Rabu, 10 Agustus 2011

Supir Taksi

Dua puluh tahun yang lalu, saya jadi supir taksi untuk membiayai hidup. Saya hidup mandiri, suatu kehidupan untuk seseorang yang tidak menginginkan adanya atasan. Yang tidak aku sadari juga hidup ini sebagai suatu pelayanan.

Karena aku bekerja pada malam hari, taksi saya menjadi tempat pengakuan dosa jalan-jalan. Penumpang meningkat, duduk di belakangku tanpa tahu siapa mereka, dan bercerita kepadaku mengenai kehidupan mereka. Saya bertemu dengan kehidupan beberapa orang yang membuat saya kagum, ada yang membuat saya gembira dan ada juga yang membuat saya terharu.

Tetapi tidak ada yang menyentuh hati kecuali cerita seorang wanita yang aku bawa di suatu malam pada bulan Agustus.

Saya mengangkat telepon dari suatu tempat. Saya mengira saya dikirim untuk menjemput beberapa orang yang habis berpesta, atau seseorang yang baru saja bertengkar dengan kekasihnya, atau seorang pekerja yang ingin bekerja lebih awal di suatu pabrik atau industri di suatu bagian kota.

Ketika saya sampai jam 2:30 AM, gedungnya gelap hanya sebuah cahaya yang nampak di sebuah jendela. Melihat situasi yang ada, beberapa supir taksi biasanya membunyikan klakson sekali atau dua kali, tunggu sebentar, kemudian pergi. Tetapi saya sering melihat orang-orang yang menggantungkan taksi sebagai alat satu-satunya transportasi mereka. Kecuali situasinya berbahaya, saya selalu pergi ke pintu. Penumpang ini mungkin membutuhkan bantuan saya, saya berpikir seperti itu. Kemudian saya berjalan menuju pintu dan mengetuk pintunya.

"Tunggu sebentar", jawab seseorang seperti orang tua. Saya dapat mendengar sesuatu diseret. Setelah menuggu lama, pintu kemudian dibuka. Seorang wanita tua yang berusia 80-an berdiri di depanku. Dia memakai rok cetakan dan topi kotak dengan kerudung yang menutupinya, seperti seseorang di film tahun 1940-an.

Di sebelahnya ada kopor nilon kecil. Bangunan apartemennya kelihatan seperti bangunan yang tidak ada orang yang tinggal selama bertahun-tahun. Furniturnya di tutupi dengan seperai. Tidak ada jam di dinding. Tidak ada perhiasan atau alat-alat apapun di meja. Di sebuah ujung ruangan ada kardus yang berisi foto-foto dan barang-barang pecah belah.

"Apakah kamu mau membawa tas saya ke mobil?", kata orang itu. Aku membawa tas itu ke taksi, kemudian kembali membantu wanita itu. Dia menggandeng tanganku dan kami berjalan perlahan-lahan. Dia terus berterima kasih karena kebaikanku.

"Tidak masalah", kataku. "Aku hanya mencoba memperlakukan penumpangku seperti aku memperlakukan ibuku".

"Oh, kamu orang yang baik", dia berkata.

Ketika sampai di dalam taksi, dia memberiku sebuah alamat, kemudian dia berkata, "Dapatkah kamu melewati kota?"

"Itu bukan jalan singkat", aku kemudian menjawabnya. "Oh, saya tidak keberatan", balasnya. "Saya tidak terburu-buru. Saya hanya menuju ke tempat program penyembuhan bagi pasien".

Saya melihat melalui kaca untuk melihat bagian belakang. Matanya berkaca-kaca. "Saya tidak punya siapa-siapa lagi", kata wanita itu. "Dokter bilang umurku tidak akan lama lagi".

Saya sudah sampai dan saya mematikan argo. "Rute mana yang mau kamu lalui?", aku bertanya.

Selama 2 jam, kami berjalan-jalan di kota. Dia menunjukkan kepadaku sebuah bangunan dimana tempat dia bekerja sebagai operator elevator. Kami menuju ke lingkungan dimana dia pernah tinggal bersama suaminya pada saat mereka jadi pengantin baru. Dia mengajak saya ke sebuah ruangan yang dulunya adalah ballroom dimana dia pernah menari-nari sewaktu masih muda. Kadang-kadang dia memintaku untuk memelankan taksi jika melewati bangunan-bangunan tertentu atau suatu tempat.

Pada saat hari sudah hampir fajar, dia berkata, "Aku lelah, mari kita berangkat".

Kamu pergi ke alamat yang dia berikan kepadaku. Tempat itu sebuah gedung yang kecil, seperti rumah sakit, kami menuju halaman yang banyak tiang-tiangnya. Ada 2 orang muncul begitu kami sampai. Mereka sangat senang, dan memandang setiap langkahnya. Mereka pasti sudah menunggu-nunggu kedatangan wanita itu.

Saya mengambil tas yang ada di bagasi dan meletakkannya di dekat pintu. Wanita itu sudah duduk di kursi roda.

"Berapa banyak aku berhutang padamu?", dia bertanya, sambil mengambil dompet.

"Tidak perlu", jawabku.

"Kamu kan harus bekerja", dia menjawab lagi.

"Akan ada penumpang yang lain", jawabku lagi.

Tanpa berpikir, saya membungkuk dan memberinya pelukan. Dia juga memelukku dengan erat. "Kamu memberikan sebuah kenangan kecil yang indah buat wanita tua seperti aku", dia berkata. "Terima kasih".

Saya menjabat tangannya, kemudian saya perlahan-lahan pergi. Di belakangku, suara pintu di tutup. Itu adalah suara pintu kehidupan yang akan di tutup. Saya tidak mencari penumpang lagi di shift itu. Saya berputar-putar tanpa tujuan, dan tidak berpikir apa-apa. Selamat hari itu, aku malas untuk berbicara. Bagaimana jika wanita itu bertemu dengan supir taksi yang mudah marah, atau tidak sabar? Bagaimana jika saya menolak untuk jalan, atau membunyikan klakson sekali, dan kemudian pergi?

Saya kira, saya tidak pernah melakukan hal yang istimewa dalam hidup saya. Kita berpikir hidup kita dikelilingi kenangan2 yang indah. Tapi kenangan yang indah datang ke kita tanpa kita sadari, terbungkus indah.


Banyak orang mungkin tidak ingat apa yang kamu lakukan, tetapi mereka akan selalu ingat bagaimana kamu membuat mereka merasakan.


Sumber : http://rumahrenungan.blogspot.com/2008_02_04_archive.html

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Very nice story..i love it ☺☺☺☺☺☺☺☺