Senin, 30 Mei 2011

Jangan Serakah dan Jangan Khawatir


Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman "Aku sekali-sekali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (Ibrani 13:5)

Di ayat 5 ini penulis Ibrani berbicara tentang dosa keuangan. Mengapa seks dan uang (harta) selalu berdampingan? Karena keduanya adalah jerat yang paling besar atau paling berbahaya bagi setiap orang yang hidup di dunia ini.
Banyak orang gagal, kalau bukan karena seks, tentu karena uang. Itu sebabnya, seks dan uang juga merupakan musuh terbesar bagi para pelayan Tuhan, saksi-saksi Tuhan yang diutus untuk memancarkan kemuliaan-Nya. Jika kita tidak memelihara kesaksian hidup kita dengan hati-hati, kita memberi lowongan kepada iblis untuk mencobai kita dalam seks dan harta, maka kita akan kehilangan kuasa, pengaruh, dan kemuliaan Tuhan untuk menjadi saksi-Nya di dunia. Oleh karena itu, setelah penulis Ibrani menyelesaikan pembahasan tentang ´hormatilah pernikahan´, ia meneruskannya dengan: Jangan engkau menjadi budak hartamu, uangmu; atau dalam terjemahan lain: Jangan tamak, jangan menginginkan uang yang bukan milikmu.
Saya percaya, saat Yohanes Pembaptis yang dipenuhi oleh Roh Kudus itu tampil di depan umum, usianya kira-kira tiga puluh tahun, karena seorang imam baru boleh melayani di saat usianya genap tiga puluh tahun, karena seorang imam baru boleh melayani di saat usianya genap tiga puluh tahun. Di mata manusia, ia adalah seorang pemuda yang kurang berpengalaman. Ia berseru, "Bertobatlah kamu sebab Kerajaan Sorga sudah dekat." Ia menuntut mereka agar hidup baru, hidup bertobat, hidup suci, mau meninggalkan hidup moral yang bobrok dan segala dosa yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Setiap orang hidup perlu tahu: Dunia bukanlah rumahnya; ketika ia mulai terbiasa, bahkan betah hidup di dunia, maka dunia akan berkata kepadanya, "Get out!" tidak ada tempat lagi untukmu, tempat ini akan diberikan pada generasi baru. Jadi, tak seorang pun bisa hidup sampai selama-lamanya di dunia ini.
Tetapi Allah sudah menyediakan Kerajaan Sorga, Kerajaan Allah bagi kita -- orang-orang yang berharap kepada-Nya. Dan firman-Nya: Bertobatlah, tinggalkanlah dosamu, siapkanlah hatimu untuk hidup di dalam Kerajaan Allah, karena Kerajaan Allah sudah dekat. Kalimat pertama dalam khotbah Yohanes Pembaptis itu juga merupakan kalimat pertama dalam khotbah Yesus Kristus. Tokoh terpenting di Perjanjian Baru -- Yohanes Pembaptis, Sang Perintis dan Yesus yang adalah Tuhan, mengucapkan kalimat yang sama: Bertobatlah kamu, karena Kerajaan Allah sudah dekat. Yohanes Pembaptis berjumpa dengan pelbagai macam orang. Ada semacam orang yang bertanya padanya: Apa yang harus kami perbuat? Saya kira itulah tanya jawab yang pertama di dalam pelayanan Perjanjian Baru. Dan saya yakin acara tanya-jawab perlu dilestarikan, karena di lembar-lembar pertama Perjanjian Baru, dalam pelayanan Tuhan sendiri juga diadakan tanya jawab. Ketika saya masih berumur tujuh belas tahun, pikiran saya sudah dilanda oleh ajaran: Komunisme, Atheisme, Materialisme, Dialektis, Evolusionisme. Saya menganggap diri sebagai pemuda yang paling modern, terkemuka, bahkan lebih cerdas dari pemuda-pemudi lainnya. Pelajaran yang biasanya perlu dipelajari orang dalam waktu dua bulan bisa saya selesaikan dalam waktu dua hari, bahkan selagi masih di SMA, saya sudah mengajar, dan saya mampu menyelesaikan SMA dengan mudah, sekaligus menjadi seorang guru yang disambut baik oleh murid-murid.
Honor saya dua kali lebih besar daripada honor pendeta terbesar, yang melayani di gereja terbesar di Surabaya.
Saat itu, saya merasa tidak butuh Alkitab, tidak butuh Tuhan, bahkan merasa tak perlu menjadi orang Kristen, karena dunia sudah maju dan kekristenan sudah ketinggalan. Akan tetapi melalui Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), Tuhan bekerja di dalam hati saya, saya menangis tak henti-hentinya, bertobat, meminta Tuhan mengampuni dosa-dosa saya.
Di hari ketiga KKR itu, saya menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan. Saya berkata, "Tuhan, jawablah semua pertanyaanku, sesudah itu, saya akan pergi ke seluruh dunia untuk menjawab pertanyaan siapa pun." Itu sebabnya, ciri khas dari pelayanan saya adalah tanya-jawab, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan. Seperti apa yang dikatakan oleh Francis Schaeffer: The responsibility of Christianity is to give the honest answers for the honest questions. Itulah yang saya pelajari dari Yohanes Pembaptis, menjawab pertanyaan siapa saja yang ingin tahu tentang kebenaran. Yohanes Pembaptis menjawab pertanyaan, termasuk pertanyaan para tentara. Biasanya seorang tentara, karena mempunyai senjata, selalu merasa dirinya memiliki hak istimewa, suka melakukan kekerasan, tetapi saat ia datang bertanya: What should I do, John? Jawab Yohanes Pembaptis, "Kamu harus merasa puas dengan apa yang ada padamu, jangan menindas orang dengan senjatamu." Saya kaget sekali, ternyata seorang yang dipenuhi Roh Kudus bisa menjawab pertanyaan dengan begitu singkat dan begitu tepat, sesuai dengan kebutuhan. Ia tidak menjawab, "Hai Tentara, jangan kamu berperang, karena firman Tuhan berkata: Barangsiapa membunuh, ia juga akan dibunuh." Ia tidak berbicara tentang apakah tentara harus membela atau memberontak, boleh berperang atau tidak, ia hanya memberikan dua prinsip:
Puaskan diri dengan apa yang kau miliki, dan jangan menindas orang dengan senjatamu. Dua prinsip yang berkaitan dengan dua dosa besar dari para tentara yang menyandang senjata. Yang pertama, mereka menembak dengan sewenang-wenang, karena pikir mereka: Kami memiliki hak menggunakan senjata, mempunyai situasi dan kondisi dimana orang tidak mudah membalas dendam. Kami bisa merebut nyawa orang. Seseorang yang memiliki kuasa, uang, kekuatan, pangkat, senjata, lalu merugikan orang dengan sewenang-wenang, kelakukannya sungguh jahat. Negara yang tidak memelihara kaum minoritas adalah negara barbar. Negara yang tidak memberi proteksi pada kaum minoritas yang tidak bersenjata dan tidak berdaya untuk melawan adalah negara yang tidak beradab.
Orang yang menindas si lemah, rakyat jelata dengan senjata, dengan kekerasan, jiwanya bagaikan binatang liar, bukan manusia. Karena senjata hanya dipakai untuk membela negara, mengamankan rakyat, itulah perintah Alkitab: Pemerintah menyandang pedang adalah hak, kuasa yang Allah berikan untuk menghakimi mereka yang berbuat salah; membela mereka yang benar, menjaga ketertiban negara (Roma 13). Bila senjata digunakan semena-mena untuk melampiaskan kebencian pribadi -- memusnahkan, menghancurkan, membunuh musuh yang dibencinya, itu adalah tindakan barbar. Yohanes Pembaptis berkata, ´Hai, Para Tentara.´ Yang dimaksud olehnya bukanlah tentara Israel melainkan tentara Romawi yang ditugaskan oleh kerajaan Roma di seluruh wilayah kerajaan Romawi, meliputi sebagian benua Eropa, Asia, Afrika Utara bahkan sampai ke Inggris. Adapun kita yang paling banyak dijaga oleh tentara Roma adalah Yerusalem, karena bangsa Yahudi adalah bangsa yang paling keras, paling berjiwa revolusioner, paling tidak mengenal kompromi, misalnya, mereka menyembah Yahweh -- Allah yang sejati. Mereka menolak untuk menyebut Kaisar sebagai Tuhan. Menurut standar Roma, tindakan itu merupakan suatu pemberontakan terbesar, maka diutusnya sejumlah besar tentara, kira-kira seratus delapan puluh ribu orang guna menjaga Yerusalem. Baik Damsyik, Kapadokia, maupun kota-kota lain, tak ada yang pernah dijaga oleh bala tentara sebanyak itu. Apalagi pada masa raya, ketika puluhan bahkan ratusan ribu orang Yahudi dari berbagai tempat berkumpul di Yerusalem, maka pemerintah Roma akan mengerahkan ratusan ribu tentara untuk menjaga keamanan di sana secara ketat.
Bila tentara-tentara itu menggunakan senjata dengan semena-mena, tentu rakyatlah yang akan sangat dirugikan. Yang kedua, Yohanes Pembaptis berkata, "Jangan menginginkan uang lebih dari seharusnya. Kamu telah diberi kecukupan oleh pemerintah Romawi, puaskanlah dirimu dengan apa yang ada padamu." Saya disadarkan; Saat seseorang dipenuhi oleh Roh Kudus, Tuhan memberinya bijaksana, keberanian, standar yang bisa dijadikan pedoman dari jaman ke jaman, sekaligus sarana untuk menghakimi umat mausia: Puaskanlah dirimu dengan apa yang kau miliki, jangan gunakan kekerasan untuk menindas mereka yang tidak menyandang senjata.
Mengapa sebelum penulis membahas soal harta, ia terlebih dahulu berbicara tentang prinsip di ayat 5? Karena tamak adalah dosa yang sangat besar, suatu larangan yang ditekankan oleh Alkitab. Bahkan hukum kesepuluh dari Taurat Musa berbunyi, "Jangan menginginkan istri, budak, hewan kepunyaan orang", dijadikan dasar bagi Hak Asasi Manusia dalam konstitusi PBB, yang berlaku untuk semua pemerintahan dunia sampai hari ini: Wajib memproteksi hak milik pribadi, tak seorang pun boleh mengganggu istri, anak, harta, rumah kepunyaan orang lain, karena milik pribadi itu sah dan diizinkan. Tuhan berpesan, jangan mengingini, artinya Ia memagari kepemilikan manusia. Saat seseorang melirik ke dalam pagar orang dan hatinya berhasrat melewati pagar itu, ia disebut pelanggar hukum. Jangan mengingini harta orang, puaskan dirimu dengan apa yang sudah Tuhan karuniakan untukmu. Kalau kau memboroskan apa yang sudah diberikan-Nya atau merebut apa yang belum Ia berikan kepadamu, kau adalah pencuri. Sikap yang Tuhan sahkan dan izinkan adalah merasa puas atas apa yang sudah kau miliki dan mau menunggu untuk apa yang belum kau miliki sambil bekerja dengan giat. Perasaan memiliki dan tidak memiliki selalu mengganggu diri kita, mengapa ia punya, saya tidak punya; saya juga menginginkannya. Keinginan seperti itulah yang membuat kita berani melompat pagar, berani melawan kehendak Tuhan. Mari kita kembali pada prinsip ini: Puaskan dirimu dengan apa yang ada pada dirimu, apa yang kita miliki. Karena Tuhan berjanji: "Aku tidak akan meninggalkanmu, tidak akan membuangmu."
Yesus Kristus pernah mengutip kalimat dari Perjanjian Lama, dalam Kitab Musa: Manusia hidup bukan hanya bersandar pada roti saja; artinya kita butuh roti, makanan, harta benda, tetapi ada segi lain yang perlu kita perhatikan, yaitu firman yang bersumber dari mulut Allah. Itulah yang membuat hidup kita berarti. Versi lain terdapat di Yohanes 6:63, "Yang menghidupkan manusia adalah roh, bukan tubuh. Perkataan yang Kukatakan padamu adalah Roh, adalah hidup." Perhatikan ucapan Yesus itu. Yang menghidupkan manusia adalah roh, artinya roh itu hidup. Hidup berasal roh, tubuh tak terhitung apa-apa. Tentu saja bukan maksud Yesus mengatakan bahwa tubuh kita tidak berguna, seperti teori soma sema, tubuh adalah penjara, yang diyakini oleh Pythagoras, filsuf Yunani, atau ajaran Buddhisme:
Tubuh tak berarti apa-apa. Yang Yesus tegaskan adalah bahwa yang menghidupkan manusia bukan tubuh melainkan roh, tanpa roh, tubuh tidak akan berfungsi.
Lanjut-Nya, "...the word which I spoke to you is life, is spirit." Jadi, hidup manusia selama berpuluh-puluh tahun di dunia bukan hanya bersandar pada roti, melainkan pada the word of God. Saya yakin kalian yang selalu berbakti di tempat ini akan merasa kosong, jika mimbar ini tidak menyuarakan firman Tuhan. Memang, kali pertama Anda berbakti di sini merasa tidak enak, karena khotbah saya tidak dibarengi lelucon atau cerita, tetapi marah-marah; Tidak mudah dicerna, banyak teori. Tetapi setelah kalian benar-benar merasakan manfaat dari firman Tuhan, barulah kalian sadar, tanpa firman, apalah artinya hidup ini? Kosong belaka. Kalau firman tidak mengisi hidup kita, tidak menuntun tindak-tanduk kita, kita tidak tahu hidup ini akan berjalan ke mana. Yang paling celaka ialah setelah mendengar firman kalian tetap melangkah di jalan yang serong, jalan yang salah, jalan orang duniawi. Hidup kalian seperti hidup orang Farisi, berpengertian penuh tetapi pelaksanaannya kosong. Akibatnya, kau bukan menjadi saksi Tuhan, tapi malah mempermalukan nama-Nya. Tuhan berjanji, ´Aku tidak akan membuang kamu, membiarkan kamu." Artinya, Ia akan terus-menerus menjaga kita. Itu sebabnya, cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, pandai-pandailah mengatur milikmu. Jika kamu benar-benar hidup di hadapan Tuhan, Ia bukan saja sanggup mencukupi, tetapi juga memberi lebih dari sekadar cukup.
Mengapa masih ada orang Kristen yang selalu mengkhawatirkan ini dan itu? Karena mereka hanya dengan mulut mengaku dirinya beriman; otaknya tahu apa itu iman, namun sesungguhnya tidak betul-betul beriman pada Tuhan. Itu sebabnya, kita perlu belajar untuk sungguh-sungguh beriman pada Tuhan. Sesungguhnya saya merasa sangat kasihan kepada mereka yang sejak kecil cukup makan, tak pernah lapar satu kali pun, karena mereka tidak akan pernah tahu apa itu perjuangan, apa itu bersyukur pada Tuhan. Seorang pendeta menuturkan: ´Aku masih ingat saat pertama kali aku memegang sepeda itu, air mataku bercucuran. Aku menaiki sepeda itu dengan hati yang begitu haru, begitu puas, karena aku sudah menantinya selama dua ratus hari. Selama itu aku terus berharap kapan hari itu akan tiba, sampai aku menaiki sepeda itu, barulah aku sadar aku sudah memilikinya.´
Tapi anak-anak kita tidak lagi mempunyai pengalaman seperti itu, karena saat mereka menginginkan sepeda, kita segera membelikannya, bahkan saat mereka menginginkan mobil sekalipun, kita segera menyediakannya. Sebelum mereka sanggup mencari uang, mereka sudah mengenakan pakaian termahal. Sebelum mereka mencucurkan keringat, mereka sudah memeras orang lain, bahkan mereka selalu mencerca: ´Toh Papa punya uang, mengapa Papa tidak membelikan yang baik untukku? Papa jahat.´ Apa jadinya anak-anak jaman ini, setelah sekian puluh tahun tak ada peperangan, kelaparan; anak-anak kita hanya tahu memeras orangtua, memaksa orangtuanya memberikan ini dan itu buat mereka. Saya selalu mendidik anak-anak saya seperti ini: Saat saya menggunakan barang yang bagus, yang mahal, mereka tidak berhak berkomentar, karena ini adalah jaman saya. Bagaimana susahnya masa lalu saya, kalian tidak tahu. Kalian juga perlu belajar berjuang untuk dirimu sendiri. Namun, susah sekali, bukan? Karena hidup kita sekarang ini sudah cukup nyaman, mengapa kita harus membiarkan anak kita hidup sengsara? Hidup kita cukup kaya, mengapa kita membiarkan anak-anak hidup miskin? Itu sebabnya orang yang dulunya pernah miskin, setelah dia menjadi kaya akan membuat hidup anak-anaknya seperti di surga. Namun faktanya, mereka tidak merasa hidupnya cukup nyaman, karena mereka sudah terbiasa dengan hidup seperti itu. Sewaktu kenikmatannya berkurang sedikit saja, ia akan memandangnya sebagai suatu siksaan dan itu membuatnya dendam padamu. Inilah dunia.
Mendidik anak itu susah, bukan? Saat hidup kita miskin, kita memang tak mampu membelikan apa-apa untuk anak-anak. Setelah hidup kita lebih dari cukup, masakan kita tidak memberi apa-apa buat mereka? Kalau diberi, ia tak punya daya juang, karena dia tak tahu apa itu susah, bagaimana rasanya dari tidak punya sampai punya, bahkan cenderung merasa memang sudah semestinya dirinya hidup berkecukupan. Kurang sedikit saja sudah dia anggap sebagai penderitaan, memikul salib, dan lain-lain. Kadang-kadang saya mendengar orang mengeluh: Ini susah, itu susah, tanpa menyadari kalau saja orang lain bisa melewati hidup seperti itu tentu akan tertawa sampai tak bisa mengatupkan mulutnya, berterima kasih pada Tuhan sampai setiap hari mengadakan syukuran, sementara ia masih belum merasa puas dengan apa yang ada pada dirinya.
Apa artinya: puaslah dengan apa yang sudah kau miliki? Kau tidak perlu serakah, tak perlu merebut sesuatu yang bukan milikmu. Saya merasa sedikit sulit untuk mendefinisikan serakah. Manakala manusia tak pernah maju, bukankah ia sama dengan binatang? Tetapi kalau ia terus menuntut maju, bukankah ia bisa disebut serakah? Memang paradoks. Apakah bedanya serakah dengan berjuang? Untuk membedakannya, kita butuh bijaksana Tuhan. Untuk itu, saya akan memberikan sebuah prinsip: Menginginkan, bahkan merampas sesuatu yang Tuhan karuniakan kepada orang lain dengan ambisi liar, itu yang disebut serakah. Bila kamu ingin maju, ingin lebih pintar dan lebih pintar lagi, bahkan ingin menjadi kaya, berkuasa, dan besar sekalipun, itu tidaklah salah, karena Allah tidak pernah mencegah manusia mempunyai ambisi pribadi, mempunyai aspirasi untuk maju.
Mungkin kamu bertanya, mana ada ayat yang berbicara seperti itu? Yesus berkata, "Jika kamu ingin menjadi besar, layanilah orang lain." Maksudnya, Tuhan tidak melarang orang menjadi besar, namun ada jalurnya, ada caranya, yakni menjadi hamba, melayani. Kadang kita salah menafsir Alkitab, kita berpikir: Allah tidak memperbolehkan kita begini dan begitu, kita lantas menjadi kaku. Tindakan tersebut tidak berbeda dengan orang yang menguburkan satu dinar di bawah tanah sambil berdalih rendah hati, sambil menuduh orang yang mengusahakan lima dinar dan berhasil mendapat keuntungan lima dinar sebagai orang yang serakah. Padahal itu bukan maksud Tuhan. Ia justru menuntut orang yang diberi lima talenta menghasilkan lima talenta, orang yang diberi dua talenta harus menghasilkan dua talenta. Buktinya, orang yang menerima lima talenta dan mendapat untung lima talenta tidak dimarahi oleh Tuhan, tetapi orang yang memperoleh satu talenta dan menguburkannya sambil berdalih rendah hati, tidak berambisi, tidak serakah, ialah yang dimarahi oleh Tuhan.
Mungkin kau bertanya, bukankah itu berarti Tuhan membela orang kaya dan menghina, bahkan menghakimi orang yang misikin? Tdak. Perumpamaan itu mengajarkan kita bahwa: Talenta yang Tuhan beri haruslah kita imbangi dengan perjuangan. Itulah sebabnya saya tidak berani tidak banyak berkhotbah, tidak berani malas bekerja, karena saya tahu, Tuhan akan menghakimi saya lebih daripada pendeta-pendeta lain. Dari manakah saya tahu akan hal itu? Tuhan sudah memberi banyak talenta, kesempatan pada saya, maka saya harus mengembangkan, harus bekerja keras, agar kelak saya bias mempertanggung-jawabkannya pada Tuhan. Kalau orang mengkritik saya serakah, tidak puas dengan apa yang sudah ada, terus-menerus menginginkan ini dan itu, padahal itu adalah kewajiban yang Tuhan tanamkan di dalam jiwa saya, saya hanya bisa berkata, ´Maka keserakahan untuk diri pribadi saya, yang ada hanya untuk memperluas Kerajaan Tuhan.´ Kalau saya ingin membangun gedung gereja yang besar, itu karena ada begitu banyak orang membutuhkan firman Tuhan. Saya harus bisa membedakan antara serakah dan berjuang, serakah demi keuntungan diri sendiri dan demi iman.
Berikut ini saya akan merumuskan beberapa hal; Satu, merampas sesuatu yang bukan milikmu, itu disebut tamak. Dua, tidak mau berjuang mencapai hasil yang maksimal, itu disebut malas. Malas bukan monopoli orang yang bersantai-santai. Orang yang kelihatannya rajin pun bisa dikategorikan malas.
Kemalasan akan membuahkan kemiskinan. Kemiskinan membuahkan iri hati. Iri hati membuahkan keserakahan. Keserakahan mencetuskan peperangan. Hal-hal seperti itu selalu terjadi baik di dalam diri personal maupun dalam masyarakat, baik secara lokal maupun secara internasional. Ada orang yang merasa dirinya miskin, bukan karena ia tidak sanggup mencukupi kebutuhan hidupnya, melainkan karena ia membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Sebelum orang asing masuk ke pedalaman Irian Jaya, mereka tidak pernah merasa dirinya miskin, hanya mengenakan sehelai koteka saja sudah merasa cukup. Tapi setelah orang asing datang dengan mengendarai mobil, mereka mulai merasa dirinya miskin, timbul rasa ingin memiliki, tapi bukan lewat cara berjuang melainkan merampas, membunuh, dan sebagainya. Itu sebabnya, timbulnya kesenjangan sosial bisa disebabkan oleh kaum imperialisme, kapitalisme, bisa juga disebabkan oleh sifat membandingkan diri dengan cara yang tidak wajar.
Sebenarnya, membanding-bandingkan diri dengan orang lain adalah hal yang lumrah, karena Tuhan menanamkan relativisme di dalam diri kita. Murid-murid Yesus pun masih mempunyai sifat itu. Setelah Yesus memberitahu Petrus, "Dengan sesungguh-sungguhnya Aku berkata padamu: Waktu kau muda, kau bisa mengabarkan Injil ke sana ke sini dengan bebas, tapi waktu kau tua, orang akan mengikat tanganmu, membawamu ke tempat yang tidak kau inginkan."
Artinya, kau akan dianiaya, mati dengan sangat mengenaskan.
Petrus segera bertanya, ´Bagaimana dengan dia (Yohanes)?´ Nyatalah di sini bahwa ia mulai membanding-bandingkan dirinya dengan Yohanes. ´Aku harus menderita, bahkan mati martir bagi-Mu, lalu bagaimana dengan Yohanes?´ Apakah Yesus menjawab, ´Mengenai dia, nanti Kuberitahu, tentu saja Aku akan memperlakukan kalian dengan adil?" Tidak! Anugerah yang Tuhan sediakan bagi tiap-tiap orang didasarkan atas kedaulatan-Nya. Maka jawab-Nya, "Kalau Aku menghendaki dia menunggu sampai Aku datang kembali, apa urusannya denganmu?" Tuhan Yesus sangat tegas, Ia tidak peduli apakah murid-murid-Nya menganggap Dia berlaku tidak adil. Ia menjawab: Itu adalah hak-Ku. Kalau Aku menghendaki dia menunggu sampai Aku datang kembali sementara menghendaki kau mati syahid bagi-Ku, apa urusannya bagimu? Ikutlah Aku! Membandingkan diri dengan orang lain itu biasa, tapi itu adalah sifat dosa yang harus kita pertanggungjawabkan pada Tuhan. Merasa puas atas apa yang sudah Tuhan beri, tidak banyak membanding-bandingkan diri dengan orang adalah dasar dari kerohanian yang stabil. Kadang perasaan susah, tidak enak muncul, karena kita membanding-bandingkan diri dengan orang lain: Mengapa ia begini, mengapa saya begitu? Kemudian disusul dengan rasa tidak puas akan apa yang sudah Tuhan berikan padamu. Tuhan tidak pernah bersalah, kalau Tuhan hanya memberimu sedemikian adalah karena kau memang hanya patut menerima sedemikian, kau harus bisa menerima. "Kalau kau rendah hati, kau aka mendapatkan anugerah berlebih," firman-Nya. Tuhan mencegah orang yang sombong, memberkati orang yang rendah hati, memberikannya anugerah yang lebih.
Ketika saya masih kecil, saya merasa bingung akan kedua pernyataan itu. Kalau saja ayat itu berbunyi: ´Tuhan mencegah, mematahkan jalan orang sombong dan memberkati orang yang rendah hati,´ tentu sudah cukup jelas, bukan? Mengapa perlu ditambah dengan pernyataan: ´karena Ia memberi anugerah yang lebih´? Akhirnya, saya temukan: Orang yang rendah hati itu, selain merasa puas dengan apa yang sudah Tuhan berikan padanya, juga perlu berjuang untuk memperoleh anugerah yang lebih. Jadi, rendah hati bukanlah suatu sikap lahiriah, melainkan satu jiwa yang selalu merasa puas dengan pemberian Tuhan, juga melihat adanya kemungkinan untuk berjuang. Maka rumusan saya untuk rendah hati adalah tidak pernah merasa puas untuk sesuatu yang pernah kita capai, melainkan terus menuntut. Apa yang dituntut? Yang dituntut ialah kebenaran, bukan harta. Mengejar lebih banyak uang, menuntut untuk menjadi lebih kaya, tidaklah salah, tetapi tuntutlah bagian yang sudah Tuhan tetapkan bagimu, bukan merampas bagian yang sudah Tuhan berikan bagi orang lain. Merebut milik orang lain adalah serakah, tapi berjuang untuk apa yang Tuhan janjikan adalah sikap hidup yang benar.
Kita harus bisa memisahkan keduanya dengan jelas, untuk itu kita perlu mengenali batasanbatasannya:
- Kalau kekayaan kita peroleh dengan jalur yang benar, tentu tidak bisa disebut serakah.
- Kalau kekayaan yang kita simpan adalah hasil dari perjuangan atau bijaksana kita, tentu tidak bias disebut serakah.
- Kalau kita menggunakan harta kita sejalan dengan prinsip Tuhan, dengan pimpinan Roh Kudus, bukan dengan egois, itu juga tidak bisa disebut budak harta.
Janganlah kita menjadi budak dosa, budak harta, budak nafsu diri kita sendiri. Apa maksudnya? Jangan sampai hidup kita berantakan, karena kita tak mampu mengendalikan nafsu, maka nafsulah yang akan mengendalikan kita. Karena kita tak mampu mengendalikan uang, maka uanglah yang akan mengendalikan kita.
Karena kita tak mampu menguasai emosi, maka emosilah yang menguasai kita. Karena kita tak mampu menguasai diri, maka diri yang melawan kehendak Allah akan menguasai kita. Paulus berkata, "Aku senantiasa menaklukkan tubuh, agar tubuh menjadi hamba bagiku." Begitu jugalah kita mengelola uang kita. Tuhan memberikan uang pada kita untuk menguji kita, bukan untuk kita nikmati semau kita. Sebelum kita mati, kita harus bisa mengatur uang dengan baik.
Ada seorang yang kaya raya. Saat ia mati, ia mewariskan semua hartanya untuk anak tunggalnya. Namun beberapa bulan kemudian, anak tunggalnya meninggal dunia, orang bertanya-tanya untuk siapakah hartanya? Puji Tuhan, sebelum ia mati, ia telah mengalokasikan sembilan puluh persen hartanya untuk pekerjaan Tuhan, hanya sebagian kecil saja ia sisakan untuk masa tuanya. Maka waktu ia meninggal dunia secara mendadak, orang memuji kebijaksanaannya, karena saat uang masih di tangannya, ia menjadi tuan, bukan budak, atas uangnya.
Banyak orang mencari, bahkan berhasil mengumpulkan banyak uang dalam hidupnya, tapi setelah ia mati, uangnya bukan saja tidak menjadi berkat malah menjadi petaka bagi anak-anaknya. Mereka memperebutkan uangnya sampai saling membunuh. Mungkin kau berkata: Aku mendapat banyak uang karena aku hebat, pintar, sukses, giat berjuang. Semua itu benar, tapi tahukah kau bahwa hidupmu hanya beberapa puluh tahun saja, dan uang bukan milikmu untuk selama-lamanya? Kalau uangmu berlebihan, permisi tanya, dari mana kau mendapatkannya? Dari hasil perjuanganmu atau dari hasil rampasanmu? Dari keserakahan atau dari keringatmu sendiri? Dihadiahi orang atau apa?
Saya sering berpesan pada hamba-hamba Tuhan yang lebih muda dari saya: Kalian harus bias membedakan sumber keuanganmu, juga motivasi pemberinya. Orang memberi uang karena ingin membeli kamu, menyuap kamu, memperalat kamu; atau karena menghargai kamu, menghormati Tuhan atau untuk kau pakai dalam pekerjaan Tuhan? Juga harus tahu ke mana uang itu kalian pakai, jangan serakah, jangan kuatir, jangan merampas, jangan menginginkan milik orang lain. Setelah kalian mendapatkan, jangan biarkan uang membelenggu diri kalian, tetapi gunakanlah uang itu dengan baik. John Wesley pernah berkhotbah, "Hai orang Kristen, carilah uang dengan giat. Amin? (Lalu jemaat menjawab "Amin!"). Setelah mendapat banyak uang, simpanlah uangmu dengan baik, jangan memboroskannya.
Amin? (Jemaat menjawab "Amin!"). Setelah itu, persembahkan sebanyak mungkin pada Tuhan. Amin?" Lalu suara "Amin" pun menghilang. Semua orang saling berpandangan, tapi tak terdengar lagi kata "Amin!"
Mengapa Tuhan memberi kita kekayaan lebih dari yang kita butuhkan? Jika kau tidak hidup di dalam iman, tapi hidup di dalam kekuatiran, meski diberi gunung emas sekalipun tetap tidak akan puas dengan apa yang kau miliki. Jika Tuhan memberimu kecukupan dan kau bisa menggunakannya dengan baik, kau akan menyaksikan bahwa Tuhan tak pernah meninggalkanmu.
Salah satu ujian Tuhan yang paling kejam adalah mengirim Elia ke rumah janda di Sarfat. Janda itu sudah ditinggal mati oleh suaminya, sudah tak berpengharapan, karena ia harus membesarkan seorang anak lagi. Padahal miliknya hanya sisa sedikit tepung dan sedikit minyak, maka pikirnya: Aku akan membuat roti untuk santapan terakhir kami, esok kami tinggal tunggu mati bersama-sama (karena jaman itu adalah jaman kelaparan). Tapi Tuhan mengirim Elia datang mengetuk pintu rumahnya.
"Kaukah anda itu?"
"Ya," jawabnya. "Siapakah Bapak?"
"Aku adalah nabi Yehovah (Yahweh). Namaku Elia. Tuhan telah menggerakkan hatiku dengan roh-Nya untuk tinggal di rumahmu."
Janda itu mungkin berkata dalam hatinya, "Oh Tuhan, apa Kau tidak salah? Mengapa Kau tidak mengirimnya ke rumah orang kaya saja, malah mengirimnya ke rumahku, seorang janda miskin, di jaman kelaparan ini? Belum lagi perawakannya besar, kantong nasinya pasti besar juga." Tapi sanggupkah si Janda menolaknya? Perkara itu sungguh tidak dapat kita pahami. Elia seorang lelaki, dikirim ke rumah perempuan, janda lagi.
Mungkin orang di sekitar sana akan bergunjing: Apa apa ini? Untuk apa dia menumpang di rumah seorang janda? Untuk bermain seks atau apa? Memang cara Tuhan seringkali tidak bisa kita pahami: Janda miskin itu disuruh menghidupi lelaki yang tubuhnya besar. Dari manakah ia bisa mendapatkan makanan? Kalau saja mereka bertiga mati kelaparan, orang tentu akan berpikir, "Tuhan mengirim hamba-Nya untuk membunuh mereka." Tapi janda itu begitu taat, dia mendahulukan pekerjaan Tuhan. Dan ini adalah pelajaran yang penting.
Tuhan sudah mengirimnya, maka janda itu menyuruh Elia masuk dan menunjukkan kamarnya, lalu pergi menyediakan makan baginya. Saat ia di dapur, ia bisa saja mengutuk Tuhan, "Mana mata-Mu, makanan apa yang ada di dapurku?" Tapi janda itu tidak berbuat demikian. Setelah ia memanggang roti, ia menyuguhkannya pada Elia. Lalu kembali ke dapur untuk menangis di sana, karena ia dan anaknya tinggal menunggu mati kelaparan. Tetapi begitu sampai di dapur, ia melihat tepungnya seperti tidak berkurang, masih sebanyak tadi. Kalau saja ia tidak membuatkan roti untuk Elia hari itu, ia dan anaknya pasti mati. Justru karena ia memberikannya pada Elia, Tuhan memberinya lagi. Ia bahkan bisa membuat roti bagi dirinya dan anaknya. Tepung dan minyak yang ia miliki tetap sebanyak itu.
Orang bertanya pada saya, "KKR tahun 2003 ini diadakan di Stadion Utama? Ini jaman apa, mengapa kau berani merencanakan KKR di Indonesia dengan biaya sebesar itu? Dari mana kita mendapatkan dana?" "Saya juga tidak tahu," jawab saya, "Saya hanya tahu berjanji dengan iman, GRII pusat paling sedikit memberikan lima ratus juta rupiah." "Apa jadinya kalau dana tidak cukup?" "Saya hanya tahu itu adalah perintah Tuhan. Saya harus ingat dulu, perkara yang Tuhan ingin kita kerjakan, nanti Tuhan akan menyediakan."
Ada orang juga bertanya, "Anda ingin membangun gereja besar, dari mana dananya?" "Saya juga tidak tahu. Yang saya tahu, di Jakarta ada begitu banyak bangunan raksasa untuk pekerjaan dunia, mengapa kita tidak bisa membangun bangunan untuk pekerjaan Allah Bapa kita di surga? Biarpun mungkin memakan waktu yang cukup lama, tapi harus kita kerjakan. Kiranya kehendak Tuhan saja yang jadi."
Orang dunia berani melakukan perkara-perkara besar untuk dunia, jika anak Tuhan tidak berani melakukan perkara-perkara besar untuk Tuhan, tidak mau betul-betul berjuang bagi pekerjaan Tuhan, masih beranikah ia menyebut dirinya mengasihi Tuhan? Begitu banyak uang yang telah kau pakai untuk keluargamu, mengapa kau tidak berani mempersembahkan sesuatu untuk pekerjaan Tuhan? Pada hari ketika janda itu memberikan jatah makanannya yang terakhir, pada hari itu pula Tuhan melakukan mujizat. Selama tiga setengah tahun, ia tak pernah kekurangan makanan.
Jangan serakah, jangan kuatir, jangan takut, jangan berpikir Tuhan sudah meninggalkanmu, karena Tuhan sudah berjanji, "I will never forsake you, I will never leave you - Aku akan selalu memeliharamu." Itulah sebabnya jangan kita terus-menerus menjadi budak uang. Berkatalah pada Tuhan dengan iman: "Aku percaya pada-Mu, Tuhan yang hidup." Amin.


Ringkasan Khotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 53 - Januari 2004
(http://www.facebook.com/topic.php?uid=147775198050&topic=18946)

Tidak ada komentar: