Jumat, 31 Oktober 2014

Anugerah Penderitaan


 

Mungkin diantara kita tidak pernah tahu  tentang suatu kisah yang sangat inspiratif dari Presiden Amerika Serikat yang ke 32 yaitu Franklin Delano Roosevelt (30 Januari 1882 – 12 April 1945). Ya, di bawah kepemimpinanyalah Amerika dan sekutu berhasil menaklukkan Jerman dan Jepang dalam Perang Dunia kedua. Dan ia adalah satu-satunya presiden Amerika yang terpilih sebanyak 4 (empat) kali dalam jabatan tersebut (Tahun 1933 s.d 1945). 


Adalah film Warm Springs (pemandian air panas) yang mengisahkan tentang kisah nyata bagaimana sebuah keteguhan mental seorang calon Presiden Amerika waktu itu, Franklin Delano Roosevelt (FDR). Kisah Franklin Delano Roosevelt (FDR) yang mengalami kelumpuhan dan harus bertahan hidup di kursi roda dan kala itu ia memutuskan untuk melakukan terapi ke sebuah tempat peristirahatan yang memiliki kolam pemandian air panas di Warm Springs adalah sebuah kota di negara bagian Georgia, Amerika Serikat, dan secara administratif masuk ke wilayah Meriwether County.

Pada 1921, ketika Franklin D Roosevelt berusia 39 tahun, ia diracun oleh Rony Dappit, dan terserang penyakit polio yang mengakibatkan kakinya lumpuh. Selama menderita sakit, ia menumbuhkan sifat sabar dan kemampuan menguasai diri sendiri. Ia juga memperluas pengertiannya mengenai masalah-masalah sosial. Akhirnya, keluarga dan teman dekat FDR membawa FDR ke rumah sakit New York untuk menjalani terapi dan ia bertekad bahwa dirinya tidak akan kalah oleh penyakit tersebut. Kemudian pada tahun 1924 FDR kembali sehat dan kembali berkancah di dunia politik.

Dalam kehidupannya di Warm Spring, Franklin Delano Roosevelt (FDR) menemukan sebuah komunitas penderita folio yang mengalami kelumpuhan, yang mengejutkan kala itu ada 13 juta penderita folio di seluruh Amerika dan tidak mendapatkan perhatian dari Pemerintah Amerika. Saat itu pula belum ditemukan obat yang bisa menyembuhkan penyakit tersebut dan dokter ortopedi di Amerika menganggap penyakit ini sebagai penyakit menular, yang menyebabkan banyak penderita folio akhirnya terasing dari masyarakat.

Sosok Franklin Delano Roosevelt (FDR) yang mengalami depresi karena akibat penyakit ini ia harus membatalkan niatnya untuk naik sebagai kandidat Gubernur, namun dengan dukungan sang Istri, Eleanor Roosevelt kemudian FDR kembali bangkit sebagaimana cita-citanya untuk membangun perubahan di Amerika. Film ini mengingatkan kita bagaimana sosok pemimpin yang lahir oleh semangat dari keterpurukan dan lahir kembali untuk perduli semacam FDR dibutuhkan untuk mengatasi krisis.

Saat FDR memimpin, Amerika bisa mengatasi Great Depression (tahun 1930-an) walaupun FDR seorang yang lumpuh dan hidup diatas kursi roda. GDP Amerika turun dari $860 pada 1929 ke $630 di 1933 dan naik ke $1200 pada 1941. Kisah hidup Franklin Delano Roosevelt (FDR) dalam film Warm Springs (pemandian air panas), tempat dimana dia berjuang untuk menjadi lebih baik, sesudah kena penyakit lumpuh. Akibat semangatnya itulah, FDR adalah Presiden Amerika Serikat yang paling lama. Salah satu pencapaian Roosevelt yang terkenal dikarenakan kepemimpinannya membantu Amerika Serikat memulihkan diri dari masa “Depresi Hebat”.

Menurut Wikipedia, “Depresi Hebat” atau zaman malaise adalah sebuah peristiwa menurunnya tingkat ekonomi—secara dramatis—di seluruh dunia yang mulai terjadi pada tahun 1929. Depresi dimulai dengan peristiwa Selasa Kelam, yaitu peristiwa jatuhnya bursa saham New York pada tanggal 24 Oktober dan mencapai puncak terparahnya pada 29 Oktober 1929. Depresi ini menghancurkan ekonomi baik negara industri maupun negara berkembang. Volume perdagangan internasional berkurang drastis, begitu pula dengan pendapatan perseorangan, pendapatan pajak, harga, dan keuntungan.

Tahun 2003, sebuah penelitian yang dilansir Wikipedia, menemukan bahwa kelumpuhan kaki FDR sebenarnya adalah gullain-barre syndrome, bukan polio. Namun yang patut ditiru dari FDR adalah kepedulian sangat tinggi terhadap orang lain, karena kelumpuhannya yang tidak mematahkan semangatnya, Franklin D Roosevelt meyakini bahwa kelumpuhan tersebut adalah anugerah penderitaan yang harus dijalani dan dia berhasil.




Sumber : http://www.nusahati.com/2014/01/franklin-d-roosevelt-anugerah-penderitaan/

Hati Seorang Pemimpin


 


Saudara mau tidak mau dipanggil Tuhan untuk memimpin sekelompok orang. Namun dari manakah asalnya seorang pemimpin itu? Pemimpin itu dilahirkan atau dibentuk? Hal ini selalu menjadi pertanyaan di dalam ilmu kepemimpinan. Orang yang percaya pemimpin dilahirkan dan tidak memerlukan pembentukan atasnya, menjadikan mereka pesimistik dan tidak akan terjun di dalam melatih pemimpin. Orang yang percaya bahwa pemimpin bukan dilahirkan tetapi hasil pendidikan, akan selalu kurang melihat apa yang Tuhan tanam di dalam diri orang-orang tertentu yang bertugas menjalankan mandat surgawi yang penting. 


Saya sendiri percaya secara potensi pemimpin dilahirkan. Secara aktualisasi, pemimpin perlu dibentuk. Jadi setiap pemimpin yang besar, ada unsur potensinya, tetapi kalau unsur potensi tidak diperkembangkan akan menjadi bakat yang mati.

Maka Yesus sendiri selama 33,5 tahun di dunia meluangkan seluruh waktu pelayanannya 3,5 tahun untuk melatih pemimpin. Pemimpin harus dilatih di dalam banyak aspek. Seorang pemimpin memerlukan hati yang lebar dan lapang. Kesempitan seseorang akan membatasi kekuatan kepemimpinan orang itu. Sampai di mana takaran kemungkinan menampung orang lain dalam dirimu, itu menjadi potensi kemungkinan engkau memimpin berapa banyak orang. Ini dalil dan prinsip yang penting sekali.

Ketika Salomo dipilih menjadi pemimpin, dari saudara-saudaranya yang sama-sama keturunan Daud, ia adalah yang kecil, bukan kakak yang besar. Tapi mandat surga beserta panggilan dan pelantikan Tuhan datang kepadanya sehingga mengakibatkan kakaknya iri hati. Lalu di antara permintaannya kepada Tuhan sebelum menjabat sebagai raja Israel, Salomo berkata dalam 2 Tawarikh 1:10, “Berilah sekarang kepadaku hikmat dan pengertian, supaya aku dapat keluar dan masuk sebagai pemimpin bangsa ini, sebab siapakah yang dapat menghakimi umat-Mu yang besar ini?” (bnd. 1Raj. 3:9), karena Salomo tahu bahwa dia akan memerintah dan memimpin rakyat yang banyaknya seperti pasir laut. Ini adalah satu permintaan dan satu doa yang sangat sesuai dari seorang yang bersiap menjadi pemimpin. Kalau hatimu hanya bisa menampung lima orang, besok kamu akan menjadi pemimpin untuk paling banyak lima orang. Kalau hatimu bisa menampung lima juta orang, kamu mungkin berpotensi memimpin lima juta orang. Krisis kekristenan selalu terjadi berawal dari krisis kepemimpinan.

Seorang pemimpin yang hatinya sempit bukan saja menyusahkan orang yang dipimpin, namun terlebih dahulu menyusahkan diri sendiri. Apakah perbedaan Saul dan Daud sebagai pemimpin umat Allah? Perbedaanya adalah Saul tidak bisa mengalahkan musuh yang ada di dalam hatinya, yaitu kesempitannya. Salah satu dosa yang paling sulit kita kalahkan, salah satu kelemahan yang paling sulit kita atasi adalah pada saat kita mendengar penilaian orang lain yang membandingkan diri kita dengan penilaian orang lain terhadap orang lain. Saat terjadinya penilaian orang terhadap dirimu, tidak sebaik penilaian orang terhadap orang lain, itu sebenarnya menjadi saat engkau memikul salib.

Tetapi kalau kita lupa bahwa kita dipanggil untuk memikul salib, langsung kita terjerumus di dalam kuasa kematian dan tidak akan melihat kuasa kebangkitan. Kalimat yang didengar oleh Saul waktu melihat Daud berhasil mengalahkan dan membunuh Goliat adalah “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” (1Sam. 18:7). Perkataan ini menanamkan suatu kebencian dan suatu dendam yang tidak pernah selesai di dalam sisa hidup Saul. Mulai saat itu kepemimpinannya goncang.

Saya minta kepada saudara-saudara untuk meminta kepada Tuhan memberikan hati yang lapang untuk melihat keunggulan orang lain. Kalau itu tidak saudara selesaikan, saudara akan memikul salib yang tidak perlu dan tidak ada pahalanya. Saudara akan menyiksa diri di dalam kepahitan yang terus merongrong tidak habis-habisnya. Saya merasakan ada beban untuk membicarakan tema ini kepada saudara yang mungkin di antara kalian ada yang dibangkitkan Tuhan menjadi pemimpin-pemimpin yang penting untuk abad 21.

Toleransi dan Menghargai Keunggulan Orang Lain

Saudara-saudara, hati yang lapang memiliki toleransi dan menghargai keunggulan orang lain. Kesuksesan orang lain bukan menjadi penyebab untuk iri tetapi seharusnya menjadi penyebab kita belajar. Di belakang kesuksesan yang diraih orang lain, ada banyak air mata yang pernah dialirkan yang kita tidak melihatnya. Di belakang kesuksesan orang lain, berapa banyak jalan yang berliku-liku yang ditempuh, kita tidak tahu.

Tetapi tidak ada kesuksesan yang tidak membayar harga. Ini satu pengertian yang harus tertanam di dalam hati kita masing-masing untuk mengagumi fondasi yang tidak kelihatan lebih daripada mengagumi bangunan yang kelihatan. Bangunan yang tinggi kalau tidak mempunyai fondasi yang mendalam, akan memiliki kemegahan yang sementara. Bangunan yang tinggi harus mempunyai fondasi yang memadai untuk menjamin dan mendukung yang kelihatan. Jikalau manusia hanya mementingkan bagian yang kelihatan dan selalu melalaikan bagian yang tidak kelihatan, maka saatnya kita sebagai hamba Tuhan menyatakan perbedaan kita dengan yang lain.

Kita harus lebih mementingkan dasar yang tidak kelihatan daripada fenomena yang kelihatan karena dasar itulah yang menunjang keberadaan fenomena, bukan fenomena yang menjadi penunjang dasar yang tidak kelihatan itu. Hati yang lapang selain toleransi dan menghargai keunggulan orang lain, juga harus rendah hati dan bersedia mempelajari segala upaya yang dikorbankan sebelum meraih kemenangan itu. Hati yang lapang dan yang luas juga adalah hati yang menoleransi kelemahan orang yang kurang dan gagal. Jikalau seseorang mengagumi kesuksesan orang lain tetapi menghina kegagalan orang lain, dia tetap tidak bisa menjadi pemimpin yang baik. Kepada atasan, kepada mereka yang lebih mencapai kesuksesan dari kita, kita bersyukur kepada Tuhan yang memberi karunia yang begitu besar, kita bersyukur kepada Tuhan memberi potensi yang begitu baik, kita bersyukur kepada Tuhan memberi kesempatan yang begitu indah, dan kita bersyukur kepada Tuhan memberikan niat perjuangan yang begitu berharga, kita bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan telah memimpin kesulitan yang begitu lama sehingga ada hari kesuksesan orang lain.

Sebaliknya, pada saat kita melihat orang lain mengalami kegagalan, kelemahan, dan kekurangan, reaksi pertama yang seharusnya ada dari hati orang yang luas adalah: mau menemukan kekurangan kita di dalam kewajiban menolong dia lebih dari melihat kekurangan dia yang tidak mencapai kesuksesan. Setiap kali kita menyadari kelemahan kita melalui kegagalan orang lain, saat itu kita masih mungkin maju di dalam kerohanian. Setiap kali kita melalaikan kewajiban kita, hanya insaf kegagalan orang lain, di situ kita kemungkinan diperalat setan untuk menghina yang lain dan merebut kemuliaan Tuhan. (Bersambung)



Sumber : http://www.nusahati.com/2014/01/hati-seorang-pemimpin/

Saksi Yang Setia


Pada tanggal 13 Juni 1793, William Carey dan istrinya, Dorothy, bersama keempat anak mereka dan seorang pengasuh bayi berlayar dari Inggris menuju India menggunakan sebuah kapal. Pada waktu itu hanya beberapa orang saja yang menyaksikan keberangkatan mereka. Carey adalah seorang pembuat sepatu di desanya. Dengan pendidikannya yang sederhana, ia sebenarnya tidak punya keahlian apa-apa dalam pelayanan misi kecuali keyakinan bahwa Tuhan telah memanggilnya untuk memberikan hidupnya demi “pertobatan orang-orang asing”. Lagi pula, ia pergi ke India sebagai pendatang gelap karena tidak bisa mendapatkan izin imigrasi dari Perusahaan Hindia Timur. Dia juga punya masalah dalam hal keuangan. Sebagai seorang gembala yang tidak terkenal dari sebuah gereja kecil di wilayah Midlands di Inggris, ia hanya bisa mendapatkan bantuan dari beberapa temannya. Orang-orang terkemuka dari gereja Baptis di London tidak mau mengikut sertakan denominasi mereka karena merasa bahwa perjalanan yang ia ambil memunyai banyak ketidakpastian. 



Sekarang, 2 abad kemudian setelah ia mengambil langkah tersebut, Carey dikenal oleh seluruh dunia sebagai bapak dari misi modern. Sebenarnya Carey bukanlah misionaris pertama dari zaman modern. Bahkan, dia bukan orang Protestan pertama yang datang ke India. Hampir 100 tahun sebelum Carey menginjakkan kaki di Kalkuta, 2 orang dari Universitas Halle yang menjadi pusat gerakan Pietisme telah memulai sebuah misi di Tranquebar di India Selatan. Carey sendiri tidak senang dengan kepopuleran namanya yang mulai tersebar pada masa hidupnya. Dia membenci kenyataan bahwa beberapa kenalannya di Inggris mulai mengumpulkan benda-benda miliknya pada masa muda untuk dijadikan koleksi seperti cangkir yang pernah dipakainya, sepatu yang dibuatnya, papan iklan perusahaannya. “Semakin sedikit yang dikatakan tentang saya semakin baik,” katanya.

Ketika sudah dekat dengan kematiannya pada tahun 1834, ia meminta Alexander Duff, misionaris dari Skotlandia, untuk mendekat dan Carey berbisik, “Mr. Dufff, kamu telah berbicara tentang Dr. Carey, Dr. Carey terus; kalau saya sudah tidak ada, jangan lagi bicara tentang Dr. Carey, bicaralah tentang pekerjaan penginjilan Dr Carey!” Ini adalah sifat asli dari Carey. Namun kenyataannya, orang-orang Kristen generasi berikutnya tetap tertarik pada Carey sebagaimana mereka tertarik pada penginjilan yang dilakukannya.

Visi yang Menyebar

Bertahun-tahun kemudian John Ryland Jr., orang yang membaptiskan Carey, mendeskripsikan tahun-tahun awal pertobatannya sebagai masa yang penting di permulaan hidup Carey: “Di bulan Oktober 1783, pada waktu saya membaptis seorang penjual sepatu keliling di Nene, di belakang rumah pertemuan Doddridge, tidak ada pikiran sama sekali bahwa setelah 9 tahun berlalu, ia membuktikan dirinya sebagai orang pertama yang membentuk sebuah organisasi untuk mengirimkan misionaris ke bagian dunia yang belum mengenal Kristus. Lebih tidak diduga lagi, ia akan menjadi seorang profesor di perguruan tinggi Oriental dan penerjemah Alkitab ke dalam sebelas bahasa. Bagaimana hal yang luar biasa bisa terjadi? Ryland Jr. memberikan penjelasan yang sederhana namun masuk akal: “Saya percaya Tuhan sendiri yang menanamkan dalam pikiran Carey pentingnya keselamatan dari orang-orang di dunia luar.”

Salah satu peristiwa terkenal di permulaan pelayanan Carey terjadi ketika ia mengajukan usul pada para gembala supaya mereka mempertimbangkan tugas orang Kristen untuk berusaha membawa Injil ke bangsa-bangsa yang belum pernah mendengarnya. Ryland sangat terkejut dengan jawaban yang diterima Carey. “Duduklah anak muda. Jika Tuhan menghendaki bangsa-bangsa lain untuk bertobat Ia akan melakukannya tanpa bantuanmu atau bantuan saya.” Jawaban ini menujukkan betapa kerasnya hati mereka dalam penolakan untuk misi. Pendapat ini banyak mendapat sokongan pada zaman itu.

Tentang Amanat Agung Yesus (Matius 28:19), Carey melawan pendapat yang berkata bahwa kata-kata itu hanya berlaku untuk para rasul dan telah digenapi pada waktu gereja mula-mula. Carey mengajukan argumentasinya bahwa sebetulnya tidak ada batasan waktu dalam menjalankan Amanat Agung. “Pergilah” berarti untuk kita semua dan sekarang. Dia juga menjawab tiga hal yang menentang gerakan misionaris.

Pertama, kita menggunakan alasan-alasan untuk tidak melakukan sesuatu: “kita harus menunggu jalannya Tuhan”, “kita tidak boleh memaksakan jalan kita”. Namun Carey menjawab bahwa tidak seharusnya orang-orang Kristen mengabaikan jalan-jalan yang Tuhan sudah buka setiap harinya.

Kedua, ada yang mengaku bahwa waktunya belum datang untuk kegiatan seperti itu karena banyak nubuatan-nubuatan Alkitab sedang menunggu penggenapan. Carey mengajukan pernyataan bahwa tidak ada nubuatan yang harus digenapi sebelum Injil dibawa sampai ke ujung bumi. Sesungguhnya, Carey telah menyelesaikan sejumlah khotbah tentang kitab Wahyu sebelum keberangkatannya ke India.

Ketiga, untuk mereka yang mengatakan “kita punya cukup banyak pekerjaan di rumah”, Carey menanyakan apakah ini alasan yang masuk akal untuk tidak menyampaikan Kabar Baik Yesus Kristus kepada mereka yang tidak memunyai Alkitab, pengkhotbah, atau berbagai fasilitas yang sebenarnya tidak digunakan secara baik di rumah [orang Kristen]

Setia Sampai Akhir

Setelah melihat kembali kehidupan Carey, sangatlah mudah dimengerti mengapa ia dianggap sebagai seorang misionaris besar. Pelayanannya yang tidak pernah padam selama 40 tahun di India memberikan hasil yang luar biasa. Di bawah pengarahannya, Alkitab diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa India dan dialeknya. Ia mendirikan gereja di seluruh kawasan delta Sungai Gangga, dan bahkan mengirim misionaris ke bangsa-bangsa lain. Ia juga mengorganisasi suatu lembaga sekolah untuk anak-anak India dan akhirnya mendirikan Perguruan Tinggi Serampore. Di sana teologi Kristen diajarkan bersama dengan sastra India dan teknologi Barat.

Ia juga pendiri dari Yayasan Pertanian India dan menerbitkan kumpulan esai untuk memperbaiki hasil pertanian. Selain menjadi seorang profesor yang dihormati di Fort William College, ia juga mengemukakan kumpulan-kumpulan kritik pada tulisan Hindu kuno. Ia mendirikan sebuah rumah sakit untuk orang-orang kusta dan sekolah misionari untuk rakyat jelata. Carey berusaha menentang penghancuran kehidupan manusia melalui pembunuhan anak-anak, pengguguran bayi, dan sati, yaitu upacara pembakaran para janda. Persahabatan dan kerja sama dengan umat percaya lain di India diterapkan dengan mengusahakan suatu pertemuan umum dari sejumlah denominasi Kristen dengan tujuan untuk mengoordinasi suatu gerakan penginjilan sedunia.

Setiap tahun pada hari ulang tahunnya, Carey mengevaluasi kembali kehidupannya dan melihat sampai di mana kemajuan rohaninya. Dalam surat pada anaknya, Jabez, ketika hari ulang tahunnya pada tahun 1819, ia mengaku, “Saya berumur 58 tahun pada hari ini, namun masih sedikit yang sudah saya lakukan untuk Tuhan.” Semua pencobaan yang dialami Carey selama pelayanannya — kematian istrinya, kebakaran yang menghancurkan Serampore Press, sakit berat yang diderita istri keduanya, dan kematian anak pertamanya — patut kita ingat. Dalam menghadapi semuanya ini Carey mengalami pembentukan dalam kehidupan rohaninya. Terungkap dalam buku hariannya yang ditulis selama tahun pertama di India, “Aku merasa sebenarnya bahwa sangatlah baik untuk menyerahkan jiwa raga dan keseluruhan hidupku kepada Tuhan. Barulah kemudian dunia ini terlihat kecil. Janji Tuhan besar dan Dia adalah bagianku yang terbaik.”

Dalam mengevaluasi perjalanan hidup Carey, kita harus ingat bahwa keberhasilannya tidaklah berasal dari karyanya sendiri tapi Lebih merupakan suatu kerja sama suatu grup. Hasil kerja dari William Ward, Joshua dan Hannah Marhman, dan orang-orang lain yang mendukung, terutama John Ryland Jr., David Brown, Henry Martyn, dan orang-orang India yang bertobat melalui kesaksian Carey, semuanya merupakan bagian dari suatu mata rantai kerjasama yang saling menunjang dalam mengabarkan Kabar Baik Yesus Kristus ke sejumlah tempat di India dan dunia. Tepat pada saat matahari terbit pukul 05.30 pagi, tanggal 9 Juni 1834, Carey meninggal pada usia 73 tahun. Selama hidupnya ia selalu dihibur oleh lagu-lagu pujian dari Isaac Watts. Salah satu permintaan terakhirnya adalah agar salah satu syair dari lagu ciptaan Watts diukirkan pada batu nisan kuburnya yang berbunyi: “Seorang yang hina miskin dan tak berdaya, namun dalam naungan-Nya ‘ku berada.”

Salah seorang yang menyaksikan acara penguburannya adalah seorang misionaris muda dari Skotlandia yang ternama John Leechman. Tanpa diragukan, Ia menulis: “Dan sekarang apa yang harus kita lakukan? Tuhan telah mengangkat nabi kita Elia ke surga. Dia telah mengangkat guru kita dari benak kita sekarang. Tapi janganlah kita kecewa. Tuhan dari segala misi hidup untuk selamanya. Rencana-Nya harus terus berlanjut. Pintu maut tidak akan bisa membendung gerakan-Nya, atau menghalangi keberhasilan-Nya. Mari, kita memunyai hal lain yang lebih penting daripada hanya berduka dan bersusah. Dengan pemimpin kita yang sudah meninggal itu semuanya berjalan dengan baik, ia telah menyelesaikan perjalanannya secara gemilang. Sekarang, karyanya turun pada kita untuk pencurahan Roh Ilahi yang lebih lagi.”



Sumber : http://www.nusahati.com/2014/01/wlliam-carey-saksi-yang-setia/

Kasih Yang Sempurna (Bagian III)



Kasih Yang Sempurna (Bagian III)
Tingkatan Kasih Kepada Manusia
Kini kita perlu secara khusus membahas lebih terperinci tentang cinta kasih yang terjadi di antara sesama manusia. Cinta kasih yang terjadi di antara sesama manusia ini masih perlu kita bagi lagi menjadi beberapa tingkatan.

Mengasihi Yang Agung

Tingkatan yang pertama adalah bagaimana kita harus mengasihi orang yang agung, yang tinggi, dan hormat. Kita perlu mengasihi orang-orang yang dari mereka kita bisa belajar banyak. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang melampaui zaman. Orang-orang agung  ini adalah orang-orang yang lintas zaman, mereka senantiasa dikenang, dihormati, dan dipelajari oleh orang-orang di segala zaman. Mungkinkah orang di abad ke-21 mencintai orang yang sudah meninggal tiga ribu tahun yang lalu? Mungkin saja. Kita bisa mencintai Musa, Daud, Abraham, atau tokoh-tokoh lainnya. Kita bisa belajar dari teladan hidup mereka, karena mereka begitu anggun, begitu terhormat, begitu bernilai sampai sekarang. Walaupun mereka sudah meninggal sekian lama, sudah menjadi mayat, sudah menjadi tulang belulang, bahkan sudah tidak adalagi bekasnya, namun pikiran dan hidup mereka tetap mempengaruhi manusia dari zaman ke zaman.  Itulah kasih manusia yang melampaui pergerakan zaman dan melampaui waktu. Kita menghormati dan mengasihi Paulus, Petrus, dan murid-murid Tuhan Yesus lainnya atau tokoh-tokoh besar yang kita pelajari satu persatu dalam Ibarani pasal 13. Kita dapat mencintai manusia, bahkan mencintai orang sudah mati ribuan tahun yang lalu. Cinta itu bisa melampaui zaman, melampaui segala bentuk fenomena. Orang mengatakan bahwa Socrates adalah orang yang wajahnya bagaikan badut, tetapi memiliki jiwa Tuhan Allah. Jadi, ketika kita melihat wajahnya, kita akan melihat sedemikian buruknya, tetapi di lain pihak, seluruh dunia menghormatinya karena dia mempunyai jiwa yang anggun sekali. Inilah cinta kepada manusia, yang melampaui zaman, bangsa, suku, keelokan (penampilan fisik). Inilah cinta yang sungguh; cinta kepada orang yang anggun, tinggi, hormat. Jadikanlah dirimu seorang yang patut dikasihi umat manusia; bahkan setelah kamu meninggal beratus tahun lamanya, kiranya hidupmu boleh menjadi hidup yang dirindukan dan diteladani disepanjang segala zaman.
Mengasihi Yang Setara

Tingkatan kedua dari mengasihi sesama adalah bagaimana kita bisa mengasihi sesama kita yang sederajat dengan kita. Itu yang kita kenal sebagai kasih persaudaraan, kasih persahabatan. Sama-sama menjadi Kristen, sama-sama menjadi majelis, sama-sama menjadi hamba Tuhan, sama-sama hidup di dalam satu negara, sama-sama di dalam satu zaman, di tempat dan waktu yang sama. Mari kita mengasihi dengan kasih persaudaraan dan persahabatan sebagai kawan dengan kawan. Ini adalah cinta kasih yang sejajar. Kita tidak mutlak harus luar biasa menghormati seseorang baru dapat mencintainya. Ada orang yang hanya melihat ke atas dan tidak melihat ke bawah; dia menghina orang yang sedikit kalah intelektualitasnya dibandingkan dirinya. Itu tidak boleh dan tidak baik dilakukan. Sebagai seorang pendeta senior, bahkan jauh lebih senior daripada kebanyakan rekan kerja saya di Gereja, saya tetap berusaha untuk mau melihat kebaikan mereka satu per satu. Setiap rekan kerja yang saya undang untuk bersama berjuang dalam pelayanan adalah orang yang saya nikmati kelebihan mereka. Kalau ada orang yang mengatakan bahwa saya tidak bisa memakai orang pandai, saya rasa kalimat itu bohong, fitnah. Dan saya marah sekali, karena di antara rekan kerja yang saya panggil, banyak orang pintar. Dan sepintar apa pun mereka, jika mereka merasa lebih pintar dan tidak mau bekerja sama dengan saya, itu berarti merekalah yang tidak mau bekerja sama dengan saya. Bukan saya yang tidak mau bekerja sama dengan orang pintar.

Mari kita belajar, jangan karena melihat orang memiliki sedikit kekurangan dibandingkan dengan kita, maka kita menghina dia. Ketika saya memanggil rekan-rekan kerja saya, mereka menjadi teman baik saya. Namun, antara teman baik saya dan teman baik saya yang lain, ternyata bisa tidak baik. Si A adalah teman baik saya, demikian pula si B, tetapi A dan B ternyata tidak menjadi teman baik. Saya sangat berharap teman baik saya juga akan berteman baik dengan teman baik saya yang lain. Dengan demikian mereka juga bisa belajar saling mengasihi, saling menghargai, saling menghormati. Dengan demikian, teman baiki saya yang satu dengan teman baik yang lain menjadi teman. Jika saya yang lebih senior mau menjadi teman dari rekan-rekan yang lebih senior mau menjadi teman dari rekan-rekan yang lebih junior, melainkan bisa menikmati kelebihan mereka masing-masing, kiranya teman-teman junior saya juga boleh saling menghormati dan tidak menghina sesama rekan dan juga boleh menikmati kelebihan mereka masing-masing. Kalau bisa, saya mau memupuk, mengoreksi, dan memberi tahu supaya mereka bisa maju dengan sikap yang sama. Tuhan mau dicintai oleh kita, dan Tuhan mau kita juga saling mencintai. Yesusberkata,”Sebagaimana Bapa mencintai Aku, demikian Aku mencintai kamu. Dan Aku memberi perintah kepadamu untuk saling mengasihi.”

Di dalam mengasihi sesama, hal terbaik yang diperlakukan adalah terjadinya saling menerima (coacceptance), kita harus memposisikan diri dalam posisi sejajar dengan orang yang kita kasihi, sehingga kita tidak menjadi superior di hadapan dia. Kita perlu menghargai kelebihan-kelebihan yang dia miliki, sama seperti  dia juga menghargai kelebihan-kelebihan yang kita miliki. Jika kita menghina orang lain karena kita anggap kita lebih superior daripada dia, itu berarti kita tidak bisa melihat kelebihan yang ada pada dia, dan malah mengukur dia  menurut kelebihan-kelebihan kita. Bentuk relasi seperti ini tidak mencerminkan kasih kepada sesama. Khususnya ketika kita mau belajar menerima orang-orang yang sulit kita terima, dibutuhkan suatu kesabaran yang sangat besar. Tetapi  hal ini sangat penting, karena dari sini nanti akan terbentuk suatu harmoni masyarakat. Kalau kita hanya menerima yang mudah kita terima, akan terbentuk pengelompokan masyarakat dan akan berakhir dengan pertikaian dan peperangan. Kasih yang baik kepada sesama merupakan rahasia keharmonisan masyarakat. Maka kata kunci yang penting di dini adalah sinkronisasi. Perlu ada kinerja dan gerak bersama. Saya menerima kamu sebagaimana adanya, dan kamupun menerima saya sebagaimana adanya. Menerima seseorang berarti menerima kelebihan dan sekaligus kelemahannya. Jika kita hanya mau menerima yang baik, lalu menghina semua kekurangan. Itu bukanlah sikap kasih. Tetapi kasih adalah ketika kita menerima seseorang, kita melihat ada kelemahan-kelemahan pada dirinya, dan kita tidak suka pada kelemahan-kelemahan itu, namun kita tetap mengasihi dia dan menerima dia. Itulah kasih yang Tuhan Yesus terapkan dan lakukan terhadap umat-Nya. Dengan demikian, jika kita bisa mengasihi seperti itu, kita baru belajar mengasihi orang yang hebat, yang sangat baik, itu bukan kasih, itu hanyalah suatu kekaguman. Dan sering kali, perasaan kekaguman akan kehebatan orang bisa mengarah kepada motivasi ingin memperalat dan mendapatkan keuntungan dari dirinya. Siapa yang tidak mau menyayangi orang yang sangat cantik, siapa yang tidak mau mencintai orang yang sangat ganteng, siapa yang tidak mau dekat dengan orang yang pandai. Lalu, apakah orang kurang cantik boleh dihina, yang kurang pandai boleh disisihkan? Mengasihi adalah belajar belajar memberikan sesuatu kepada yang tidak patut menerima.

Pada suatu saat, saya membaca sebuah artikel yang menceritakan bagaimana seorang suami begitu mengasihi istrinya, sekalipun istrinya mengalami kecelakaan dan hidungnya hancur. Saya saat itu mencoba mengevaluasi kerohanian saya, apakah saya bisa bersikap seperti suami itu. Suami istri ini mempunyai anak-anak yang baik. Secara teori saya belajar bagaimana mengasihi, tetapi secara praktis ternyata sedemikian sulit bagi kita untuk bisa mengasihi orang yang sulit dikasihi. Saya minta Tuhan mengampuni saya.

Kita harus belajar mengasihi yang tidak patut dikasihi. Kita harus belajar menghormati seseorang karena dia juga manusia. Kita tidak menghormati dia pandai atau baik atau punya keunggulan tertentu. Kita perlu menghormati dia karena dia adalah manusia. Seorang ibu harus menerima bagaimanapun keadaan anaknya, karena memang dia tidak berhak memilih. Memang hal ini tidak terlalu terasa jika anak kita sehat, lahir dengan utuh sempurna, dan rupawan. Tetapi bagaimana jika anak kita lahir cacat? Apakah kita masih bisa tetap mengasihinya? Saya pernah melihat seorang ibu yang menggendong anaknya yang idiot sampai sepuluh tahun. Setelah sepuluh tahun, ibu ini tidak bisa bertahan lagi, lalu menyerahkan anaknya kepada pemerintah Amerika Serikat. Tapi paling tidak ibu ini sudah bisa bertahan sepuluh tahun. Itu bukanlah keadaan yang mudah untuk dijalani. Tuhan telah mengasihi kita, maka kita perlu belajar saling mengasihi. Kalau Tuhan mau mencari kelemahan dan kekurangan kita, pasti setiap kita sudah dibuang ke neraka. Jika Tuhan bisa mengasihi kita yang tidak layak dikasihi ini, sebaliknya kita tidak bisa mengasihi orang lain, lalu kita mengatakan bahwa kita adalah orang Kristen, maka kita adalah penipu dan pembohong. Kita harus belajar mengasihi mereka yang tidak patut kita kasihi, sehingga tidak ada seorangpun yang kita hina atau kita benci. Memang sangat tidak mudah untuk mengasihi yang tidak mengasihi kita, tetapi itulah yang Tuhan kehendaki.

Mengasihi Yang Lebih Rendah

Ketiga, kita juga harus mengasihi mereka yang lebih rendah posisinya daripada kita. Bukan persahabatan, bukan perkawanan, tetapi suatu perasaan belas kasihan. Kita mengagumi orang yang lebih tinggi posisinya daripada kita. Kita mengasihi orang yang sejajar dengan kita, dan kita memberikan belas kasihan kepada mereka yang berada lebih rendah daripada kita. Alkitab mengatakan jika seseorang menutup hatinya dan tidak mau memberi belas kasihan kepada orang lain. Tuhan pun akan menutup hati-Nya dan tidak memberikan belas kasihan kepadanya. Berbahagialah mereka yang memberikan belas kasihan kepada orang lain, karena mereka juga akan mendapatkan belas kasihan Tuhan. Inilah emosi yang begitu tinggi dan anggun dari Tuhan Yesus Kristus. Ketika Tuhan Yesus berinkarnasi di dunia, Alkitab sepuluh kali mencatat Dia tergerak oleh belas kasihan kepada manusia. Memang orang yang bertindak dengan cara yang tidak jujur dan bersifat memeras harus kita didik dan kita hajar, namun mereka yang jujur perlu mendapatkan belas kasihan. Kita harus mengasihani mereka yang betul-betul jujur, tulus dan yang posisinya lebih rendah daripada kita.

Di tengah masyarakat, apalagi belakangan ini, kejahatan semakin merajalela. Ada pegemis-pengemis yang luar biasanya jahatnya. Mereka sengaja memakai pakaian kotor supaya kelihatan miskin untuk mendapatkan uang lebih banyak daripada mereka yang bekerja keras banting tulang. Orang seperti ini bukan memerlukan belas kasihan, tetapi memerlukan hajaran yang keras. Di suatu kota di Indonesia, saya mengetahui ada orang yang menyewakan pakaian seharga dua puluh ribu rupiah sehari. Pakaian itu adalah pakaian yang kotor dan compang camping. Tetapi dengan memakai pakaian itu dan meminta-minta, orang bisa mendapatkan uang lima puluh ribu rupiah sehari. Maka ada orang-orang yang mau menyewa pakaian ini karena berfikir akan mendapatkan keuntungan dengan meminta-minta. Yang lebih jahat lagi, ada orang-orang yang sengaja mematahkan tangan anaknya dan menggendong anak itu untuk mendapatkan uang. Adalah tugas pemerintah untuk menghukum dan membereskan orang-orang seperti ini, karena ini merupakan tindak kejahatan, yaitu melakukan manipulasi terhadap orang-orang yang memiliki hati nurani yang baik.
Alkitab mengatakan, jika kamu memiliki kelebihan uang, berikanlah itu kepada mereka yang patut menerimanya. Tetapi siapakah yang patut menerima itu? Bagi saya, orang yang berhak menerima belas kasihan dan uang kita adalah kepada mereka yang sudah bekerja keras membanting tulang tapi masih tetap hidup dalam kekurangan, dan merasa tidak patut menerima pemberian kita. Orang-orang seperti inilah yang justru patut menerima pemberian kita. Orang yang tidak mau bekerja, yang hanya mau meminta-minta, mengambil keuntungan dari belas kasihan orang, justru patut menerima belas kasihan kita. Kita harus memiliki kebijaksanaan yang cerdik dan cerdas untuk bisa mengatur semua pemberian kita, agar kasih kita tidak dipermainkan dan belas kasihan kita tidak diperalat oleh mereka yang jahat. Banyak anak muda yang penuh dengan rasa belas kasihan akhirnya tertipu oleh orang-orang jahat ini. Saya juga pernah ditipu oleh orang yang mengaku menjadi Krsiten dan mau dibunuh, ternyata dia berbohong. Namun, dosen saya pernah mengatakan,”Lebih baik terus membantu orang lain sekalipun ditipu, daripada tidak pernah membantu karena takut ditipu.” Yang paling jahat adalah kita menipu orang lain yang berbelas kasihan. Yang membahagiakan saya adalah sekalipun sering kali  salah dan tertipu, tetapi saya tidak menipu. Namun, kita perlu terus belajar sehingga kita tidak mudah ditipu, dan lebih jauh lagi, bisa menemukan siapa penipunya dan ikut membereskan kerusakan di dalam masyarakat.

Mengasihi Musuh

Dan kasih yang paling besar bukan lah mengasihi yang lebih tinggi, yang sejajar, atau yang lebih rendah, tetapi mengasihi musuh. Ini adalah pengajaran yang luar biasa dari Alkitab. Kasih inilah yang diajarkan dan dijalankan oleh Yesus Kristus. Tuhan Yesus Kristus mengatakan. “Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang telah mereka perbuat,”. Selain Tuhan Yesus, tidak pernah disepanjang sejarah ada teori kasih seperti itu. Mengasihi musuh dimulai dari pengajaran Yesus Krsitus. Ajaran kasih seperti ini tidak bisa kita temukan dalam filsafat Aristotle, atau Plato, atau Socrates. Demikian juga tidak ada dalam pengajaran Lao Tze, Mao Ze Dong, konfisius, atau Hindusme. Ada pengajaran Lao Tze yang mencoba mendekati ajaran itu. Lao Tze mengajarkan :”Terhadap orang yang baik kepadamu, baiklah juga padanya, dan juga baik kepada orang yang tidak baik kepadamu.” Ini adalah puncak ajaran moral Lao Tze. Etika Konfusius belumlah setinggi itu. Konfusius mengajarkan  :”Moral dibalas  moral: dengan kebajikan membalas kebajikan; dengan tegas dan lurus membalas kejahatan.” Jadi, kalau ada orang yang tidak baik kepadamu, kamu harus tegas dan jujur membalas kejahatannya. Tetapi kalau orang itu baik kepadamu, kamu juga harus baik kepadanya.
Memang Lao Tze mengatakan agar kita juga berbuat baik kepada orang yang tidak baik kepada kita. Tetapi dia sama sekali tidak sampai ketingkat bagaimana kita bukan hanya baik, tetapi mengasihi musuh kita, dan mendoakan dia, mendoakan orang-orang yang menganiaya kita. Tuhan Yesus bukan hanya menjalankan keduanya, yaitu mengasihi musuh dan mendoakan yang menganiaya Dia, tetapi Tuhan Yesus juga mengusahakan pengampunan mereka. Dan Dia rela mati untuk  mereka yang membunuh-Nya. Orang yang agung adalah orang yang hidupnya bisa melampaui teorinya yang sedemikian tinggi. Orang yang hina adalah orang yang teorinya lebih tinggi daripada hidupnya. Orang biasa adalah orang yang tahu teori yang sulit, tetapi lebih sulit lagi menjalankannya dalam hidupnya. Yesus Kristus mati bagi orang-orang yang membunuh-Nya. Dia digantung di kayu salib, tetapi Dia justru mendoakan mereka yang memaku-Nya disana. Itulah Sang Juruselamat.

Penutup

Hambatan dalam mengasihi
Dalam bagian yang terakhir ini, apakah yang menghambat kita untuk mengasihi? Ada tiga hal yang menyebabkan kita terhambat untuk mengasihi. Pertama, Yesus berkata, pada akhir zaman, pelanggaran hukum akan semakin banyak sedangkan kasih semakin sedikit. Mengapa cinta kasih kita hilang. Karena kita berani melanggar hukum. Semakin berani kita melanggar hukum semakin tidak ada cinta kasih. Kedua, mengapa kita tidak ada cinta kasih? Karena  terlalu diisi cinta kepada dunia sehingga akhirnya tidak ada lagi cinta untuk orang lain. Orang yang semakin mencintai dunia, semakin meneladani dunia, dan semakin tidak mencintain Tuhan Allah. Ketiga, orang yang semakin memperhatikan diri sendiri, sehingga tidak ada waktu  dan kesempatan untuk mencintai orang lain, tentu juga tidak sempat lagi mencintai Tuhan.

Membangkitkan Kembali Cinta Kasih Yang Pudar
Bagaiman kita kembali membangkitkan cinta kasih yang telah redup? Pertama, kita perlu penyangkalan diri. Penyangkalan diri mengakibatkan kita mengetahui bagaimana mengasihi orang lain. Kalau diri kita menjadi pusat segala sesuatu, bahkan Allahpun harus melayani kita, maka tidak mungkin kita dapat membagikan sesuatu untuk orang lain.

Kedua, kita harus meneladani Yesus Kristus. Yesus berkata,”Pikulah kuk-Ku dan tanggunglah beban-Ku. Belajarlah dari-Ku. Akulah peta teladan yang menjadi contoh bagimu. Ikutlah teladan-Ku, pikullah Kuk Ku, tanggung bebanKu, beban-Ku ringan adanya.”

Ketiga, kita perlu dipenuhi Roh Kudus, ketika Roh Kudus berbuah, buah pertama yang muncul adalah kasih, Di dalam sembilan citra buah Roh Kudus, justru tidak ada sifat”kudus.” Karena itu adalah sifat essensi paling dasar yang melekat pada Roh Kudus itu sendiri. Buah pertama dari Roh Kudus adalah kasih. Kasih, sukacita, damai sejahtera dan seterusnya. Orang yang dipenuhi Roh Kudus pasti dipenuhi dengan kasih. Jikalau ada yang mengatakan orang ini penuh dengan Roh Kudus, tetapi kamu melihat dia penuh dengan Roh Kudus, tetapi kamu melihat dia penuh dengan kebencian, janganlah kamu melihat dia penuh dengan kebencian, janganlah kamu percaya kepadanya, karena Buah Roh Kudus yang pertama adalah kasih.

Terakhir, kita perlu senantiasa mengingat anugerah-Nya. Kasih itu hilang karena orang lupa bagaimana dia telah menerima anugerah dari Allah. Yesus berkata kepada jemaat Effesus.”Janganlah kehilangan cinta yang semula.” Cinta yang mula-mula selalu bodoh, tetapi cinta yang mula-mula itu selalu murni. Masih ingat cinta pertama anda? Ketika anak saya pertama kali mengatakan.” Pa, saya senang kepada seseorang.” Saya cuman menjawab.”Jangan-jangan itu cinta monyet.” Sebab saat itu dia baru berusia 17 Tahun. Kebanyakan cinta pertama tidak jadi. Kebanyakan cinta pertama juga tidak terlalu bahagia. Cintanya sungguh-sungguh namun bodoh karena tidak berpengalaman. Walaupun demikian, waktu Tuhan mencintai kita, Dia tidak bodoh. Cinta Allah adalah cinta yang murni. Cinta yang diberikan Tuhan di dalam diri kita juga memiliki kemurnian. Pada saat cinta itu tiba pada kita, kita memang masih bodoh, tetapi kita mencintai  dengan cinta yang murni. Kita ingat juga bagaimana kita menerima berkat Allah yang sedemikian besar. Dengan itu kita memupuk  cinta kasih kepada orang lain. Kiranya Tuhan membersihkan cinta kita, baik kepada Tuhan Allah, kepada manusia dan kepada segala sesuatu, sebagai berkat-Nya dan pernyataan kasih-Nya. Amin

...

Diambil dan disalin kembali dari buku  Pdt. Dr. Stephen Tong , DLCE:  Pengudusan Emosi (Hal 384 s.d 397)


Sumber : http://www.nusahati.com/2014/01/kasih-yang-sempurna-bagian-iii/