Kamis, 11 Agustus 2011

Pengetahuan

Manusia : Peta Teladan Allah (Part-10)

Gereja seharusnya tidak menurunkan standar Alkitab demi menyenangkan banyak orang agar mereka mau datang ke gereja. Gereja yang berbuat seperti itu, semakin besar semakin malu; semakin banyak pengikutnya semakin mempermalukan Tuhan, karena dia mengorbankan apa yang dituntut oleh Tuhan dan menyenangkan manusia berdosa. Itu sebabnya Theologi Reformed tidak memakai metode pembuktian untuk membawa manusia mengenal firman Tuhan tetapi memakai presuposisi (suatu pra-anggapan berdasarkan Firman Tuhan) dan dengan iman kepada wahyu Tuhan.

Dalam tema sebelumnya kita membicarakan bahwa Allah itu Mahakuasa. Oleh karena itu Paulus mengatakan: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Fil. 4:13). Inilah sebenarnya puncak aktualisasi diri yang mungkin manusia kerjakan. Seluruh peta teladan Allah yang digali berpuluh-puluh tahun dalam hidup kita akan bisa menjadi jelas di dalam Alkitab. Kini kita akan masuk ke dalam tema berikut, yaitu Kemahatahuan Allah. Kemahatahuan Allah menjadi landasan, sumber, rangsangan, dan potensi bagi manusia untuk mau mengetahui segala sesuatu. Ada beberapa ayat yang membawa kita kepada tema ini:

1. Mazmur 139:1-6

Ayat 6: “Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.” Aku tidak bisa mengetahui bagaimana Engkau mengetahui aku. Jadi, pengetahuan Tuhan yang dipikirkan dan ditangkap oleh pemazmur adalah akibat dari pewahyuan Roh Kudus atas dirinya, dan itulah yang membuat ia bisa mengenal Allah. Dia tahu bahwa Tuhan tahu segala sesuatu, dan dia tahu bahwa apa yang dia tahu tentang pengetahuan Tuhan itu, tidak mungkin dia tahu. Ini kalimat paradoks yang besar.

Pengetahuan manusia yang berada di bawah pengetahuan Tuhan Allah adalah pengetahuan yang mengetahui kemahatahuan Allah dengan pengetahuan manusia yang terbatas. Manusia bisa tahu, tetapi bukan berarti manusia maha tahu. Tidak ada agama atau kitab apapun yang memiliki kedalaman pengetahuan yang ditulis 1.000 tahun sebelum Kristus ini. Ini adalah pengertian manusia tentang Allah yang paling puncak.

2. Yohanes 2:23-25

Ayat ini membicarakan pengetahuan Kristus terhadap manusia yang mau percaya kepada Tuhan dengan segala motivasi yang tidak benar. Kristus tidak membutuhkan saksi, tidak membutuhkan pengajaran atau pengertian dari orang lain tentang diri seseorang di hadapan Allah. Ia mengetahui itu langsung dari hati mereka.

3. I Korintus 2:11

Yang mengetahui tentang Allah dengan akurat hanyalah Roh Allah. Roh Allah memahami segala sesuatu dari Allah. Roh yang berasal dari Allah memberitahukan pada kita apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Kita melihat bahwa pengertian tentang Allah itu hanya melalui Roh Allah. Sebagaimana mengerti manusia hanya melalui roh manusia yang mengenal manusia, demikian pula melalui Roh Allah kita dapat mengenal Allah, karena Roh Allah mengerti dan masuk ke dalam segala rahasia Ilahi itu sendiri.

Berdasarkan ayat-ayat ini kita melihat bahwa baik Allah Bapa, Allah Anak, maupun Allah Roh Kudus adalah Allah yang mengetahui segala sesuatu. Pada ayat yang ketiga memberitahukan kepada kita bahwa Roh menyelidiki dan Roh mengetahui segala sesuatu tentang rahasia Allah, sehingga pengetahuan-pengetahuan yang berada di dalam diri Allah Tritunggal adalah pengetahuan yang komprehensif. Tuhan telah memberikan suatu unsur di dalam diri manusia untuk boleh mengetahui sesuatu. Unsur ini adalah salah satu aspek peta teladan Allah. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dicipta menurut peta dan teladan Allah, yang mengetahui begitu banyak hal sebagaimana manusia telah menjadi wakil, menjadi bayang-bayang, menjadi satu simbol, dan menjadi representatif daripada Allah yang Mahatahu.

Karl Barth mengatakan manusia ingin menginjakkan kaki di atas gunung tertinggi, ingin menembus lautan yang paling dalam, dan manusia ingin mengetahui segala sesuatu. Tetapi pengetahuan-pengetahuan ini tidak lebih penting daripada pengetahuan mengetahui diri sendiri untuk bagaimana diri hidup di dalam Tuhan Allah. Socrates mengatakan, “Manusia ingin menyelidiki segala sesuatu, tetapi apa gunanya jikalau manusia tidak mengenal diri sendiri.” Semua buku yang ditulis para filsuf sebelum Socrates mempunyai 2 tema yang paling besar: 1) on the nature, dan 2) on the principle. Keduanya mencakup seluruh pengertian yang ingin diketahui manusia. Manusia belajar tentang Fisika, Astronomi (Ilmu Perbintangan), Fauna, bahkan Aristotle menulis buku yang berjudul ‘On the Move of Animal’. Dia mempelajari bagaimana kuda melangkah, atau ikan berenang, sampai bagaimana kucing mencakar. Tetapi jika hal ini dikaitkan dengan kalimat Socrates tentang “mengetahui dirimu sendiri”, setelah mengetahui diri dan segala sesuatu yang bergerak di dalam dunia binatang, maka ada perubahan yang besar di dalam arah epistemologi. Sebelum Socrates, manusia terlalu sedikit mengetahui diri, tetapi mengetahui di luar terlalu banyak. Manusia makin mengetahui yang di luar semakin terkait dan berbaur dengan lingkungan.

Semakin mengetahui ada kemungkinan melepaskan atau men-disintegrasi-kan hidup manusia dengan lingkungannya, makin tidak ada tempat di dalam dirinya untuk mengetahui diri. Seperti suatu ruangan kamar semakin diisi barang banyak semakin sedikit untuk oksigennya. Semakin studi banyak makin kehilangan arah, semakin mengetahui science, teknologi, semakin kehilangan diri. Itu sebab pentingnya Socrates untuk mengembalikan pengetahuan kepada satu arah yang sangat mendasar, yaitu mengetahui diri sendiri terlebih dahulu. Mengetahui diri sendiri akan menjadi dasar menemukan kunci dan pondasi pengetahuan yang lain. Ini adalah rangsangan dari Socrates. Orang Gerika sebelumnya tidak menyadari pentingnya hal ini, baru sejak saat itu dimulainya anthropologi, introspeksi diri dari anthropologi, pengertian-pengertian tentang makna hidup etika dan menuju ke mana arti hidup di dalam dunia ini. Semua ini menjadi suatu penggalian baru, wilayah yang baru. Seperti juga Søren Kierkegaard membuka lembaran baru sistem epistemologi setelah dipuncakkan oleh Hegel. Ia membongkar dan membawa kembali kepada pemikiran yang mendasar. Kedua orang ini mempunyai persamaan di dalam memutarkan seluruh arah dari zaman menuju kepada hal yang paling mendasar yaitu Kenallah Dirimu.

Alkitab mengatakan bahwa, “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.” Socrates, yang menerima wahyu umum, hanya bisa mencapai pengertian “mengenal diri adalah awal pengetahuan.” Bijaksana adalah menguasai pengetahuan, mengarahkan pengetahuan, dan melampaui pengetahuan. Pengetahuan hanya merupakan inti dari bijaksana, dan bijaksana adalah arah bagi inti. Dengan demikian, kita kembali kepada seluruh pengertian yang begitu hakiki tentang sifat manusia yang dicipta oleh Tuhan. Tuhan yang mengetahui segala sesuatu, maka Tuhan lebih mengenal diri manusia. Mengenal diri manusia melalui Allah yang lebih mengenal diri manusia menjadi suatu keharusan mutlak (the absolute necessity). Ketika saya merancang gedung gereja, maka sayalah yang paling mengetahui seluruh bentuk dan kekuatannya. Demikian juga Tuhan mendesain manusia, Dia jauh lebih mengetahui diri manusia daripada manusia mengetahui dirinya sendiri. Inilah kelemahan anthropologi. Saya pikir, semua filsuf adalah orang-orang yang menganggap diri pandai dan mereka berusaha menulis sesuatu yang mereka ketahui, tanpa standar dan tanpa pengesahan dari Tuhan. Karena mereka mengetahui sedikit lebih daripada orang-orang yang mengetahui tentang dirinya, maka mereka dianggap hebat, dikagumi, dan dianggap guru bijaksana untuk memimpin diri manusia. Setelah saya menyelidiki lebih dalam lagi, saya mengetahui semua filsuf gagal mengetahui banyak hal, bahkan gagal mengetahui diri mereka sendiri, karena mereka tidak mengikuti prinsip dan tidak mencakup pengertian sesungguhnya tentang apa yang telah dibuat oleh Tuhan di dalam pengertian epistemologi bagi umat manusia. Itulah sebabnya begitu banyak orang menilai diri secara samar, kesalahan diri sendiri secara samar, dan mereka menghabiskan hidup, nanti setelah mati baru tahu bahwa apa yang diketahui tentang diri, Allah, alam, dan relasi semuanya adalah menyeleweng. Itulah sebabnya Theologi Reformed, yang berusaha mengembalikan iman kita kepada prinsip-prinsip dasar di dalam Alkitab, yang berusaha memberikan perbedaan kualitatif antara mengerti dari sudut pandangan Tuhan dan dari sudut pandangan manusia yang berdosa. Di Reformed Institute Washington, saya mengatakan bahwa ada tiga hal yang menyebabkan manusia tetap berada dalam kelemahan yang tidak mungkin diterobos, yaitu: Kita semua created, limited, polluted (dicipta, terbatas, tercemar). Maka, bagaimanapun juga rasio pengertian kita tidak akan dapat menerobos ketiga kelemahan ini. Ini bukan untuk melemahkan kita, tetapi memotivasi supaya kita mengenal dengan akurat keadaan kita dan tidak menembus batas menjadi congkak, dan merampas kemuliaan Allah.

Dengan pengertian ini kita kembali kepada Tuhan dan kita mengatakan: saya mau tahu segala sesuatu. Keinginan mengetahui segala sesuatu adalah ekspresi peta teladan Allah, tetapi juga sesuatu ambisi yang perlu diberi kesadaran oleh Tuhan, sehingga kita tetap berada di dalam keterbatasan sebagai manusia. Kecuali Tuhan yang mengetahui secara mutlak, tidak ada manusia yang mahatahu secara mutlak. Mazmur mengatakan: Aku tahu bahwa Engkau tahu; Aku mengetahui bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu di dalam diriku, tetapi aku mengetahui pengetahuan semacam ini terlalu tinggi bagiku sehingga aku tidak dapat melampaui, tidak bisa mencapai.

Kita sadar bahwa kita perlu wahyu, tanpa wahyu tidak ada penerobosan pengertian kita. Wahyu yang disebut die Enthüllung (Jerman), revelatio (Latin), revelation (Inggris), dan apokaliptus (Gerika) berarti dibukanya rahasia. Wahyu berarti dibukanya sesuatu yang menutupi, sehingga kita melihat. Di hadapan Tuhan kita tidak mungkin mengetahui diri kita sendiri, karena kita sudah terpolusi. Sebagai ciptaan, kualitas kita berbeda dengan Allah Pencipta. Limitasi menjadikan kita tidak mungkin sama dengan Allah yang tidak terbatas. Dan polusi mengakibatkan kita tidak mungkin kembali kepada zaman sebelum Adam berbuat dosa. Mau tidak mau kita membawa ketiga kondisi ini ke dalam dunia epistemologi, sehingga kita selalu berada di dalam kurang tepat, kurang akurat, kurang sempurna, dan seterusnya, dan kita tidak mengetahui dengan baik.

Allah bukan mengetahui segala sesuatu yang dicipta saja melainkan Allah juga mengetahui tentang segala sesuatu yang akan terjadi. Allah bukan saja mengetahui keseluruhan umat tetapi juga sampai kejadian detik terakhirnya. Dalam Yesaya dikatakan satu tantangan yang besar dari Tuhan Allah kepada umat Israel, “Dengan ilah (dewa) mana engkau membandingkan Aku.” Kalimat tantangan yang kedua, “Siapa di antara semua dewa seperti Aku, sehingga Akulah satu-satunya yang mengetahui segala sesuatu secara pasti sampai pada hari terakhir.” Ini menjadi tantangan yang berbeda sekali dibanding semua dewa dan agama. Tuhan mengetahui dari permulaan sampai detik terakhir. Ini adalah Epistemologi Komprehensif yang melintasi keterbatasan zaman. Pengetahuan Sejati yang lebih tinggi daripada proses sejarah.

Allah mengatakan Akulah Alfa dan Omega. Pada umumnya, pengetahuan kita berkait dengan kuantitas, tetapi pengetahuan Allah meliputi totalitas dari awal sampai akhir. Akibatnya, manusia yang dicipta mempunyai kesadaran sejarah dan kesadaran melampaui waktu. Kesadaran ini akan menimbulkan pengharapan. Kesadaran ini menyebabkan manusia tidak puas dan mau menuju ke kesempurnaan yang dijanjikan Tuhan. Alkitab mau supaya orang Kristen memiliki pengetahuan melampaui pengetahuan-pengetahuan yang terbatas. Dalam satu edisi Reader’s Digest dikatakan: “Syukurlah Da Vinci tidak masuk sekolah saat itu, karena dengan demikian dia tidak dibatasi.” Da Vinci mengatakan bahwa pengetahuan berasal dari pengamatan yang teliti. Manusia mempunyai kemungkinan menggali diri, mengamati segala sesuatu dan mendapatkan pengetahuan yang luar biasa banyaknya dan luar biasa kayanya, karena ini potensi yang diberikan Tuhan.

Ada tiga wilayah besar pengetahuan yang harus kita garap: 1) Di bawah manusia; 2) Di dalam diri manusia; 3) Di atas diri manusia. Ketiganya harus diselidiki bersamaan. Pengertian-pengertian kebenaran itu adalah kekayaan. Pengetahuan yang Tuhan ingin untuk dimiliki oleh anak-anak-Nya adalah kekayaan yang sejati. Alkitab mengatakan: “Simpanlah baik-baik segala sesuatu tentang Kristus dengan kaya di dalam hatimu. Dengan segala bijaksana, dengan segala cara engkau menyimpan tentang bijaksana Kristus ke dalam hatimu. Bertumbuhlah di dalam anugerah dan kebenaran.” Kristus datang ke dalam dunia membawakan iman kepercayaan yang sejati, kebenaran, dan anugerah. Satu lukisan Paul Gaugin di Boston Museum diberi judul: “Engkau dari Mana? Siapa Engkau? Ke mana Engkau Pergi? Ini sebenarnya kalimat theologis, pertanyaan anthropologi yang paling mendalam dan hanya mungkin dijawab oleh firman Tuhan. Tidak ada filsuf yang bisa menjawab, hanya Tuhan Allah yang bisa menjawab. Secara makna sains terlalu rendah. Untuk mengetahui dunia ciptaan (di bawah manusia) kita bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih akurat; untuk mengerti diri dan sesama, itu lebih sulit; dan untuk mengetahui Tuhan Allah adalah pengetahuan yang tertinggi dan tersulit.

Paulus memuncakkan satu kalimat: “aku mengenal Siapa yang aku percaya” sebagai solusi terakhir di dalam epistemologi orang Kristen. Agustinus mengatakan bahwa dia ingin mengetahui dua hal saja: ‘Siapa Allah’ dan ’Apa itu jiwa’. Calvin mengatakan dalam ‚Institute of Christian Religion’: “Antara mengenal Allah dan mengenal diri, aku tidak tahu mana yang harus lebih dahulu, tetapi keduanya terkait sangat erat.” Paulus menyimpulkan: “Aku tahu siapa yang kupercaya dan aku tahu Dia akan memelihara apa yang kuserahkan kepada Dia sampai hari Tuhan.” Ini mengingatkan kita bahwa tidak ada batasnya kita mencari kebenaran. Orang yang rendah hati akan terus menerus tidak membatasi diri mau mencari kebenaran. Amin.

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong
Sumber : http://www.buletinpillar.org/transkrip/manusia-peta-teladan-allah-bagian-10#hal-1

Tidak ada komentar: