Sabtu, 29 Desember 2012

A Special Teacher


Years ago a John Hopkin’s professor gave a group of graduate students this assignment: Go to the slums. Take 200 boys, between the ages of 12 and 16, and investigate their background and environment. Then predict their chances for the future.

The students, after consulting social statistics, talking to the boys, and compiling much data, concluded that 90 percent of the boys would spend some time in jail.

Twenty-five years later another group of graducate students was given the job of testing the prediction. They went back to the same area. Some of the boys – by then men – were still there, a few had died, some had moved away, but they got in touch with 180 of the original 200. They found that only four of the group had ever been sent to jail.

Why was it that these men, who had lived in a breeding place of crime, had such a surprisingly good record? The researchers were continually told: “Well, there was a teacher…”

They pressed further, and found that in 75 percent of the cases it was the same woman. The researchers went to this teacher, now living in a home for retired teachers. How had she exerted this remarkable influence over that group of children? Could she give them any reason why these boys should have remembered her?
“No,” she said, “no I really couldn’t.” And then, thinking back over the years, she said musingly, more to herself than to her questioners: “I loved those boys….”

Bits & Pieces – June 1995
Economics Press

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/08/a-special-teacher/

Hal Kecil Yang berarti

Suatu senja di sebuah tepi pantai, seorang kakek berjalan menyelusuri pantai sambil menikmati pemandangan laut di sore hari. Setelah berjalan beberapa saat, sang kakek melihat ada jejak kaki di pantai. Jejak kaki seorang anak. Ia kemudian menerawang ke depan berusaha mencari sosok pemilik jejak kaki tersebut. Terlihat di kejauhan seorang anak lelaki sedang berjalan pelan sepanjang pantai, sambil sesekali membungkuk lalu melempar sesuatu ke laut. Anak ini terus melakukan kegiatan tersebut berulang-ulang kali secara konsisten.

Didorong oleh rasa penasaran, sang kakek akhirnya mempercepat langkah kakinya demi mengejar sang anak tersebut. Akhirnya setelah beberapa lama berjalan, sang kakek berhasil mengejar anak tersebut. Ternyata anak tersebut selama ini sambil menyelusuri tepi pantai, sambil memungut bintang laut dan melemparkannya ke laut. Sang kakek semakin penasaran dan bertanya kepada si anak, “Nak, apa yang sedang kamu lakukan?”

Sang anak menoleh ke arah sang kakek, kemudian menjawab, “saya sedang menyelamatkan nyawa para bintang laut ini. Apabila mereka tidak saya tolong, maka mereka bisa mati karena kekeringan!”
Mendengar jawaban ini, sang kakek tertawa dan membalas, “nak, pantai begitu panjang dan bintang laut di sepanjang pantai ini begitu banyak! Tidak mungkin kamu sendiri bisa menolong sebegitu banyaknya bintang laut! Itu pekerjaan yang percuma dan hanya membuang tenaga! Kamu tidak mungkin seorang diri mampu membuat perbedaan yang besar!” 

Sang anak hanya terdiam sejenak, lalu ia membungkuk mengambil sebuah bintang laut, kemudian dilempar ke dalam laut. Setelah itu, anak tersebut menengok ke arah sang kakek, tersenyum dan berkata, “Saya membuat perbedaan bagi bintang laut tersebut. Mungkin apabila tidak ada saya, ia akan segera mati, tetapi sekarang tidak lagi. 

Mungkin bagi kita dan keseluruhan bintang laut di pantai ini, segala yang saya lakukan tidak ada apa-apanya. tapi bagi bintang laut tadi, yang saya lakukan adalah segalanya.”

Lalu sang anak kembali melanjutkan kegiatannya dan meninggalkan sang kakek yang mematung terdiam.

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/08/hal-kecil-yang-berarti/

Teladan Pelayanan Kristus (Bagian II)

Seorang Hamba Tuhan yang baik adalah seorang yang mengakibatkan nama Tuhan dipermuliakan dan nama Tuhan dibesarkan, serta nama Tuhan dikenal di dalam dunia. Jikalau kita terus mementingkan diriku, diriku, lalu menyatakan diri, menonjolkan diri, hanya mementingkan profit sendiri, kita tidak bisa melayani. Karena melayani berarti senantiasa membesarkan nama Kristus. Pelayanan berarti mati hidup biar Kristus dibesarkan dalam aku yang lemah ini. Always magnify Christ. Always give glory to Him, not to ourselves. Tidak berteriak, tidak menyaringkan suara, tidak memperdengarkan dirinya di jalan yang besar. Yesus Kristus melakukan demikian. Yesus hidup di dunia bukan menonjolkan diri. Dia menjadi contoh kita.

Sekarang kita melihat ayat yang ketiga yang mengatakan: “Bulu yang patah terkulai tidak dipatahkan dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan.” Dia tidak suka menonjolkan diri, tapi bagaimana dengan kelemahan yang ditemukan di dalam diri orang lain? Dia tidak menertawakan, tidak menghina, tidak mengejek, tidak menginjak. Dia tetap menghargai orang lain. Buluh yang terkulai, apa artinya? Buluh itu adalah semacam rumput yang tinggi di padang. Kadang-kadang setinggi manusia, tapi kalau sudah dipatahkan satu kali, terkulai namanya. Jadi tidak pernah bisa tegak lagi. Satu kali dipatahkan, sudah terkulai, dan itu tidak bisa kembali lagi. Jika orang melihat buluh terkulai biasanya akan dirobek, dipatahkan, dimain-main, dinjak-injak; namun Yesus tidak. Yesus tidak pernah mematahkan hati siapapun, Yesus tidak pernah mengecewakan siapapun. Waktu Yesus melihat keterkulaian kita, Dia tidak mematahkannya.

Kedua, api yang berasap tidak dipadamkan. Apakah arti api yang berasap? Yaitu sumbu yang sudah kehabisan minyak, yang sudah tidak mempunyai kekuatan menyala lagi. Yang ada adalah sisa-sisa kehangatan tadi. Sekarang sisa hanyalah asap saja. Hal yang seperti itu biasanya dimatikan, karena tidak ada lagi apinya. Kalau tidak ada apinya, maka keluarlah asap. Kalau api masih ada, maka asap tidak ada. Kalau apinya makin murni, makin biru, asapnya makin tidak ada. Tetapi kalau apinya tidak bagus, mungkin minyaknya kotor, atau sumbunya tidak dipotong, asapnya menjadi besar. Dan kalau sudah selesai dan tidak ada minyaknya lagi, dan yang tinggal hanyalah asap putih, maka banyak orang akan memadamkannya. Yesus berkata, “Aku tidak.” Saya sangat tergerak dengan satu hal, “Buluh yang terkulai tidak dipatahkan. Api yang berasap tidak dipadamkan.” Hal ini berarti: mengerti bagaimana mengerjakan pekerjaan Tuhan, bagaimana menghadapi orang yang lemah.

Siapakah yang menjadi rekan Yesus yang paling dekat, khususnya sebelum Dia memilih ke-12 murid? Siapa? Yohanes Pembaptis, bukan? Yohanes Pembaptis adalah rekan Yesus yang paling dekat. Dia yang merintis dan membuka jalan untuk Yesus Kristus. Tetapi Yohanes Pembaptis akhirnya ditangkap. Yesus bebas, namun Yohanes Pembaptis ditangkap. Waktu Yohanes Pembaptis ditangkap, dia menjadi kecewa sekali, karena setelah ditunggu-tunggu Tuhan Yesus tidak menolong dia. Yohanes Pembaptis mengutus 2 orang muridnya untuk datang kepada Yesus dan bertanya: “Hai, Raja apakah Engkau adalah yang dikirim atau kita harus menunggu lagi, mengharapkan lagi? Kalau kita harus mengharap lagi, berarti engkau bukan Mesias. Jikalau Engkau Mesias, beritahukanlah kepada kami.” Siapakah yang mengirim orang-orang ini? Yohanes Pembaptis, guru kami. Mengapa dikirim? Karena dia berada di penjara. Dia menyuruh kami datang untuk mencari tahu Engkaukah Kristus? Engkaukah Mesias? Yesus langsung sadar bahwa rekan ini sudah mencurigai diri-Nya. Hubungan antar rekan sudah retak. Rekan yang paling akrab sudah menjadi kecewa kepada Dia. Tapi Yesus tidak mengatakan, “Pulang dan beritahu Yohanes Pembaptis, mengapa kecewa, imannya kok kecil? Kurang ajar karena berani meragukan sifat Mesias-Ku. Katakan padanya kalau kurang iman, berhati-hatilah engkau!” Begitukah Yesus? Tidak! Yesus menjawab secara positif. Kita harus belajar hal ini dalam hubungan antar rekan. Yesus menjawab, “Katakan pada Yohanes, yang buta sudah melihat, yang lumpuh sudah berjalan, yang mati sudah bangkit, yang tuli sudah mendengar.” Berarti biarlah fakta yang membuktikan Aku ini Mesias atau bukan. Tidak usah pembelaan apapun. Seorang yang melayani Tuhan, selalu jatuh dalam kelemahan. Mengapa demikian? Sedikit diragukan oleh orang lain, langsung dibela. Nama dicela sedikit, langsung marah-marah karena dia tidak bisa diganggu.

Keakuannya terlalu besar. Tetapi Yesus tidak. Rekan meragukan Aku. Aku menguatkan dia. Rekan mengutus orang untuk menguji Aku, Aku memberikan jawaban positif untuk dia. Dan Yesus tidak mengkritik Yohanes di belakang Yohanes. Yesus bahkan memuji Yohanes di belakang Yohanes. Inilah keharmonisan rekan yang perlu kita pelajari. Siapakah Yohanes? Yohanes adalah buluh yang terkulai, Yohanes adalah sumbu yang berasap. Darimana saya berani menafsirkan begini? Karena dalam Alkitab dikatakan, “Mengapa engkau ke padang belantara? Engkau melihat buluh-buluh itukah? Mengapa engkau pergi ke padang belantara mendengar khotbah dia. Dengan sesungguhnya aku berkata kepadamu Yohanes adalah lampu yang berpasang dan bercahaya.” Itu bukan sekadar lampu yang bercahaya, tapi lampu yang sudah dipasang paling bercahaya. Berarti orang Israel pergi ke padang belantara, dibaptiskan lalu mendengar khotbah dari Yohanes Pembaptis. Jangan lupa, dia adalah buluh yang tinggi, yang tegas seperti buluh yang ada di padang belantara. Engkau pergi melihat buluhkah? Engkau pergi melihat lampukah? Tetapi dia sekarang menjadi buluh yang terkulai, dia menjadi lampu yang berasap. Jadi kalimat di dalam Alkitab itulah yang saya gabungkan ke dalam pasal 42 ini.

Yohanes Pembaptis adalah buluh yang terkulai. Yohanes Pembaptis adalah sumbu yang berasap. Tuhan memadamkan? Tidak! Tuhan mematahkan? Tidak! Tuhan menghibur, memuji di belakang dia. Memberikan message untuk menguatkan dia. Beritahu kepada Yohanes, meskipun Aku tidak datang ke penjara untuk menyelamatkan dia, biarlah dia tahu bahwa Akulah Mesias. Bukan karena Aku hendak memuji dia, namun karena dia tidak mau memperkenalkan diri. Bukan berteriak- teriak tentang diri, bukan mau menonjolkan diri. Beritahu kepada dia mengenai fakta ini, bukankah teriakan orang tuli sudah terdengar, orang buta sudah melihat, orang timpang sudah berjalan, orang mati sudah hidup. Mereka pulang membawa berita itu, Yohanes tahu dan sadar Yesus tetap mencintai dia, Yesus tidak mematahkan hatinya di dalam kesulitan seperti itu. Yesus tidak memadamkan api yang sekarang sudah berasap dan kehilangan minyak, yang sudah tidak memiliki kekuatan lagi dan dia disegarkan dengan kalimat, “Barangsiapa yang tidak jatuh karena Aku, berbahagialah.” Itu adalah kalimat yang menyebabkan Yohanes tidak jatuh. Sampai dipenggal kepalapun, ia tetap setia melayani Tuhan.  Mari kita belajar dari Yesus, ada lima kata ‘tidak’. Tidak menyaringkan suara, tidak memperkenalkan diri, tidak memperdengarkan diri, kedua lagi kepada orang lain tidak mematahkan, tidak memadamkan. Ini Hamba Tuhan yang baik. Kita masuk ke dalam ayat yang ketiga. Di sini dikatakan, “Dia tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia dia akan menyatakan hukum.” Kalimat ini muncul dua kali, ” Dia dengan setia menyatakan hukum.” Terjemahan lain mengatakan, “Dia tidak akan menyerah sampai kebenaran ditegakkan di atas bumi.” Orang yang mau menegakkan hukum dan kebenaran mendapat ancaman yang banyak dan luar biasa. Inilah zamannya di Indonesia kita melihat segala sesuatu yang tidak beres, segala sesuatu diputarbalikkan. Orang yang dibunuh, dihina, yang membunuh, tidak ada yang masuk penjara. Ratusan gereja sudah dibakar dan belum ada satu orang pun yang membakar gereja dimasukkan ke pengadilan. Yang mencuri uang 50 ribu masuk penjara, namun yang mencuri uang 50 trilyun dibebaskan. Inilah zaman di mana segala sesuatu diputarbalikkan, sehingga siapapun yang menjadi presiden dalam zaman ini menghadapi kesulitan yang paling sulit. Siapapun menjadi jaksa agung, meskipun jujur, namun tetap sulit melakukan kebenaran. Siapapun yang mau menenangkan kerusuhan-kerusuhan sangatlah sulit. Ini adalah suatu pertarungan di dalam negara Indonesia, di mana uang mengambil alih kekuasaan untuk menekan militer, untuk menekan hukum, menekan akan rakyat, menekan suara hati nurani. Kita harus berdoa untuk negara Indonesia agar kebenaran itu boleh ditegakkan. Hukum-hukum tetap ditegakkan dan contoh yang terbaik dari kita adalah Yesus Kristus. Yesus berperang dengan ketidakadilan, berperang dengan dosa. Sampai diri-Nya sendiri dipaku di atas kayu salib pun, Ia tidak mau menyerah. Jikalau mereka tidak bisa beres karena tidak bersandar kepada Roh Tuhan, sehingga hanya berputar-putar pada permainan kata dan hukum kebenaran tidak ditegakkan, mungkinkah orang Kristen ikut terjun di dalam kerusakan mereka? Berkatalah tidak kepada setan dan berkatalah kepada Tuhan, “Pakailah saya untuk menegakkan hukum kebenaran di negara Indonesia. Jika tidak, saya tidak rela mati, saya mau berjuang terus.”

Indonesia memerlukan sekelompok orang yang sungguh-sungguh tidak takut mati dan hanya takut jika Tuhan Allah marah. Ada sekelompok orang yang sungguh-sungguh tidak takut mati dan hanya takut jika Tuhan Allah marah. Ada sekelompok orang yang tidak takut mati dan hanya takut memarahkan Tuhan, takut tidak berkenan kepada Tuhan. Mari kita belajar dari Yesus yang tidak menonjolkan diri, tidak memuliakan diri, tidak memperdengarkan diri, tetapi Dia adalah orang yang juga tidak mematahkan buluh yang terkulai, api yang sudah berasap dan Dia sendiri mau menegakkan keadilan sampai jadi. Ayat keempat untuk mencapai sasaran ini, menjalankan tugas panggilan dari Tuhan adalah sekarang Dia memakai hal yang sama untuk menghadapi diri dalam keberanian yang luar biasa.

Ayat keempat dikatakan, “Dia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai. Dia sendiri tidak akan kecewa, tidak akan putus asa.” Hal ini berarti suatu tekad bulat untuk berjuang sampai mati dan tidak mau ditaklukan, tidak mau menyerah. That’s Christian Spirit, undying Spirit of struggle, undying Spirit of fighting, undying Spirit to establish the truth. Apakah yang menjadi ciri khas kekristenan yang sejati? Yaitu api yang tidak pernah mau padam, yaitu niat yang tidak pernah mau mati untuk betul-betul menjalankan Firman Tuhan, untuk memberitakan Firman, menjalankan kehendak Bapa, untuk teguh mengikuti Roh Kudus, untuk mengubah dunia. Dunia sangat memerlukan orang-orang seperti ini. Kalau kita mendengarkan panggilan Tuhan, biarlah kita mengatakan, “Tuhan berilah kekuatan kepadaku, tekad yang bulat kepadaku, berikan mental yang kuat untuk seumur hidup tidak terkulai, seumur hidup tidak padam.

Tapi aku sendiri berjanji kepada diriku: ‘Aku mau mati-matian mempertahankan semangat, mati-matian mempertahankan kesetiaan. Kepala boleh dipotong, darah boleh dialirkan, tetapi jiwaku tidak boleh dikompromikan dengan dosa.” Jikalau ada orang Kristen semacam ini yang menyerahkan diri supaya dipakai oleh Tuhan menuju kepada abad ke-21, maka masa depan Indonesia akan menjadi cerah sekali. Demikianlah kita berdoa kepada Tuhan supaya ada orang yang bertekad bulat tidak mau menyerah. Undying Spirit, undying fire, to fight for the truth and to fight against them all. Orang-orang Kristen yang berani sampai mati berperang untuk membela kebenaran dan melawan kejahatan, akan dipakai oleh Tuhan. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan Ia sendiri tidak akan patah terkulai sampai menegakkan hukum di bumi.

Kalimat terakhir, “Segala pulau mengharapkanpen gajaran-Nya.” Ketika saya membaca sampai ayat ini, saya membayangkan Indonesia. Tidak ada negara yang lebih banyak pulaunya dibandingkan dengan Indonesia. Segala pulau menunggu pengajaran-Nya. Injil harus dikabarkan ke 13.600 pulau di Indonesia. Injil harus diberitakan di semua tempat, di pelosok-pelosok, karena semua pulau, menanti pengajaran-Nya. Siapakah yang pergi? Hamba Tuhan yang baik itu yang bagaimanakah? Yang dipegang oleh Tuhan, yang dipilih oleh Tuhan, yang taat kepada Tuhan, yang memperkenan Tuhan, yang diurapi oleh Roh Kudus, yang mempunyai tekad kuat menegakkan kebenaran, yang sendiri tidak terpatahkan, yang sendiri tidak terkulai, yang tidak akan kecewa, tidak akan putus asa, yang benar-benar mencintai rekan dan begitu berani karena mencintai orang lain. Kalau orang lain terkulai, ia tidak menghina. Kalau orang lain kecewa, ia tidak menghina. Ia sendiri tidak kecewa, ia sendiri tidak putus asa, ia sendiri tidak tawar hati, tapi dia menghibur rekan-rekan yang tawar hati, bukan menghina dan mengejek, bukan bertarung satu sama lain, tapi memberikan kekuatan, mendorong supaya semua api menyala, semua bersemangat ditegakkan kembali, semua anak Tuhan dibangkitkan menjadi laskar yang besar.

“Lihatlah domba-Ku, lihatlah Hamba-Ku ini,” Bapa memberikan kesaksian kepada Anak Domba Allah, yaitu Yesus yang menjadi hamba, yang menjadi contoh bagi engkau dan saya. Dan saya berkata, “Tuhan, saya sudah menerima panggilan-Mu, sekarang panggillah pemuda-pemudi, adik-adik saya. Tuhan, panggillah generasi muda sebelum aku naik ke surga. Dengan usia 60 tahun ini, saya tidak lagi muda, tapi saya berani berkata semangat saya tidak kalau dengan siapapun yang lebih muda dari saya. Dan puji Tuhan, dalam keadaan letih lesu, sering sakit, tapi api terus membakar. Kita akan terus menuju pada lubang kuburan pada waktu Tuhan sudah sampai. Tapi saya berkata kepada Saudara-saudara, siapa yang berkata, setelah aku mendengarkan pujian Bapa tentang anak-Nya, pelayanan Anak menjadi contoh dan saya bersedia jikalau Tuhan hendak memakai saya. Di sini aku Tuhan, utuslah aku. Aku mau dipakai untuk Tuhan.”
———–
Artikel ini Disarikan Dari Khotbah Pdt. Dr Stephen Tong Yang Disampaikan Pada KKR Pembukaan Kamp Nasional Mahasiswa 2000
12 Agustus 2000

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/08/teladan-pelayanan-kristus-bagian-ii/

The Missing Rib

Add caption
A girl in love asked her boyfriend: “Tell me, who do you love most in this world?”
“You, of course!”
“In your heart, what am I to you?”
The boy thought for a moment and looked intently in her eyes and said, “You are my rib. In the Holy Book, it was said that God saw that Adam was lonely. During his sleep, God took one of Adam’s rib and created Eve. Every man has been searching for his missing rib. Only when you find the woman of your life will you no longer feel the lingering ache in your heart.”

After their wedding, the couple had a sweet and happy life for a while. However, the youthful couple began to drift apart due to the busy schedule of life and the never-ending worries of daily problems. Their life became mundane. All the challenges posed by the harsh realities of life began to gnaw away at their dreams and love for each other. The couple began to have more quarrels, and each quarrel became more heated.

One day, after a quarrel, the girl ran out of the house. At the opposite side of the road, she shouted, “You don’t love me!” The boy hated her childishness, and out of impulse retorted, “Maybe it was a mistake for us to be together! You were never my missing rib!”

Suddenly, she turned quiet and stood there for a long while. He regretted what he said, but words spoken are like thrown away water — you can never take them back. With tears, she went home to pack her things and was determined on breaking up.

Before she left the house, the girl said, “If I’m really not your missing rib, then please let me go.” She continued, “It is less painful this way. Let us go on our separate ways and search for our own partners.”
Five years went by. He never remarried but he had tried to find out about her life indirectly. She had left the country and came back. She had married a foreigner and divorced. He felt anguished that she never waited for him. In the dark and lonely night, he lit his cigarette and felt the lingering ache in his heart. He couldn’t bring himself to admit that he was missing her.
One day they finally met — at the airport — a place where there were many reunions and good-byes. He was going away on a business trip. She was standing there alone, with just the security door separating them. She smiled at him gently.
(b): “How are you?”
(g): “I’m fine. How about you. Have you found your missing rib?”
(b): “No.”
(g): “I’ll be flying to New York on the next flight.”
(b): “I’ll be back in 2 weeks time.”
(g): “Give me a call when you get back. You know my number. Nothing has changed.” With a smile, she turned around and waved good-bye.
One week later, he heard of her death. She had perished in New York — in the event that shocked the world.
Midnight. Once again, he lit his cigarette. And like before, he felt the lingering ache in his heart. He finally knew that she was the missing rib that he had so carelessly broken.

- AUTHOR UNKNOWN -
 Sometimes people say things out of moments of fury. Most often than not, the outcome could be disastrous and detrimental. We vent our frustrations 99% at our loved ones. And even though we know that we ought to “think twice and act wisely,” it’s often easier said than done.
Things happen each day, many of which are beyond our control. Let us treasure every moment and everyone in our lives. Tomorrow may never come. Give and accept what you have today.
“Men stumble over pebbles, never over mountains.” – Emilie Cady

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/08/the-missing-rib/

Meja Kayu Untuk Kita?

like fa like son
Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.

Sumber :  http://www.nusahati.com/2012/08/meja-kayu-untuk-kita/

Teladan Pelayanan Kristus (Bagian I)

Pada tahun 1995, Kamp Nasional Mahasiswa (KNM) mengumpulkan mahasiswa dari 27 propinsi. Kamp kali ini Cuma mengumpulkan 26 propinsi. Kita tidak tahu bagaimana keadaan pada hari depan. Setiap pertemuan adalah pertemuan yang tidak terulang lagi. Setiap kesempatan yang diberikan Tuhan adalah kesempatan yang mencatat sejarah, meskipun mungkin kita merasa ini adalah kesempatan yang sering ada. Tahun 1949, pada waktu komunis mengambil alih kekuasaan di Tiongkok, dari hari itu sampai sekarang sudah 51 tahun, namun belum pernah ada pertemuan dari mahasiswa-mahasiswa Kristen di manapun. Indonesia sedang menuju kepada kemungkinan perpecahan, separatis-separatis sedang bekerja untuk menghancurkan keutuhan negara ini. Maka biarlah kita sangat menghargai, menghormati, menyayangi, dan memakai baik-baik anugerah Tuhan untuk Kamp Nasional di Indonesia ini. Lima tahun yang lalu saya mengisi satu sesi di KNM. Barangsiapa yang mengikuti Kamp Nasional di sini 5 tahun yang lalu coba mengacungkan tangannya. Kira-kira hanya 2% yang mengangkat tangan. Jadi, setiap Kamp Nasional adalah Kamp Nasioanal yang tidak akan terulang lagi. Kiranya Tuhan bekerja terus menerus di dalam proses sejarah ini untuk memanggil, memilih, meneguhkan dan mengurapi pemuda pemudi yang akan dipakai oleh Tuhan.  Masa muda kita tidak akan kembali lagi. Dulu saya lebih muda dari Anda. Percaya tidak? Dulu saya jauh lebih muda daripada Anda. Waktu anak saya yang paling kecil menemukan foto saya di dalam laci, dia bertanya, “Siapa ini? Dia mudanya ganteng sekali ya Ma! Siapa ini? Di antara kelasku, di antara kawanku tidak ada yang ganteng seperti ini.” “Itu papamu,” nyonya saya menjawab. “Masa? Kok sekarang jadi jelek begitu, kok jadi tua begini?” Nah, jangan tertawa, karena dulu saya pernah lebih muda dari Anda dan esok mungkin engkau lebih tua dari saya.

Karena sejarah memproses, mendesak kita menuju kepada tepi waktu yang menjadi perbatasan kekekalan. The age in between eternity and temporary. Kita semua sedang melihat datangnya millennium baru, satu abad baru. Abad yang lama satu persatu digeser, sehingga tidak ada lagi di dalam sejarah. Yang ada hanyalah di dalam ingatan – tidak ada lagi di dalam kewujudan yang konkrit karena waktu dan abad yang lampau hanya tercatat di dalam catatan sejarah dan beberapa di dalam ingatan memori kita. Itu sebabnya kita harus menghargai waktu.  Abad ke-20 dianggap abad yang paling pintar, abad yang paling maju, abad yang paling muktahir, abad yang paling pesat perkembangan teknologinya. Kita harus mengakuinya. Tetapi bagi analisa saya, abad 20 adalah abad yang bodoh. Di dalam abad ke-20 tidak banyak pikiran yang kreatif, yang memajukan manusia dalam bidang moral, iman, kerohanian dan keanggunan karakter. Abad ke-20 telah menjadikan kita ditaklukan oleh abad ke-19, sehingga pikiran-pikiran ideologi, arus- arus filsafat abad ke-19 telah disembah sujud oleh orang-orang pintar abad ke-20 dan dibawa untuk mendidik anak-anak muda. Hal ini menyebabkan abad ke-20 menjadi tidak karu-karuan. Apa yang diajarkan di dalam abad ke-19, apa yang menjadi suatu pertumbuhan yang pesat untuk mempengaruhi pikiran-pikiran pemuda abad ke-20, semuanya itu diambil dari abad ke-19. Maka kita harus  mengerti bahwa abad ke-19 lebih kreatif. Abad ke-20 adalah abad pengikut. Kapan komunisme dimulai? Abad ke-19. Kapan dijalankan? Abad ke-20. Kapan eksistensialisme dimulai? Abad ke-19. Dan kapan dilaksanakan di seluruh dunia? Abad ke-20. Kapan logical positivism dimulai? Abad ke- 19. Lalu kapan dipraktekan? Abad ke-20. Jadi orang-orang abad ke-20 tidak  mempunyai pendirian sendiri. Kita ambil suatu pikiran dari Karl Marx, Darwin, Hegel, August Comte, kita ambil pikiran-pikiran dari abad ke-19 untuk menjajahi pikiran abad ke-20. Orang-orang abad ke-20 begitu mentaati, mengikuti jalan pikiran abad ke-19; lalu kita memakai 70 tahun atau lebih di daerah-daerah tertentu untuk mempraktekkan teori-teori dari Aufklarung ? Enlightenment. Akibatnya kita sadar bahwa evolusi tidak bisa diandalkan, scientism tidak bisa diandalkan, rasionalisme sangat terbatas, eksistensialisme banyak salahnya. Waktu kita sadar komunisme salah, evolusi salah, semua salah, kita sadar bahwa ternyata hari-hari di abad ke-20 hanya sisa beberapa tahun saja. Tahun 1989 komunis kolaps, terbukti jikalau teori ekonominya diadopsi dipraktekkan di negara apa saja, maka negara tersebut pasti bangkrut. Sekarang yang paling celaka bangkrut terakhir yaitu negara Korea Utara dan Kuba yang masih coba bercokol dan tidak mau bertobat dari komunisme. Abad ke-20 akhirnya sadar bahwa kita sudah salah. Sudah salah lalu bagaimana? Kita tidak mau bertobat, belum mau kembali kepada Tuhan. Kita belum kembali mengaku dosa kita dan minta cahaya kebenaran Firman Tuhan untuk mengoreksi kita. Abad ke-19 bukan saja hanya dalam hal-hal yang saya sebut tadi.

Abad ke-19 sudah menghasilkan modernisme, liberal dan akhirnya dipraktekkan di dalam abad ke-20. Akibatnya apa? Gereja- gereja menjadi kosong. Gedung-gedung yang besar hanya diisi oleh orang-orang yang tua dan hanya segelintir. Seorang dosen dari Universitas di Manado studi di Jerman. Sebelum pulang dia melewati suatu kota lalu mengikuti kebaktian hari Minggu di situ. Gedung Katedral itu mungkin bisa menampung 3.000 orang, namun yang mengikuti kebaktian belum sampai 50 orang. Waktu kebaktian selesai, di saat berjabat tangan dengan pendeta yang berkhotbah, pendeta tersebut mengatakan, “Puji Tuhan hari ini masih ada orang muda seperti engkau yang mengikuti kebaktian di sini.” Dosen ini umurnya 56 tahun! Puji Tuhan masih ada orang muda mau mengikuti kebaktian!  Waktu saya mendengar cerita itu saya ingin menangis. Kalau kita tidak menggarap para pemuda, tidak menggarap mahasiswa, tidak menggarap generasi yang akan datang, maka bukan saja generasi muda itu sendiri akan hilang untuk selama-lamanya tetapi penerus Injil juga tidak akan ada di dalam kesinambungan sejarah. Dan gereja akan mengalami Post Christian Era – zaman pasca kekristenan. Orang yang mengatakan, “Oh, dulu ada kekristenan, dulu ada iman Kristen. Dulu pernah ada gereja. Tapi itu kan dulu, yang kuno yang lama.” Seperti orang di Jawa Tengah yang tidak lagi mengerti apa itu Budhisme Hinduisme. Tetapi mereka boleh membanggakan, di sini ada Prambanan, di sini ada Borobudur. Dulu di sini pernah ada agama besar. Tapi sekarang daerah itu tidak lagi mempunyai kepercayaan seperti itu.

Mungkinkah kekristenan mengalami pasca kekristenan? Mungkin! Dan ini sudah diwanti-wanti oleh Francis Schaffer, sudah diberitakan oleh orang yang bersifat pelayanan nabiah dan kita harus hati-hati. Hari ini saya mau berbicara kepada Saudara agar Tuhan mau memakai engkau untuk  menyambung sinar cahaya Injil kepada abad ke-21. Empat puluh tiga tahun yang lalu saya menerima panggilan Tuhan dengan airmata membasahi seluruh pakaian dan berkata, “Tuhan pakailah saya. Jikalau aku menyerahkan diri, aku akan melayani Engkau dengan setia dan jujur, sungguh-sungguh sampai mati.” Saya janji dengan tangisan di hadapan Tuhan. Sekarang, jika saya cerita lagi, itu bukan teori, tapi suatu sharing hidup. Saya sudah melayani selama 43 tahun, dan sampai hari ini saya tetap melihat Tuhan setia dan tidak meninggalkan kami. Karena tertulis dalam Roma 11, bahwa panggilan Tuhan dan karunia dari Tuhan tidak pernah disesalkan oleh Tuhan sendiri. Tuhan memberikan panggilan, memberikan utusan, memberikan urapan, memberikan karunia. He never regret about that. God will never regret about the gift and the calling from Him. Maka kita berdoa agar di antara pemuda-pemudi di seluruh Indonesia ada telinga-telinga yang peka, ada hati yang peka, ada sikap-sikap yang terbuka untuk Tuhan. Tuhan pakai saya, panggil saya, utus saya, dan saya mau dipakai Tuhan.

Saya pernah di dalam International Preassembly di Korea, berkhotbah pada 70.000 orang. Yang berkhotbah bukan hanya saya sendiri, tapi banyak pengkhotbah internasional di situ. Dan saya mengatakan dengan teriakan, “Kita akan mendoakan ada 10 juta pemuda- pemudi yang  meneruskan penginjilan dan dipanggil oleh Tuhan.” Lalu ada seorang wartawan mengatakan, “Apakah yang kau katakan itu tidak terlalu besar? Ten millions to Him?” Saya menjawab, “Yes, ten millions. Ten millions is not a big number.” Karena apa? Karena orang yang mengaku diri Kristen ada 1.500 juta. Kalau di antara 1.500 juta, ada 150 juta orang Kristen yang menjadi Hamba Tuhan, terlalu banyak tidak? Tidak. Mestinya perpuluhan kan? Saudara-saudara berpikir perpuluhan itu uang saja. Mestinya jika ada 100 anggota, 10 yang menjadi Hamba Tuhan.  perpuluhan. Ten millions is less than point eight percent. Tidak sampai satu persen. Kalau 100 orang satu menjadi Hamba Tuhan, engkau kira terlalu banyak? Tidak!

Dan saya mengatakan, di antaranya saya harap paling sedikit ada 500 ribu orang dari Indonesia. Wah, 500 ribu orang dari Indonesia. Mungkin tidak? Mungkin! Jangan kira Tuhan tidak mungkin mengerjakan sesuatu yang ada di luar dugaan kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang mampu bekerja dan saya sepanjang 43 tahun ini memanggil, berteriak untuk menyerahkan diri menjadi Hamba Tuhan, memenuhi panggilan-Nya. Mungkin saudara tidak percaya selama 43 tahun di dalam pelayanan saya, yang pernah maju ke depan di dalam kebaktian- kebaktian yang saya pimpin yang mau menyerahkan diri melayani Tuhan, sudah lebih 150 ribu orang. Di mana mereka berada sekarang, saya tidak tahu. Apakah mereka masih melayani, saya tidak tahu. Tapi saya tahu Tuhan adalah Tuhan yang memanggil pemuda-pemudi untuk meneruskan pekerjaan-Nya, untuk dipakai oleh Tuhan.

Mari kita membaca Kitab Suci dari Yesaya 42:1-4, kita melihat hamba yang dipakai oleh Tuhan itu yang seperti apa. Lalu apakah mungkin diurapi oleh Tuhan, sehingga kita menjadi Hamba Tuhan yang semacam ini? Siapakah yang dikatakan di sini? Saya percaya Anak Allah yang Tunggal adalah Kristus sendiri mendapatkan pujian dari Bapa yang mengutus Dia dan menjadi contoh bagi siapapun yang diutus oleh Yesus sendiri. He pleased God and He’s the example for everybody sent by Him. Ini merupakan suatu syair, suatu sajak yang keluar dari mulut Allah Bapa, Tuhan sendiri, untuk memuji bagaimana Allah Anak menjadi Hamba-Nya. Dua kali waktu Yesus di dunia, langit terbuka dan Allah Bapa mengatakan inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarlah olehmu akan Dia. Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarlah kepada-Nya. Bapa demikian antusias, demikian sungguh-sungguh untuk memperkenalkan Kristus Anak-Nya, karena inilah Anak yang menyenangkan Bapa, inilah Anak yang menjalankan kehendak Bapa. Tetapi bagaimana kita bisa menguraikan Yesus menyenangkan Bapa, berkenan kepada Bapa? Kecuali engkau mengerti bagian yang engkau baca.

Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupegang. Istilah yang Kupegang adalah yang Kujunjung, yang Kulindungi, yang Kutegakkan. Ini berarti orang yang bagaimanapun lemah, tidak usah takut. Bagaimanapun tidak kuatnya kita tetap tidak usah kecewa, karena ada yang memegang kita, ada yang memimpin dan yang menegakkan kita, sehingga kita tidak jatuh. Banyak pemuda-pemudi yang merasa ada panggilan Tuhan, tapi tidak berani menginjakkan langkah pertama kepada pimpinan Tuhan hanya karena takut jatuh, takut lemah, takut tidak bias menjalaninya sampai selesai. Saya tahu ada orang yang terlalu berani menyerahkan diri menjadi Hamba Tuhan dan tidak kuatir, tidak takut, namun akhirnya jatuh. Tapi justru saya melihat ada orang-orang yang yang dari permulaan takut jatuh, takut lemah, takut tidak bisa selesaikan tugas yang Tuhan berikan, namun justru kalau orang itu menyerahkan diri pasti lebih baik dari mereka yang merasa diri sanggup. Karena Tuhan memberkati orang yang rendah hati. Tuhan akan melakukan mujizat atas orang yang merasa diri lemah. Tuhan akan menyatakan kuasa-Nya melalui kelemahan manusia. Karena kita menganggap diri hebat, menganggap diri kuat, menganggap diri sanggup, maka pelayanan kita selalu dihambat oleh kesombongan kita. Tapi jikalau kita merasa diri kurang, merasa diri miskin, merasa diri perlu Tuhan, di situlah engkau akan menjadi kuat karena Tuhan memegang engkau.

Lihatlah Hamba-Ku ini yang Kupegang. Tidak ada orang yang sanggup menjalankan kehendak Tuhan, kecuali dipegang dan dipimpin oleh Tuhan sendiri. Tidak ada seorang mungkin menjadi sempurna dan tidak jatuh, kecuali Tuhan memelihara dia sendiri. Dan Yesus dengan lembut mengatakan: Akulah pokok anggur atau Akulah pohon anggur. Anggur boleh disebut pokok anggur atau boleh disebut sebagai pohon? Kalau boleh, maka itu adalah pohon yang paling lemah di antara semua pohon yang paling lemah di antara semua pohon. Waktu Tuhan Yesus memilih suatu tumbuh-tumbuhan untuk mengibaratkan diri-Nya sendiri, maka Dia memilih yang paling lembut. Waktu Tuhan memilih sejenis binatang untuk melukiskan siapa dia, dia justru memilih domba yang paling lembut. Yesus tidak mengatakan: Akulah singa, Akulah badak, Akulah gajah yang besar, Akulah harimau! Tidak! Yesus mengatakan anak domba Allah-lah Dia. Alkitab memakai domba untuk mewakili Kristus. Yesus sendiri memakai pokok anggur untuk mengibaratkan diri. Begitu lembut maka dikatakan Tuhan Bapaku adalah yang membentuk Aku.

Pohon anggur adalah yang paling lembut dan yang paling tidak bermodel. Maka kalau engkau membuat pagar yang panjang untuk pokok anggur, pokok anggur itu akan menjadi pokok anggur yang panjang. Engkau membuat pagar yang tinggi, dia akan merambat menjadi tinggi. Yang lebar, maka dia akan menjadi lebar. Kalau yang kecil, dia akan menjadi kecil. Tidak ada kehendak sendiri di dalam pembentukannya. Dia tahu saya ada di tangan Bapa, biarlah Bapa yang telah mengutus aku, membentuk aku sesuai peta teladan yang Dia mau. Aku adalah pokok anggur dan Bapa-Kulah yang membentuknya. Lihatlah Hamba-Ku yang Kupegang. Janganlah takut menjadi Hamba Tuhan, karena Tuhan memegang engkau. Semua yang menyerahkan diri sungguh-sungguh akan membuktikan kalimat ini benar. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Tanyalah kepada semua orang yang sungguh-sungguh melayani Tuhan, adakah yang dibuang Tuhan? Tidak ada. Tapi tidak terlalu kaya tidak apa-apa, kan? Banyak orang kaya sekarang di mana? Liem Sioe Liong, Samadikun, Prayogo? Orang kaya buat apa? Pada waktu sombong dengan kekayaannya mereka tidak perlu dipegang oleh Tuhan, daripada orang kaya yang pegang uang. Jadilah Hamba yang dipegang oleh Tuhan!

Kalimat kedua, Tuhan memuji Kristus dengan perkataan bahwa Dia adalah yang Aku pilih. Dia adalah pilihan-Ku, yang dipilih oleh Tuhan. Setiap kali berbicara tentang pilihan, berbicaralah langsung tentang kedaulatan Allah. Dipilih berdasarkan kedaulatan Allah, dipilih berdasarkan kehendak Allah. Orang-orang dipilih bukan karena mereka cukup. Kaum pilihan bukan karena ada syarat dalam diri, sehingga kita dipilih. We are chosen not because our own qualification, our condition. No! Absolutely no! Definetely no! We are chosen because the wisdom and the power sovereignty of God Himself by His grace that we are chosen. Sola gratia. Lihatlah Hamba- Ku yang Kupilih. Seorang Hamba Tuhan yang berkenan kepada-Nya harus berpegang pada Tuhan, ditegakkan oleh Tuhan, dipelihara oleh Tuhan sendiri dan bukan bersandar diri. Seorang yang diperkenan oleh Tuhan adalah seorang yang menerima pilihan Tuhan. Bukan engkau yang memilih Aku. Dengan sesungguhnya Aku berkata kepadamu, “Akulah yang telah memilih engkau.” Dengan demikian setiap orang yang melayani Tuhan harus sadar, kalau kita dipilih, dipakai, dan masih dihargai oleh Tuhan. Jangan lari, tetapi terimalah pilihan Tuhan.

Di dalam pelatihan majelis ada pertanyaan, “Kalau saya dipilih menjadi majelis, bolehkah saya menolak?” Waktu saya menjawab pertanyaan ini, saya gentar. Ada orang yang tidak menghargai kesempatan yang dari Tuhan. Saya menjawab, jikalau engkau dipilih, lebih baik engkau  menerima. Ketika Livingstone meninggal, jantungnya dikuburkan di Afrika, lalu tubuhnya dikirim kembali ke London. Sewaktu dikebumikan upacaranya begitu mulia, begitu meriah, tetapi di pinggir peti yang sedang diusung, ada seorang tua yang terus menangis-nangis tak habis-habisnya. Maka seorang bertanya kepada dia, “Uncle, why are you crying all the way? Mengapa engkau begitu sedih?” Dia menjawab, “Sesungguhnya, aku dan Livingstone sama-sama dipanggil Tuhan. Dia taat, namun saya menolak. Dan sekarang saya melihat hidupku begitu gagal, sedangkan dia dipakai Tuhan dengan luar biasa. Sekarang dia sudah meninggal, saya melihat dengan mata sendiri begitu dihormati orang karena dia menjalankan Kehendak Allah.

Tapi saya pernah menolak Tuhan.” Orang tua ini menyesal, sedih di sepanjang jalan dan memegang peti Livingstone, dan menangis dengan tidak habis-habisnya. Jikalau engkau dipilih, janganlah menghina kepercayaan Tuhan kepadamu. Jikalau digerakkan Roh Kudus, janganlah menolak. Jikalau Tuhan tidak memakai engkau, tidak apa-apa. Bagi Tuhan tidak apa-apa, yang celaka adalah engkau. Tuhan tidak memerlukan saya, Tuhan tidak memerlukan engkau. Kalau Tuhan mau memakai, malaikat lebih cepat cara kerjanya. Tapi Tuhan justru mengindahkan kita yang berdosa, karena dia mengetahui kita perlu mengalami kematian, kebangkitan Kristus sebagai pengalaman diselamatkan yang tidak ada pada dunia malaikat. Maka Tuhan tidak mengutus malaikat untuk mengabarkan Injil. Tuhan mengutus anak-anak Adam yang berdosa dan bertobat, yang benar-benar sadar dan mengalami anugerah Tuhan untuk menjadi Hamba-Nya. Saudara-saudara sekalian yang Kupilih. Lihatlah Hamba-Ku yang Kupegang yang Kupilih.

Kalimat ketiga dari Tuhan Allah kepada Anak-Nya: yang kepada-Nya Aku berkenan. Anak yang menyenangkan Bapa, penghiburan terbesar terhadap Bapa yang berletih lesu, berbanting tulang untuk bekerja membesarkan dia. Orang Kristen yang menyenangkan hati Tuhan, menghibur Tuhan yang pernah mati dan dikuburkan dan yang pernah menerima kutukan, cambukan, pukulan, hukuman mengganti engkau dan saya. Yang berkenan kepada-Ku, Dia berkenan di mata-Ku, Dia menyenangkan Aku. Kalau kalimat ini keluar dari Tuhan tentang hamba siapapun, hamba itu adalah hamba yang sungguh-sungguh setia dan baik dan sukses dalam pelayanan. Anak yang baik menyenangkan Bapa. Hamba yang baik menyenangkan tuhannya. Yesus Kristus yang diutus ke dunia telah menjadi seorang hamba yang memperkenankan hati Bapa di surga dan Bapa mengatakan lihatlah Hamba-Ku yang berkenan kepada-Ku.

Kalimat keempat, pujian Tuhan kepada Yesus Kristus adalah: Aku telah menaruh Roh-Ku ke atas-Mu. Seorang hamba Tuhan yang baik, Hamba Tuhan diperlukan adalah Hamba Tuhan yang melayani di dalam kuasa Roh Kudus. Di dalam ayat ini kita langsung melihat Tritunggal muncul. Bapa memuji Anak karena menerima Roh Urapan. Bapa mengirim Yesus dengan urapan Roh Kudus yang berada di dalam diri-Nya. God sent Me with His Spirit. Allah mengirim Aku di dalam Roh-Nya. Roh Allah berada di diri-Ku. Kalimat ini sudah Tritunggal. Ini dikutip oleh Yesus pada waktu berada di rumah sembahyang di sinagoge di Kapernaum. Dia membaca Kitab Suci bahwa Yehovah mengirim Aku dengan Roh-Nya. Roh Allah berada di diri-Ku. Maka Yesus melayani dengan baik. Percayalah kalimat di bawah ini, bahwa tanpa Roh Kudus tak ada orang bisa menjadi Hamba Tuhan yang baik. Tetapi saya katakan satu kalimat. Sekarang banyak orang yang khusus berkhotbah tentang Roh Kudus, justru adalah orang yang salah mengerti makna Roh Kudus dalam Kitab Suci. Orang paling banyak berbicara tentang Roh Kudus, justru adalah orang yang paling tidak mengerti tentang Roh Kudus. Hal seperti Toronto Blessing, itu bukan blessing itu cursing. Itu kutukan, karena menjadikan anak-anak Tuhan makin tidak mengerti makna Alkitab. Makin menyeleweng kepada ajaran yang benar, makin kabur dengan kebenaran, makin mencampuri segala fenomena supranatural dengan pekerjaan Roh Kudus yang sah, sehingga gereja tidak bisa apa-apa. Di manakah Toronto Blessing sekarang? Sudah habis bukan? Engkau harus hati-hati. Engkau harus diurapi Roh Kudus. Engkau harus bersandarkan Roh Kudus. Engkau harus berkuasa Roh Kudus. Engkau harus taat kepada Roh Kudus. Engkau harus berjalan di dalam Roh Kudus. Engkau harus berani berkotbah berdasarkan kuasa Roh Kudus. Tetapi sebelum itu, pengertian doktrin Roh Kudus harus dibenahi terlebih dahulu. Yesus Kristus dipenuhi oleh Roh yang tidak terbatas. Yohanes 4 – Yesus Kristus diurapi oleh Roh, sehingga Dia membicarakan tentang Allah, tentang Firman Allah. Setiap kalimat bertanggung jawab dan sesuai dengan seluruh kasih karunia Roh yang telah mewahyukan Kitab Suci, yang membawa gereja masuk ke dalam segala kebenaran. Jangan percaya kalau Roh Kudus membuat kita tidak sadar. Jangan percaya kalau Roh Kudus datang, lalu kita pingsan tidak tahu apa-apa. Tidak ada ajaran seperti itu di dalam seluruh Kitab Suci tentang doktrin Roh Kudus. That is not biblical and not Christian. Itu bukan ajaran Kristen, itu bukan Alkitab, itu bukan ajaran bapa-bapa gereja. Itu bukan ajaran Rasul, itu bukan ajaran para Reformator yang senantiasa mengingatkan kita kembali kepada Alkitab, back to the Bible. Augustinus mengatakan jikalau Anda menemukan apa yang saya tulis tidak sesuai dengan Kitab Suci, tinggalkan saya. Kembali ke Alkitab. Para Reformator mengatakan: biarlah kita kembali kepada Alkitab – Sola Scriptura.

Di luar Kitab Suci yang diwahyukan, kita tidak terima ajaran apapun. Biarlah kita memegang prinsip yang penting seperti ini, jangan terlalu percaya kepada segala hal supranatural, yang kelihatan aneh, heran dan tidak pernah diketahui. Roh Kudus bekerja bukan dari apa yang kau lihat, tapi dari apa yang kau lihat, tapi dari apa yang kau baca dari Kitab Suci. Jikalau Roh itu datang, Yesus berkata, “Dia akan ingatkan kembali kepadamu apa saja yang pernah Aku bicarakan kepadamu.” Jadi Roh Kudus memimpin pikiran manusia ke dalam Firman. Roh Kudus membawa pikiran manusia kembali kepada apa yang dikatakan di dalam Firman Tuhan. Roh Kudus tidak akan membuat pikiranmu kabur atau membuat engkau pingsan di dalam keadaan yang tidak sadar. Tidak!

Marilah kita menjaga perintah Tuhan dan prinsip Alkitab dengan baik-baik. Bapa memberikan pujian tentang Anak-Nya. Secara prinsip, Dia dipegang oleh Tuhan, Dia menerima pilihan Tuhan, Dia diutus oleh Tuhan, Dia diberikan Roh Kudus oleh Tuhan, Dia berkenan kepada Tuhan. Lalu berkenan dalam hal apa? Dalam hal apa dia menjadi contoh bagi kita? Dalam terjemahan Alkitab yang lain ada 7 kali kata ‘tidak’ yang harus kita perhatikan. Dalam Alkitab terjemahan Indonesia hanya ada 5 kali kata ‘tidak’. Saya akan membacakan tentang kata ‘tidak’ yang ada di sini. Pertama dalam ayat kedua: Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara-Nya. Terjemahan lain: Ia tidak akan berteriak dan tidak menyaringkan suara-Nya. Yang ketiga: ‘tidak memperdengarkan suaranya di tengah-tengah jalan yang besar.” Tiga buah kata ‘tidak’ ini, berarti ada suatu sifat yang sangat indah dari Hamba Tuhan yang sangat setia. Bukan mau menonjolkan diri, bukan mau memuliakan diri, bukan terlalu cepat mau memperkenalkan diri. Hal ini sangat diperlukan. Terlalu banyak pemuda-pemudi yang mau menyerahkan diri dan sesudah menyerahkan diri langsung mau menonjolkan diri, langsung mau dikenal, langsung mau terkenal sejagad. Tuhan berkata, “Lihat, Hamba-Ku, Dia tidak menyaringkan suara, Dia tidak berteriak-teriak dan tidak memperdengarkan suaranya di jalan-jalan besar. Dia adalah seorang yang tahu diri, bagaimana lembut, bagaimana taat,  bagaimana menyembunyikan diri di belakang kemuliaan Tuhan Allah. Biar bukan Dia yang terdengar tapi Tuhan yang didengar. Bukan Dia yang terkenal, tapi Tuhan yang dikenal.”


Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/08/teladan-pelayanan-kristus-bagian-i/

Minggu, 23 Desember 2012

Admin : Kebahagiaan Natal

Membaca Surat Khabar memiliki keasyikan tesendiri, dan mata tertuju pada sebuah jajak pendapat global yang digelar lembaga riset Gallup dimana lembaga ini telah mewawancarai  kurang lebih 150.000 responden di 148 negara di dunia tentang kebahagian. Kesimpulan mengejutkan bahwa orang yang tinggal di negara kaya dan makmur tidak sebahagia orang yang tinggal di negara yang produk domestik bruto per kapitanya rendah, konon katanya negara yang bahagia adalah negara yang memiliki dan memelihara nilai-nilai dasar budaya dalam masyarakat semisal memelihara pertemanan, keluarga, dan keagamaan walaupun kehidupan sehari-hari sulit.

Berbicara tentang bahagia saya teringat dengan apa yang dikatakan oleh Margareth istri dari seorang pembicara motivator tentang kebahagiaan bernama John Maxwell saat ditanya apakah dia bahagia bersuamikan John Maxwell dalam sesi tentang kebahagiaan saat itu. Margareth menjawab tidak!, semua orang heran dan terkejut.... " “No!” once again she said, “John Maxwell cannot make me happy.” Everybody looked at Maxwell. Then Margaret continued, “John Maxwell is a very good husband. He is never drunk, and cheats on me. He always tries to fulfil my needs physically and spiritually. But, He still cannot make me happy.” Suddenly there was a voice, “Why?” She said “because, no one in this world is responsible for my happiness than myself.” Hal yang ingin disampaikan oleh Margareth adalah diri kita sendiri yang bertanggung jawab menciptakan kebahagiaan itu.

Kebahagiaan!!! adalah hal yang dirindukan semua insan di dunia ini, khususnya di momentum Natal. Banyak cara dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan natal seperti mengulangi hal-hal istimewa yang pernah dirasakan di masa-masa kecil namun tidak mendapatkannya, bagi yang menyibukan diri dalam ritual-ritual Natal pun mungkin tidak mendapatkannya. Memaksakan diri tersenyum pada semua orang bahwa dia berbahagia pun akan menyusahkan diri lebih dalam, yang sedikit berbahagia adalah para pedagang yang menjual pernik-pernik natal. 

Saya mencoba membandingkan kedua hal di atas survey dan Margareth, dalam survey disimpulkan bahwa uang yang selama ini diyakini dapat membahagiakan pun tidak menjamin bahagia dan hidup lebih berarti, Sementara Margareth mengatakan kita sendirilah yang menentukan kebahagiaan itu. Bagaimana dengan saya? Ada saat dimana saya sedang memikirkan kebaikan dan kasih Tuhan saya berbahagia diluar itu saya menyedihkan.

Baru-baru ini saya diminta tolong oleh seorang teman, bahwa dia akan diwawancara dengan tema makna Natal bagi dia mewakili pemuda dalam komunitas gereja mereka, dia minta diberi gambaran tentang hal tersebut. Hal yang biasa jika saya ditanya tentang Pajak namun kali ini sedikit unik, Saya tidak terkejut dengan permintaan tersebut karena banyak pemuda dewasa dan remaja sekarang yang tidak paham hal tentang Natal sekalipun. Lalu saya memberikan suatu ayat renungan Bayi Natal oleh Pdt. Dr. Stephen Tong yang pernah saya baca. Ayat ini mungkin sering kita dengar dan baca berulang-ulang apalagi dalam suatu kebaktian Natal. Yesaya 9 ayat 5 "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." Ini adalah ayat yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya 700 tahun sebelum Kristus lahir. Ini adalah jawaban yang paling dicari oleh agama, filsafat dan kebudayaan manusia. Beribu-ribu tahun manusia menunggu siapakah yang dapat memberikan perdamaian, nasihat yang terbaik, cara paling ajaib untuk melepaskan kita dari kebodohan, kuasa besar dan bijaksana yang kekal kepada umat manusia, karena hanya Dia yang mampu memenuhi kebutuhan manusia akan hal-hal tersebut. Saya tegaskan kepada teman saya itu itu untuk mengajak pemuda bersama-sama merenungkannya, agar menjadi pemuda/i yang berbahagia dan tidak bersungut-sungut menghadapi hari yang makin jahat ini.

Dalam momen ini tidak lupa saya sebagai admin, mengucapkan kepada para pembaca setia Selamat Hari Natal, Tuhan Memberkati.