domba yang sudah ada di dalam kandang (Yohanes 10:16). “Akulah Gembala yang baik, Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yohanes 10:11). Yesus tahu bahwa diri-Nya adalah Gembala yang dipukul, yang dilukai. Waktu dipaku di atas kayu salib, baik Petrus, Andreas maupun murid-murid-Nya yang lain yang biasanya melayani Dia dengan giat kini tidak ada. Orang-orang Kristen yang biasanya sibuk melayani di dalam persekutuan kini tidak kelihatan lagi bahkan bayang-bayangnya sekalipun tidak. Karena apa? Karena sudah dinubuatkan bahwa domba-domba-Nya akan berkeliaran ke sana-sini dan tersesat. Gembala yang baik sudah dipukul. Yesus tahu bahwa nubuat ini sudah tergenapi.
  4. Mesias akan dituduh dan difitnah oleh saksi-saksi dusta. Tuduhan-tuduhan itu akan menjadi penodaan bagi-Nya, tetapi Dia tidak berbicara apa-apa karena Dia rela menerima tanpa membalas segala perkataan jahat yang ditimpakan kepada-Nya. Ini dinubuatkan oleh Tuhan melalui nabi- Nya dalam Mazmur 109:2-5 dan penggenapannya berada dalam Matius 27:12. Pada waktu disalib, Dia melihat bahwa hal ini sudah terjadi. Semua tuduhan orang Yahudi yang ditimpakan kepada Yesus, didengarkan oleh Pilatus. Sebagai orang Romawi, tuduhan bahwa Kristus melakukan penghujatan terhadap Allah tidaklah penting bagi Pilatus. Tetapi, bagi orang Yahudi, hal itu sebaliknya. Bagi orang Yahudi, Yesus yang berani menyebut diri sebagai Anak Allah yaitu Kristus, adalah seorang penghujat. Itu adalah dosa besar! Satu-satunya manusia yang di hadapan umum berani mengatakan bahwa diri-Nya mengampuni dosa orang lain (Matius 9:1-3, Markus 2:6-7) dan di hadapan umum berani mengatakan bahwa diri-Nya adalah Yesus Kristus Anak Allah (Yohanes 5:17-18). Tuduhan menghujat Allah yang didengar oleh Pilatus, tidaklah penting. Baginya, Yesus itu Anak Allah atau bukan, tidaklah penting. Yesus itu Kristus atau bukan, tidaklah penting. Tetapi, kalau Yesus mengatakan bahwa diri-Nya adalah Raja orang Yahudi, maka tuduhan itu menjadi penting bagi Pilatus, karena saat itu orang Yahudi ada di bawah jajahan orang Romawi. Pilatus adalah salah satu gubernur Romawi. Bagaimana jika ternyata Yesus adalah raja baru bagi orang Yahudi? Apakah Dia akan mengganti kedudukan Herodes? Bukankah Herodes adalah raja boneka orang Yahudi yang ditunjuk dan dikuasai oleh pemerintah Romawi? Bukankah Yesus ingin mengadakan suatu pemberontakan politis? Bukankah Yesus ingin mengadakan revolusi? Karena itu, Pilatus bertanya kepada-Nya: “Engkaukah raja orang Yahudi?” (Lukas 23:3). Yesus Kristus menjawab Pilatus: “Aku dilahirkan dalam dunia sebagai Raja dan Aku bersaksi tentang kebenaran” (lihat Yohanes 18:37-38). Pilatus bertanya lagi kepada Yesus: “Apakah kebenaran itu?” Pilatus bertanya demikian karena dia memunyai satu dasar atau tradisi pengenalan kebenaran ala Romawi yang dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani. Istilah “kebenaran” (Yunani = aletheia) adalah satu istilah yang maknanya terus dicari oleh filsuf-filsuf Yunani seperti Protagoras, Georgias, Sokrates, Plato, Aristoteles, orang-orang Stoik, orang-orang Epikurian dan sampai Pilatus. Mungkin Pilatus pernah menerima pengaruh dari Seneca atau pemikir Yunani yang lain. Jika orang-orang Romawi sudah dipengaruhi oleh filsafat Yunani yang begitu dalam menyelidiki tentang kebenaran, maka kebenaran macam apakah yang Yesus berani katakan, demikian pikir Pilatus. Bukankah Yesus berkata bahwa kedatangan-Nya adalah untuk bersaksi tentang kebenaran? Apakah kebenaran? Pilatus hanya bertanya dan tidak menantikan jawabannya. Inilah sikap manusia yang tidak menghormati Tuhan. Dan Tuhan Yesus juga tidak menjawab Pilatus. Kini di atas kayu salib, semua umpatan-umpatan, fitnahan-fitnahan maupun segala olokan sudah terlewati. Nubuat keempat sudah lewat.
  5. Orang-orang akan mencambuk, memukuli, melukai serta meludahi muka-Nya. Berapa kali Kristus menerima segala penghinaan, dera dan fitnahan? Pada waktu Kristus dihadapkan kepada Herodes, Herodes mengharapkan agar Dia mengadakan mukjizat di hadapannya (Lukas 23:8). Tetapi, di hadapan tentara Herodes, tidak ada satu mukjizat pun yang akan diadakan-Nya untuk pamer ataupun untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia. Herodes adalah manusia yang ingin mengetahui mukjizat dan menyuruh Allah melayani dia. Herodes ingin supaya Yesus Kristus mendemonstrasikan dan memamerkan kuasa-Nya kepada dia. Di atas Golgota, tidak ada hal ini. Di atas sengsara Kristus, tidak ada hal ini. Pada waktu Yesus Kristus mendengarkan perkataan Herodes, Dia diam dan tidak menjawabnya. Dia memutar tubuh-Nya. Pukulan dan cambukan datang menghantam tubuh-Nya. Dia menerima segala pukulan dan cambukan yang merobek-robek daging dan kulit-Nya. Dia tetap membiarkan mereka. Nubuat sudah mengatakan bahwa Mesias akan membiarkan mereka memukul Dia dan membiarkan supaya badan-Nya dicambuk (Mikha 5:1, Yesaya 50:6). Dengan bilur-Nya, Anda dan saya disembuhkan (Yesaya 53:3-8). Di dalam bilur-Nya ada keselamatan yang lengkap bagi kita. Penderitaan Kristus sudah dinubuatkan kira-kira tujuh ratus tahun sebelumnya dan itu digenapkan dalam Matius 26:67-68; 27:30. Inilah nubuat kelima yang sudah tergenapi.
  6. Dia akan dihukum beserta dengan perampok-perampok. Kristus akan dihukum dengan para kriminal. Bahasa asli Ibrani menunjukkan bahwa Mesias akan mati di antara orang-orang (bentuk jamak) kriminal. Nubuat ini ada tujuh ratus tahun sebelum Yesus disalibkan (Yesaya 53:9, 12) dan digenapi dalam Markus 15:7, 28.
  7. Tangan dan kaki Mesias akan ditusuk. Orang-orang tidak akan mengerti bagaimana cara Mesias akan mati meskipun Perjanjian Lama sudah jelas mengatakan hal ini. Sampai pada suatu hari Kristus mati, barulah kita mengetahui bagaimana Kristus akan mati. Kristus mati dengan tangan dan kaki tertembus paku. Masa, cara mati Kristus juga dinubuatkan dalam Alkitab? Ya, memang dinubuatkan. “Kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku. Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku” (Mazmur 22:16-17). Mazmur ini ditulis kira-kira seribu tahun sebelum Yesus dipakukan di atas kayu salib. Orang akan menusuk tangan dan kaki-Nya. Nubuat tentang penderitaan Mesias yang paling penting terdapat dalam Mazmur 22. Lalu, di manakah ayat-ayat yang menggenapi hal ini? Di dalam ketiga Injil sinopsis (Matius, Markus, Lukas) tidak dikatakan bahwa tangan Yesus ditusuk. Tetapi, Injil Yohanes mencatat bahwa setelah Yesus bangkit dan menampakkan diri kepada murid-murid-Nya, maka salah satu dari murid yang bernama Tomas tidak percaya hal ini. Akhirnya, Tomas bertemu dengan Tuhan Yesus dan melihat dengan jelas bekas paku di tangan dan bekas tusukan tombak di lambung-Nya (Yohanes 20:25-29). Tomas tidak ada pada hari pertama kebangkitan Yesus. Tetapi, pada hari ke delapan dari kebangkitan-Nya, Ia menemui Tomas dan menunjukkan kepadanya bekas tusukan paku.
  8. Pakaian-Nya akan direbut dan dibagi-bagi di antara orang-orang yang menyalibkan Dia (Mazmur 22:18), hal ini digenapi dalam Yohanes 19:23-24.
  9. Dia berdoa untuk orang-orang kriminal yang disalibkan bersama-sama Dia (Yesaya 53:12). Ini digenapi dalam Lukas 23:34: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
  10. Kegelapan menudungi Kristus (Amos 8:9), ini tergenapi dalam Matius 27:45.
Sepuluh nubuat yang besar tentang kematian Kristus sudah tergenapi dalam satu hari. Sepanjang seribu tahun sebelum Kristus lahir ke dunia, sudah ada nubuat-nubuat tentang bagaimana Dia akan mati. Semua nubuatan itu terkonsentrasi pada satu Orang. Dan kini Kristus menggenapi semua nubuat itu. Apakah ini suatu kebetulan? Tidak. Ini semua menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah Mesias. Selain sepuluh nubuat di atas, masih ada tujuh nubuat yang penting tentang kematian Kristus. Satu nubuat yang sedang terjadi kini adalah kehausan. “Aku haus!” Pada waktu Alkitab mengatakan, “Pada waktu Yesus mengetahui bahwa segala hal ini sudah terjadi, berkatalah Ia supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: `Aku haus!`”


Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/05/10-nubuatan/