Rabu, 23 Juli 2014

Ketakutan Yang Benar (Bagian III)

Pdt. Dr. Stephen Tong
Apa Penyebab Ketakutan?

1. Ketakutan Dari Perubahan 
Ketakutan pertama-tama datang dari suatu perubahan lingkungan dan situasi yang terlalu drastis, sehingga kita tidak tahu bagaimana harus mengatasi kondisi tersebut. Dari suara besar yang membuat bayi bangun dan menangis, kita mengetahui tentang adanya hal ini. Sesuatu yang berubah secara mendadak dan drastis akan menimbulkan ketakutan. Apalagi, perubahan itu berada di luar kemampuan kontrol kita. Itu akan menyebabkan kita takut.

2. Ketakutan dari transendensi Pengalaman 

 Ketakutan dari berbagai pengalaman yang melampaui pengalaman kita sebelumnya. Sesuatu yang tidak pernah kita alami sebelumnya, namun dalam bayangan kita itu begitu besar, melampaui semua pengalaman kita sebelumnya, akan membuat kita takut. Bagi orang yang sudah mengalami hal itu, maka kejadian itu dianggap biasa. Tetapi bagi kamu yang belum pernah mengalami, maka pengalaman itu merupakan pengalaman yang menakutkan. Bagi dia, pengalaman-pengalaman seperti itu tidak mengganggu, karena dia sudah sering kali mengalami hal itu. Dan kita akan merasa aman dan kurang rasa takut jika kita mengikuti orang-orang yang sudah berpengalaman. Namun jika ada hal-hal yang berada di luar pengalaman kita, dan di luar jangkauan yang bisa kita kuasai. Kita akan takut. Sesuatu yang bersifat transenden itu menakutkan. Oleh karena itu, pengalaman itu begitu penting, karena pengalaman tidak bisa diganti dengan pengetahuan rasional. Silahkan belajar banyak buku, namun jika kamu belum mengalami sendiri. Kamu akan tetap bodoh. Jangan beranggapan kalau kita sudah sekolah sampai tingkat yang tinggi dan membaca banyak buku, walaupun tanpa pengalaman, kita adalah orang pandai. Orang yang terjun langsung di ladang, yang menghadapi berbagai kesulitan dilapangan, yang betul-betul bekerja keras, lalu dari situ dia menyerap pengetahuan dari ladang kerjanya, barulah dia berhak menulis buku. Dunia bukan diubah oleh mereka yang akademis, tetapi dunia diubah oleh orang-orang yang mempunyai pengalaman, lalu pengalaman ini dijadikan teori, dan dia kemudian menulis buku untuk menggarap orang-orang akademis.

Pengalaman itu berarti sesuatu yang harus kita lewati. Dibakar atau dimurnikan di dalam api adalah kewajiban setiap generasi. Terkadang kita membiarkan anak kita melewati kesulitan dan akhirnya menjadi lebih waspada karena sudah mengalami. Terkadang jika ada api kecil, lalu anak kita mau main-main dengan api itu, biarkan saja. Nanti kalau dia terlalu banyak dihalangi, dia tidak akan pernah merasakan dan mengerti panasnya api itu, akhirnya terkena api kecil dan merasakan panasnya, maka dia berteriak dan menangis. Setelah itu dia tidak lagi berani bermain dekat api. Biarkan anak-anak itu mempunyai pengalaman sendiri. Seorang dokter mengatakan kepada saya bahwa dia membiarkan anaknya naik pohon. Lalu saya tanya,”Bagaimana jika kemudian dia jatuh dan patah kaki?” Dia menjawab,”Ya saya sambung,” Lebih baik punya pengalaman naik pohon dan jatuh, ketimbang tidak punya pengalaman naik pohon dan jatuh, ketimbang tidak pernah punya pengalaman naik pohon. Hal-hal yang melampaui pengalaman membuat kita takut. Semakin dini kita mempunyai banyak pengalaman, sehingga akan mengurangi perasaan takut kita. Hal sedemikian akan membuat kita tidak takut lagi seumur hidup.

Ketika anak saya berusia empat tahun, saya bawa kesebuah jalan yang sangat ramai. Saya ajar dia menyeberang. Saya beritahu kapan dia harus menyeberang. Lalu kemudian kembali lagi. Setelah sepuluh kali menyeberang, maka dia sudah tahu kapan dia harus menyeberang, sering kali anak bayi diberikan ketenangan, dijaga dari suara keras. Nanti kalau mendengar anjing kentut, dia langsung sakit jantung. Mark Twain dari Amerika Serikat menjelajah 70 macam pekerjaan, sehingga seumur hidupnya dia mengerti begitu banyak bidang pekerjaan. Dengan demikian, ketika dia menulis sastra dan novel, maka dia bisa menjelajah ke semua bidang yang ingin dibicarakannya dengan penuh kekayaan bahasan. Jika kamu tidak memiliki pengalaman apapun, maka kamu akan menjadi orang yang sangat lugu dan bodoh di masa depan, karena banyak hal yang kamu tidak mengetahuinya. Kita takut keluar dari pengalaman kita, kita takut keluar dari rasa aman kita. Inilah yang membuat kita takut. 

3. Ketakutan Terhadap Kekuatan Penghancur 

Kita takut terhadap kekuatan-kekuatan yang bisa menghancurkan (Destructive power). Begitu kita melihat sesuatu yang besar dan bisa menghancurkan, maka kita takut. Ketakutan ini adalah ketakutan yang mengandung emosi agama. Hinduisme mengenal tiga dewa utama, dewa brahma sebagai dewa pencipta, dewa wishnu sebagai dewa pemelihara, dan dewa Syiwa adalah dewa penghancur. Bagi orang Hindu, kekuatan penghancur ini merupakan kekuatan yang sangat menakutkan. Maka dewa Syiwa dianggap dewa yang paling besar. Orang harus takut kepada dewa ini karena takut dihancurkan. Ini merupakan ketakutan yang bersifat agamawi.

 Di dalam Alkitab kita takut kepada Tuhan Allah bukan di dalam arti demikian. Kita mengenal arti ketakutan yang lebih tinggi daripada ketakutan agamawi yang menghancurkan. Emosi rohani dalam iman Kristen jauh lebih tinggi daripada emosi penghancur yang ada dalam agama-agama lain. 

4. Ketakutan Terhadap Hukuman 

Ketakutan keempat adalah ketakutan akan hukuman. Inilah paradoks kehidupan: Ketika seorang berbuat dosa, dia tidak takut. Tetapi ketika dia harus dihukum akibat dosanya itu, dia menjadi takut. Ini sikap orang yang kerdil. Sebaliknya seorang yang agung takut berdosa, tetapi tidak takut hukuman. Bagi seorang yang agung, berbuat dosa haruslah dihindari. Tetapi jika dia sudah berbuat salah, dia tidak takut menghadapi akibat dari perbuatannya. Inilah perbedaan antara orang yang agung dan orang yang kerdil.

Orang agung tidak takut hukuman jika tidak bersalah. Orang kerdil takut hukuman tetapi tidak takut berdosa. Begitu banyak perampok yang ketika merampok, gagah sekali, berani sekali, kelihatan galak sekali dan perkasa sekali. Tetapi ketika divonis 30 tahun penjara, dia menangis, sikap apakah ini? Tangisan apakah ini? Ini suatu kelicikan dan kekerdilan. Suatu kesedihan yang tidak ada artinya. Kesedihan demikian tidak bernilai karena kesedihan ini adalah kesedihan karena takut dihukum. Kesedihan ini merupakan kesedihan yang sangat hina. Sebaliknya kesedihan karena takut berbuat dosa adalah kesedihan yang sangat anggun.

Orang Kristen harus dapat membedakan kedua hal ini. Kalau kita salah, kita harus takut. Tetapi kalau kita tidak bersalah, dihukum sekalipun kita tidak perlu takut. Inilah jiwa Krsiten. Petrus akhirnya disalibkan sampai mati. Orang yang dihukum salib menurut hukum romawi, adalah orang-orang yang berbuat dosa sangat berat, seperti seorang pembunuh, atau penghianat bangsa, atau pemberontak. Petrus tidak berbuat sedemikian. Dia tidak merampok, tidak membunuh, tidak menghianati bangsa, juga bukan pemberontak. Dia disalib hanya karena mengabarkan injil. Apakah dia meminta tolong, meminta pengampunan, supaya jangan disalib? Tidak! Di dalam cerita-cerita Tiongkok, juga di dalam berbagai cerita sejarah atau di film, kita melihat orang-orang yang mau dihukum selalu berlutut meminta pengampunan. Begitu kasihan, bahkan lebih kasihan daripada seorang pengemis. Tetapi di dalam Kekristenan tidak ada sikap sedemikian. Jika kita tidak berbuat salah, lalu kita mau disalibkan, kita akan menghadapinya dengan tegar, tanpa rasa takut. Petrus, ketika disalibkan mengajukan satu permintaan, yaitu dia tidak mau disalibkan dengan cara yang biasa, tetapi minta disalibkan dengan cara terbalik, dengan kepala di bawah. Mengapa? Karena dia merasa tidak layak disalib seperti Tuhannya, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Ketika berdosa, dia takut, tetapi ketika dihadapkan pada hukuman bukan karena dosa, dia tidak takut. Inilah semangat, jiwa dan iman Krsiten yang sesungguhnya. 

5. Ketakutan Terhadap Orang Jahat 

Kita takut sekali kepada orang jahat. Maka cara di dunia ini adalah memakai orang yang lebih jahat untuk menakuti dan menghadapi orang jahat. Kalau kamu mempunyai gang yang kuat untuk menakut-nakuti saya, maka saya akan mencari bantuan pada gang yang lebih besar dan lebih kuat lagi untuk menghadapi kamu. Inilah cara orang jahat menghadapi orang jahat. Inilah cara orang dunia menghadapi orang jahat. Lalu, kita juga merasa kuat dan sombong jika kita ditopang dan dijaga oleh orang-orang jahat tersebut.

Ada sebuah restoran yang sangat ramai di tepi jalan yang juga ramai. Restoran itu tetap buka walaupun situasi cukup genting dan banyak kerusuhan. Ketika saya tanyakan, “Apakah kamu tidak takut tetap buka restoran di tempat dan situasi seperti ini?” Dia mengatakan bahwa memang banyak yang mau berusaha mengganggu restorannya, tetapi akhirnya setelah mereka tahu, mereka tidak berani melakukannya. Mengapa?” Pemilik itu mengatakan bahwa ada jenderal yang menjadi pelindung restorannya, sehingga orang-orang yang mau mengganggu itu tidak berani bertindak. Tetapi mengapa jenderal itu mau melindungi restoran tersebut? Pemilik itu mengatakan bahwa dia membayar iuran tertentu kepada sang jenderal, untuk menjadi biaya perlindungan itu.

Satu kali, ketika saya sedang makan disebuah restoran di Malaysia dengan beberapa pendeta, tiba-tiba datang seorang India yang besar sekali badannya, lalu berkata kepada saya :”Apakah kamu mengingat saya? Bukankah dulu ketika kamu pindah rumah saya yang membantu kamu pindah?” Lalu dia berkata banyak hal lain sambil tiba-tiba ikut duduk ditempat kami makan. Lalu mulai memesan beberapa makanan yang paling mahal. Teman saya mengatakan bahwa itu tidak beres, dan dia memanggil pemilik restoran dan memberitahukan masalah ini. Pemilik restoran ini seorang wanita muda yang berperawakan kecil. Dia datang lalu mengusir orang India itu keluar. Lalu kami bertanya, kenapa dia berani mengusir orang tersebut, yang badannya begitu besar. Dia mengatakan bahwa di daerah tempat kami makan itu banyak orang jahat. Tetapi bagaimana mereka bisa tidak berani? Karena di daerah itu ada orang yang lebih jahat lagi, dan dialah yang melindungi restoran ini. Ketakutan orang Kristen bukanlah ketakutan sedemikian. 

TOKOH DALAM ALKITAB YANG PERNAH TAKUT 

Sekarang kita akan melihat bagaimana Alkitab mencatat orang yang memiliki tindakan yang tidak benar akibat takut. Pertama, Adam. Adam adalah permulaan dari takutnya manusia. Dia menutup diri, menyembunyikan diri, merusak lingkungan, dan tidak mau bertemu Tuhan Allah. Banyak orang yang tidak lagi datang ke gereja karena diam-diam mulai mempunyai simpanan, mempunyai dosa, mempunyai hal yang tidak beres, maka dia tidak mau datang ke gereja. Alkitab berkata, orang yang berjalan di dalam kebenaran tidak takut terang. Tetapi orang yang hidup di dalam dosa takut ditimpa sinar terang. Itulah Adam.

Kedua, Abraham. Karena takut kepada kuasa raja dan takut dibunuh, maka Abraham berbohong dengan menyebut istrinya sebagai adik perempuannya. Dia berbohong karena takut. Kalau sudah takut, sering kita tidak jujur. Kalau sudah takut, orang rohanipun berbohong dan tidak memaparkan dengan sungguh-sungguh apa yang sebenarnya. Abraham, seorang bapa iman dan bapa rohaniah, telah berbohong berkali-kali hanya karena takut.

Ketiga, Saul. Saul takut kalau sekuritas dan kedudukannya direbut Daud. Dari ketakutan itu, timbul dua hal, yaitu iri hati dan berusaha membunuh. Takut dapat menjadi sesuatu yang fatal. Karena takut kehilangan sesuatu, maka Saul menjadi benci, iri, dan berusaha membunuh Daud.

Kita hendaklah jangan takut. Saya sebagai pimpinan tidak perlu takut kepemimpinan saya direbut atau anggota saya pergi. Kalau di tempat lain kamu merasa lebih baik, lebih dijunjung tinggi, dan mendapat fasilitas lebih baik, silahkan pergi. Kalau kamu merasa tidak mendapatkan apa-apa disini, silahkan pergi. Saya hanya takut kepada Tuhan dan menjalankan kehendakNya. Segala sesuatu saya serahkan kepada Tuhan. Begitu juga dengan rekan-rekan saya. Semua harus mengerti bahwa ini adalah gerakan penting yang menuntut kamu untuk berjuang. Ini adalah gerakan yang sangat indah, mulia, dan hormat. Saat Yesus memberi makan kepada 5.000 orang, semua orang mendekat kepada-Nya. Tetapi saat Yesus mengatakan kalimat khotbah yang sangat sulit, mereka semua pergi. Lalu Yesus berkata kepada ke dua belas murid-Nya. Dia tahu kebenaranlah yang sedang dinyatakan-Nya.

Keempat, Elia. Elia takut bukan kepada Ahab, tetapi kepada Izebel, Istri Ahab. Di dalam istana saat itu yang dominan adalah Izebel. Akan tetapi, dalam situasi bagaimana pun, di dalam sebuah keluarga Kristen, seharusnya prialah yang menjadi kepala keluarga. Pria harus menjadi contoh yang baik. Pria harus menjadi pimpinan keluarga. Pria harus menjadi contoh yang baik. Pria harus menjalankan kehendak Tuhan; istri tunduk kepada suami, anak-anak taat kepada ibu bapa. Inilah rantai otoritas (The chain of authority). Rantai otoritas yang ditetapkan Alkitab ini jangan dirusak. Ini prinsip yang penting. Walaupun yang menjadi raja adalah Ahab, tetapi yang lebih dominan adalah istrinya. Ahab memelihara 450 nabi Baal, sedangkan Izebel mempunyai 400 nabi Asyera yang dipeliharanya dengan kas negara. Lalu Elia menegur Ahab,”Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun dan hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.” Ahab menjadi marah dan lebih memilih memelihara 450 nabi sesat daripada perkataan Elia. Raja yang hanya mau dipuji itu bodoh. Elia menghadapi situasi politik yang sulit, seorang nabi Tuhan yang menghadapi 850 nabi sesat. Lebih banyak yang mendengarkan nabi sesat daripada Elia. Seluruh dunia memilih ke sana, sementara Elia mau menjaga Firman Tuhan. Inilah situasi Reformed, kita mau memelihara Firman Tuhan dengan baik tapi di dunia ini harus menghadapi begitu banyak orang yang sembarangan berkhotbah. Elia dengan teguh mempertahankan iman dan terus berdoa. Allah memihak orang yang betul-betul setia kepadaNya, tidak peduli apakah dia mayoritas atau minoritas. Allah memihak Elia sehingga benar-benar dalam 3,5 tahun tidak turun hujan di seluruh tanah Yudea dan Israel. Tanah menjadi kering, tidak ada hasil bumi, dan kelaparan melanda sehingga banyak orang meminta-minta makanan di tengah jalan.

Dalam peperangan besar di Gunung Karmel itu. Elia berkata agar air dibawa kepadanya untuk dituang ke atas tanah. Orang-orang berkata, pada saat di mana air lebih mahal daripada emas, janganlah membuang-buang air. Setelah menuang banyak air, lalu Elia berdoa kepada Tuhan,”ya Tuhan, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah ditengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu,” Lalu langsung turunlah api dari sorga membakar habis seluruh mezbah yang tadinya basa kuyup oleh air. Ahab terkejut. Kalau begini, 450 nabinya itu tidak ada gunanya, karena semuanya nabi palsu. Kuantitas banyak, apa gunanya? (Kadang orang menganggap hamba Tuhan itu gila, tapi hamba Tuhan tahu dia tidak gila). Setelah itu Elia memerintahkan Ahab untuk naik keretanya dan memasang tutupnya karena hujan akan segera turun.

Elia adalah satu-satunya nabi yang dengan penuh keberanian memerintahkan agar nabi-nabi palsu itu dibunuh dipinggir sungai sampai sungai menjadi merah . Elia begitu keras dan tidak kompromi. Ketika didengar Izebel, maka dia mengancam Elia untuk pergi dalam 24 jam. Perempuan yang gila kuasa mengancam dahulu, tapi secara psikologi, hal ini menandakan kelemahannya. Dia tidak mengatakan “Pergi, dan bunuh Elia.” Tapi dia mengatakan untuk memberitahu Elia supaya lari, membuktikan bahwa dia adalah seorang pengecut yang memakai psikologi. Waktu Elia diancam, dia lari karena takut. Hamba Tuhan paling besarpun memiliki rasa takut. Maka Perjanjian Baru mengatakan Elia sama seperti kita . Waktu berani, dia melampaui siapa pun. Tetapi tetap ada ketakutan yang tersembunyi, dan Tuhan menyatakan kelemahan Elia. Sebenarnya setelah kejadian ini, Elia tidak lagi dipakai Tuhan untuk hal besar, karena dia telah berkompromi. Tidak peduli kamu adalah hamba Tuhan sebesar apapun, pada saat kamu takut, kamu telah berkompromi. Barang siapa yang ketakutannya tidak wajar, dia dibenci Tuhan. Barang siapa yang takutnya wajar, dia diberkati oleh Tuhan. Yang kita perlukan adalah keberanian, bukan ketakutan. Dalam Perjanjian Baru, Rasul Petruspun pernah takut. Yang pertama, dia takut kepada seorang hamba perempuan hingga menyangkal Tuhan sebanyak tiga kali (Mat 26:69 dst). Ini ketakutan. Bagaimana bisa laki-laki dewasa takut kepada seorang hamba perempuan? Bisa, ini contohnya. Yang kedua, karena takutnya pada orang Yahudi, dia bersifat munafik, dan Paulus menegurnya dihadapan umum (Galatia 2: 11-14).  

KETAKUTAN YANG BENAR 

Mari kita simpulkan, bolehkah kita takut? Bagaimana seharusnya seorang Kristen dengan emosi ketakutannya? Kalau orang Kristen harus takut, apa yang harus ditakutinya? Alkitab mengatakan bahwa orang Kristen boleh takut, bahkan harus takut, tetapi harus takut yang benar. Yesus berkata, jangan takut kepada orang yang bisa membunuh tubuhmu tapi tidak bisa membunuh jiwamu. Takutlah kepada Dia yang bisa membawa jiwamu ke neraka. Orang Kristen harus takut kepada Tuhan, takut berdosa, takut kepada neraka, dan takut menyedihkan Roh Kudus. Empat hal inilah yang perlu kita takuti.
  1. Takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. Takut akan Tuhan berarti menghormati Dia, betul-betul mengagungkan perintah-Nya dan taat kepada-Nya. Inilah ketakutan yang pertama dan utama. Kita harus memiliki perasaan takut akan Tuhan, bukan sebagai Tuhan yang jahat, karena kita mau menghormati Tuhan. Kita mau dan harus menghormati bahwa Allah, mengagungkan dan menaati perintah-Nya 
  2. Takut berdosa. Ketakutan yang kedua adalah takut berbuat dosa yang dapat mencemarkan tubuh, jiwa, dan status saya sebagai manusia, atau merusak harkat saya sebagai orang suci yang mewakili Tuhan di dunia. Saya sangat takut hidup tidak suci, lalu berbagian di dalam tindakan dan perilaku yang berdosa. Saya sangat takut menodai diri dan merusak kedudukan saya sebagai wakil atau saksi Tuhan. 
  3. Takut keadilan dan hukuman Allah. Ketakutan yang ketiga adalah ketakutan dan keadilan dan hukuman Allah. Kita bukan takut hukuman karena sudah berdosa, kita akan melanggar keadilan dan kemarahan-Nya. Takut kepada kemarahan Tuhan berbeda dari sikap yang tidak takut berbuat dosa tetapi takut dan tidak mau dihukum. Saya justru takut melanggar dosa, keadilan Tuhan, sehingga mau menjaga kesucian baik-baik 
  4. Takut mendukakan Roh kudus. Ketakutan yang keempat adalah takut mendukakan roh kudus. Efesus 4 : 30 mengatakan , “Janganlah kamu mendukakan Roh kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.“ Apakah kamu sudah diselamatkan? Apakah kamu telah mengalami penebusan-Nya? Jikalau kamu sudah ditebus oleh Tuhan, maka kamu akan menerima meterai. Meterai itu adalah Roh kudus sendiri yang berada di dalam dirimu. Roh kudus bagaikan seorang ibu yang baru melahirkan dan melihat pertumbuhanmu. Kesedihan ibu yang melihat anaknya tidak taat atau tidak sehat adalah kesedihan yang suci. Demikianlah Roh kudus yang berada dalam diri kita tidak ingin kita terus hidup dalam dosa. Maka janganlah kita mendukakan Roh kudus. 

Keempat hal inilah yang perlu kita takuti. Kiranya Tuhan memberkati kita dengan emosi yang suci, dengan ketakutan yang berbeda di dalam hidup orang Kristen. Amin. 

 ...

Roti Gosong

Sebuah Apresiasi

Ketika aku masih anak perempuan kecil, Ibu suka membuat sarapan dan makan malam. Dan suatu malam, setelah ibu sudah membuat sarapan, bekerja keras sepanjang hari, malamnya menghidangkan sebuah piring berisi telur, saus dan roti panggang yang gosong di depan meja ayah. 

Saya ingat, saat itu menunggu apa reaksi dari orang-orang di situ!

Akan tetapi, yang dilakukan ayah adalah mengambil roti panggang itu, tersenyum pada ibu, dan menanyakan kegiatan saya di sekolah.  Saya tidak ingat apa yang dikatakan ayah malam itu, tetapi saya melihatnya mengoleskan mentega dan selai pada roti panggang itu dan menikmati setiap gigitannya!

Ketika saya beranjak dari meja makan malam itu, saya mendengar ibu meminta maaf pada ayah karena roti panggang yang gosong itu.

Dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang ayah katakan: “Sayang, aku suka roti panggang yang gosong.”

Sebelum tidur, saya pergi untuk memberikan ciuman selamat tidur pada ayah.  Saya bertanya apakah ayah benar-benar menyukai roti panggang gosong.

Ayah memeluk saya erat dengan kedua lengannya yang kekar dan berkata,

“Debbie, ibumu sudah bekerja keras sepanjang hari ini dan dia benar-benar lelah. Jadi sepotong roti panggang yang gosong tidak akan menyakiti siapa pun!”

Apa yang saya pelajari di tahun-tahun berikutnya adalah belajar untuk menerima kesalahan orang lain, dan memilih untuk merayakan perbedaannya – adalah satu kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh dan abadi.

Sumber : www.nusahati.com

Ketakutan Yang Benar (Bagian II)

Ketakutan Yang Benar (Bagian II)
Pdt. Dr. Stephen Tong
Ketakutan vs Iman- Pengharapan- Kasih

Ada beberapa hal penting di dalam mengerti tentang ketakutan. Ketakutan adalah perlawanan terhadap cinta kasih. Ketakutan adalah perlawanan terhadap iman percaya. Ketakutan adalah perlawanan terhadap pengharapan. Orang yang beriman, semakin besar imannya, secara otomatis akan semakin kecil ketakutannya. Orang yang berpengharapan, semakin sungguh-sungguh berpegang pada pengharapan tersebut, semakin tidak perlu merasa takut. Orang yang memiliki cinta kasih yang murni akan terhindar dari perasaan takut, karena cinta kasih mengalahkan ketakutan. Di Scotlandia pernah satu kali seorang anak kecil di bawa oleh seekor elang yang sangat besar. Elang besar itu menukik turun, bukan menyambar ayam atau binatang lain, tetapi seorang bayi yang sedang dibaringkan dipinggir sawah, karena ibunya sedang bekerja di sawah tersebut. Bayi itu diambilnya, lalu dibawa ke atas gunung. Maka seluruh penduduk itu panik sekali. Elang itu punya cakar yang kuat dan membawa anak itu kesarangnya, lalu meletakannya di sana. Elang itu belum memakan bayi itu, mungkin karena merasa bahwa “yang satu” ini lain. Orang berusaha untuk mendaki ke puncak gunung, tetapi tebing itu sangat terjal dan sulit sekali untuk bisa mencapai sarang itu. Ada prajurit yang berusaha naik, karena dia merasa cukup perkasa, tetapi akhirnya gagal. Dia turun dan menganggap anak itu pasti sudah mati dimakan elang. Beberapa pria lain juga berusaha menolong, tetapi tidak mampu. Tetapi sungguh aneh, ada seorang wanita yang sama sekali tidak menyerah dan terus berjuang untuk naik ke sarang elang tersebut. Badannya berdarah-darah terkena bebatuan di gunung itu. Akhirnya wanita itu berhasil membawa turun bayi tersebut. Seluruh tubuh wanita itu luka-luka. Tubuh anak itu juga luka-luka terkena cakar elang itu. Setelah diobati beberapa waktu, barulah mereka sembuh. Siapakah wanita itu? Tidak lain adalah ibu anak tersebut. Mengapa seorang ibu bisa lebih kuat daripada seorang prajurit? Ya, seorang ibu lebih kuat, lebih kuat dalam hal cinta kasih dibanding dengan prajurit itu. Ibu itu sangat mencintai anak yang dilahirkannya. Maka semua kesulitan dan bahaya apapun akan dilewatinya. Benarlah apa yang dikatakan Alkitab, cinta kasih meniadakan ketakutan. Sering kali kita terlalu banyak ketakutan karena kita kurang cinta kasih. Kita tidak sungguh-sungguh mencintai sesuatu yang seharusnya kita  cintai, sehingga  kita takut kepada apa yang seharusnya tidak kita takuti.
Iman juga berlawanan dengan ketakutan. Pengharapan juga berlawanan dengan ketakutan. Kasih juga berlawanan dengan ketakutan. Saya sempat menggumulkan apa saya boleh membawakan tema ini. Saya merasa patut untuk membawakan tema ini, karena selama hidup saya, saya  telah berusaha melatih diri untuk tidak takut. Saya tidak mudah takut oleh berbagai hal, ataupun takut karena diancam. Semuanya itu telah dilatih selama berpuluh-puluh tahun, sehingga saya bahkan tidak takut miskin dan tidak takut kerja terlalu berat. Itulah  yang membuat saya boleh dan berani berkata kepada kalian: “Jangan takut.”
Saya berharap semua hamba Tuhan yang berada di dalam Gerakan yang saya pimpin ini juga mengadopsi semangat ini, dan tidak sekedar belajar teori yang tinggi-tinggi di dalam sekolah theologi. Yang lulus dari sekolah theologi banyak, tetapi yang betul-betul mengerti semangat seperti ini, sangatlah sedikit.
Ada seorang hamba Tuhan GRII yang kami kirim ke luar negeri. Dia menelepon saya, memberitahukan bahwa ada hamba Tuhan lain yang juga melayani di kota itu, dan orang itu mendapat fasilitas yang jauh lebih baik, didukung oleh gereja pendukungnya dengan limpah. Karenanya, dia bisa menyediakan penjemputan bagi orang yang mau datang ke kebaktiannya. Lalu saya tanya, bagaimana dengan sikap dia setelah tahu hal itu. Dia menjawab bahwa dia tetap akan berjuang terus. Dia tidak terpengaruh dan tidak iri hati dengan orang yang mendapat banyak fasilitas itu. Saya katakan kepada dia bahwa lebih baik dia bekerja dari nol sampai  nanti betul-betul jadi. Tidak perlu takut cara orang lain  bekerja. Dan nanti ketika sudah jadi, kamu akan menjadi kuat. Suatu hari kelak kamu tidak lagi membutuhkan dukungan dari pusat. Dengan begitu barulah kamu menjadi hamba Tuhan yang kuat. Perjuangan seperti itulah yang saya harapkan ada pada hamba-hamba Tuhan di dalam gerakan ini. Bagi mereka yang tidak mau berjuang, silahkan tidak perlu berada dalam gerakan ini.
Iman berlawanan dengan ketakutan, pengharapan berlawanan dengan ketakutan, kasih berlawanan dengan ketakutan. Alkitab ingin agar kita berani, kita percaya, tidak takut. Alkitab mengatakan bahwa orang yang memiliki pengharapan bagaikan jangkar yang tertancap di tempat maha suci, dimana ada janji, di situ ada pernyataan Tuhan dan di situ ada kesetiaan Tuhan yang tidak berubah.
Alkitab mengatakan bahwa jika kamu mengasihi, kamu tidak akan takut. Pada awal saya mempelajari ayat ini, saya sulit mengerti. Sampai suatu hari saya pergi membawa 400 buah traktat, lalu sengaja dari Surabaya beli tiket kereta api ke Probolinggo, naik kereta api untuk bisa mengabarkan injil.  Dari Surabaya ke Probolinggo jaraknya sekitar 100 Km. Jadi, jika saya memberitakan Injil dan membagi traktat kepada penumpang yang naik kereta api, mereka tidak bisa lari. Kalau saya mengabarkan injil di pasar, dia bisa pergi. Kalau memberitakan Injil di pesawat terbang dia mau lari kemana? Saya mengatakan:”Tuhan Yesus mengasihi engkau, terimalah Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamatmu.” Saya tidak peduli dia beragama apa atau penganut filsafat yang mana. Ketika itu saya masih berusia 18 tahun. Saya pakai uang sendiri untuk membeli traktat, lalu membeli tiket kereta sendiri, karena saya ingin mengabarkan injil, mengasihi orang-orang yang masih belum percaya. Mereka sangat membutuhkan Tuhan Yesus.
Lalu saya mulai berdoa dalam hati sambil memejamkan mata, tidak bersuara, minta Tuhan beri kekuatan, karena mau mulai memberitakan Injil. Ketika saya selesai berdoa, mau bangun untuk mulai membagikan traktat, seorang berbadan besar datang dan duduk di depan saya. Dia seorang polisi berbintang tiga. Alisnya hitam sekali, matanya besar, dan jenggotnya lebat. Terlihat sangat galak. Wah, saya gentar. Saya berdoa,”Tuhan, saya baru saja mau memberitakan injil, mengapa yang pertama diberikan adalah seorang polisi? Saya baru mendengar bahwa kemarin teman saya dibawa ke kantor polisi karena memberitakan Injil. Mengapa Tuhan berikan polisi hari ini kepada saya?” Saya ingin kalau boleh yang pertama kali diberikan adalah seorang gadis kecil, atau seorang remaja, sehingga  saya tidak takut memberitakan injil kepadanya. Tetapi dalam hati kecil saya ada suara, “Apakah karena jenggotnya lebat, dia tidak berhak mendengar Injil ?” atau “Apakah karena dia galak, kamu tidak mengasihi dia.” Wah, itu pertama kalinya saya memberitakan Injil kepada polisi. Dan saat itu untuk pertama kalinya ayat ini muncul di dalam pikiran saya : “Di dalam kasih tidak ada ketakutan” (1 Yohanes 4 : 18). Dia juga seorang yang membutuhkan Tuhan Yesus. Kalau karena dia berbintang, berpangkat, berjenggot, lalu kamu tidak memberitakan Injil kepada dia, dimana kasihmu? Saat itu, saya merasakan sangat sulit. Sebagai seorang anak berusia 18 tahun, saya mau memberitakan Injil, mau belajar mengasihi jiwa, tetapi ada satu kesulitan, yaitu takut.
Saat itu saya sempat takut. Saya mengasihi, tetapi takut. Ayat itu kembali muncul. Maka saya minta Tuhan memberikan kekuatan supaya saya tidak takut memberitakan Injil kepadanya. Maka saya berdiri, lalu memberikan traktat kepadanya, sambil berkata:”Bapak Polisi, silahkan membaca traktat ini. Tuhan Yesus mengasihi Bapak.”Sambil berkata, jantung saya berdegup keras. Bagaimana reaksinya? Ternyata dia malah berdiri, menanyakan apa yang diberikan kepadanya. Ini namanya orang yang mengerti sopan santun. Dia menerima traktat itu dengan baik sambil menyatakan terima kasih. Dia tersenyum baik sekali. Setelah itu saya sadar, kalau polisi yang galak saja bisa menerima Injil, yang lain tidak perlu saya takutkan. Maka saya melanjutkan membagikan traktat, ke semua orang, sampai akhirnya seluruh 400 traktat itu terbagi habis. Saya memang janji di hadapan Tuhan bahwa tahun itu saya akan memberitakan Injil dan membagikan traktat kepada paling sedikit 3.000 orang.
Ketakutan Terjadi Setelah Kejatuhan       
Kita tidak berbicara tentang apa yang berkaitan dengan diri kita dulu, tetapi yang berkaitan dengan prinsip total. Ketakutan, baru adalah setelah Adam jatuh ke dalam dosa. Dalam hal ini saya tidak mengatakan bahwa ketakutan adalah akibat dosa. Tetapi ketakutan ada setelah kejatuhan Adam ke dalam Dosa. Jika ketakutan adalah akibat dosa, maka itu membuktikan bahwa ketakutan Yesus juga adalah akibat dosa. Dan itu akan membawa kita kepada kesimpulan bahwa Yesus juga mempunyai sifat dosa. Ini tidak benar. Istilah “takut,” emosi takut, baru ada dan dibicarakan setelah Kejatuhan. Yesus berinkarnasi setelah kejatuhan Adam ke dalam dosa, maka sebagai refleks saraf manusia yang normal, maka perasaan takut juga ada pada Yesus. Dengan demikian,  kondisi ini membuktikan bahwa Yesus betul-betul hidup sebagai manusia secara utuh, dengan fungsi refleks saraf yang normal pada manusia.
Adam takut, terlihat dari tindakannya di dalam dua kejadian :1) mencoba menutupi dosanya, dan 2) menyembunyikan diri dari padangan Tuhan Allah. Takut mulai ada sejak kejatuhan Adam ke dalam dosa, sehingga akibatnya, manusia berusaha menutupi dosanya, dan melarikan diri untuk tidak berada dihadapan hadirat Allah.
Anak saya yang paling kecil ketika berusia dua tahun lucu sekali. Kalau dia baru berbuat salah, matanya menatap saya, langsung dia menunduk sambil memutar tidak mau melihat. Dia memejamkan mata sambil memutar badannya, lalu dia menempelkan mukanya ke lemari, tidak mau melihat saya. Setelah dua menit, dia berusaha mengintip. Lucu sekali. Ketika dia tahu saya masih melihat dia, cepat-cepat dia menutup lagi matanya, lalu menempelkannya lagi ke dinding lemari. Dia tahu kalau dia akan dimarahi. Perasaan takut itu  muncul setelah manusia bersalah, sudah jatuh ke dalam dosa. Yang paling celaka, manusia setelah berbuat dosa, tetap tidak memiliki perasaan takut. Orang seperti ini mempunyai pengharapan besar untuk masuk neraka.
Adam takut, Adam malu, karena dia telah berbuat dosa. Maka dia menutup tubuhnya dengan daun. Ini pertama kalinya Adam merusak lingkungan, merusak tatanan alam di taman Eden. Problematika bagaimana menangani kerusakan lingkungan baru dibahas menjelang akhir abad kedua puluh. Tetapi masalah ini sudah diungkap di pasal-pasal pertama Alkitab. Manusia betul-betul bodoh, setelah beribu-ribu tahun, baru berusaha menyelesaikan suatu masalah yang telah dicatat Alkitab pada awal-awal kejatuhan manusia. Tuhan bertanya:”Dimanakah engkau, Adam?” lalu Adam menjawab :”Aku takut.” Adam takut karena dia telah jatuh ke dalam dosa.
Manusia setelah berdosa menjadi takut. Perasaan takut adalah emosi yang tidak normal. Perasaan takut adalah  emosi yang sebenarnya tidak perlu ada jika dosa tidak melanda dunia. Manusia dicipta untuk berhubungan dengan Tuhan Allah, maka tidak ada hal yang perlu ditakutkan. Manusia dicipta dengan kemampuan menguasai diri, sehingga tidak perlu ada yang ditakuti. Manusia juga dicipta sebagai penguasa alam semesta, sehingga dia juga tidak perlu takut terhadap alam. Semua binatang  ditaklukkan dibawah manusia, bahkan semua binatang yang sekarang ganas, seperti singa, harimau, beruang dan lain-lain, diciptakan untuk takluk kepada penguasaan manusia. Dengan demikian, manusia tidak perlu takut terhadap mereka. Malaikat  pun dicipta untuk melayani Allah dan manusia, sehingga manusia tidak perlu takut kepada mereka. Segala sesuatu dicipta untuk menjadi saluran anugerah bagi kita, untuk mengisi kebutuhan kita, maka tidak ada hal yang perlu ditakuti oleh manusia. Dari semua makhluk  yang ada ditengah alam semesta ini, manusia adalah ciptaan yang paling dikasihi. Manusia menjadi satu-satunya makhluk yang berada ditengah-tengah Allah dan alam. Kita menjadi pengantara, menjadi seorang iman yang berada diantara Allah dan alam. Dengan demikian, tidak ada alasan sedikit pun bagi manusia untuk takut.
Tetapi setelah manusia jatuh ke dalam dosa, manusia menjadi takut. Manusia berusaha menutup diri, dan merasa dingin. Maka taman itu mulai terasa dingin (Kejadian 3:8). Ini semua merupakan kondisi yang tidak normal, yang mulai terjadi akibat dunia sudah jatuh ke dalam dosa. Kondisi abnormal ini mulai terjadi setelah kejatuhan. Kejatuhan membuat putusnya hubungan antara Allah dan manusia. Semakin jatuh, semakin putus, dan itu menimbulkan ketakutan. Adam takut bertemu lagi dengan Tuhan. Inilah akibat dosa, putusnya hubungan dengan Allah. Mulai dirasakan perlunya Atheisme adalah karena dosa. Jika tidak ada Tuhan Allah, maka saya tidak perlu dihakimi. Maka, lebih baik tidak ada Allah, sehingga saya boleh sembarangan berbuat dosa. Jika Allah tidak ada, maka kebebasan saya tidak perlu harus dipertanggungjawabkan. Inilah sebab timbulnya Atheisme. Atheisme berhenti pada imajinasi dan halusinasi. Atheisme tidak pernah menjadi realitas untuk membuat Allah menjadi tidak ada. Kalau Allah menjadi ada  hanya karena kita percaya Dia ada, atau Allah menjadi tidak ada hanya karena kita percaya Dia tidak ada, maka keberadaan Allah akan bergantung pada percaya atau tidaknya kita akan keberadaan Allah. Keberadaan Allah  justru menjadi penentu bagaimana kita mau percaya atau tidak kepada Allah. Keberadaan Allah bukan akibat kita membuktikan, atau ketidakmampuan kita membuktikan, Allah ada atau tidak; tetapi keberadaan Allah menjadi penyebab kita berusaha membuktikan Allah ada atau tidak ada.
Manusia di dalam dunia ini kini mengalami perasaan takut. Perasaan takut setelah kejatuhan dimulai dari suatu perasaan takut kehilangan perasaan aman yang selama ini telah dimiliki. Jika selama ini saya hidup baik-baik, lalu datang ancaman yang mau merusak kehidupan itu, maka itu membuat saya takut. Jika sebelumnya saya hidup aman, lalu kini ada ketidakamanan yang datang kepada saya, maka saya takut. Kita tidak mau kesempurnaan relatif yang kita miliki terganggu atau dikurangi. Kita ingin keutuhan yang kita miliki terganggu atau dikurangi. Kita ingin keutuhan yang kita miliki selama ini bisa kita pertahankan, dan ketika ada ancaman terhadap keutuhan itu, kita menjadi takut. Kita takut kalau anak kita yang baik-baik akan meninggal. Kita takut kalau uang kita yang sudah terkumpul dengan baik menjadi hilang. Kita takut keutuhan dan keamanan itu diganggu. Bukankah ini sikap normal? Kalau  kita menambah terus kekayaan kita, sekalipun dengan merugikan orang lain, kita tidak merasa takut. Tetapi kalau terancam kehilangan bakat dan kekayaan yang telah kita terima, walaupun dengan tidak wajar, maka kita takut. Perasaan atau emosi ketakutan kita sudah tidak suci. Kalau kita dirugikan, kita takut; tetapi kalau kita merugikan orang lain, kita tidak takut. Ini perasaan takut yang tidak sehat.
Pada usia 12 tahun, saya melihat di sekolah ada begitu banyak sepeda. Sepeda-sepeda itu diletakkan berdampingan, sehingga kalau satu roboh, maka semua sepeda secara beruntun akan roboh juga. Satu kali ada seorang siswi yang menjatuhkan sepeda, lalu beruntun seluruh sepeda jatuh. Dia sangat ketakutan. Tetapi seorang temannya mengatakan:”ah tidak apa-apa,” sehingga siswi ini merasa terhibur. tetapi kemudian kalimat itu dilanjutkan:”Karena bukan milik saya.” Bagi dia, sepeda itu jatuh tidak apa-apa, karena bukan miliknya. Kalau itu miliknya, dia akan marah sekali. Inilah dosa. Mengapa kalau kamu mengganggu sekuritas orang lain, kamu tidak takut; sementara kalau sekuritasmu diganggu, kamu takut? Manusia sering berdalih, biarlah seluruh dunia bangkrut, asal milik saya tidak. Apakah ini hidup Kristen? Kita takut, karena kita tidak bisa memelihara keutuhan. Kita takut karena kita tidak merasa aman.
Diambil dan disalin kembali dari buku  Pdt. Dr. Stephen Tong , DLCE:  Pengudusan Emosi (Hal 115 s.d 125)

Xu Da Hui : Ini Baktiku

Xu Da Hui
Cinta seorang gadis ini terhadap ayahnya memang patut dipuji. Saat dirinya terjebak dalam kesibukan kuliah, dirinya masih menjaga ayahnya yang tubuhnya lumpuh sebagian.

Xu Da hui yang saat ini tengah belajar mendalami teknik elektro dan mekanik di Institut Bio Engineering Wuhan, terus membawa ayahnya yang sedang sakit saat ia sedang mengikuti kuliah. Tidak hanya saat ia sedang kuliah, Xu juga menjaga ayahnya saat dirinya bekerja di kantin kampusnya.
Meskipun sibuk membagi waktu mengurus orang tua dan belajar, secara mengagumkan Xu terus berada di peringkat teratas dalam hampir seluruh mata kuliahnya. “Keadaan tidak mempersulit hidup saya. Saya anak satu-satunya, jika berhenti kuliah, siapa yang akan menjaganya (ayah Xu),” ungkapnya Xu seperti dikutip Changjiang Daily, Sabtu (29/5/2010).
Xu memutuskan untuk membawanya ke kampus karena ibunya juga tidak mampu merawat sang ayah, karena sakit yang ia derita. Ayah Xu menderita pendarahan otak akut, yang menyebabkan sebelah badannya mengalami kelumpuhan parsial.
Selama merawat kedua orang tuanya, Xu selalu dipenuhi dengan jadwal yang padat. Dimulai bangun pagi untuk membeli sarapan, yang kemudian dilanjutkan membangunkan ayahnya dan mengurusnya sebelum hendak ke kampus. Perjalanan dari rumah ke kampus pun memakan waktu sekira satu jam.
Saat kembali dari kuliah pun, Xu harus disibukan kembali dengan memasak untuk makan malam bagi ibu dan ayahnya. Sebelum belajar pada malam hari mahasiswi manis ini juga membiasakan untuk memijat ayahnya selama 30 menit, sebelum sang ayah tidur.
Pihak universitas yang tersentuh dengan kisah hidup XU, akhirnya menawarkan apartemen universitas untuk keluarga Xu tinggal secara gratis. Ia juga bekerja di kantin kampus dan menjual pulsa telepon selama tiga jam, selama jeda


Sumber : www.nusahati.com

Ketakutan Yang Benar (Bagian I)

Pdt. Dr. Stephen Tong


Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Ibrani 10:35

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Yohanes 16 : 33
Perasaan takut adalah suatu emosi. Setiap orang bisa takut, karena ketakutan adalah emosi yang memang ada pada diri manusia. Perasaan atau emosi takut adalah lawan dari dua hal, yaitu Kasih dan Kebenaran. Di dalam kasih tidak ada ketakutan. Orang yang berani juga tidak perlu takut. Sekarang kita akan membicarakan masalah “takut” ini. Ibrani 10 : 35 juga bisa diterjemahkan sebagai “Janganlah kamu kehilangan keberanianmu, karena orang yang mempunyainya akan mendapatkan upah yang besar.” Juga di dalam Yohanes 16 :33, frasa “kuatkanlah hatimu” juga bisa diterjemahkan “janganlah takut di dalam hatimu, karena Aku telah mengalahkan dunia.”
Apakah Ketakutan Itu?
Pernahkah Tuhan Yesus menangis di dunia? Pernah. Pernahkah Alkitab mencatat Tuhan Yesus menyanyi? Pernah, hanya satu kali dicatat. Alkitab pernah mencatat Tuhan sedih, Alkitab pernah mencatat Tuhan marah, tetapi pernahkah Alkitab mencatat Tuhan takut?
Saya pribadi berulang kali takut, takut sekali kalau setelah saya mengerjakan semua, saya akhirnya ditolak oleh Tuhan. Mungkin anda mengatakan: “Mengapa Pdt Stephen Tong bisa takut?” Ada ayat yang sangat berbeda dengan pengertian kita, yaitu dalam Markus 14 :33 “Dan Ia membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes sertaNya. Dia sangat takut dan gentar.” Siapakah “Dia” yang disebutkan disini? Tuhan Yesus.  Ini adalah satu-satunya ayat dimana diungkapkan bahwa Yesus takut. Tidak pernah lagi dalam ayat lain atau kitab lain. Hal ini sangat berbeda dengan konsep yang ada di dalam diri banyak orang. Hampir tidak ada pendeta yang mengupas ayat ini. Karena seolah-oleh akan merusak citra kita tentang Tuhan.
Mengapa Yesus bisa sangat takut? Mengapa Allah bisa takut? Kalau Yesus juga dilanda oleh ketakutan yang sangat besar, bagaimana Dia bisa mengatakan kepada murid-murid-Nya “Jangan takut, percaya saja”? Apakah itu berarti, Tuhan Yesus hanya bisa memberi perintah yang Dia sendiri tidak bisa melakukannya? Dan Tuhan Yesus memaksakan perintah itu kepada orang lain yang mengikut Dia? Maka ada orang-orang yang berasumsi bahwa tidak aneh jika pendeta-pendeta ketakutan, karena Tuhan sendiri takut dan gentar. Jika Tuhan Yesus ketakutan, bagaimana pendeta-pendeta harus berani? Ketika di Indonesia terjadi penganiayaan, ada pendeta yang lari ke Amerika Serikat, meninggalkan domba-dombanya di Indonesia. Ketika kerusuhan Mei 1998 di Jakarta, banyak gereja-gereja di Jakarta yang mengumumkan bahwa hari Minggu itu tidak ada kebaktian, karena kebaktian diliburkan. Jikalau demikian, apa yang bisa dicela dari mereka, karena Yesus sendiri sedemikian ketakutan. Begitu Tuhan Yesus masuk ke Getsemani bersama murid-murid-Nya, Dia menjadi sedemikian takut dan gentar. Jika Yesus mempunyai emosi ketakutan seperti ini, ada hak apa sehingga kita harus tunduk untuk “tidak takut.”
Saya berharap  kita sebagai orang Kristen tidak hanya sekedar membaca Alkitab untuk menghafalkannya saja, lalu menjadikan kita sombong karena menghafal lebih banyak ayat Alkitab. Kita juga perlu mencoba mengerti secara kritis, membandingkan dan menggumulkan semua prinsip kebenaran Firman Tuhan dengan cermat dan baik. Kita perlu mempelajari apa yang Alkitab nyatakan, apa yang sulit kita mengerti, dan apa yang berbeda dari konsep normal kita di dalam beragama.
Yesus takut karena Dia betul-betul memiliki sifat manusia. Yesus takut bukan seperti ketakutan yang manusia katakan dan pikirkan. Yesus takut, tetapi Dia berjalan terus masuk ke taman getsemani. Di dalam tempat yang paling berbahaya, Yesus sama sekali tidak melarikan diri. Perasaan takut merupakan reaksi dari susunan saraf kita ketika menghadapi bahaya. Perasaan takut sedemikian adalah yang normal. Ketakutan sedemikian adalah hal yang normal. Ketakutan sedemikian bukanlah ketakutan yang abnormal atau ketakutan yang aneh. Itu merupakan sifat manusia yang sadar. Di dalam keadaan tertentu, manusia normal pasti memiliki refleksi saraf sedemikian, yang menyebabkan dia merasa takut.
Tuhan Yesus memang takut dan gentar. Dia begitu takut menghadapi keadaan yang akan terjadi dihadapan-Nya. Tetapi Dia tidak mundur, Dia tidak berhenti, Dia tetap maju, Dia masuk ke dalam taman, dan menanti orang-orang yang akan menangkapnya. Refleksi ketakutan sedemikian adalah ketakutan normal.
Ketakutan yang terdapat dalam diri manusia itu normal, hanya setelah takut, apa reaksi berikutnya? Inilah yang sangat menentukan isi dan bentuk ketakutan itu. Ketika emosi atau perasaan takut itu muncul secara mendadak, apa yang akan kita kerjakan. Jikalau Yesus tidak merasakan ketakutan apapun di Getsemani, itu berarti Dia tidak sungguh-sungguh inkarnasi. Kalau Yesus tidak memiliki ketakutan, berarti Dia hanya memiliki sifat kesempurnaan ilahi yang tidak terganggu oleh aspek kehidupan fisik di dunia ini. Ketika emosi ketakutan itu muncul, berarti Yesus adalah manusia sejati.
Kristus takut, tetapi Dia terus maju menggenapkan rencana Bapa-Nya di atas kayu salib. Ini bukanlah ketakutan yang melarikan diri, melainkan suatu refleks saraf yang natural. Ini hanya membuktikan bahwa Yesus betul-betul manusia sejati yang berinkarnasi dari Allah. Inilah tema yang penting. Setiap tema saya bahas secara serius, karena saya ingin kita mendalami suatu tema dengan benar. Apa yang sedang kita pelajari akan terus mendorong dan merangsang pikiran kita untuk semakin mengerti Firman Tuhan. Harap kita bisa dikoreksi untuk menuju kepada kesempurnaan yang dituntut oleh Tuhan.
Hak Istimewa
Di dalam pelayanan kita, sering kali kita harus menghadapi situasi yang sama atau mirip dengan situasi yang dihadapi oleh para nabi, oleh para rasul, bahkan berbagai ancaman dan kesulitan yang mirip seperti yang alami oleh Yesus Kristus. Di dalam pelayanan sering kali kita mengalami umpatan, ejekan, bahkan difitnah, dan ditimpa hal-hal lain yang mungkin dialami seorang manusia yang hidup di dalam dunia. Pernah hidup di dunia merupakan hak istimewa. Pernah hidup sebagai manusia adalah suatu hak yang sangat istimewa. Kita memerlukan keberanian untuk hidup miskin. Kita memerlukan keberanian untuk hidup dalam bahaya. Kita memerlukan keberanian ketika harus menghadapi penyakit atau bahkan kematian.
Kita adalah manusia yang pernah hidup di dunia. Hidup di dunia berarti hidup sebagai suatu proses. Kita hidup sebagai suatu pengalaman, harus dimengerti secara mendasar, Yaitu sebagai hak yang Tuhan berikan kepada kita, untuk pernah hidup sebagai manusia. Puji Tuhan, ketika dilahirkan, kita bukan dilahirkan sebagai kucing, atau anjing, atau sapi, tetapi manusia. Pernahkah kita bersyukur kepada Tuhan karena dilahirkan sebagai manusia. Ini adalah suatu hak istimewa. Tetapi dilahirkan sebagi manusia jauh lebih sulit daripada dilahirkan sebagai sapi. Dalam hal perasaan sakit,  manusia mengalami rasa sakit jauh lebih hebat dan panjang dibandingkan binatang. Sakit sedemikian lebih menderita daripada sakit yang diderita binatang. Menjadi manusia itu sangat berbahaya, tetapi sangat berbahagia. Menjadi manusia itu sangat sakit, tetapi juga menikmati banyak hak istimewa. Sungguh suatu anugerah dan hak istimewa bagi kita untuk menjadi manusia. Sebagai manusia kita dimungkinkan untuk memiliki moral yang sedemikian besar, dan akhirnya mempengaruhi berjuta-juta manusia. Tetapi kita juga bisa menjadi rusak, merusak moral banyak orang sampai dikutuki oleh bergenerasi manusia selama beratus tahun. Itu hanya bisa terjadi karena kita adalah manusia. Binatang tidak mungkin bermoral, mempesona, mempengaruhi, memberikan inspirasi kepada bangsa-bangsa, dan memberikan teladan hidup. Atau, bermain-main dengan kehidupan dan menjadi tidak jujur dan merusak. Manusia yang hanya mempermainkan diri, mencari keuntungan diri sendiri, dan merugikan orang lain, akan dikutuk oleh berjuta-juta manusia selama beratus-ratus tahun.
Apa arti menjadi manusia? Dan bagaimana menjadi manusia? Konfusius berkata, bahwa setelah dia berusia tujuh puluh tahun, barulah dia tahu bagaimana caranya tidak melanggar peraturan. Itu berarti sampai enam puluh tahun dia masih melanggar peraturan. Dia mau terus belajar bagaimana hidup menjadi manusia yang baik. Sampai usia tujuh puluh tahun dia baru tahu bagaimana menjadi manusia yang baik, lalu dua tahun kemudian dia meninggal. Konfusius baru betul-betul mengerti menjadi manusia selama dua tahun. Itulah manusia. Manusia yang paling agung dan yang diakui sebagai orang paling saleh oleh orang Tionghoa, mengakui keterbatasannya. Dia mengaku bahwa pada usia lima belas tahun, dia baru menetapkan untuk sungguh-sungguh mau belajar; pada usia tiga puluh tahun baru betul-betul bisa mempunyai pendirian dan bisa berdiri sendiri di dalam hidup; pada usia empat puluh tahun mulai tidak mungkin bisa diganggu oleh hal-hal yang sesat atau ajaran yang tidak beres; pada usia lima puluh tahun dia sudah mulai bisa mengerti mandat sorga, sehingga tidak sembarangan mengerjakan hal-hal duniawi; pada usia enam puluh tahun, telinganya sudah tidak lagi dipengaruhi oleh kritik dari berbagai orang; dan pada usia tujuh puluh tahun dia mengerti bagaimana tidak melanggar aturan dan hidup secara benar. Lalu meninggal pada usia tujuh puluh dua tahun.
Berbeda total dengan Tuhan Yesus Kristus, Seumur hidup Dia tidak bercacat cela. Dari lahir sampai mati Dia hidup suci mutlak, sampai Dia bisa menantang para musuh-Nya, “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?” (Yohanes 8 : 46). Tidak ada yang seperti Tuhan Yesus.
Tetapi Yesus Kristus yang hidup sedemikian suci, di dalam markus 14 : 33 dicatat, “Ia sangat takut dan gentar.” Kita perlu mengerti apa itu ketakutan Kristen dan bagaimana hidup sebagai seorang kristen dalam kaitannya dengan perasaan takut.  Ketakutan adalah suatu perasaan yang muncul secara impuls, lalu disimpan di bawah sadar manusia. Dan pada saat-saat tertentu, perasaan itu bisa kembali muncul, dan memberikan kesadaran ketakutan kepada orang tersebut.
Apakah itu ketakutan? Alkitab mengatakan jangan takut. Kalau kita beriman, kita tidak takut. Di dalam seluruh Kitab Suci, kata-kata “jangan takut,” kuatkanlah hatimu,”berulang kali muncul, seluruhnya 365 kali. Itu berarti cukup sepanjang tahun, setiap hari kita boleh mendapat satu kali pernyataan “jangan takut.” Kita harus bersyukur kepada Tuhan, karena firman-Nya cukup untuk mempertumbuhkan kita, dan menjadikan kita hidup baik. Tetapi banyak orang, setelah mendegar Firman Tuhan, kemudia segera melupakannya. Jika firman yang sedemikian baik dan menjadi patokan kebenaran bagi manusia, dengan mudah dilupakan, bagaimana dia bisa hidup baik?
Ada sebuah kisah yang diceritakan oleh Pdt. Dr. Andrew Gih. Seekor monyet naik ke atas pohon dan memetik buah apel. Lalu monyet ini bingung apelnya mau diletakan di mana, karena monyet tidak mengenakan baju yang ada kantongnya. Setelah monyet ini berfikir beberapa lama, maka dijepitnya buah itu dengan ketiaknya. Monyet ini berfikir itulah cara menyimpan yang paling aman. Lalu monyet ini mencari buah lagi. Ketika mengambil buah itu, buah yang ada diketiaknya jatuh. Lalu buah berikutnya itu diletakan lagi di ketiaknya. Begitu seterusnya. Dan ketika monyet ini mau pulang, dia tidak mempunyai satu buah pun, karena semua buah yang dikumpulkannya telah dijatuhkannya. Demikianlah orang yang mendengarkan khotbah, lalu segera melupakannya. Ingatlah akan Firman Tuhan, dan simpanlah baik-baik, sehingga selama hidupmu memiliki kekayaan sorgawi  yang tidak habis-habis.

Diambil dan disalin kembali dari buku  Pdt. Dr. Stephen Tong , DLCE:  Pengudusan Emosi (Hal 106 s.d 115)

Sumber : www.nusahati.com