Selasa, 29 Januari 2013

Sepuluh Hukum – Hukum Kedelapan (Bagian 2)



Hukum kedelapan harus kita mengerti secara luas, tidak sekadar mengambil barang atau uang milik orang lain. Dasar dari mencuri adalah tamak, dasar dari tamak adalah egois, dan dasar dari egois adalah hidup yang berpusat pada diri, menganggap diri sendiri yang paling penting. Akibatnya, ia tidak mau menjalankan kehendak Allah, memerhatikan orang lain, atau merasa puas dengan apa yang ia sudah miliki. Mencuri adalah pelanggaran hak asasi orang lain. Hak kepemilikan dilindungi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena secara mendasar setiap orang berhak untuk memiliki sesuatu. Hak kepemilikan pribadi dilindungi oleh PBB dan dasar hukum PBB adalah Kitab Suci sekalipun tidak disebutkan secara eksplisit.

Di seluruh dunia di sepanjang sejarah, prasasti-prasasti hukum seperti Hammurabi Stone, Rosetta Stone, dan lainnya tidak sesempurna Sepuluh Hukum, karena Sepuluh Hukum adalah pemberian Tuhan. Sepuluh Hukum bukan sekadar membahas kelakuan manusia, melainkan adalah dasar dari seluruh kelakuan manusia, yaitu sikap kita terhadap Allah Pencipta. Itu sebabnya Sepuluh Hukum tidak mungkin musnah dari kebudayaan manusia.

Mencuri disebut melanggar hukum karena melanggar hak kepemilikan orang lain yang dilindungi hukum. Inilah bedanya firman Tuhan dan komunisme. Komunisme memperbolehkan tindakan merampas hak milik orang lain demi mencapai kesamarataan dalam masyarakat. Ini adalah pikiran manusia belaka. Memperoleh kekayaan dengan cara yang tidak benar atau merampas milik orang lain juga dapat disebut mencuri. Menurut John Calvin, pemerintah mungkin saja menjadi perampok yang berlindung di balik hukum, karena mereka bisa menggunakan hukum untuk membenarkan tindakannya yang tidak benar. Di sini kita harus mengingat bahwa kuasa Tuhan lebih tinggi daripada kuasa pemerintah. Takhta Tuhan adalah takhta di atas segala takhta, pemerintah di atas semua pemerintah. Jika pemerintah melegalisasi secara hukum tindakan yang merampok dan merampas milik orang lain maka di hadapan Tuhan dia tetap pencuri. Oleh karena itu, setiap pejabat tidak boleh menggunakan kekuasaannya dan setiap orang kaya tidak boleh menggunakan uangnya untuk melanggar hak asasi orang lain. Jika suatu negara merampas sumber daya alam negara lain demi keuntungan dirinya, dia juga adalah perampok dan pencuri. Untuk itu, kita perlu menilik beberapa contoh mencuri yang tertulis di Alkitab:

1. Akhan
Orang Israel bersandar pada Tuhan maka mereka berhasil mengalahkan Yerikho yang begitu kuat. Tetapi kemudian mereka kalah ketika memerangi kota Ai yang jauh lebih kecil dan lebih lemah. Orang Israel menangis di hadapan Tuhan karena Tuhan tidak menyertai mereka. Tuhan mengatakan bahwa ada pencuri di antara mereka. Setelah dikalahkan, mereka sadar bahwa mereka bukan siapa-siapa. Mereka tidak berhak untuk bangga dan sombong karena berhadapan dengan kota kecil saja tidak bisa menang. Yang kuat bukan mereka, tetapi Tuhan. Itu membuat mereka belajar untuk bersandar kepada Tuhan. Roy Haisen membagi kehidupan Musa ke dalam tiga periode, yaitu: 1) Empat puluh tahun di istana Mesir di mana Musa merasa menjadi sesuatu (something), 2) Empat puluh tahun di padang Midian di mana Musa merasa bukan siapa-siapa (nothing), 3) Empat puluh tahun memimpin umat Israel di mana Musa merasa Tuhan itulah segala-galanya (God is everything).
Siapa yang merasa diri hebat maka Tuhan akan menghajar dia sampai dia sadar bahwa dia bukan siapa-siapa, setelah itu barulah Tuhan bisa memakai orang itu. Tuhan tidak akan memakai orang yang merasa dirinya hebat. Banyak orang sembarangan menggunakan talenta dan karunia yang Tuhan berikan untuk berbuat dosa. Dia tidak berpikir bahwa Tuhan akan menuntut tanggung jawabnya. Saya mencoba untuk menjadi teladan dengan tetap bekerja keras, tetapi makan di restoran murah supaya bisa menjadi contoh bagi generasi muda. Siapa yang diberi banyak akan dituntut banyak. Saya jarang berbicara tentang uang, tetapi pikirkan: 1) Bagaimana perpuluhanmu? Penggelapan perpuluhan adalah pencurian; 2) Sudahkah engkau membayar nazarmu? Tepatilah janjimu di hadapan Tuhan. Orang Israel kalah karena ada yang mencuri di antara mereka. Maka pencuri itu perlu dicari dan Alkitab mencatat bahwa imam yang memimpin mereka dalam mencari pencuri itu. Akhan tidak mau mengakuinya karena dia seorang atheis. Dia tidak percaya bahwa Tuhan tahu. Pada umumnya, orang atheis cenderung berani untuk berbuat dosa, tetapi orang yang benar-benar takut akan Tuhan tidak berani. Akhan berpikir bahwa tidak ada seorang pun yang akan bisa tahu kalau dia mencuri. Dia meremehkan orang Israel dan Tuhannya. Orang yang meremehkan semua orang dan memandang mereka bodoh adalah orang yang paling bodoh. Dan jika saat itu dia masih merasa bahwa dialah yang paling pandai, maka dia dua kali lebih bodoh lagi. Akhirnya dosa Akhan terbongkar, dan barulah saat itu dia mau mengakui dosanya.
Orang yang mengaku dosa karena ketahuan bukanlah mengaku dosa, melainkan mengaku karena terpaksa, akibat fakta yang tidak bisa dipungkiri. Orang yang mengaku dosa adalah orang yang dengan inisiatif dan kerelaannya sendiri mengakui dosanya. Ia menyatakan kesadaran akan keburukan dosanya. Harun adalah imam besar pertama yang Tuhan pilih dan lantik sebagai pendamping Musa. Tuhan pun menetapkan bahwa hanya keturunannya yang boleh menjadi imam bagi bangsa Israel. Harun memiliki dua anak yang dibakar hangus oleh Tuhan di hadapan segenap bangsa Israel tepat pada hari pelantikan mereka sebagai imam. Harun malu dan menangis. Tuhan berfirman kepada Musa, “Beri tahu Harun agar tidak menangisi kesusahan yang menimpa, tetapi tangisilah dosanya.” Inilah perbedaan kualitas yang nyata di dalam sejarah. Di dalam dunia, orang menangis karena hukumannya, tetapi sebenarnya yang harus ditangisi adalah dosanya.
Bangsa Israel gagal karena ada pencuri di dalam. Saat ini banyak pemerintah yang melegalisasi perampokan dengan bertamengkan hukum. Pemerintah mengambil yang bukan haknya, dan mengambil hak milik rakyatnya dengan dilegalisasi oleh hukum yang mereka buat. Ini adalah kejahatan. Pemerintah dunia harus belajar untuk mengerti dan menerapkan prinsip-prinsip Alkitab di dalam negara yang dipimpinnya, karena dunia yang Tuhan ciptakan ini sebenarnya sangat kaya. Jika kita mengelola bumi dengan baik maka berdasarkan riset PBB tahun 1964, seluruh kekayaannya bisa menghidupi 144 milyar manusia. Saat ini begitu banyak orang yang susah dan kelaparan karena dunia dikelola oleh koruptor yang mencuri dan merampas milik orang lain. Tuhan tidak membiarkan ada pencuri di dalam bangsa Israel. Akhirnya Yosua menemukan pencuri itu, yaitu Akhan.
Bangsa Israel membawa Akhan ke suatu lembah dan merajam dia dengan batu sampai mati. Setelah itu, Israel tidak lagi mengalami kekalahan. Saya terkesan dengan lukisan Gustave Doré yang menggambarkan jenazah Akhan terkulai di lembah dan burung gagak datang memakan jasadnya. Sungguh mengerikan.

2. Raja Saul
Saul adalah pimpinan tertinggi ekonomi, militer, dan masyarakat orang Israel. Ia menjadi raja berkat format demokrasi. Di Kitab Suci hanya satu kali ini pemimpin dihasilkan melalui demokrasi. Sayang, akhirnya terbukti bahwa dia tidak diperkenan oleh Tuhan. Israel memilih Saul menurut standar mereka, tetapi Allah memilih Daud menurut standar Allah. Di sini kita melihat bahwa Allah tidak menyetujui demokrasi, melainkan theokrasi. Demokrasi bukanlah cara yang mutlak. Allah berfirman, “Akulah Allahmu.” Ini sangat berbeda dengan teriakan orang Amerika Serikat, “Kami rakyat Amerika…” Inilah perbedaan antara Allah dan manusia. Gereja di dunia menyetujui demokrasi karena lebih baik daripada tirani, tetapi gereja sendiri harus menjalankan theokrasi.
Gereja harus theokrasi karena posisi kita terletak di antara Allah dan masyarakat. Kita adalah imam-imam yang menjadi perantara antara sorga dan dunia. Tugas Gereja di dalam mandat budaya adalah melakukan setiap tugas bagian kita seturut dengan kebenaran Allah di dalam prinsip Theologi Reformed. Saul mendengar perintah Tuhan melalui Samuel untuk berperang melawan Amalek dan sesudah itu mereka harus memusnahkan semuanya, orangnya, binatangnya, termasuk seluruh harta bendanya. Tetapi Saul tidak mau taat, dia tidak membunuh lembu dan domba-domba yang gemuk dan sehat. Dia sayang untuk menghabisi semua binatang itu, lalu dengan alasan untuk persembahan bagi Tuhan, maka ia melarang tentaranya untuk membunuh semua binatang itu. Rakyat taat kepada Saul, tetapi tidak taat kepada Tuhan. Tuhan memandang perbuatan Saul sebagai pencurian. Saul bukan saja tidak taat menjalankan perintah Tuhan, tetapi memberikan perintah kepada rakyatnya yang bertentangan dengan perintah Tuhan. Tuhan menghukum Saul dengan membuang Saul dan mempersiapkan raja yang baru, yaitu Daud.
Jangan berpikir bahwa dengan memberikan persembahan, apalagi hasil curian, akan menyenangkan hati Tuhan. Sebaliknya hal itu justru menjadikan kita sedang melawan Tuhan. Banyak pemimpin gereja menjilat orang kaya karena orang kaya bisa memberikan banyak persembahan. Orang kaya merasa bahwa uangnya begitu berkuasa sehingga beranggapan bahwa lebih penting memberikan banyak persembahan ketimbang taat kepada Tuhan. Tuhan lebih suka ketaatan ketimbang persembahan. Saul tidak bisa melawan keputusan Tuhan, akan tetapi dia minta agar Tuhan meninggikan posisi dia di atas kereta kerajaan supaya rakyatnya tidak mempermalukan dia. Inilah raja dunia yang hanya memikirkan kulit mukanya saja untuk menutupi ketidaktaatannya kepada Tuhan. Tuhan tidak bisa dipermainkan, jangan mencuri yang bukan hak milik Anda.

3. Yudas
Yudas adalah salah seorang dari mereka yang dipilih Tuhan untuk menjadi murid-Nya, bahkan dia diberi kesempatan untuk menjadi bendahara. Tuhan Yesus tidak memberikan tugas bendahara kepada Yohanes atau Petrus yang terbukti begitu setia atau kepada Matius yang telah rela meninggalkan miliknya sebagai seorang pemungut cukai. Ada dua hal yang bisa menjadi alasan mengapa membiarkan Yudas menjadi bendahara: 1) Memberikan kesempatan kepada orang yang tidak mau bertobat agar pada hari terakhir nanti dia tidak dapat mencela Tuhan dan mengatakan bahwa dia tidak diberi kesempatan. Memberikan kesempatan adalah sama dengan menghakimi orang itu karena dalil ini merupakan dalil yang kekal. 2) Agar para hamba Tuhan yang dikhianati murid-muridnya tidak perlu bersedih karena Tuhan Yesus pun pernah mengalaminya.
Sebenarnya, tindakan Yudas mengambil uang kas tidak terlalu merugikan karena hanya membuat simpanan mereka sedikit berkurang. Tetapi kerugian terbesar adalah kehilangan karakter, kehilangan etika, dan kepercayaan Tuhan dan sesama terhadap engkau. Yudas adalah seorang ekonom yang sangat inovatif dan kreatif. Belum pernah terdengar ada doktor ekonomi yang pada saat kesulitan ekonomi berpikir untuk menjual profesornya. Inilah pikiran original Yudas. Dia adalah ekonom yang tahu bagaimana mencari kekayaan, yaitu yang pertama-tama menjual gurunya.
Alkitab mencatat bahwa Yesus memanggil Yudas tidak dengan gegabah. Yesus berdoa semalaman sebelum Dia menetapkan kedua belas murid-Nya. Sejak awal Dia sudah tahu siapa yang setia dan siapa yang pencuri, yang menjadi kaki tangan Iblis dan yang adalah anak binasa. Apakah dengan itu Tuhan memilih anak binasa atau anak binasa juga termasuk ke dalam kaum pilihan? Karl Barth mengatakan bahwa, “Yudas adalah terpilih dan tertolak sekaligus.” Pengertian Barth yang ambigu ini bukanlah pikiran Theologi Reformed yang benar. Pemilihan ditetapkan oleh Bapa. Yudas telah dibuang di dalam kekekalan, tetapi secara fenomena dan temporal, dia dipilih menjadi murid Yesus. Yesus tahu kalau Yudas adalah pencuri dan Dia sudah beberapa kali memperingatkan masalah ini secara umum. Yang paling keras adalah yang secara pribadi, yang Yudas dengar, yaitu, “Jika engkau mau melakukannya, lakukan sekarang” dan “Apakah dengan ciuman engkau menjual Anak Manusia?” Kita tidak pernah mendengar kata-kata Yudas selain “Mengapa memboroskan sedemikian banyak uang untuk membeli minyak narwastu, lalu menuangkannya di kaki Yesus? Bukankah uang sebanyak itu bisa dipakai untuk menolong orang miskin?”
Orang yang banyak memberikan persembahan biasanya tidak banyak bicara, sementara yang banyak bicara adalah yang tidak memberi. Kita harus berhati-hati dengan orang yang tidak mau memberi, tetapi selalu mau tahu berapa banyak uang di kas gereja, karena dia adalah orang jahat. Orang yang selalu beralasan mau memberi jika keuangan gereja kurang adalah orang yang mencuri. Karena selama kas gereja cukup, dia tidak pernah memberi. Orang-orang seperti itu bermental penolong padahal Allah yang hidup tidak pernah perlu ditolong.
Dalam memilih dan menempatkan Yudas, Yesus sepertinya bodoh karena tidak bisa menempatkan orang di tempat yang tepat. Tetapi kita melihat bahwa rencana Tuhan jauh lebih tinggi dari pikiran manusia. Yudas diberi kesempatan, ini adalah anugerah. Di sini kita harus peka dan berhati-hati dengan setiap anugerah kesempatan yang Tuhan berikan. Ketika Yudas diberi kesempatan, Tuhan tidak serta-merta menghukum Yudas. Dia membiarkan dan tidak menegur dia. Tuhan memberikan kesempatan yang cukup agar Yudas bertobat, sampai kalimat terakhir, “Lakukanlah apa yang engkau hendak lakukan.”
Yudas memakai alasan memberikan uang kepada orang miskin ketika dia tidak menyetujui tindakan Maria menuangkan minyak narwastu ke kaki Yesus. Yesus menjawab dengan sangat tepat bahwa orang miskin akan selalu ada sehingga itu tidak berhak menjadi alasan, apalagi mengurangi persembahan. Kesempatan memberikan persembahan dan turut dalam pekerjaan Tuhan adalah anugerah. Orang miskin akan selalu ada di mana pun engkau berada dan kapan pun engkau berada. Di sini kalau tidak berhati-hati maka kita akan beranggapan bahwa perkataan Yudas begitu baik karena peka akan diakonia, akhirnya tidak mampu melihat anugerah dan kesempatan yang jauh lebih bernilai. Jawaban Yesus telah membongkar motivasi Yudas dan mempermalukan dia.
Sebuah lukisan yang idenya luar biasa di dalam buku Christ and Fine Art, digambarkan angin bertiup kencang dari balik gunung dan membuat semua pohon bergoyang. Di sana ada Yudas dengan mata memandang ke depan bersama dua orang Farisi yang berjanggut putih, sedang menegosiasikan uang yang harus diberikan untuk menangkap Yesus. Sorotan mata Yudas yang tajam memantulkan hatinya yang jahat. Dia berpikir bahwa Yesus yang dapat membuat begitu banyak mujizat pasti tidak mungkin dibunuh. Tetapi ketika Yesus tidak melarikan diri malah mati di kayu salib, dia sadar bahwa semua orang akan mengutuk dia sebagai orang jahat. Inilah orang yang betul-betul jahat karena setelah berbuat jahat masih tidak mau mengaku jahat. Setelah mencuri dia langsung cuci tangan sampai Tuhan membongkar perbuatan jahatnya dan akhirnya dia gantung diri. Saya harap kita sungguh-sungguh takut akan Tuhan.

4. Ananias dan Safira
Ananias dan Safira, suami istri itu menjual tanahnya, tetapi hanya memberikan sebagian kepada para rasul sambil mengatakan bahwa mereka memberikan seluruhnya. Seluruh jemaat memandang mereka begitu cinta Tuhan karena mau menjual miliknya untuk dipersembahkan. Tetapi Tuhan memandang mereka sebagai pencuri. Petrus menegur dia, dan Tuhan menghukum Ananias sehingga dia mati saat itu juga. Tidak lama kemudian istrinya datang dan bersikap sama seperti suaminya, maka Tuhan juga menghukum dia. Petrus menegaskan bahwa mereka bukan menipu manusia, melainkan menipu Roh Kudus (Kis. 5:1-11). Inilah satu-satunya peristiwa di Perjanjian Baru di mana Allah menghukum dengan begitu spontan seseorang yang tidak takut akan Dia.
Dari keempat kasus di atas, hanya Yudas yang Alkitab sebut sebagai pencuri. Namun, sekalipun yang lain tidak disebut pencuri, tindakan mereka mendatangkan murka Allah dan hukuman-Nya spontan kepada orang yang tidak takut akan Tuhan.
Maukah kita diberkati Tuhan? Mari kita menemukan Akhan, Saul, Yudas, Ananias, dan Safira yang ada di dalam diri kita. Kalau tidak, kita yang akan dibuang oleh Tuhan. Amin.
Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/09/sepuluh-hukum-%E2%80%93-hukum-kedelapan-bagian-2/

Tidak ada komentar: