Jumat, 15 April 2011

Cacat Fisik atau Mental ?


Suatu hari seorang Ibu sangat gembira ketika menerima telegram dari anaknya yang telah bertahun-tahun menghilang dalam perang vietnam. Apalagi ia adalah anak satu-satunya. Maklumlah anak tersebut pergi ditugaskan perang ke Vietnam pada 4 tahun yang lampau dan sejak 3 tahun yang terakhir, orang tuanya tidak pernah menerima kabar lagi dari putera tunggalnya tersebut. Sehingga diduga bahwa anaknya telah gugur di medan perang. Dapat dibayangkan betapa bahagianya perasaan Ibu tersebut, dan dalam telegram tersebut tercantum bahwa anaknya akan pulang besok.

Esok harinya keluarga tersebut telah menyiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan putera tunggal kesayangannya, bahkan pada malam harinya akan diadakan pesta khusus untuk dia, dimana seluruh anggota keluarga maupun rekan-rekan bisnis dari suaminya diundang. Karena ternyata sang Ayah dalam keluarga tersebut adalah Direktur Bank Besar yang terkenal.

Siang harinya si Ibu menerima telepon dari anaknya yang sudah berada di airport “Bu bolehkah saya membawa kawan baik saya?” Ibunya menjawab “Oh sudah tentu, rumah kita besar dan kamar pun cukup banyak, ajaklah kemari dan jangan segan-segan!”

Anaknya diujung telepon menjawab: “Terima kasih bu! Tetapi kawan saya ini adalah seorang yang cacat karena korban perang Vietnam.”

Ibunya pun menjawab cepat“Ooohh tidak jadi masalah! Hanya, bolehkah ibu tahu, bagianmana yang cacat?” – dengan nada suaranya yang agak menurun. Anak itu pun menjawab “Ia kehilangan tangan kanan dan kedua kakinya!”

Si Ibu dengan nada agak berat dan terpaksa, berkata hati-hati agar tidak mengecewakan anaknya: “Asal hanya untuk beberapa hari saja, saya kira tidak jadi masalah” lanjut si ibu.

Malah Anak pemuda itu makin menegaskan: “Bu…masih ada satu hal lagi yang harus saya ceritakan kepada Ibu, kawan saya itu wajahnya juga rusak..! Begitu juga kulitnya, sebagian besar hangus terbakar, karena pada saat mau menolong kawannya ia menginjak ranjau, sehingga bukan hanya tangan dan kakinya hancur melainkan seluruh wajah dan tubuhnya turut terbakar!”

Si Ibu dengan nada kecewa dan kesal berkata “Nak, sebaiknya lain kali saja kita mengundang temanmu itu ke rumah kita, dan untuk sementara kita usulkan saja supaya ia tinggal di hotel, kalau perlu biar ibu yang membayar biayanya.”

Namun si Anak menjawab “Bu, temanku ini ia adalah kawan terbaik saya, saya tidak ingin berpisah dari dia!”

Si Ibu kemudian menjelaskan : “Coba renungkan nak, ayah kamu adalah seorang konglomerat yang ternama dan kita sering kedatangan tamu para pejabat tinggi maupun orang-orang penting yang berkunjung ke rumah kita. Apalagi nanti malam kita akan mengadakan perjamuan malam yang akan dihadiri oleh seorang menteri dan rekan-rekan kerjanya, apa kata mereka apabila mereka nanti melihat seorang anak dengan tubuh yang cacat dan wajah yang rusak. Bagaimana pandangan umum dan bagaimana lingkungan bisa menerima kita nanti? Apakah tidak akan menurunkan martabat kita bahkan jangan-jangan nanti bisa merusak citra binis usaha dari ayahmu nanti.”

Tanpa ada jawaban lebih lanjut dari anaknya telepon diputuskan. Pada malam hari itu sudah dipersiapkan acara penyambutan yang khusus. Orang tua anak tersebut maupun para tamu menunggu kepulanganyam namun hingga jauh malam ternyata anak tersebut tidak pulang. Ibunya mengira anaknya marah dan tersinggung, karena tidak mengijinkan temannya datang dan tinggal di rumah mereka.

Pada jam tiga subuh pagi, tiba-tiba mereka mendapat telepon dari rumah sakit, dan meminta mereka agar segera datang ke rumah sakit untuk mengidetifitaskan mayat dari seorang pemuda yang bunuh diri. Terlihat jelan tanda-tanda dari barang-barang pemuda tersebut kalau ia adalah bekas tentara perang di Vietnam. Ia telah kehilangan tangan dan kedua kakinya dan wajahnyapun telah rusak karena kebakar. Tadinya mereka mengira bahwa itu adalah tubuh dari teman anaknya, namun betapa kagetnya mereka ketika mereka mulai mengenali dengan pasti bahwa ternyata tubuh pemuda tersebut adalah anak mereka sendiri! Karena ingin membela nama dan status kehormatan keluarga akhirnya mereka harus kehilangan putera tunggalnya yang selama ini menghilang dan di kira meninggal!

Pesan Moral:

Terkadang begitu sulit bagi seseorang untuk menerima orang yang memiliki cacat kecuali mungkin kalau suatu peristiwa tragis atau pengalaman menyakitkan yang sama-sama kita alami. Sang pemuda itu sesungguhnya hanya mengalami cacat fisik yang membutuhkan pernerimaan dan kasih sayang. Namun ke dua orangtua mereka bukan mengalami cacat fisik namun lebih cenderung sakit mental yang tidak sanggup menerima kekurangan orang lain, dan pada saat bersamaan merupakan kekurangan yang berdampak pada kerugian yang tragis. Terkadang apa yang kita bela dalam hidup ini bukanlah sesuatu yang berguna bagi kita atau bagi orang lain.

Tidak ada komentar: