Jumat, 22 Juli 2011

WAWANCARA DAN INVESTIGASI

Bagi para pembaca yang bekerja dalam bidang investigasi baik insan pers, petugas pajak (Direktorat Intelijen dan Penyidikan) , petugas penyelidik, dll. Perlu memahami hal-hal seperti teknik wawancara maupun teknik investigasi yang coba saya kumpulkan dalam tulisan diblog ini, karena dalam upaya menguak setiap kasus secara professional sangatlah dibutuhkan taktik dan teknik pengungkapannya. Dengan mengetahui taktik dan teknik wawancara serta investigasi yang benar sangatlah memudahkan dalam mencari atau menemukan alat bukti hukumnya, untuk lebih mantapnya mari kita pahami hal-hal sebagai berikut :

TEKNIK WAWANCARA

Kadang terkesan terlalu formal jika dalam melakukan sesuatu selalu menggunakan teknik. Karena pada prinsipnya teknik adalah sebuah aturan yang membelenggu. Namun tidak ada yang salah jika kita memerlukan hal tersebut walau hanya sekedarnya saja.

Wawancara ialah tanya jawab antara pewawancara dengan yang diwawancara untuk meminta keterangan atau pendapat mengenai suatu hal.

Wawancara merupakan istilah yang diciptakan dalam bahasa Indonesia untuk menggantikan kata asing Interview (dari bahasa Belanda atau Inggris), yang digunakan oleh pers Indonesia sampai akhir tahun 1950-an. Orang yang mewancarai disebut Pewawancara (interviewer) dan yang diwawancarai disebut pemberi wawancara (interviewee) atau disebut juga responden.

Teknik Wawancara, adalah suatu cara atau kepandaian melakukan tanya jawab untuk memperoleh keterangan, informasi dan sejenisnya.

Wawancara berdasarkan cara pelaksanaannya dibagi dua yaitu : Wawancara berstruktur adalah wawancara secara terencana yang berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. (Dalam dunia jurnalistik, seorang wartawan harus melakukan persiapan yang cukup sebelum mewawancarai seseorang. Selain itu juga harus memahami betul masalah yang akan ditanyakan. Wartawan harus pula pandai menjaga supaya tidak kehilangan arah dalam wawancara itu agar mendapatkan keterangan yang diinginkannya. Karena itu, ada kalanya wartawan perlu mengetahui latar belakang atau sifat orang yang akan diwawancarai agar mudah menyesuaikan diri dengannya ketika berhadapan muka). Perbedaan mendasar antara wartawan dan penyidik/interogator jika wartawan untuk menggali informasi untuk diinformasikan ke publik dan bersifat tidak memaksa dan sebaliknya bagi penyidik/interogator. dan Wawancara tak berstruktur, adalah wawancara yang tidak berpedoman pada daftar pertanyaan, dalam hal ini termasuk didalamnya wawancara tersamar (Eliciting).

Dalam wawancara yang terpenting adalah menggunakan komunikasi yang baik. Tanpa adanya komunikasi yang baik, jangan harapkan kita mendapat informasi atau jawaban yang baik juga. Yang terpenting siapkan diri kita dengan beberapa hal yang sederhana. Hal-hal yang saya maksud diatas antara lain:

Sebelum kita melakukan wawancara, usahakan membuat daftar pertanyaan terlebih dahulu. Ini penting dilakukan agar mempermudah kita dalam wawancara. Terkadang saking asyiknya kita mewawancarai nara sumber, kita lupa bahwa pertanyaan kita menyimpang dari tema yang kita inginkan.

Posisikan diri kita sejajar dengan nara sumber yang akan kita wawancarai. Untuk itu kita harus benar-benar memahami pertanyaannya kita. Singkatnya, kita perlu percaya diri. Lebih baik kita cari tahu karakter dari nara sumber kita. Ini sangat penting supaya kita mengetahui bagaimana dan siapa sebenarnya nara sumber kita.

Jangan biarkan pertanyaan kita "terbunuh". Prinsip-prinsipnya terus bertanya dan bertanya. Kalau jawaban nara sumber kurang jelas tanyakan kembali sampai sejelas-jelasnya. Itu lebih baik ketimbang kita kebingungan, untuk lebih jelasnya hal-hal yang perlu diperhatikan dalam wawancara setidaknya memahami hal-hal sbb :
  1. Mulailah mengungkapkan maksud dan tujuan dari diadakannya wawancara tersebut, dengan menggunakan bahasa yang mudah dan sederhana sehingga mudah dimengerti oleh responden.
  2. Berlaku sopan dan ramah dengan menggunakan gaya bahasa yang menarik dan wajar serta tidak dibuat-buat. Hindari gaya bahasa yang berintonasi memerintah dan menekan serta hal-hal yang dapat menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan lainnya.
  3. Tidak melakukan wawancara secara tergesa-gesa yang dapat menimbulkan kesan bahwa wawancara yang dilakukan tidak berguna atau tidak penting.
  4. Usahakan proses wawancara yang dilakukan berarti, penting sekali bagi proses penelitian dengan sikap yang tidak berlebih-lebihan yang justru menimbulkan kesan mengolok-olok si responden.
  5. Bantu responden yang mengalami kesulitan dalam mengeluarkan pendapatnya ke dalam bentuk lisan.
  6. Apabila dalam proses wawancara terdapat informasi/data baru yang tidak direncanakan dalam proses wawancara tersebut, buatlah sendiri daftar pertanyaan untuk menggali informasi yang baru tersebut.
  7. Gunakanlah alat Bantu dalam proses wawancara yang dapat mencatat/merangkum hasil wawancara tersebut, baik berupa alat pencatat, tape recorder, video casete, hand phone, kamera, dan lain-lain

TEKNIK INVESTIGASI

Tidaklah semua informasi, data dan fakta kita dapatkan dengan mudah. Untuk mencari informasi, data dan fakta yang sulit dan khusus membutuhkan kerja ekstra. Kerja ekstra disini adalah melakukan obeservasi atau investigasi langsung ke lapangan. Lantas, apa itu investigasi?

Investigasi secara pemahaman sederhana adalah pekerjaan yang membutuhkan ketrampilan, keberanian, keuletan dan keyakinan dalam menggali informasi yang khusus. Demi upaya menggali informasi yang selengkap-lengkapnya, tak jarang seorang wartawan melakukan observasi langsung guna mengadakan penyelidikan fakta dan sumber-sumber yang diperkirakan dapat memperkaya informasi. Berdasarkan hal inilah, maka seorang pakar jurnalistik pernah mengatakan bahwa "pekerjaan seorang wartawan itu sebenarnya separuh detektif separuh diplomat" (James Gordon Bennet, pendiri The New York Herald).

Berdasarkan caranya memperoleh informasi melalui observasi ataupun investigasi inilah maka muncul istilah teknik penulisan reportase ini yaitu "Investigative Reporting". Untuk mendapatkan informasi yang sangat penting atau khusus itu dibutuhkan ketrampilan khusus pula. Kadang-kadang kita dipaksakan untuk menyamar menjadi sesuatu, tergantung informasi apa yang akan kita inginkan.

Langkah pertama yang perlu diketahui oleh investigator untuk memulai menerapkan taktik dan teknik investigasi adalah investigator wajib menjawab 6 pertanyaan berdasarkan fakta kejadian yang sebenarnya, yaitu :

a. Apa yang terjadi = What
b. Dimana kasus itu terjadi = Where
c. Siapa pelaku, saksi, dan korban = Who
d. Kapan kasus itu terjadi = When
e. Mengapa kasus itu terjadi = Why
f. Bagaimana kasus itu dapat terjadi dan akibat yang ditimbulkan = How

Langkah berikutnya adalah bagaimana cara mencari dan menemukan jawaban dari 6 pertanyaan tersebut di atas dengan benar berdasarkan fakta yang terjadi. Untuk itu diperlukan taktik dan teknik investigasi seperti di bawah ini :

  • Confidence, Sikap yakin dengan kemampuan sendiri dalam upaya hendak mengungkap suatu kasus yang sedang diinvestigasi, sangatlah membantu semangat dalam investigasi. Sesulit apapun hambatan yang dihadapi, jika sudah tertanam sejak dini sikap yakin dengan kemampuan sendiri, kesulitan itu tidaklah sesulit seperti yang dibayangkan. Sikap yakin tersebut perlu ditanamkan secara terus menerus di dalam hati selama proses investigasi. Pada saat mencari fakta hukum dari berbagai sumber, berbagai hambatan pasti ada dan tidak semulus apa yang diharapkan. Sebab, tidak semua sumber yang ditemui mau mengambil resiko dengan membeberkan kepada pihak lain fakta atau dokumen hukum yang sebenarnya. Disinilah diperlukan keuletan yang penuh keyakinan dngan kemampuan sendiri menjadi terang kasus itu. Apabila sudah tertanam sikap yakin dengan kemampuan sendiri atau orang bilang bersikap optimis, juga diimbangi sikap santun atau rendah hati, maka semangat dan dorongan untuk berani menemui berbagai pihak yang terkait dalam kasus itu, memperkecil hambatan yang dihadapi. Karena dengan bersikap yakin dengan kemampuan sendiri secara otomatis pada saat menganalisis fakta yang didapat, memunculkan insting yang membuka kearah mana harus dimulai investigasi itu. Perlu diingat, bahwa selama melakukan investigasi sejak awal sudah tertanam niat ikhlas unuk mengungkapkan kebenaran, maka Tuhan melalui hati nurani akan selalu menuntun kearah mana dan apa yang harus dilakukan untuk mengungkap perkara itu, atau orang mengatakannya insting yang hidup.
  • Community, membangun komunitas. Manfaatnya adalah untuk memudahkan pertukaran informasi dan pengumpulan fakta hukum saat investigasi, termasuk juga memperkecil biaya operasional yang dikeluarkan. membangun komunitas dapat dilakukan secara nyata atau tatap muka, juga dapat dilakukan melalui jejaring internet. Membangun komunitas diperlukan kesabaran dan ketekunan, karena tidak semua dari pihak yang tergugah niat baiknya berani mengambil resiko yang akan dihadapi karena berbagai faktor yang tidak mungkin untuk dilakukannnya. Disinilah diperlukan pembagian tugas, membangun kekompakan, kesatuan langkah yang jelas dan tegas akan arah tujuan yang ingin dicapai. Membangun kekerabatan juga perlu dilakukan dengan lembaga pemerintah dan non pemerintah. Kekerabatan yang dibangun di lembaga tersebut sangatlah berguna, yaitu bermanfaat pada saat proses investigasi, dan saat proses hukum sedang berlangsung untuk mencapai tujuan akhir. Dalam upaya membentuk opini dan pengawasan oleh publik, perlu juga membangun kekerabatan dengan pihak media massa. Manfaatnya sebagai pendukung pada saat kasus sedang dalam proses hukum di lembaga Yudikatif. Setidaknya dapat menekan pihak lain yang berusaha hendak menghentikan kasus tersebut melalui mafia hukum. Dengan membangun kekerabatan bersama pihak media massa, diharapankan endingnya dapat berakhir adanya putusan pengadilan di Pengadilan
  • Hindari resiko, Memperkecil resiko saat investigasi sangatlah diperlukan. Karena setiap langkah upaya investigasi yang dilakukan akan selalu berhadapan dengan resiko. Resiko itu dapat berupa tuntutan hukum, resiko kerugian harta benda, ancaman jiwa dan raga. Sebagai langkah untuk memperkecil resiko yang akan dihadapi diperlukan cara yang tepat, yaitu perlu melakukan perencanaan analisa dan memilih tehnik investigasi yang tepat. Jangan bersikap pesimis berlebihan, pada hal maksud hendak menghindari resiko, akan tetapi berbalik menjadi hambatan bahkan kegagalan hasil investigasi yang sedang dilakukan. Memperkecil resiko saat melakukan investigasi adalah hal yang wajar. Apapun jenis pekerjaan itu akan dihadapkan pada resiko. Dengan pandai memperhitungkan kemungkinan resiko yang akan dihadapi, akan mempengaruhi sikap waspada dalam setiap langkah dan dapat menekan nafsu tergesa-gesa ingin berhasil. Adapun perencanaan analisa dan memperhitungkan resiko yang akan ditemui, adalah dimulai dengan cara memilah – milah sasaran dan tehnik investigasi yang akan dipakai. Karena perencanaan analisa yang tepat sangatlah membantu langlah perlangkah investigasi yang akan dilakukan untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan resiko yang minimal. Sikap terburu nafsu dan menganggap lemah pihak yang diinvestigasi untuk memperoleh fakta hukum cenderung akan berakibat fatal kepada diri sendiri. Adapun kefatalan tersebut dapat berakibat tercemarnya nama baik pihak lain yang tidak terlibat, resiko dituntut balik pihak lawan, kerugian harta benda, dan resiko ancaman pisik, juga resiko yang paling tinggi adalah hilangnya nyawa. Memperkecil resiko saat investigasi, jangan sampai mempengaruhi kegagalan bahkan kemunduran hasil yang hendak dicapai. Untuk itu, perlu berkoordinasi dengan pihak lain yang paham akan situasi yang sedang dihadapi, dengan maksud agar dapat memberi informasi dan solusi sebagai masukan. Sebagaimana pesan orang bijak, bahwa keputusan satu orang itu lebih lemah dibandingkan dengan keputusan yang diambil oleh lebih dari satu orang.
  • Waspadai Informasi Menyesatkan, Upaya investigasi yang telah dilakukan, akan diperoleh berbagai informasi. Dari informasi yang telah terkumpul, perlu dilakukan penyaringan dengan cara memilah - milah dan dianalisa akan keakuratannya. Karena pihak lawan tidak akan menghendaki investigator berhasil memperoleh fakta hukum yang valid, sebaliknya menghendaki agar investigator kehabisan waktu dan tenaga untuk menemukan bukti hukum tersebut.Informasi yang disebar pihak lawan melalui orang kepercayaannya cenderung informasi menyesatkan. Untuk itu, informasi hasil investigasi benar - benar dicari keterkaitannya secara logis dari kasusnya. Pihak lawan akan selalu melakukan upaya penjebakan melalui informasi menyesatkan agar investigator terjerat dalam kesalahan atau pelanggaran hukum sehingga tidak sanggup melakukan misinya. Investigasi yang dilakukan diusahakan mendekati dan mencari pihak pemberi informasi yang dapat dipercaya kejujurannya, tujuannya agar informasi yang sudah didapat dengan susah payah tersebut tidak menggagalkan hasil investigasi lanjutannya. Dan jangan terjebak ke dalam lingkaran konspirasi yang dilakukan pihak lawan, karena hal itu dapat memperlemah langkah yang akan dilakukan disebabkan terseret skenarionya. Apabila menyangkut kasus yang suatu saat nanti berdampak cukup mengebohkan, pihak lawan akan menyebarkan informasi menyesatkan melalui orang kepercayaannya. Orang kepercayaan pihak lawan, biasanya ada hubungan kekerabatan dengan orang dekat pihak investigator. Waspadai orang kepercayaan dari pihak lawan, karena hal itu sengaja ditanam disekitar komunitas sendiri. Yang mana orang kepercayaan pihak lawan itu seolah - olah hendak membantu memberi informasi yang akurat dengan sikapnya yang nampak cukup agresif membantu memberi informasi dan dokumen asli, pada hal direncanakan untuk menyesatkan arah investigasi. Untuk itu, selesai pelaksanaan investigasi di lapangan agar selalau dilakukan penyaringan fakta hasil investigasi yang diperoleh. Lakukan uji kebenaran informasi atau dokumen yang didapat dengan informasi atau fakta lainnya, dan lakukan perbandingan di lapangan dan jangan lupa berpikir yang logis, tidak emosional.
  • Optimis, Berpikir positif dan bersikap optimis adalah senjata ampuh untuk meraih hasil maksimal bagi investigator. Sebaliknya, jika seorang investigator lebih dipengaruhi cara berpikir pesimis dan negatif dari permasalahan yang dihadapinya, maka kegagalan demi kegagalan akan selalu dihadapinya, yang pada akhirnya memunculkan kekecewaan dan menyalahkan diri sendiri atau pihak lain. Berpikir positif mempengaruhi sikap kehati-hatian saat melakukan investigasi. Pada saat melakukan pengumpulan fakta hukum, baik itu berupa informasi lisan maupun berupa dokumen, tidaklah mudah terpengaruh untuk segera menyimpulkannya. Dengan berpikir positif, sikap chek and rechek selalu dilakukan di lapangan, yang pada akhirnya menunjukkan bahwa telah terjadinya kejahatan / pelanggaran hukum. Bersikap optimis saat melakukan investigasi sangatlah mendukung langkah-langkah yang akan dilakukan. Sesulit dan seberat apapun permasalahan yang dihadapi, hal itu nampak wajar, bahkan terbayang secara gamblang apabila upaya investigasi menunjukkan ada kesalahan atau kekeliruan langkah. Dengan bersikap optimis memudahkan dan mempercepat perolehan hasil investigasi yang dilakukan. Hindari berpikir negatif yang berlebihan, seperti mencurigai sesuatu secara berlebihan tanpa didukung fakta yang jelas. Kecurigaan yang berlebihan kepada pihak lain itu dapat terjadi karena didorong oleh informasi yang diperoleh menyudutkan pihak tertentu, sedangkan fakta hukum masih belum lengkap dan meragukan. Sikap pesimis adalah faktor penghambat pertama kegagalan investigasi yang sedang dialakukan. Penyebab utama munculnya sikap pesimis diantaranya adalah hasil investigasi yang diperoleh belum maksimal karena minimnya informasi yang didapat, sedangkan waktu sudah terbuang cukup banyak; dukungan dari komunitas sendiri yang kurang peduli; dan gencarnya tekanan psikologis dari pihak lain yang sengaja ingin menggagalkan hasil investigasi. Kegiatan investigasi membutuhkan semangat dan keikhlasan. Halangan dan hambatan selalu ada. Dengan berpikir positif dan bersikap optimis disertai kesungguhan, maka hambatan itu sesuatu yang wajar, bahkan mendorong untuk meraih hasil yang maksimal. Seperti pepatah mengatakan, walaupun anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.Tidak emosional atau terburu nafsu, Setiap orang mempunyai kehendak, yaitu segera dapat menyelesaikan suatu pekerjaannya tanpa banyak kesulitan yang dihadapi. Jika pun ada kesulitan memintanya hanya yang wajar – wajar saja. Tetapi dalam kenyataannya tidaklah sedemikian mudah dan cepat. Setiap langkah perlangkah atau tahap pertahap membutuhkan kesungguhan dan kesabaran. Jika sebaliknya, yaitu didorong oleh rasa emosional atau terburu nafsu atau juga sering disebut sikap tergesa - gesa, maka hasil kerja yang dicapai sangat minimal bahkan mengandung resiko yang lebih besar terhadap diri sendiri dan pihak lain. Bertindak emosional dapat terjadi karena didorong oleh hawa nafsu yang lebih menyukai jalan pintas tanpa mempertimbangkan resiko, dengan istilah lainnya terburu nafsu, dan nafsu mengajak maunya bagaimana enaknya saja. Semisal, orang yang sedang mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya yang bersikap emosional atau terburu nafsu karena ingin cepat sampai ditujuan, resiko kecelakaan akan selalu menghantui. Pertimbangan akal sehat kurang diperhatikan, kewaspadaan melemah, bahkan cenderung nafsu membisiki dan mengajak bersikap lebih dari yang sudah dilakukan. Jadi sikap emosinal atau terburu nafsu hanya mengajak kepada untung – untungan atau spekulasi. Sebaliknya hati nurani bersikap lebih hati – hati untuk keselamatan semua pihak. Setiap langkah yang akan dan sedang dilakukan selalu diperhatikan dengan seksama. Selalu memperhatikan kekurangan, kesalahan yang terjadi dan yang akan dihadapi. Keberanian mengambil keputusan selalu mantap dan tegas tanpa keraguan. Hasil akhir yang ingin dicapai sangat jelas arahnya. Jikapun belum tercapai hasil yang diharapkan pada saat itu, dapat diketahui kegagalannya karena diluar kemampuan manusia untuk menentukannya. Tidak ada rasa kecewa, yang ada sikap optimis keberhasilan hanya menunggu waktu. Hindari bersikap emosional atau terburu nafsu, tanam selalu di dalam hati sikap optimis akan kemampuan diri untuk menyelesaikan pekerjaan yang sedang dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Bersikap tidak mudah tergoda untuk mencoba menambahkan atau mengurangkan apa yang sedang dilakukan. Berjalan sesuai dengan rencana yang sudah dipersiapkan. Jika terjadi perkembangan di luar rencana, hal itu dapat dilakukan pada rencana berikutnya setelah dilakukan analisa dan evaluasi.
  • Waspada sikap pamer dan sombong, Investigator yang lupa diri, jika merasa mampu menemukan kelemahan lawan atau mereka yang diinvestigasi, kecenderungan bersikap pamer dan sombong. Prilaku pamer dan sombong tersebut merupakan kelemahan bagi investigator. Dampak dari sikap pamer dan sombong itu dapat mengakibatkan gagalnya reputasi dari investigator tersebut. Penyebabnya adalah karena kebiasaan pamer dan sombong yang ia sadar atau tidak sadar melakukannya telah membuka rahasia hasil investigasinya dan juga membahayakan dirinya sendiri. Investigator selalu wasapada dan menelaah setiap menerima pertanyaan dari siapapun. Juga dalam menyampaikan sesuatu pernyataan atau pertanyaan yang berhubungan dengan investigasi yang dilakukannya selalu memperhitungkan untung dan rugi dari fakta yang akan diperolehnya. Efek dari menjawab suatu pertanyaan ataupun mengeluarkan pernyataan dan pertanyaan kepada pihak lain, cenderung merangsang pikiran dan nafsu untuk menonjolkan keberhasilan dan kehebatan diri sendiri, menurut penilaian orang lain disejajarkan dengan prilaku pamer bin sombong. Yang perlu dilakukan seorang investigator adalah cukup bertanya sesuai dengan yang diperlukan dan sebaliknya menjawab pertanyaan pihak lain hanya seperlunya. Kegunaannya adalah membiasakan bersikap waspada untuk mencegah kebiasaan buruk yang ada pada diri manusia, yaitu sikap pamer dan sombong. Keikhlasan pada diri investigator, membawa efek positif untuk melawan sikap pamer dan sombong. Keikhlasan yang selalu tertanam di hati, akan terpancar pada wajah yang bersinar, kelembutan dan keceriaan saat melakukan investigasi, meskipun tantangannya cukup berat dan melelahkan.
  • Sikap Konsisten, memiliki pendirian teguh, sikap tidak pernah berubah-ubah. Sikap konsisten sangat diperlukan saat melakukan investigasi, meskipun tergoda oleh sesuatu, baik yang berasal dari diri sendiri maupun pihak lain. Godaan dari diri sendiri dapat disebabkan oleh rasa malas, kecewa, adanya hambatan dan kesulitan karena sesuatu hal, sehingga sikap konsisten mengendur. Begitu juga godaan dapat berasal dari pihak lain dalam bentuk ancaman, atau sebaliknya berupa imbalan materi untuk menghentikan investigasi, sehingga sikap konsisten menjadi luntur. Sikap konsisten sangat dibutuhkan oleh siapapun bila ingin mencapai hasil yang maksimal. Seorang investigator, pada saat tertentu muncul rasa kejenuhan dan perasaan putus asa karena dampak resiko yang akan dihadapi, kekecewaan pada diri sendiri dalam mengatasi kesulitan, keluarga yang kurang mendukung, keuangan yang kurang mencukupi, dan lingkungan yang tidak kooperatif, hal itu sangat mempengaruhi sikap konsisten. Sikap konsisten saat itu betul-betul diuji keteguhannya, hati terasa bimbang dihadapkan pada dua pilihan, yaitu mundur atau meneruskan investigasi. Kesulitan, gangguan, musibah, itu pasti ada dalam kehidupan. Hanya tergantung pada individu yang bersangkutan bagaimana menyikapi dan bagaimana cara mengelola kondisi pikiran dan hati nurani pada saat itu. Hidup dan kehidupan di dunia apapun jenis, bentuk, sifatnya, sudah dilengkapi dengan berpasang-pasangan, karena melalui hal itu Tuhan ingin menguji keimanan makhluknya. Makhluk yang namanya manusia diberikan kebebasan untuk memilih. Untuk itu, dalam upaya menguatkan sikap konsisten atau keteguhan hati nurani itu, dapat berpedoman pada azas manfaat, yakni bila bermanfaat pilihlah atau teruskanlah dan sebaliknya bila tidak bermanfaat maka tinggalkanlah atau mundur. Untuk menguatkan sikap konsisten saat melakukan aktifitas yang ingin dicapai, bersikaplah bahwa, YAKIN semua sudah diatur oleh Tuhan dan manusia hanya merencanakan; IKHLAS mengerjakan pekerjaan yang sedang dilakukan, begitupun dalam menerima musibah atau halangan, jikapun protes tidak akan berguna karena sudah terjadi, dan lakukanlah apa yang dapat diperbuat saat itu yang penting bermanfaat dengan disertai doa; dan ber-SYUKUR dalam menerima kondisi terkini bagaimanapun keadaannya. Dengan berpandangan seperti itulah yang akan mempertahankan sikap konsisten dalam diri seseorang dan pantang untuk menyerah. Juga, diperoleh kepuasan dan kebahagiaan lahir dan batin karena tanpa beban sebagaimana sifat air yang tetap mengalir mengalir. Sebaliknya, terjadinya kerusakan akhlak pada seseorang disebabkan hilangnya pertahanan sikap konsisten kebaikan yang ada pada dirinya. Ia tergoda bisikan setan mencari kepuasan dan kebahagiaan semu dengan mengkhianati kebenaran, kemudian berpaling memanfaatkan peluang yang ada untuk meraih materi, padahal ia mencari kegelisahan karena was - was dan penderitaan berkepanjangan sebelum berhenti atau bertobat dari kebiasaan buruknya.
  • Hindari Sikap mengadu domba, Investigator yang sudah terbiasa memanfaatkan pekerjaannya untuk mengadu domba dan mencari kelemahan pihak lain untuk diperas adalah perbuatan tercela. Keinginan nafsu ingin mengadu domba, diantaranya disebabkan sikap tidak peduli, kebencian kepada seseorang, dan untuk mendapatkan keuntungan materi sesaat. Perilaku suka mengadu domba untuk melakukan pemerasan adalah perilaku orang munafik dan oportunis. Tindakannya telah mencemarkan dan mempersulit kerja investigator yang berprilaku lurus. Seorang investigator dengan memiliki fakta dan data yang akurat, jika tidak memiliki hati nurani, tidaklah sulit melampiaskan niat balas dendam dan mendramatisir untuk mengumbar nafsu kebencian bersama pihak lain yang berpandangan sama. Prilaku memeras seseorang yang diduga bersalah juga tidaklah sulit. Investigator oportunis lebih memilih mencari kambing hitam untuk melindungi dirinya dari kecurigaan sementara pihak yang diperas dan diadu domba untuk menghindari jeratan hukum. Seorang investigator yang lurus dan bersungguh - sungguh untuk memperbaiki kondisi yang ada, juga tidak terlepas dari incaran pihak lain yang mencari keuntungan sesaat. Khususnya mereka yang mengincar adalah dari kalangan petualang politik, penguasa, dan mereka yang bergerak dibidang bisnis untuk menghancurkan pesaingnya yang dianggap tangguh dan sukses, untuk menghancurkan seorang pemimpin yang jujur karena dianggap penghalang. Dengan cara mengadu domba itulah upaya mereka menghancurkan lawannya. Seperti pepatah Indonesia ”melempar batu sembunyi tangan.” Bagi investigator, juga mereka yang bergelut di bidang hukum dan menjadi saksi, untuk dapat menghindar dan mampu bertahan dari godaan meraih keuntungan sesaat, niat balas dendam, dan prilaku mengadu domba, dibutuhkan kekuatan spiritual, kesungguhan, dan ikhlas melakukan pekerjaan untuk selamat di dunia maupun hidup sesudah matinya. Masalah kebutuhan rezeki, Tuhan sudah menghitung sesuai kesanggupan masing - masing makhluk hidup agar tidak celaka. Ingatlah pesan Tuhan “Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Tuhan, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Tuhan lebih tahu kebaikannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan kata-kata atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Tuhan Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
  • Pandai mengelola strategi investigasi, Investigasi yang dilakukan untuk memperoleh alat bukti, akan mendapat perlawanan dari pihak yang diduga terkait pelanggaran hukum. Jangan terjebak strategi (skenario) lawan yang dilakukannya secara tersembunyi ataupun yang dinampakkan dalam bentuk rayuan. Diperlukan kemampuan mengelola strategi investigasi, keuletan, keberanian, kejelian dan kecermatan disetiap langkah. Diantara skenario lawan adalah upaya menjebak pihak investigator diantaranya dalam bentuk menawarkan sejumlah uang dan harta benda, merayu memberikan fasilitas, memberi dan menjanjikan sesuatu kepada keluarga dekat. Jika upaya itu tidak berhasil, meningkat ke arah upaya menekan secara halus untuk mempengaruhi investigator dan keluarganya melalui penyebaran isu, dan membuat suatu kejadian seolah – olah telah terjadi musibah / kecelakaan yang berakibat cacat tubuh dan kematian terhadap investigator ataupun keluarganya. Saling mengadu strategi untuk mencapai hasil yang maksimal dari kedua pihak adalah hal wajar, dan apabila terjadi korban jiwapun dianggap wajar saja, karena didasarkan pada tingkat pertingkat dari strategi yang dilakukan, juga tingkat kesulitan dari permasalahan yang dihadapi kedua belah pihak. Untuk itu, perlu mengenal sasaran dan lawan, juga perhatikan lingkungan disekitar, seperti keluarga, komunitas sendiri, dan sejawat sendiri yang ikut membantu. Perhatikan perilaku aneh diantara mereka yang terlihat tidak seperti biasanya. Kelancaran dan keberhasilan strategi investigasi, tidak terlepas dari kemampuan mengelolanya, yakni membangun komunikasi yang kuat, baik dikalangan sendiri maupun aparatur pemerintah yang berkompeten, dan lembaga lainnya. Perhitungkan dengan seksama mana yang harus dipecahkan bersama dan mana yang tidak perlu disampaikan atau diketahui pihak lain, karena kebocoran data sementara yang didapat dan masih perlu dilengkapi adalah sebagai jembatan pihak lawan membangun skenario untuk menjebak investigator. Perlu diperhatikan dan dicamkan pada diri sendiri adalah mengelola kemampuan sendiri, yaitu keyakinan, keikhlasan, kejujuran, yang dapat mendorong timbulnya keberanian yang logis bukan nekad. Berbuatlah apa yang dapat diperbuat saat itu sesuai dengan kondisi yang ada, jangan berkeluh kesah meskipun nampak sulit. Dalam kesulitan itu ada kemudahan, dan kemudahan itu didapat saat memikirkan dan merenungkan kesulitan itu.
  • Cermati rekam jejak pelaku, Setiap ucapan dan perbuatan selalu meninggalkan rekam jejak. Jejak – jejak yang ditinggalkan jika itu ucapan maka ada pihak lain yang mendengarkan ataupun merekamnya. Jika itu perbuatan maka ada pihak lain yang menyaksikan, merekam, dan jejak pisik lain yang tertinggal. Jadi setiap makhluk hidup selalu meninggalkan rekam jejak atau menyisakan bekas dalam perbuatannya. Perbuatan pelanggaran hukum, apapun bentuk pelanggaran yang dilakukan, baik dilakukan dengan tidak direncanakan ataupun dilakukan dengan rapi atau terencana, maka akan meninggalkan rekam jejak dari pelanggaran hukum yang telah dilakukannya. Kecermatan dari investigator menemukan rekam jejak pelanggaran hukum yang ditinggalkan oleh pelaku, sangat bergantung dari keuletan, kesabaran, dan keyakinan, akan kemampuan dirinya melakukan pekerjaan itu. Investigator tidak seharusnya menargetkan waktu keberhasilan yang akan dicapai. Ia hanya menargetkan langkah perlangkah yang akan dilalui untuk mengupulkan alat bukti hukum. Penetapan suatu akhir dari pekerjaan (gagal atau berhasil) hanya Tuhan yang Mahatahu dan Mahamengatur kapan waktunya akan terjadi, karena penetapan akan sesuatu adalah wilayah Tuhan bukan wilayah manusia, karena manusia sebatas mengikhtiarkan semaksimal yang dapat dilakukannya. Prinsip yang harus dipegang oleh investigator mencermati rekam jejak pelaku untuk memperoleh alat bukti hukum adalah kesungguhan dalam pekerjaannya. Sebagaimana ungkapan bijak mengatakan “Janganlah membayangkan lulus dalam ujian tetapi belajarlah dengan tekun dan kuasai materinya, maka semua soal ujian dapat dijawab dengan benar dan dengan sendirinya lulus itu didapat.”
  • Alat Bantu investigasi, Alat bantu atau juga disebut alat pendukung kelancaran investigasi diantaranya alat transportasi yang pemakaiannya disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Alat perekam suara dan gambar dalam bentuk recorder dan kamera, alat penyadapan, dan alat – alat lainnya sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kesulitan yang dihadapi. Namun demikian, bagi yang keterbatasan alat bantu tidak perlu berkecil hati, kemampuan pengungkapan suatu kasus sangat tergantung dari keuletan dan kepandaian mengelola strategi investigasi. Investigator dalan kondisi tertentu, yaitu pada tingkat kesulitan investigasi yang cukup tinggi sangat diperlukan keberadaan alat bantu khusus. Dengan alat bantu tersebut, lebih memudahkan menjabarkan dari permasalahan yang sedang diinvestigasi, juga dapat memperpendek waktu yang dibutuhkan, dan sekaligus investigasi lebih mengerucut kepada sasaran yang dituju. Dengan kemajuan teknologi saat ini, alat – alat bantu sederhana selain alat bantu yang penggunaannya bersifat khusus dan hanya boleh dipakai oleh aparatur pemerintah, sebagaimana diuraikan di atas tidak sulit untuk diperoleh. Banyak diperjual belikan di pertokoan yang menjual alat- alat elektronik dan alat komunikasi. Jika alat bantu yang dimiliki sangat terbatas dan ketiadaan biaya untuk membelinya, sebagai penggantinya adalah cukup membangun silahturahmi dengan alat bantu hidup, yaitu komunitas. Bangun komunitas seluas – luasnya, komunitas yang dibangun terdiri dari berbagai profesi yang menyebar di semua segi kehidupan masyarakat dan dipergunakan kemampuan mereka untuk mendukung investigasi yang dilakukan.
  • Insting atau naluri, Insting atau juga disebut naluri adalah dorongan hati atau nafsu yang sudah ada sejak dilahirkan. Merupakan pembawaan alami yg tidak disadari mendorong untuk berbuat sesuatu. Kemunculan insting atau naluri yang dirasakan seperti bisikan, kemauan untuk berbuat sesuatu, sangat tergantung dari latar belakang kepribadian seseorang. Apa bila insting atau naluri yang bersumber dari hati nurani dan dari nafsu kemudian direaksi dalam tindakan, meski tujuan hasil yang hendak dicapai sama, namun dampak yang ditimbulkan berbeda karena cara yang dilakukan tidak sama. Pikiran dan hati nurani yang bersih sangat dekat dengan Tuhannya. Karena itu, pikiran dan hati nurani tidak terdinding atau terhalang. Sehingga dorongan hati atau insting mengenai cara penyelesaian suatu masalah sangat cerdas dan halus dengan resiko yang sangat kecil, dan memberikan manfaat yang sangat besar pada diri sendiri dan lingkungannya. Insting yang bersumber dari nafsu (berharap dapat imbalan) memberi dorongan yang berstandar ganda seperti sisi mata uang saling mengkait, jika dilaksanakan salah sebaliknya tidak dilaksanakan juga salah. Cara yang diambil untuk menyelesaikan persoalanan / pekerjaan cenderung spekulasi alias untung – untungan dan kasar (mencederai), dengan akibat negatif yang ditimbulkan dapat menimpa diri sendiri dan menciptakan kebencian dari pihak lain atau lingkungan. Sebagaimana prilaku setan, yakni menyesatkan manusia melalui bisikannya diantaranya tercipta konflik / pertengkaran diantara umat manusia. Satu pesan yang perlu diingat, bahwa kemampuan otak sangatlah terbatas, tetapi kemampuan hati nurani yang bersih adalah sumber ilmu yang tidak pernah kering karena ia mampu menangkap ilham yang diberikan oleh Sang Pencipta. Dana pendukung Investigasi, Kegiatan investigasi untuk mencapai hasil yang maksimal memerlukan biaya atau dana pendukung. Biaya yang dikeluarkan sangatlah relatif sesuai dengan cara investigasi yang dilakukan dan tingkat kesulitan yang dihadapi. Besar dan kecilnya dana pendukung yang dikeluarkan tergantung dari kemampuan seorang investigator mengelola taktik dan teknik investigasi. Semakin banyak pengalaman yang dialami, maka semakin pandai memperhitungkan dan memperpendek waktu investigasi tanpa mengurangi hasil investigasi yang diharapkan, yang dengan sendirinya mempengaruhi dana pendukung yang dibutuhkan. Investigator yang baru belajar melakukan investigasi dana pendukung yang diperlukan cukup besar, karena untuk memperoleh alat bukti hukum kecenderungan waktu yang dibutuhkan cukup panjang dan biaya operasionalnyapun membengkak. Hal itu dikarenakan masih terbatasnya komunitas yang dimiliki dan belum didukung pengalaman tentang bagaimana mengelola taktik dan teknik investigasi. Bagi individu atau lembaga tertentu yang hendak atau sedang melakukan investigasi, namun dana pendukung yang dimiliki sangatlah terbatas, akan memunculkan sikap keragu – raguan atau bahasa kerennya “pesimis” untuk berhasil. Sebaliknya, bila tertanam p;ada diri suatu sikap Yakin, Tulus dan Penuh ucapan syukur, maka sikap pesimis dan ragu-ragu tidak akan terjadi.

Jadi, setiap anak bangsa dan setiap warga negara Indonesia yang baik, memiliki tanggung jawab dan berkewajiban untuk ikut serta membantu menyampaikan atau mengungkapkan setiap kasus yang ia ketahui. Bantuan yang diberikan bisa dilakukan dengan cara tertulis maupun lisan kepada lembaga yang berwenang menanganinya. Sehingga sekecil apapun permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat, dapat segera diperoleh titik terangnya.


Jangan pernah membunuh pertanyaan

Jangan pernah membunuh pertanyaan.

Ia adalah benda yang rapuh.

Pertanyaan yang baik pantas untuk hidup.

Kita tidak perlu banyak menjawab sebagaimana kita berbincang dengannya.

Pertanyaan besar adalah permanen dan bakat yang diberkati dari pemikiran.

Tetapi pertanyaan yang paling besar dari segalanya adalah membangun jembatan ke dalam hati menyebut orang seutuhnya.

Tak boleh ada jawaban yang dirancang untuk membunuh pertanyaan.

Ketika kita terlalu dogmatis, atau terlalu yakin, kita menunjukkan rasa tidak hormat kepada kebenaran dan pertanyaan yang menuju kepadanya.

Dibalik jawaban saya, selalu ada yang lebih, lebih banyak cahaya yang menunggu untuk masuk dan gelombang makna yang tak ada habis-habisnya siap memecah pantai yang memperluas kebijaksanaan.

Kapan pun ada pertanyaan, biarlah dia ia hidup.

Gerhard Frost



Sumber : berbagai sumber diantaranya http://detakkehidupan.blogspot.com/2010/07/taktik-dan-teknik-investigasi.html

Tidak ada komentar: