Rabu, 29 Juni 2011

Sistem Pengukuran Kinerja


Pada tahun 1992, Robert S Kaplan dan David P Norton di Harvard Business Review pempublikasikan sebuah artikel berjudul "Balanced Scorecard - Measures that Drive Performance". Pengukuran kinerja yang dimaksud disini tidak hanya kinerja keuangan, tetapi mencakup pula kinerja dari aspek-aspek lain seperti proses bisnis internal (operasional), sumberdaya manusia, organisasi, dll. Pengukuran kinerja non keuangan ini menjadi penting karena dalam dekade terakhir ini nilai perusahaan, berdasarkan penelitian, lebih didominasi oleh nilai intangible asset ("a legal claim to some future benefit, typically a claim to future cash. Simply put, an intangible asset is an asset that is not physical in nature) meliputi copyrights, patents, intellectual property, goodwill, brands, trademarks, ideas, dan relationships daripada tangible asset. Selanjutnya, hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah keterkaitan hubungan sebab akibat antara berbagai indikator kinerja dari tiap-tiap aspek tersebut harus jelas, sehingga dapat diperoleh suatu sistem pengukuran kinerja yang terintegrasi.

Artikel tersebut merupakan laporan dari serangkaian riset dan eksperimen terhadap beberapa perusahaan di Amerika serta diskusi rutin dua bulanan dengan wakil dari berbagai bidang perusahaan sepanjang tahun itu untuk mengembangkan suatu model pengukuran kinerja baru. BSC dikembangkan sebagai sistem pengukuran kinerja yang memungkinkan para eksekutif memandang perusahaan dari berbagai perspektif secara simultan.

Sorecard terdiri atas tolok ukur keuangan yang menunjukkan hasil dari tindakan yang diambil sebagaimana ditunjukkan pada tiga perspektif tolok ukur operasional lainnya; kepuasan pelanggan, proses internal, dan kemampuan berorganisasi untuk belajar dan melakukan perbaikan.

Dalam perkembangan selanjutnya, sistem pengukuran kinerja yang terintegrasi tersebut harus terkait dengan strategi perusahaan. Norton dan Kaplan menekankan pentingnya pemilihan indikator kinerja yang berdasarkan strategi perusahaan dalam artikel kedua mereka dalam Harvard Business Review “Putting the Balanced Scorecard to Work” (September-Oktober 1993) serta artikel-artikel berikutnya. Berbagai pengalaman dari perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan sistem Balanced Scorecard juga mengakui bahwa tanpa adanya keterkaitan dengan strategi perusahaan, implementasi Balanced Scorecard sebagai sistem pengukuran kinerja akan sia-sia. Dengan demikian, Balanced Scorecard berkembang lebih jauh menjadi instrumen untuk menjabarkan strategi pada level operasional yang sekaligus berfungsi sebagai sistem manajemen strategik.

Dalam artikel ini, Kaplan & Norton menunjukkan bagaimana beberapa perusahaan menggunakan BSC. Pengukuran yang efektif harus merupakan bagian yang integral dari proses manajemen. BSC merupakan sistem manajemen yang dapat memotivasi berbagai temuan perbaikan pada area-area seperti produk, proses pelanggan dan pengembangan produk.

Beberapa perusahaan seperti: Rockwater, Apple Computer, dan Advanced Micro Devices mengilustrasikan bagaimana scorecard mengkombinasikan pengukuran & manajemen di beberapa perusahaan yang berbeda.

Dari pengalaman perusahaan-perusahaan tersebut Kaplan & Norton akhirnya menyimpulkan bahwa BSC akan paling sukses ketika digunakan untuk mendorong proses perubahan.

Mulai pertengahan tahun 1993, perusahaan konsultan yang dipimpin oleh David P. Norton, Renaissance Solution, Inc., menerapkan Balanced Screcard sebagai sarana untuk menerjemahkan dan mengimplementasikan strategi di berbagai perusahaan kliennya. Sejak saat itu, BSC tidak saja digunakan sebagai sistem pengukuran kinerja namun berkembang lebih jauh lanjut sebagai sistem manajemen strategis. Keberhasilan pemanfaatan BSC tersebut dilaporkan dalam sebuah artikel di Harvard Business Review (Januari-Februari 1996) dengan judul: “Using Balanced Scorecard as a Strategic Management System”.

Artikel ini menjelaskan bagaimana suatu perusahaan harus berkompetisi dalam era informasi sekarang ini dengan meningkatkan kemampuannya dalam mengeksploitasi intangible assits, lebih baik dari sekadar mengelola tangible assets-nya.

Penjelasan sekilas tentang proses kelahiran BSC tersebut dimaksudkan agar pandangan keliru tentang BSC dapat diluruskan. Dalam suatu forum diskusi para akuntan mengemukakan pandangan bahwa BSC lebih sebagai teori yang pantas untuk didiskusikan di bangku akademik; yaitu pernyataan kontradiktif dari proses kelahiran BSC itu sendiri (yang justru lahir dari praktik di lapangan). Hal ini sekaligus menggambarkan suatu kegamangan bahwa BSC hanyalah untaian konsep yang manis didengar tetapi sulit diterapkan. Barangkali, pantas apabila beberapa tokoh di Indonesia yang mencoba menerapkan konsep ini pada perusahaan, tampak “trenyuh” melihat sambutan praktisi Indonesia yang masih meragukan penggunaan konsep BSC. Poinnya adalah bahwa BSC sesungguhnya lahir dari dunia praktis. Adapun keraguan akan bekerjanya BSC bagi penyelamatan bisnis adalah sisi lain dan menjadi fakta yang absah belaka. Jangankan keraguan yang datang dari mereka yang belum sepenuhnya memahami BSC, bagi mereka yang telah lama berkecimpung dengan implementasi tetapi salah dalam memandang fungsinya (sebagaimana penjelasan Kaplan dan Norton), niscaya akan gagal mengimplementasikan BSC.

Balanced Scorecard mendidik manajemen dan organisasi pada umumnya untuk memandang perusahaan dari kurang lebih empat perspektif: keuangan, pelanggan, pembelajaran dan pertumbuhan, serta bisnis internal, yang menghubungkan pengendalian operasional jangka pendek ke dalam visi dan strategi bisnis jangka panjang. Selanjutnya manajemen didorong untuk memfokuskan diri pada rasio-rasio kunci yang kritis dan strategis melalui stretch target yang ditetapkan bersama. Dalam pandangan BSC, suatu operasi harian dengan pengaruh yang signifikan bagi kelangsungan hidup masa depan, dianggap strategis sehingga perlu mendapat perhatian dan pengamatan yang serius sepanjang waktu. Rasio-rasio kunci itulah yang kemudian menjadi unik ketika BSC membuat “menu” berupa scorecard untuk menggabungkan antara tolok ukur rasio kunci keuangan dan non-keuangan membentuk jalinan strategi yang koheren.

Pengertian Balanced Scorecard

Untuk sebagian mereka yang telah lama bergelut dengan ide BSC sekalipun, bukan hal yang mudah untuk mendefinisikan BSC. Mengapa demikian? Dalam proses pembelajaran dan komunikasi yang dibentuk oleh media dan berbagai laporan ilmiah tentang penerapan BSC, para praktisi maupun akademisi lebih banyak disodori kasus yang menunjukkan berbagai wilayah yang berbeda di mana BSC dimanfaatkan. Karena luasnya area implementasi BSC dalam konsep bisnis, maka suatu definisi kadang kala terasa sempit dibandingkan dengan fungsi BSC yang sesungguhnya. Sementara, untuk menyepakati suatu definisi yang bisa menaungi seluruh wilayah di mana BSC bekerja; tidaklah mudah. Untuk itu, pendekatan apa pun dalam rangka mensosialisasikan BSC hendaknya dipandang sebagai suatu upaya untuk menjabarkan konsep BSC per bagiannya. Alhasil definisi yeng lengkap mengenai BSC pada hakikatnya adalah paparan BSC itu sendiri dalam keseluruhan buku ini.

Kata benda “score” (Olve, dkk., 1999) merujuk pada makna: “penghargaan atas poin-poin yang dihasilkan (seperti dalam permainan)”. Dengan konteks sebagai kata kerja, “score” berarti “memberi angka”. Dengan makna yang lebih bebas, scorecard (juga) berarti suatu kesadaran (bersama) di mana segala sesuatu perlu diukur. Pengukuran menjadi suatu hal yang vital sebelum kita melakukan evaluasi atau pengendalain terhadap suatu obyek. Obyek di sini bisa berarti suatu entitas bisnis, organisasi, korporat, divisi, unit, tim, atau bahkan individu. Sesuatu yang ingin kita kendalikan atau kita evaluasi perlu diukur. Jika suatu entitas bisnis perlu dikendalikan, maka diperlukan tolok ukurnya. Dengan demikian, yang dimaksud sistem pengendalian meliputi pengendalian segi entitas bisnis dari tingkatan tertinggi hingga level terendah, individu dalam organisasi. Jadi, ketika kita bicara tentang Balanced scorecard, di mana terdapat tambahan kata “balanced” di depan kata “score”, maksudnya adalah bahwa angka (grade) atau “score” tersebut harus mencerminkan keseimbangan antara sekian banyak elemen penting dalam kinerja. Pada dasarnya, kata “keseimbangan” tersebut meliputi makna yang tak terbatas. Apa pun predikat yang melekat pada fenomena kehidupan dan manusia pada umumnya, keseimbangan selalu menawarkan solusi yang paling pas dari berbagai perspektif. Dalam kajian religi, keseimbangan adalah salah satu konsep utama kehidupan, relasi ketuhanan dan mekanisme pergerakan seluruh isi alam raya sehingga keberlangsungan hidup tetap ada. Ini berarti, keseimbangan dalam screcard memiliki basis yang kuat secara filosofis.

Menurut Kaplan dan Norton sendiri (1996), Balanced Scorecard merupakan:

“… a set of measures that gives top managers a fast but comprehensive view of the business…includes financial measures that tell the results of actions already taken…complements the financial measures with operational measures on customer satisfaction, internal processes, and the organization’s innovation and improvement activities—operational measures that are drivers of future financial performance.”

Sementara, Anthony, Banker, Kaplan, dan Young (1997) mendefinisikan Balanced Scorecard sebagai: “a measurement and management system that views a business unit’s performance from four perspectives: financial, customer, internal business process, and learning and growth.”

Dengan demikian, Balanced Scorecard merupakan suatu sistem manajemen, pengukuran, dan pengendalian yang secara cepat, tepat, dan komprehensif dapat memberikan pemahaman kepada manajer tentang performance bisnis. Pengukuran kinerja tersebut memandang unit bisnis dari empat perspektif, yaitu perspektif keuangan, pelanggan, proses bisnis dalam perusahaan, serta proses pembelajaran dan pertumbuhan. Melalui mekanisme sebab akibat (cause and effect), perspektif keuangan menjadi tolok ukur utama yang dijelaskan oleh tolok ukur operasional pada tiga perspektif lainnya sebagai driver (lead indicators).

BSC juga kerap dianalogikan semacam “dashboard mobil” atau “cockpit pesawat terbang”, untuk menggambarkan bagaimana seorang “pengemudi atau pilot organisasi” perlu diberi data yang “real time”, akurat, dan relevan dengan tujuan “kendaran atau pesawat organisasi”. Di masa lalu, perhatian organisasi yang tertumpu pada kepentingan pemilik modal mengakibatkan perspektif keuangan, sebagai cara pandang yang bisa digunakan pemodal, kerap digunakan untuk mengukur keberhasilan kinerja manajemen dan mengabaikan kinerja aspek non-keuangan lainnya. Dengan berbasis tolok ukur keuangan dalam pengukuran kinerjanya, manajemen secara otomatis menginstalasi sistemnya dengan basis tolok ukur, sehingga pengambilan keputusan organisasi dapat selaras dengan sistem pengukuran tersebut. Dalam berbagai riset dan penelitian yang mendalam, pengambilan keputusan yang berbasis keuangan, yaitu nota bene diambil dari sistem informasi akuntansi, ternyata banyak mengiringi manajemen untuk berorientasi pada kepentingan jangka pendek dan tak jarang memaksa mereka untuk melakukan moral hazard dengan melakukan rekayasa ulang (reengineering) kinerja atau laporan akuntansi.

Ibarat cockpit pesawat terbang, memberi pilot hanya dengan satu informasi saja, misal, ketersediaan bahan bakar atau ketinggian pesawat saja, maka sudah pasti hal ini sangat tidak memadai bagi pilot untuk bisa mengoperasikan pesawat agar selamat sampai tujuan. Perancang pesawat harus mampu menganimasikan suatu kebutuhan informasi yang paling relevan bagi keselamatan dan kenyamanan pesawat. Lalu diciptakan sistem dan teknologi informasi agar sarana perolehan kebutuhan data atau informasi dapat tersedia. Data tentang ketersediaan bahan bakar, kinerja mesin, dan sejenisnya, dapat diperoleh dari internal organisasi. Sementara, data seperti tekanan udara, ketinggian, deteksi pusaran angin, cuaca, dan sejenisnya didapat dari lingkungan eksternal. Jika informasi-informasi tersebut dianggap kritis (key success factor) bagi pengambilan keputusan dan keselamatan organisasi, maka sudah selayaknya pilot dan copilot serta kru terkait harus disuplai dengan informasi tersebut.

Sebagai kerangka kinerja operasionalisasi strategi, penjabaran visi, misi, dan strategi ke dalam empat perspektif BSC dimaksudkan untuk menjawab empat pertanyaan pokok berikut ini.

  • Bagaimana pandangan para pelanggan terhadap perusahaan? (perspektif pelanggan)
  • Proses bisnis apa yang harus ditingkatkan/diperbaiki perusahaan? (perspektif proses bisnis internal)
  • Apakah perusahaan dapat melakukan perbaikan dan menciptakan nilai secara berkesinambungan? (perspektif inovasi dan belajar)
  • Bagaimana penampilan perusahaan di mata pemegang saham? (perspektif keuangan)

BSC juga memberikan kerangka berfikir untuk menjabarkan strategi perusahaan ke dalam segi operasional. Sebelum BSC diimplementasikan, pada saat penyusunan (building) BSC, terlebih dahulu dijabarkan dengan jelas visi, misi, dan strategi perusahaan dari top-management perusahaan, kerena hal ini menentukan proses berikutnya berupa transaksi strategis kegiatan operasional.

Dengan BSC, tujuan suatu unit usaha tidak hanya dinyatakan dalam suatu ukuran keuangan saja, melainkan dijabarkan lebih lanjut ke dalam pengukuran bagaimana unit usaha tersebut menciptakan nilai terhadap pelanggan yang ada sekarang dan masa datang dan bagaimana unit usaha tersebut harus meningkatkan kemampuan internalnya termasuk investasi pada manusia, sistem, dan prosedur yang dibutuhkan untuk memperoleh kinerja yang lebih baik di masa mendatang.


Dari berbagai sumber diantaranya : http://www.scorecardcrazy.com/ ;http://jurnal-sdm.blogspot.com/ ; http://www.keuanganlsm.com/

Selasa, 28 Juni 2011

EKSES KEJATUHAN MANUSIA KE DALAM KEBUDAYAAN


Alkitab bukan hanya membicarakan soal masuk sorga dan soal kepercayaan saja. Alkitab juga mengajar kita memakai prinsip firman Allah yang orisinil untuk menyelesaikan masalah – masalah yang timbul, baik di bidang politik, masyarakat, seni dan lain – lain. Kita perlu memahami bukan hanya sistematika teologi tradisionil yang membahas tentang keselamatan, Kerajaan Allah, dan rencana Allah yang kekal, tetapi juga topik – topik yang berkenaan dengan konsep politik, konsep nilai, konsep kebudayaan, maupun konsep sejarah.

Kita yang hidup di dalam dunia ini tidak dapat menghindari pembahasan semacam ini, karena konsep dasar dapat secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi reaksi hidup kita. Bila kita merenungkan secara mendalam dan mempunyai pemahaman konsep yang tepat, maka kita akan menjadi orang kristen yang mampu memuliakan Allah dan membawa berkat bagi sesama.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka : “ Beranak cuculah dan bertambah banyak ; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan -–kan di laut dan burung – burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. “ TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkan dalam taman eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. ( Kejadian 1 : 28 dan 2 : 15 ). Istilah cultivate (LAI : mengusahakan) yang terdapat dalam ayat ini adalah hubungannya dengan istilah culture. Berarti, manusia diciptakan menjadi mahluk yang mempunyai sifat kultur.

Jika kita memandang sejarah sebagai satu sistem sirkulasi, kiat akan menemukan bahwa di dalam sistem dan sirkulasi ini terdapat definisi – definisi yang seolah – olah tidak nampak namun sebenarnya ada. Bagaimana sirkulasi ini terjadi ? Pada saat seorang yang bijaksana mendisiplinkan tindakan yang kurang bijaksana, maka keprimitifan akan di kikis secara perlahan – lahan, sebab itu wisdom is conqueing the Barbarianism. Pendidikan tampil ke permukaan dan membentuk masyarakat yang berbudaya, dan bijaksana mulai melayani penguasa yang dominan. Seorang politikus yang mengerti hal ini kemanusian akan bertekad untuk merebut dan menguasai orang – orang yang berbijaksana untuk melayani ambisi mereka. Ambisi politik terdapat dalam diri para pemimpin yang bengis, yang menganut pemikiran diktator. Padahal kuasa diktator secara mutlak akan menjadi penghancur kuasa politik. Pada saat kuasa kuasa tertinggi hancur kembalilah irama sejarah pada Barbarisme yang mendominasi kuasa politik yang tertinggi. Sirkulasi ini berlangsung sampai abad XX dan berkembang menjadi satu pengharapan bahwa demokrasi dapat menyelesaikan masalah ini.

Demokrasi perlu di bangun di atas dasar neutral information ( informasi yang netral, tidak terdistorsi) dan pendidikan kultur, secara menyeluruh. Dengan demikian barulah demokrasi bisa berkembang. Namun hal seperti ini adalah idealisme yang tidak mungkin. ( Bagi saya, kemengan demokrasi mungkin sekali merupakan wujud pemikiran Barbarisme dari orang – orang zaman modern. Jangan heran apabila suatu hari kelak kita menemukan negara Amerika – yang mempunyai hikmat dan pengetahuan tinggi – akan jatuh ke dalam tangan orang – orang yang menyebut dirinya demokrat tetapi memberikan toleransi terhadap perdagangan narkotika, homoseksual, aborsi, dan lain – lain. Hal tersebut terjadi karena pada saat pemilihan Presiden sang calon kuat kalau – kalau rakyat tidak mau mendukungnya, sehingga dengan terpaksa dia harus mengadakan toleransi untuk bisa memperoleh kemenangan pada saat pemilihan. Dengan demikian sebenarnya dia telah mengganti demokrasi dengan kuasa).

Di tengah – tengah sistem sirkulasi ini sejarah menunjukkan bahwa kebudayaan yang manusia bangun dengan susah payah telah membuat diri sendiri berada dalam satu krisis, suatu masalah yang mendalam dan serius.

Siapakah manusia ? Berapa pentingkah nilai sifat manusia ? Berapa potensi dan krisis sifat manusia ? Berapa besar potensi dan krisis sifat manusia ? Sesungguhnya manusia mempunyai potensi yang cukup untuk memahami masalah krisis ini hanya di dalam terang firman Tuhan, yang bahkan dapat menembus dan memahami sampai sedalam – dalamnya. Jadi seharusnya kristenlah satu – satunya yang dapat memberi penjelasan akan krisis ini. Jika kekristenan hanya meraba – raba masalah superfisial yang manusia temui tiap – tiap hari dan tidak menemukan prinsip dasar yang Allah wahyukan, maka sumbangsih kekristenan terhadap dunia hanya untuk menghadapi kesementaraan dan tidak mampu bertahan lama.

Adakah unsur kejatuhan manusia di dalam dosa juga mencakup dalam kebudayaan ? Apakah kebudayaan di hasilkan setelah sejatuhan ? Atau kebudayaan sendiri mempunyai kemungkinan untuk mencegah datangnya kejatuhan ? semua ini merupakan hal yang istimewa.

Ketika pemerintah menganjurkan rakyat untuk ber KB, mereka mengira ber KB dapat menyelesaikan ekonomi dan masyarakat. Maka mereka memakai berbagai alasan untuk menunjang ketetapan ini. Tapi 10 – 20 tahun kemudian, waktu mereka menemukan mayoritas rakyatnya adalah ‘manula‘ mereka kembali memberi semangat kepada rakyat untuk melahirkan banyak anak, sementara rakyat sudah terlanjur tidak suka mempunyai banyak anak. Saat mereka menemukan arah sejarah sudah susah di kembalikan, mereka baru menyesal akan keputusan yang pernah mereka tetapkan.

Lalu apakah setiap kali strategi dan aksi masyarakat yang kita pilih akan selalu menelurkan kesalahan – kesalahan yang baru di sadari pada kemudian hari ? ini hanya salah satu contoh untuk memikirkan apakah kejatuhan sendiri memang sudah tercakup di dalam kebudayaan.

Dari buku – buku dan hasil pemikiran rasio manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa, kita tidak berhasil menemukan penyebab kejatuhan. Hanya di dalam firman Tuhan kita menemukan sebab utama dari semuanya ini.

Ketika kuasa politik berubah, ketika sistem dan cara pendidikan telah tersingkirkan, ada hal-hal yang lebih mendalam dan yang sama sekali tidak berubah, yaitu :
1. Kebudayaan/kultur
2. Agama

Hal yang bersifat kultur dan agama selalu melampaui hal yang bersifat politik, masyarakat, ekonomi dan pendidikan. Komunis yang ingin mendongkel ajaran Konfusionisme justru binasa sendiri, dan pendidikan. Komunisme dan atheisme yang mengunggulkan konsep kosmologi mereka sebagai kebenaran yang mutlak dan memakainya untuk menyerang sistem pemikiran lama serta memperalat kuasa politik untuk memperoleh posisi yang menguntungkan. Tapi taktik politik bukanlah hal yang kekal. Tatkala komunisme dan atheisme sudah lenyap, kultur dan agama tetap ada. Yang membinasakan, tetapi yang dibinasakan tetap berada.

Allah adalah pencipta manusia yang adalah gambar dan rupaNya, sifat manusia yang memiliki gambar dan rupa Allah itu mencapai sampai puncaknya dengan memiliki dua sifat besar : sifat kebudayaan dan sifat agama. Manusia disebut manusia, karena manusia mempunyai sifat kultur dan sifat agama, dengan demikian barulah manusia bisa hidup mandiri, bisa melampaui alam, mengalahkan alam, kecuali sampai pada hari di mana batasan yang alam berikan kepadanya telah sampai. Manusia bukan hanya hidup selama beberapa puluh tahun di dunia, setelah manusia manusia meninggal, sifat kultur masih bisa berpengaruh bagi generasi berikut, sedangkan sifat agamanya membawa dia pulang ke tempat kekekalan dengan sejahtera.

Dari manakah datangnya sifat kultur dan sifat agama yang telah membentuk manusia ? Singkatnya memang ada secara alami. Begitu manusia lahir, dia sudah mempunyai sifat agama dan sifat kultur. Tetapi perhatikan bahwa tujuan dari sifat agama dan sifat kultur tidak bisa disejajarkan dengan alam. Jika kultur adalah produk alam, maka kultur tidak mungkin menjadi alat untuk menguasai alam. Jika sifat agama adalah produk alam, mengapa agama sering kali melampaui, menentang dan bahkan menggeser alam ? Jadi bila yang bersifat agama dan yang bersifat kultur bukan berasal dari alam, pasti hal – hal itu berasal dari sifat yang supra alami.

Itulah sebabnya para ahli ilmu alam seperti Herbert Spencer dan Thomas Henry Huxley, di dalam keheranannya mengatakan kalimat yang istimewa : “Rasio dan hati nurani manusia sama sekali bukan produk evolusi”. Mereka sama sekali tidak memberitahukan dari mana asal ratio dan hati nurani manusia. Mereka hanya secara terpaksa mengakui adanya bagian supra alami di dalam diri manusia.

Kita menemukan dua macam unsur yang sama sekali berbeda telah membentuk sifat manusia kita, yakni : kita mempunyai tubuh yang hampir sama dengan binatang, membutuhkan makanan dan seks ; namun di dalam diri manusia masih terdapat satu unsur lain, yang ikut membentuk bagian yang lebih dalam dan lebih penting, yang bisa membuat kita tidak mengindahkan kemuliaan dan kemewahan dunia, memandang enteng akan kesengsaraan hidup, dan membuat kita mempunyai sifat – sifat transendental, seperti : tidak merasa iri, tidak membenci dan tidak merendahkan mereka yang lebih hina dari kita. Jika manusia hanya mempunyai kebutuhan makan dan seks saja, hidup kita di dunia ini tidaklah memiliki nilai istimewa.

Dari manakah datangnya unsur trasendental itu ? Tidak ada satu kultur yang bisa memberi jawab pada pertanyaan tersebut, karena tatkala manusia mencari tahu kebenaran ini, mereka langsung menetapkan bahwa unsur tersebut adalah produk kultur, sehingga mereka tidak betul – betul mempelajari dari mana unsur itu berasal. Hanya firman Tuhan menguraikan asal usul unsur itu dengan jelas. (sayang, hari ini banyak orang sudah keburu mati sebelum mereka mengerti kekristenan yang benar. Tapi yang paling kasihan adalah orang – orang yang setiap hari memperkenalkan kekristenan kepada orang lain, padahal diri mereka sendiri sama sekali tidak tahu apa – apa. Jadi bukan saja ada orang yang belum sempat memahami sudah mati, ada juga yang belum sempat memahami sudah berani mengajar orang lain, sehingga mereka bukan hanya tidak bisa menunjukkan nilai kekristenan yang sesungguhnya kepada dunia, bahkan diri mereka sendiri juga tidak menikmatinya, dan hidup mereka tentu tidak berbeda dengan mereka yang bergumul dengan alam : tanpa arah dan tanpa prinsip ).

Kultur membuat manusia mau dan harus melampaui alam. Maksudnya, tak perduli di dalam masyrakat yang paling maju teknologinya atau di antara bangsa yang paling primitif dan belum beradab sekalipun, kita akan menemukan sifat yang sama, yang melampaui alam, yang menguasai alam, yang menang atas alam yang memanfaatkan alam, dan yang membuat alam takluk dibawah dirinya.

Inilah yang menyebabkan manusia tidak dapat dimusnahkan oleh binatang buas, karena manusia telah mempunyai kultur dan telah menaklukkan alam, sehingga manusia dapat menggunakan benda sebagai alat, dapat menjadikan hasil tanah sebagai suplai kebutuhan hidup, dan dapat memakai semua fungsi yang transendental ini untuk mengubah prinsip alam sebagai hamba manusia.

Bila kita pergi ke pedalaman, kita menemukan alat – alat mereka pakai, baik yang terbuat dari batu, kayu, bambu yang sangat sederhana, tetapi tetap terdapat hikmat yang tinggi. Orang – orang primitif memakai alat – alat itu untuk memelihara hidup mereka, dan khasiatnya tidak berbeda dengan bom atom yang digunakan oleh manusia modern.

Menaklukkan alam adalah satu fungsi terbesar dari manusia, namun menusia juga menemukan bahwa sifat manusia yang bisa menaklukkan alam ini akan dihancurkan oleh alam. Maksudnya, manusia menaklukkan alam, tapi pada waktu tua dan mati, manusia dikebumikan oleh alam. Jadi sebenarnya manusia yang menaklukkan alam atau alam yang menaklukkan manusia ? Saling menaklukkan dan akhirnya ditaklukkan.

Manusia melampaui alam, tapi akhirnya manusia harus dikebumikan oleh alam. Manusia boleh saja memiliki tanah yang amat luas, tapi yang akhirnya dia peroleh hanyalah sebidang tanah yang luasnya 2 x 1 meter saja. Kultur pada akhirnya telah mendatangkan kehancuran bagi sifat manusia. Betapa ironis !

Lalu muncullah sifat lain yang ingin melebihi sifat pertama, yaitu yang di sebut sifat agama. Sifat agama bukan saja memberikan rasa tanggung jawab moral dan kelakuan, memberikan “ rasa “ kekal yang melampaui ke sementaraan, juga memberikan arah ibadah kepada Dia yang kekal. Lalu apakah akibat dari sifat agama ini ?

Mengharapkan bahwa di balik fakta yang menaklukkan kita dan pengalaman yang kejam itu terdapat sesuatu yang melampaui semua ini, sehingga suatu hari pada waktu kita tinggalkan dunia ini, kita masih tetap berada bahkan sampai selama – lamanya di dalam kebahagiaan yang kekal, di dalam nilai pengharapan yang kekal. Itulah sebabnya segala yang bersifat masyarakat, yang bersifat politik maupun yang bersifat ekonomi tidak mampu membasmi yang bersifat kultur dan agama. Manusia disebut manusia karena dapat melampaui dan menaklukkan alam. Manusia yang hanya bisa menaklukkan alam tidak termasuk orang hebat, tapi mereka yang bisa sungguh – sungguh melampaui alam baru disebut orang hebat. Jadi kita bukan hanya memiliki hukum untuk menaklukkan alam, tapi juga memiliki arah dan hukum kekal. Dengan demikian barulah kita memiliki pengharapan dan arah yang kekal.

Kita telah membahas tentang pentingnya sifat kultur dan sifat agama dengan jelas. Lalu dari manakah sifat agama ? Dari manakah sifat kultur itu ? Kita tidak boleh mengganggap sifat kultur dan sifat agama sebagai produk alam, juga tidak bisa menyebutnya sebagai produk dari proses evolusi. Bukan saja orang kristen menolak pendapat ini, bahkan para ahli evolusi juga mengakui bahwa sifat ini sendiri pasti mempunyai sumber lain, dan sumber ini adalah Allah yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya.

Manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah, jadi keberadaan Allah adalah dasar dari sifat kultur dan sifat agama. Allah adalah sumber utama dari sifat kultur dan sifat agama manusia. Sifat kultur dan sifat agama membuat manusia tidak bisa tidak memikirkan tentang kebenaran – kebanaran penting, seperti keberadaan Allah dan hubungan langsung antara manusia denganNya. Ahli agama memikirkan tentang Allah, para ahli kultur juga demikian. Ahli agama merenungkan tentang relasi manusia dengan kekekalan, ahli kultur merenungkan tentang nilai kekekalan itu sendiri. Ahli agama merenungkan tentang hal – hal yang melampaui alam, ahli kultur juga merenungkan bagaimana menaklukkan alam.

Agama dan kultur mempunyai topik dan wawasan pemikiran yang sama, tapi apakah agama itu kultur, atau kultur itu agama ? Bolehkah kita memperlakukan kultur sebagai agama, atau memperlakukan agama sebagai kultur ? Bolehkah kita mengkulturkan agama atau ‘ mengagamakan ‘kultur’ Apakah agama yang dikulturkan adalah agama murni atau kultur yang sudah diagamakan adala kultur yang murni ? Siapakah yang menetapkan jaminan dari sifat agama ini ? Disepanjang sejarah, manusia terus ‘mengorek–ngorek‘ kultur yang dulu untuk dikukuhkan ulang atau ditolak ulang.

Tatkala orang Spanyol ingin memperingati jasa Columbus yang ke 500 tahun, banyak orang menolak karena menganggap dia sebagai seorang pembunuh, seorang berambisi besar dan seorang perampok. Jadi siapa Columbus, pahlawan atau penjahat ? Ini relatif sekali.
Maka penetapan nilai dari sifat agama dan manusia, penetapan nilai dari sifat agama dan sifat kultur tidaklah dilakukan pada manusia, karena manusia adalah relatif, tidak mempunyai kuasa dan kemampuan untuk memberikan penetapan yang mutlak. Jadi penetapan itu hanya dapat dilakukan oleh Allah.

Apakah dasar dari penetapan itu ? Kedaulatan dan wahyu Allah yang mutlak bijaksanan. Kedaulatan Allah yang mutlak dan wahyuNya yang penuh hikmat bukan saja menetapkan, tapi juga memberikan inspirasi dan menggerakkan. Dengan inisiatifNya sendiri Allah memberikan inspirasi yang berdasarkan kedaulatanNya untuk menyatakan hikmatNya, yang adalah sumber dari kultur. Adapun agama kultur adalah respon manusia terhadap wahyu Allah, yaitu wahyu umum (yang berlainan dengan wahyu khusus ). Wahyu umum lebih berkaitan dengan alam, sementara wahyu khusus berkaitan dengan hal yang bersifat keselamatan. Yang kita bahas sekarang adalah wahyu umum. Pada saat wahyu umum diberikan, manusia memberikan respons, karena manusia adalah satu-satunya mahluk yang dapat memberikan respons kepada Allah.

Pernahkan saudara mengunjungi pameran lukisan, pameran barang – barang seni, pameran sutera, atau pameran barang antik ? Ada sebagian orang yang melihat-lihat lalu pergi, sama sekali tidak memberikan respons, tapi ada yang sambil melihat menyatakan kekagumannya, dan mulai berbicara dan berkomentar. Ini memperlihatkan dia mulai memberikan respons. Pernahkan kita melihat seekor kucing yang bisa berdialog dengan barang – barang seni ? Sekalipun kita membawa seekor anjing yang sangat pandai ke museum seni, dia juga tidak akan memberi respons, karena kemampuan untuk memberi respon hanya ada pada manusia.
Tatkala orang lain sedang membahas sebuah topik yang penting, sudahkah anda menerima apa yang dibahasnya atau anda hanya memperhatikan kesalahan tata bahasanya ?
Manusia yang bisa berespon terhadap wahyu barulah dapat menggunakan sifat manusia yang Allah ciptakan dengan baik.

Mengapa ada orang yang sambil membaca Alkitab sambil mengumpat kekristenan ? karena dia tidak dapat menerima kebenaran yang ada di dalamnya, dia hanya mencari kesalahan saja. Maka orang yang sama sekali tidak tergerak pada saat dia mendengarkan kebenaran yang penting, masalahnya bukan terdapat pada kebenaran itu tapi pada dirinya sendiri.

Wahyu umum yang diwahyukan Allah sudah selayaknya mendapatkan respons, dan manusia adalah satu – satunya mahluk yang dapat memberikan respon terhadap wahyu Allah. Pada saat manusia tidak memanfaatkan fungsi respons ini, hidupnya pasti sangat mekanis, superfisial dan membosankan, sekalipun mungkin dia masih dapat menikmati kebahagiaan dari materi, dari jasmani, dari yang sementara dan yang bersifat sensasi, tapi dia tetap mendapati bahwa hidupnya adalah hampa.
Respon manusia terhadap Allah akan timbul dari dua segi :
1. Respons Eksternal terhadap wahyu umum Allah, yakni timbulnya tindakan kultural atau aktivitas kultural.
2. Respons Internal terhadap wahyu umum Allah, yaitu timbulnya aktivitas agama.

Secara ketat dapat dikatakan, bahwa kultur dan agama adalah respons dasar manusia terhaap wahyu Allah. Jika kita tidak menemukan hubungan dan sebabnya, kita condong menganggap agama adalah suatu hal yang biasa, padahal tidaklah demikian. Renungan yang paling mendalam bagi seorang ahli agama adalah hubungan antara Allah dengan manusia, dan bagi seorang ahli kultur adalah bagaimana memanifestasikan Allah. Dengan demikian agama merupakan satu perasaan yang agak bersifat internal, perasaan yang menerima wahyu, sedangkan kultur merupakan semacam ekspresi eksternal. Sebab itu sebuah karya sastra yang teragung akan mengungkapkan hubungan manusia dengan Allah yang melampaui sejarah dan yang transenden. Demikian juga karya seni yang teragung bukan hanya sekedar mengekspresikan perasaan rohani yang terdapat di dalam sifat manusia, tapi juga mengekspresikan hubungan antara perasaan tersebut dengan Allah. Jelas semua hal yang melampaui alam ini bukan merupakan produk alam, melainkan berasal dari Allah yang transenden. Itulah sebabnya manusia harus berespons terhadap Allah. Inilah yang disebut berasal dari Dia, tergantung pada Dia dan bagi Dia, karena Alkitab mengatakan “manusia diciptakan oleh Allah , melalui Allah, bersandar pada Allah dan bagi Allah” (Roma 11:36).

Pusat dari kultur dan agama adalah hikmat Allah sendiri, sehingga manusia dapat mengenal Allah melalui hakmatnya. Agama dan kultur mencapai puncaknya yang sungguh pada kesadaran akan nilai. Manusia beragama adalah manusia yang mempunyai hikmat. Mereka yang memiliki bakat melukis, bakat mengarang lagu yang agung juga merupakan orang yang memiliki hikmat. Tapi sampai di manakah manusia menuntut akan hikmat ? Lalu siapakah pusat hikmat yang dicarinya? Alkitab langsung memberitahukan kita pusat hikmat adalah Yesus Kristus.
Respons terhadap wahyu umum Allah membuat menemukan tiga jenis kewajiban yang harus dia penuhi :
  1. Kewajiban karena keberadaanku, keberadaan trancending nature, yaitu keberadaan untuk menopang alam. Jadi bukan hanya sekedar mengontrol dan mengatur alam saja, tapi juga memperbaiki alam. Alkitab mengajukan tiga macam prinsip: mengelola, mengatur, dan memperbaiki. Kita mengatur alam, berarti kita harus menjadi tuan atas alam. Kita mengelola alam berarti kita berkewajiban mengurus dan mengatur alam. Kita memperbaiki alam berarti kita berkewajiban memperbaiki, memelihara dan melindungi alam. Memasuki akhir abad XX ini, kita menemukan bahwa krisis karena perusakan alam sudah berada di depan kita, berarti kita tidak melaksanakan prinsip penciptaan Allah yang terdapat dalam kejadian 1 dan 2. Saat kita mencapai puncak dari kemajuan teknologi, kita juga menemukan bahwa manusia tidak berdaya mengatur alam dengan baik, juga tidak berdaya melindungi alam yang indah ini. Jika kultur tidak mengaku telah dikuasai oleh kejatuhan, berarti kultur telah menipu diri sendiri juga menipu orang lain.
  2. Respon terhadap wahyu umum Allah yang kedua adalah begaimana mengurus diri kita sendiri. Bagaimana kita mampu melintasi diri sehingga kita bisa menjadi manusia yang bertanggung jawab, baik terhadap alam, terhadap diri sendiri, terhadap orang lain dan terhadap Allah. Mengatur diri sendiri berada di atas hal mengatur alam.
  3. Karena kuasa mengatur alam dan diri sendiri inilah maka timbullah respons beribadah dan takut kepada Allah. “Saya mau bersyukur kepadaMu karena alam. Saya mau bertanggung jawab atas alam karena Engkau telah mempercayakan soal mengatur alam ini kepadaku. Saya memuliakanMu karena rahasia yang kudapatkan pada saat meneliti alam. Saya merasa kagum terhadap rahasia hikmat dan desain penciptaan yang tersembunyi dalam alam.”
Akibat dari penemuan terhadap rahasia ciptaan adalah rasa takut kepada Allah adalah rasa tanggung jawab terhadap alam. Ini adalah kelakuan yang harus dimiliki oleh seorang ilmuwan. Karena ilmuwan mewakili seluruh umat manusia untuk menemukan fungsi yang Tuhan berikan pada manusia dalam hal mengatur, memahami dan memperbaiki alam. Sedangkan ahli agama mewakili seluruh umat manusia untuk mengembalikan kemuliaan kepada Allah. Dengan demikian, agama dan kultur telah melakukan fungsi yang sebenarnya.

Di dalam proses hukum alam ini, kultur telah berusaha dengan keras, begitu juga dengan agama, namun nyatanya telah terjadi suatu hal yang ironis, yaitu hal yang seharusnya dicapai oleh kultur justru tidak dicapai, demikian juga hal yang seharusnya dicapai oleh agama tidak tercapai dengan sungguh. Berarti di dalam tugas mengatur mengatur alam, manusia menemukan dirinya tidak berdaya menaklukkan alam, juga tidak berdaya menaklukkan diri sendiri. Di dalam proses mengelola dan mengatur alam inilah manusia menjasi perusak alam yang paling hebat.

Di manakah posisi manusia di tengah – tengah alam ini? Apa yang harus dilakukan di bidang kultur? Pada saat orang hutan merusakkan barang kita, atau ketika anjing kita memecahkan barang yang berharga, kita ingin membunuhnya. Tapi di lihat – lihat lagi akhirnya kita mendapati bahwa mereka tidak mempunyai rasio, tidak mempunyai latar belakang kultur, sehingga meskipun kita marah setengah mati tapi tidak bisa berbuat apa – apa. Kuasa merusak alam yang manakah yang lebih hebat : kuasa manusia atau binatang ? manusia mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk merusak alam. Alam semesta hari ini bukan di rusak oleh binatang tapi oleh manusia. Limbah air sungai dari daerah industri yang telah tercemar itu mengalir ke laut dan mengakibatkan semua mahluk di laut di sana menyimpan racun –racun kimia. Bukan saja demikian, hari ini pencemaran udara yang terjadi di kota – kota besar Asia telah beberapa kali lebih parah dari meksiko. Kita tahu soal o – zone, juga soal pembabatan hutan – hutan tropis semua di sebabkan oleh ulah manusia. Alah berfirman, “ Hai manusia kelolalah alam, aturlah alam.” Tapi sudahkah manusia mengelola alam dengan sukses ? Tidak ! Sudahkah manusia sukses dalam hal menaklukkan alam ? Sudah menaklukkan sebagian, tapi sudah congkak sebelum mengalami banyak kegagalan, mereka mulai marah terhadap Allah.

Apakah artinya tidak berhasil menaklukkan alam? Dan apakah artinya tidak berhasil menaklukkan dan mengatur alam? Mengapa kuasa pengrusakan kita terhadap alam demikian besar ? Hanya ada satu jawaban: kejatuhan manusia dalam dosa merupakan sebuah fakta. Jika kejatuhan bukan merupakan fakta, mengapa hari ini terjadi ketidak – seimbangan yang begitu parah ? Akhirnya tibalah pada kesimpulan : Di manakah posisi manusia yang sebenarnya ? Jika posisi asal manusia berada dalam sifat kebinatangan yang mengerikan itu, seharusnya kita akan merasa sangat bangga terhadap keberhasilan kita. Tapi apakah posisi asal manusia memang demikian ? Jika benar, lalu adakah keberadaan yang di sebut evolusi di dalam proses sejarah kita yang begitu panjang ? Mengapa PL sama sekali tidak menyinggung akan pandangan ini ? Alkitab orang kristen memberitahukan bahwa leluhur kita lebih tinggi dari kita. Meskipun hati ini ada keberhasilan yang hebat di bidang kultur, ilmiah dan teknologi, tapi tidak mampu membawa manusia kepada posisi asal pada saat diciptakan.

Apakah lawan kata dari kejatuhan ? Evolusi. Sebab itu evolusi bukan saja merupakan topik ilmu alam, juga merupakan masalah teologi. Kita memang tidak boleh sembarangan mengkritik ilmiah, karena hal tersebut tidak dilakukan oleh orang – orang yang sungguh mencintai kebenaran. Tetapi kita juga tidak boleh menerima hal – hal yang tidak ilmiah sebagai yang ilmiah. Jika evolusi itu benar, maka kejatuhan tentu salah. Jika evolusi salah, maka kejatuhan benar. Apakah manusia puncaknya pada hari ini? Atau manusia justru dari posisi asal yang tinggi lalu jatuh ke posisi yang demikian rendah? Ini adalah topik yang sangat penting dan perlu di renungkan. Pertanyaan pertama yang diajukan pada manusia yang telah berdosa, “ Di manakah engkau ? “ (Kej 3 : 9 ), menunjukkan posisi manusia dari tempat yang tinggi merosot ke tempat yang rendah! Apakah timbulnya kultur adalah akibat dari kejatuhan? Apakah timbulnya kultur juga mengandung akibat dari kejatuhan ? Apakah hasil dari kultur tidak dapat luput dari unsur kejatuhan? Harapan saya pertanyaan – pertanyaan tersebut dapat merangsang kita untuk lebih banyak berpikir.


Renungan ini ditranskripkan dari paparan Pdt. Stephen Tong (dengan judul yang sama) di Singapura Theological Seminar 1992 "FALL AND CULTURE :
EKSES KEJATUHAN MANUSIA KE DALAM KEBUDAYAAN"

Sumber : Majalah MOMENTUM No. 18 - Maret 1993

http://www.mangapulsagala.com/forum/viewthread.php?forum_id=9&thread_id=20

TRAGEDY DAN MENGAKUI KESALAHAN


Pada tahun 2002 di harian Italian Post , muncullah iklan pencarian orang yang teristimewa. Berikut kisahnya :

17 Mei 1992 di parkiran mobil ke- 5 Wayeli , seorang wanita kulit putih diperkosa oleh seorang kulit hitam. Tak lama kemudian, sang wanita melahirkan seorang bayi perempuan berkulit hitam. Ia dan suaminya tiba-tiba saja menanggung tanggung jawab untuk memelihara anak ini. Sayangnya, sang bayi kini menderita leukemia (kanker darah). Dan ia memerlukan transfer sumsum tulang belakang segera.

Ayah kandungnya merupakan satu-satunya penyambung harapan hidupnya. Berharap agar pelaku pemerkosaan pada waktu itu saat melihat berita ini, bersedia menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth.

Berita pencarian orang ini membuat seluruh masyarakat gempar. Setiap orang membicarakannya. Masalahnya adalah apakah orang hitam ini berani muncul Padahal jelas ia akan menghadapi kesulitan besar, Jika ia berani muncul, ia akan menghadapi masalah hukum, dan ada kemungkinan merusak kehidupan rumah tangganya sendiri. Jika ia tetap bersikeras untuk diam, ia sekali lagi membuat dosa yang tak terampuni. Kisah ini akan berakhir bagaimanakah ?

Seorang anak perempuan yang menderita leukimia ternyata menyimpan suatu kisah yang memalukan di suatu perkampungan Itali. Martha, 35 thn, adalah wanita yang menjadi pembicaraan semua orang.

Ia dan suaminya Peterson adalah warga kulit putih, tetapi di antara kedua anaknya, ternyata terdapat satu yang berkulit hitam. Hal ini menarik perhatian setiap orang di sekitar mereka untuk bertanya, Martha hanya tersenyum kecil berkata pada mereka bahwa nenek berkulit hitam, dan kakeknya berkulit putih, maka anaknya Monika mendapat kemungkinan seperti ini

Musim gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus menerus mengalami demam tinggi. Terakhir , Dr. Adely memvonis Monika menderita leukimia. Harapan satu-satunya hanyalah mencari pedonor sumsum tulang belakang yang paling cocok untuknya. Dokter menjelaskan lebih lanjut.

Diantara mereka yang ada hubungan darah dengan Monika merupakan cara yang paling mudah untuk menemukan pedonor tercocok. Harap seluruh anggota keluarga kalian berkumpul untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang.

Raut wajah Martha berubah, tapi tetap saja seluruh keluarga menjalani pemeriksaan. Hasilnya tak satupun yang cocok. Dokter memberitahu mereka, dalam kasus seperti Monika ini, mencari pedonor yang cocok sangatlah kecil kemungkinannya. Sekarang hanya ada satu cara yang paling manjur, yaitu Martha dan suaminya kembali mengandung anak lagi. Dan mendonorkan darah anak untuk Monika. Mendengar usul ini Martha tiba-tiba menjadi panik, dan berkata tanpa suara Tuhan. . kenapa menjadi begini ?

Ia menatap suaminya, sinar matanya dipenuhi ketakutan dan putus asa. Peterson mengerutkan keningnya berpikir. Dr. Adely berusaha menjelaskan pada mereka, saat ini banyak orang yang menggunakan cara ini untuk menolong nyawa para penderita leukimia, lagi pula cara ini terhadap bayi yang baru dilahirkan sama sekali tak ada pengaruhnya. Hal ini hanya didengarkan oleh pasangan suami istri tersebut, dan termenung begitu lama. Terakhir mereka hanya berkata, Biarkan kami memikirkannya kembali.

Malam kedua, Dr. Adely tengah bergiliran tugas, tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka, pasangan suami-istri tersebut. Martha menggigit bibirnya keras, suaminya Peterson, menggenggam tangannya, dan berkata serius pada dokter. Kami ada suatu hal yang perlu memberitahumu. Tapi harap Anda berjanji untuk menjaga kerahasiaan ini, karena ini merupakan rahasia kami suami-istri selama beberapa tahun. Dr. Adely menganggukkan kepalanya.

Itu adalah 10 tahun lalu, bulan Mei tahun 1992. Waktu itu anak kami yang pertama, Eleana telah berusia 2 tahun. Martha bekerja di sebuah restoran fast food. Setiap hari pukul 10 malam baru pulang kerja. Malam itu, turun hujan lebat. Saat Martha pulang kerja, seluruh jalanan telah tiada orang satupun. Saat melalui suatu parkiran yang tak terpakai lagi.

Martha mendengan suara langkah kaki, dengan ketakutan memutar kepala untuk melihat, seorang remaja berkulit hitam tengah berdiri di belakang tubuhnya. Orang tersebut menggunakan sepotong kayu, memukulnya hingga pingsan, dan memperkosanya. Saat Martha sadar, dan pulang ke rumah dengan tergesa-gesa, waktu telah menunjukkan pukul 1 malam. Waktu itu aku bagaikan gila keluar rumah mencari orang hitam itu untuk membuat perhitungan. Tapi telah tak ada bayangan orang satupun. Malam itu kami hanya dapat memeluk kepala masing-masing menahan kepedihan. Sepertinya seluruh langit runtuh.

Bicara sampai sini, Peterson telah dibanjiri air mata, Ia melanjutkan kembali . Tak lama kemudian Martha mendapati dirinya hamil. Kami merasa sangat ketakutan, kuatir bila anak yang dikandungnya merupakan milik orang hitam tersebut. Martha berencana untuk menggugurkannya, tapi aku masih mengharapkan keberuntungan, mungkin anak yang dikandungnya adalah bayi kami. Begitulah, kami ketakutan menunggu beberapa bulan. Maret 1993, Martha melahirkan bayi perempuan, dan ia berkulit hitam. Kami begitu putus asa, pernah terpikir untuk mengirim sang anak ke panti asuhan. Tapi mendengar suara tangisnya, kami sungguh tak tega. Terlebih lagi bagaimanapun Martha telah mengandungnya, ia juga merupakan sebuah nyawa.

Aku dan Martha merupakan warga Kristen yang taat, pada akhirnya kami memutuskan untuk memeliharanya, dan memberinya nama Monika.

Mata Dr. Adely juga digenangi air mata, pada akhirnya ia memahami kenapa bagi kedua suami istri tersebut kembali mengandung anak merupakan hal yang sangat mengkuatirkan. Ia berpikir sambil mengangguk-anggukkan kepala berkata Memang jika demikian, kalian melahirkan 10 anak sekalipun akan sulit untuk mendapatkan donor yang cocok untuk Monika.

Beberapa lama kemudian, ia memandang Martha dan berkata Kelihatannya, kalian harus mencari ayah kandung Monika. Barangkali sumsum tulangnya, atau sumsum tulang belakang anaknya ada yang cocok untuk Monika. Tetapi, apakah kalian bersedia membiarkan ia kembali muncul dalam kehidupan kalian ?

Martha berkata : “Demi anak, aku bersedia berlapang dada memaafkannya. Bila ia bersedia muncul menyelamatkannya. Aku tak akan memperkarakannya. Dr. Adely merasa terkejut akan kedalaman cinta sang ibu. Berita pencarian yang istimewa ini mengakibatkan banjir pedonor sumsum tulang belakang.

Terlebih lagi lewat waktu begitu lama, mau mencari sang pemerkosa di mana Martha dan Peterson mempertimbangkannya baik-baik, sebelum akhirnya memutuskan memuat berita pencarian ini di koran dengan menggunakan nama samaran. November 2002, di koranWayeli termuat berita pencarian ini, seperti yang digambarkan sebelumnya. Berita ini memohon sang pelaku pemerkosaan waktu itu berani muncul, demi untuk menolong sebuah nyawa seorang anak perempuan penderita leukimia !

Begitu berita ini keluar, tanggapan masyarakat begitu menggemparkan. Kotak surat dan telepon Dr. Adely bagaikan meledak saja, kebanjiran surat masuk dan telepon, orang-orang terus bertanya siapakah wanita ini Mereka ingin bertemu dengannya, berharap dapat memberikan bantuan padanya. Tetapi Martha menolak semua perhatian mereka, iatak ingin mengungkapkan identitas sebenarnya, lebih tak ingin lagi identitas Monika sebagai anak hasil pemerkosaan terungkap.

Saat ini juga seluruh media penuh dengan diskusi tentang bagaimana cerita ini berakhir. (surat kabar Roma) Komentar dengan topik : Orang hitam itu akan munculkah ? Jika orang hitam ini berani muncul, akan bagaimanakah masyarakat kita sekarang menilainya Akankah menggunakan hukum yang berlaku untuk menghakiminya Haruskah ia menerima hukuman dan cacian untuk masa lalunya, ataukah ia harus menerima pujian karena keberaniannya hari ini ? (Surat kabar Wayeli) manulis topik Bila Anda orang berkulit hitam itu, apa tindakan yang Anda lakukan? sebagai bahan diskusi. Dan menarik berbagai pendapat akan sulitnya berada di dua pilihan ini. Bagian penjara setempat terus berupaya membantu Martha, memberikan laporan terpidana hukuman pada tahun 1992 pada RS. Dikarenakan jumlah orang berkulit hitam di kota ini hanya sedikit, maka dalam 10 tahun terakhir ini juga hanya sedikit jumlah terhukum berkulit hitam. Mereka berkata pada Martha : Sekalipun beberapa orang bukanlah terhukum karena tindak perkosaan, tapi mungkin beberapa juga menemui hal seperti ini.

Beberapa orang ini juga sebagian telah keluar penjara, sebagian lainnya masih berada di dalam penjara. Martha dan Peterson menghubungi beberapa orang ini, begitu banyak terpidana waktu itu yang bersungguh-sungguh dan antusias untuk memberikan petunjuk.

Tapi sayangnya, mereka semua bukanlah orang hitam yang memperkosanya waktu itu. Tak lama kemudian, kisah Martha menyebar ke seluruh rumah tahanan, tak sedikit terpidana yang tergerak karena kasih ibu ini, tak peduli mereka berkulit hitam maupun berkulit putih, mereka semua bersukarela mendaftar untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang, berharap dapat mendonorkannya untuk Monika. Tapi tak satupun pedonor yang memenuhi kriteria di antara mereka.

Berita pencarian ini mengharukan banyak orang, tak sedikit orang yang bersukarela untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang, untuk mengetahui apakah dirinya memenuhi kriteria. Para sukarelawan semakin lama semakin bertambah, di Wayeli timbullah wabah untuk mendonorkan sumsum tulang belakang.

Hal yang mengejutkan adalah kesediaan para sukarelawan ini menyelamatkan banyak penderita leukimia lainnya, sayangnya Monika tak termasuk diantara mereka yang beruntung. Martha dan Peterson menantikan dengan panik kemunculan si kulit hitam. Akhirnya dua bulan telah lewat, orang ini tak muncul-muncul juga. Dengan tidak tenang, mereka mulai berpikir,mungkin orang hitam itu sudah telah meninggalkan dunia ini Mungkin ia telah meninggalkan jauh-jauh kampung halamannya. Sudah sejak lama tak berada di Itali. Mungkin ia tak bersedia merusak kehidupannya sendiri, tak ingin muncul.

Tapi tak peduli bagaimanapun, asalkan Monika hidup sehari lagi, mereka tak rela untuk melepaskan harapan untuk mencari orang hitam itu. Disaat sebuah jiwa merana tak menentu, harapan selalu disaat keputusasaan melanda kembali muncul.

Saat itu berita pencarian juga muncul di Napulese, memporakporandakan perasaan seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun. Ia seorang kulit hitam, bernama Ajili. 17 Mei 1992 waktu itu, ia memiliki lembaran tergelam merupakan mimpi terburuknya di malam berhujan itu. Ia adalah sang peran utama dalam kisah ini. Tak seorangpun menyangka, Ajili yang sangat kaya raya itu, pernah bekerja sebagai pencuci piring panggilan. Dikarenakan orang tuanya telah meninggal sejak iamasih muda, ia yang tak pernah mengenyam dunia pendidikan terpaksa bekerja sejak dini. Ia yang begitu pandai dan cekatan, berharap dirinya sendiri bekerja dengan giat demi mendapatkan sedikit uang dan penghargaan dari orang lain. Tapi sialnya, bosnya merupakan seorang rasialis, yang selalu mendiskriminasikannya.

Tak peduli segiat apapun dirinya, selalu memukul dan memakinya. 17 Mei 1992, merupakan ulang tahunnya ke 20, ia berencana untuk pulang kerja lebih awal merayakan hari ulang tahunnya. Siapa menyangka, ditengah kesibukan ia memecahkan sebuah piring. Sang bos menahan kepalanya, memaksanya untuk menelan pecahan piring. Ajili begitu marah dan memukul sang bos, lalu berlari keluar meninggalkan restoran. Ditengah kemarahannya ia bertekad untuk membalas dendam pada si kulit putih. Malam berhujan lebat, tiada seorangpun lewat, dan di parkiran ia bertemu Martha. Untuk membalaskan dendamnya akibat pendiskriminasian, ia pun memperkosa sang wanita yang tak berdosa ini.

Tapi selesai melakukannya, Ajili mulai panik dan ketakutan. Malam itu juga ia menggunakan uang ulang tahunnya untuk membeli tiket KA menuju Napulese, meninggalkan kota ini. Di Napulese, ia bertemu keberuntungannya. Ajili mendapatkan pekerjaan dengan lancar di restoran milik orang Amerika. Kedua pasangan Amerika ini sangatlah mengagumi kemampuannya, dan menikahkannya dengan anak perempuan merka, Lina, dan pada akhirnya juga mempercayainya untuk mengelola toko mereka. Beberapa tahun ini, iayang begitu tangkas, tak hanya memajukan bisnis toko minuman keras ini, ia juga memiliki 3 anak yang lucu.

Dimata pekerja lainnya dan seluruh anggota keluarga, Ajili merupakan bos yang baik, suami yang baik, ayah yang baik. Tapi hati nuraninya tetap membuatnya tak melupakan dosa yang pernah diperbuatnya.

Ia selalu memohon ampun pada Tuhan dan berharap Tuhan melindungi wanita yang pernah diperkosanya, berharap ia selalu hidup damai dan tentram. Tapi ia menyimpan rahasianya rapat-rapat, tak memberitahu seorangpun. Pagi hari itu, Ajili berkali-kali membolak-balik koran, ia terus mempertimbangkan kemungkinan dirinyalah pelaku yang dimaksud. Sedikitpun ia tak pernah membayangkan bahwa wanita malang itu mengandung anaknya, bahkan menanggung tanggung jawab untuk memelihara dan menjaga anak yang awalnya bukanlah miliknya.

Hari itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi no. Telepon Dr. Adely. Tapi setiap kali, belum sempat menekan habis tombol telepon, ia telah menutupnya kembali. Hatinya terus bertentangan, bila ia bersedia mengakui semuanya, setiap orang kelak akan mengetahui sisi terburuknya ini, anak-anaknya tak akan lagi mencintainya, ia akan kehilangan keluarganya yang bahagia dan istrinya yang cantik. Juga akan kehilangan penghormatan masyarakat disekitarnya. Semua yang ia dapatkan dengan ditukar kerja kerasnya bertahun-tahun. Malam itu, saat makan bersama, seluruh keluarga mendiskusikan kasus Martha. Sang istri, Lina berkata :
“Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku diposisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak hasil perkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha, ia sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang demikian”. Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan tiba-tiba mengajukan pertanyaan :Kalau begitu, bagaimana kau memandang pelaku pemerkosaan itu?

Sedikitpun aku tak akan memaafkannya !!! Waktu itu ia sudah membuat kesalahan, kali ini juga hanya dapat meringkuk menyelingkupi dirinya sendiri, ia benar-benar begitu rendah, begitu egois, begitu pengecut ! Ia benar-benar seorang pengecut ! demikian istrinya menjawab dengan dipenuhi api kemarahan. Ajili mendengarkan saja, tak berani mengatakan kenyataan pada istrinya. Malam itu, anaknya yang baru berusia 5 tahun begitu rewel tak bersedia tidur, untuk pertama kalinya Ajili kehilangan kesabaran dan menamparnya. Sang anak sambil menangis berkata :”Kau ayah yang jahat, aku tak mau peduli kamu lagi. Aku tak ingin kau menjadi ayahku”. Hati Ajili bagai terpukul keras mendengarnya, ia pun memeluk erat-erat sang anak dan berkata : “Maaf, ayah tak akan memukulmu lagi. Ayah yang salah, maafkan papa ya”.

Sampai sini, Ajili pun tiba-tiba menangis. Sang anak terkejut dibuatnya, dan buru-buru berkata padanya untuk menenangkan ayahnya : “Baiklah, kumaafkan. Guru TK ku bilang, anak yang baik adalah anak yang mau memperbaiki kesalahannya. Malam itu, Ajili tak dapat terlelap, merasa dirinya bagaikan terbakar dalam neraka. Dimatanya selalu terbayang kejadian malam berhujan deras itu, dan bayangan sang wanita. Ia sepertinya dapat mendengarkan jerit tangis wanita itu. Tak henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri : “Aku ini sebenarnya orang baik, atau orang jahat ?” Mendengar bunyi napas istrinya yang teratur, ia pun kehilangan seluruh keberaniannya untuk berdiri. Hari kedua, ia hampir tak tahan lagi rasanya. Istrinya mulai merasakan adanya ketidakberesan pada dirinya, memberikan perhatian padanya dengan menanyakan apakah ada masalah Dan ia mencari alasan tak enak badan untuk meloloskan dirinya. Pagi hari di jam kerja, sang karyawan menyapanya ramah : “Selamat pagi, manager !” Mendengar itu, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat pasi, dalam hati dipenuhi perasaan tak menentu dan rasa malu. Ia merasa dirinya hampir menjadi gila saja rasanya.

Setelah berhari-hari memeriksa hati nuraninya, Ajili tak dapat lagi terus diam saja, iapun menelepon Dr. Adely. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya supaya tetap tenang : “Aku ingin mengetahui keadaan anak malang itu. Dr. Adely memberitahunya, keadaan sang anak sangat parah. Dr. Adely menambahkan kalimat terakhirnya berkata :”Entah apa ia dapat menunggu hari kemunculan ayah kandungnya. Kalimat terakhir ini menyentuh hati Ajili yang paling dalam, suatu perasaan hangat sebagai sang ayah mengalir keluar, bagaimanapun anak itu juga merupakan darah dagingnya sendiri ! Ia pun membulatkan tekad untuk menolong Monika. Ia telah melakukan kesalahan sekali, tak boleh kembali membiarkan dirinya meneruskan kesalahan ini.

Malam hari itu juga, ia pun mengobarkan keberaniannya sendiri untuk memberitahu sang istri tentang segala rahasianya. Terakhir ia berkata : “Sangatlah mungkin bahwa aku adalah ayah Monika, Aku harus menyelamatkannya Lina sangat terkejut, marah dan terluka, mendengar semuanya, ia berteriak marah :”Kau PEMBOHONG !”

Malam itu juga iamembawa ketiga anak mereka, dan lari pulang ke rumah ayah ibunya. Ketika ia memberitahu mereka tentang kisah Ajili, kemarahan kedua suami-istri tersebut dengan segera mereda. Mereka adalah dua orang tua yang penuh pengalaman hidup, mereka menasehatinya :”Memang benar, kita patut marah terhadap segala tingkah laku Ajili di masa lalu. Tapi pernahkah kamu memikirkan, ia dapat mengulurkan dirinya untuk muncul, perlu berapa banyak keberanian besar.

Hal ini membuktikan bahwa hati nuraninya belum sepenuhnya terkubur. Apakah kau mengharapkan seorang suami yang pernah melakukan kesalahan tapi kini bersedia memperbaiki dirinya Ataukah seornag suami yang selamanya menyimpan kebusukan ini didalamnya ?” Mendengar ini Lina terpekur beberapa lama. Pagi-pagi di hari keuda, ia langsung kembali ke sisi Ajili, menatap mata sang suami yang dipenuhi penderitaan, Lina menetapkan hatinya berkata :”Ajili, pergilah menemui Dr. Adely ! Aku akan menemanimu !”

3 Februari 2003, suami istri Ajili, menghubungi Dr. Adely. 8 Februari, pasangan tersebut tiba di RS Elisabeth, demi untuk pemeriksaan DNA Ajili. Hasilnya Ajili benar-benar adalah ayah Monika. Ketika Martha mengetahui bahwa orang hitam pemerkosanya itu pada akhirnya berani memunculkan dirinya, ia pun tak dapat menahan air matanya. Sepuluh tahun ini ia terus memendam dendam kesumat terhadap Ajili, namun saat ini ia hanya dipenuhi perasaan terharu. Segalanya berlangsung dalam keheningan. Demi untuk melindungi pasangan Ajili dan pasangan Martha, pihak RS tidak mengungkapkan dengan jelas identitas mereka semua pada media, dan juga tak bersedia mengungkapkan keadaan sebenarnya, mereka hanya memberitahu media bahwa ayah kandung Monika telah ditemukan.

Berita ini mengejutkan seluruh pemerhati berita ini. Mereka terus-menerus menelepon, menulis surat pada Dr. Adely, memohon untuk dapat menyampaikan kemarahan mereka pada orang hitam ini, sekaligus penghormatan mereka padanya. Mereka berpendapat :”Barangkali ia pernah melakukan tindak pidana, namun saat ini ia seorang pahlawan !”

10 Februari, kedua pasangan Martha dan suami memohon untuk dapat bertemu muka langsung dengan Ajili. Awalnya Ajili tak berani untuk menemui mereka, namun pada permohonan ketiga Martha, iapun menyetujui hal ini. 18 Februari, dalam ruang tertutup dan dirahasiakan di RS, Martha bertemu langsung dengan Ajili.

Ajili baru saja memangkas rambutnya, saat ia melihat Martha, langkah kakinya terasa sangatlah berat, raut wajahnya memucat. Martha dan suaminya melangkah maju, dan mereka bersama-sama saling menjabat tangan masing-masing, sesaat ketiga orang tersebut diam tanpa suara menahan kepedihan, sebelum akhirnya air mata mereka bersama-sama mengalir. Beberapa waktu kemudian, dengan suara serak Ajili berkata : “Maaf. . .mohon maafkan aku !” Kalimat ini telah terpendam dalam hatiku selama 10 tahun. Hari ini akhirnya aku mendapat kesempatan untuk mengatakannya langsung kepadamu. Martha menjawab :”Terima kasih kau dapat muncul. Semoga Tuhan memberkati, sehingga sumsum tulang belakangmu dapat menolong putriku”.

19 Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang Ajili. Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika Sang dokter berkata dengan antusias : “Ini suatu keajaiban !”

22 Februari 2003, sekian lama harapan masyarakat luas akhirnya terkabulkan. Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili, dan pada akhirnya Monika telah melewati masa kritis. Satu minggu kemudian, Monika boleh keluar RS dengan sehat walafiat. Martha dan suami memaafkan Ajili sepenuhnya, dan secara khusus mengundang Ajili dan Dr. Adely datang ke rumah mereka untuk merayakannya. Tapi hari itu Ajili tidak hadir, ia memohon Dr. Adely membawa suratnya bagi mereka. Dalam suratnya ia menyatakan penyesalan dan rasa malunya berkata :“Aku tak ingin kembali mengganggu kehidupan tenang kalian. Aku berharap Monika berbahagia selalu hidup dan tumbuh dewasa bersama kalian. Bila kalian menghadapi kesulitan bagaimanapun, harap hubungi aku, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu kalian”. Saat ini juga, aku sangat berterima kasih pada Monika, dari dalam lubuk hatiku terdalam, dialah yang memberiku kesempatan untuk menebus dosa. Dialah yang membuatku dapat memiliki kehidupan yang benar-benar bahagia di separoh usiaku selanjutnya. Ini adalah hadiah yang ia berikan padaku !


Sumber :http://www.mail-archive.com/estika@yahoogroups.com/msg00144.html

Sabtu, 25 Juni 2011

PELAYAN YANG SETIA


Nats : 1Pet.5:1-4; Yeh.34:1-6; Yoh.10:11

Yesus mengatakan ada dua macam orang yang melayani Tuhan, yang semacam adalah gembala dan yang lainnya adalah orang upahan. Gembala mengasihi domba-domba tetapi orang upahan mencintai uang. Apakah hamba Tuhan juga terbagi menjadi dua kelompok ini: ada yang mengasihi gereja dan ada yang mengasihi uang yang ia dapat dari gereja? Hati gembala ada pada domba-dombanya: kesehatan mereka, sakit-penyakit mereka, kelancaran dan bahaya yang mereka hadapi. Inilah hal-hal yang ia pikirkan.

Tetapi tidak demikian dengan orang-orang upahan. Mereka berpikir kalau saya memelihara mereka berapa uang yang saya dapatkan? Kalau aku tidak mendapatkan apa-apa maka aku tinggalkan mereka. Pada waktu seorang gembala melihat singa dan serigala datang maka mereka kuatir dan takut kalau binatang-binatang yang mereka pelihara ini dimakan binatang buas. Tetapi tidak demikian dengan orang upahan, waktu mereka melihat serigala dan singa datang mereka berpikir bahwa upah yang mereka terima itu tidak sebanding dengan nyawa yang harus mereka berikan. Sebab itulah mereka akan lari.

Tidak ada lukisan atau gambaran tentang tuntutan Tuhan Yesus agar kita menjadi hamba Tuhan seperti apa. Yesus mengatakan bahwa gembala yang baik menyerahkan nyawanya bagi domba-dombanya dan domba yang baik mendengarkan suara gembalanya. Aku bukan hanya memiliki domba-domba dalam kelompokku ini tetapi masih ada domba-domba lain di tempat yang jauh yang harus dicari dan dikumpulkan bersama-sama dengan mereka. Lalu Yesus Kristus sang Gembala Agung itu juga mendidik mereka dengan suara-Nya.

Yesus Kristus adalah kebenaran, sumber Injil dan sumber kasih. Banyak dari kita telah mengenal lima jabatan dalam gereja yang tercatat dalam Efesus: nabi, rasul, penginjil, gembala dan pengajar. Dua di depan mewakili mereka yang menuliskan PB dan PL. Yesus Kristus memberi firman kepada para rasul, Allah memberikan firman kepada para nabi. Kedua jabatan itu telah menjadi dasar yang kekal bagi gereja. Gereja yang tidak mendasarkan ajarannya pada ajaran para rasul dan para nabi bukanlah gereja yang sejati, ajarannya palsu. Petrus adalah rasul, tetapi ia juga seorang pemberita Injil, gembala dan pengajar. Namun dalam 1Pet.5:1 ia telah merendahkan dirinya dan hanya menyebut dirinya sebagai seorang penatua saja. Ia melakukan hal ini untuk menjadi teladan supaya para majelis dan penatua juga boleh menjadi hamba Tuhan yang baik. Ia mengatakan bahwa mereka harus memelihara domba-domba yang ada di tengah mereka.

Gereja adalah rumah Allah dan tugasnya adalah menaati kehendak-Nya. Jika gereja tidak mentaati kehendak-Nya maka gereja boleh tidak ada di bumi. Itulah sebabnya kita semua harus menuntut untuk mengerti dan belajar tentang kehendak Allah. Petrus menasehati para penatua untuk menggembalakan kawanan domba yang ada di tengah mereka. Calvin mengatakan bahwa selain Allah tidak ada yang lebih besar daripada kehendak Allah. Di alam semesta ini hal yang paling penting adalah kehendak Allah. Jika orang-orang yang sudah dikuduskan oleh Yesus Kristus sendiri pun tidak mau melaksanakan kehendak Allah, dunia ini mau jadi apa?

Yesus Kristus dalam doa Bapa Kami mengajarkan agar kiranya kehendak Tuhan jadi di bumi seperti di dalam surga. Mengapa? Karena di bumi ini kehendak Allah sering ditentang manusia tetapi di surga kehendak Allah tidak ditentang. Orang-orang yang belum mengenal Allah, yang belum diselamatkan menghina Allah di bumi. Siapakah mereka yang melakukan kehendak Allah? Orang-orang yang Kristen yang sudah diselamatkan yang sudah menerima anugerah Allah. Kristen adalah satu-satunya kelompok yang melakukan kehendak Allah. Tetapi seringkali dalam gereja kita tidak mendengar suara Allah. Kita mendengar suara manusia, suara uang dan suara kuasa. Dengan demikian tahta Allah tidak ada di dalam rumah-Nya. Maka Petrus mengatakan pada para penatua bahwa mereka harus menggembalakan domba-domba itu sesuai dengan kehendak Allah.

Lalu muncul perintah-perintah yang bersifat negatif: mereka tidak boleh melakukan hal itu dengan paksa, tidak boleh karena uang, bukan karena suka menguasai orang lain. Ini merupakan tiga penyakit yang ada di dalam pelayanan kita. Hari di dalam gereja ketika orang-orang mulai giat mereka mulai melakukan ketiga macam hal ini. Sambil melayani Tuhan dengan terpaksa sambil terus menghitung-hitung jasa dirinya dan berapa besar kerugian yang sudah ia derita. Mereka ini melayani sambil hitung-hitung untung rugi tanpa ada sukacita. Melayani tapi tidak mengembalikan kemuliaan kepada Allah. Contoh pelayanan terbaik adalah para ibu yang berkorban begitu besar untuk anak-anaknya tetapi tidak pernah memperhitungkannya, bukan untuk mencari jasa. Seorang ibu yang sungguh mengasihi anaknya akan membesarkannya dengan sukarela. Seringkali jika seisi keluarga sakit maka si ibu akan bertahan tidak sakit, sampai seisi keluarga sembuh baru dia sakit. Dia memiliki kasih begitu agung karena berpikir tanpa dia apa jadinya rumah tangganya? Anak-anak dan suaminya sudah sakit masak dia ikut sakit? Maka seorang ibu yang berjerih lelah tanpa menghitung-hitung adalah teladan bagaimana kita harusnya melayani. Dari prinsip ini kita dapat mengetahui siapa yang layak jadi penatua dan siapa yang tidak layak.

Orang yang sedikit bicara banyak melayani adalah orang baik. Mereka yang banyak melayani dan banyak bicara adalah di tengah-tengah, Tetapi siapa yang tidak melayani dan banyak bicara adalah orang jahat. Orang yang sudah melakukan banyak hal tetapi tidak menonjolkan diri adalah seorang yang memuliakan Allah. Kita kawanan domba Allah yang sudah ditebus Kristus. Bagaimana Tuhan kita sudah berkorban, bagaimana Tuhan kita melayani adalah secara sukarela. Demikian juga pelayanan kita. Jangan melayani dengan terpaksa.

Kedua, jangan melayani karena cinta uang. Kalau kita memang mau menjadi kaya maka lebih baik kita jangan ikut campur dalam pelayanan, jangan dalam rumah Tuhan kita memikirkan profit diri sendiri. Karismatik yang memegang theologi sukses sudah jauh menyimpang daripada prinsip Alkitab dengan beranggapan bahwa orang yang setia kepada Tuhan akan mengalami kesuksesan. Ini tidak berbeda dengan agama-agama di luar mereka yang berpikir bahwa menyembah adalah untuk memperoleh kekayaan. Itulah sebabnya apabila Allah mereka memberikan mereka kekayaan mereka akan beribadah dengan lebih giat lagi. Saat keinginan mereka tidak tercapai maka mereka akan meninggalkan agama mereka dan tidak lagi menyembah dewa mereka. Motivasi mereka bukan untuk beribadah dan menyembah Tuhan tetapi untuk memperalat Allah memenuhi segala keinginan mereka. Ini mengerikan. Prinsip kedua yang mereka pegang adalah Allah yang paling kaya maka anak-anak-Nya pasti harus kaya. Karena Kristus adalah Raja atas segala raja maka kita yang menjadi pengikut-Nya harus memakai yang paling bagus dan paling mahal. Tidak heran kalau satu stel jas Benny Hinn harganya $7,000. Inilah motivasi mereka, kalau Allah sudah memberikan kepadaku maka Ia pasti memberikan kepadamu. Dengan cara semacam ini mereka menarik banyak sekali orang ke dalam kebaktiannya.

Yesus Kristus mengatakan bahwa jikalau kita tidak menyangkal diri maka kita tidak dapat menjadi murid-Nya. Yang dimaksud dengan menyangkal diri adalah tidak egois. Yesus Kristus sedang mengumpulkan sekelompok orang yang tidak egois untuk menjadi gereja. Orang-orang karismatik sedang membentuk sekelompok orang yang egois sekali untuk menjadi gereja. Mereka menasehati orang yang percaya Tuhan Yesus akan menjadi kaya maka mereka sendiri mencontohkan dengan terlebih dahulu menjadi kaya. Alkitab belum pernah mengajarkan bahwa kita adalah anak-anak raja. Mereka semakin banyak yang masuk dalam gereja dan menjadi pengikutnya semakin mempermalukan Tuhan. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya orang yang ikut ke gereja membuktikan bahwa Roh Kudus memberkati mereka. Ada seorang pemimpin Karismatik yang seharusnya ke Indonesia. Mereka sudah booking hotel dan menyewa tempat berkhotbah tetapi akhirnya tidak jadi datang. Lalu orang-orang mulai menyelidiki mengapa tidak jadi datang. Ternyata bukan karena sakit atau terlalu sibuk. Tetapi karena ia ingin supaya orang-orang itu terlebih dahulu mengirimkan lebih dari 2,5 Milyar rupiah kepadanya. Panitia tidak dapat memperoleh dana tersebut. Itu sebabnya ia tidak jadi datang.

Alkitab mengatakan kita jangan melayani dengan terpaksa. Hati kita jangan diarahkan pada harta dan jangan suka menguasai orang lain dan tidak mau urus yang lain. Ada orang yang ingin didengarkan dan semua orang harus mengikutinya tetapi pekerjaan penginjilan tidak dilakukan. Ia hanya duduk di tempat yang tinggi dan ingin dianggap hebat oleh orang lain. Apakah ini sikap yang harus dipunyai oleh seorang pendeta dan penatua? Sama sekali bukan. Saya pernah melihat orang seperti ini. Bahkan sampai ia menjadi ketua sinode kelakuannya tetap sama. Selama beberapa tahun ini kami sulit sekali untuk memikirkan hamba-hamba Tuhan yang akan diutus. Banyak kesulitan-kesulitan dalam mengambil keputusan. Tidak ada satu orang pun yang kita utus tanpa melalui doa yang sungguh-sungguh. Termasuk pengutusan mahasiswa. Bukan bersandarkan pada hukum, kuasa, untung rugi, atau diatur oleh uang. Kita sungguh-sungguh mencari kehendak Allah. Petrus menasehati sebagai seorang penatua: jangan melayani karena gila kuasa untuk memerintah orang banyak, tetapi jadilah teladan bagi kawanan domba. Melayani harus bertitik tolak dari kerelaan. Jika engkau tidak rela, maka segala sesuatu menjadi berat luar biasa dan kita tidak akan melakukan apa-apa. Ini merupakan prinsip Alkitab.

Ada seorang anak yang ayahnya sedang batuk keras. Ia meminta anak itu membelikan obat ke tempat lain. Anak ini menolak karena sudah tengah malam. Ayahnya memohon karena masih ada apotek yang buka. Anak itu tetap menolak dan terus tidur. Ayahnya masih batuk terus. Setengah jam kemudian pintu kamar anak itu diketuk. Pembantunya mengatakan pacarnya mencarinya. Anak ini bergegas keluar. Ia melihat pacarnya sedang sedih. Pacarnya mengatakan ayahnya sedang sakit keras. Ia meminta supaya anak ini membelikan obat bagi ayahnya. Saat itu sudah malam sekali. Tanpa berpikir dua kali anak ini segera pergi ke apotek dan membelikan obat untuk ayah pacarnya. Dalam kisah ini, ada dua orang yang sama-sama sakit dan membutuhkan pertolongan. Tetapi reaksi anak ini sangat berbeda. Terhadap ayahnya ia menolak, tetapi terhadap permintaan pacarnya ia menerima. Karena rela. Saat kita mentaati kehendak Allah, bagaimana sikap kita? Waktu kita melakukan pekerjaan Tuhan, lakukanlah dengan rela. Bukan karena paksa, tetapi untuk menjadi teladan bagi orang lain.

Yesus mengutus orang berdua-dua untuk memberitakan Injil. Setelah mereka pergi, Yesus pergi seorang diri ke kota, ke desa untuk memberitakan Injil. Mengapa demikian? Karena Yesus melakukan pekerjaan yang paling sulit, yang paling berat. Setelah murid-murid pergi, mereka baru menyadari bahwa Nama-Nya begitu hebat. Di dalam Nama-Nya mereka menyembuhkan, mereka mengusir setan, melakukan mujizat, bahkan setan pun takut. Nama Yesus begitu agung. Semua pelayanan murid-murid-Nya berhasil. Bahkan Yudas dan pasangannya pun berhasil. Yudas nebeng mendapatkan kemuliaan. Tetapi Yesus sendiri memberitakan Injil tanpa hasil. Tidak seorang pun menerima-Nya. Ia mengangkat kepala-Nya dan berkat, “Tuhan langit dan bumi, inilah kehendak-Mu yang indah.” Ada orang yang melayani sukses ada yang tidak. Mereka yang sukses jangan sombong, yang gagal jangan rendah diri. Karena yang mengutus adalah Allah. Biarlah kita mengatakan, “Ya Tuhan, memang kehendak-Mu seperti ini.”

Ada satu orang Karismatik yang mencetak satu buku dan mengatakan, “Allah berkenan pada Petrus karena saat itu 3000 orang bertobat dan Allah mengutuk pelayanan Stefanus karena itu dirajam sampai mati.” Ia mengatakan jika pelayanan kita berhasil maka kita diberkati Allah, jika tidak berhasil maka kita dikutuk Allah. Penulis ini meminta saya menulis introduksi untuknya. Saya menolak karena saya tidak setuju dengan pandangannya. Tetapi ia berkeras bahwa itu adalah wahyu Allah kepadanya. Apa motivasinya? Apa titik pusatnya? Apa prinsipnya? Sama sekali bukan pengajaran Alkitab. Ini merupakan hal yang tragis dalam gereja. Orang tersebut berkhotbah dengan semakin berani mengatakan itu wahyu Allah.

Semua murid-murid Tuhan Yesus melayani Tuhan membuahkan hasil, termasuk kelompok Yudas. Hanya Yesus seorang Diri yang pergi menginjili tidak membuahkan hasil. Dan bukankah berarti murid-murid diberkati Tuhan dan Yesus adalah Orang yang dikutuk. Yesus mengatakan, “Pencipta langit dan bumi, kehendak-Mu memang seperti ini.” Kehendak Allah, kemuliaan bagi Allah untuk selama-lamanya adalah sama. Hari ini ada pendeta-pendeta yang akan ditahbiskan dan kelak ada penatua yang akan kita pilih. Bukan kesempatan untuk orang duduk paling tinggi dan mengatur ini itu. GRII sudah menunggu 11 tahun untuk majelis, dan sekarang ini tahun ke-21 belum punya penatua. Mengapa? Karena hari yang panjang kita mengenal hati seorang dan jalan yang jauh kita dapat mengetahui kekuatan seekor kuda. Apakah seorang menerima jabatan karena kedudukan yang tinggi atau demi Tuhan ia mau memikul salib? Ini merupakan hal yang harus jelas diketahui setiap orang di GRII.

Petrus mengatakan, “Aku sebagai penatua menasehati kamu. Gembalakanlah domba-domba itu seturut dengan kehendak Allah. Bukan karena paksa melainkan dengan rela dan senang hati.” Saya bersyukur banyak hamba Tuhan pergi menginjili ke mana-mana. Orang-orang yang melayani di gereja ini semakin lama semakin mengerti. Ini merupakan gerakan Reformed Injili. Orang yang hanya mengerti theologi Reformed tapi tidak menginjili seharusnya tidak berbagian dalam pelayanan. Orang yang hanya menginjili tetapi tidak mau belajar theologi Reformed tidak akan mengerti kehendak Allah. Orang yang suka kedudukan tetapi tidak mau menjadi teladan bagi domba-domba tidak layak menjadi pemimpin. Saya berani mengatakan karena saya berjuang menjadi teladan bagi kalian. Saya lebih lelah dari siapa pun. Saya pergi menginjili ke lebih banyak tempat dengan rela dan dengan pimpinan Tuhan, dengan motivasi mau menjadi teladan bagi domba-domba. Bukan untuk mendapat uang lebih banyak uang. Kalau saya punya uang saya ingin melakukan hal yang lebih besar bukan untuk diri tetapi untuk Allah.

Selama 21 tahun ini kita sudah melakukan banyak perkara-perkara yang kekal untuk kemuliaan Allah. Kita sudah membangun theologi dan memberitakan Injil keluar. Bahkan kita mengembangkan mandat budaya, memperkenalkan musik dan lukisan yang paling indah. Supaya setiap orang Kristen bukan hanya rohaninya dibangun, tapi juga semangatnya dibaharui dan budayanya dibangunkan. Setiap penginjil harus melayani seturut dengan prinsip Alkitab. Setiap saat harus kembali re-dedikasi supaya kita menjadi hamba Tuhan yang setia, berpengetahuan, berkenan pada Tuhan.

(Ringkasan ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah – Transkrip: BA.)

Sumber : http://www.grii-ngagel.org/index.php?option=com_content&view=article&id=102:ringkasan-khotbah&catid=6:ringkasan-khotbah&Itemid=15

Jumat, 24 Juni 2011

REFORMASI PERPAJAKAN VS PENSIUN DINI (TO)

Baru-baru ini Menteri Keuangan, Agus Martowardjojo memunculkan suatu wacana pensiun dini terhadap Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang dimulai dari Kementerian Keuangan dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak (Jakarta, 24 Juni 2011). Adapun tujuan dari Pensiun Dini tersebut dengan harapan :

  1. Agar kinerja dan produktivitas kerja pegawai di Kementerian Keuangan meningkat, artinya pekerjaan yang sama bisa dikerjakan dengan pegawai yang lebih sedikit.
  2. Penekanan pembiayaan negara, akibat besarnya belanja pegawai.

Apakah ini bagian dari Reformasi Perpajakan jilid III ?

Reformasi Pajak

Pada Tahun 2002 saat reformasi perpajakan Jilid I, dengan dasar mempertimbangkan perbaikan akhlak, moral, dan tanggung jawab Pejabat, maka secara terus menerus dilakukan perbaikan sistem, administrasi, dan kebijakan perpajakan yang dapat mengurangi pertemuan antara wajib pajak dan petugas.

Maka lompatan yang dilakukan adalah, pembukaan Kantor wajib pajak besar, diikuti uji coba untuk wajib pajak menengah dan kecil dengan sistem perpajakan modern.

Pada Kantor wajib pajak besar tersebut, dibentuk account representative yang bertujuan mengetahui segala tingkah laku, ruang lingkup bisnis, dan segala sesuatu yang berkaitan dangan hak dan kewajiban wajib pajak yang diawasinya (knowing your taxpayer). Dan pelayanan kepada wajib pajak dapat dilakukan secara tuntas pada satu meja.

Pembentukan kantor ini merupakan bagian tidak terpisahkan dari tiga pilar reformasi perpajakan, yaitu reformasi bidang administrasi perpajakan, reformasi bidang peraturan perpajakan dan reformasi pengawasan perpajakan.

Dirjen Pajak Darmin Nasution menyatakan bahwa 2009 ini adalah tahun dicanangkannya reformasi perpajakan jilid dua, yaitu dimulai dengan reformasi bidang Sumber Daya Manusia (SDM) (19/3/2009).


Reformasi bidang SDM ini meliputi pembenahan mutu, integritas serta militansi SDM perpajakan melalui peningkatan pelatihan baik di dalam maupun di luar negeri.

Transformasi Organisasi (TO)

Melihat hal tersebut dapatlah disadari bahwa perubahan ini menuntut organisasi mengambil langkah strategis agar organisasi dapat terus berkembang dengan baik tentu sesuai dan dengan perubahan yang terjadi berkelanjutan.

Handoko (1996) menyatakan bahwa tujuan Transformasi Organisasi dilakukan untuk mengarah pada efektifitas organisasi, dan proses pengolahan perubahan dimana harus mencakup dua gagasan dasar, yaitu : (1) redistribusi kekuasaan dalam struktur organisasi, dan (2) redistribusi ini dihasilkan dari proses perubahan yang bersifat pengembangan.

Berdasarkan teori tersebut di atas, sebenarnya, yang dimaksud dengan transformasi organisasional adalah perubahan-perubahan organisasional yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan internal dan eksternal, sifatnya radikal, atau evolusioner. Tetapi, dalam konteks transformasi organisasional sebagai wujud respon organisasi terhadap perubahan lingkungan, Ross Perot seperti dikutip oleh Walker (1988) menyatakan: “slow,gradual, evolutionary change is the same as none at all.” Perubahan-perubahan yang sifatnya lambat, bertahap, evolusioner dipandang tidak dapat mengakomodasi perubahan lingkungan yang cepat. Jadi, perubahan-perubahan organisasional yang evolusioner tidak relevan dengan perubahan lingkungan yang cepat. Perubahan radikal dalam transformasi organisasional memunculkan tantangan berat bagi organisasi saat ini, bagaimana organisasi dapat melakukan transformasi organisasional tanpa menimbulkan masalah, atau dampak yang menyakitkan bagi anggota organisasinya. Perubahan tidak selalu diterima oleh anggota organisasi, lebih-lebih oleh anggota yang terkena dampak perubahan tersebut. Agar perubahan yang dilakukan dapat berhasil, dan tidak menimbulkan dampak yang menyakitkan bagi anggota organisasi, organisasi tidak boleh melakukan perubahan secara terus-menerus, organisasi harus mengetahui kapan saat yang tepat untuk melakukan perubahan. perubahan besar dan perubahan kecil harus dilakukan pada interval waktu yang tepat. Ini disebut dengan dynamic stability (Abrahamson, 2000).

Produktivitas Kerja Atau Penghematan Anggaran

Ini adalah poin yang diharapkan oleh Bapak Menteri dari wacana Pensiun Dini. Jika berbicara tentang Produktivitas Kerja apalagi Penghematan Anggaran (Agenda Pensiun Dini) dapat diduga bahwa ini berbicara masalah Transformasi, yang dapat kita lihat contoh dari keberhasilan Transformasi Bisnis secara fundamental yang dilakukan oleh PT. Telkom (2009), yang salah satunya di lakukan dengan melakukan Pensiun Dini yang tidak dibatasi. Hal ini menambah agenda reformasi perpajakan yang telah dilakukan oleh pendahulunya yaitu 3 pilar reformasi perpajakan. Jika sebelumnya telah dilakukan kelanjutan reformasi perpajakan Jilid I dan Jilid II, maka apakah agenda yang dilemparkan ini adalah merupakan reformasi Jilid III. Semoga ya, karena jika tidak hal ini sudah menimbulkan beberapa pertanyaan dalam anggota organisasi yang dalam hal ini adalah Direktorat Jenderal Pajak.

Semoga Bapak Menteri sudah melakukan konsolidasi dan rekonsiliasi dengan jajaran puncak di Direktorat Jenderal Pajak dan telah direncanakan dengan matang dan transparan, Selain, dukungan dan keterlibatan manajemen puncak, visi perubahan yang jelas, model perubahan khususnya untuk Human Resources direncanakan secara matang, melibatkan semua pihak pada berbagai tingkatan manajemen dalam merencanakan dan mengimplementasikan transformasi organisasional, karyawan juga harus lebih diberdayakan.

Beberapa faktor terjadinya penolakan perubahan menurut T. Hani Handoko (1996) adalah sebagai berikut:

  1. Orang mungkin menyangkal bahwa perubahan sedang terjadi. Bila ini terjadi organisasi kemungkinan akan terus kehilangan efektifitasnya.
  2. Orang mungkin mengabaikan perubahan. Manajer mungkin menangguhkan keputusan-keputusan dengan harapan bahwa masalah yang terjadi akan hilang dengan sendirinya.
  3. Orang mungkin menolak perubahan. Karena berbagai alasan manajer dan karywan mungkin menentang perubahan.
  4. Orang mungkin menerima perubahan dan menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
  5. Orang juga mungkin mengantisipasi perubahan dan merencanakannya, seperti yang banyak dilakukan perusahan-perusahaan progresif.
akhirnya, sebagai anggota dari organisasi yang sudah mendengar dengung transformasi ini yang secara prinsip menyetujui poin 4 di atas, sangat diharapkan konsistensinya sejalan dengan apa yang dilakukan pendahulunya yaitu melanjutkan tiga pilar reformasi perpajakan, yaitu reformasi bidang administrasi perpajakan, reformasi bidang peraturan perpajakan dan reformasi pengawasan perpajakan.


Sumber : (Iseng gue aje sehubungan dari khabar khabari seputar selebriti reformasi dari subsistem transformasi melalui Pensiun Dini dan Penutupan penerimaan mahasiswa STAN)

PELAJARAN BERHARGA


1. Semua Penting

Pada bulan ke-2 diawal kuliah saya, seorang Profesor memberikan quiz mendadak pada kami. Karena kebetulan cukup menyimak semua kuliah-kuliahnya, saya cukup cepat menyelesaikan soal-soal quiz, sampai pada soal yang terakhir.

Isi Soal terakhir ini adalah : Siapa nama depan wanita yang menjadi petugas pembersih sekolah ?.

Saya yakin soal ini cuma “bercanda”. Saya sering melihat perempuan ini. Tinggi,berambut gelap dan berusia sekitar 50-an, tapi bagaimana saya tahu nama depannya… ? Saya kumpulkan saja kertas ujian saya, tentu saja dengan jawaban soal terakhir kosong. Sebelum kelas usai, seorang rekan bertanya pada Profesor itu, mengenai soal terakhir akan “dihitung” atau tidak.

“Tentu Saja Dihitung !!” kata si Profesor. “Pada perjalanan karirmu, kamu akan ketemu banyak orang. Semuanya penting!. Semua harus kamu perhatikan dan pelihara, walaupun itu cuma dengan sepotong senyuman, atau sekilas “hallo”!

Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya kemudian tahu, bahwa nama depan ibu pembersih sekolah adalah “Dorothy”.


2. Penumpang yang Kehujanan


Malam itu , pukul setengah dua belas malam. Seorang wanita negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama .

Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan yang sangat deras, yang hampir seperti badai. Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini sangat ingin menumpang mobil. Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat.

Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini.

Kelihatannya si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yaitu pada saat itu.

Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini taksi.

Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda itu, menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda. 7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk Seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televisi set besar berwarna (1960-an !) khusus dikirim kerumahnya.

Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah : “Terima kasih nak, karena membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku.

Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang sekarat…hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda,karena membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu” Tertanda Ny.Nat King Cole.

Catatan : Nat King Cole, adalah penyanyi negro tenar thn. 60-an di USA


3. Selalulah perhatikan dan ingat, pada semua yang anda layani.


Di zaman eskrim khusus (ice cream sundae) masih murah, seorang anak laki-laki umur 10-an tahun masuk ke Coffee Shop Hotel, dan duduk di meja. Seorang pelayan wanita menghampiri, dan memberikan air putih dihadapannya. Anak ini kemudian bertanya “Berapa ya,… harga satu ice cream sundae?” katanya. “50 sen…” balas si pelayan. Si anak kemudian mengeluarkan isi sakunya dan menghitung dan mempelajari koin-koin di kantongnya.. .. “Wah… Kalau ice cream yang biasa saja berapa?” katanya lagi. Tetapi kali ini orang-orang yang duduk di meja-meja lain sudah mulai banyak… dan pelayan ini mulai tidak sabar. “35 sen” kata si pelayan sambil uring-uringan.

Anak ini mulai menghitungi dan mempelajari lagi koin-koin yang tadi dikantongnya. “Bu… saya pesen yang ice cream biasa saja ya…”ujarnya. Sang pelayan kemudian membawa ice cream tersebut, meletakkan kertas kuitansi di atas meja dan terus melengos berjalan. Si anak ini kemudian makan ice-cream, bayar di kasir, dan pergi.

Ketika si Pelayan wanita ini kembali untuk membersihkan meja si anak kecil tadi, dia mulai menangis terharu.

Rapi tersusun disamping piring kecilnya yang kosong, ada 2 buah koin 10-sen dan 5 buah koin 1-sen. Anda bis a lihat… anak kecil ini tidak bisa pesan Ice-cream Sundae, karena tidak memiliki cukup untuk memberi sang pelayan uang tip yang “layak”….. .

4. Penghalang di Jalan Kita


Zaman dahulu kala, tersebutlah seorang Raja, yang menempatkan sebuah batu besar di tengah-tengah jalan. Raja tersebut kemudian bersembunyi, untuk melihat apakah ada yang mau menyingkirkan batu itu dari jalan.

Beberapa pedagang terkaya yang menjadi rekanan raja tiba ditempat, untuk berjalan melingkari batu besar tersebut. Banyak juga yang datang, kemudian memaki-maki sang Raja, karena tidak membersihkan jalan dari rintangan.Tetapi tidak ada satupun yang mau melancarkan jalan dengan menyingkirkan batu itu. Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak sekali sayur mayur. Ketika semakin dekat, petani ini kemudian meletakkan dahulu bebannya, dan mencoba memindahkan batu itu kepinggir jalan.

Setelah banyak mendorong dan mendorong, akhirnya ia berhasil menyingkirkan batu besar itu.

Ketika si petani ingin mengangkat kembali sayurnya, ternyata ditempat batu tadi ada kantung yang berisi banyak uang emas dan surat Raja. Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan.

Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak pernah bisa mengerti.

Bahwa pada dalam setiap rintangan, tersembunyi kesempatan yang bisa dipakai untuk memperbaiki hidup kita.


5. Memberi, ketika dibutuhkan.


Waktu itu, ketika saya masih seorang sukarelawan yang bekerja di sebuah rumah sakit, saya berkenalan dengan seorang gadis kecil yang bernama Liz, seorang penderita satu penyakit serius yang sangat jarang.

Kesempatan sembuh, hanya ada pada adiknya, seorang pria kecil yang berumur 5 tahun, yang secara mujizat sembuh dari penyakit yang sama. Anak ini memiliki antibodi yang diperlukan untuk melawan penyakit itu. Dokter kemudian mencoba menerangkan situasi lengkap medikal tersebut ke anak kecil ini, dan bertanya apakah ia siap memberikan darahnya kepada kakak perempuannya.

Saya melihat si kecil itu ragu-ragu sebentar, sebelum mengambil nafas panjang dan berkata

“Baiklah… Saya akan melakukan hal tersebut…. asalkan itu bisa menyelamatkan kakakku”. Mengikuti proses tranfusi darah, si kecil ini berbaring di tempat tidur,disamping kakaknya. Wajah sang kakak mulai memerah, tetapi Wajah si kecil mulai pucat dan senyumnya menghilang. Si kecil melihat ke dokter itu, dan bertanya dalam suara yang bergetar…katanya

“Apakah saya akan langsung mati dokter… ?”Rupanya si kecil sedikit salah pengertian. Ia merasa, bahwa ia harus menyerahkan semua darahnya untuk menyelamatkan jiwa kakaknya. Lihatlah…bukankah pengertian dan sikap adalah segalanya… .


Bekerjalah seolah anda tidak memerlukan uang,
Mencintailah seolah anda tidak pernah dikecewakan.

DALAM GELAPNYA MALAM, KITA JUSTRU DAPAT MELIHAT INDAHNYA BINTANG

Sumber : http://krenungan.org/wordpress/2006/06/page/5/