Kamis, 31 Mei 2012

Senantiasa Bersyukur Pada Tuhan

Nats : Ibrani 13:15
Terjemahan lain: hendaklah kita bersandar pada Kristus, selalu menaikkan pujian sebagai korban pada Allah, itulah buah yang dihasilkan dari mulut bibir orang yang mengaku Kristus sebagai Tuhannya.

Tiga minggu lalu, kita sudah membahas tentang hak istimewa yang orang Kristen miliki : berbagian di dalam sengsara Ilahi. Apa maksudnya? Tuhan mempercayai kita, memperbolehkan kita berbagian dalam penderitaan, penghinaan yang diterimaNya. Tentu bukan maksud saya mengatakan penderitaan kita bisa menyelamatkan diri sendiri orang lain, tapi the more we suffer because of Jesus Christ, the more we understand the deep love of God.

Di dunia ini, kita tidak mempunyai tempat tinggal yang kekal. Ingat: ketika Abraham dipanggil keluar dari Mesopotamia, umurnya 75 tahun, saat dia dipanggil pulang ke sorga usianya 175 tahun, artinya, dia mentaati panggilan Tuhan, meninggalkan rumahnya yang besar di Ur beserta istrinya—salah seorang wanita tercantik, bukan hanya di zamannya, bahkan di sepanjang sejarah, karena waktu dia sudah berusia 90th. Masih ada raja yang menaksirnya—selama 100 tahun, tidak lagi tinggal dirumahnya. Banyak kali, waktu suami-suami dipanggil menjadi hamba Tuhan, si istri justru menjadi setan; Tuhan menyuruhnya menjalani jalan sorga, setan menyuruhnya menjalani jalan dunia. Namun nyonya Abraham luar biasa, Tuhan memanggil suaminya keluar, diapun ikut, meski sampai mati tidak lagi pernah tinggal di rumah barang satu haripun, melainkan tinggal di tenda. Mengapa mereka tinggal di tenda? Karena mereka tahu, rumah mereka bukan di dunia (ayat 14). Kita perlu selalu mengingat, hidup kita di dunia hanyalah sementara, hanya sebagai tamu, karena dunia bukanlah tempat kita, tempat kita di sorga yang kekal. Sebab itu, jangan menambatkan hati kita di dunia yang fana, karena suatu hari nanti, kita harus melepaskan semua yang ada di dunia.

Ayat 15, hendaklah kita bersandar pada Kristus untuk mempersembahkan korban syukur kepada Allah, artinya, kita yang sudah melibatkan diri dalam penderitaan Kristus, baru bisa mengerti dunia ini sementara adanya. Bagaimanakah kita bisa menang atas kesusahan? Kalau kita tahu apa itu kesusahan, dari mana datangnya kesusahan, apa`tujuannya seorang menderita susah, kesusahan membawa kita kemana? Hanya orang yang mengenali kesusahan berkemungkinan melepaskan diri dari ikatan-ikatan kesusahan, tapi orang yang tidak mengenalinya akan tenggelam dalam kesusahan.

Karenanya ada orang yang menderita sepuluh kali lipat dari kesusahan orang tetap bisa bertahan, sementara yang lain baru mengalami sedikit kesusahan sudah bunuh diri. Saya kira , salah satu agama yang paling banyak membahas kesusahan adalah agama Budha. Agama Budha dimulai dari rasa tercengang, surprise yang dialami oleh Sakyamuni, seorang Putra Mahkota yang masih muda, saat berjalan-jalan di luar istana, dia menemukan ada ibu yang melahirkan anak dalam kesakitan, ada orang tua yang terus menerus mengerang di tempat tidur, ada orang yang menangis karena ditinggal mati oleh salah seorang anggota keluarganya, ada juga orang yang menderita sakit menahun. Baginya , keempat hal itu: lahir, tua, sakit, mati, membuat hidup manusia sengsara, mari kita mencari jalan untuk keluarnya. Mengapa ada penderitaan? Jawaban mereka sangat sempit: penderitaan datang dari keinginan, maka jalan untuk terlepas dari penderitaan hanya satu: meniadakan keinginan, mencapai nirwana (tempat dimana tidak ada keinginan). Masalahnya, kalau manusia tidak mempunyai keinginan, apa bedanya dengan binatang? Bagaimana kekristenan memandang kesulitan? Apakah keinginan merupakan satu-satunya sumber penderitaan? Tidak. Paulus memisahkan antara nafsu jahat, yang harus dipakukan diatas kayu salib dengan keinginan yang baik, seperti menuntut kebajikan, keadilan …..Kitab Suci mengajarkan, penyebab penderitaan bukan hanya keinginan saja, melainkan ada empat:
  1. Bumi yang terkutuk; Setelah Adam berdosa, bumi ini terkutuk, tumbuhlah semak duri, juga menjadi tidak stabil ;harmonis, terjadilah bencana alam yang membuat manusia menderita, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami…
  2. Dosa; Dosa mengundang hukuman, hukuman Allah, hukuman alam, hukuman sosial. Jika kau suka menipu, orang tidak akan perjaya padamu lagi, kalau seluruh masyarakat tidak lagi percaya padamu, mana mungkin kau bisa menjalani hidup dengan baik, kau tentu akan menderita. Selain dosa sendiri, dosa orang lain juga bias mendatangkan penderitaan atas diri kita
  3. Ujian dari Allah yang membuatmu terus menerus bertumbuh. Bagaikan yang dialami oleh Abraham, Ayub….
  4. Setan yang berusaha menghancurkan iman orang Kristen, merusak kehendak Tuhan di dalam diri anak-anakNya.
Lewat Kitab Suci kita melihat dengan jelas, dari mana datangnya penderitaan, penderitaan macam apa yang sedang kita alami. Salah satu penderitaan yang paling berharga adalah memperoleh kepercayaan dari Tuhan untuk berbagian di dalam penderitaan Kristus. Untuk itu, kita perlu belajar menaikkan syukur kepada Tuhan. Mulut kita jahat, sering mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya kita ucapkan, tapi syukurmu pada Tuhan justru sedikit sekali. Apa yang dikatakan ayat ini? Mari kita berinisiatif menaikkan syukur; mengucapkan terima kasih pada Tuhan. Mungkin kau berkata, aku juga pernah berterima kasih pada Tuhan. Kapan? Kalau aku mendapat lotre, hadiah besar. Permisi tanya, waktu kau sakit, adakah kau mengomel? Ya. Waktu kau sehat, adakah kau bersyukur? Tidak bukan?

Jadi waktu sehat tidak memuji Tuhan, tapi waktu sakit kau mengomel padaNya, dan saat kau sembuh, kau tidak menyadari kapan kau sembuh. Mengapa? Karena kita tidak terbiasa memuji Tuhan saat kita lancar, hanya tahu mengomel saat kita tidak lancar—suatu kebiasaan rohani yang jelek sekali. Mari kita bersyukur kepada Tuhan, itulah ajakan, tantangan dan anjuran dari penulis Ibrani. Ayat ini ditulis setelah penulis berbicara tentang menderita bersama Kristus, pertanyaannya: bagaimana bisa bersyukur saat kita menderita?
Sesungguhnya, memuji Tuhan pada saat menderita barulah berarti, barulah menandakan kemahiran hidup kita yang baru. Jika orang hanya bisa memuji Tuhan pada saat dia mendapat lotre, sehat, semuanya indah, itu tandanya kerohaniannya masih dangkal. Ketika saya berbicara sampai di sini, saya ingat kisah yang disampaikan Dr. Andrew Gih; dulu, di Tiongkok ada seorang tua yang selalu berseru “haleluya” saat mendengar khotbah. Majelis memintanya tidak melakukan hal itu, tapi katanya “tidak bisa, waktu hati saya senang, kata haleluya secara otomatis keluar dari mulut saya” majelis menemukan satu akal; kalau bapak bisa mendengar khotbah dengan tenang, waktu Natal nanti, kami akan menghadiahkan sebuah selimut berwarna merah untukmu, “OK”, maka setiap kali dia ingin berseru haleluya, dia tahan. Sampai suatu hari, dia mendengar sebuah khotbah yang penting, dengan spontan dia berseru haleluya, seorang majelis memandang dia dengan mata melotot. Lalu kata orang itu sambil menoleh ke majelis gereja: “saya tidak mau selimut, saya mau memuji Tuhan”.

Saya juga ingat akan dua orang, yang seorang di Bali, waktu dia mendengar kalimat-kalimat penting dalam khotbah saya, dia berseru: “ya”, orang yang duduk di sebelahnya sering dibuatnya terkejut. Yang seorang lagi di Surabaya, setiap kali dia mendengar kalimat yang penting, dia berseru :Haleluya! Mengejutkan banyak orang. Waktu mereka masih hidup, saya rasa sedikit terlalu ribut, tapi sejujurnya, setelah mereka meninggal, saya merasa sepi. Tentu bukan maksud saya menyuruh anda ikut-ikutan berseru haleluya saat mendengar khotbah.

Selalu bersyukur pada Tuhan itu mudah atau tidak? Tidak mudah. Di atas sebuah bukit di Inggeris terdapat sebuah gereja kecil, pendetanya selalu menaikkan doa syukur di dalam kebaktian. Suatu kali, turun salju yang lebat, tak ada orang yang bisa ke gereja, seorang pemuda ingin sekali menyaksikan apakah pendetanya masih bisa bersyukur, maka meski harus berjalan dengan sulit, dia tetap pergi ke gereja. Kebaktian dimulai, hari itu yang datang berbakti hanya dia seorang. Saat bersyukur, dia memasang telinga. Dan tahukah anda, bagaimana pendeta itu bersyukur? “Tuhan, kami bersyukur, kepadaMu, karena biasanya bukan seperti ini, amin.” Pemuda itu salut, karena di waktu susah, pendeta itu sanggup memikirkan hari-hari yang sudah lewat dan tetap bersyukur kepada Tuhan. Mengapa kita membiarkan kesulitan yang sehari menghanyutkan kita melupakan anugerah yang pernah Tuhan curahkan selama puluhan tahun? Kalau hari ini, orang yang paling kita kasihi mati, kita harus menjadi janda atau duda, kita tetap bisa bersyukur, karena hari-hari yang lampau bukan seperti ini. Dia pernah memberi kita pasangan hidup yang baik. Inilah caranya bersyukur:berterima kasih untuk anugerah yang Tuhan sudah beri. Dengan cara seperti ini, kita mampu melihat, walau hari-hari susah dalam hidup kita banyak, tapi hari yang penuh dengan anugerah juga tidak kalah banyaknya.

Di Surabaya, ada sepasang suami isteri, selama empat puluh lima tahun, tak pernah berpisah barang satu haripun. Tapi setelah si suaminya mati, si isteri bagaikan tak bisa hidup lagi, dia susah setengah mati. Saya membesuk dia, dia tak henti-hentinya mengomel, saya bertanya “apakah kau mengharapkan hidup bersama dan mati bersama suamimu” “ya, saya tidak mau ditinggal seorang diri” saya menghibur dia, tapi tak berhasil. Katanya, pak Tong, saya tahu semua yang anda katakan, tapi saya tetap tidak bisa menerima, mengapa Tuhan memanggilnya. Saya mendoakan dia dan pulang. Di perjalanan pulang, saya memikirkan satu perkara, jadi Tuhan itu susah. Dia memberi mereka hidup begitu rukun, salah juga.

Konon, Lord Rally, di Inggris, sering bertengkar dengan istrinya, setelah istrinya mati, di batu nisan istrinya dia menuliskan, here rest my beloved wife, she is now at peace, kemudian ditambah sebuah kalimat and so am I. Kau tak mau bersyukur pada Tuhan, apakah kau juga ingin Tuhan membiarkanmu setiap hari bertengkar dengan pasangan hidupmu, sampai salah satu dari kalian dipanggil pulang Tuhan baru bersyukur kepadanya?
Sejak usia dua puluh tahun saya sudah berpikir; kalau dokter memvonis saya, usiamu sisa dua bulan lagi, apa yang akan saya lakukan? Tenang dan bersyukur pada Tuhan, karena dulu saya tidak sakit, baru sekarang menderita sakit dan masih diberi waktu dua bulan, saya akan membeli sebanyak mungkin traktat, setiap hari membagi-bagikannya pada orang, menginjili orang dan mengajak orang menerima Yesus. Meski akhirnya harus mati, tapi sebelum mati, saya mau cepat-cepat mengerjakan apa yang tak bisa saya kerjakan setelah saya mati. Karena kesempatan-kesempatan yang ada di dalam kurun waktu ini begitu berharga. What can I do, Lord, teach me to do it, strengthen me to do it, give me power to do it, give me wisdom to do it .

Bersyukur, selalu bersyukur dan bersyukur…inilah buah dari mulut bibir orang yang menyebut diri anak Tuhan. Pada saat itu, orang yang berani menyebut Allah sebagai Tuhannya adalah orang yang siap untuk mati. Karena kerajaan Romawi sudah menetapkan: tak seorangpun boleh menyebut siapapun di luar Kaisar sebagai Tuhan. Namun setelah Yesus bangkit dari kematian, orang Kriten menyebut Yesus sebagai Tuhan, bahkan menyebut Sunday is a day of the Lord, Jesus is our Lord, our Savior. Saat orang Romawi menemukan, ada sekelompok orang yang berani menyebut hari Minggu sebagai hari Tuhan, menyebut Yesus sebagai Tuhan, mereka memutuskan, orang-orang itu harus dipenggal kepala. Maka ayat ini menjadi penting sekali: mari kita bersyukur kepada Tuhan, sebagai buah dari mulut bibir setiap orang yang menyebut Yesus sebagai Tuhannya. Orang yang menyebut Yesus sebagai Tuhan adalah orang yang bersedia dibunuh; mati syahid, juga orang yang memakai mulut bibirnya untuk memuji Tuhan. Kalau kita memakai mulut bibir kita menyebut Yesus sebagai Tuhan, sementara kita juga terus menerus mengomel, mana mungkin kita mencerminkan hidup yang serasi, saksi Kristus yang konsisten?

If you truly call Jesus Lord, let your lip give offering of praise to Him. Meski menderita, bairlah kita tetap stabil, meski harus menerima sengsara karena Kristus biarlah kita menjalaninya dengan rela, sebab kita tahu, dunia ini sementara, kita sedang mengharapkan kota yang kekal di sorga. Perhatikan: orang yang selalu bersyukur, selalu optimis, selalu lebih berpikir positif, selalu berterima kasih kepada Tuhan, hidupnya lebih kuat. Tapi orang yang selalu mengomel, hidupnya justru semakin suram. Marilah kita belajar menjadi orang yang berkata, Tuhan, aku bersyukur, bersyukur dan bersyukur.

Selama tiga belas bulan terakhir ini, saya terus menerus batuk, tapi tak satu kalimat omelan yang saya lontarkan kepada Tuhan, karena toh saya masih bisa berkhotbah, puji Tuhan. Meski begitu sulit, saya masih tetap bisa berkhotbah, setiap minggu masih bisa menghampiri ribuan orang, puji Tuhan. Karena bersyukur, bersyukur, berterima kasih, berterima kasih….setan tidak punya kemungkinan mengganggu kita, membuat lemah rohani kita, membuat kita marah pada Tuhan atau mengomel pada orang lain. Karena selalu bersyukur, lembah bayang-bayang maut, kesusahan akan berlalu, suatu hari nanti kita akan beroleh kemenangan, terbukti bahwa diri kita tahan uji. Terakhir: di tengah penderitaan, setan menunggu kau memaki Tuhan dan dia merasa senang, tapi Tuhan menunggu kau memuji Dia, agar namaNya dipermuliakan. Kau mau dipakai oleh tangan yang mana: dipakai oleh Tuhan untuk mempermalukan setan atau kau dipakai oleh setan untuk mempermalukan Tuhan, kau mau bersyukur untuk memuliakan Tuhan atau bersungut-sungut untuk mempermalukan Tuhan? Hari ini, mari kita belajar menjadi orang yang bersyukur kepada Tuhan, maukah saudara?
(ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah–EL)
Ringkasan khotbah : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/05/senantiasa-bersyukur-pada-tuhan/

Ayah Seorang Tentara

“Putra anda ada di sini,” kata perawat kepada orang tua itu. Ia harus mengulang kata-kata itu beberapa kali sebelum mata orang itu membuka. Ia masih sangat terpengaruh oleh obat penenang dan hanya setengah sadar sesudah mengalami serangan jantung berat malam sebelumnya. Tampaknya ia hanya dapat melihat secara samar-samar pemuda berseragam marinir yang berdiri di samping pembaringannya. Lelaki tua itu mengulurkan tangannya. Sang marinir menggenggamkan tangannya yang kuat ke tangan lemas orang tua itu dan meremasnya dengan lembut. Perawat menaruh sebuah kursi, sehingga prajurit yang masih lelah itu dapat duduk di sisi pembaringan. 

Sepanjang malam itu, sang marinir muda duduk di bangsal yang berpenerangan buruk, terus memegangi tangan si orang tua itu dan terus mengeluarkan kata-kata penghibur. Orang yang mau meninggal itu tidak berkata sepatah pun, tetapi terus menggenggam tangan sang marinir. Tanpa peduli dengan bunyi tangki oksigen, rintihan pasien-pasien lain, dan gemerisik staf tugas malam yang datang dan pergi ke bangsal itu, sang marinir terus berjaga di sisi orang tua itu. Untuk kesekian kalinya, ketika mampir untuk memeriksa kondisi sang pasien, perawat terus mendengar marinir muda itu membisikkan kata-kata penghiburan kepada si sakit. Beberapa kali sepanjang malam itu, perawat menawarkan istirahat sejenak kepada sang marinir. Akan tetapi setiap kali, tawaran itu ditolak.

Menjelang matahari terbit lelaki itu mengembuskan napas terakhirnya. Sang marinir meletakkan tangan orang tua yang sudah tidak bernyawa itu ke tempat tidur lalu menemui perawat. Sementara perawat mengurusi jenazah, marinir muda itu menunggu dengan sabar. Dan begitu selesai dengan tugas itu, seperti biasa sang perawat mengungkapkan kata-kata belasungkawa, tetapi sang marinir menyela.
“Siapa sesungguhnya orang itu?” tanyanya.
Dengan sangat terkejut perawat itu menjawab,
“Tentu saja ayah Anda.”
“Bukan, ia bukan ayahku,” kata pemuda itu.
“Aku belum pernah melihatnya sama sekali.”
“Lalu mengapa Anda tidak mengatakan apapun ketika dibawa kepadanya?”
“Setiba di sini, aku langsung tahu ada yang salah ketika atasan memberi perintah mendadak kepadaku untuk pulang. Dalam kesatuanku ada orang lain yang baik nama dan tempat lahirnya sama denganku, dan nomor pokok kami juga hampir sama. Mereka salah mengirimku,” kata marinir muda tadi.

“Tapi aku juga tahu bahwa orang tua ini membutuhkan kehadiran anaknya, padahal mengharapkan anaknya datang ke mari mungkin sudah terlambat. Aku tahu bahwa kondisinya terlalu parah untuk mampu membedakan aku dari anaknya. Dan karena sadar bahwa ia sangat membutuhkan kehadiran anaknya, aku memutuskan untuk menemaninya.”

Ditulis dari “A 5th Portion of Chicken Soup for the Soul”
Ditulis oleh Roy Popkin
Halaman 11-13

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/03/ayah-seorang-marinir/

Senin, 21 Mei 2012

Sepuluh Hukum – Hukum Keenam (Part 2)

Jangan membunuh adalah salah satu perintah yang paling kuat di dunia. Perintah ini bukan dari manusia kepada manusia, melainkan perintah dari Allah Pencipta kepada manusia ciptaan-Nya. Manusia adalah ciptaan yang bernilai, yang diberi peta teladan Allah untuk merefleksikan kemuliaan-Nya, menjadi pelaksana kehendak-Nya. Namun, justru karena manusia tidak mengenal nilai diri dan sesamanya maka dia selalu mencari-cari kesalahan, kekurangan orang lain, lalu membenci, merusak, bahkan sampai berhasil menyingkirkannya. 

Mengutip kalimat Jean-Paul Sartre, “Others’ existence is my hell” (orang lain adalah neraka bagiku). Sungguh, iri hati, benci, dengki terhadap sesama membuat dunia bagaikan neraka. Manusia sulit untuk belajar menikmati keindahan dan kebaikan orang lain yang tidak dia sukai dan yang tidak menguntungkan baginya. Bukankah Tuhan memerintahkan agar manusia mencintai musuhnya dan berdoa bagi orang-orang yang menganiaya mereka? Hal ini sungguh bukanlah hal yang mudah, tetapi inilah ajaran Kristen. Tidak cukup seorang Kristen hanya memiliki doktrin yang benar. Ia harus juga diperlengkapi dengan etika yang benar. Kristus, dasar dan asal dari semua doktrin Kristen, di dalam inkarnasi-Nya telah begitu rela mengampuni Yudas yang menyalibkan-Nya. Ia begitu rela membasuh kakinya dan menaruh roti di pinggannya. Kita sungguh tidak bisa mengerti. Tidak ada teladan dalam hal mengasihi, menghormati, dan bertoleransi kepada sesama yang lebih tinggi dari teladan Kristus.

Tuhan ingin kita saling menghormati. Selama saya hidup, saya berusaha untuk bisa berjiwa besar, melihat kelebihan orang lain, tidak menghina siapapun, dan sebisanya menggali semua karunia yang ada pada seseorang untuk bisa lebih lagi melayani Tuhan. Saya berusaha untuk menampung, mengerti, memberi toleransi kepada mereka, dan untuk itu saya sungguh mohon kekuatan dari Tuhan untuk bisa memengaruhi, mengubah, dan mendidik mereka. Sungguh hal seperti ini tidak mudah karena terkadang dirugikan, harus belajar menyangkal diri, dan berani membayar harga yang mahal untuk itu. Namun, inilah semangat kekristenan. Orang yang tidak rela menyangkal diri dan memikul salib, sulit menjadi berkat bagi orang lain. Orang yang membenci orang lain sudah membunuh. Ada banyak jenis pembunuhan, seperti: membunuh perasaan, membunuh nyawa, membunuh otak, membunuh karier, dan seterusnya. Maka membunuh tidak harus dibatasi hanya sebagai pembunuhan fisik. Ada orang yang membunuh orang lain secara perlahan-lahan.

Apa Alasan Membunuh?
Alkitab menemukan satu prinsip yang tepat, yaitu jangan membenci orang lain. Membenci mengakibatkan pembunuhan. Di dinasti Tang (kira-kira 1.100 tahun lalu), ada selir yang merebut kekuasaan kerajaan, lalu ia mulai menganiaya dan membunuh ratu secara perlahan-lahan: dipotong hidungnya, telinganya, tangannya, kakinya, lalu matanya dicungkil, lidahnya dipotong, lalu ditempatkan di WC, mencium bau kotoran sampai mati. Kejam luar biasa. Dia bukan hanya melihat musuh, tetapi dia juga berperan seperti Allah yang mempermainkan hidup seseorang. Siapa manusia? Manusia adalah ciptaan Allah yang sama-sama berbagi kasih Allah. Oleh karena itu, janganlah kita membenci satu terhadap yang lain. Jangan menggunakan kuasa lebih dari yang sepatutnya. Jika ada bibit iri hati, benci, dengki, engkau harus segera bertobat. Meskipun kebencian sepertinya tidak mudah dilihat oleh orang lain, tetapi kita harus ingat bahwa Tuhan Allah kita melihat setiap pribadi. Peribahasa Tionghoa mengatakan: Ada jaring hukum sorga yang sepertinya longgar, tetapi tidak melepaskan orang yang melanggar hukum. Terlalu banyak contoh bahwa orang-orang yang berbuat kejahatan, untuk seketika tidak ketahuan, tetapi suatu saat pasti terbongkar. Tuhan tidak membiarkan dosa berjalan semaunya. Pernah terjadi seorang profesor dari sebuah universitas ternama di Amerika Serikat tertangkap karena membunuh enam puluh lima wanita cantik. Ketika ditunjukkan fotonya di koran, ia begitu terlihat baik, sopan, tampan, tetapi berjiwa setan. Sebaliknya, orang mengatakan Socrates berwajah badut berhati Allah. Mana yang lebih baik? Terkadang realitas sangat berbeda dengan esensi. Plato mengatakan, “Pencapaian tertinggi manusia di dunia ini adalah ketika ia bisa hidup seperti Allah.” Yesus berkata, “Ikutlah teladan-Ku.” Peta beda dari teladan. Peta adalah potensi, esensi, substansi; sementara teladan adalah pencapaian atau sasaran.

Ketika manusia bermusuhan, ia berpikir dengan membunuhnya semua akan selesai. Sebenarnya justru sebaliknya. Pembunuhan justru akan menciptakan masalah baru. Membunuh orang lain bukanlah penyelesaian masalah, tetapi menghasilkan suatu masalah baru yang lebih besar.

Pembunuhan Pertama
Kain adalah pembunuh pertama. Ia membunuh Habel, adiknya. Ia iri hati dengan adiknya, lalu karena lebih besar dan lebih tua, ia merasa boleh melakukan apa saja. Jika orang berpikir bahwa semua kesehatan, kedudukan, kekuatan, kepandaian boleh dipakai untuk melayani ambisi pribadi, ini akan menciptakan ketidakadilan. Jika engkau menjalankan keadilan, belas kasihan, kebajikan, dan kesucian, walaupun kelihatan tidak mendatangkan banyak keuntungan, Tuhan akan memberimu sejahtera. Hubungan antara engkau dengan dirimu sendiri, hubungan antara engkau dengan orang lain, antara engkau dengan alam, antara engkau dengan Allah, terjadi hubungan yang sangat indah dan harmonis. Segala sesuatu yang tidak seimbang adalah dosa. Ketidakseimbangan ini akan merusak relasi. Relasi yang tidak baik biasanya dimulai dengan memperlakukan sesama secara tidak adil. Inilah kejahatan yang dibenci oleh Tuhan.

Alasan kedua Kain membunuh Habel adalah karena persembahan Kain tidak diterima oleh Tuhan sementara persembahan Habel diterima. Tuhan mengatakan, “Jika perbuatanmu baik, tidakkah engkau diterima?” Itu berarti Tuhan menolak persembahan Kain karena ia jahat. Kain bukan tidak diterima persembahannya karena tidak mengandung darah. Habel diterima karena berbuat baik, ia memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Tuhan yang pertama-tama menyembelih binatang yang kulitnya dipakai untuk pakaian Adam dan Hawa akibat kejatuhan ke dalam dosa. Inilah korban pertama. Ketika Tuhan tidak menerima persembahan Kain, dia tidak introspeksi diri, tetapi marah. Tuhan memperingatkan dia untuk berhati-hati karena dosa sedang mengintip dan mau menerkam. Di sini dosa dipersonifikasikan. Dosa dipandang seperti seseorang yang berkekuatan besar dan bisa mencengkeram dan menghancurkan. Nanti di surat Roma, dosa dilihat dari dua segi, yaitu singular dan plural. Dosa dalam bentuk singular mengacu kepada kuasa, dan dosa dalam bentuk plural mengacu kepada kelakuan. Jadi ketika engkau mengonsumsi narkoba, bukan engkau sedang bermain-main dengan dosa, tetapi dosa sedang mempermainkan engkau. Namun, sekalipun sudah diperingatkan oleh Tuhan, Kain tetap tidak bertobat. Kesimpulannya adalah seperti yang Tuhan Yesus ucapkan kepada orang Yahudi yang mau membunuh-Nya, “Hanya karena Aku menyatakan kebenaran, maka engkau mau membunuh Aku?” (Yoh. 8:37-40). Inilah inti alasan pembunuhan. Manusia melawan dan membenci Yesus karena Yesus menyatakan kebenaran di tengah manusia yang tidak menyukai kebenaran.

Yesus satu-satunya pribadi yang mutlak benar di tengah-tengah manusia yang tidak menginginkan kebenaran. Pengorbanan Habel diterima karena mempersembahkan domba korban. Orang Liberal mengkritik bahwa Yehovah adalah Allah pencinta darah. Ini adalah pikiran yang tidak waras karena sebenarnya darah yang asli adalah darah Anak Allah sendiri, yaitu Yesus Kristus. Orang yang mempersembahkan korban darah berarti orang itu mau sinkron dengan Allah dan memahami maksud dan pengertian korban menurut Allah.

Kain membunuh adiknya dengan kekuatannya. Tuhan melihat dan bertanya, “Engkau meng­gu­nakan kebebasan untuk membunuh adikmu? Aku memperhitungkan ini sebagai kejahatan.” Apakah dengan kita menggunakan kebebasan untuk melakukan kejahatan lalu semua usaha kita akan lancar? Bukan, itu karena Tuhan mencatat dan membiarkan engkau melakukannya. Di dalam Pengkhotbah 12:14, dikatakan bahwa semua perbuatan yang kita lakukan akan membawa kita ke pengadilan Allah. Allah tidak bisa dipermainkan.
Bahaya Motivasi
Allah memperingatkan Kain sebelum dia melakukan pembunuhan. Ini berarti Allah sudah tahu akan motivasi dan keinginan Kain, tanpa perlu sampai melakukan. Kain diperingatkan, tetapi malah memukul Habel sampai mati. Bagi Kain, dia merasa diperlakukan tidak adil karena persembahan Habel diterima dan miliknya tidak. Banyak orang melihat keadilan sebagai sama rata. Kalau orang punya mobil, kita juga harus punya mobil. Kalau tidak maka Allah tidak adil. Dia lupa bahwa yang satu bekerja keras dan berusaha, sementara dia tidak mau bekerja dan malas luar biasa. Ini berarti bukan tuntutan keadilan, tetapi kesamarataan. Ini justru tidak adil dan tidak Tuhan inginkan.

Manusia tidak dicipta sama rata. Ada yang sangat pandai, ada yang biasa-biasa. Ada yang sangat cantik, ada yang biasa-biasa. Di dalam prinsip Tuhan, yang diberi lebih dituntut lebih. Maka keadilan harus dituntut melalui pelaksanaan kewajiban, bukan kesamarataan. Saya berusaha untuk tidak pernah mau iri hati di sepanjang hidup saya. Saya tidak ingin membandingkan dengan kekayaan orang lain, maka saya bisa memberi persembahan; saya tidak ingin lebih pandai, semua kepandaian yang Tuhan beri saya gunakan semaksimal mungkin. Intelektualitas adalah harta yang harus kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan. Seluruh hidup kita harus kita jalani dengan semaksimal mungkin.
Setelah Kain membunuh Habel, dia pikir semua sudah beres. Apakah setelah membunuh Habel karena korban Kain ditolak oleh Tuhan, maka kini korban Kain akan diterima? Tentu semakin tidak diterima. Maka tindakan pembunuhan ini sama sekali tidak menyelesaikan masalah Kain, tidak menjadikan semua beres. Sebaliknya, kini semua semakin tidak beres. Kain tidak merasa bertanggung jawab dan tidak merasa harus menjaga adiknya. Dia lupa bahwa hidup harus mengasihi dan takut akan Allah serta mengasihi sesama. Inilah etika salib, yaitu vertikal dan horizontal.

Darah Habel berteriak kepada Tuhan. Inilah nabi yang pertama. Yesus berkata, “Dosa membunuh nabi-nabi dari Habel sampai Zakaria dilimpahkan atas generasi ini” (Luk. 11:50-51). Ini pertama kali orang perlu tahu bahwa setelah mati tidak selesai. Mati bukanlah akhir, setelah mati masih bisa berbicara. Mungkin Habellah orang pertama yang meneriakkan hukum keenam ini. Di sepanjang sejarah, orang Farisi dan ahli Taurat juga merasa kuat dan membunuh Yesus, dan berbagai orang yang merasa kuat membunuh yang lemah.

Arti Hidup
Membunuh berarti tidak lagi menghargai arti kehidupan itu sendiri. Membunuh berarti menghina nilai hidup manusia. Kita harus menghargai hidup manusia karena manusia dicipta menurut peta teladan Allah. Agama-agama lain juga mengajarkan untuk jangan membunuh, tetapi mereka tidak mengerti batasannya sehingga ada agama yang memperluas hukum ini sampai tidak boleh membunuh nyamuk sekalipun. Ini akibat dari mereka tidak mengerti peta teladan Allah. Inilah bedanya Kitab Suci dengan ajaran agama-agama. Tuhan Pencipta manusia membuat garis batas yang tegas antara manusia dengan semua ciptaan lainnya.

Ada seorang mengajarkan, “Jangan membunuh ayam, nanti engkau mati lahir lagi jadi ayam; jangan membunuh kucing, nanti engkau jadi kucing; …” di belakangnya ada seorang anak yang menguntit, dan setelah dia diam, anak itu melanjutkan, “Jangan membunuh manusia, nanti setelah mati engkau lahir lagi jadi manusia.” Jadi tidak apa membunuh manusia, nanti lahir lagi jadi manusia. Di sini kita melihat bahwa logika dari pernyataan agama ini sangat lemah. Sangat berbeda dengan berita firman Tuhan. Firman adalah kebenaran, di mana tidak ada lowongan sedikit pun bersifat kontradiktif.

Kebebasan dan Pembunuhan
Perintah tentang ‘Jangan Membunuh’ berkait dengan berbagai ayat lain seperti “Barangsiapa menumpahkan darah orang lain, darahnya juga akan ditumpahkan.” Ajaran Alkitab sedemikian sempurna dan akurat sehingga satu dengan yang lain saling berkait dengan prinsip yang sama. Inilah firman, kebenaran yang dari Allah. Manusia tidak diperbolehkan membunuh sesamanya karena manusia dicipta menurut peta teladan Allah.

Memang Allah memberikan hak kebebasan kepada manusia yang sedemikian besar. Sebegitu besar kebebasan yang Allah berikan hingga bisa dipergunakan dengan semena-mena. Adam jatuh ke dalam dosa karena Adam telah menggunakan kebebasan yang Allah berikan untuk melawan Allah pemberi kebebasan itu. Ini sungguh suatu ironi.

Manusia dicipta mirip Allah, memiliki kuasa, kebebasan, dan keinginan yang luar biasa. Bedanya, Allah meletakkan kebebasan-Nya di dalam seluruh atribut-Nya. Kebebasan-Nya tidak pernah melawan kasih-Nya, keadilan-Nya, kesucian-Nya, dan kebenaran-Nya. Itu sebab, kebebasan Allah tidak pernah menyimpang. Sementara manusia tidak mau meneladani Allah dalam hal mengikat kebebasannya yang sedemikian besar. Maka manusia akhirnya menyimpang, memakai kebebasannya, haknya, kepandaiannya, untuk melawan Allah, yang adalah pemberi anugerah bagi hidup-Nya. Itulah kebebasan manusia yang akhirnya membinasakan dirinya. Mati berarti terpisah dari Allah, sumber hidup yang sejati. Itulah orang yang terlepas dari Tuhan, yang kehilangan fondasi dan standar hidup sehingga mungkin saja membunuh orang lain.

Perjanjian Lama memaparkan tiga kasus pembunuhan:
1. Kain, anak Adam, membunuh Habel, adiknya. Seharusnya Kain mengasihi dan melindungi Habel, adiknya. Tetapi kebencian akibat iri hati telah membuat Kain membunuh Habel. Ketika setan menanam bibit benci di dalam hati, engkau mulai tidak suka pada orang itu. Kalau kita mencintai seseorang, kita bersedia mengampuni semua kelemahannya, mau mengerti dia. Tetapi ketika sudah benci, kita akan mencari kesalahannya. Ketika kebencian itu dipicu oleh iri hati karena dia lebih pandai, lebih kaya, lebih cantik, lebih sukses, dan lain-lain, dan akhirnya merasa keberadaannya menjadi ancaman bagimu, hal-hal seperti ini bisa membuahkan pembunuhan karena kita ingin mengenyahkan dia. Kebencian membuat kita tidak bisa lagi melihat manusia dari sudut pandang Tuhan. Kalau kita melihat manusia menurut kacamata Tuhan, maka kita akan segera tahu bahwa setiap orang adalah ciptaan Tuhan, yang membutuhkan Injil, kasih, dan kebenaran. Lalu dari situ kita mulai belajar bagaimana untuk melayaninya. Kita tidak boleh hanya mementingkan diri sendiri. Orang yang sibuk mementingkan diri tidak mungkin bisa melayani Tuhan dengan baik. Seperti Kain melihat Habel bukan sebagai adik, tetapi sebagai musuh dan ancaman baginya. Sekalipun Habel tidak bersalah apa pun kepadanya, ia dibenci. Habel hanya taat menjalankan kehendak Allah karena Habel peka akan firman Tuhan, mengerti pengorbanan penebusan. Tanpa penumpahan darah tidak ada penebusan.

2. Pembunuhan oleh Ahab, raja Israel. Ahab adalah raja yang dikuasai istrinya, Izebel. Maka Ahab hanyalah raja boneka. Ia tidak takut Tuhan dan menyembah Baal dan memelihara empat ratus nabi Baal. Istrinya menyembah Asyera dan memelihara nabi Asyera lebih banyak lagi. Pada saat itu, Elia hidup sebagai nabi yang berdoktrin benar. Elia dengan berani menegur Ahab dan menyatakan tidak akan turun hujan di Israel. Ahab membenci Elia, tetapi ia tidak berani karena Tuhan menyertai Elia. Suatu hari Ahab mengingini sebidang tanah di kotanya. Ternyata tanah itu milik Nabot dan tidak mau dijual karena tanah itu adalah tanah warisan. Ahab pulang dengan murung dan tidak mau makan. Ketika istrinya mendengar hal itu, ia mengirim orang jahat untuk membunuh Nabot dan mengambil tanahnya. Ketika sedang merencanakan penggunaan tanah itu, Elia datang. Ahab malah menuduh Elia sebagai penyebab malapetaka di negaranya. Ini ciri orang berdosa yang tidak mau mengakui dosanya. Maka Elia mengumumkan bagaimana Ahab akan mati dibunuh dan darahnya akan dijilat anjing, dan hal ini sungguh-sungguh terjadi. Allah adalah Allah yang adil.

3. Daud membunuh Uria. Daud begitu terpesona pada kecantikan dan kemolekan tubuh telanjang dari Batsyeba dan ingin tidur dengan dia. Desakan nafsu membuat Daud lupa akan firman Tuhan dan lebih suka memenuhi nafsu bejatnya. Dia merasa bahwa dia raja yang berkuasa dan bukankah raja berhak punya banyak istri. Dia lupa bahwa dia adalah raja yang punya Tuhan dan punya Taurat. Akhirnya, Daud meletakkan Uria, suami Batsyeba di garis depan peperangan yang paling berbahaya, dan Uria gugur sebagai panglima perang yang gagah berani. Dengan cara demikian, Daud bisa mengambil Batsyeba sebagai istrinya, bahkan terkesan berjasa karena menolong janda dari panglimanya yang begitu setia. Tetapi Tuhan mengutus nabi Natan untuk menegur Daud. Natan datang dengan membawa sebuah cerita perumpamaan, tentang orang kaya dengan domba tambun dan petani miskin yang punya domba betina kecil. Lalu orang kaya itu ingin menjamu tamunya dan tidak mau kehilangan dombanya, maka ia mengambil domba betina tetangganya yang miskin itu. Raja Daud marah dan menanyakan siapa orang kaya yang jahat itu. Dan Natan menunjuk pada dirinya Daud. Di sini Natan menyatakan diri sebagai hamba Tuhan yang berani menyatakan kesalahan raja. Tuhan tahu apa yang Daud kerjakan. Daud menangis dan bertobat. Tuhan mengampuni dosanya. Ini sikap yang sangat berbeda dari Herodes yang marah ketika ditegur dosanya oleh Yohanes Pembaptis, dan menjebloskan Yohanes ke penjara dan kemudian memenggal kepalanya.

Tuhan berkata, “Jangan membunuh.” Membunuh tidak menyelesaikan masalah karena keadilan Tuhan akan menuntut pembalasan. Maka, dapatkah Saudara berkata, “Tuhan, tolonglah aku membuang bibit kebencian dari dalam diriku. Jadikan aku pengikut yang meneladani Engkau dan menjalankan perintah-Mu”? Amin.


Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Ringkasan Khotbah Sebelumnya :
Hukum pertama hingga keempat berbicara tentang hukum vertikal, menyatakan relasi antara Pencipta dan ciptaan.
Hukum kelima mulai membahas relasi antara manusia dengan manusia yang Ia cipta.
Hukum 5 : Hormati Orang Tuamu
Hukum 6 : Jangan Membunuh


Sumber : http://www.nusahati.com/2012/03/sepuluh-hukum-%E2%80%93-hukum-keenam-part-2/

Setiap Waktu Adalah Istimewa

Setiap hari dalam hidup kita adalah Istimewa, Sahabatku membuka laci tempat istrinya menyimpan pakaian. Dia membuka bungkusan berbahan sutra ‘ Ini, .’, dia berkata, ‘ Bukan bungkusan yang asing lagi…..’ 

Dia membuka kotak itu dan memandang pakaian berbahan sutra serta kotaknya. ‘Istriku membeli ini ketika pertama kali kami pergi ke New York, Kira-kira 8 atau 9 tahun yang lalu. Dia tidak pernah mengeluarkan bungkusan ini apalagi mengenakannya. Karena menurut dia, hanya akan dia gunakan untuk kesempatan yang istimewa.’

Dia melangkah ke dekat tempat tidur dan meletakkan bungkusan tersebut di dekat pakaian yang dia pakai ketika pergi ke pemakaman.

Istrinya baru saja meninggal. Dia menoleh padaku dan berkata: “Jangan pernah menyimpan sesuatu untuk kesempatan istimewa, karena setiap hari dalam hidup kita adalah istimewa!

Aku masih berpikir bahwa kata-kata itu akhirnya mengubah hidupku. Sekarang aku lebih banyak membaca dan mengurangi bersih-bersih. Aku duduk di sofa tanpa khawatir tentang apapun.

Aku meluangkan waktu lebih banyak bersama keluargaku dan mengurangi waktu bekerjaku. Aku mengerti bahwa kehidupan seharusnya menjadi sumber pengalaman supaya bisa hidup, tidak semata-mata supaya bisa survive (bertahan hidup) saja. Aku tidak berlama-lama menyimpan sesuatu.

Aku menggunakan gelas-gelas kristal kesayanganku setiap hari. Aku akan mengenakan pakaian baru untuk pergi ke Supermarket, jika aku menyukainya. Aku tidak akan menyimpan parfum specialku untuk kesempatan istimewa, aku menggunakannya kemana pun aku menginginkannya.

Kata-kata ‘Suatu hari …..’ dan ‘Suatu saat nanti…..’ sudah lenyap dari kamusku. Jika dengan melihat, mendengar dan melakukan sesuatu ternyata bisa menjadi berharga, aku ingin melihat, mendengar atau melakukannya sekarang.

Aku ingin tahu apa yang dilakukan oleh istri temanku itu apabila dia tahu dia tidak akan ada di sana pagi berikutnya, ini yang tak seorangpun mampu mengatakannya.

Aku berpikir, jika mungkin dia tahu, malam sebelumnya dia pasti sedang mengenakan pakaian kesayangannya itu. Atau sehari sebulumnya dia akan menelepon rekan-rekannya serta sahabat terdekatnya. Barangkali juga dia akan menelpon teman lama untuk berdamai atas perselisihan yang pernah mereka lakukan. Mungkin dia akan pergi makan Martabak Spesial, makanan favoritnya bersama suaminya. Semua ini adalah hal-hal kecil yang mungkin akan kita sesali jika tak sempat kita lakukan. kita akan menyesalinya, karena Kita tidak akan lebih lama lagi melihat orang-orang yang kita sayangi.

Aku teringat orang-orang yang aku kasihi,  aku akan menyesal dan merasa sedih, Jika aku tidak sempat mengatakan betapa aku sangat mencintai mereka. Sekarang, aku akan mencoba untuk tidak menunda atau menyimpan apapun yang bisa membuatku tertawa dan bisa membuatku menikmati hidup. Dan setiap pagi, aku akan berkata kepada diriku sendiri bahwa hari ini adalah Hari yang istimewa bagiku. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, adalah istimewa.

Apabila kamu mendapatkan pesan ini, itu karena seseorang peduli padamu  dan mungkin karena ada seseorang yang seharusnya kamu pedulikan. Jika kamu terlalu sibuk untuk mengirimkan pesan ini kepada orang lain dan kamu berkata kepada dirimu sendiri bahwa kamu akan mengirimkannya ‘suatu saat nanti…..’ Ingatlah bahwa ‘suatu saat nanti’ itu sangat jauh. Dan mungkin tidak akan pernah datang padamu…..
Hal ini ditulis  oleh Ann Wells yang dimuat dalam Los Angeles Times, ketika kehilangan orang yang dikasihi…



Sumber : http://www.nusahati.com/2012/02/setiap-waktu-adalah-istimewa/

Sepuluh Hukum – Hukum Keenam (Part 1)

Hukum keenam merupakan hukum yang menyangkut relasi manusia dengan manusia secara umum tanpa kualifikasi khusus, seperti orang tua dan anak, atau pimpinan dan anak buah. Demikian ini berlaku untuk seluruh sisa hukum Taurat ini.

Mengapa setelah perintah hormati ayah dan ibu, lalu dilanjutkan dengan “Jangan membunuh”? Allah ingin manusia menghargai sesamanya. Apalagi yang sedang dibicarakan tentang membunuh atau dibunuh adalah makhluk yang dicipta menurut peta teladan Allah. Semua kesulitan di dalam kehidupan masyarakat, baik itu ketidakadilan atau ketidakharmonisan antara seseorang terhadap orang lain adalah karena manusia kurang menghargai sesamanya. Setelah Adam jatuh ke dalam dosa, kejahatan merajalela di bumi dan mendarah-daging dalam sifat manusia. Ketika manusia menjadikan dirinya pusat dari segalanya, egosentris menjadi motivasi utama, dorongan hidup, dan kriteria kelakukan kita, muncullah ketidakadilan.

Orang membunuh orang lain karena merasa dirinya pantas hidup di dunia sementara orang lain tidak pantas hidup di dunia; atau kehadiran orang lain telah mengganggu keberadaan dirinya sehingga ia meniadakan orang itu. Itu sebabnya, setelah Allah memberikan perintah untuk menghormati orang tua, segera disusul dengan perintah jangan membunuh. Manusia tidak boleh membunuh karena yang menetapkan nilai setiap manusia bukanlah manusia, melainkan Allah. Allah yang mencipta, memberi, dan mengizinkan seseorang hidup, memahkotai dengan kehormatan dan kemuliaan, maka setiap orang patut dihargai. Tidak ada satu agama yang menetapkan nilai, harkat, identitas manusia lebih tinggi dari yang Allah berikan di Kitab Suci. Tidak ada filsafat, kebijaksanaan, dan kebudayaan dari zaman apa pun atau negara mana pun memberi nilai lebih tinggi dari yang Alkitab berikan. Sebelum Allah menciptakan manusia, Ia berkata, “Marilah kita menciptakan manusia menurut peta teladan Kita.” Maka diciptakan-Nya laki-laki dan perempuan seturut peta teladan-Nya. Tidak ada dan tidak mungkin ada agama yang mengajarkan seperti ini. Sebelum manusia dicipta sudah diberi harkat, nilai, dan harga. Pada umumnya, kita harus mengerjakan sesuatu terlebih dahulu barulah diberi nilai. Misalnya, seorang seniman menciptakan lagu, barulah orang menentukan harga jualnya. Begitu pula produsen mobil merancang dan memproduksi mobil baru, barulah orang menetapkan harga jualnya. Tetapi Tuhan tidak demikian. Ia telah menciptakan nilai sebelum menciptakan manusia.

Manusia diciptakan paling akhir dan mendapat nilai yang tertinggi. Allah menciptakan manusia sebagai tuan alam semesta juga sebagai makhluk yang menikmati semua yang telah Allah ciptakan sebelumnya baginya. Semua ciptaan dicipta untuk manusia dan manusia dicipta untuk Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Allah berada di atas manusia dan manusia berada di atas seluruh alam. Siapapun tidak berhak untuk mengubah urutan posisi ini. Barang siapa bergeser dari posisi yang Allah telah tetapkan, seumur hidup ia akan kacau, penuh kekhawatiran, bahkan merasa hidupnya tidak berarti. Allah menciptakan segalanya untuk dinikmati dan dipakai manusia untuk melayani manusia. Maka, kucing, sapi, langit, bumi, udara, oksigen, dan semua makanan yang bernutrisi diciptakan untuk manusia. Manusia boleh memiliki, menikmati, dan mengalami anugerah Tuhan yang begitu limpah, melampaui segala ciptaan-Nya yang mengisi semua kebutuhan tubuh maupun batinnya. Alam yang begitu indah diciptakan Allah untuk manusia, bahkan malaikat diciptakan untuk melayani anak-anak Tuhan yang mewarisi keselamatan. Itu sebabnya kita harus sadar dan bangga akan posisi yang Allah tetapkan yakni lebih tinggi dari segalanya. Jangan sekali-kali kita menurunkan derajat diri kita menjadi budak materi, budak uang. Orang kaya yang hidup hanya mencari uang dan tidak bisa hidup tanpa uang banyak adalah budak harta. Tetapi orang yang berpotensi menduduki jabatan tinggi, lalu rela menjadi guru yang honornya kecil, dia sudah terlepas dari belenggu harta. Itu sebabnya, orang Reformed tidak memandang berapa banyak kekayaan yang seorang miliki lalu mengagungkan dia sambil menginjak-injak orang miskin. Kita harus sadar bahwa setiap manusia sama-sama diciptakan menurut peta teladan Allah.

Tuhan menciptakan segala sesuatu termasuk materi untuk mencukupi kebutuhan kita. Jadi materi bersifat pasif dan rendah sedangkan manusia bersifat aktif dan tinggi derajatnya. Tetapi setinggi apa pun manusia, dia tetap berada di bawah Allah. Maka jika kita meletakkan sesuatu selain Allah di atas kita, kita telah menghina dan merampas kemuliaan Allah. Ajaran seperti ini tidak mungkin ada di ajaran agama lain bahkan Taurat karena pasti akan meletakkan manusia lebih rendah atau menjadi paling tinggi di atas segalanya. Atheisme meletakkan diri begitu tinggi sehingga tidak ada tempat bagi Allah di atas; dan materialisme meletakkan manusia begitu rendah menjadi budak materi, membiarkan materi berkuasa atas hidupnya. Maka seseorang yang konsep nilainya salah akan kacau, bingung, dan tersesat hidupnya.

Manusia adalah wakil Tuhan sehingga ia diciptakan menurut peta teladan-Nya. Inilah nilai manusia yang tepat. Manusia memancarkan dan merefleksikan kemuliaan dan kehormatan Allah. Di dalam Simfoni Ketiga, Kelima, Ketujuh dan Kesembilan dari Beethoven, kita bisa merasakan bagaimana dia berjuang melawan nasibnya yang malang tanpa kompromi. Ini ciri khas Beethoven yang tidak ditemui dalam karya Haydn dan Mendelssohn karena mereka hidup begitu nyaman dan lebih kaya. Sekalipun akhirnya Beethoven menjadi kaya, ia meninggal sebelum sempat menikmati kekayaannya. Karya Beethoven bisa kita lihat sebagai peta teladan Beethoven; karya Mozart memiliki peta teladan Mozart; karya Haydn memiliki peta teladan Haydn. Setiap orang besar meletakkan peta teladan mereka di dalam karya mereka. Dari manakah kita mengenal Tuhan? Dari manusia. Dari mana kita melihat aksi melawan Tuhan? Juga dari manusia. Maka manusia dapat menyatakan ketaatannya kepada Allah sehingga merefleksikan peta teladan-Nya, tetapi juga dapat memberontak, melawan, dan merefleksikan pembangkangan terhadap peta teladan Allah. Maka adalah bohong jika seseorang mengatakan ia mencintai Tuhan tetapi membenci sesamanya. Omong kosong jika seseorang yang tidak menghargai karya Allah yang memiliki peta teladan-Nya mengaku berbakti kepada Tuhan. Orang yang membunuh manusia demi agama adalah orang yang sama sekali tidak mengerti Tuhan dan tidak mengerti hukum keenam yang Ia berikan, yaitu: Jangan membunuh.

“Jangan membunuh” bukan berarti kita tidak boleh membunuh binatang. Sejak sebelum hukum keenam diberikan, Tuhan sudah mengizinkan manusia untuk makan daging binatang. Allah tidak mengizinkan manusia membunuh manusia, tetapi mengizinkan membunuh binatang. Manusia yang membunuh sesamanya jauh lebih kejam dari binatang. Hampir tidak ada (hanya sebagian kecil) binatang yang membunuh binatang yang sejenis dengannya, maka lebih tidak patut lagi jika manusia membunuh sesamanya. Tidak ada binatang yang sekejam manusia. Binatang ketika membunuh mangsanya, ia membunuh dengan cepat dan memangsanya; atau menggigit punuknya, bagian saraf utamanya, sehingga kehilangan rasa sakit, baru memangsanya. Manusia sering kali membunuh dengan begitu keji.

Tuhan Yesus berkata, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh isi dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat. 16:26). Itu berarti manusia jauh lebih tinggi nilainya dari seluruh isi dunia ini. Oleh karena itu, Tuhan mengajarkan kepada manusia untuk menghargai sesamanya, mulai dari menghargai orang tua, lalu menghargai semua orang lain.

Peta dan teladan merupakan alfa dan omega manusia. Peta adalah potensi diri sementara teladan merupakan tujuan. Peta (potensi) Allah menyebabkan tujuan hidupnya seperti Allah, meneladani Kristus. Di dalam Perjanjian Lama, manusia setara dengan manusia lainnya. Di dalam Perjanjian Baru, manusia lebih besar dari dunia dan seluruh isinya. Oleh karena itu, manusia tidak bisa membunuh manusia lalu menggantinya dengan uang sebesar Rp. 200 juta atau $200 juta karena manusia tidak identik dengan uang. Allah berkata kepada Musa, “Barangsiapa menumpahkan darah orang lain, darahnya sendiri juga akan ditumpahkan” (Kej. 9:6). Kita harus melihat manusia secara utuh. Ini merupakan hak asasi manusia, tidak peduli dia kaya atau miskin, berkedudukan tinggi atau rakyat jelata, orang yang sempurna atau cacat, pria atau wanita. Di hadapan Tuhan setiap manusia dipandang setara dengan semua manusia lainnya. Itu sebabnya, Allah berfirman, “Marilah Kita menciptakan manusia menurut peta teladan Kita,” yang diikuti ayat berikutnya, “lalu diciptakanlah mereka, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka menurut peta teladan-Nya” (Kej. 1:26-27). Maka yang pertama kali mencetuskan kesetaraan pria dan wanita di dalam sejarah adalah Alkitab, bukan perjuangan filsafat manusia, apalagi feminisme yang memperjuangkan kesetaraan wanita dengan pria saat ini.
Di dalam Perjanjian Baru, manusia bernilai begitu tinggi melampaui seluruh dunia dan isinya. Itu sebabnya Kristus rela mati untuk kita. Jika di dunia ini hanya ada satu orang maka Kristus tetap akan datang ke dunia untuk mati baginya, karena hanya Dialah nilai tertinggi yang dapat menebus dosa manusia. Itu membuat kita sadar, betapa besar cinta Tuhan bagi kita sampai Kristus mati di kayu salib. Nilai investasi Allah saat menciptakan manusia begitu besar. Orang yang mempermainkan diri sendiri dengan berjudi, berzina, melampiaskan nafsu dosanya, bukan hanya menurunkan harkat dirinya juga sangat melukai hati Allah yang begitu mencintainya dengan menciptakan dia menurut peta teladan-Nya. Hanya orang yang menyadari bahwa nilai manusia begitu tinggi yang tidak akan sembarangan menghancurkan diri dan hidup orang lain. Tuhan tidak mengizinkan kita merusak hidup orang lain. Bahkan di kitab Yohanes tertulis, “Barang siapa membunuh, dia tidak memiliki hidup kekal.” Bunuh diri juga harus dilihat dengan prinsip yang sama. Saat engkau membunuh orang lain, engkau membunuh manusia; saat engkau membunuh dirimu sendiri, engkau tetap membunuh manusia. Maka manusia tidak punya hak untuk membunuh orang lain maupun membunuh dirinya sendiri.

Di kebudayaan Gerika ada tiga aliran filsafat yang dominan, yaitu:
1. Epicureanism. Filsafat ini mengajarkan bahwa tujuan hidup adalah berbahagia. Pendirinya yaitu Epicurus adalah pencari bahagia. Bagi dia, bahagia identik dengan damai. Dia melihat a) damai dengan diri sendiri, b) damai dengan orang lain, dan c) damai dengan dunia. Apabila seluruh relasi kita damai maka kita bisa tidur nyenyak. Ketika engkau diperlakukan tidak adil, engkau mulai merasa relasi tidak beres, maka itu membuat engkau menjadi jengkel dan susah tidur. Menurut Epicurus, manusia baru bahagia jika berdamai dengan diri, sesama, dan alam. Itu sebabnya, seseorang harus menanam dan menuai sesuai musimnya, karena jika tidak maka tidak akan damai. Namun kemudian, Epicureanism diteruskan menjadi Hedonism, suatu pelampiasan nafsu liar dengan berzina dan menyebutnya bahagia. Pada masa kini, banyak pemuda pemudi yang merasa bahagia jika tidak dikekang oleh orang tua atau guru sehingga bisa menonton film porno, melakukan perbuatan terlarang dengan bebas. Ini bukan pikiran asli Epicurus. Epicurus hidup begitu sederhana, jauh dari hidup mewah karena bagi dia damai tidak diikat oleh segala nafsu dan kenikmatan pribadi. Pemikirannya mirip dengan Buddhism. Maka, banyak orang sakit, susah, khawatir, datang kepadanya, lalu mendapatkan ketenangan dan damai karena dilepaskan dari nafsu. Ini adalah konseling yang pertama di dunia. Tetapi konseling Kristen berbeda dari konseling yang berdasarkan filsafat atau psikologi yang hanya memberikan ketenangan.

2. Stoicism. Stoicism mengajarkan bahwa bahagia dicapai melalui perbuatan baik. Tokoh utama aliran ini adalah Zeno. Ajaran ini dimulai di Stoa, di mana mereka mendiskusikan bahagia dan berkesimpulan bahwa seseorang harus berbuat baik dan memberikan sesuatu kepada orang lain. Filsafat ini menjadi arus utama hingga 300 tahun setelah Aristoteles meninggal. Saat itu dunia tidak lagi mengutamakan astronomi, biologi, kosmologi, dan lain-lain, tetapi fokus kepada manusia. Di zaman Socrates, orang berhenti mencari tahu tentang alam semesta, lalu berusaha mengenal diri sendiri. Dan pada zaman Plato, berbalik orang mulai mengutamakan kosmologi. Di zaman Aristoteles orang mengutamakan epistemologi dan logika. Tiga ratus tahun setelah Aristoteles, di zaman Kristus dan Paulus, orang Gerika tidak lagi mementingkan kosmologi, epistemologi, astronomi, tetapi mulai mencari makna hidup. Manusia mulai mencari bahagia. Orang yang kehilangan makna hidup akan bunuh diri. Orang yang dianggap tidak ada maknanya akan dibunuh.

3. Skepticism. Skepticism adalah pikiran yang selalu meragukan semua kebenaran. Mereka meragukan semua definisi dan menganggap tidak ada yang bisa dipastikan sebagai benar.

Tiga pandangan ini mendominasi seluruh pengertian manusia tentang nilai hidupnya. Dari sini kita akan menelaah bagaimana hubungan manusia dengan manusia yang dikaitkan dengan nilai hidup diri dan orang lain.
1. Saya OK, kamu OK. Di sini saya dan engkau bisa hidup bersama karena kita sama-sama suka yang berbeda tetapi tidak memengaruhi satu terhadap yang lain. Saya suka bayam, kamu suka buncis, saya suka Islam, kamu suka Kristen, itu tidak menjadi masalah di mana apa pun juga OK.
2. Saya OK, kamu tidak OK. Saya beres, kamu tidak beres. Ini pandangan sebagian besar manusia. Hal ini yang membuat akhirnya terjadi perseteruan. Semua menjadi tidak benar, hanya saya yang benar.
3. Kamu OK, saya tidak OK. Pandangan ini selalu melihat orang lain yang beres, yang benar, sementara diri kita pasti salah, pasti kurang.
4. Kamu tidak OK, saya juga tidak OK. Itu berarti sama-sama merasa tidak beres dan melihat semuanya tidak ada yang beres.

Seseorang membunuh orang lain karena ia membenci orang itu; orang membunuh diri karena ia membenci dirinya sendiri. Jadi membunuh, baik membunuh diri maupun membunuh orang lain, terjadi karena salah menilai hidup manusia. Itu sebabnya, bagaimanapun susahnya hidupmu, begitu banyak hal yang tidak dapat engkau capai, begitu banyak kesulitan yang engkau hadapi, engkau tetap harus hidup. Jangan pernah mempunyai pikiran bunuh diri. Niat bunuh diri itu datang dari Iblis yang selalu mau melecehkan manusia, ciptaan Tuhan yang diciptakan menurut peta teladan-Nya. Di sini kita melihat bahwa konsep dan pengertian orang Kristen berbeda dari semua ajaran agama dan pikiran orang sekuler yang belum mengenal firman Tuhan.

Selama di dalam kaitan ini kita tidak terlalu memutlakkan salah satu dan tidak terlalu ekstrem, maka kita bisa hidup. Masalahnya, sikap OK dan tidak OK ini bisa berubah bahkan hingga ke tingkat radikal. Jika kita merasa kita mutlak OK dan kamu mutlak tidak OK, maka ini menjadi masalah yang sangat berbahaya. Orang bisa sama sekali tidak peduli akan semua kerusakan masyarakat karena menganggap semua itu OK. Sebaliknya, ada orang yang berjuang agar cepat kiamat dan berusaha menghancurkan seluruh dunia karena dia berpandangan semua dunia ini tidak OK. Ini bisa menjadi penyebab dari terorisme dan pembunuhan. Orang yang menganggap diri lebih penting dari orang lain, bahkan merasa punya hak lebih dari orang lain, akan menghancurkan orang lain. Negara Amerika Serikat, yang memiliki paling banyak sekolah tinggi, tidak banyak bisa menghasilkan orang Kristen yang berkarakter baik. Itu sebabnya Abraham Kuyper dan semua tokoh Reformed menyadari pentingnya pendidikan Kristen. Bagi saya, pendidikan Kristen yang serius harus dimulai dengan Theologi Reformed.

Ketika seseorang sudah mulai memutlakkan tidak OK, maka itu akan mulai mengarah kepada kemungkinan terjadinya pembunuhan. Orang membunuh orang lain karena beberapa sebab utama:

1. Dia beranggapan bahwa orang lain tidak beres sehingga lebih baik hidupnya dihentikan. Pada saat itu, si pembunuh sedang tidak beres karena memosisikan diri sebagai Allah yang berhak dan berkuasa untuk menghentikan hidup orang lain.

2. Dia membenci orang tertentu sehingga keberadaan orang itu dianggap mengganggu dan mengancam dirinya. Maka “keberadaannya menjadi neraka bagiku”, itu pernyataan Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis Perancis. Kebencian itu bisa berakhir dengan pembunuhan. Maka, di sini kita melihat Alkitab menyamakan membenci dengan membunuh.

3. Ketika yang dibenci adalah diri sendiri maka ia akan membunuh dirinya sendiri.

4. Karena terjepit di dalam situasi sulit. Ada peribahasa mengatakan, “Tidak bisa sama-sama hidup di bawah kolong langit. Kalau engkau ada, aku harus tidak ada; kalau aku ada, engkau harus tidak ada.” Maka kesimpulannya adalah engkau harus tidak ada. Di dalam sejarah politik, Kaisar Yongle dari Dinasti Ming pada tahun 1402 merebut kekuasaan dari keponakannya. Untuk menjaga supaya tidak ada balas dendam, ia mengirim Zheng He untuk mengejar dan memenggal keponakannya di depan matanya. Begitu juga setelah Lenin meninggal di tahun 1924, Rusia memiliki dua pemimpin besar, yaitu Stalin dan Trotsky. Akhirnya Stalin yang berkuasa dan ia mencari Trotsky yang menghilang bersembunyi, sampai akhirnya ditemukan dan yang mati di Meksiko. Orang begitu membenci orang lain dan membunuh dia, karena tidak mengizinkan dia hidup bersamanya di bawah kolong langit. Kebencian adalah emosi yang tidak terkendali, yang merusak seluruh kedamaian dunia. Kebencian adalah investasi Iblis untuk merobohkan seluruh keberadaanmu, nilai hidupmu, dan mengarahkan engkau kepada perbuatan membunuh manusia.

Sebelum seseorang membunuh orang lain, ia selalu tidak memikirkan terlebih dahulu apa akibatnya, sampai setelah membunuh, di mana dia pikir dia sudah mendapatkan jalan keluar dari masalahnya, kini ia sadar bahwa ia menghadapi masalah yang lebih besar. Semua tindakan pembunuhan itu sia-sia karena masalah yang dihadapinya jauh lebih besar. Setelah ia mengenyahkan musuhnya, banyak orang justru berbalik memusuhi dia. Sungguh suatu tindakan kebodohan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Oleh karena itu, Alkitab memerintahkan kita untuk jangan membunuh. Kiranya dengan mengenal nilai manusia terlebih dahulu, lalu kita mengetahui batasan hak yang kita miliki, kita bisa meminta kepada Tuhan untuk memberikan kita kasih, menjauhkan kita dari rasa benci, iri hati, dengki, dan dendam – api yang menghancurkan baik diri kita maupun orang lain. Kiranya Tuhan memimpin dan menolong hidup kita. Amin.

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/02/sepuluh-hukum-hukum-keenam-part-1/

Belas Kasih




Di India utara ada sebuah desa yang memiliki kondisi alam kurang bersahabat, membuat desa hidup dalam kemiskinan. Untuk mencari makanan sehari-hari penuh dengan perjuangan. Semua orang ingin mengubah keadaan tapi tidak ada yang tahu bagaimana melakukannya.

Tidak jauh dari desa tersebut ada sebuah jalan antar kota. Karena kondisi jalan jelek, banyak mobil dan truk yang jatuh di sana. Suatu hari sebuah truk penuh dengan makanan kaleng terguling ke pinggir jalan dan kaleng-kaleng berserakan di mana-mana. Karena sopir terluka, dia menumpang kendaraan menuju ke rumah sakit dan meninggalkan makanan kaleng berserakan di tanah. Ketika penduduk desa menemukan makanan kaleng “gratis”, mereka membawanya pulang. Selama beberapa hari setelah kecelakaan itu, setiap keluarga memiliki makanan kaleng di meja makan malam mereka. “Keberuntungan” ini mengilhami para penduduk desa. Sebagai pepatah lama mengatakan : “Bertahan dengan apa saja yang ada di dekat, baik itu gunung atau danau.” Sekarang penduduk desa berpikir bahwa mereka bisa hidup dari jalan raya tersebut. Mereka mulai sering pergi ke jalan raya, berharap menemukan truk rusak dan penuh makanan.

Tapi kecelakaan tidak terjadi sesering yang mereka inginkan. Hanya melihat truk makanan datang dan pergi, Penduduk desa kecewa tidak mendapatkan apa-apa. Suatu hari, seseorang datang dengan ide yang cerdik. Mereka pergi ke jalan dengan sekop dan cangkul, dan menggali banyak lubang di malam hari. Tak lama kemudian, lebih dan lebih banyak mobil dan truk pecah ban di sana. Karena jalan yang buruk, truk-truk melaju sangat lambat menghindari terjadinya kecelakaan. Penduduk desa kemudian dengan mudah mengikuti dan mencuri beberapa barang di truk.

Lambat laun, keadaan semakin memburuk. Awalnya, mereka mencuri makanan hanya untuk konsumsi mereka sendiri. sekarang mereka mulai mengambil barang-barang lain dan menjualnya di pasar. Akhirnya, pencurian berubah menjadi murni perampokan. Jalan dekat desa menjadi bagian paling berbahaya di sepanjang jalan raya tersebut. Setiap bulan, polisi menerima beberapa laporan tentang perampokan. Suatu hari, polisi menangkap dua penduduk desa saat mereka merampok sebuah truk dan memenjarakan mereka.
Penahanan itu tidak membuat penduduk desa lainnya jera. Mereka menjadi lebih licik dalam melakukan kejahatan ini. Mereka mengorganisasi diri mereka dan menugaskan orang-orang untuk mengawasi polisi. Setelah perampokan, mereka menyembunyikan barang atau mengubah kemasan sehingga polisi tidak bisa menemukan bukti. Pemerintah lokal mencoba berbagai cara menghentikan tindak kejahatan ini. Karena penduduk sudah terbiasa dengan cara hidup seperti ini, perampokan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Selama satu musim dingin, karena reputasi desa, banyak pengemudi truk menghindari jalan desa dengan memilih jalan memutar. Hasilnya, penduduk desa tidak mendapat apa-apa selama beberapa hari berturut-turut. Suatu hari, sebuah truk penuh dengan pati fosfat lewat. Pati fosfat digunakan untuk industri dan beracun. Para penduduk desa kebanyakan tidak berpendidikan, dan menurut mereka, pati adalah makanan yang bisa dimasak dengan berbagai cara. Jadi, mereka menghadang truk, dan sebagaian meloncat ke atas truk dan mengambil lebih dari 20 kantong.

Pengemudi yang masih muda ini menghentikan truk dan mengejar para perampok. Penduduk desa lainnya mengambil kesempatan ini, mereka membongkar semua kantong-kantong pati yang tersisa. Ketika pengemudi pergi ke desa, ia memohon kepada penduduk desa untuk mengembalikan pati tersebut. Saat ini, semua penduduk desa sudah menyembunyikannya dan tak seorang pun mengaku sebagai pencuri. Permohonan pengemudi ini tidak mendapat perhatian. Akhirnya, ia mengatakan kepada penduduk desa bahwa pati tersebut tidak dapat dimakan dan ini hanya dipakai untuk industri. Orang bisa meninggal jika mereka memakannya, jadi bagi penduduk desa ini adalah tidak bermanfaat. Pengemudi mengatakan kepada mereka kebenaran, tetapi penduduk tidak percaya kepadanya. Bagaimanapun, pati itu kelihatan dan rasanya persis sama seperti pati biasa yang bisa dimakan.

Pengemudi menjadi sangat takut ketika penduduk desa tidak percaya kepadanya. Dia ingin melaporkan kejadian tersebut kepada polisi, tetapi ia juga khawatir seseorang akan memakan pati dan mati. Walaupun ia tidak akan bertanggung jawab atas kematian siapa pun, dia tidak mau seseorang meninggal karena suatu kesalahan bodoh. Dia pergi dari pintu ke pintu untuk memberitahu orang-orang kebenaran, bahkan ia berlutut dan berkata: “Saya tidak peduli tentang pati itu bahkan jika Anda tidak mengembalikannya, hal yang terburuk bukan pada kerugian ekonomi saya. tapi saya memohon kepada Anda untuk tidak memakannya, karena jika tidak, anda akan meninggal.”

Melihat desakan pengemudi itu, beberapa penduduk desa mulai ragu akan diri mereka sendiri. Seseorang memberi makan ayam dengan pati tersebut dan ayam mati dalambeberapa menit. Pengemudi itu mengatakan kebenaran! Penduduk desa terkejut, dan hati mereka sangat tersentuh. Mereka telah mencuri barang-barang pengemudi ini dan seharusnya pengemudi itu membenci mereka. Bahkan jika mereka mati karenapati beracun, mereka merasa pantas mendapatkanya. Namun pengemudi ingin menyelamatkan nyawa mereka yang sangat buruk, dia bahkan memohon dengan berlutut kepada mereka . Ini semacam rasa cinta dan belas kasih, serta kerendahan hati membuat penduduk desa merasa malu.

Penduduk desa mengembalikan semua pati ke truk. Sejak hari itu, orang-orang di desa tidak pernah merampok truk lagi. Ketika seseorang tergoda untuk mencuri, yang lain akan berkata: “Pikirkan tentang orang baik itu. Kita merampok dia, tetapi ia menyelamatkan hidup kita. Apakah kita masih ingin melakukan hal buruk ini? Apakah kita benar-benar jahat?”

Sekarang jalan dekat desa ini menjadi aman kembali. Setelah semua upaya-upaya penegakan hukum dan persuasi pemerintah gagal, pengemudi muda dengan belas kasih mengubah segalanya.

Kebiasaan orang-orang dapat diubah jika kita tahu bagaimana mendekati mereka. Belas kasih dapat bangkit dalam diri orang jika itu dilakukan dengan tepat. Ada belas kasih dalam hati setiap orang, tetapi satu-satunya cara untuk beresonansi dengan hal tersebut adalah melalui belas kasih. Jika kita ingin orang lain menjadi baik, kita yangpertama menunjukkan rasa belas kasih kepada mereka. Tidak peduli seberapa jahatnya orang itu, belas kasihnya dapat dibangkitkan dan ia dapat membuang pikiran – pikiran jahatnya. Kami percaya setiap orang memiliki belas kasih dalam hatinya, dan jika kita semua mampu menunjukkan kepada orang lain, dunia akan menjadi tempat yang indah.

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/01/belas-kasih/