Sabtu, 30 Maret 2013

Harga Sebuah Ketulusan

Seorang pemuda, Deng Jinjie (27) sedang asik bermain di taman dengan dua ekor anjingnya. Tiba-tiba ia mendengar teriakan minta tolong dari arah sungai di dekat taman. Ia pun segera berlari menuju sungai. Tampak suami-istri sedang berenang di sungai dan terus berteriak minta pertolongan.

Ternyata, mereka panik melihat anak mereka yang sedang berenang memakai ban pelampung terlihat semakin jauh terbawa arus sungai. Anak berusia 5 tahun tersebut sudah terpisah hingga jarak belasan meter dari orang tuanya.

Tanpa pikir panjang, Jinjie langsung melompat ke sungai untuk memberi pertolongan. Dua orang warga lainnya juga ikut menyebur ke sungai membantu usaha penyelamatan Jinjie. Berkat pertolongan mereka, ketiga anggota keluarga tersebut berhasil sampai ke tepian sungai dengan selamat.

Namun, ketika semua terlihat sudah berakhir, orang-orang baru menyadari ada satu hal yang tak beres. Jinjie, sang pemimpin usaha penyelamatan tidak terlihat di mana-mana. Mereka akhirnya menyadari bahwa Jinjie kehabisan tenaga saat berenang dan terbawa arus sungai. Warga lalu menghubungi polisi dan petugas pemadam kebakaran, yang pada akhirnya berhasil menemukan Jinjie yang sudah tewas karena terlalu lama berada di dalam air.

Yang membuat semua orang terkejut, saat semua orang sibuk berusaha mencari Jinjie, keluarga yang baru saja diselamatkan oleh pahlawan mereka dengan taruhan nyawa itu malah melangkah pergi begitu saja dari lokasi. Tak sedikitpun ucapan terima kasih terdengar dari mulut mereka. Dan pada saat seseorang dari keramaian bertanya, “orang yang menyelamatkan kalian masih berada di dalam air, mengapa kalian pergi?” Sang ibu dari keluarga tersebut malah menjawab “Itu bukan urusan saya”.

Betapa mengenaskan nasib Jinjie. Perbuatan baiknya menolong orang malah dibalas dengan air tuba.
Berita ini sedang ramai di kalangan netters Cina. Keluarga yang belum diketahui identitasnya ini menerima hujan hujatan. Di mana pun berita ini muncul, kolom komentar akan dipenuhi dengan berbagai hujatan dan permohonan agar identitas keluarga tersebut dicari hingga jelas dan diperlihatkan ke publik.

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/11/harga-sebuah-ketulusan/

Percayakah Kau Bahwa Yesus Adalah Allah?

Nats : Yoh.  10 : 11 – 42
Yoh.10  adalah  pasal yang penting sekali, yang membahas  akan  interpersonal relationship ; hubungan  antar pribadi.  Ada lima  perumpamaan  penting  yang  Alkitab pakai  untuk  melukiskan  relasi  gereja dan Kristus: 1.  Kepala dan tubuh. 2. Fondasi dan bangunan.  3.  Suami dan isteri.  4. Pokok dan carang.  5.  Gembala dan domba. Diantaranya, ada  hubungan yang non organik: fondasi dan bangunan.  Ada hubungan yang  organik:  kepala dan tubuh.  Ada  hubungan interpersonal:  suami-isteri, gembala-domba. Kelima perumpamaan itu  mengajar  kita  untuk taat pada  perintah  Allah.  Di  Yoh.10,  Yesus  menjanjikan:  tanganNya  adalah  tempat  perlindungan  kita,  tak  ada  yang  dapat merebut  kita dari tanganNya dan tangan Bapa.  Karena Dia  dan Bapa satu adanya (ay.30).

Dia juga menegaskan:  Aku  berkuasa menyerahkan nyawaKu  dan mengambilnya  kembali  secara inisiatif  dan aktif  —  statemen yang tidak  kita  temui  di  bagian  lain  di  Alkitab kita dan    kitab agama  manapun di sejarah.  Karena  memang, selain Dia  tak ada  manusia yang  berkuasa  atas  nyawanya  sendiri.  Bukankah  Yesus Kristus  juga  ditangkap, dibunuh  —  pasif? Tidak!  Dia  menyerahkan nyawa  secara  aktif;  inisiatif.  Karena  Dia  adalah  Penghulu  hidup.  Keyakinan  itulah  yang  ada di  dalam  diri  orang-orang  Kristen  abad ke-1,  membuat  mereka menghadapi  penganiayaan  karena  iman  terhadap Yesus  dengan  berani  dan  gigih.  Josephus, sejarahwan Yahudi  ternama  yang  non  Kristen menuliskan:  1.  Yesus,  orang Nazaret  itu  telah ditangkap  dan  dibunuh. Tapi  pengikutNya  percaya:  Dia  adalah  Allah,  Dia bangkit  dari kematian dan  menyembahNya.  2.  aku tak  habis  pikir, mengapa puluhan tahun setelah Yesus mati, ada  banyak orang Romawi yang  percaya  Dia.  + th.68,  kaisar Nero  ingin  sekali  memugar  kota  Roma  yang  sudah  tertinggal, kumuh dan  miskin  itu  jadi  kota  modern dan menamainya: Neropolis (arti:  kota).  Dia  mengundang  para  arsitek  untuk merancang  Colosseum, gedung administrasi,  alun-alun,  istana….  lengkap  dengan  maketnya. Lalu membakar  kota Roma  yang  kumuh  dan  mengambing-hitamkan  orang Kristen  yang diajarkan  untuk  “mencinta musuh. Berdoalah  buat  orang yang menganiaya”.  Ulah Nero itu  membuat  semua  orang  di Roma membenci orang  Kristen.  Dan  Nero  mengira,  rencananya  berjalan mulus.  Tapi  menurut legenda, saat Petrus  meninggalkan kota Roma  yang  situasinya  mencekam,  dia  berpapasan  dengan  Tuhan Yesus dan tanyanya:  “quo vadis  (bahasa Latin,  artinya:  Tuhan  mau ke mana)?”  “ke kota Roma untuk  mati  kedua kali”  (tidak  benar.  Karena Yesus  hanya  mati  satu  kali. Tapi cerita itu memang  sangat  menyentuh  hati)  Mendengar  itu,  Petrus  berlutut: “kalau begitu,  biar aku saja yang ke  sana”.  Saat itu,  ada  banyak  orang Kristen  yang dibakar hidup-hidup,  dimangsa  oleh singa…. Petrus berseru: “dengarlah,  hai  penduduk  kota  Roma, bukan orang  Kristen,  tapi  Nero  yang  membakar kota  ini”.  Merekapun  tersentak :  apa  yang  dia  katakan  benar,  orang Kristen  penuh  kasih,  cinta  damai….  sementara  Nero,  pernah  membunuh ibunya, isterinya. Maka  puluhan ribu  orang  beranjak  mencari  Nero,   dia  lari ke istana ,  mereka  menyusul, dan  diapun  bunuh diri. Petrus  ditangkap  dan  divonis mati, karena  dia  berani  menuduh kaisar di hadapan  khalayak ramai.  Tanya Petrus: “hukuman mati apa  akan  kalian jalankan  padaku?” “disalibkan”  “bolehkah aku memohon satu perkara:  jangan salibkan aku sama  seperti  Tuhanku,    salibkanlah   aku  dengan  posisi terbalik: kepala dibawah.  Karena  aku tak layak  mati dengan  cara yang  sama seperti  Tuhanku”. 3. Saat  orang-orang  Kristen  berhadapan  dengan singa-singa yang sengaja dibuat lapar berhari-hari.  Saya  menyaksikan  satu  hal  yang  aneh:  mereka bukan lari, malah memuji Yesus. Mereka  menghadapi  “kematian”  bagai  pulang sorga. Legenda  lain:  setelah  Nero membakar  orang  Kristen,  malam  harinya  dia  mendatangi  arena  pembantaian dan kaget sekali,  melihat  wajah dari jasad di sana  tersenyum,  diapun berseru  bagai  orang  kerasukan  setan:  why do you smile?  Itulah keajaiban di sejarah, yang belum pernah terjadi di masa  sebelum  Yesus,  juga  tak  pernah  ada di  agama  lain.  Karena  hanya  orang Kristen  yang berpegang  pada  janji  Tuhan,  meski  mengalami penderitaan besar;  iman  mereka  diuji  dapat  tetap  tersenyum.

Saat mereka  ingin  melempari Yesus dengan baru, Dia  berkata  dengan  tenang:  “Aku  sudah melakukan banyak  hal  yang  bajik.  Hal bajik mana  yang  menyebabkan  kalian  ingin  melempari  Aku  dengan  batu?”  jawaban mereka  sama sekali tak  logis:  “kami ingin  melempariMu  dengan batu,  bukan  karena  hal bajik  yang  Kau  lakukan….”  Jadi,  mereka  mengakui,  kebajikan  yang  Yesus  lakukan,  tapi  mengapa mereka ingin melempariNya dengan  batu?  Karena  mereka menganggap  Dia  menghujat  Allah.  Karena  Dia, manusia  biasa  tapi  berani  mempersamakan  diriNya  dengan  Allah.  Jadi,  keyakinan  manusia yang  didasarkan atas  pemahaman  yang  salah  tentang  firman  itu  membuat  mereka  jadi  congkak, sampai  berani  melawan  Tuhan.  Maka  saya berulang kali  mengatakan: agama  memang berbahaya. Kalau  orang  beragama  tak memahami ajaran  agamanya dengan  benar, dia  dapat  jadi beringas. Itu sebab, Yesus Kristus bukan dibunuh oleh  orang  Ateis  atau orang  jahat,  tapi  pemimpin  agama  yang  merasa  diri  paling  mengerti  Taurat,  diangkat  oleh  Tuhan  jadi  pemimpin  dan  guru agama bagi  kaumnya.  Merekalah  yang membunuh  Anak Allah  yang  Allah  utus.  Tentu hal itu membuat Allah Bapa di sorga sangat sedih. Karena  umatNya  menyeleweng  begitu  jauh, menjadikan agama sebagai kedok, guna menutupi  perbuatan  jahatnya.  Bahkan  berani  mengenakan  jubah  agama  dan  mengaku diri  “hamba  Allah”,  padahal bertindak sebagai musuh Allah. Itu sebab,  dua ratus lima  puluh  tahun  silam,  di Prancis  beredar  statemen:  banyak  dosa; kejahatan  yang mengerikan  tersimpan di  balik  jubah  pendeta. Tak jarang,  di  tempat  yang tak jauh dari  gereja Katholik  terdapat  rumah yatim-piatu.  Tempat untuk  menampung  anak-anak  dari  suster, pastor;  pemimpin  agama  yang  tidak  bertanggungjawab.  Tentu, bukan semua  pastor, suster  tidak  beres,  tapi yang  tidak  beres  juga tidak  terlalu  sedikit.  Dan  sesungguhnya,  di agama  apapun  terdapat  hal serupa.

Dulu,  saya  sangat  menghormati  para  biksu. Karena  Budha  adalah  agama  yang  paling  damai, maka  tak  banyak  peperangan  yang  terjadi  di  negara  Budhism.  Ada satu aliran  Budhisme  di  Tibet:  zang chuan fu jiao,  pemimpin  agama; orang  suci  mereka yang  tertinggi  disebut  Dalai Lama.  Waktu  saya  mendapatkan  satu patung yang  dituangi emas,  butan enam ratus  tahun silam;  +  masa Dinasti  Ming.  Yaitu patung  Lama  yang berbadan besar, merangkul dan berpandang-pandangan  dengan  wanita bertubuh  kecil  dan  bugil.  Saya  merasa  heran: apa  sih  yang dimaksudkan  oleh  si  pembuat patung  yang  satu ini,  bukankah  menurut  ajaran  Budha,  biksu  tak  diperbolehkan  menikah?  Dan waktu  saya balikkan  patung itu,  ternyata   alat kelamin  si Lama  masuk  ke  vagian  wanita  itu.  Saya  semakin  ingin  tahu,  karena  hal seperti ini pasti bukan  ajaran  Sakyamuni.  Apakah  setelah  agama  itu  tersebar  sampai  di  Tibet,  Lama diizinkan berhubungan  badan  dengan  wanita?  Setelah menyelidiki  baru  tahu,  ternyata  mereka menginginkan  pemimpin  agama  punya  kekuatan ekstra.  Caranya:  berhubungan  badan  dengan wanita  di bawah usia  20 tahun.  Karena  menurut kepercayaan  mereka,  saat air  mani  pria  menyatu  dengan  cairan di vagina  wanita  muda, tubuh  pria  jadi lebih  kuat; lebih jantan. Jadi ternyata, tak ada  pemimpin  agama  yang  benar-benar  suci.  Kecuali Yesus.  Karena  Allah  Bapa,  Allah  Anak,  Allah Roh Kudus  adalah  Allah  yang  suci.  Dan saat  Allah  Anak  yang  suci  jadi  manusia,  selama  tiga  puluh tiga  setengah  tahun hidupNya  mutlak suci;  tanpa  cacat.  Maka hanya  Dia;  satu-satunya pendiri  agama yang  berani  menantang:  “siapa diantara  kamu  yang  dapat  menunjukkan  dosaKu?”  Statemen  itu  tak  mungkin  keluar  dari mulut  Sakyamuni,  yang  sebelum  pergi  mencari kebenaran  sudah  menikah  dan  punya  anak.  Jadi,  semua  pendiri  agama  disebut  suci  bukan  karena mereka  tak  berdosa,  melainkan  karena  wajahnya  yang  angker  atau  tabu  membicarakan  hidupnya atau  memperkudus  dia.  Dan  yang disebut  tempat suci  adalah  tempat  yang  terasing, memberi kesan  mistis. Jesus is the only one, who  never commits sin.  He is  the most holy  person,  because is the  holy one of God.  Apalagi  setelah  mempelajari  Patung emas Lama  tadi,  semakin  menyadari:  Tuhan  Yesus  adalah  satu-satunya  sang  Kudus di dunia.  Tentu  bukan  maksud  saya  mengatakan, hubungan  seksual  tidak suci.  Karena  saat suami-isteri  yang  sudah  menikah di  hadapan  Tuhan  itu memelihara  kesucian  mereka  dalam  hubungan seksual, menikmati berkat Tuhan yang besar. Jadi,  bukan hanya  mulutnya  mengumbar istilah “suci”,  tapi  alat kelaminnya  dipakai  oleh  setan.  Zaman  ini,  ada  banyak  gereja  yang  menggembar-gemborkan  roh  suci,  tapi  hidup  dari pemimpinnya  tak  suci.  Mereka  hanya  pintar berpidato, mengumandangkan slogan yang  indah,  ide  yang  muluk-muluk,  tapi  tak  pernah  nyata  dalam hidup  mereka.  Masih ingatkah anda bahwa di seputar gedung ini terdapat  tulisan:  sola  scriptula, sola fide, sola gratia, solus kristos,  solideogloria — lima slogan yang kita warisi dari Martin Luther  itu  bukan  sekedar  untuk  main-main.  Tapi  untuk  mengingatkan  kita:  who are we?  Pengikut  Tuhan  Yesus,  wakilNya  di  dunia yang disaksikan oleh semua orang. Mari kita stop  untuk  memanipulasi, memutar-balikkan  kebenaran, memperalat  Alkitab  dan  Tuhan  Yesus, mau  berkata  padaNya  dengan sungguh-sungguh:  “aku mau mengabdi  Kau,  menjalani  perintahMu,  mengikut Kau dalam kesucian, amin?

Kata Yesus: “jika  kalian tak  percaya  padaKu,  percayalah  akan  apa  yang  Ku  lakukan”.  Yesus menyatakan:  fakta  hidup  adalah  lebih  penting dari  teori.  Jadi, mari  kita  membuktikan  substansi  hidup  Kristen kita sepadan  dengan  injil  yang  kita beritakan, mengajak  orang mengenal  Kitab Suci sekaligus  menyaksikan  hidup  kita,  benar menjalani  tuntutan  Kitab Suci.  Baru  kita  dapat jadi  saksiNya  yang  benar.  Kata  Yesus:  “Aku  telah  melakukan  begitu  banyak  hal  yang  bajik,  mengapa  kalian  ingin  melempar  Aku  dengan batu?”  “kami  ingin  melempariMu  dengan  batu,  bukan  karena  perbuatan  bajik Mu….”  itu artinya:  Kau  boleh  saja  berbuat  bajik.  Tapi  jangan menyebut Kau  adalah  Allah.  Sebab  itu  identik  dengan  menghujat  Allah.  Tapi  Yesus  memang adalah  Anak Allah,  mengapa  waktu Dia  mengatakan  kebenaran  malah  dituding menghujat?  Jadi,  apakah  kelemahan  dari keyakinan Yahudi?  Mendualismekan  perbuatan dan  proklamasi  Yesus;  mendualismekan  pernyataanNya:  Aku  adalah Anak Allah dan  mujizat;  tanda  bahwa  Dia  adalah  Allah.  Mereka menerima akan  mujizat  yang  Dia  lakukan,  tapi tak  mengizinkan Dia  menyebut  Allah  sebagai BapaNya.  Padahal,  kalau  Yesus  bukan  Allah,  mana  mungkin  Dia  melakukan  mujizat, menandakan  diriNya  adalah  Allah?  Masih ingatkah kalian  akan  pejabat  muda yang  berlutut di hadapan  Yesus  sambil  berkata:  “Guru  yang baik….”?  Yesus  bukan  memberitahu  dia,  kebajikan apa yang  harus  dia  lakukan,  malah  menegur  dia:  “mengapa  kau  menyebut  Aku “baik”,  padahal  yang  baik  hanya  satu:  Allah.  Saksi Yehovah  menafsirkan statemen  Yesus  itu: Dia  tak  menerima,  diriNya  disebut  baik  —tafsiran  yang  amat  bodoh.  Karena  di situ  Yesus ingin  memperjelas, kau  menyebut  Aku  baik adalah  karena  kau  tahu:  bahwa  Aku  adalah  Allah?  Kalau  tidak,  mengapa  kau  berani menyebut  Aku, yang  kau  pandang  sebagai  orang biasa  ini sebagai  “yang  baik”,  padahal  semua  manusia  tak  baik  adanya.  Bagi  orang  Tionghoa:  hanya  ada dua  jenis  orang  baik:  yang  baru  saja  meninggal  dan  yang  belum  lahir.  Maksudnya,  semua  orang  yang  hidup  tak  baik; berdosa. Kongfuzu-pun  mengatakan:  “siapa  yang  bisa tidak   berdosa?  Kalau  seorang yang  bersalah  berani  mengaku: aku  salah, dia  adalah  orang baik”. Tapi kata  Yesus:  kau  menyebut  Aku baik?  Ketahuilah,   yang  baik  hanya  satu:  Allah.  Maka kecuali  kau  mengakui  Aku  adalah  Allah,  jangan sembarangan  menyebut  Aku  baik.  Karena  bajik  itu  sifat ilahi, maka bajik dan sifat ilahi  tak boleh  diduakan.  Inilah  kunci  dari  statemen  Yesus  itu. Tapi orang Yahudi  justru  mendualismekan  God  and goodness.  Ingat:  God is good. Only God can  do good.  And those who truly good have  the  nature of God.  Tapi  mereka,  hanya  mau mengakui  Yesus  itu  bajik,  tapi  tak mau  mengaku bahwa  Dia, yang telah  melakukan  begitu banyak  kebajikan adalah Allah.  Jadi,  mereka hanya  mau  menerima  kebajikanNya  tapi  tak  mau  menerima Dia  adalah  Allah  —  sangat  kurang ajar,  bukan? Hal  yang  sama  juga  kita  temui di  zaman  ini,  ada  banyak orang datang ke gereja, bukan mau Tuhan, hanya  mau  berkatNya;  memandangNya  sebagai Santa Claus saja.

Ayat. 34-36, orang yang menerima firman  disebut anak  (diawali huruf  kecil)  allah,  mengapa  Aku  yang  datang dari  Allah  tak  boleh  menyebut  diri Anak  (diawali huruf besar) Allah?  Ini adalah  kutipan dari  Mazmur:  you are  gods.  Mengapa disebut  allah  (diawali huruf kecil)?  Karena  mereka  seperti  Allah;  allah  kecil  yang merepresentasikan Allah.  Siapakah mereka?  Orang-orang yang menjalankan kehendak Allah.  Lalu  mengapa  Aku;  Anak Allah,  sang  Kudus, yang  diutus  oleh  Allah  jadi  manusia,  tak  boleh  menyebut  diriKu  Allah?  Perhatikan:  God,  Who  send by God, is the second Person of Triune God.  Ada  beberapa  ayat  yang  senada, misalnya:  Ibr.1,  because  You hated  unrighteousness and You  loved  righteousness,, that is the reason,  God,  Your God anointed You with the ointment of joy  —  Allah  mengurapi Allah?  Mari  kita  menyelidiki Alkitab,  agar  semakin  mengerti  dengan  tuntas, bukan malah  menafsirkan  dengan  sembrono.  Ternyata,  konsep  tentang   Allah  Tritunggal  ada di  seluruh  Alkitab,  misalnya:  “suci,  suci,  suci”,  berapa  kali?  Tiga kali.  Yesus  berkata:  “Allah mengutus  Aku  dengan  RohNya….”  —  berapa Pribadi?  Tiga.  Yesus  memerintahkan  kita:  “baptislah  mereka  dalam  nama Bapa, Anak dan  Roh Kudus”  —  berapa  Pribadi?  Tiga.  Semua itu  mengacu pada Allah Tritunggal. Tapi kata  orang Saksi Yehovah,  ajaran  Allah  Tritunggal  bukan  ajaran  Alkitab,  hanya  buatan  orang Kristen. Padahal  dari  Kej.1,  Allah  berfirman,  dan  RohNya melayang-layang di  atas  permukaan air: Allah,  firman;  Allah  Anak dan  Roh  —  konsep Tritunggal  sudah  muncul di sana.  Karena kebenaran  di  Alkitab  adalah  kebenaran  yang konsisten,  tak  berkontradiksi satu  dengan  yang lain.  Puji Tuhan!  Manusia  dicipta menurut  peta  teladan Allah, jadi  dia  memang  mirip Allah.  Dan  orang-orang yang  menjalankan kehendakNya, yang mirip Dia disebut you are  gods.  Tapi  Yesus  Kristus, Dia  bukan mirip Allah, Dia adalah  Allah, induk dari peta teladan orang percaya (Fil.2).

Tapi  orang Yahudi menuding  Dia:  “gila”,  “kerasukan  setan”.  Karena  mereka  tetap pada  keyakinan  mereka:  manusia  tak  boleh  menyebut diri  Anak Allah.  Padahal  kalau  Yesus  hanyalah seorang  manusia  biasa, mana  mungkin  Dia;  seorang,  melakukan  tiga puluh lima kali  mujizat, lebih banyak dari akumulasi semua  mujizat  yang pernah dilakukan oleh Musa, Elia, Elisa dan…..  di  sepanjang  sejarah? Jadi  kalau  kau  masih  tak percaya  Dia  adalah  Allah, lalu  siapakah Dia?  C.S.Lewis,  yang  tadinya  ateis  itu   setelah  percaya  Kristus, menyerahkan diri  pada Tuhan, jadi tokoh  yang amat berpengaruh pada sastra Inggris dan  dunia perfilman itu  mengatakan:  “siapa  Yesus?  Hanya ada empat kemungkinan:  1.  Orang  gila. 2. Penderita  schizophrenic.  3.  Pembohong.  4. Pembual.  Setelah  didalami satu per satu,  ternyata  semuanya tidak  benar.  Yang benar:  He is God”.  Dan lanjutnya:  “if Jesus is not God,  then  please anwer me: who is He?”  —  tantangan yang  sangat mengagumkan, bukan?  Karena  except you   believe Jesus is God,  you can not  give the true  answer about  His work.  Karena  orang  gila,  penderita  schizophrenic,  penipu  ulung, pembual tak  mungkin  melakukan  apa  yang  Dia  lakukan: menyembuhkan orang  yang lumpuh tiga puluh  delapan tahun,  mencelikkan mata  orang  yang buta  sejak lahir!  Sebab fakta itu  fakta.  Fakta jauh  melampaui  teori-teori  yang  manusia  kemukakan  untuk  melawan  Yesus Kristus.  Di zaman ini,  memang  ada  banyak  orang  tak  percaya  pada Yesus Kristus,  bahkan  menghina,  menfitnah,  menolak  Dia.  Tapi  biar  kita,  murid  Yesus  yang  sejati,  yang benar-benar cinta Dia memakai hidup kita untuk menyumbat mulut mereka. Itulah yang saya  lakukan:  do everything to proof my God is a  true God,  to magnify Jesus Christ and His glory.  Memang  dua  opini  ini:  “Dia  dirasuk setan”  dan  “mana  mungkin  orang  yang  dirasuk setan  mencelikkan mata  orang  yang  buta sejak lahir?” akan  terus   eksis  sampai  dunia  kiamat, bahkan jumlah  orang  yang  melawan  Yesus  dan  orang yang  bersaksi  akan  terus bertambah. Biar  orang yang  betul-betul  cintai  Tuhan,  yang  memihak  kebenaran  mau  menyerahkan  hidupnya  untuk mengikut  Yesus  sampai  ajal.  Maukah, kau?  Jangan menipu diri dan jangan bercanda.  Ay. 40-42,  indah  sekali.  Mengapa  Yesus  ke  Yordan?  Karena  itu  adalah  tempat  Yohanes pembaptis  membaptis.  Perhatikan:  Yohanes pembaptis  tidak  pernah  melakukan  barang  satu  kali  mujizat.  Jadi,  jangan  terus  beranggapan:  tak ada  mujizat  sama dengan  tak ada  Roh Kudus, tak punya  kuasa  Tuhan.  Orang-orang  Karismatik  sangat  tahayul  pada  mujizat,  sehingga  mereka memaksakan  orang  bangun; sembuh dan  mengklaim  hal itu  sebagai  mujizat.  Padahal  ada  banyak  yang  dipalsukan:  dibikin-bikin  atau  dipaksakan:  kelihatannya  sembuh,  tapi  beberapa  hari  kemudian  kambuh  lagi.  Mengapa  harus berbuat  seperti  itu:  membuat sesuatu yang secara fenomena terlihat  hebat,  spektakular, padahal  faktanya  tidak  begitu.  Kita  harus  berani menolak  semua  hal  yang  tidak  didasarkan  atas  kebenaran!  Yohanes pembaptis tak sama dengan orang-orang Karismatik  zaman  ini, yang mengutamakan penyembuhan, mujizat. Karena dia, seumur hidup  tak  pernah  melakukan  barang  satu  mujizat.  Dia  hanya  berkhotbah  dan khotbah  tentang  Kristus. Karena  he did not come to introduce himself,  but  to witness and to glorify Jesus Christ, the  Lamb of God, who takes away the sin of the world. Dan  justru  karena  dia  terus  meninggikan Kristus, maka  meski  dia  tak  pernah  melakukan  barang  satu  mujizat,  tapi  tertulis  di  perikup  ini:  Yesus pergi ke  tempat  dia membaptis.  Dan saat  mereka melihat  Yesus,  mereka  teringat  akan  Yohanes pembaptis.  Sama  halnya  kelak,  setelah saya  meninggal dunia,  waktu kau mendengar   khotbah  di  tempat ini,  kau  akan  teringat:  dulu, Stephen  Tong  pernah  berseru-seru di  atas  mimbar ini.  Itulah  yang  terjadi  di  Yordan,  saat  mereka melihat  Yesus, mereka  teringat  akan  Yohanes pembaptis  dan  langsung  mengasosiasikan  Dia  dengan  kesaksian  Yohanes pembaptis.  Mengapa?  Karena  dulu,  Yohanes  pembaptis  terus  bersaksi bagi  Yesus,  membuat  pendengar  bagai  bukan  menyaksikan  Yohanes  tapi  Yesus  Kristus.

Seorang  murid  saya  setelah  membaca  buku  yang berjudul:  John Sung,  lalu  berkata  pada  saya:  “judul  buku  ini:  John Sung,  tapi  sesungguhnya,  di  buku ini  tak  ada  John Sung,  hanya  ada  si  penulis”  “apa  maksudmu?”  “penulis buku  hanya meminjam  nama  John Sung  untuk memperkenalkan  dirinya.  Maka  dia  bukan bercerita  tentang John Sung, tapi: “dulu, saya dan  John Sung pernah ke….”  “saya dan John Sung….” “saya membantu John Sung…” saya, saya, saya….  memperkenalkan  dirinya  begitu  hebat,  pernah hidup  sezaman  dengan  John Sung,  pernah melayani  bersama  John Sung…..”  Dari  dialog itu  saya  terpikir:  mungkinkah  kita  yang  berkhotbah  tentang  Yesus,  sebenarnya  bukan memperkenalkan  Yesus  tapi  memperkenalkan  diri?  —  dosa  egocentric  bercokol  di balik khotbah kita. Kali itu,  Yesus  ke  Yordan,  orang-orang  yang mengikuti  Dia  ke sana,  teringat  akan  Yohanes pembaptis, lalu  komentar  mereka:  “meski  Yohanes  pembaptis  tak  pernah  melakukan  satu  mujizatpun,  tapi  semua  yang  dia  katakan  tentang orang  ini  benar  adanya;  nothing false;  not  a  false  testimony,  everything spoken by John  the baptist  about this  Man  is  true”.  Dan banyak  orang percaya  Yesus Kristus.  Inilah satu  dari  dua ayat  di  Injil  Yohanes  yang  sangat  menggetarkan  hati saya:  1.  Karena mendengar  Yesus  berkata:  “Aku  sering  melakukan  hal yang  berkenan  pada BapaKu”,  banyak  orang  percaya  kepadaNya.  2. Karena  semua  kesaksian  Yohanes  tentang  Yesus itu  benar,  banyak  orang  percaya  kepadaNya.  Keduanya  tak  ada  sangkut-paut  dengan  mujizat. Perhatikan:  Yesus  melakukan  mujizat,  orang Yahudi  membenci Dia. Tapi  Yohanes  pembaptis, meski  tak  pernah  melakukan  mujizat,  hanya menyaksikan  Yesus  dengan  benar,  banyak  orang percaya kepadaNya. Puji Tuhan!  Hari  ini,  kita  mengakhiri  pembahasan  Yoh.10.  Minggu depan ,  kita  akan  teruskan  pembahasan Yoh.11,  Yesus  melakukan  mujizat  yang lebih  besar  dan  jadi  klimaks  bagi  ketetapan  orang  Yahudi untuk menghabisi Dia. Jadi Injil Yohanes  memaparkan  tahap demi  tahap  mengapa Yesus  harus mati: Yoh .5,  Dia menyembuhkan  orang yang  lumpuh  tiga puluh  tahun,  mereka  mulai ingin  membunuh  Dia. Yoh 9,  Dia  mencelikkan mata  orang  yang  buta sejak lahir,  mereka semakin  berniat  membunuh  Dia.  Dan  Yoh.11,  Dia  membangkitkan  Lazarus,  mereka membulatkan tekad untuk mengenyahkan Dia.  Tuhan  memberkati  kita,  setelah  mempelajari  Injil Yohanes,  iman  kita  jadi  semakin  kuat,  tak tergoyahkan oleh  siapapun. Amin?
(ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – EL)

Pdt. Dr. Stephen Tong


Sumber : http://www.nusahati.com/2012/11/percayakah-kau-bahwa-yesus-adalah-allah/

Life Is Like A Kaleidoscope

Add caption
A Native American and his friend were in downtown New York City, walking near Times Square in Manhattan. It was during the noon lunch hour and the streets were filled with people. Cars were honking their horns, taxicabs were squealing around corners, sirens were wailing, and the sounds of the city were almost deafening. Suddenly, the Native American said, “I hear a cricket.”

His friend said, “What? You must be crazy. You couldn’t possibly hear a cricket in all of this noise!”
“No, I’m sure of it,” the Native American said, “I heard a cricket.”

“That’s crazy,” said the friend. The Native American listened carefully for a moment, and then walked across the street to a big cement planter where some shrubs were growing. He looked into the bushes, beneath the branches, and sure enough, he located a small cricket. His friend was utterly amazed.

“That’s incredible,” said his friend. “You must have superhuman ears!”

“No,” said the Native American. “My ears are no different from yours. It all depends on what you’re listening for.”

“But that can’t be!” said the friend. “I could never hear a cricket in this noise.”

“Yes, it’s true,” came the reply. “It depends on what is really important to you. Here, let me show you.” He reached into his pocket, pulled out a few coins, and discreetly dropped them on the sidewalk.

And then, even with the noise of the crowded street still blaring in their ears, they noticed every head within twenty feet turn and look to see if the money that tinkled on the pavement was theirs.

“See what I mean?” asked the Native American. “It all depends on what’s important to you.”


Sumber : http://www.nusahati.com/2012/11/life-is-like-a-kaleidoscope/

Gembala Yang Baik (Bagian II)

Nats : Yoh.   10 : 11  – 19
Minggu lalu  kita  sudah  membahas  statemen Yesus Kristus:  “Aku datang  untuk  member hidup bahkan hidup yang berlimpah”. Kalimat  yang  tak  mungkin  diucapkan  oleh  Socrates,  Confucius, Sakyamuni…. Rabi  Hillel dan… tokoh-tokoh  agama, filsafat, kultur dan sastra  yang  agung.  Karena  kekristenan  memang  menyajikan  sesuatu berbeda  dengan  pembahasan  filsafat:  bijak vs bodoh, pembahasan agama: baik vs jahat, pembahasan  ilmu pengetahuan:  benar  vs  salah.  Kekristenan  membahas mati kekal vs hidup kekal (Yoh.3:16).  Maka  kita  datang kepada  Tuhan bukan dengan  syarat-syarat yang  orang berdosa  perkirakan dapat  memperkenan  Dia,  melainkan dengan  iman. Karena  di  Yes.64  tertulis,  di mata  Tuhan,  kebajikan  kita  bagai  pakaian  compang-camping.  Konon,  saat  seorang kaya sampai di  sorga, pintu tertutup  baginya.  Seorang malaikat  bertanya  padanya:  “mengapa kau di sini?” “saya  ingin  masuk.  Karena  saya adalah  orang baik”  “orang  baik?” “ya,  saya pernah memberi  dua  dollar  pada  orang miskin”  “kalau  begitu,  saya kembalikan saja  dua dollarmu untuk  beli tiket ke  neraka”. Karena kita memang wajib berbuat bajik,  bukan  malah untuk  mendapat  perkenanan Tuhan.
Without faith, no one can please God.  Lalu  apa itu  iman? Iman  tak  memberi  tempat bagi  jasa, hanya  bersandar pada  anugerah Allah  dalam Kristus.  Dan  kata  Yesus:  “Aku datang  untuk memberimu  hidup,  bahkan  hidup  yang berlimpah”. Hidup  dan  hidup berlimpah  adalah  dua hal  yang  berbeda.  Maka,  orang yang  sama-sama hidup, ada yang  terus   minta dilayani  —hidup yang miskin, ada yang meski dirinya punya banyak kesulitan,  tetap  punya kekuatan  dan waktu  menolong banyak orang  —  hidup  yang berlimpah. Saya  harap,  jemaat  GRII  bukan melalui  hidup  yang  miskin,  tapi  hidup yang berlimpah.
Suatu  hari,  seorang yang usianya hampir sembilan puluh tahun bertanya  pada  saya: “kau lihat orang  yang duduk  di kursi roda  itu? mana  yang  lebih bahagia:  yang mendorong  atau  yang  didorong?”  “saya kira, yang mendorong lebih bahagia.  Karena meski  dia  miskin,  masih muda  sudah  harus  bekerja  berat, mendorong kursi roda. Tapi  selesai  kerja,  dia  dapat  berjalan ke sana-sini  dengan bebas.  Sementara orang yang didorong,   meski kaya, saat  orang  yang mendorong  dia  tak  bersamanya,  dia tak bisa ke mana-mana”.  Itu sebab,  kalau  saya  menanyakan pada  seorang:  “bisakah kau melakukan  tugas  ini?”  dan jawabnya:  “saya tak punya waktu”, saya  tahu,  hidupnya  miskin.  Karena  setiap  kita memang  sangat  sibuk.  Tapi  di dalam kesibukan rutinmu  masih  adakah  waktu, uang, bakat  yang kau sisihkan  untuk menolong  sesama? Orang yang  hidupnya  miskin  selalu  malas,  melempar kesulitannya  pada  orang lain.  Tapi  orang yang  hidupnya  berlimpah  selalu sanggup  carries on others’ problems. Bagai seorang  ibu,  selain harus  membereskan rumah,  mengurus  diri,  melayani suami, masih punya waktu untuk setiap anaknya. Ada sebuah  buku  yang  menyaksikan  kehidupan ibunda  John Wesley:  punya  delapan belas orang anak.  Tapi  saat dia  mengajarkan  sesuatu  yang penting pada anaknya, dan menemukan, misalnya anaknya yang ketiga, ketujuh  dan  kedelapan-belas tak  di sana, dia  akan  mencari  waktu  lain  untuk  ketiga  anak  itu,  mengulang  apa yang dia  tuturkan pada anak-anak lain. Karena dia tak mau satu  anaknya  mengalami  hal buruk,  karena  tak  mendengar  nasehatnya.  Sungguh, saya sangat  mengagumi  orang  kuno,  meski  anaknya banyak,  dapat  mengurus  dengan  baik.  Tak  seperti  mama-mana  zaman  sekarang, baru punya satu anak  sudah repot, punya dua anak  mulai  ngomel, punya tiga anak  sudah  sangat  lesu, punya empat  anak  serasa  hampir bunuh diri.  Karena  fokus hidupnya  adalah  diri  sendiri,  maka  anakpun dipandang  sebagai  pengganggu,  bukan  sebagai tugas  yang  Tuhan  percayakan padanya  untuk menemukan potensi  si anak  dan  mendidiknya,  sampai  menikmati hasil jerih lelahnya.  Mama saya punya sepuluh orang anak:  seorang meninggal,  seorang diberikan pada  orang, sisa  delapan orang anak  (tujuh pria, satu wanita). Dan  dari  tujuh  orang  anak prianya, ada  lima  orang  jadi pendeta.  Padahal  sejak  saya berusia tiga tahun sudah  jadi  piatu,  mamalah  yang  bangun  pagi-pagi, jam 5.00  –  6.00 berdoa, jam 6.00 mulai  bekerja. Selain  waktu  makan, dia  terus  bekerja,  agar  dapat  menghidupi anak-anak.  Di  zaman  perang  Jepang  yang  begitu  susah,  dia  berjanji pada Tuhan untuk  tetap menjanda.  Agar  orang-orang  di sekitarnya  menyaksikan  iman Kristennya: menjalankan kewajiban  dengan penuh  tanggungjawab  dan  mengikut  Tuhan dengan sukacita.  Meski  sekarang,  semua ini sudah  berlalu, mama  saya  sudah  meninggal pada th. 1978. Tapi  tetap  tertanam di benak  saya.  Biar Tuhan  menolong  kita  punya  hidup yang berlimpah:  mau  hidup  lebih   hemat,  agar  dapat menyisihkan uang untuk orang lain.  Mau menggunakan waktu  lebih  efisien,  agar  masih punya  waktu untuk orang lain.
Karena  the more  time, more talent,  more money you share with  others. It proof that you have abundant life. Hidup  yang  berlimpah  juga  bisa  diwujudkan  dalam  studi pelbagai  disiplin ilmu.  Saya bukan orang  kaya  yang  berkesempatan studi di  luar negeri, tapi saya  self study  lebih  giat  dari  siapapun:  sejak  usia enam puluh  sekian  tahun, setiap  2-3  tahun,  mendalami  satu  disiplin ilmu secara tuntas.  Maka  +  sepuluh tahun ini,  saya menekuni  arsitektur, musik,  barang  antik, museum….  lewat  buku-buku  yang paling otoritatif,  membuat  pengetahuan saya semakin dan semakin  limpah.  Tahun lalu, saya mulai mempelajari  Conducting in Orchestra  —  sulit luar biasa.  Tapi  karena Tuhan sudah menganugerahkan kita Concert Hall, dan kita tak  sanggup  mengundang conductor  professional yang  honornya  begitu  mahal,  maka saya sendiri terjun, menyelenggarkan acara musik. Tapi untuk autodidac  memang perlu disiplin  diri  yang sangat  ketat,  dan  Tuhan  dengan  anugerahNya memimpin  selangkah demi selangkah. Hidup kita di dunia  hanya satu kali,  dan  hanya  berapa puluh tahun  saja,  berlalu  cepat bagai  angin,  tahu-tahu saat  kau  bercermin, menemui  wajahmu  sudah keriput dan menyadari,  I come nearer and nearer to  Thee.  Dimana  Tuhan  akan  bertanya:  is  your  life  poor or  abundant?  Maka,  mari  kita gali  potensi yang  ada pada kita,  membagikan berkat  yang kita peroleh pada  banyak  orang, mewujudkan  kehendakNya atas  kita, memuaskan  hatiNya. Itulah abundant life yang Yesus janjikan.  Alkitab  menggunakan lima ilustrasi  untuk melukiskan  hubungan Kristus dan gerejaNya:  1. Domba dan gembala, 2.  Fondasi dan bangunan, 3. Suami  dan  isteri.  4. Pokok dan ranting. 5. Kepala dan tubuh.  Diantaranya, hanya  hubungan  fondasi  dan bangunan  yang  non organik. Selebihnya  adalah hubungan  yang organik, apalagi hubungan suami dan isteri, domba dan gembala  —  selain  hubungan  yang  organik  juga  interpersonal  relationshp. One of the most  important study in  the twentieth  century, after the book: I and Thou,  written  by  Prof.  Martin Bubber,  in Tel-Aviv.
Karena buku yang tak sampai seratus halaman ini berhasil mengalihkan  sistem dan tema studi abad  ke-19 yang terlalu mengutamakan  logika  pada hubungan  antara pribadi. Ingat:  doktrin Allah Tritunggal  adalah  dasar  dari  hubungan  seorang dengan  yang  lain dalam  komunitas.  Maka interpersonal relationship is  far more important  than administration, organization, or financial. Itu sebab, setiap minggu sekali kami mengadakan Master Class  yang  berdurasi  tiga jam, guna  membenahi, memelihara  relasi antar pribadi. Karena  bila  interpersonal relationship  sudah terjalin  dengan  baik  dan kokoh,  semua  masalah dapat  dibereskan. Jadi, statemen  Yesus: “I am the  shepherd, and you are My sheep”  juga menegaskan  interpersonal relationship between  God and His chosen people:  saling memiliki,  maka kita harus punya sense of belonging. Bukan malah  memperalat  atau  mengatur-ngatur  Tuhan. Karena Dia adalah Tuhan  -  kita hambaNya,  Dia  Pemilik  -  kita milikNya.  Ada sebuah  gereja,  saat  inagurasi  terdapat tulisan:  only Jesus.  Tapi  lama  kelamaan, setelah satu per satu huruf: j, s, e  lepas, dan sisa only us,  mulailah  ada keributan, gontok -gontokan. Karena saat the  vertical relationship is  not well, the horizontal relationship  will  also  ruin. Jadi  kalau setiap orang  Kristen  takut Tuhan,  cinta  Dia  tentu  dapat  saling menghormati  dan saling mengasihi.  Permisi tanya:  sudahkah  GRII  meninggikan Kristus,  menjadikan  Dia sebagai Tuhan  dan Gembala  kita?  Tentu  bukan  berarti Dia menguasai, menindas kita semauNya.  Karena Kristus  adalah  a  good shepherd,  Who sheded  His  life for  us. Dengan kata lain, Dia  telah lebih dulu  mencintai kita,  sampai rela  menyerahkan  nyawaNya  jadi tebusan  dosa kita.  Maka  kata Paulus:  “kalau ada orang yang tidak cinta Tuhan,  dia patut dikutuk”.  Memang, di dalam  gereja, ada  dua jenis pemimpin:  Gembala dan  upahan.  Siapa itu upahan? Orang yang bekerja  hanya  untuk uang. Kemarin, dua item  yang bagus luar biasa,  yang saya kirim  tiba  dalam  keadaan  pecah. Saya merasa sedih sekali. Tapi apa mau dikata, mereka bekerja  untuk  uang.  Seperti  apa  yang  saya katakan  berulang kali:  if you do  everything for  money, for yourself or  to please people,  you will  surely do it wrongly.  Saya  pernah  punya seorang  pembantu yang jorok  luar biasa.  Waktu  saya  tanyakan  padanya, “apakah  piring ini  sudah  kau cuci?” “sudah” “mengapa  masih kotor?”  “sudah begitu bersih,  mengapa  bapa  bilang  masih kotor?”  Kalau seorang  yang  kerjanya tak beres,  saat diberitahu  malah  merasa dimarahi,  dia  tak  dapat  maju  lagi.  Karena dia tak mau  mendengar kebenaran.  Lagi pula,  he  become  his  own god, so  he  do not want  to  be critizied.  Apa  bedanya seorang ibu dengan  pembantu yang  ditugasi  mengurus  anak? Di  Taiwan ada seorang ibu menemukan  anaknya tiba -tiba  jadi  bodoh,  lambat  reaksinya.  Karena merasa  ada yang tidak biasa, maka dia  memasang rekaman CCTV,  dari  sana  barulah  dia  tahu ,ternyata  saat  si anak menangis,  pembantu  membantingnya  atau  membenturkan kepalanya ke pintu. Semakin anak itu menangis, semakin  dihajarnya.  Maka  tak heran, anak itu jadi idiot bahkan  tuli.  Karena  si pembantu  hanya  bekerja demi uang, bukan benar-benar mau menjaga anak, maka  dia  tak  dapat  mencintai anak yang  diasuhnya.
DR. Andrew Gih  pernah  berkhotbah: setelah Elia membangkitkan anak itu, dia menyerahkannya  pada ibunya. Saya  tertarik  dan  menyimak  statemen  berikutnya: maka  setelah kau menginjili,  jangan  menyerahkan  orang-orang yang  baru percaya  itu pada  gereja  yang  tak punya  jiwa  mendidik,  tapi  serahkankanlah  pada  gereja yang pendetanya punya  jiwa  seorang  ibu  —statemen  yang  sangat  menyentuh.  Maka  saya berharap,  KKR Regional  jangan  hanya  mengejar target.  Juga pikirkan:  after  they believe  Jesus  Christ,  to  whom do you entrusted them?  Karena ada dua  jenis pendeta: yang  berjiwa gembala  dan upahan. Hanya mereka yang punya jiwa gembala,  dapat melayani Tuhan dan sesama dengan sungguh-sungguh.  Yesus  berkata, Gembala  yang baik  berbeda dengan  upahan:  waktu  srigala  datang, gembala  yang  baik  akan bertarung  dan  mengusirnya, bahkan  merebut domba  dari  mulutnya.  Di  Alkitab terdapat  istilah  “watch tower”  dan  tugas dari  penjaga  di  menara  pengawal  adalah memantau keadaan sampai  ke  tempat  yang  jauh,  kalau  menemukan  ada  musuh atau bahaya  yang menghampiri, dia  harus  memberi  isyarat  pada kaumnya.  Itu sebab, penjaga di menara pengawal  tak  boleh  tertidur;  harus  selalu  alert,  melihat dengan mata  yang  jeli  dan  segera  memberi  isyarat.  Gembala  yang  baik  juga  harus  punya:  1. mata  yang  jeli,  dapat  melihat  bahaya  yang mengancam.  2.  Jiwa  yang  penuh  kasih terhadap bawahannya.  3.  always available to  sacrifice himself  for others’  good.  Sekali lagi  saya  ingin mengangkat kisah di  th. 1997, saat Hong Kong, yang  dijajah  oleh  Inggris 150 tahun itu  akan dikembalikan ke  China, negara  Komunis  yang tak  bersahabat dengan  orang beragama.  Maka sejak th. 1992,  banyak  orang Kristen,  khususnya pendeta-pendeta  dari  seribu tiga ratus sekian  gereja  di sana  mulai  gelisah,  takut mereka dipaksa  patuh  pada  pemerintah; tak  bebas  berkhotbah.  Maka  selama  lima tahun itu  saya terus   memantau, apa  yang  akan  dilakukan  oleh para  pemimpin  gereja di Hong Kong.  Dan  saya menetapkan  untuk  mengadakan KKR akbar  di  indoor stadium yang  bisa  menampung empat  belas ribu  orang  itu  pada  th.1997.  Tapi  karena karena menjelang peralihan politik,  stadion  itu  disewa  penuh sepanjang tahun.  Dan  rencana KKR  akbar itupun  terpaksa  ditunda,  baru diselenggarkan  pada  th. 1998.  Di th. 1998, saya membaca  hasil sensus,   terasa  kaget  luar biasa dan  ingin  menangis.  Karena setengah dari pendeta-pendeta  di  sana hijrah,  dengan  alasan klise:  pimpinan  Tuhan. Kalau  memang  pimpinan Tuhan,  mengapa  bukan  sepuluh tahun sebelumnya  atau  lima tahun  kemudian,  tapi persis  di masa  peralihan  itu?  Dan  mengapa  tak ada  yang dipimpin  ke Kongo,  Kamboja atau  Bangladeh, Irak,  Iran….,  tapi  Amerika, Inggris,  Australia?  Sehingga  usia rata-rata  dari  +  90% pendeta  yang  menggembalakan  gereja di  sana:  dua puluh sembilan  setengah  tahun.  Kata  saya: tak sangka,  so many so called churches leaders  are not shepherds, they  serve  for money.  Padahal kata  Yesus:  gembala yang baik  akan membebaskan  domba  dari  taring srigala.
Statemen  itu  membuat  banyak  pendeta  yang melarikan  diri  itu  membenci  saya. Maka  saat  saya  memimpin  KKR di Sydney,  mereka memboikot.  Tapi  Tuhan menggerakkan seorang pemuda  berusia  24 tahun  mau  bekerja  keras,  berhasil mengundang  1800  orang  hadir  di  KKR,  yang diadakan di satu stasion tua di pinggir kota —  memecahkan  rekor  dari  Chinese church  meeting in  Australia  history. Membuktikan bahwa  Allah  tetep  bekerja.  Meski  banyak  orang tak  senang,  melawan Karena  menurut  mereka: khotbah  saya  terlalu  keras.  Padahal  yang mengkhotbahkan “Gembala  yang  baik  bukan bekerja  untuk  uang,  dia  tak  seperti  upahan,  yang kabur saat  kesulitan  menimpa”  adalah  Yesus Kristus.  Kelak, saat  gerakan  Reformed  sudah berusia  lima puluh tahun,  dan  kau  menoleh ke  belakang  baru  menemukan:  siapa gembala  yang baik  dan  siapa  upahan.  Saya;  pemimpin  gerakan ini,  tak  berniat  jadi diktator,  memberlakukan Nepotisme, memperkaya  diri.  Hanya  ingin gerakan  ini betul-betul  diberkati  Tuhan:  memberi kesempatan pada banyak  orang  untuk mendengar injil,  percaya  Tuhan  Yesus, mengisi  kerohanian orang  Kristen  dengan firman,  agar  hidupnya jadi berlimpah.  Awalnya,  saya  tak merundingkan keinginan itu dengan  siapapun.  Karena  saya bukan  pendeta  yang  diundang  melayani  di GRII. Melainkan  memenuhi  panggilan  Tuhan,  mewujudkan  kehendakNya.  Mungkin  kau  tak suka  saya  berbagi  visi,  lebih  suka  mendengar saya  khotbah.  Tapi  itu  tak  mungkin. Karena tanpa visi dan  program,  kita  tak   tahu  inti  dan  pelayanan  apa yang kita lakukan.  Jadi,  jangan hanya  mau  mendapat  manfaat; berkat  dari  saya,  tapi  tak  mau tahu akan gerakan  ini dan  tapi  tak mau berbagian. Jadi, jangan  mengira, asal jumlah  jemaat  banyak,  saya  senang.  Biarlah kita  berpartisipasi  dalam gerakan ini  dengan segenap  hati  dan segenap  pikiran, mau  bersama-sama pikul salib, mewujudkan kehendak Tuhan.  Nasib  domba-domba  sangat  bergantung  pada gembalanya.  Kalau gembala  mereka  baik,  mau  menyerahkan  nyawa  demi  membela domba-dombanya, nasib  mereka  baik.  Tapi  kalau gembalanya  hanya  mau  uang,  martabat,  hanya membanggakan  prestasi  diri,  celakalah  kawanan  domba  itu.
Dua puluh tahun silam,  waktu  saya berkhotbah  di Solo,  di sebuah  gereja  yang  biasa menampung empat ribu  orang.  Pendetanya adalah  orang  yang  sangat  sederhana,  yang sejak  muda  melayani  Tuhan  di  gereja  Pentakosta.  Dia  mengatakan kalimat yang terus saya ingat: hamba  Tuhan  yang  baik  perlu  melewati  periode ujian  selama  lima belas tahun  di desa, dipantau apakah dia  mau ngepel,  mengangkat kursi  —mengerjakan pekerjaan  yang  berat,  hidup  miskin,  baru  dapat  memastikan  dia  adalah  hamba Tuhan atau  bukan.  Teori  ini  mirip  dengan  teori  Plato:  a  man should be educated until he reach thirty five  years old.  Then put him into the lower class  society,  to do the most havy labor  for  fifteen  years.  When he achieve fifty years old, give him  the purple robe to rule over the people.  Meski pendeta  itu  dari  Pentakosta,  tapi  pelayanannya, saya amini di  hati.  Di  gereja  yang  dia gembalakan  tak  ada  majelis, penatua,  melainkan ratusan  orang  pembela sidang;  those who  take care,  protec, defend, love  the  sheep  of God. Bagaimana  dengan  Majelis  GRII,  apa  yang kalian  pikirkan,  prinsip  apa yang kalian  pegang  saat  melayani?  Sayang,  setelah  pendeta  itu meninggal, isterinya meneruskan  pelayanannya, tapi  kurang beres  dan  layu.  Itulah  side effect  dari gereja yang  tak  mempersiapkan penerus  dengan teologi  yang  kuat.  Kami  juga  memantau hamba-hamba  Tuhan  di sini,  siapa  yang  mau  menyangkal  diri,  bekerja  berat  dan  hatinya jujur untuk  Tuhan.  Dialah  hamba Tuhan  yang  lebih mirip Yesus Kristus.  Ay. 16, …ada  lagi  padaKu domba-domba lain —kelompok  lain;  yang  sekarang  ini  belum  jadi milikNya.  Ada dua  macam  pimpinan  gereja:  1. Yang  setia  melayani  kawanan domba yang  ada  sampai  mati.  2.  yang  mau  melihat  juga  pada kelompok  yang  belum  jadi milikNya.  Kalau keduanya  tak dijalankan dengan seimbang, gereja tak  akan  bertumbuh dengan  sehat.  Memang,  banyak  gereja  hanya  mementingkan  domba-domba  yang ada:  merawat, membimbing,  mendidik, memelihara  mereka  sampai  mati. Dan  ada juga gereja  yang  jemaatnya  terus  bertambah,  tapi  tak  dirawat,  tak  dididik; terlantar. Yesus membuat  keduanya  jadi  seimbang:  you should  protect, defend,  nurture  those sheep.  But I still  have  another  sheep, which  is  still  far far away.You should bring them back.  Gereja  Reformed  di seluruh  dunia  melakukan  dosa  besar  dalam  hal memelihara  doktrin  dengan  ketat,  tapi  kurang  menginjili.  Maka  gereja  Presbiterian, gereja Reformed  tak  menghasilkan  penginjil yang  berkuasa dalam penginjilan.  Itulah yang menyebabkan  A.B. Simpson,  meninggalkan  gereja  Presbiterian, mendirikan C&MA,  Billy  Graham  mendirikan  Billy Graham  Crusade.  Maka  saya  mendirikan gerakan  Reformed  injili. Karena  kalau  hanya  Reformed  dan  tak menginjili,  kita  tak memperluas  Kerajaan  Tuhan.  Tapi  jika  kita  hanya  menginjili  dan  tak  menjaga  gawang  akan  lost our  battle,  menyimpang  dari iman   sejati.  Memang  sangat  sulit untuk memelihara kualitas  sekaligus  kuantitas,  merangkul yang di dalam  dan menggapai yang di luar.  Maka  pendeta-pendeta  kita,  kadang  karena giat  memimpin KKR Regional,  tak  cukup  waktu untuk  memelihara  MRI, GRII  yang  mereka gembalakan.  Bagaimana  kita  dapat  mengimbangi  keduanya?  Sulit,  tapi  itu  penting sekali.  Karena Tuhan mencipta  manusia yang  sisi kanan dan kiri hampir  sama. Leonardo da Vinci, Michael Angelo  menyadari, the ballance between the right side and  the  left  of your phisical body makes the beauty as a whole. 
Saat Yosua lanjut usia,  Tuhan menegur dia:  “Joshua, you already  very old, but  still many places not  reach  yet”.  Saya  juga  takut kalau-kalau  Tuhan  berkata:  “Stephen Tong,  kerjamu  terlalu  sedikit,  sebab  masih  ada  banyak orang  di luar sana  yang belum mendengar  injil,  dan kau  sudah  harus  kembali padaKu.  Itu sebab,  sekalipun  banyak rekan  menasehati:  “Stephen, please slow down”  jawab  saya:  “no, I am following my God .  So you, young people  should hurry up.  I only need  more  sleep, but  do  not advise me to  slow down.  Karena  setiap  hari  ada begitu  banyak  bayi  yang lahir,  tapi  begitu  sedikit yang  percaya  Yesus.  How can we slow down? Bahkan  kata Yesus:  “Aku  masih  punyai  domba-domba  yang  lain ”;  bukan  hanya  yang  di sini saja. Dimana?  Belum  nampak.  Mengapa  belum nampak?  Karena  masih di luar sana,  still a lot of  predestinated Christian, not yet show up.  Kapan mereka  muncul?  In the coming future.   Maka Predestination is not a  hindrance,  but  is an assurance for the result of evangelization.  Karena  Allah  telah  menetapkan dan  memilih,  maka  penginjilan  yang kita  jalankan  pasti  akan membuahkan  hasil.  Jadi,  no way to be lazy, kendor, mengampuni  diri  sambil  melalui  hidup dengan  bersantai-ria,  menunggu  saat  naik sorga dengan  limosin.  Kita  harus  bekerja  lebih  giat, sampai  Tuhan  berkata:  “hai semua  yang  letih-lesu, mari  datang  kepadaKu. Aku  memberimu istirahat;  sabat yang kekal.  Itu sebab, saat banyak orang tak mau mengerjakan apa-apa di hari  Sabat, saya justru  bekerja  lebih  berat  dari  orang lain. Karena  bagi  saya,  sabat  adalah:  1.  Menikmati damai sejahtera  Tuhan  di sedalam-dalamnya hati saya.  2.  Penuh sukacita, karena  menyaksikan hasil  dari  jerih lelah  saya.  3.  kelak,  saat  masa hidup  saya  di dunia  ini  berakhir,  akan  menikmati that Sabbath di sana.  Kata  Yesus, Aku  masih punya domba-domba yang  harus  Ku  tuntun,  mereka  mengenali  suaraKu dan  akan menjadi satu  dengan  kawanan domba  yang  sudah  ada, digembalakan  oleh  satu Gembala. Artinya: the unreach and the reach, the one who had  already  in  and  those who were  not yet  in  should  combine  into one  body.  The Universal church  is ini making,  it  will keep growing,  and  the  group which had been  reach and  the group which had not  reach  yet  will  one day be  unite in  one  —  itulah  gereja  yang  kudus dan Am; the holy Catholic  church. Kiranya  Tuhan  memberkati  kita, memelihara domba-domba  yang  sudah  ada, dan  terus berjuang  guna  meraih domba-doma  yang masih berkeliaran di luar, amin?
(ringkasan ini belum dipe riksa oleh pengkhotbah – EL)

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/11/gembala-yang-baik-bagian-ii/

Tiada Gunanya Merasa Tidak Adil

Pada dinasti Han, ada 3 orang menteri yang bernama Zhi jian, Zhang Hong dan Gong Suntang. Meskipun 3 orang tersebut pada Dinasti Han dalam waktu yang sama menjadi menteri, tetapi situasi dan latar belakang mereka sangat berbeda.

Zhi Jian pertama datang ke ibukota menjadi pejabat, karena dia berpendidikan tinggi dan pintar, dia langsung diangkat menjadi menteri. Sedangkan Zhang & Gong mereka berdua sejak awal dari seorang pejabat posisi rendah, tetapi karena mereka rajin dan berprestasi oleh sebab itu mereka dipromosikan langkah demi langkah sampai kemudian menjadi menteri.

Walaupun pangkat Zhi sama tinggi dengan mereka berdua, tetapi karena Zhi ada seorang yang picik, melihat mereka berdua dari pejabat rendahan diangkat menjadi menteri, timbul iri hati, dia selalu mencari kesempatan mengadukan kejelekan mereka berdua dihadapan raja.

Pada suatu hari raja sedang berjalan-jalan di taman bunganya. Zhi lalu berpikir ini kesempatan bagus saya harus mempergunakannya, lalu dia bergegas berjalan mengejar raja dan berkata, “Paduka, ada sesuatu yang perlu saya sampaikan kepada paduka, apakah padaku bisa memberikan saya sedikit waktu?”

Raja bertanya, “Ada masalah apa? Coba ceritakan.” Zhi lalu berkata, “Paduka apakah paduka pernah melihat para petani menumpuk kayu bakar? Mereka selalu menumpuk kayu yang baru di bagian bawah, kayu yang lama diletakkan dibagian atas,  apakah baginda tidak merasa hal ini sangat tidak adil untuk kayu yang lama?” Raja sedikit tidak mengerti memandang kepada Zhi, “Engkau menceritakan hal ini apa artinya?”
Zhi berkata,: ”Coba paduka lihat, orang yang seperti Zhang dan Gong seorang pejabat kecil, menurut kepintaran dan senioritas mereka dibawah saya, tetapi mereka berdua yang belakangan menjabat sudah menjadi menteri, seharusnya pangkat saya lebih tinggi dari mereka, paduka dalam hal mempromosikan pejabat seperti petani tersebut menimbun kayu bakarnya bukankah demikian?”

Raja setelah mendengar perkataan Zhi sangat tidak senang, dia merasa Zhi demikian naïf, melihat masalah hanya dari permukaan saja, sangat tidak rasional. Sebenarnya raja sangat ingin memarahi Zhi, tetapi karena mengingat Zhi adalah menteri tua, raja hanya bisa menahan emosinya, tanpa berkata sepatahpun membalikkan badannya meninggalkan Zhi. Sejak saat itu raja tidak pernah lagi meminta saran pada Zhi, maka jabatannya tetap sama selamanya, tidak mungkin naik pangkat lagi.

Ketika Anda menemukan ketidak adilan dan frustasi, siapa yang akan muncul didalam benak Anda? Jika Zhi seperti orang yang dicerita diatas, hanya bisa menyalahkan dan iri hati kepada orang lain tidak mencari kedalam hati sendiri, mencari kekurangan diri sendiri, maka akan selamanya tetap ditempat yang sama tidak akan menemukan kebahagiaan dan peningkatan jiwa.

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/11/tiada-gunanya-merasa-tidak-adil/

Gembala Yang Baik (Bagian I)

Nats : Yoh. 10 : 6 – 15
Di bagian pertama dari Yoh.10 Yesus berkata: Aku adalah pintu. Tekanan utamanya: Aku adalah Dia yang kekal. Sama seperti jawaban Allah pada Musa saat dia bertanya, siapakah namaMu, agar aku bisa menjawab orang-orang yang bertanya padaku, siapa yang mengutus kau: “I am who I am, Aku ini self exist, ada dari kekal sampai kekal”. Mengisyaratkan bahwa Allah tak mengenal: kemarin, sekarang atau yang akan datang. Karena Dia adalah Pencipta waktu, Dia tak dikendalikan oleh proses waktu — satu konsep yang tak pernah ada di semua agama, filsafat ataupun kebudayaan manusia yang berada di dalam proses waktu: punya hari kemarin yang sudah berlalu, punya hari esok yang belum datang, punya masa sekarang yang sebentar lagi akan berlalu. Hanya Allah yang ada di atas waktu, kekal, self exist dan selama-lamanya tak akan berlalu. Contoh: kalau saya naik pesawat dari Semarang ke Palembang. Tak lama setelah take off, saya bertanya pada pilot: “sekarang kita berada di mana?” Jawabnya: “Semarang, sudah lewat, Jakarta, di bawah kita, Palembang, belum tiba” — statemen itu bisa disalah-mengerti oleh orang-orang yang tak di atas pesawat: orang Semarang berang waktu mendengar statemen Semarang sudah lewat pasti dan menimpali: apanya yang lewat, Semarang masih ada. Begitu juga dengan orang Jakarta, waktu mendengar Statemen: Jakarta ada di bawah kita tentu akan protes: apa maksudmu, Jakarta ada di bawahmu? Orang Palembang yang paling tak terima: mengapa kau mengatai kami belum tiba? Padahal apa yang dikatakan pilot itu tidak salah. Mengapa? Karena dia mengatakannya di atas pesawat yang terbang dengan kecepatan tinggi. Sementara orang-orang yang ada di kota-kota itu melewati hidup mereka di dalam proses waktu yang sangat lambat bila dibandingkan dengan waktu tempuh pesawat.

Kalau diteruskan, mau tak mau harus menyinggung teori Relativisme dari Einstein. Apakah Relativisme yang paling kontras? Allah yang kekal vs proses waktu di dalam dunia ciptaan. Seperti yang Alkitab katakan: bagi Allah, seribu tahun sama dengan satu hari, satu hari sama dengan seribu tahun. Jadi, siapakah kita? Orang yang lahir puluhan tahun silam, yang sekarang ini masih hidup, dan berapa tahun atau berapa puluh tahun lagi akan mati. Setiap tahun saat saya bercermin, selalu menemukan diri semakin dan semakin tua; paras ganteng di masa muda semakin sirna. Tapi kalau tahun ini saya tak mau berfoto, tahun depan pasti lebih jelek lagi. Karena kita memang berada di dalam proses waktu. Bukan Allah yang ada dari kekal sampai kekal — statemen yang Yesus pakai di dunia, saat Dia memproklamirkan diriNya. Masalahnya: orang Ibrani tahu, hanya Allah yang boleh mengatakan statemen itu, maka ketika mereka mendengar Yesus memperkenalkan diri dengan statemen itu, terjadilan pergolakan dalam konsep mereka: Kau ini orang Galilea; orang Nasaret, berani-beraninya Kau mengatakan: Aku adalah pintu, Aku adalah kebenaran, Aku adalah jalan, Aku adalah kebangkitan, Aku adalah hidup, Aku adalah hidup kekal — statemen statemen yang mengisyaratkan diriNya adalah Allah yang kekal, yang masuk ke dalam sejarah manusia. Injil Matius, Markus, Lukas memang tidak mengangkat proklamasi-proklamasi Yesus itu secara jelas. Tapi Yohanes, menegaskan kebenaran yang kekal dan sangat penting, yang menyatakan Yesus Kristus adalah Allah. God is not a truth or the subject disoursed by men. He is the subjectivity of the truth in person. Pada waktu Yesus mengatakan: “Aku adalah pintu”, Dia mengacu pintu yang membawa manusia memulihkan relasinya dengan Allah yang sudah terputus. Siapakah orang pertama yang menyinggung soal pintu yang menghubungkan Allah dan manusia? Yakob. Setelah dia melarikan diri dari Esau, malam harinya dia bermimpi, dan saat bangun dia berkatakan: “inilah pintu sorga, inilah Bait Allah”. Jadi, kali pertama Alkitab menyebut Bait Allah, tak ada sangkut pautnya dengan bangunan. Maka sebutan Bait Allah bukan mengacu pada bangunan Bait Allah; gereja yang terbuat dari tanah, batu, besi beton…. Karena kata Paulus: “kamu adalah Bait Allah”, karena Allah tinggal dalam kita. Hari ini, orang-orang Karismatik mempercayai satu tahayul: semua benda yang ada lukisan atau ukiran bermotif naga itu setan, harus dihancurkan. Apakah yang salah dengan konsep ini? Mematerialisasikan setan, roh jahat. Padahal, setan suka diam di dalam hati, tubuh manusia, bukan bersembunyi di piring, guci…. tapi orang-orang Karismatik dan Little Flock, begitu melihat benda yang bermotif naga langsung merobek, memecahkan atau membuangnya. Tapi kemudian terjadi dua perkara yang membuat mereka mengalami Schizophrenic. Karena di atas uang 50 dollar Singapore versi lama terdapat gambar naga. Lalu apakah mereka juga merobeknya? Tidak, mereka simpan dan gunakan, tanpa menyinggung soal setan. Begitu juga waktu mereka menginjili di Kalimantan, menghancurkan semua benda yang bermotif naga. Tapi ketika mereka menemukan, ada banyak orang dayak yang mau percaya Yesus itu tubuhnya ber-tatoo naga, apakah mereka juga menguliti orang-orang itu? Tidak. Memberi mereka pakaian guna menutupi tatoo naganya.

Jadi, iman kepercayaan atau interpretasi Alkitab yang salah memang dapat membuat seseorang jadi Schizophrenic, karena imannya tak konsisten. Dan seharusnya, kebenaran bukan membelenggu tapi membebaskan manusia. Tapi saat Yesus yang adalah Allah jadi manusia, manusia tak dapat menerima. Suatu kali, di sesi tanya jawab, ada orang yang mengajukan pertanyaan: mengapa orang Kristen menjadikan seorang manusia sebagai Allah, hanya karena Dia bisa melakukan mujizat? Saya mengawali jawaban saya dengan statemennya: “apa? hanya karena Dia bisa melakukan mujizat, bisakah kau melakukan mujizat? Tak mungkin. Karena mujizat hanya dapat dilakukan oleh Allah; mujizat adalah tanda yang membuat manusia mengenali bahwa Dia (yang melakukan mujizat itu) adalah Allah. Sayang, setelah Yesus melakukan mujizat dengan begitu nyata di depan mereka, mereka tetap tak mengenali bahwa Dia adalah Allah. Ingat, saat seorang berpendapat: “Allah tak mungkin jadi manusia” dan menjadikan pendapat itu sebagai imannya, dia tak mungkin menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadinya. Demikian juga orang yang mengira setan bersembunyi di dalam bejana; mencampur-aduk roh dengan materi, dia akan menghancurkan benda peninggalan budaya. Karenanya orang Yahudi tak dapat menerima Yesus Kristus yang adalah Allah datang dengan tubuh jasmani; firman jadi manusia yang berdarah-daging. Karena di mata mereka, Yesus adalah anak Maria, tukang kayu dari Nasaret. Mengapa Dia berani mengatakan: “Aku adalah pintu” yang menghantar manusia datang ke hadirat Allah, “Aku adalah Bait itu, hancurkanlah, dan Aku akan membangunnya kembali dalam tiga hari, “Aku adalah jalan”, “Aku adalah kebenaran”, “Aku adalah hidup”, “Aku adalah kebangkitan”, “Aku adalah hidup kekal” —- statemen-statemen yang tak boleh terlontar dari mulut manusia, yang hanya boleh dikatakan oleh Allah, guna menyatakan sifat ilahiNya. Di ay.1-10 Yesus memploklamirkan diri: 1. Aku adalah pintu… Barangsiapa siapa tak masuk lewat pintu pintu, dia adalah pencuri; perampok. Mengapa Yesus mengucapkan statemen ini?

Karena orang Yahudi percaya, Allah akan mengutus Mesias datang. Siapakah Mesias? Di zaman Yesus, ada empat jenis konsep teologi Mesias: 1). Konsep orang-orang yang pulang dari penawanan di Babel. 2). Konsep pedagang Yahudi yang tersebar di kerajaan Gerika dan kerajaan Roma. 3). Konsep para scholar di Aleksandria, di Mesir. 5). Konsep para scholar di Yerusalem. Memang konsep detail masing-masing aliran itu berbeda, tapi prinsip dasarnya sama: Mesias pasti punya sifat militer, politik, balas dendam, kebangsaan. Keempat konsep ini membelenggu mereka, membuat mereka siang-malam berseru seru: datanglah Mesias, selamatkan negera kami, kalahkanlah tentara Roma, pulihkanlah tahta Daud, tingkatkanlah martabat bangsa kami.
Ironisnya: ketika Mesias sejati datang, mereka justru berkata: Dia tak sama dengan Mesias yang ada di konsep kami, salibkan Dia. Benarkah Yesus Kristus itu Mesias? Ya. Apakah Dia Penyelamat; Penebus? Ya. Penyelamatkan yang bagaimana? Kata Malaikat pada Yusuf: “Maria akan melahirkan seorang anak, namailah anak itu Yesus. Karena Dia akan menyelamatkan bangsaNya dari dosa”. Jadi, siapakah yang Yesus selamatkan? Orang Israel mengira: kamilah yang akan Dia selamatkan. Tapi kehendak Allah berbeda: menyelamatkan semua umatNya. Maka kata mereka “kalau Kau bukan datang untuk menyelamatkan bangsa kami, menyingkirlah dari kami”. Apakah Yesus memang berperang? Ya. Tapi Dia bukan berperang dengan manusia, melainkan memimpin manusia berperang dengan setan, pesuruh setan dan kuasa kegelapan. Maka di mata orang Yahudi, Yesus yang sampai mati tak punya bala tentara, juga tak mengalahkan kerajaan Roma. Apalagi Yesus selalu berbicara tentang kasih, tak pernah menyemangati bangsaNya bangkit melawan kerajaan Roma, maka Dia bukanlah Mesias yang kami mau. Apa maksud dari semua kejadian ini? Manusia menantikan Mesias, tetapi konsep Mesias mereka sama sekali berbeda dengan Mesias yang Allah karuniakan.
Yesus berkata: “semua yang datang sebelum Aku adalah pencuri, perampok”. Siapa sih yang Yesus maksudkan? Ternyata setelah kitab Maleaki selesai ditulis; lengkaplah Kitab P.L., ada tenggang waktu empat ratus tahun, dimana Allah tak mengutus nabi ke tengah-tengah bangsa Israel, membuat mereka jadi bangsa yang sangat kasihan, gagal total secara: 1. Agama, Bait Allah dibakar oleh musuh. 2. Negara, mereka ditawan ke Babel, ke Assyria. 3. Bangsa, keturunan mereka bukan bangsa Yahudi yang tulen.   Karena banyak dari antara mereka yang kawin campur dengan bangsa kafir,  dimana  mereka    ditawan. 4. Raja mereka: Herodes, juga bukan bangsa Israel, melainkan bangsa Edom. Karenanya bangsa Israel sangat mengharapkan kedatangan Mesias untuk menyelamatkan mereka, tapi saat Mesias yang Allah utus tiba, mereka tak mengenaliNya, karena Dia begitu berbeda dari konsep Mesias yang mereka punya. Bahkan sebelum Yesus datang ke dunia, sudah ada dua ratus sekian orang yang mengaku-ngaku diri sebagai Mesias. Padahal palsu. Itu sebab, Yesus harus mengatakan statemen ini: “semua yang datang sebelum Aku adalah pencuri, perampok”. Memang, bangsa Israel dapat mengenali para mesias palsu itu, tetapi saat mereka menyamakan Mesias sejati sebagai Mesias palsu bahkan menyalibkan Dia. Mereka telah melakukan kesalahan terbesar, kegagalan agama terbesar di sejarah: membuang Yesus. Tapi Alkitab memang sudah sejak dini menubuatkan: batu yang dibuang oleh tukang batu itu ternyata adalah batu penjuru. Orang Yahudi menolak Yesus, tapi Allah menjadikanNya sebagai dasar gereja. Dan orang-orang yang dapat menerobos sifat manusia Yesus menemukan sifat IlahiNya, mereka dapat mengenali mujizat yang Dia lakukan menandakan Dia adalah Allah. Tapi ternyata, diantara pemimpin agama Yahudi, hanya ada satu orang, yang datang menemui Yesus dan berkata: “kami tahu, kalau Allah tidak menyertaiMu, tak ada seorang dapat melakukan mujizat yang Kau lakukan”. Siapakah yang mengatakan statemen itu? Nikodemus. Jadi, pemimpin agama Yahudi yang punya hati nurani menemukan: Yesus adalah Allah. Tapi yang tak punya hati nurani, justru menjadi sombong karena posisi mereka di bidang agama, mereka berani menolak, menentang bahkan menganiaya Dia. Selain Nikodemus, di injil Yohanes masih terdapat seorang Yahudi yang dapat mengenal: Yesus memang berbeda. Padahal dia dan Nikodemus, bukan murid yang Yesus panggil, Nikodemus adalah wakil dari orang yang berkedudukan tertinggi di bidang agama. Dan orang ini berasal dari lapisan masyarakat terrendah: orang buta yang matanya dicelikkan (Yoh.9). Katanya: “kami tahu, kalau Dia tak diperkenan Allah, mana mungkin Dia mencelikkan mata orang yang buta sejak lahir? Satu perkara yang tak pernah terjadi, sejak dunia dicipta. Jadi, hanya Nikodemus dan orang buta itu yang dapat mengenali dengan sungguh: Yesus adalah Mesias. Tapi mendengar statemen orang buta itu, mereka bukan saja tak terketuk hatinya, malah menegur dia: kau yang lahir sebagai orang yang total berdosa berani mengajari kami? Lalu mengusirnya dari rumah ibadah. Itulah yang di kemudian hari dituliskan oleh Richard Niebuhr: mengapa orang Yahudi menyalibkan Yesus? Karena mereka tahu, keberadaan Yesus adalah ancaman terbesar bagi kebudayaan Yahudi.
Kalau mereka membiarkan Yesus terus hidup, kebudayaan Yahudi pasti punah. Tapi kalau mereka mau mempertahankan kebudayaan Yahudi, Yesus harus dienyahkan. Dan mereka memilih opsi kedua: menyalibkan Yesus. Karena sangka mereka, setelah Yesus mati, pengikutNya juga punah. Tapi apakah faktanya memang seperti itu? Tidak! Pekerjaan Allah tak akan pernah berhenti. Barangsiapa berniat menentang Allah, dialah yang punah, bukan Anak Allah. Hal kedua yang Yesus kemukakan di Yoh.10, “Aku adalah gembala yang baik”; Aku adalah Gembala Agung dari domba-dombaKu. Apa sih yang Dia maksudkan? Dia memberitahu kita: siapa itu dombaNya? Domba yang mengenali suaraKu. Karena domba yang bukan milikKu tak mengenali suaraKu. Yesus Kristus sama dengan Yohanes pembaptis dalam hal: Yohanes pembatis mengumandangkan suara pertobatan di padang gurun, Yesus Kristus mengumandangkan suara Allah yang kekal di dunia. Barangsiapa mendengar dan mau taat, dia adalah dombaNya.
Barangsiapa mendengar tapi tak mau taat, dia bukan dombaNya. Dan kataNya: gembala yang baik menyerahkan nyawa bagi dombanya. Puji Tuhan, relasi kita dengan Allah terjalin, karena Yesus menyerahkan nyawa dan membawa kita jadi domba Allah, lalu Dia memimpin kita dan menggembalakan kita, membimbing kita. Permisi tanya, apakah kita ini milik Kristus dan dengan dasar apa kita menjadi milikNya? Ingat:  bukan karena kita yang memilih Dia, maka kita jadi milikNya. Karena kata Yesus: “bukan kamu yang memilih Aku, Akulah yang memilih kamu”. Allah selalu berinisiatif, Dia tak pernah pasif. Dengan dasar apa kita jadi dombaNya? Karena Dia telah menyerahkan nyawaNya, menumpahkan darah untuk menebus kita. Puji Tuhan. Hari ini kita jadi anak-anakNya, bukan karena jasa atau syarat kita, melainkan karena Dia yang terlebih dulu mengasihi kita, mencari kita, mencurahkan menyerahkan jadi korban penebusan bagi kita. Puji Tuhan! Maka hari ini, biarlah kita jadi orang yang yang datang ke hadiran Allah lewat Dia, mengenal Dia adalah Juruselamat yang mati bagi kita dan membubuhkan meteraiNya, menandakan bahwa kita adalah milik yang telah Dia beli dengan darahNya yang kudus.
Di Yoh.10 ini, Yesus juga memploklamirkan diri: Gembala yang baik. Sekaligus mengungkap akan dua jenis pekerja: a. Gembala. b. Orang upahan. Siapakah orang upahan? Orang yang bekerja demi uang. Siapakah gembala? Orang yang menggembalakan domba dengan kasihNya. Kemarin seorang tamu berada di sini sampai + jam 22. 00, dia bertanya pada saya: “mengapa sudah selarut malam ini, masih ada orang yang bekerja di office gereja?” Jawab saya: “kami punya banyak rekan-rekan kerja yang bekerja tanpa memperhitungkan waktu dan upah. Apa maksudnya, orang yang bekerja demi uang, datang ke office jam 9.00 dan pulang jam 17.00, tak mau tahu apa-apa. Tetapi orang yang bukan bekerja demi uang, saat ada kesempatan melayani Tuhan lebih banyak, tentu tak akan hitung-hitungan. Meski mungkin dirinya mengalami kesulitan ekonomi, atau tak punya banyak uang juga tidak dia permasalahkan. Saya tak pernah melihat seorang ibu berkata pada anaknya: “karena uang belanja yang ayahmu berikan bulan ini sedikit, maka aku tak akan mengurusmu” atau “sekarang jam 16.00, aku mau istirahat, kau main sendiri saja” atau “kalau kau sakit, cari saja orang untuk menemanimu ke dokter, aku mau pulang”. Karena orang yang mengatakan perkataan-perkataan seperti itu adalah pembantu, bukan ibu. Jadi, mana boleh kita menurunkan derajat diri sendiri? Saya berani mengatakan semua ini, karena saya melakukan lebih banyak pekerjaan, lebih berjerih lelah dari kalian semua. Seorang pendeta pernah bertanya pada saya: “are you the pastor of this churh?” “yes” “are you desain this building?” “yes” “are you conduct the orchestra?” “yes” “are you also teaching and preaching to the congregation?” “yes” “how could it be?” “it be”; itulah fakta yang ada. “berapa banyak honor yang mereka berikan padamu?” “honor? Saya bukan orang upahan, saya adalah gembala. Dan semua yang saya lakukan adalah pekerjaan Tuhan. Karena setiap kali mengadakan konser harus menombok begitu banyak dana. Jadi, apa salahnya kalau saya conduct sendiri dan tak mengambil barang satu peserpun. Bukan saja demikian, bahkan delapan puluh persen dari honor saya, saya pakai untuk pekerjaan Tuhan. Karena di sejarah dunia, tak pernah ada orang yang mengasihi Tuhan mati kelaparan, juga tak pernah ada orang yang menjadi miskin karena memberi persembahan. Karena Allah yang kita sembah, adalah Allah yang hidup dan yang sejati, amin? Kata Paulus, “kalau ada orang cinta Tuhan, Tuhan tahu orang itu”. Dan lanjutnya: “kalau ada orang tidak cinta Tuhan, dia pantas dikutuk”. Hari ini, di dalam gereja terdapat ada dua macam orang, dua macam pendeta, penginjil, dua macam majelis, penatua: yang satu punya kasih, melayani dengan senang hati. Yang lain, kalau tak mendapat nama, profit…., tak mau menunaikan tugasnya.
Kata Yesus Kristus: Aku adalah gembala yang baik, bukan orang upahan. Orang upahan bekerja demi uang, maka saat upahnya kurang, dia akan kabur. Saat srigala, singa datang, mengancam keselamatan domba-domba yang dia gembalakan, dia tinggalkan kawanan domba itu dan kabur. Tapi tidak demikian dengan gembala, waktu srigala, singa datang, dia tak akan membiarkan binatang buas itu mencabik-cabik dombanya. Itulah yang Daud katakan pada raja Saul: “waktu singa datang memangsa domba, aku merebut domba itu dari mulutnya dan membunuhnya”. Karena dia mengasihi kawanan dombanya. Mengapa ada banyak gereja yang harus tutup pintu? Karena ada banyak sekolah teologi yang memproduksi orang upahan bukan gembala.  Banyak orang studi teologi, bukan mau melayani Tuhan, melainkan ingin mendapat gelar, punya pekerjaan yang baik, yang meningkatkan martabat dirinya di tengah masyarakat. Tapi saya memberitahu anda, yang ingin melayani di GRII, pada awalnya, honormu pasti lebih sedikit dan pekerjaanmu pasti lebih berat dibandingkan di gereja lain. Allah akan mengujimu selama beberapa tahun, melihat dimanakah hatimu, relakah kau menderita bagiNya, maukah kau memikul salib? Karena hanya orang-orang yang seperti inilah seumur hidup jadi hamba Tuhan yang baik. Mana mungkin Kristus; Gembala Agung kita meninggalkan kawanan dombaNya? Itulah yang Yesus perlihatkan pada saat Dia ditangkap, kataNya: “kalian datang untuk menangkap Aku, bukan? Biarkan mereka pergi”. Karena Dia memang mengasihi murid-muridNya, bukan memikirkan diri sendiri. Itu sebab, marilah kita minta Tuhan menolong kita, agar semua orang di GRII bukan jadi orang upahan, melainkan meneladani Kristus, rela menyangkal diri, memikul salib, karena mengasihi kawanan domba. Dengan begitu, berkat Tuhan buat GRII akan semakin hari semakin besar. Tahun lalu, Tuhan memberi kita kesempatan untuk menginjili enam ratus delapan puluh sekian ribu orang, menandakan hamba-hamba Tuhan di gereja ini telah melakukan banyak pelayanan. Tapi kalau kau tanyakan pada mereka: “apakah kalian merasa sukacita?” Tentu akan dijawab: “sangat bersukacita. Karena ternyata, Tuhan mau memakai kita sedemikan rupa, membawa berkat bagi sekian banyak remaja”. Dan sukacita seperti itu tak mungkin dapat kita beli dengan uang. Waktu kita memasukki tahun yang baru ini, tentu diperhadapkan dengan tantangan yang lebih besar, kita harus membayar harga yang lebih besar. Apa jadinya kalau karena keterbatasan kita, tak mampu mewujudkan rencanaNya? Berdoa, minta Tuhan bangkitkan lebih banyak orang. Kemarin, kita mempersembahkan tempat ibadah yang baru di Cibubur. STEMI ingin membantu dua ratus juta rupiah. Seorang majelis Kelapa Gading berkata: “dulu, STEMI pernah memberi bantuan tiga ratus juta untuk kami, sekarang kami mau mengembalikan enam ratus juta rupiah” “saya akan mengalihkannya pada yang lain”. Mereka senyum-senyum. Karena mereka melakukan semuanya dengan senang hati, meski tak mendapat balasan juga tak masalah. Karena setelah seorang digerakkan oleh kasih Tuhan, dia akan menggerakan lebih banyak orang dengan kasihNya. Dan kalau setiap orang yang punya kasihNya juga punya jiwa gembala, pekerjaan Tuhan akan terus berkembang. Puji Tuhan! Kiranya Tuhan memberkati kita.
 (ringkasan ini belum dipe riksa oleh pengkhotbah – EL)

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong