Minggu, 31 Agustus 2014

Jadilah Pelita



Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.” Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.” 


Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!” Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.
Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta.

Kali ini si buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!” Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!”
Si buta tertegun..
Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.” Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.”
Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing. Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita.

Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “Maaf, apakah pelita saya padam?” Penabraknya menjawab, “Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama.” Senyap sejenak. secara berbarengan mereka bertanya, “Apakah Anda orang buta?”Secara serempak pun mereka menjawab, “Iya.,” sembari meledak dalam tawa.

Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta.

Timbul pikiran dalam benak orang ini, “Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka.” Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).

Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan “pulang”, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk “membuta” walaupun mereka bisa melihat.

Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.

Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.

Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.

Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Fikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.

...

Sumber : www.nusahati.com

Karunia Roh Kudus (Bagian II)

Pdt. Dr. Stephen Tong


Di dalam 1 Korintus 12: 4-7 dikatakan, “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.” 

Ini berarti setiap orang Kristen diberi karunia, tidak terkecuali. Karunia ini bukan karunia jabatan, tetapi karunia pelayanan, maka setiap orang harus melayani. Ketika seorang Kristen melayani, harus berdasarkan karunia yang ia dapat dari Tuhan, bukan berdasarkan kepandaian dan keinginan pribadinya, atau gelar dan ilmu yang diraihnya, dan bukan berdasarkan setumpuk pelayanan yang ia miliki, atau teknik dan psikologi yang ada padanya. Perhatikan: jangan membawa semua filsafat, psikologi, taktik dan pengalaman perdagangan dan usaha Saudara masuk ke dalam Gereja! Di dalam Gereja kita melayani dengan karunia, bukan dengan strategi atau cara pengalaman duniawi.


Talenta dan Karunia


Mungkinkah Tuhan menjadikan pengalaman di dunia ini sebagai karunia? Mungkin. Jadi apa beda talenta-talenta alamiah dengan karunia-karunia Roh Kudus? Jika seseorang, sebelum bertobat begitu pandai menyanyi atau main musik, kemudian ia memakai kemampuan menyanyi atau main musik untuk menonjolkan diri dan menyatakan kehebatannya, mengharapkan tepuk tangan bagi dirinya dan bukan demi untuk Tuhan, maka ketika ia melayani di Gereja, ia sedang berbuat dosa. Seorang yang pandai berdagang dan pandai berorganisasi, lalu memakai cara organisasi dunia untuk mengatur seluruh Gereja supaya orang melihat dia hebat dan pandai, maka ia sedang berbuat dosa, karena Allah menggunakan pengurapan dan pengudusan Roh Kudus untuk menjadikan keahlian yang Saudara kuasai untuk pelayanan bersama. Itulah pelayanan.

Apa beda antara talenta alamiah dengan karunia-karunia?: Jika talenta-talenta alamiah diberikan oleh Tuhan belum dikuduskan oleh Roh Kudus, ia belum dapat disebut sebagai karunia. Yang disebut karunia adalah talenta yang sudah mengalami pengudusan dari Roh Tuhan. Semua talenta alamiah yang belum mengalami pengudusan dan pengertian dari visi dan motivasi pengabdian yang sungguh-sungguh, tidak dapat dipakai untuk melayani Tuhan. Itu sebab, di dunia ini banyak orang pandai, tetapi terkadang Tuhan lebih memilih memakai orang biasa untuk melayani Dia. Mengapa? Karena Tuhan tidak menguduskan talenta yang bermotivasi tidak benar, sehingga talenta-talenta itu tidak diubah menjadi karunia.

Sepertinya tidak ada kalimat seperti ini didalam Alkitab yang secara eksplisit mengatakan demikian, tetapi secara prinsip dikatakan bahwa, “segala pemberian yang baik berasal dari Allah.”  Saya percaya ketika seseorang menjadi ahli musik, kemampuan itu berasal dari Tuhan. Orang yang dapat mengerti filsafat atau ekonomi, kemampuan itu berasal dari Tuhan. Tetapi jika ketika seseorang mengerti segala sesuatu dengan talenta yang diberikan oleh Tuhan, tetapi tidak diserahkan untuk dikuduskan bagi Tuhan, talenta ini tidak dapat dipakai untuk pelayanan demi kepentingan semua orang, karena karunia diberikan kepada seseorang untuk membangun semua jemaat.

Setiap orang Kristen harus melayani. Jangan menganggap Saudara belum mempunyai kesempatan untuk melayani karena belum naik mimbar. Pelayanan bukan berarti harus dari mimbar. Pelayanan bersama dilakukan di bawah mimbar. Jika Saudara mengetahui ada saudara seiman yang sakit, silahkan lawat dia, hibur dan kuatkan dia. Orang yang tidak mau melayani satu sama lain, hanya mau naik mimbar saja, ia belum mempunyai jiwa melayani.

Pelayanan berarti membesarkan Kristus di segala kegiatan yang berusaha memuliakan Dia dan menjadi faedah bagi sesama dalam tubuh Kristus. Itulah pelayanan. Konsep pelayanan yang salah perlu dikoreksi dan harus dibenahi. Kalau semua orang baru merasa melayani setelah ia menjadi majelis, maka Saudara hanya melayani yang rendah saja. Saudara perlu melayani satu sama lain, menolong orang yang imannya goncang, meneguhkan mereka yang sedang susah dan menjadi petunjuk jalan bagi mereka yang sedang kalut, dan memberikan jawaban bagi mereka yang memerlukan. Semua ini adalah pelayanan.

Ketika saya bertobat pada usia 17 tahun,saya tidak mempunyai kesempatan untuk naik mimbar, tetapi saya menyisihkan puluhan persen dari uang yang saya peroleh untuk membeli traktat dan Kitab Suci. Lalu saya sengaja naik bis dari Surabaya ke Pasuruan atau kota-kota lain untuk membagikan traktat. Tidak ada satu orang pun yang saya kenal di kota itu,tetapi saya memberitakan Injil dari satu rumah ke rumah yang lain. Itu pelayanan. Saya tidak menunggu naik mimbar.

Suatu ketika, seorang pendeta Belanda memberikan saya kesempatan untuk mengajar sekolah minggu di tempat ia mengajar, karena ia akan cuti selama satu bulan. Saya menerima kesempatan itu dan mempersiapkan diri baik-baik. Setiap hari saya berlatih berkhotbah. Akhirnya semua latihan saya habis hanya dalam waktu 10 menit, padahal masih ada 40 menit lagi. Anak-anak sangat senang dan minta terus, tetapi saya sudah kehabisan bahan. Hari itu saya hanya minta Tuhan pimpin, semua yang pernah saya dengar saya utarakan disitu. Saya tidak tahu hari itu bagaimana saya menghabiskan waktu yang 50 menit itu. Setelah itu pendeta memberikan kesempatan untuk saya terus melayani disitu. Dalam waktu satu tahun, sekolah minggu yang hanya 27 orang itu menjadi 400 orang.

Saya tidak menunggu untuk dapat naik mimbar baru dapat dan merasa melayani Tuhan. Saya dapat melayani di jalanan, atau pergi ke rumah sakit untuk memberikan traktat di setiap kamar. Berulang kali diusir, tetapi saya pergi lagi ke tempat yang lain. Jangan Saudara pernah menganggap bahwa tidak ada kesempatan melayani. Di seluruh Jakarta ini, yang tinggal di dalam kota saja berjumlah 9 juta orang. Setiap pagi, orang-orang yang datang dari sekitar Jakarta, seperti Bogor, Tangerang, Bekasi, berjumlah sekitar 3 juta orang. Berarti di Jakarta ada sekitar 12-13 juta orang. Setiap tahun ada penambahan sekitar 1 juta orang dari daerah yang masuk ke Jakarta. Omong kosong tidak ada kesempatan melayani. Itu tipuan setan. Pelayanan tidak harus dari atas mimbar. Kalau di Jakarta dapat didirikan 10.000 Gereja yang masing-masing dalam 10 tahun dapat menjadi 500 orang, maka seluruhnya hanya mencapai 5 juta orang. Belum cukup untuk mengisi seluruh kebutuhan kota ini. Tetapi saya tidak ingin Saudara terlalu cepat keluar dari “Yerusalem” sebelum diisi dan mendapat pengertian firman yang baik.

Di dalam ayat 8-11 dikatakan, “Sesuai yang dikehendaki oleh Roh Kudus.”  Kalau Roh Kudus mengehendaki Saudara beriman, maka Saudara akan beriman lebih besar daripada yang lain. Kalau Roh Kudus memberikan kepada Saudara karunia berbahasa Roh, maka Saudara akan dapat berbahasa Roh. Jika Roh Kudus memberikan kepada Saudara karunia untuk menyembuhkan, maka Saudara akan dapat menyembuhkan, karena semua itu berdasarkan kedaulatan Allah. Untuk itu kita perlu mencamkan beberapa prinsip :
  1. Karunia-karunia diberikan untuk membangun tubuh Kristus, satu dengan yang lain.
  2. Karunia-karunia diberikan kepada setiap orang yang sudah menerima kelahiran baru dan otomatis sudah mendapat Baptisan Roh Kudus.
  3. Karunia-karunia tidak ada yang diperoleh dengan meminta paksa kepada Allah.
  4. Karunia-karunia diberikan menurut kemauan kedaulatan Roh Kudus, sesuai dengan kerelaan-Nya dan kedaulatan-Nya.
  5. Karunia-karunia tidak dapat dipindahkan dari satu orang kepada orang lain, karena pilih kasih atau karena mandat jabatan. Seorang yang mempunyai kekuatan untuk melakukan mujizat, ketika akan meninggal tidak dapat mewariskan karunia itu kepada orang lain.
  6. Karunia tidak dapat diambil atau dimiliki melalui kursus pribadi. Orang menginginkan karunia bahasa Roh karena kalau tidak mempunyai itu, ia merasa tidak mempunyai Roh Kudus. Prinsip ini tidak beres dan tidak berdasarkan Alkitab, tetapi sudah banyak tertanam dalam diri orang Kristen. Orang-orang yang ingin mendapat karunia bahasa Roh lalu berusaha mendapat dengan cara kursus, merupakan pemaksaan terhadap Roh Kudus untuk mengikuti kehendak manusia.
Pelanggaran-pelanggaran seperti ini berakibat fatal bagi Gereja dan menyebabkan Gereja membuka pintu lebar-lebar bagi setan untuk mengganggu kita. Jika Saudara hanya memiliki satu karunia tertentu dan tidak memiliki karunia yang lain, jangan menghina karunia yang ada pada Saudara. Jangan mengatakan bahwa karunia tertentu lebih penting daripada yang lain. Jangan Saudara meminta karunia tertentu untuk membuktikan bahwa Saudara mempunyai Roh Kudus. Memang di antara jabatan-jabatan itu ada yang lebih penting daripada yang lain, seperti rasul lebih penting dari nabi, tetapi jangan Saudara rendah diri karena Saudara tidak mempunyai karunia lidah.

Di Surabaya ada seorang pendeta, mantan dokter, mengatakan bahwa karunia lidah adalah karunia yang paling penting dan paling sulit diterima. Itu sebabnya kita harus mengejarnya. Dari Alkitab bagian manakah ajaran seperti ini? Setiap kali Alkitab mengatakan tentang karunia lidah, selalu diletakkan di paling belakang. Saya berani mengatakan bahwa karunia lidah merupakan karunia yang paling tidak penting berdasarkan 1 Korintus12:28-29. Di dalam ayat ini, diungkapkan urutan atau ordo dari karunia-karunia itu, sedikit berbeda dengan di ayat 4-8, di mana sepertinya urutan ini tidak terlalu ditegaskan. Maka karunia lidah merupakan karunia yang paling rendah dan paling tidak penting, bukan karunia yang tertinggi dan terpenting.

Banyak Gereja saat ini membuat teologi yang tidak bertanggungjawab dan terbalik dari konsep Alkitab yang benar. Fungsi rasul, gembala, penginjil diabaikan, tugas pengajaran firman diabaikan, kebenaran firman disepelekan, tetapi mujizat dipentingkan, karunia lidah dipentingkan, orang yang paling kaya diberi kedudukan yang paling penting.

Dalam 1 Korontus 12:4-8, kita melihat karunia-karunia tersebut diawali dengan karunia kata-kata dan diakhiri dengan karunia kata-kata. Yang pertama adalah kata-kata hikmat, dan kata-kata pengetahuan. Yang terakhir adalah kata-kata bahasa Roh dan penerjemahannya. Mengapa diletakkan seperti itu dan tidak terbalik? Mari kita perhatikan dua hal, yaitu:

Pertama, kedua kata-kata yang pertama berkaitan erat dengan penasfsiran terhadap nabi dan rasul. Ini menyebabkan seseorang dapat menjadi seorang guru atau gembala yang memberikan penafsiran tentang nabi dan rasul secara benar. Ia dapat mengajar, menguraikan Kitab Suci dan berkhotbah. Ini adalah karunia-karunia yang lebih penting, sehingga diletakkan di depan, sedangkan untuk dapat ber-glosolalia dan menerjemahkannya diletakkan di paling belakang. Kita harus meletakkan dengan cepat mana yang paling penting, mana yang paling tidak penting; mana yang utama dan mana yang terakhir di dalam pelayanan satu sama lain di Gereja.

Orang-orang “Toronto Blessing” berdasarkan teologi yang disodorkan oleh “Third Wave Movement” dipimpin oleh John Wimber dari Vineyard Movement. Orang ini pernah salah diundang oleh Fuller Theological Seminary. Saya mengenal John Wimber, dan sejak 1974 saya sudah mengenalnya di Swiss. Saat itu saya sudah melihat dan mengatakan bahwa orang ini kelak akan mengacaukan dan menyelewengkan Gereja. Sekarang hal itu terjadi. Ketika ada tokoh dari Fuller datang ke Indonesia, orang mengatakan kepada saya, mengapa saya tidak mendukungnya, karena ia dari Fuller. Saya rasa Fuller boleh terkenal, tetapi tidak cukup. Ketika orang meminta agar saya memperkenankan orang itu berbicara sedikit di Gereja yang saya pimpin, saya menolak. Saya harus berbuat demikian karena saya menjalanklan tugas yang dibebankan oleh Dia yang mengutus saya. Saya harus berfungsi sebagai penjaga gawang. Penjaga gawang kelihatan tidak terlalu sibuk, tetapi pada saat-saat kritis, ia justru menjadi orang yang paling sibuk dan berjuang habis-habisan agar jangan ada yang salah masuk ke gawangnya. Saya harap setelah saya menjadi tua dan tiada, tugas sebagai penjaga gawang ini berada di tangan Saudara sekalian. Kita harus menjaga kesucian, kesejatian, keabsahan, dan kebenaran pelayanan dalam Gereja.

Para penyelia Gelombang Ketiga, yang memulai gerakan Toronto Blessing, tidak melihat bahwa hal ini akan berkembang sedemikian jauh,  menjadi sedemikian kacau balau dan liar, yang mengakibatkan rusaknya kekristenan di seluruh dunia. Mereka hanya menikmati pertambahan kuantitas. Kita harus selalu mengingat bahwa kualitas harus mendahului kuantitas! Kita harus menjaga kualitas terlebih dahulu, maka kuantitas akan dengan sendirinya bertambah. Jika kita tidak mempertahankan kualitas, dan kita mulai berkompromi dengan kuantitas, maka kita akan menjual diri dan membuang hak kesulungan kita.

Orang-orang seperti John White dan John Wimber dari Vineyard Movement menjelaskan dua karunia pertama dalam 1 Korintus 12:4 ini dengan salah luar biasa. Mereka menafsirkan bahwa kata-kata bijaksana berarti Roh Kudus memberikan manifestasi kepada seseorang sampai orang itu dapat mengungkapkan kata-kata secara supranatural. Saya kira itu bukan pengertian karunia itu yang sesungguhnya. Pengertian yang sesungguhnya adalah orang-orang yang membangun jemaat dengan menguraikan firman yang telah ditegakkan melalui rasul dan nabi. Lalu dengan bijaksana menguraikan hal itu, sampai orang mendapatkan iman berdasarklan firman yang diwahyukan oleh Tuhan.

Dengan cara demikian baru Gereja dapat didirikan dengan tegak. Bukan di dalam pengertian orang yang membutuhkan penghiburan karena sakit jantung atau karena patah hati. Bukan  sesempit itu pengertian  di sini. Tafsiran-tafsiran yang salah seperti ini mengakibatkan Alkitab dibuang dan segala gejala-gejala supranatural dijunjung tinggi dan akhirnya terjadilah tertawa-tertawa yang tidak terkontrol, seperti yang terjadi di Toronto Blessing saat ini.

Kedua, kedua kata di ayat 4 merupakan kata-kata yang dapat diuji oleh Alkitab, sedangkan kedua karunia kata di ayat 8-10 merupakan kata-kata yang lebih sulit diuji langsung oleh Alkitab. Orang yang berglosolalia, lalu kita tidak mampu secara peka mengujinya dan kita lalu terlalu cepat menerimanya, maka kita telah jatuh masuk ke dalam jerat tipuan Iblis. Di dalam buku-buku teolog-teolog Injili berulang kali mengungkapkan berbagai penerjemahan bahasa Roh yang sama sekali salah dan berbeda dari yang seharusnya, tetapi orang tidak menyadari kesalahan-kesalahan seperti itu.

Saya mengungkapkan apa yang terjadi sekitar 20 tahun yang lalu di New York. Seorang berkhotbah, lalu mulai berkata dalam “karunia lidah”. Lalu seseorang datang dan menerjemahkannya. Orang yang menerjemahkan itu berkata, “Pujilah Yesus,….sembah sujud kepada Dia,…rendah hati dihadapan Dia….”  Para hadirin begitu terharu dan merasa bahwa inilah Roh Kudus yang sedang turun ke dalam kebaktian mereka. Tetapi di dalam kebaktian itu, ada seseorang yang merekamnya, dan mengirimkan kasetnya pada seorang professor linguistik yang sangat ahli di Columbia University. Setelah diselidiki, profesor itu kemudian mengatakan bahwa orang itu bukan cuma mengatakan kata-kata ngawur, tetapi juga berkata-kata dengan bahasa tertentu. Ia mengenal bahasa itu, dan bahasa itu masih ada dan masih dipergunakan oleh orang-orang dari suatu suku yang sangat kecil dipegunungan Kaukasus, di perbatasan Eropa dan Asia. Tetapi ia menegaskan bahwa ketika ia mendengar antara bahasa aslinya dan penerjemahannya sama sekali berbeda. Kata-kata asli dari bahasa itu berarti: “Kutuklah Yesus….bencilah Dia, buanglah Dia dan jangan percaya kepada Dia….” Tetapi penerjemahnya mengatakan, “Pujilah Yesus….sembahlah Dia….dstnya.”  Akibatnya Gereja ini disesatkan dan menganggap bahwa saat itu Roh Kudus sedang memberikan karunia lidah kepada pendeta itu. Tanpa mereka ketahui, mereka sedang ditipu oleh setan dengan tipuan ganda, yaitu: (1) memalsukan roh tanpa mereka sadari, dan (2) memalsukan penerjemahan, sehingga mereka mengkonfirmasikan bahwa itu dari Roh Kudus.

Kalau setan tidak berbijaksana tinggi, ia pasti bukan setan! Kalau setan begitu bodoh, sampai orang yang baru Kristen dapat segera membedakan siapa dia dan siapa Roh Kudus, maka pasti setan itu tidak berdaya. Setan tidak bodoh. Justru orang yang baru bertobat, yang begitu cinta Yesus, dijebaknya. Lalu begitu banyak orang Kristen lama yang tidak mau berbicara tentang Roh Kudus, dianggap dingin dan mati serta apatis, sehingga orang Kristen tidak dapat menolong orang Kristen baru dan menyegarkan iman orang Kristen baru. Para pimpinan Gereja, majelis Gereja hanya rebut berebut kekuassaan di dalam Gereja, sehingga tidak memimpin orang lain di dalam terang Roh Kudus, dan orang-orang Kristen baru begitu giat di luar, sehingga akhirnya ditipu dan tidak ada orang yang dapat menolong mereka.

Kita berada di suatu zaman yang sangat sulit. Jika kita hanya dapat menyembah sujud kepada kuantitas, lalu merasa bila banyak orang datang, itu tanda Roh Kudus bekerja, dan kita jatuh secara takhayul di dalam prinsip yang salah ini, maka kita langsung jatuh ke dalam tangan Iblis untuk mengacaukan seluruh kekristenan. Kiranya Tuhan memberikan kekuatan kepada kita untuk berdiri dan kembali ke jalan yang benar.

Alkitab menegaskan: Apakah semua menjadi rasul? Tidak. Apakah semua menjadi nabi? Tidak. Apakah semua menjadi guru? Tidak. Apakah semua melakukan mujizat? Tidak. Apakah semua menyembuhkan? Tidak. Apakah semua mendapat karunia lidah? Tidak. Berarti, kita harus taat kepada kehendak Roh Kudus, menerima apa yang terbaik yang Roh Kudus berikan kepadakita.
Tiga hal yang dapat kita lihat mengenai karunia bahasa Roh :
  1. Orang berkata-kata, pendengar langsung mengerti dalam bahasa lain (Kisah Para Rasul.
  2. Orang berkata-kata, sendirian di dalam doa, tidak dibawa ke tempat umum, sehingga itu merupakan relasi pribadinya sendiri dengan Allah.
  3. Orang berkata-kata di hadapan umum, tetapi karena orang lain tidak mengerti, maka perlu diterjemahkan, sehingga Roh Kudus memanggil orang kedua untuk menerjemahkannya. Maka penerjemah itu bekerja sama dengan Roh yang sama yang memberikan karunia berkata-kata itu, sehingga jemaat dapat dibangunkan.
Apakah yang kedua dan ketiga masih diperlukan hingga saat ini? Kita tidak dapat memutlakkannya. Jika Roh Kudus masih mau memberikannya, kita bersyukur. Tetapi yang banyak terjadi di dunia ini sekarang ini, saya berani mengatakannya sebagai pemalsuan, bukan pekerjaan Roh Kudus yang asli.

Pernah suatu kali di Rusia, ada seorang pengkhotbah Amerika yang berkeliling memberitakan Injil. Selama itu, ada seorang pemuda Gereja Baptis setempat dengan setia menjadi penerjemahnya ke dalam bahasa Rusia. Pengkhotbah Amerika itu dengan setia memberitakan Injil ke Gereja-gereja bawah tanah di Rusia. Pada suatu hari, ketika ia datang mau berkhotbah, orang memberitahu kepadanya bahwa ia tidak dapat lagi berkhotbah, karena pendengar tidak mengerti bahasa Inggris, sedangkan penerjemahnya sudah ditangkap oleh KGB. Ia sedih sekali dan ia berdoa dengan sungguh. Malam itu, ia tetap datang ketempat kebaktian, tidak ada orang yang dapat menerjemahkannya.Tuhan bekerja di dalam hatinya, dan ia mulai berkhotbah. Ketika ia berkhotbah,semua yang mendengar, mendengarnya dalam bahasa Rusia. Hal ini terjadi dan inilah karuinia Roh Kudus yang sejati. Tetapi hal itu pun tidak diberikan kepada semua orang dan tidak dapat dituntut, dikejar oleh semua orang. Di saat-saat kritis dan diperlukan, Tuhan akan memberikan perlengkapan untuk bersaksi sesuai dengan kehendak Roh.

Orang-orang yang terjebak oleh takhayul bahwa tanpa karunia tertentu ia belum dibaptis oleh Roh Kudus dan belum memiliki Roh Kudus, sehingga membuat mereka menuntut untuk mendapatkan karunia-karunia itu dan mengakibatkan mereka tidak mau menerima Roh Kudus, tetapi mau menuntut pemahaman yang mereka tegakkan sendiri berdasarkan konsep yang mereka buat sendiri. Mereka menjadi orang-orang yang dipakai setan.

Penutup


Saya berdoa agar Roh yang secara status sudah membaptiskan setiap orang percaya ke dalam tubuh Kristus, Gereja yang kudus dan am, pada hari Pentakosta, secara praktik akan turun kepada setiap orang yang sungguh-sungguh menerima kesaksian dan taat kepada Injil yang diberitakan kepadanya, bertobat dan menerima Yesus Kristus; akan mengaitkan dia dengan kuasa-Nya, sehingga memungkinkan dan menguatkan dia di dalam tugas penginjilan, kesucian, hidup memuliakan Tuhan, dan mengikuti pimpinan Roh Kudus sampai Tuhan Yesus datang kembali.
Tuhan memberkati kita, menggairahkan dan menambah-nambahkan karunia yang sudah kita miliki untuk melayani satu dengan yang lain dan membangun seluruh jemaat.
Amin.
- See more at: http://www.nusahati.com/2013/12/karunia-roh-kudus-bagian-ii/#sthash.HpgtLGHv.dpuf

Mulai Dari Hal Kecil





Pada sebuah acara motivasi dan pengembangan diri, sang motivator meminta para peserta seminar yang menggunakan jam tangan analog untuk maju ke depan podium. Lima peserta maju dan diminta untuk meletakkan pergelangan tangan di belakang tubuh, agar jam tangan mereka tidak terlihat. - See more at: http://www.nusahati.com/2013/12/mulai-dari-hal-kecil/#sthash.yH0H5zlJ.dpuf

Pada sebuah acara motivasi dan pengembangan diri, sang motivator meminta para peserta seminar yang menggunakan jam tangan analog untuk maju ke depan podium. Lima peserta maju dan diminta untuk meletakkan pergelangan tangan di belakang tubuh, agar jam tangan mereka tidak terlihat.


Setelah memastikan bahwa jam tangan itu tak terlihat, sang motivator menanyakan pada masing-masing peserta berapa usia dan harga jam tangan mereka. Hampir semua pemilik jam tangan ingat berapa usia dan harga mereka, hampir semua jam tangan yang dimiliki telah berusia lebih dari satu tahun. Sang motivator lalu tersenyum dan menanyakan pertanyaan kedua.

“Kalau Anda semua ingat berapa usia dan harga jam tangan tersebut, sekarang coba Anda ingat, berapa kali Anda melihat jam tangan itu setiap hari?”


Semua peserta yang maju mengatakan bahwa mereka sangat sering melihat waktu pada jam tangan itu. Hampir setiap satu jam sekali mereka melihat, bahkan bisa beberapa menit sekali jika mereka sedang menunggu kedatangan seseorang atau bosan. Lalu sang motivator mengatakan,

“Jika sudah memiliki jam tangan ini dalam waktu yang lama, sering memakainya bahkan sering melihat waktu pada jam tangan Anda, ingat juga dengan harganya, sekarang silahkan Anda ingat, tangan tetap di belakang ya! Apakah penanda waktu pada jam tangan Anda memakai angka Arab (1, 2, 3, dst) atau angka Romawi (I, II, III, dst)?”

Para peserta tampak kebingungan dan berpikir keras untuk mengingat apakah penanda waktu pada jam tangan mereka memakai angka Arab atau Romawi. Satu persatu dari mereka menjawab dengan tidak yakin, ada yang memakai angka Arab, ada juga yang memakai angka romawi. Setelah menjawab, sang motivator meminta para peserta melihat jam tangan mereka untuk memastikan apakah tebakan mereka benar atau salah.

Ternyata… hampir semua peserta salah menebak penanda waktu pada jam tangan mereka, hanya satu yang benar. Bahkan ada peserta yang menjawab bahwa penanda jam tangannya memakai angka Romawi, padahal jam tangan miliknya hanya memakai penanda strip ( – ). Sang motivator lalu tertawa renyah dan berbicara dengan nada ramah,

“Loh, bagaimana ini, ingat harga jam tangan tapi kok hampir semua nggak ada yang ingat angka penanda waktu jam tangan sendiri. Padahal jika dalam sehari Anda semua melihat jam tangan itu sepuluh kali saja, sudah berapa ribu kali Anda melihat penanda waktu pada jam tangan Anda, tetapi hal kecil ini justru luput dari pandangan Anda. Yang Anda ingat justru hal besar, harganya saja,”

Sahabat, percobaan kecil ini menjadi tanda bahwa mayoritas dari kita seringkali meremehkan dan meluputkan hal-hal kecil yang sebenarnya justru membantu kita setiap hari. Kita lebih sering berterima kasih pada orang asing yang membawakan kantong belanja kita yang berat, tetapi sudahkah kita berterima kasih pada keluarga yang justru selalu membantu apapun yang kita butuhkan? Mulai dari hal yang kecil seperti mengingatkan waktu makan hingga bantuan tak ternilai lainnya. Kita seringkali meluputkan hal ini dari pandangan mata, padahal kita menerimanya hampir sepanjang hidup kita. Kita harus belajar lebih memerhatikan hal-hal kecil yang sangat berguna tetapi luput dari rasa terima kasih dan syukur kita.


Sumber: http://www.nusahati.com/2013/12/mulai-dari-hal-kecil/#sthash.yH0H5zlJ.dpuf

Karunia Roh Kudus (Bagian I)

Pdt. Dr. Stephen Tong

Di dalam Alkitab kita melihat bahwa karunia-karunia Roh Kudus itu diberikan setelah Kristus kembali kepada Bapa. Sebelum Kristus kembali kepada Bapa, belum pernah Roh Kudus diberikan kepada seseorang untuk selama-lamanya.


Roh Kudus sendiri adalah Karunia di atas semua karunia. Sesudah Roh Kudus diberikan kepada Gereja, maka Roh Kudus sekarang memberikan karunia-karunia Roh Kudus kepada Gereja atau orang-orang Kristen. Di dalam memikirkan karunia Roh Kudus ini, maka saya akan membaginya ke dalam dua bagian, yaitu : (1) Karunia jabatan, dan (2) Karunia pelayanan.
Jika kita menghitung dengan teliti, kita akan menemukan 19 macam karunia yang dinyatakan oleh Alkitab. Karunia jabatan, diberikan kepada setiap orang secara berbeda, dan setiap orang percaya bisa mendapatkannya. Demikian pula karunia-karunia untuk pelayanan, diberikan kepada setiap orang seturut kehendak Roh Kudus. Tetapi tidak ada seorang pun yang berhak untuk memaksakan kehendaknya.

KARUNIA JABATAN

Karunia jabatan adalah karunia yang dianugerahkan oleh Roh Kudus kepada orang-orang tertentu untuk menjabat suatu jabatan tertentu. Seseorang diberi kekuatan khusus, sehingga berbeda dalam status dan keadaan dengan orang lain pada umumnya. Itulah karunia jabatan. Karunia jabatan yang paling jelas dicatat di dalam Alkitab terdapat dalam Efesus 4:1-dst.

Kata “Ia memberikan….” lebih tepat diterjemahkan “Ia mengaruniakan…”  dan di dalamnya terdapat 5 (lima) jabatan khusus yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia, yaitu: rasul, nabi, penginjil, pendeta dan guru-guru. Ini merupakan karunia khusus dari Allah kepada manusia.
Dalam salah satu bukunya, Watchman Nee telah salah menafsirkan ayat ini, paling tidak terdapat dua macam kesalahan, yaitu:
  1. Penjelasan “menawan kembali yang sudah ditawan” (ayat 10), ia langsung memakai terjemahan bahasa Mandarin yang kurang tepat penerjemahannya: “menawan musuh”. Ini adalah pengertian yang kurang benar.
  2. Ia mengatakan bahwa di dalam ayat 11 hanya terdapat 4 jabatan, karena guru dan pendeta dijadikan satu. Akibatnya, ia tidak setuju ada gembala atau pendeta di dalam Gereja, sehingga dengan sendirinya ia menolak penahbisan pendeta. Ia menganggap itu adalah profesi yang diciptakan oleh manusia hanya untuk membanggakan diri. Tetapi jelas sekali di dalam ayat itu diungkapkan lima jabatan, bukan empat  jabatan.
Dalam hal ini, saya tetap melihat lima jabatan. Inilah yang saya sebut sebagai Karunia jabatan. Karunia jabatan ini tidak diberikan kepada semua orang Kristen. Hanya sebagian orang tertentu dan khususnya beberapa orang tertentu yang menerima jabatan pertama dan kedua (rasul dan nabi).

a. Jabatan Khusus Nabi dan Rasul


Alkitab berkata, bahwa Kristus sudah turun dan kemudian naik ke sorga. Jika Kristus tidak naik, Roh Kudus tidak turun. Jika Roh Kudus turun, Ia akan memberikan kekuatan kepadamu untuk memberitakan Injil, lalu mendirikan Gereja, menggembalakan mereka dan mengajarkan firman. Semua itu harus didirikan di atas dasar rasul dan nabi.
Secara kronologis, nabi ada terlebih dahulu dari rasul; tetapi secara jabatan dan sebagai karunia, rasul selalu di depan nabi (band. Efesus 2:20). Yohanes Calvin pada usia mudanya pernah melakukan kesalahan dengan menganggap bahwa ketiga jabatan yang pertama sudah tidak ada, sehingga tinggal gembala dan guru saja. Itu sebab banyak Gereja Protestan kebanyakan hanya menghasilkan pendeta dan guru-guru teologi yang baik, tetapi jarang menghasilkan pemberita-pemberita Injil yang kuat. Gereja-gereja Calvinis, seperti GPIB, GMIST, GMIT, GKI menghasilkan sedikit penginjil yang mempunyai kontribusi yang besar. Tetapi mereka mempunyai banyak pendeta dan teolog besar. Hampir tidak ada teolog-teolog besar yang keluar dari Gereja-gereja Pantekosta dan Kharismatik. Orang-orang Pantekosta dan Kharismatik tidak terlalu banyak mengerti teologi dan tidak pernah menghasilkan buku Sistematika Teologi yang bernilai di sepanjang sejarah sampai hari ini. Tetapi mereka sering menghasilkan penginjil-penginjil yang kuat. Lalu, adakah pendeta-pendeta dari aliran mereka yang betul-betul mengajar teologi dengan baik sekali? Ada, sekalipun sangat sedikit, misalnya Gordon Fee. Ia mempunyai penafsiran Alkitab yang sangat baik, tetapi orang-orang seperti Dia sangat sedikit jumlahnya. Tetapi kita juga akan sulit sekali menemukan penginjil-penginjil besar di dalam aliran Protestan. Ini merupakan kesalahan Calvin. Ketika Calvin mulai tua, ia sadar sekali akan kesalahan ini, sehingga ia sangat memberikan tekanan di dalam hal ini, namun sudah terlambat.
Seorang Injili bukan orang yang hanya menyetujui akan Injil dan penginjilan, tetapi ia juga harus mampu, berani dan bergiat membawa orang lain menjadi Kristen. Orang Injili adalah orang-orang yang memberitakan Injil kepada orang lain, memberitakan Kristus yang mati dan bangkit bagi orang lain. Orang Injili adalah orang yang menginjili di dalam tindakan dan memberitakan Injil di dalam khotbah-khotbahnya, menginjili dengan mengabarkan Injil kepada orang lain dan berjalan dalam pimpinan Roh Kudus. Tanpa itu, ia bukan orang Injili.
Orang yang belum menginjili orang lain, sehingga orang lain yang bukan Kristen menjadi Kristen, belum layak disebut sebagai orang Injili. Orang yang mengaku Injili, tapi tidak memberitakan Injil, melainkan karena takut melawan Injil, bukanlah orang Injili. Kalau itu hanya untuk membedakan dengan orang yang tidak percaya Injil, maka ia tidak dapat disebut Injili; orang tersebut belum dapat digolongkan sebagai kaum Injili. Roh Kudus turun bukan supaya orang menyetujui Injil, tetap agar orang bersaksi memberitakan Injil.
Roh Kudus diberikan untuk mendorong, menguatkan dan menolong kita memberitakan Injil. Itu sebab, ketika saya menetapkan gerakan ini sebagai Gerakan Reformed Injili, saya sadar perlu menambahkan istilah Injili dibelakang teologi Reformed. Teologi Reformed saja tidak cukup, perlu kekuatan, keberanian, aksi dan tindakan konkrit memberitakan Injil. Kalau tidak, gerakan ini belum sukses. Saya berharap di dalam 10 tahun pertama gerakan ini, saya dapat melihat siapa yang harus meneruskan gerakan ini, yang sungguh-sungguh berteologi Reformed dan betul-betul giat memberitakan Injil.
Kita tidak menyetujui apa yang diungkap oleh Watchman Nee bahwa semua jabatan itu tetap ada sampai sekarang. Kita juga tidak menyetujui pandangan Calvin ketika masih muda, yaitu tinggal dua jabatan yang masih ada. Kita melihat bahwa ada dua jabatan yang tidak dilanjutkan lagi, dan tiga jabatan masih berlangsung terus hingga sekarang. Jabatan rasul dan nabi berhenti dan tidak ada lagi setelah Kitab Suci genap diwahyukan.
Rasul adalah orang yang diutus Allah (Yunani: apostolos; Inggris: messenger). Nabi adalah penyambung lidah Allah yang membawa perkataan Allah kepada dunia (Inggris: The spokesman of God). Rasul adalah orang yang diutus untuk menulis Kitab Suci Perjanjian Baru, nabi adalah orang yang disuruh Tuhan untuk menulis Kitab Suci Perjanjian Lama. Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama merupakan kesatuan yang membentuk Kitab Suci. Status dan kepercayaan di mana kita berada, berdiri di atas Kitab Suci yang menjadi pondasi untuk mendirikan Gereja. Dalam Efesus 2:20 ditegaskan bahwa Gereja didirikan di atas dasar para rasul dan para nabi, di mana Kristus adalah batu penjurunya. Prinsip ini tidak boleh diubah di sepanjang sejarah. Tidak ada lagi nabi modern atau rasul modern. Itu alasan kekristenan tidak dapat menerima Ellen White (pendiri Adventisme) atau Joseph Smith (pendiri Mormon), atau Russel dan Rutherford (pendiri Saksi Yehovah), karena mereka mengaku mendapatkan “wahyu yang baru”.
Joseph Smith mengatakan bahwa dulu Paulus dipanggil setelah Yesus naik ke sorga dan selama 1.000 tahun kemudian Yesus memanggil lagi satu orang untuk mengisi kebutuhan zaman, yaitu Joseph Smith. Itu berarti, ketika Yesus berada di dunia, Ia memanggil 12 orang, setelah naik ke sorga, Ia memanggil Paulus, lalu tidur 1.800 tahun, dan kemudian memanggil Joseph Smith.  Dia menyetarakan buku Mormon dengan Kitab Suci. Kita tidak dapat menerima pandangan seperti ini, karena Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sudah menjadi kesatuan yang sempurna, yang tidak perlu ditambah lagi.
Ellen White, Russell dan Rutherford dari Saksi Yehovah mengira mendapatkan wahyu baru. Demikian juga orang-orang seperti Kenneth Hagin, Cho Yonggi, Benny Hinn, dsbnya, meskipun tidak ditulis dalam bentuk buku. Mereka mengatakan, “Allah berkata kepada saya…” dst. Itu adalah hal yang mirip dengan rhema theon.  Kita perlu menegaskan konsep Alkitab bahwa tidak ada wahyu baru. Karena wahyu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sudah lengkap, maka tidak ada lagi rasul dan nabi.
Suatu kali, seorang bintang film terkenal di Hongkong bertobat. Lalu ia menjadi “bintang baru di dalam Gereja”.  Gereja-gereja berebut mengundang dia untuk bersaksi, karena di mana dia berada, Gereja menjadi penuh. Ia mulai berani berkhotbah ke sana-sini. Akhirnya ia menulis buku “Wahyu Allah kepadaku, Penerima Wahyu…(namanya).”  Ketika mengetahui dan membacanya, saya adalah orang pertama yang mengatakan bahwa ia telah menjadi bidat. Banyak Gereja di Indonesia dan luar negeri yang menyerang saya karena pernyataan itu. Dalam bukunya diungkapkan seolah-olah Tuhan memberitahu kapan akan terjadi sesuatu, namun dalam semua pengungkapannya banyak hal yang saling bertentangan. Orang biasa tidak sadar adanya faktor perusak sendiri, ‘self-defeating factor’ yang ada dalam tulisan itu. Tetapi jika kita mematuhkan pikiran kita kepada pikiran Allah, pasti kita dapat melihat bagitu banyak hal yang tidak beres di dalamnya, terlalu banyak pemalsuan.
Tetapi, apakah Allah tidak mengutus orang untuk melaksanakan tugas mereka saat ini? Ada. Kalau demikian, apakah mereka juga rasul? Hanya secara fungsi, tetapi tidak secara jabatan.  Secara jabatan sudah tidak ada rasul lagi, tetapi secara fungsi tetap ada sampai saat ini.
Sampai dunia kiamat, fungsi rasul, fungsi utusan Allah seperti ini masih ada, tetapi jabatan rasul sudah tidak ada lagi. Saya percaya di setiap zaman ada banyak orang yang masih diutus Tuhan di dunia ini, mungkin sebagai penginjil, mungkin sebagai pendeta, mungkin sebagai guru atau pengajar. Tuhan ingin memakai Saudara untuk menjadi orang yang menegakkan dan memberitakan doktrin yang baik.
Jikalau Tuhan memanggil Saudara dan mengutus Saudara, jangan Saudara mengeraskan hati dan menolak panggilan tersebut. Disetiap zaman, utusan itu masih terus ada, sehingga fungsi rasul tidak berhenti. Tetapi orang yang diutus oleh Tuhan setelah Kitab Suci selesai ditulis, tidak boleh menyebut diri sebagai rasul. Demikian pula fungsi nabi masih ada, yaitu di setiap zaman masih ada orang-orang yang mewakili Tuhan berbicara firman kepada manusia di zamannya, tetapi fungsi itu tidak menjadikan mereka berjabatan seperti itu.
Di dalam fungsi sebagai nabi, ada dua hal yang bersangkut paut dengan fungsi itu:
  1.  Pelayanan ini adalah pelayanan dengan memakai bahasa atau kata-kata, yaitu “pelayanan kata” atau “pelayanan firman” (ministry of words). Baik rasul maupun nabi dipilih dan ditetapkan, diurapi oleh Roh Kudus untuk menjadi pelayan-pelayan perkataan. Khususnya, ketika nabi berkata mewakili Tuhan, maka hal-hal ini harus jelas: (1) Mereka berkata-kata berdasarkan wahyu. Istilah “mewahyukan” menunjukkan bahwa Alkitab belum selesai dibuat. (2) Setelah Kitab Suci ditulis, maka pembicaraan harus berdasarkan wahyu. Kata-kata itu harus menurut wahyu. Baik di dalam butir pertama dan kedua, pembicara harus memakai dirinya secara pasif, menerima wahyu, sehingga paling jauh mereka hanya dapat berkata: “Demikianlah Allah berkata….” Atau “Demikianlah Alkitab berkata….”. Mereka tidak boleh mengatakan: “Sayalah Allah….” Atau “Saya Yesus….”. Hal ini merupakan perbedaan yang sangat besar. Hal ini menyangkut jabatan dan fungsi nabi. Kalau orang mengaku nabi, lalu mengatakan: “Saya Yesus….” Atau “Saya adalah Allah, saya mengutus engkau….” Maka Saudara harus menengking dan mengusir setan dalam orang itu. Jangan menerima dan menganggap itu dari Allah. “Kata” atau “Firman” atau “Word” adalah Kristus sendiri. Kristus yang menjadi daging, hanya Dia saja yang boleh memakai kata ganti orang pertama (“Aku” atau “Saya”) di dalam dunia ini.  Yesaya, seorang nabi yang begitu besar, tetap tidak boleh mengatakan “Sayalah Allah…” Demikian pula Yeremia atau Daniel atau siapa pun juga, karena mereka hanya menerima wahyu saja. Mereka paling jauh hanya boleh berkata: “Demikianlah firman Yehovah…”   Tidak ada pengurapan Roh Kudus atau Baptisan Roh Kudus atau Kepenuhan Roh Kudus yang mengakibatkan seseorang yang diurapi berkata, “Saya Yesus, saya diutus Allah bapa, dan saya akan datang kembali.” Di tahun 1967, saya bergumul dan melawan arus-arus liar seperti itu di Indonesia, tetapi sampai sekarang begitu banyak orang Kristen yang masih tidak sadar dan ditipu oleh mereka. Kadang-kadang roh-roh seperti itu memakai anak-anak kecil atau remaja, lalu mereka berkata:“Tuhan berkata….” Lalu mereka langsung berkata-kata. Terkadang mereka langsung berkata: “Saya adalah Tuhanmu…”  Lalu Saudara berkata, “Wah hebat sekali, umur sedemikian kecil sudah bisa berkhotbah”  dan menganggap Roh Kudus ada di dalam dia. Saya tegaskan bahwa itu adalah penipuan setan, karena tidak pernah terjadi pada semua rasul, termasuk Petrus, Paulus, Yohanes, yang menulis Kitab Suci, berani berkata, “Saya adalah Allah” kecuali satu-satunya yang berhak berkata seperti itu, yaitu: Yesus Kristrus sendiri. Firman yang menjadi daging.
  2. Semua nubuat mempunyai tiga lingkaran yang besar, yaitu: (1) bernubuat tentang Kristus yang akan datang, (2) bernubuat tentang nasib bangsa-bangsa di bawah penghakiman Allah, dan (3) bernubuat mengenai apa yang akan terjadi pada waktu yang sangat singkat. Tiga kategori ini merupakan kategori-kategori yang penting. Ketika nabi Yesaya, Yeremia, Daniel atau nabi-nabi lain berfirman dan bernubuat sebagai nabi, mereka selalu bernubuat di dalam ketiga kategori ini.
Pertama, misalnya Yesus akan lahir di Bethlehem (Mikha 5:2); Yesus akan dikuburkan di tempat orang kaya (Yesaya 53); Kedua kaki dan tangan-Nya akan dilukai (Mazmur 22), dsbnya. Para nabi memberikan data yang sangat jelas tentang diri Yesus. Mereka diberikan wahyu oleh Roh Kudus, sehingga mereka dapat melihat dengan tepat apa yang akan terjadi dan menuliskan dengan sangat tepat kategori yang pertama. Tentang kategori yang pertama ini masih dapat dibagi ke dalam dua bagian lagi, yaitu: kedatangan yang pertama dan kedatangan yang kedua. Kedatangan yang pertama merupakan inkarnasi “incarnation”, yaitu penggenapan rencana keselamatan bagi manusia; dan kedatangan kedua merupakan penyempurnaan “consummation”, yaitu  penggenapan penghakiman dan penyempurnaan orang pilihan. Semua ini merupakan keseluruhan rencana Allah yang sempurna, sehingga dunia ini dan Gereja Tuhan akan digenapkan di titik omega, lalu masuk ke dalam kekekalan.

Nabi-nabi yang menjelaskan dan  menubuatkan Kristus, baik kedatangan pertama dan kedua, selalu semakin kurang jelas apabila waktunya semakin jauh dari waktu terjadinya peristiwa yang dinubuatkan tersebut. Ketika nabi bernubuat tentang kedatangan Tuhan Yesus di Bethlehem, banyak orang yang tidak mau peduli dan hanya memperhatikan hal-hal duniawi saja. Inilah orang berdosa. Tetapi ada orang yang ketika mendengar berita dari para nabi langsung merespon dan mereka berdoa, menantikan kedatangan Messias itu. Inilah orang-orang pilihan.

Nabi-nabi juga menubuatkan bahwa Yesus akan datang untuk yang kedua kalinya di dalam dua ayat: Yesaya 9:5-6. Ada lima julukan atau atribut yang sangat luar biasa diberikan kepada “Anak” yang akan lahir itu. Lalu ditegaskan di dalam ayat 6 bahwa kuasa politik akan berada dibawah kaki-Nya. Julukan-julukan atau atribut yang diberikan kepada Yesus didalam ayat-ayat ini menunjuk bukan pada kedatangan pertama Yesus, bahkan kuasa politik yang berada di tangan Tuhan Yesus bukan terjadi pada kedatangan pertama. Semua ini menunjuk kepada kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Jadi disini Yesaya menggabungkan “dua gunung” menjadi satu, yaitu kedatangan pertama dan kedatangan kedua. Namun bagi Gereja, di mana Yesus sudah datang pertama kali, semakin jelas terpisahnya antara kedatangan Yesus pertama dan kedua. Yang pertama sudah lewat, yang kedua belum datang. Maka sekarang, jika kita mengatakan bahwa Yesus datang di Bethlehem, tidak lagi dapat disebut sebagai nubuat, melainkan sejarah. Ketika saya mengatakan,”Yesus akan datang lagi” itu nubuat, karena belum terjadi dan pasti akan terjadi. Tetapi bukan karena saya yang mendapat wahyu, tetapi berdasarkan wahyu (yaitu Alkitab). Yang mendapatkan wahyu adalah orang yang berjabatan nabi dan rasul, tetapi yang berdasarkan wahyu adalah orang-orang yang berfungsi  nabi, maka ia harus berkata-kata seturut dengan apa yang sudah diwahyukan oleh Roh Kudus di dalam Alkitab.

Seorang pendeta di Korea yang berani mengatakan bahwa Yesus akan datang pada tanggal 22 Oktober 1992 adalah nabi palsu. Begitu banyak yang mengira ia mendapatkan Roh Kudus. Orang menganggap bahwa ia pasti memiliki Roh Kudus karena pendeta lain tidak berani berkata seperti itu, sedangkan dia berani. Sebelum tiba hari H itu, pendeta tersebut berhasil mengumpulkan dan memasukkan berjuta dollar ke dalam rekening pribadinya di bank. Tetapi dia adalah nabi palsu, karena ia bernubuat bukan berdasarkan wahyu.

Kedua, mereka juga menubuatkan tentang nasib bangsa-bangsa. “Hai Babilonia….” Atau “Hai Niniwe….”Atau “Hai Mesir…” dsb. Semua ini adalah nubuat-nubuat penting, karena didalamnya terkandung berita bagaimana Allah juga berdaulat atas bangsa-bangsa, di mana keadilan dan kasih Allah berlaku untuk segala bangsa.

Ketiga, mereka juga menubuatkan hal-hal yang sangat dekat, seperti: “Hai Ahab, esok anjing akan menjilat darahmu.”  Atau “Engkau akan bertemu seseorang dan jika bertanya, engkau harus menjawab…”  Semua ini adalah nubuat yang berkenaan dengan hal yang dekat.
Dari ketiga kategori ini, yang terpenting adalah yang pertama, tetapi yang paling menarik adalah yang ketiga. Semua hal yang paling penting berkaitan dengan Kristus, karena Kristus harus senantiasa diutamakan. Kedua, baru mengenal semua rencana ilahi dan sifat keilahiannya, terakhir adalah hal yang paling sederhana yang berkaitan dengan nasib perseorangan.
Saat ini, ketika seseorang mengatakan “Yesus pasti akan datang kembali” tidak terlalu dipedulikan dan dianggap tidak terlalu perlu diperhatikan. Tetapi jika ada pendeta yang mengatakan “Jakarta dalam tiga bulan ini tidak akan turun hujan” atau “Dalam waktu enam, bulan ini ada orang penting yang akan meninggal.” Maka kalau benar terjadi pasti Gerejanya akan penuh, karena dianggap di situ ada Roh Kudus. Saya menegaskan bahwa itu gejala yang salah. Semua nubuat yang tidak terlalu penting telah sedemikian dipentingkan oleh manusia, sebaliknya nubuat yang paling penting dianggap tidak penting oleh manusia. Ini kesalahan fatal.
Jika Saudara tidak memperhatikan prinsip-prinsip seperti ini, Saudara akan mudah ditipu oleh setan untuk mementingkan hal-hal yang tidak penting, sehingga akhirnya Saudara akan mengabaikan hal-hal yang memang betul-betul penting. Itu sebab, di dalam gerakan-gerakan seperti ini, semua pemberitaan tentang Kristus telah diselewengkan. Kelahiran, kematian, Kristus yang disalibkan, berkorban dan menderita bagi penebusan dosa, tidak lagi ditekankan dengan benar. Kalau memberitakan kemenangan Kristus, biasanya dikaitkan bahwa setan membuat orang jadi miskin dan Kristus membuat kamu menjadi kaya; setan membuat kamu menjadi sakit dan Kristus membuat kamu menjadi sehat. Semua penekanan ini telah menyeleweng dari prinsip utama. Penekanan padahal rohani di arahkan ke jasmani, dari kekekalan ke kesementaraan, dan dari kelimpahan  rohani menjadi kelimpahan jasmani. Akibatnya, setelah gerakan ini, banyak orang yang katanya menjadi giat ke Gereja, giat memberitakan Injil, padahal semua palsu. Yang diberitakan bukan Injil dan mereka datang ke Gereja bukan untuk memikirkan firman Tuhan, tetap semua hal yang bersifat duniawi. Mereka telah mencoret-coret Kristus yang asli dan merobek-robek Alkitab yang sempurna dan menambahkan dengan wahyu palsu. Semua itu sedang menggerogoti orang-orang yang mudah diperdaya.

Di Nan Yang University, seorang anak perempuan mengatakan bahwa ia sering mendapatkan wahyu Tuhan. Ia mengatakan bahwa ia sering bernubuat dan nubuat itu seringkali begitu tepat, sehingga orang-orang menjadi heran dan dia sendiri juga heran. Saya katakan, bahwa saya tidak heran. Saya menegaskan beberapa prinsip Alkitab kepada dia, yaitu: (1) tidak ada wahyu baru; (2) tidak mungkin wahyu melawan Alkitab; (3) Alkitab tidak mungkin salah. Jika berbenturan, pasti yang salah adalah gejala yang ada; (4) jika seseorang menerima wahyu baru dan menjadikan orang itu tidak mementingkan Alkitab, tetapi mementingkan wahyu baru itu, maka itu tanda bahwa setan sedang memberi pengarahan untuk memindahkan orientasi orang itu dari Tuhan. Maka saya mendoakan dia dengan sungguh-sungguh.

Tahun 1976 ada seorang pemuda berusia 16 tahun di Jakarta sering menubuatkan hari akan hujan atau tidak, dan selalu tepat. Setelah selesai kebaktian yang saya pimpin, ibunya membawa anak itu untuk mengetahui apakah yang dilakukan oleh anaknya itu dari Roh Kudus atau bukan. Anak itu ganteng sekali dan banyak orang suka mengikuti kebaktian yang dipimpinnya. Saya mulai menguji dan akhirnya saya harus mengatakan, “Maaf, itu bukan dari Roh Tuhan, tetapi dari roh setan yang menipu engkau.”  Ia melihat saya dengan mata melotot dan tidak menerima analisis saya, membuang muka lalu ia bernubuat: “Stephen Tong dalam dua bulan akan mati tertabrak mobil, karena melawan Roh Kudus.”  Ia bernubuat di Jakarta dan didengar oleh banyak orang. Pada tahun 1978 ketika sedang berkhotbah di Bogor, seseorang datang kepada saya. Ia menanyakan mengapa saya masih hidup, belum mati. Ia mengatakan bahwa ada orang bernubuat bahwa saya akan mati dan saya betul-betul sudah mati kecelakaan kapal terbang. Saya jawab bahwa saya sendiri belum tahu kalau saya sudah mati.

Setiap nubuat harus diuji. Roh memerintahkan untuk kita menguji setiap Roh. Ketika kita melihat urutan nabi dan rasul terbalik, hal itu bukan berdasarkan kronologi waktu, tetapi karena rasul memang lebih penting dari nabi. 1). Nabi menubuatkan tentang Yesus, tetapi rasul berjumpa langsung dan menyaksikan Yesus. 2). Rasul-rasul dipilih oleh Tuhan Yesus sendiri.

Rasul adalah kunci untuk mengerti nabi. Setelah mendengarkan tafsiran dari rasul, kita baru mengetahui semua yang dikatakan oleh para nabi tentang Yesus. Itulah beda antara orang Yahudi dengan orang Kristen. Karena orang Kristen menerima ajaran rasul, kiita sekaligus mengerti apa yang dikatakan oleh nabi. Sedangkan orang Yahudi hanya mau menerima ajaran nabi dan tidak mau menerima rasul, sehingga sampai sekarang mereka tidak mengenal Yesus dan terus berdoa menantikan Yesus datang. Kasihan sekali. Sampai sekarang mereka mempelajari ajaran nabi tetapi tidak menerima ajaran rasul, sehingga mereka tetap tidak mengerti. Orang Kristen menerima rasul, sehingga kita dapat menelusuri kembali dan mengetahui semua yang dikatakan tentang Kristus telah diceritakan oleh para nabi. Alkitab mengatakan bahwa Gereja didirikan di atas rasul dan nabi. Perjanjian Baru menjadi kunci untuk mengerti Perjanjian Lama. Hal ini tidak berarti Perjanjian Baru lebih tinggi derajatnya dari Perjanjian Lama, tetapi Perjanjian Baru lebih penting untuk mengerti keseluruhan Kitab Suci. Orang yang mengerti Perjanjian Lama dan tidak menerima ajaran rasul, tidak akan menerima Perjanjian Baru. Orang yang menerima pelayanan rasul, ia akan sekaligus mengerti pengajaran rasul dan nabi, sehingga mereka mengerti seluruh Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Maka disini urutan di mulai dari rasul, baru kemudian nabi.

 b. Jabatan lainnya


Di urutan ketiga adalah penginjil. Sesudah pelayanan rasul dan nabi, Gereja membutuhkan penginjil-penginjil yang memberitakan Kristus agar orang yang bukan Kristen dapat mengenal Kristus dan menjadi orang Kristen. Pelayanan penginjil sangat penting untuk membawa orang kembali ke “kandang” Tuhan.
Siapakah yang lebih  penting: pendeta atau penginjil? Banyak Gereja saat ini memandang rendah tugas penginjil. Penginjil diberi gaji kecil, dan setelah lama melayani baru dijadikan pendeta dan diberi gaji yang lebih besar. Di dalam pikiran saya, saya tidak pernah menganggap penginjil lebih rendah dibandingkan pendeta. Mengapa? Karena seorang penginjil adalah orang yang langsung berada di front terdepan melawan setan. Penginjil adalah orang yang berperang dengan setan untuk membawa orang yang masih di dalam kegelapan kembali kepada terang, dari setan kepada Yesus Kristus, dari kuasa Iblis dan kuasa dosa kepada Kerajaan yang suci dari Anak Allah. Banyak orang mengira pendeta lebih penting, penginjil tidak penting. Di sini, Alkitab langsung meletakkan posisi penginjil setelah rasul dan nabi.
Setelah ada orang-orang yang menjadi Kristen, mereka perlu digembalakan. Untuk itu perlu ada pendeta. Selain digembalakan, mereka juga perlu ditumbuhkan. Untuk itu mereka perlu terus diajar secara serius, maka perlu guru-guru atau pengajar-pengajar. Kelima jabatan ini merupakan jabatan-jabatan penting di dalam kekristenan, tetapi tidak setiap saat ada nabi dan rasul, sedangkan di setiap zaman ada penginjil, pendeta dan pengajar-pengajar.
Yesus naik ke sorga dan memberikan karunia-karunia jabatan ini kepada jemaat-Nya. Tetapi bukankah nabi sudah ada sebelum Roh Kudus turun? Tidak! Dalam ayat ini, kita baru menyadari hubungan antara rasul dan nabi. Nabi-nabi memang sudah disediakan oleh Roh Kudus dan dikonfirmasikan pengertian jabatannya setelah Roh Kudus turun.
1 Korintus 12:27-29 mengatakan, Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar?….”
Di dalam bagian ini, karunia jabatan dan karunia pelayanan digabung menjadi satu. Di dalam uraian ini, karunia sebagai penginjil dan pendeta tidak dicantumkan, karena mereka dikaitkan di dalam posisi pengajar. Jika kita daftarkan, maka kita akan melihat adanya tiga tingkatan:
Pertama, yang menyangkut dua dasar dan satu penerus (rasul, nabi, dan pengajar). Semua perjalanan kekristenan tidak boleh keluar dari dasar rasul dan nabi. Kedua dasar ini tidak boleh tidak ada, karena inilah dasar yang mutlak dari iman Kristen. Kemudian guru mengajar berdasarkan ajaran rasul dan nabi di sepanjang sejarah.

Kedua adalah mujizat.  Mengapa penting? Apakah mujizat itu? Jika terjadi mujizat, tetapi kemudian mujizat itu menjadikan orang tidak lagi mendengar khotbah, atau khotbah dikurangi, itu bukan mujizat, tetapi penghujatan. Di dalam kategori atau tingkatan kedua, mujizat, kesembuhan dan pelayanan, merupakan tingkat kedua yang tidak terlalu penting dibandingkan dengan rasul, nabi dan pengajar.
Ketiga, tingkatan terendah adalah pemimpin, seperti ketua majelis atau posisi-posisi kepemimpinan Gereja. Di dalam kemajelisan, yang memimpin jemaat, berada di tempat atau posisi yang tidak penting sekali. Inilah prinsip Alkitab. Jika kita melihat Gereja saat ini, kita melihat keadaan yang sama sekali terbalik. Yang paling penting adalah ketua majelis, karena ia yang menentukan mau memanggil pendeta atau tidak. Kalau mau menggusur seorang pendeta mudah sekali. Dengan tidak memberikan gaji yang cukup atau tidak menaikkan gaji pendeta selama tiga tahun, maka pasti pendeta itu pergi sendiri. Gereja sekarang sangat berlawanan dengan prinsip Alkitab. Begitu banyak Gereja yang katanya berorganisasi beres, justru tidak dapat bertumbuh karena tidak beres secara prinsip Alkitab.

Karunia bahasa Roh dan menafsir bahasa Roh adalah yang paling akhir dan paling rendah di antara tingkatan ketiga ini. Hari ini orang-orang yang berbahasa Roh jangan bangga, karena ia berada di posisi yang sangat rendah, bahkan paling rendah dari semua karunia yang ada. Sekarang ini justru karunia yang paling tidak penting dianggap yang paling penting; sedangkan yang paling penting justru dikaburkan. Jabatan yang paling tidak penting justru dianggap yang paling penting. Justru firman Tuhan, hal yang terpenting dilupakan dan disingkirkan. Kebenaran Alkitab dilupakan, prinsip-prinsip nabi dan rasul dilupakan, tetapi yang dipentingkan justru yang dapat bernubuat yang tidak penting; bahkan jabatan ketua majelis dianggap berkuasa besar. Semua ini merupakan kenyataan yang sangat berbeda dari ajaran Kitab Suci.

Sumber : www. nusahati.com

Mengapa Berteriak?!

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, “Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?” 

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab, “Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak.”
“Tapi…” sang guru balik bertanya, “lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?”

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.

Sang guru lalu berkata, “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara kedua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”

Sang guru masih melanjutkan, “Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?” Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban. “Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”

Sang guru masih melanjutkan, “Ketika kita sedang dilanda kemarahan, janganlah hati kita menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kita tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kita. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu kita.”

Sumber : http://www.nusahati.com/2013/12/mengapa-berteriak/