Selasa, 30 Agustus 2011

Mendalami Firman

THE WORD (Part-8)

Telah diutarakan sebelumnya bahwa di antara sekitar 20 kebudayaan terbesar yang pernah muncul dalam sejarah manusia, hanya 3 kebudayaan yang membicarakan tentang Logos. Dua kebudayaan berada di Asia (Tiongkok dan India) dan satu di Barat (Gerika). Sebenarnya tiga tokoh filsafat Gerika juga bukan berasal dari Barat, melainkan dari Asia Kecil (kota Miletus). Miletus benar-benar meletuskan filsafat dan aliran Miletus menghasilkan tiga orang yang membicarakan tentang awal mula segala sesuatu. Hal ini menjadi permulaan manusia menyelidiki dengan spekulasi otak manusia tentang hal di luar diri manusia. Tetapi bagaimanapun hebatnya spekulasi manusia dan bagaimana dalamnya pemikiran manusia, tetap bertitik tolak dari manusia sebagai subyek yang memikirkan tentang alam semesta sebagai obyek. Manusia hanya bisa berspekulasi, berimajinasi, berdiskusi, dan mengambil kesimpulan tentang apa dan dari mana alam semesta. Jika demikian, bolehkah kita percaya? Semua teori manusia yang paling hebat ternyata memiliki banyak kelemahan. Dalam krisis ekonomi hebat pada tahun 2008, bank legendaris, Lehman Brothers mengalami keterpurukan; ini membuktikan teori ekonomi yang tidak kuat. Ketika teori yang dipercaya oleh Barat berpuluh-puluh tahun akhirnya runtuh, hal ini langsung mempengaruhi negara-negara lain. Teori ekonomi Keynes, Friedman, dan Alan Greenspan ternyata tidak bisa diandalkan. Kira-kira 19 tahun yang lalu (Red. Khotbah ini dikhotbahkan pada tahun 2008), ketika teori Karl Marx hancur, ekonomi dari negara komunis menjadi bangkrut. Ketika teori Friedman, Keynes, dan Greenspan – yang ternyata juga tidak menjamin – runtuh, manusia mulai goncang, mulai memikirkan bolehkah kita bersandar pada diri sendiri?

Hanya kembali pada firman Tuhan, engkau mendapatkan pangkalan yang tidak berubah. Sekitar 2.400 tahun yang lalu Plato mengatakan, “Di dunia yang terus berubah ini, mungkinkah kita memiliki sandaran yang tidak berubah? Di dunia yang semakin rusak, bisakah kita berpegang pada sesuatu yang tidak bisa rusak? Dalam dunia yang sementara ini, bisakah kita memegang prinsip yang tidak berubah, yang kekal?” Hanya Kitab Suci yang mengatakan “Allah tidak berubah, kekal selama-lamanya. Allah tidak memiliki bayangan pergerakan, Allah senantiasa stabil dan konsisten tidak berubah.”

Filsafat dunia menganut dua aliran. Satu aliran mengatakan: ada prinsip kekal yang tidak berubah. Aliran kedua mengatakan: segala sesuatu berubah sehingga kita harus mengetahui dengan lincah semua dalil perubahan. Pikiran ini dicatat dalam The Book of Changes (Mandarin: Yi Jing). Di dalamnya ada 8 prinsip yang digabung dengan 8 prinsip lain, yang berinteraksi satu dengan yang lain menjadi 64 macam perubahan. Perubahan ini disebut orang bā bā liù shí sì guà, akhirnya diringkas sebagai bā guà (berbentuk segi delapan, sering diletakkan di pintu rumah, dianggap bisa mengusir setan dan supaya rezeki masuk). Sebenarnya, 2.700 tahun yang lalu filsafat ini membicarakan tentang bagaimana mengenal dunia yang berubah. Saat ini kita melihat ketika sistem Barat mulai hancur, sistem Tiongkok mulai berkembang. Ada suatu tradisi yang dahulu dilupakan oleh Barat dan dahulu tidak dijalankan oleh Tiongkok, sekarang mulai dikelola kembali.
Ekonomi hanya memiliki dua prinsip:
  1. Bagaimana menciptakan harta,
  2. Bagaimana memakai dan mendistribusikan dengan baik.
Sekarang Amerika hancur karena menciptakan harta tidak lebih cepat daripada menghabiskan harta. Baru untung 5 dolar sudah pakai kartu kredit 50 dolar. Lain dengan orang Tionghoa yang kerja berat, kalau makan tidak banyak bicara supaya cepat selesai dan simpan uang sebanyak mungkin. Pada prinsipnya menutup bocor dan membuka sumber. Orang yang tidak mengerti hal ini hanya bisa menghabiskan sumber dan tidak pernah menutup bocor, akhirnya runtuh. Sebenarnya ini adalah suatu pelajaran yang sangat sederhana, tetapi orang Amerika khususnya para pemuda hanya tahu kartu kredit akhirnya hancur sendiri. Selain itu mereka berharap tanpa kerja keras bisa mendapatkan uang sebanyak mungkin lalu main saham. Jangan Saudara sembarangan memakai kartu kredit; jika memakainya harus segera melunasinya sehingga tidak terjerat dengan bunga-berbunga yang besar sekali.

Sekitar 2.600 tahun yang lalu, Konfusius mengatakan, “Tambahkanlah umurku 5 atau 10 tahun supaya aku mungkin mempelajari kitab perubahan itu sehingga aku terhindar dari kesalahan yang besar.” Pada saat yang sama, di Gerika juga ada satu orang yang berbicara tentang perubahan. Ia menetapkan suatu filsafat yang disebut School of the philosophy of becoming (Aliran Filsafat Menjadi). Dia mengatakan, “Engkau melihat segala sesuatu seperti tidak berubah. Jika engkau melihat pilar hari ini, itu seperti sama ketika engkau melihatnya minggu yang lalu. Namun itu hanyalah fenomena luar. Engkau melihat semua tidak berubah dari luar. Di dalamnya setiap momen, setiap detik, semuanya sedang berubah.” Penemu filsafat ini namanya Herakleitos atau kadang-kadang disebut sebagai Bapa Aliran Heraklesian. Ia mengatakan segala sesuatu berubah, tidak ada yang tidak berubah. Yang kelihatan tidak berubah itu hanya fenomena, yang berubah itu fakta. Prinsip perubahan ini adalah kebenaran, dan Herakleitos menyebutnya sebagai Logos. Jadi istilah ‘Logos’ sebelum dipakai di Yohanes 1:1, 550 tahun sebelumnya sudah dipakai oleh Herakleitos. 180 tahun setelah Herakleitos, timbullah aliran filsafat yang lebih rumit lagi, yang disebut Stoisisme. Stoisisme berasal dari satu tempat yang banyak tiangnya (Stoa). Filsafat ini begitu penting dan begitu mempengaruhi. Filsafat itu muncul pada abad ke-4 sebelum Kristus dan musnah pada abad ke-4 sesudah Kristus. Berarti Stoisisme pernah merajalela di dalam dunia akademik Gerika selama 750 tahun. Selama 8 abad mempengaruhi orang-orang yang paling pintar, 4 abad sebelum dan 4 abad sesudah, di tengah-tengahnya itulah Yesus dilahirkan, Paulus mengabarkan Injil dan Yohanes menuliskan Injil Yohanes dengan kalimat pertama, “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah”. Ini menjadi halilintar yang merupakan kulminasi, memecahkan kemapanan dan mengubah konsep, karena sebelumnya tidak pernah ada orang yang mengerti kalimat seperti ini. Di dalam sejarah pernah ada satu orang yang mengikut Yesus sejak dari muda sampai tua, ia begitu setia sampai mati. Kalau tidak ada Yohanes, Kitab Suci tidak lengkap, manusia tidak tahu dunia akan ke mana, tidak ada wahyu tentang kiamat, tidak ada ayat yang mengatakan, “Demikian Allah mengasihi isi dunia sehingga dikaruniakan Anak yang tunggal itu, supaya barangsiapa yang percaya kepada Dia tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Pertama, kita melihat Stoisisme Barat. Di masa Yohanes melayani, Stoisisme berada pada puncak kejayaannya. Stoisisme mengajarkan bahwa dunia terbentuk dari dua unsur, yaitu unsur aktif dan unsur pasif. Unsur aktif adalah unsur lembut yang tidak kelihatan; unsur pasif adalah semua yang kelihatan dan bisa kita pegang. Namun dunia pasif jika tidak ada yang menikmati, tidak ada pikiran, maka akan selamanya pasif. Maka perlu ada yang aktif untuk mengelola yang pasif. Dari sini dikembangkan bahwa dunia terdiri dari beberapa lapisan. Lapisan paling bawah adalah lapisan yang paling kasar, yaitu lapisan materi. Lapisan yang paling tinggi adalah lapisan pikiran. Pikiran tidak kelihatan dan pikiran memikirkan semua materi, merenungkan tentang kayu, batu, tanah, geografi, dan lain-lain. Pikiran kita bisa memikirkan tentang dunia, tetapi dunia tidak bisa memikirkan pikiran kita. Jadi yang di atas menguasai yang bawah, yang tidak kelihatan lebih penting dari yang kelihatan. Maka, tidak mungkin ada binatang berkata: “Mari kita memikirkan Tuhan yang tidak kelihatan.” Binatang hanya mencari makan. Stoisisme sangat mempengaruhi kebudayaan Gerika. Mereka mengatakan tanah itu pasif, tetapi rumput itu aktif. Kemudian rumput dimakan oleh kuda. Saat itu rumput pasif dan kuda aktif. Kalau rumput lebih aktif dari tanah, maka kucing lebih besar dari rumput, macan lebih aktif dari kucing, maka manusia dianggap yang paling aktif. Sekalipun manusia kecil badannya, manusia bisa membunuh gajah yang jauh lebih besar. Jadi binatang ada di bawah manusia; tumbuh-tumbuhan di bawah binatang; lalu unsur yang lebih kecil, seperti bakteri, di bawah tumbuh-tumbuhan. Setelah itu baru di bawahnya ada materi, batu-batuan, tanah. Lapisan pasif itu materi; lapisan aktif itu hidup. Hidup ada yang berperasaan, berkemauan, dan berpikiran (rasio). Stoisisme berpendapat karena manusia memiliki bibit pikiran, maka pasti manusia berpikir. Ketika saya berpikir, maka saya adalah subyek. Saya memikirkan sesuatu, saya adalah subyek dan sesuatu itu obyek. Tetapi ketika saya memikirkan bagaimana pikiran saya bisa berpikir, maka berarti pikiran saya menjadi subyek dan sekaligus obyek.

Manusia memiliki bibit pikiran, maka manusia bisa berpikir dengan berbagai cara. Ini disebut logika. Manusia mau mengerti Logos, maka perlu memakai logika. Yang menjadikan manusia bisa berlogika adalah logikos. Di sini kita bisa melihat relasi antara Logos, Logikos dan Logika. Logikos adalah firman kecil (logos kecil), logika adalah cara untuk mengerti firman, dan Logos adalah Firman Induk. Jadi Firman Induk itu adalah Kebenaran. Manusia adalah makhluk yang mau mengerti kebenaran. Hal itu terjadi karena manusia memiliki bibit kebenaran, yaitu logikos. Jadi Kebenaran itu di luar saya, bibit kebenaran itu di dalam saya. Saya memiliki bibit kebenaran di dalam saya untuk mengerti Kebenaran yang di luar saya. Di sini saya ingin bersatu dengan kebenaran melalui bibit kebenaran. Maka tujuan hidup manusia yang tertinggi adalah menyatunya logikos dengan Logos. Di sini filsafat Gerika mulai memikirkan hubungan antara Pikiran Utama (Mother Thought) dengan anak-anak pikirannya (children of thinking).

Manusia begitu mengagumi Taj Mahal, sebuah monumen pualam yang begitu indah dengan pengerjaan yang begitu rapi dan kualitas seni yang sempurna. Taj Mahal didirikan oleh seorang raja yang menikah dengan seorang wanita yang sangat cantik. Setelah menikah, lahirlah anak pertama mereka, disusul dengan anak-anak yang lain. Hampir setiap tahun istrinya melahirkan seorang anak, bahkan kadang dua anak. Di dalam beberapa tahun mereka dikaruniai 13 anak. Suatu hari di tengah perjalanan, istrinya melahirkan anak dan meninggal. Raja begitu berduka ditinggalkan oleh istrinya, lalu ia mengambil keputusan untuk mendirikan Taj Mahal, kuburan terindah di dalam sejarah manusia. Untuk membangun Taj Mahal, dia memperalat 200.000 orang selama lebih dari 10 tahun untuk satu kuburan. Banyak yang mengatakan inilah the greatest story of love in the history. Tapi bagi saya sama sekali tidak! Demi mencintai istri yang sudah mati, dia menyuruh orang bekerja siang malam tanpa istirahat, banyak yang meninggal dunia karena bekerja terlalu berat. Bahkan barangsiapa yang tidak taat, tangannya akan dipotong. Karena takut pekerjanya bekerja di tempat lain dan menghasilkan bangunan yang lebih indah dari Taj Mahal, maka pekerja-pekerja yang banyak mengerti rahasia pembuatan Taj Mahal dibunuh. Selain cinta kasih Tuhan Allah dalam Kristus, semua cinta kasih di dunia itu adalah kebohongan, kecuali engkau meminta Tuhan menguduskan emosimu. Tanpa pengudusan dari Tuhan, itu tidak mungkin. Manusia bisa mengagumi keindahan Taj Mahal, namun jika engkau berjalan-jalan dengan membawa anjingmu, maka anjing yang engkau bawa tidak akan mungkin mengagumi keindahan Taj Mahal. Anjing tidak tertarik akan Logos.

Stoisisme cukup agung karena ia memakai istilah Logos sebagai aliran filsafat. Ketika Stoisisme memikirkan Logos, mereka mempengaruhi masyarakat sampai setiap lapisan masyarakat kagum kepada mereka. Dari sejak Yesus mati, hingga zaman Agustinus, selama empat abad penginjilan paling sulit menembus orang Stoisisme. Mereka cenderung menganggap diri mereka mengetahui lebih banyak daripada orang Kristen, bahkan etika mereka lebih tinggi daripada orang Kristen. Mereka menganggap bahwa mereka adalah orang yang paling bijaksana di seluruh dunia.

Kini kita bandingkan pengertian Logos menurut Stoisisme dan Yohanes untuk melihat perbedaan kualitatif antara filsafat manusia dan Firman Tuhan. Dengan itu kita melihat bahwa filsafat hanya merangsang dan mendorong kapasitas pengetahuan kita sedangkan Firman Tuhan membawa kita untuk mengenal anugerah keselamatan yang Tuhan berikan bagi kita, yang adalah umat-Nya. Stoisisme mempengaruhi terutama tiga lapisan masyarakat, yaitu: raja (mewakili kekuasaan); sastrawan (mewakili intelektual/cendekiawan); dan budak (mewakili kaum marginal). Ketiga lapisan ini seluruhnya taat serta takluk pada pikiran Stoisisme. Ini terjadi pada abad pertama dan kedua. Ada seorang Stoisisme yang terkenal bernama Epitectus. Dia berasal dari kalangan budak. Epitectus sezaman dengan Paulus. Dia adalah budak yang sangat pandai sehingga menjadi filsuf bahkan memberi pengaruh sampai ke istana. Orang kedua Stoisisme adalah Seneca, seorang sastrawan dan cendekiawan yang brilian. Dia lahir sezaman dengan Tuhan Yesus. Seneca adalah salah satu orang yang paling anggun moralnya dan memiliki kemampuan sastra dan syair yang sangat tinggi pada zaman Romawi abad pertama. Untuk menyatakan kesetiaan dan ketulusan pada raja, ia bunuh diri dengan meloncat ke dalam kawah gunung berapi di Swiss, lalu terbakar di dalam api yang bergolak itu. Pada abad kedua, ada seorang kaisar Romawi yang menjadi Stoisis, yaitu Markus Aurelius. Di sini kita melihat bahwa Stoisisme bisa menaklukkan otak seorang kaisar terbaik dalam sejarah Kekaisaran Romawi. Dalam Capitol Museum di Roma, di tengahnya ada patung besar seorang kaisar yang sedang naik kuda dengan jenggot keriting dan wajahnya terlihat sangat bijaksana. Itulah Markus Aurelius. Maka, kita melihat bahwa berbagai kalangan masyarakat sudah dipengaruhi oleh pikiran Stoisisme.

Stoisisme mengatakan adanya Logos. Logos itu induk; logikos itu fragmen. Siapa saya? Saya sebagian kecil dari logikos maka saya memikirkan Logos. Kita adalah seorang yang terkena sedikit cipratan logikos. Kita senang mendengar khotbah yang baik karena logikos ingin bertemu dengan Logos, ingin mendengar firman karena manusia yang berlogika mau memakai cara berpikir yang benar untuk bertemu dan menyatu dengan kebenaran itu. Kita melihat orang-orang Gerika mempunyai pikiran bagaimana logikos bertemu dengan Logos.

Orang-orang Gerika mengatakan jika air di dalam botol ini adalah Logos (induknya), maka Logos ini pernah mencipratkan air di banyak tempat. Ini adalah logikos. Ketika Logos induk ini beredar, akhirnya titik-titik kecil dari Logos induk sudah berada di mana-mana. Sebagian kecil ada di dalam pikiranmu, sebagian ada di pikiranku, sehingga kita bisa menikmati hal-hal yang agung, mulai dari musik sampai bangunan yang agung. Anjing tidak memiliki kemampuan ini. Logikos berarti fragmen kecil yang keluar dari induk besar. Stoisismemengatakan, “Jika sampai mati engkau belum mengerti Logos, itu tidak masalah, karena engkau pasti bersatu dengan indukmu, Logos, setelah engkau mati.” Jadi manusia jangan takut mati, karena kematian membawa engkau pulang ke indukmu (Logos yang besar). Markus Aurelius menuliskan kalimat ini kepada saudaranya, ”Jangan kuatir, saya sebagai kaisar tetap sama seperti orang lain, tidak lama kemudian saya akan mati. Tolong waktu saya mati, jangan menangis. Ini bukan suatu hal yang sedih karena aku hanya kembali ke indukku, kembali ke Logos, itu saja.” Ini filsafat Stoisisme di Barat.

Kedua, filsafat Tiongkok. Filsafat Tiongkok memikirkan Logos namun tanpa ada pertemuan, kecuali ide bersatu dengan langit. Dalam filsafat Tiongkok muncul kata Logos (Dao). Dalam bahasa Tionghoa, zhī dao, berarti: mengerti Logos. Mengerti Logos menjadi taraf tertinggi di dalam hidup manusia yang mencari kebenaran. Di situ dia boleh bersatu dengan kebenaran yang asli, yaitu Dao, Firman. 150 tahun sebelum orang Gerika membicarakan tentang ini, pemikiran ini sudah muncul di Tiongkok. Pertama muncul seorang yang lebih tua dari Konfusius, yaitu Laozi. Laozi adalah filsuf yang sangat dikagumi oleh Konfusius. Konfusius mengaku ia tidak mungkin mengerti firman surgawi. Itu terlalu sulit baginya. Dia berkata, “Aku tidak memiliki jalan, cara, atau teknik untuk mengerti Logos surgawi. Dan pengertian tentang Logos tidak terjangkau dan tak dapat dimengerti. Maka tidak mungkin bagiku untuk mengerti Logos.” Konfusius juga mengatakan, “Itulah sebabnya kami berusaha mengerti apa yang lebih rendah dari Logos surgawi itu, yaitu etika manusia.” Inilah sebab Konfusius dan ajaran Tiongkok menjadi sistem etika yang paling rumit dan paling tinggi di dalam dunia. Mereka tidak tahu bagaimana mengerti firman Tuhan, tetapi mereka tahu bagaimana merenungkan hubungan manusia. Konfusius mengajarkan lima relasi di dalam masyarakat: 1) raja dan pejabatnya; 2) ayah dan anak; 3) suami dan istri; 4) antar saudara; 5) antar sahabat. Untuk menjalankan kelima relasi ini ada dua prinsip utama. Konfusius menyatakan, “Pertama, yang bawah harus setia kepada yang atas. Pejabat setia kepada raja, anak-anak setia kepada ayah, yang menjadi istri setia dengan suamimu, yang menjadi saudara setia dengan persaudaraanmu, yang menjadi kawan setia dengan persahabatanmu. Kedua, yang atas harus penuh lapang dada, pengertian, toleransi, pengampunan, dan penampungan ke bawah. Jadi, raja harus mengerti akan pejabat, harus toleransi kepada pejabat, harus mengasihi dan mengerti kelemahan pejabat. Ayah ibu harus tahu kelemahan anak, harus toleransi, harus sabar, harus menampung, harus mengerti anak. Suami harus mengerti istri, harus memperhatikan, dan harus memelihara baik-baik. Kawan dan saudara sama.” Lima prinsip ini menjadikan Konfusius banyak berbicara tentang relasi, tetapi ia tidak tahu Firman surgawi sehingga dia ingin pergi mencari Laozi.

Menurut sejarah, Konfusius pernah mencari Laozi di negeri yang lain dengan melintasi gunung, rimba, hutan, sungai, dan perjalanan yang jauh sekali. Sesudah bertemu, Laozi bertanya, “Mengapa engkau mencari saya?” “Saya mau mengerti firman, saya ingin mengerti kebenaran alam semesta.”Laozi mengatakan, “Kalau engkau tidak kikis habis aroganmu, kalau engkau tidak membuang niatmu yang kurang sungguh-sungguh, tak mungkin engkau mengerti firman.” Saya sangat terkejut mengerti kalimat ini karena kalimat ini cocok untuk setiap zaman. Konfusius pulang dengan terima kasih. Sesampainya ia di tempat asalnya, ketika ia ditanya murid-muridnya tentang apa yang ia pelajari dari Laozi, ia menjawab bahwa ia mendapat pelajaran tentang sikap hidup. Ia berkata, “Kalau bicara tentang burung saya tahu sarangnya di mana, bagaimana terbangnya. Bicara tentang ikan, saya juga ada pengalaman melihat bagaimana mereka berenang. Bicara tentang naga, aku tidak tahu dia dari mana dan ke mana. Hari ini saya ketemu Laozi, sebenarnya saya bertemu naga.” Jadi Konfusius rendah hati sekali, mau tahu firman. Itu sebab, kalimat-kalimat yang paling penting dari filsafat Konfusius adalah dia mengaku dia tidak bisa mengerti firman, “Saya tidak bisa mengerti Logos. Jika suatu pagi saya mengerti firman itu apa, malam itu mati pun aku rela.” Ini filsafat Tiongkok.
Dia mengatakan satu kalimat, tidak ada satu detik pun di mana kita boleh hidup tanpa bergabung dengan firman. Firman yang menjadi pendukung hidup kita. Dengan mengerti filsafat ini, kita akan menemukan bahwa apa yang dikatakan Alkitab dalam kitab Yohanes begitu indah. Kita melihat bagaimana Yohanes membicarakan tentang Logos. Pada mulanya adalah Logos, Logos itu bersama-sama dengan Allah, dan Logos itu adalah Allah. Amin.

Oleh Pdt. Dr. Stephen tong
Sumber : http://www.buletinpillar.org/transkrip/the-word-part-8

Tidak ada komentar: