Jumat, 30 Maret 2012

Doa Dan Pelayanan

Nats Alkitab : Yakobus 5 : 17-20
 
Yakobus adalah satu-satunya kitab di Alkitab yang menfokuskan diri dalam membahas soal  kelakuan dan perbuatan. Tuhan mengizinkan surat ini diletakkan di belakang surat Ibrani — satu-satunya kitab yang membahas tentang iman, mengindikasikan bahwa setelah seorang punya iman, dia harus punya perbuatan. Karena perbuatan baik adalah wujud dari iman yang sejati. Mengapa Yakobus mengakhiri suratnya dengan doa dan penginjilan?
 
Minggu lalu kita sudah membahas, doa Elia adalah doa yang paling tidak manusiawi: paling kejam, sama sekali tak masuk akal: minta supaya seluruh Israel tak turun hujan selama tiga setengah tahun. Permisi tanya, selama tiga setengah tahun itu, berapa banyak orang yang mati kelaparan, berapa banyak kerugian yang diderita oleh seluruh bangsa Israel? Bukan saja demikian, doanya diakhiri dengan kekejaman yang dahsyat: sudah tiga setengah tahun tidak turun hujan, dia masih menyuruh mereka menuangkan semua air yang masih tersisa. Mengapa saya tidak menyebutnya sebagai puncak dari kekejamannya? Karena saat dia menantang nabi-nabi Baal, bukan minta hujan tapi minta api, guna membuktikan Allah mana yang sejati. Saat waktu yang dijadwalkan hampir berakhir, nabi-nabi Baal berseru-seru, bahkan menusuk-nusuk tubuhnya dengan pisau.

Terlihat di sini, doa orang kafir atau para pengikut ajaran bidat selalu lebih antusias, lebih emosional ketimbang doa orang yang sungguh-sungguh beriman. Karena emosi mereka didorong oleh satu kemauan keras, menuntut dewa yang mereka sembah menuruti permintaan mereka. Tapi sekalipun doa mereka sudah begitu antusias, api tetap tidak turun. Kata Elia, coba berdoa dengan suara yang lebih nyaring, mungkin allahmu sedang beristirahat, sedang ke pinggir (bahasa aslinya bisa diterjemahkan: sedang ke WC). Merekapun berseru-seru dengan suara yang lebih nyaring: Baal, Baal…. tetap tak ada jawaban. Lalu kata Elia, cukup, allahmu terbukti palsu. Sekarang, buatlah satu mezbah. Untuk siapa? Jehovah. Mengapa? Karena orang Israel sudah lupa akan Allahnya, mereka tidak pergi ke Bait Allah di Yerusalem, yang terletak di negara Yehuda. Padahal menurut Taurat Musa, setiap tahun tiga kali mereka harus menyembah Allah di Yerusalem. Elia adalah satu-satunya nabi di Alkitab yang tidak ada hubungannya dengan Yerusalem, karena Tuhan mengutusnya melayani di negara Is­rael yang di Utara. Setelah mezbah didirikan, dia memerintahkan orang Israel menyembelih korban, menyusun korban di atas mezbah dan menyiramnya dengan air. Bukankah mereka akan minta api, mengapa harus mengguyur mezbah dengan air? tapi itulah yang Elia perintahkan, bukan hanya mengguyur satu kali, tapi empat kali. Sungguh suatu perintah yang sangat kaku dan sama sekali tak masuk akal, lalu katanya berdoalah kepada Allah. Apa isi doanya?



Kalau Jehovah adalah Allah, berbakti padaNya, jangan bercabang hati lagi. Maka semua orang meninggalkan mezbah Baal, mengelilingi Elia seorang. yang tidak punya isteri, anak, back­ing apapun, tapi berani menantang seluruh zaman tanpa takut pada siapapun. Mengapa hari itu Elia memboroskan semua air yang masih tersisa, tapi mereka tidak membunuhnya? Karena penyertaan Tuhan, pemeteraian Tuhan atas diri hambaNya begitu nyata, sampai raja Ahabpun menyingkir, tak berani mengganggu gugat dia. Iman Elia adalah iman yang seperti apa? Iman yang dia telusuri sampai pada Abraham. Allah yang Abraham percaya adalah the Master of history. Allah yang mengikat janji sekaligus memelihara janjiNya. Maka Elia bukan berdoa seturut ambisi pribadinya, melainkan seturut janji Allah yang kekal, God, let the people know that You are God.and know that I am Your servant. Dia minta Allah menurunkan api. Apakah tidak salah? Di saat seluruh bangsa membutuhkan air, Elia malah minta api bukan minta air? Sesungguhnya. air tak akan turun tanpa didahului dengan turunnya api, hujan rohani tak akan turun, sebelum kebangunan rohani yang sejati terjadi. Maka kata Tuhan, I’ll be with you. I will zeal your prayer, apipun diturunkan dari sorga, korban yang sudah disiram air begitu rupa terbakar habis, terbukti bahwa Jehovah adalah Allah yang sejati, kebangunan rohanipun terjadi, orang Israel sadar, selama itu, mereka tertipu oleh nabi-nabi palsu dan seluruh bangsapun kembali pada Tuhan yang sejati, iman yang sejati.

Setelah itu, apakah Elia merasa dirinya hebat, nabi yang sejati? Tidak, dia memerintahkan orang Israel membunuh 400 orang nabi Baal. Orang Israel pun mengejar nabi-nabi itu, satu per satu ditangkap dan dibunuhnya. Sebelum hujan turun dengan deras, Elia bernubuat pada Ahab, pasanglah tutup di atas keretamu. Dan benar, sebelum kereta itu membawa Ahab sampai ke kaki gunung Karmel, hujan deraspun turun. Elia memang sangat berani, namun se­sungguhnya, dia masih kurang berani, karena dia menyisakan 450 orang nabi yang dipelihara oleh Nyonya Ahab. Mengapa Elia berani membunuh 400 orang nabi yang dipelihara oleh Ahab? Karena dia tahu. penguasa negara pada saat itu bukan Ahab tapi nyonyanya. Mengapa bisa begitu? Karena Elia was an ordinary person, just like you and like me: dia lahir di kota kecil yang tidak dapat kita temukan lokasinya di peta, dibesarkan di keluarga yang tak dikenal, tapi setelah dia mendapat visi Tuhan untuk mengubah zaman itu, dia menjadi begitu berbeda. Tuhan memakai dia dengan cara yang lain dari yang lain. Saat dia menyendiri di tepi sungai Kerit, Tuhan mengirimkan burung gagak membawakan roti untuknya. Tuhan pernah mengirimnya menumpang di rumah seorang janda di Sarfat, bagaimana mungkin seorang pria yang tak beristeri disuruh tinggal di rumah seorang perempuan yang tak bersuami; janda, bukankah hal itu akan mengundang rumor besar? mengapa Tuhan menyuruh seorang janda bukan seorang kaya untuk menghidupinya…. Banyak hal aneh yang Tuhan kerjakan, yang tidak kita pahami.
Elia beriman pada Tuhan. tapi dia tetaplah manusia biasa yang berdarah daging, yang bisa sakit, lesu, lelah, merasa begitu lonely: hanya sisa aku seorang diri, dan mereka masih mau mengambil nyawaku. Juga bisa takut menyalahi Isebel, isteri Ahab yang kejam bukan kepalang. Memang, setelah berita di atas gunung Karmel sampai ke telinga Isebel, katanya: beritahukan pada Elia, aku bersumpah demi dewaku (mirip kata-kata Elia: aku bersumpah demi Jehovah) besok, pada jam seperti sekarang ini, kalau aku tidak mencabut nyawanya, biarlah dewaku menghukum aku dengan hukuman yang berat. Mengapa dia tidak memerintahkan orang untuk menangkap Elia saat itu juga, tapi memberinya waktu 24 jam? Dia sedang bermain psikologis dengan Elia. Karena dia lihat, suaminya begitu percaya pada Baal, yang diyakini sangat berkuasa, ternyata waktu nabi-nabi Baal dibunuh, tak satupun yang lolos. Artinya Allah yang disembah Elia adalah Allah yang sejati, sementara Baal yang disembah suaminya palsu. Apa jadinya kalau nabi-nabi yang dia pelihara juga dikalahkan oleh Elia, mukanya dan muka suaminya akan di-kemanakan?

Jadi, Elia, sebaliknya kau pergi, jangan ganggu kami lagi. Mendengar kata Isebel itu, Elia langsung kabur, dia lupa, Tuhan bisa memeliharanya. Bukankah dia sudah mengalahkan Baal, seharusnya dia juga sanggup mengalahkan Asyera, tapi dia malah minta mati: Tuhan, lebih baik cabut nyawaku saja. Kata Tuhan, tidak, kau minta mati, Aku memberimu roti. Setelah dia makan, dia lari 40 hari. Perhatikan: setelah Elia memimpin kebangunan besar bagi seluruh bangsanya, dia tak lagi dipakai oleh Tuhan secara besar-besaran, karena dia menaruh rasa takut pada Isebel. Surat Yakobus menegaskan pentingnya perbuatan, tapi mengapa diakhiri dengan membahas:
  1. Mendoakan orang sakit yang dikaitkan dengan doa Elia? Penerapan iman seseorang dalam perbuatannya tak bisa lepas dari hidup doanya, sejauh mana dia mengetahui kehendak Tuhan. Begitu juga saat kau mendoakan orang sakit. kau sedang mewujudkan imanmu lewat memperhatikan orang yang sakit. Saat mendoakan kesembuhannya, doakan juga pengampunan dosanya, supaya dosanya tidak menghalang dia menerima anugerah Tuhan. Doa Elia adalah doa yang berpegang pada janji Allah pada Abraham, maka meski doanya dipandang kejam, tidak manusiawi, tapi doanya ada di dalam rencana Tuhan, berhasil membawa seluruh umat kembali pada Tuhan.
  2. Mengabarkan Injil. Perhatikan: istilah “injil” tidak kita temui di kitab Ibrani dan Yakobus, tapi apakah berarti kedua kitab itu tidak membicarakan tentang injil? Ada, hanya saja, istilah yang dipakai Ibrani adalah keselamatan: kaiau kita mengabaikan keselamatan yang begitu besar, mana mungkin kita luput dari dosa? Sementara istilah yang dipakai Yakobus adalah firman, ps.1, kita dilahirkan oleh firman, di ps.4, memberitakan firman, membawa orang keluar dari kemelut dosa. Inilah klimaks dari perbuatan orang Kristen: mengabarkan Injil. Ay.19, mencakup dua lapisan: A) di antara kamu: artinya di dalam gereja, kalau ada orang yang menyimpang dari kebenaran, apa yang harus kita perbuat? mengembalikannya pada kebenaran. B) orang yang belum mengenal Yesus, kau harus Injili dia, kalau dia bertobat, dia beroleh hidup baru di dalam Kristus. Apa maksudnya menyelamatkan dia dan menutupi banyak dosa? Jangan mengira penginjilan hanya menyelamatkan satu orang saja, karena or­ang itu bisa saja membawa keluarganya berpaling pada Tuhan.
64 tahun silam, ada seorang perempuan tua yang suka me­ngabarkan Injil mendatangi satu keluarga; suami isteri dengan delapan orang anak, katanya “apa agamamu?” Ibu rumah tangga itu menjawab “biasa, menyembah nenek moyang” “maukah kalian percaya Tuhan Yesus?” “Tidak, saya tak mau pindah-pindah agama!” Beberapa kali orang tua itu datang, si ibu rumah tangga menerimanya dengan baik. Lama kelamaan, ibu rumah tangga itu mulai merasa bosan dan marah “encim, jangan datang lagi, kami sudah punya agama” “belajar mengenal Yesus itu baik” “sudahlah, kamu percaya agamamu, kami percaya agama kami. Encim tak perlu datang lagi” Tapi orang tua itu tetap datang, sampai akhirnya diusir, dan encim itupun tak datang lagi. Si ibu rumah tangga merasa tenang, tak ada yang mengganggunya lagi. Tak lama kemudian, salah seorang anaknya sakit 24 hari, panasnya tak pernah turun, badannya semakin kurus, ibu itu mulai gelisah, dia pergi ke klenteng. minta dewa-dewa menyembuhkan anaknya. Dia dianjurkan menyajikan 48 meja hidangan bagi para dewa, agar anaknya bisa sembuh. Tapi mana mungkin dia memenuhi tuntutan itu. dia hanya bisa menyaksikan anaknya semakin hari semakin kurus. Suatu hari, encim itu datang lagi, katanya “saya sudah lama tidak datang, tapi saya merasakan ada satu desakan, me­nyuruh kau percaya Tuhan Yesus……bolehkah saya mendoakanmu?” “OK, kebetulan anak saya sakit, sudah 25 hari, tolong doakan dia” Dan malam itu juga, anaknya sembuh. Ibu rumah tangga itupun mulai tertarik….ke­luarga itu adalah keluarga saya, ibu rumah tangga itu adalah mama saya. Melalui encim yang pernah diusir itu. mama saya tertarik pada kekristenan, dia mulai membawa anak-anak ke gereja. Awalnya sih hanya sekedar balas budi, tapi lewat penjelasan yang diberikan encim itu, mama saya tertarik dengan firman Tuhan, anak-anak menyanyikan lagu-lagu Kristen di sekolah minggu juga di rumah, sampai papa saya mulai tertarik, mau ke gereja, satu tahun kemudian, dia meninggal. Sekarang, dimana encim itu? Pasti sudah meninggal. Tapi setiap kali saya membaca bagian ini, saya ingat akan dia. Kelak, di sorga sana, saya pasti mencari dia, saya ingin menjabat tangannya sambil berkata, puji Tuhan. kau membawakan injil pada ibu saya, kami sekeluarga menjadi orang Kristen, bahkan lima dari tujuh anak mama saya menjadi pendeta, saya sendiri sudah berkhotbah kepada lebih dari 22 juta or­ang. Artinya. encim itu bukan hanya menjalankan kewajibannya, menjadi orang Kristen yang berprilaku baik saja, dia mencapai klimaks dari kelakuannya: memberitakan injil pada orang. Orang yang beriman harus berperbuatan. dan klimaks dari perbuatannya adalah melakukan kehendak Tuhan: kemanapun dia pergi, dia mengabarkan Injil. Langkah-langkahmu menginjili akan dicatat oleh malaikat-How beautiful are the feet of them, they bring the good tiding to the people. 

Saat kakimu membawamu ke satu tempat, mulutmu memberitakan injil pada orang, saat itu, imanmu, kasihmu pada Tuhan nampak lewat perbuatanmu yang terindah. Akhirnya. lewat injil yang kau beritakan, jiwa orang itu diselamatkan, dia melalui hidup yang suci, berkuranglah dosa yang ada di bumi. Jadi, jangan kau lihat anak-anak sekolah minggu adalah anak-anak biasa, karena mereka mengenal Tuhan, dunia akan berkurang banyak dosa, amin? Kalau saya tidak menjadi orang Kristen, saya berani melakukan dosa yang sangat berat sekali dan tidak diketahui or­ang, mungkin ada ribuan orang yang saya rugikan. Tapi karena saya menjadi orang Kristen, maka lidah, mata, telinga, tangan, kaki saya milik Tuhan, saya melakukan kebajikan. menolong orang dengan kasih yang sungguh, membawa orang kembali pada kebenaran, lewat firman yang saya kabarkan. Dengan begitu, dosanya, dosa­nya … . ditutup. Maka bertobatlah, berlakulah sesuai dengan iman dan kabarkanlah injil. Dengan ini, kita mengakhiri ekspositori surat Yakobus — kitab kelima yang kita bahas di mimbar GRII, sejak Sep­tember, 1989

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah —EL)

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : http://www.nusahati.com/2011/12/doa-dan-pelayanan/

Tidak ada komentar: