Selasa, 27 Desember 2011

Sepuluh Hukum – Hukum Keempat

Sepuluh Hukum adalah patokan dan dasar etika dunia di sepanjang sejarah. Landasan hukum Tuhan mutlak, berbeda dengan landasan hukum manusia yang bersifat relatif dan subjektif. Tuhan Pencipta yang mutlak suci sedangkan manusia hanyalah ciptaan dan tercemar dosa, sehingga tidak mungkin hukum manusia bisa mencapai kualitas dan standar hukum Allah. Hukum manusia hanya bisa menjangkau sifat horizontal, relasi antar manusia dan alam, dan tidak sah untuk menjangkau Allah. Itu sebabnya, hukum pertama hingga keempat berbicara tentang hukum vertikal, menyatakan relasi antara Pencipta dan ciptaan.

Mengakhiri era Pencerahan (Enlightenment) yang dimulai pada abad 17, manusia menyadari akan kelemahan dan keterbatasan diri. Kierkegaard, Martin Buber, Karl Barth, Emil Brunner, para filsuf dan theolog abad 19 dan 20 masuk ke dalam suatu fase yang baru. Mereka mengajak manusia untuk memperhatikan hal yang selama ini sudah diabaikan, yaitu hubungan interpersonal (interpersonal relationship). Ini semua menunjukkan hukum yang sudah lewat 3.500 tahun sejak Musa adalah yang paling benar. Penekanan hukum ketiga yang menyatakan realitas bahwa Allah adalah penguasa hidup dan matinya umat manusia, sehingga tanpa membereskan hubungan dengan Tuhan, bertobat, hidup takut akan Tuhan, dan menjalankan perintah-Nya dengan kasih, relasi manusia dengan sesamanya tidak mungkin beres. Maka, di dalam Doa Bapa Kami terdapat kalimat “dikuduskanlah nama-Mu”. Orang Kristen harus menyadari bahwa Allah itu hidup. Kesadaran relasi interpersonal ini menyebabkan kita menyadari bahwa Allah senantiasa mengawasi kita. Allah memang tidak kelihatan, tetapi orang beriman bisa melihat apa yang tidak dilihat oleh orang dunia. Yesus mengatakan, “Tanpa lahir baru dari Roh Kudus, engkau tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yoh. 3:3). Kita harus selalu hidup menyenangkan Tuhan.

Hari atau Sabat?
Di dalam hukum keempat Allah memberi perintah yang cukup panjang dan itu hanya untuk membahas satu kata, yaitu ‘hari’. Di sini sebenarnya bukan ‘hari’ yang terpenting. Paulus menegaskan bahaya orang yang terlalu sibuk memelihara ‘hari’. Yesaya 1 juga mengatakan, “Aku membenci hari Sabatmu.” Maka kita perlu melihatnya secara rohani, bukan harfiah. Semua peraturan yang ketat tidak menjamin kita beres karena ada faktor X yang melampaui segala sesuatu. Bahasa kita sering terlalu terbatas dan terlalu rendah, dibandingkan dengan makna rohani yang kekal dan dinamis dari Tuhan. Maka orang yang mengikuti perintah Tuhan secara harfiah tidak akan dapat menaati perintah Tuhan yang dinamis dengan lincah. Orang Yahudi berupaya melakukan Hukum Taurat secara harfiah. Hotel Hilton di Tel Aviv adalah hotel pertama yang memiliki 15 lantai. Demi menghindarkan orang harus memencet tombol lift di hari Sabat, maka mereka membuat lift berhenti di setiap lantai.

Orang Israel harus ‘memelihara hari Sabat’ karena Allah membebaskan mereka dari Mesir (Kel. 20:2). Maka, di sini penekanannya bukan pada ‘hari’, tetapi justru pada ‘Sabat’. Hari hanyalah wadah di mana kita menikmati istirahat sejati. Sabat yang penting, hari adalah wadahnya. Ketika manusia mementingkan ‘hari’-nya dan melupakan ‘Sabat’-nya, Tuhan akan marah. Tuhan memberi perintah, “Ingat dan kuduskan hari Sabat.” Alasan Tuhan adalah engkau sudah bekerja enam hari lamanya, maka hari ketujuh adalah Sabat Tuhan. Hari ini adalah hari milik Allah. Dari tujuh hari yang Allah berikan kepada manusia, ada satu hari yang harus dikembalikan kepada Tuhan, itulah Sabat Tuhan.

Istirahat atau Melayani?
Sabat itu hari istirahat atau hari melayani. Bagi saya, istirahat adalah tidak punya rasa cemas, khawatir, tegang (stress), menikmati damai, dan penyertaan Tuhan yang indah. Itulah Sabat. Ada orang menafsirkan istirahat sebagai tidak mengerjakan apa pun, sampai yang paling ekstrem harus berbaring terus di ranjang. Banyak orang yang tidak mengerjakan apa pun tetapi begitu lelah dan lesu. Sabat bagaikan seorang ibu yang rela dan penuh sukacita menggendong anaknya selama sembilan bulan di dalam kandungan tanpa jeda.

Di dalam Sabat, kita juga melihat bukan hanya kita yang istirahat, tetapi Allah juga istirahat. Ada masa kita bekerja keras, ada masa libur. Sirkulasi ini membuat kita bisa menikmati hidup. Puji Tuhan, Allah membawa orang Israel keluar dari Mesir, di mana lebih dari 430 tahun mereka hidup seperti kuda. Sabat Tuhan adalah damai sejati setelah kita menjadi milik-Nya. Sabat berarti menikmati Allah di dalam kedamaian dekapan-Nya. Terkadang saya merasakan letihnya pelayanan yang harus dikerjakan, tetapi di dalam keadaan sedemikian pun saya masih merasakan keindahan kedamaian di dalam Tuhan. Ketika orang Israel mencobai Tuhan, maka Tuhan berkata, “Mereka tidak akan memasuki Sabat.”

Setelah Yesus menjanjikan damai-Nya, Ia dihakimi bahkan disalibkan. Ia tidak meninggalkan apa-apa bagi murid-murid-Nya. Ia hanya berjanji, “Aku memberikan damai sejahtera-Ku kepadamu.” Banyak orang bekerja sambil mengomel, tetapi ada orang yang bekerja berat dan tidak mengomel. Ada orang yang melakukan begitu banyak pelayanan dan pekerjaan tanpa mengomel. Ia melakukan semua dengan sukacita. Itulah damai Kristus.

Ketika saya berusia 21 tahun, saya ditodong oleh perampok yang meminta arloji saya. Dengan tenang saya berikan arloji saya sambil saya berkata, “Engkau berdosa, Yesus mencintai kamu, bertobatlah.” Tukang becak yang saya tumpangi gemetar, tetapi saya sangat tenang dan damai. Itulah pertama kalinya saya merasakan damai Tuhan yang begitu nyata dalam hidup saya. Di usia 26 tahun, saya ada pelayanan di Palopo. Jarak dari Makassar 400 km, dengan jalan berbatu dan sangat berbahaya karena ada tentara pemberontak. Panitia menyediakan jeep berikut tiga pengawal bersenjata untuk menyertai saya. Dua kali mobil itu mogok dan para pengawal begitu ketakutan. Saya sangat tenang saat itu. Saat ini, saya tahu mungkin sekali ada banyak kesulitan, penderitaan, kerugian, bahkan mungkin sekali saya dibunuh. Tetapi saya sadar bahwa Sabat Tuhan sudah beserta saya. Kalau mungkin cobalah tidak membuka toko atau tidak bekerja pada hari Minggu, memakai waktu itu untuk datang kepada Tuhan, menikmati damai sejahtera-Nya, melayani Dia. Inilah perintah hukum keempat.

Yesus dan Sabat
Tuhan menjadikan tujuh hari sebagai satu sirkulasi waktu pendek dalam hidup kita, “Enam hari kau bekerja dan berhenti pada hari yang ketujuh.” Sistem ini adalah sistem sirkulasi yang paling sehat bagi masyarakat maupun setiap orang yang Tuhan cipta. Tuhan berhenti mencipta di hari ketujuh, tetapi itu adalah hari di mana Allah menopang dan memelihara ciptaan-Nya. Yesus berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yoh. 5:17). Berhenti mencipta tidak bisa diindikasikan sebagai kepasifan total, melainkan suatu peralihan aktivitas. Ciptaan Allah perlu ditopang dan dipelihara. Inilah pengertian yang lebih lincah dan komprehensif. Dengan demikian, kita tidak dibelenggu oleh pengertian harfiah dari hukum keempat ini.

Pandangan Yesus tentang Sabat sangat berlawanan dengan pandangan orang-orang Yahudi saat itu. Dia dipandang sesat dan haram karena tidak mematuhi Sepuluh Hukum. Padahal Yesuslah Pemberi Sepuluh Hukum. Pengertian seseorang terhadap Alkitab bisa berbeda dari arti asli Alkitab itu sendiri. Itu sebabnya ada orang yang bisa beranggapan bahwa Kitab Suci bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Saya sempat menggumulkan hal ini ketika pikiran saya diracuni oleh komunisme, logical positivism, evolusi, dialectical materialism, dan lain-lain. Bagaimana kita bisa menyelaraskan abad 20 dengan berita Alkitab yang ditulis 3.500 tahun lalu. Akhirnya saya sadar bahwa penafsiran kita terhadap Alkitab sering kali dibatasi oleh subjektivitas pengertian manusia. Maka, kita harus berusaha mencari pengertian Firman Tuhan yang sungguh. Agustinus mengatakan, “Jika kamu menemukan sesuatu yang salah dalam khotbahku, tinggalkan khotbahku dan kembalilah ke Alkitab.” Sangat berbeda dengan begitu banyak pengkhotbah hari ini yang mengatakan, “Tidak perlu mempelajari Alkitab, asal engkau mendengarkan khotbahku, karena ini firman yang langsung dari Tuhan.” Ini adalah pemalsuan otoritas rasul.

Hukum keempat yang dimengerti dengan pengertian harfiah menimbulkan cara pikir yang sesat. Itu sebab hukum keempat jangan dimengerti dengan konsep antroposentris yang terbatas. Kristus mengajak kita mengerti Sabat dengan benar. Kristus tidak mau pikiran manusia dibelenggu oleh pengertian antroposentris yang sering kali terlihat lebih akademis, tetapi tidak sesuai dengan kebenaran Allah.

Orang Farisi mengerti Sabat secara harfiah, maka mereka melarang orang melakukan aktivitas apa pun di hari Sabat. Yesus mengajarkan bahwa di hari Sabat tetap beraktivitas. Yesus mengecam mereka yang memelihara hari Sabat secara harfiah ternyata akan tetap menyelamatkan sapi mereka yang tercebur di sumur pada hari Sabat, sementara ketika Tuhan Yesus menolong orang pada hari Sabat, Dia dipersalahkan. Di sini Tuhan Yesus ingin kita semua melihat pengertian Sabat secara lebih esensial dan lincah. Bukan berarti kita boleh sembarang bekerja dan giat bekerja di hari Sabat, tetapi bukan juga kita tidak berani beraktivitas apa pun, tidak melayani Tuhan di hari Sabat.

Enam Plus Satu
Mengapa komposisi satu minggu harus tujuh hari, di mana seorang bekerja enam hari dan berhenti satu hari? Mengapa tidak lima hari, di mana orang bekerja empat hari dan berhenti satu hari; atau sepuluh hari, di mana orang bekerja sembilan hari dan berhenti satu hari? Di dalam sejarah, pernah terjadi dua kali orang berusaha merombak perintah Sabat, tetapi gagal total.

1) Di abad ke-18, Revolusi Perancis pernah merombak komposisi satu minggu hanya lima hari. Revolusi Perancis adalah pemberontakan terhadap Tuhan yang sangat kurang ajar, namun banyak orang menganggapnya sebagai induk demokrasi di seluruh dunia. Margaret Thatcher pernah mengatakan di peringatan 200 tahun Revolusi Perancis, “Revolusi Perancis hanyalah gejala pemberontakan masyarakat biadab yang melampiaskan dendam mereka terhadap orang-orang yang mereka benci, sehingga terjadi pertumpahan darah di Paris.” Di tahun yang sama, di Inggris, John Wesley, George Whitefield, Robert Raikes, tiga orang pemimpin agama yang terpenting, yang membawa begitu banyak rakyat Inggris bertobat, membawa Inggris memasuki zaman modern tanpa pertumpahan darah seperti yang terjadi di Perancis. Di Revolusi Perancis, orang tidak mau mematuhi perintah Allah di Alkitab, terutama komposisi satu minggu tujuh hari, lalu mengubahnya menjadi lima hari. Awalnya mereka menyambut dengan senang karena hanya perlu bekerja empat hari lalu libur satu hari! Setiap bulan bukan empat minggu melainkan enam minggu. Tetapi Perancis kemudian kembali ke tujuh hari karena setelah beberapa tahun mereka mulai merasa jenuh, baru bekerja sudah harus libur. Banyak pekerjaan yang terbengkalai, psikis mereka mulai terganggu luar biasa, maka akhirnya mereka kembali ke pola semula: enam hari bekerja libur satu hari. Karena mereka merasa itulah komposisi yang paling pas, membuat orang lebih bertanggung jawab akan tugasnya, dan rutinitas kerja pun tidak sampai membuat mereka jenuh. Karena AIlah Penciptalah yang paling tahu timetable yang Dia letakkan dalam diri manusia.

2) Di abad ke-20, pada tahun 30-an, sepuluh tahun sesudah Lenin meninggal, Stalin menjadi diktator yang terkejam di sepanjang sejarah, kemudian dilampaui oleh Mao Zedong. Kira-kira sepuluh tahun setelah Lenin mati, Stalin berkata, “Demi meningkatkan produktivitas kerja di Soviet, kita tidak perlu mengikuti ketetapan Alkitab, bekerja enam hari berhenti satu hari. Itu adalah mitos dari orang Yahudi yang merugikan masyarakat negara komunis. Maka saya memerintahkan semua orang bekerja sembilan hari, istirahat satu hari.” Awalnya orang-orang berterima kasih pada komunis yang telah menetapkan kebijakan ini, dengan bayangan produksi pasti meningkat. Nyatanya, setelah berlangsung beberapa tahun, orang menemukan bahwa produktivitas kerja malah menurun, kualitas produksi juga sangat buruk. Ternyata manusia tidak sanggup melawan dalil Tuhan, terbukti dari hasil kerja di hari ketujuh, kedelapan, kesembilan sangat jelek, karena orang sudah terlalu lelah. Akhirnya mereka terpaksa harus kembali pada sistem semula: enam hari bekerja, istirahat satu hari.

Sejak itu, tidak pernah ada negara yang berani mengubah sistem yang Tuhan sendiri tetapkan. Jadi jangan lagi kau berkata, “Di mana ada Tuhan? Aku tidak melihat Dia!” Ketahuilah, Tuhan tetap berkuasa atas seluruh umat manusia. Hukum keempat adalah dalil yang tidak mungkin diubah: bekerja enam hari, istirahat satu hari. Barang siapa menjalankannya diberkati oleh Tuhan. Di Amerika, orang bekerja lima hari, hari Sabtu istirahat, hari Minggu ke gereja. Ternyata orang yang bekerja lima hari cenderung bermabuk-mabukan, peristiwa tabrakan bertambah banyak. Itu sebabnya jangan bermain-main, taatilah dalil yang telah Tuhan tetapkan, bekerja enam hari, istirahat satu hari. Barang siapa mematuhi perintah Tuhan pasti diberkati, barang siapa melawan karena tidak mengerti makna yang sesungguhnya hanya akan menyiksa, melukai, dan mempermainkan diri saja.

Siklus Sabat, di mana satu minggu tujuh hari: enam hari bekerja, satu hari berhenti sesuai Alkitab, telah berpengaruh luas bagi seluruh dunia, khususnya dalam hal mengatur rotasi antara bekerja dan istirahat. Sejarah membuktikan, masyarakat yang menganut siklus ini sehat jasmani dan hasil kerjanya pun bagus, karena siklus ini ditetapkan oleh Allah Sang Pencipta. Barang siapa mencoba mengubahnya pasti mengundang malapetaka.

Soren A. Kierkegaard mengatakan, “Allah bukanlah topik filsafat atau bayang-bayang imajinasi kita. Dialah satu-satunya objek yang patut kita sembah.” Pernyataan ini telah berhasil menghentikan Theologi Natural yang terus berdebat membuktikan keberadaan Allah. Tetapi sebenarnya, empat ratus tahun sebelum Kierkegaard, Theologi Reformed sudah memveto Theologi Natural, karena Calvin sudah menegaskan, “Kami tidak membutuhkan Theologi Natural.” Theologi Reformed melampaui filsafat yang hanya mengandalkan rasio dan tidak mengerti Kitab Suci. Mengerti Kitab Suci adalah betul-betul menyelidiki hingga mengetahui isi hati Tuhan.

Sabat dan Agama
Musa hanya menerima perintah Tuhan untuk enam hari bekerja dan satu hari istirahat. Maka menjalankan Sabat tidak bisa membuat orang sombong. Kalau ‘hari’ Sabat itu begitu penting sampai bisa disombongkan, mengapa Tuhan berfirman, “Aku benci hari Sabatmu,” dan Paulus berkata, “Aku khawatir kamu yang memelihara ‘hari’”? Di sini kita melihat, jika seseorang salah mempelajari Firman, dia akan semakin melawan Yesus, semakin memusuhi Allah. Antusiasme agama tanpa Kristus jauh lebih jahat dari atheisme. Tanpa mengerti yang asli, semua yang harfiah akan membelenggu manusia. Iman yang terpaku pada harfiah, sulit menemukan kehendak Tuhan di dalam perintah-Nya yang bersifat paradoks. Kristus adalah interpretator Taurat yang paling akurat. Hanya Yesus yang berhak memberi tahu pengertian Taurat yang asli. Richard Niebuhr berkata, “Jika engkau mau mempertahankan tradisi, maka engkau harus membunuh Yesus; jika mau mempertahankan pengajaran Yesus, maka tradisi Yahudi akan digeser. Maka mereka memilih membunuh Yesus.” Tuhan Yesus melontarkan pertanyaan retorik yang sangat jitu, “Apakah karena Aku menyatakan kebenaran, engkau ingin membunuh Aku?” Tidak ada konflik yang lebih besar dalam sejarah daripada konflik agama dan penebusan. Tujuan Taurat adalah agar manusia, khususnya orang Israel, menyadari akan dosa. Tetapi kita malah melihat mereka menjadi sombong dengan Taurat. Tuhan tidak memberikan Taurat untuk mereka menyombongkan diri. Tuhan memberikan Taurat agar mereka mengakui dosa mereka, bertobat, meminta pengampunan Allah, dan menundukkan diri kepada Allah. Firman Allah jauh melampaui segala kepandaian dan kehebatan pikiran manusia. Wahyu Tuhan jauh melampaui semua filsafat. Anehnya, manusia yang merasa pandai tidak mau Tuhan, begitu rela dipermainkan oleh filsafat yang menyesatkan.

Sabat bukan sekadar istirahat agar kita sehat dan segar untuk bekerja. Tuhan ingin kita beristirahat di pangkuan-Nya. Manusia berbeda dari sapi. Sapi yang bekerja keras bisa tidur dengan nyenyak. Manusia yang sudah mendapatkan segalanya tetap tidak bisa tidur nyenyak. Agustinus di bagian akhir bukunya Confessions, mengatakan, “Allahku yang agung, Engkau telah mencipta manusia dengan hati yang lelah. Kami tidak memiliki damai hingga kami kembali kepadamu dan hanya mendapatkan damai sejahtera di dalam-Mu.”

Jenis-jenis Sabat
Alkitab mengungkapkan beberapa jenis Sabat: 1) The Sabbath of God (Sabat Allah Pencipta). Ini adalah Sabat setelah Allah selesai menciptakan segalanya. Penciptaan adalah karya eksklusif Allah Tritunggal sehingga tidak ada yang berbagian dalam Sabat-Nya. Sabat bukan berarti Allah tidak bekerja sama sekali, melainkan Allah berhenti mencipta dan mulai menopang ciptaan-Nya. Jadi, di dalam Sabat Allah tidak ada yang berbagian. 2) Unclear Sabbath (Sabat yang tidak jelas). Sejak Adam sampai Musa menerima Sepuluh Hukum, selama ribuan tahun itu tidak ada catatan tentang hari Sabat. 3) Sabat di Sepuluh Hukum (Kel. 20). Semua negara mempunyai hari libur umum. Ada yang tiga belas hari per tahun, atau empat belas hari, tetapi Tuhan memberikan umat manusia hari libur umum lima puluh dua hari per tahun. Jadi, hari Sabat di sini adalah untuk orang Israel yang keluar dari Mesir; berbeda dengan hari Sabatnya orang Kristen yaitu hari Minggu. Mrs. Ellen White, penulis buku The Great Controversy, sekaligus pendiri Gereja Advent mengatakan bahwa orang Kristen melanggar hukum Sabat yang Tuhan tetapkan di hari ketujuh, yaitu hari Sabtu. Padahal, Sabat di Sepuluh Hukum, Tuhan berikan kepada orang Israel yang pernah menjadi budak di Mesir. Pelepasan yang Tuhan berikan kepada mereka adalah simbol dari keselamatan yang akan Dia berikan, di mana manusia menerima pengampunan dosa, dapat berelasi secara pribadi dengan-Nya, dan menikmati damai sejahtera-Nya. Inilah arti Sabat yang sesungguhnya. 4) Sabat Babilonia. Ini adalah Sabat yang tertulis di dalam kitab Yeremia: Pada hari itu, engkau tidak akan mengatakan “aku pernah diperbudak di Mesir”, melainkan “aku pernah ditawan ke Babilonia”. Jadi, kau memelihara hari Sabat karena kau pernah ditawan di Babilonia dan Tuhanlah yang membawamu kembali ke tanah perjanjian yang Dia janjikan pada nenek moyangmu. Penekanan di sini bukan lagi ‘hari’ melainkan alasan mereka memelihara Sabat, yaitu campur tangan Tuhan dalam membebaskan mereka dari penawanan. 5) The Paradoxical Sabbath (Sabat Yesus Kristus). Saya menyebut demikian karena bagi orang Yahudi, Yesus justru melanggar Sabat, tetapi bagi orang Kristen, Yesus tidak melanggar melainkan menggenapi. Yesus menyembuhkan orang lumpuh di tepi Betesda. Yesus berkata, “Dosamu diampuni,” dan ini menyebabkan orang Farisi menganggap Yesus telah menghujat Allah. Yesus menyembuhkan orang itu untuk menyatakan dua tahap: i) menyatakan Dia adalah Allah dengan mengampuni dosa orang itu; ii) menyatakan tanda keilahian-Nya dengan menyuruh orang itu berjalan. Melalui hal ini, Yesus memberikan pengertian tentang relasi manusia dengan Sabat, yaitu “manusia bukan dicipta untuk hari Sabat, tetapi hari Sabat ditetapkan bagi manusia”. Maka, makna Sabat adalah manusia menikmati istirahat di dalam Dia. 6) Sunday Sabbath (Sabat hari Minggu). Mrs. White menuduh Paus yang memindahkan Sabat ke hari Minggu. Prof. Hoekema di dalam bukunya menegaskan bahwa Mrs. White tidak pernah bisa memberikan bukti apa pun bahwa Paus yang memindahkan Sabat ke Minggu. Kita berbakti di hari Minggu karena Tuhan Yesus bangkit di hari Minggu setelah Dia mengalahkan kuasa maut dan kuasa setan, lalu membebaskan manusia dari dosa, dari belenggu Taurat, dan dari kutukan Tuhan. Tuhan Yesus bangkit di hari pertama, maka hari pertama disebut hari Tuhan (the day of the Lord). Hari itu merupakan hari pertama, hari yang baru, suatu era yang baru, yang dinyatakan sebagai ‘hari pertama minggu itu’. Di mana pada hari itu kita boleh menikmati istirahat di dalam Dia yang telah membebaskan kita dan memberikan hidup kekal. Jadi, di dalam Perjanjian Lama, Allah membebaskan Israel dari perbudakan Mesir; di Perjanjian Baru, kebangkitan Kristus membebaskan Gereja dari perbudakan dosa. Maka, makna Sabat adalah pelepasan dari belenggu perbudakan dosa. Oleh karena itu, datanglah kepada Kristus, Ia akan memberikan Sabat sejati. 7) That Sabbath – Sabat itu (di kitab Pentateukh dan di Ibrani). Tuhan berkata kepada orang Israel, “Empat puluh tahun lamanya nenek moyangmu mencobai Aku di padang gurun. Maka Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku” (Ibr. 3:9, 11). Tempat perhentian Allah di mana kita menikmati Sabat itu (that Sabbath) adalah di mana kita bisa beserta dengan Kristus selama-selamanya, untuk menikmati dan mengalami damai sejahtera yang kekal. Setelah Kristus bangkit, kita dapat menyalami orang yang kita temui dengan mengatakan, “Sejahteralah kamu!” Kita selalu memiliki damai sejahtera sekalipun mengalami kesulitan, dicaci maki, difitnah karena that Sabbath yang Tuhan janjikan. Amin.

Sumber : http://www.nusahati.com/2011/11/sepuluh-hukum-hukum-keempat/

Sekilas Tentang Penurunan Angsuran PPh Pasal 25

Sebelumnya saya ingin bertanya, menurut saudara apakah Penurunan Angsuran PPh Pasal 25 merupakan Fasilitas yang pasti dipenuhi atau Kebijakan? Kenapa ada perusahaan yang mengajukan permohonan pengurangan angsuran PPh Pasal 25 ada yang disetujui namun ada juga yang tidak disetujui? Maka sebagai Pemohon yaitu Wajib Pajak (WP) dan Petugas peneliti yaitu Account Representatative (AR) harus memahami hal-hal yang coba saya uraikan sebagai berikut :

Dasar Hukum

  1. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-537/PJ./2000 Tanggal 29 Desember 2000 Tentang Penghitungan Besarnya Angsuran Pajak Dalam Tahun Berjalan Dalam Hal-Hal Tertentu.
  2. Bersifat tentatif (Hanya beberapa masa di tahun 2009) yaitu Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-10/PJ./2009 tanggal 11 Februari 2009 tentang Pengurangan Besarnya Pajak Penghasilan Pasal 25 Dalam Tahun 2009 Bagi Wajib Pajak Yang Mengalami Perubahan Keadaan Usaha Atau Kegiatan Usaha.

Sampai saat ini belum ada perubahan ketentuan, jadi tetap mengacu pada KEP-537/PJ/2000 Tanggal 29 Desember 2000 Tentang Penghitungan Besarnya Angsuran Pajak Dalam Tahun Berjalan Dalam Hal-Hal Tertentu.

Pengurangan Angsuran

PPh pasal 25 merupakan angsuran PPh tahun berjalan. Besarnya angsuran PPh Pasal 25 dihitung berdasarkan PPh tahun lalu dibagi 12 kecuali untuk WP tertentu. WP tertentu ini seperti mempunyai kompensasi rugi, penghasilan tidak teratur, adanya perubahan keadaan usaha. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di KEP-537/PJ/2000 , yang coba saya ringkas sebagai berikut :

  1. Hal-hal tertentu yang meliputi ; Wajib Pajak berhak atas kompensasi kerugian; Wajib Pajak memperoleh penghasilan tidak teratur; Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang lalu disampaikan setelah lewat batas waktu yang ditentukan; Wajib Pajak diberikan perpanjangan jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan; Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan yang mengakibatkan angsuran bulanan lebih besar dari angsuran bulanan sebelum pembetulan; Terjadi perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak.
  2. Apabila sesudah 3 (tiga) bulan atau lebih berjalannya suatu tahun pajak, Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa Pajak Penghasilan yang akan terutang untuk tahun pajak tersebut kurang dari 75% (tujuh puluh lima persen) dari Pajak Penghasilan yang terutang yang menjadi dasar penghitungan besarnya Pajak Penghasilan Pasal 25, Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengurangan besarnya Pajak Penghasilan Pasal 25 secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar.

Wajib Pajak (WP)

Apabila berdasarkan perhitungan realisasi dan proyeksi memenuhi ketentuan pada Poin (2) di atas, maka WP dapat mengajukan permohonan pengurangan angsuran PPh Pasal 25 ke KPP terdaftar, yaitu dengan mengajukan permohonan penurunan angsuran surat tertulis diajukan ke kepala KPP; dalam surat disebutkan alasan-alasan kenapa terjadi penurunan omset yg menyebabkan angsuran pph 25 menjadi menurun ; lampirkan dalam surat tsb. laporan keuangan (lap laba rugi) sampai bulan terakhir yang diproyeksikan sampai akhir tahun yang akan menyebabkan posisi PPh akan menjadi lebih bayar. Untuk mempermudah dan mempercepat proses penyelesaian, maka coba saya simpulkan lampiran yang disampaikan sebagai berikut :

  1. Foto Kopi SPT Tahunan 3 Tahun terakhir beserta Laporan Keuangannya (Sertakan juga dalam bentuk softcopy untuk memudahkan dan mempercepat analisis AR saudara).
  2. Proyeksi Laporan Laba Rugi ke depan beserta softcopynya
  3. Analisis naik turunnya omset, HPP, dan biaya. Beserta alasan dan dokumen-dokumen pendukungnya (Beserta softcopynya)
  4. Tanda lunas pembayaran Pajak Bumi Dan Bangunan 3 Tahun terakhir

Account Representative (AR)

Idealnya jumlah PPh pasal 25 dalam satu tahun pajak mendekati jumlah PPh terutang pada tahun yang bersangkutan. Beberapa AR di KPP akan menghimbau kepada WP untuk menaikan pembayaran PPh pasal 25 jika omset WP naik secara signifikan. WP juga berhak mengajukan permohonan pengurangan PPh pasal 25 jika WP merasa bahwa pada tahun tersebut jumlah PPh terutang lebih kecil dari jumlah PPh pasal 25. Namun besarnya jumlah PPh pasal 25 yang dapat dikurangkan tergantung dari perhitungan fiskus. Sebagai seorang AR yang bertugas melakukan analisis akan menerima/menolak permohonan penurunan angsuran 25 yang diajukan oleh wajib pajak dalam hal :

  • AR mengusulkan menerima apabila didukung secara makro ekonomi menunjukan fenomena yang ada menunjukan bahwa usaha tertentu (termasuk kriteria didalam usaha pemohon) memang sedang goncang atau bersifat luar biasa. Serta didukung dengan Laporan realisasi penurunan omset atau peningkatan biaya serta proyeksi yang sangat mungkin terjadi.
  • AR mengusulkan menerima jika terjadi peristiwa penting semisal sebagian atau seluruh dari lokasi perusahaan terbakar; peristiwa pencurian atau demo karyawan yang berkepanjangan tentu didukung dengan bukti dan dokumen terkait serta realisasi dan proyeksi yang signifikan.
  • AR mengusulkan menolak jika pemeriksaan tahun-tahun sebelumnya wajib pajak menunjukan kurang bayar (SKPKB) terhadap kewajiban PPh pasal 25 nya.
  • AR mengusulkan menolak apabila alasan yang diajukan wajib pajak dalam rangka ekspansi usaha atau akan lebih bayar akibat perluasan usaha.
  • dll

Kesimpulan

AR menyadari bahwa wajib pajak dalam hal ini saudara (pemohon) sebagai karyawan di bidang perpajakan tentu akan tetap mencoba memberikan kontribusi kepada perusahaan yah salah satunya melakukan permohonan penurunan angsuran tersebut tentu dengan alasan yang dapat diterima dari sudut akuntansi dan perpajakan. Bagi fiskus dalam hal ini AR tentu akan merespon permohonan saudara dengan baik (sebelum satu bulan sejak permohonan diterima lengkap pasti sudah ada keputusan). Namun perlu saudara ketahui dalam keputusan ini murni sepenuhnya adalah kebijakan dari Kepala Kantor ditempat perusahaan saudara terdaftar dan jangan pernah merasa bahwa hal ini adalah hak mutlak sehingga permohonan penurunan angsuran PPh pasal 25 saudara harus diterima. Beberapa wajib pajak yang permohonannya ditolak maka SPT Tahunannya biasanya akan lebih bayar dan ada sebagian yang memang hasilnya adalah SKPLB namun tidak sedikit yang SKPKB. Reformasi perpajakan sudah menyentuh lini yang terdalam maka lobby yang ingin saudara lakukan sebaiknya dijauhkan dari upaya yang dapat melanggar kode etik fiskus jika tidak ingin bermasalah.

(Ditulis akibat seringnya wajib pajak yang saya tangani mengajukan permohonan angsuran PPh Pasal 25, beberapa pendapat di atas murni adalah pendapat pribadi semoga dapat dijadikan acuan dan bermanfaat).

Menulis Dengan Kedipan Mata

Pernah membayangkan, bagaimana seseorang menulis buku, bukan dengan tangan atau anggota tubuh lainnya, tetapi dengan kedipan kelopak mata kirinya? Jika Anda mengatakan itu hal yang mustahil untuk dilakukan, tentu saja Anda belum mengenal orang yang bernama Jean-Dominique Bauby. Dia pemimpin redaksi majalah Elle, majalah kebanggaan Prancis yang digandrungi wanita seluruh dunia.

Betapa mengagumkan tekad dan semangat hidup maupun kemauannya untuk tetap menulis dan membagikan kisah hidupnya yang begitu luar biasa. Ia meninggal tiga hari setelah bukunya diterbitkan. Setelah tahu apa yang dialami si Jean dalam menempuh hidup ini, pasti Kita akan berpikir, “Berapa pun problem dan stres dan beban hidup kita semua, hampir tidak ada artinya dibandingkan dengan si Jean!”

Tahun 1995, ia terkena stroke yang menyebabkan seluruh tubuhnya lumpuh. Ia mengalami apa yang disebut locked-in syndrome, kelumpuhan total yang disebut “Seperti pikiran di dalam botol”. Memang ia masih dapat berpikir jernih tetapi sama sekali tidak bisa berbicara maupun bergerak. Satu-satunya otot yang masih dapat diperintahnya adalah kelopak mata kirinya. Jadi itulah cara dia berkomunikasi dengan para perawat, dokter rumah sakit, keluarga dan temannya.

Begini cara Jean menulis buku. Mereka (keluarga, perawat, teman-temannya) menunjukkan huruf demi huruf dan si Jean akan berkedip apabila huruf yang ditunjukkan adalah yang dipilihnya.

Buat kita, kegiatan menulis mungkin sepele dan menjadi hal yang biasa. Namun, kalau kita disuruh “menulis” dengan cara si Jean, barang kali kita harus menangis dulu berhari-hari dan bukan buku yang jadi, tapi mungkin meminta ampun untuk tidak disuruh melakukan apa yang dilakukan Jean dalam pembuatan bukunya.

Tahun 1996 ia meninggal dalam usia 45 tahun setelah menyelesaikan memoarnya yang ditulisnya secara sangat istimewa. Judulnya, “Le Scaphandre” et le Papillon (The Bubble and the Butterfly).

Jean adalah contoh orang yang tidak menyerah pada nasib yang digariskan untuknya. Dia tetap hidup dalam kelumpuhan dan tetap berpikir jernih untuk bisa menjadi seseorang yang berguna, walaupun untuk menelan ludah pun, dia tidak mampu, karena seluruh otot dan saraf di tubuhnya lumpuh. Tetapi yang patut kita teladani adalah bagaimana dia menyikapi situasi hidup yang dialaminya dengan baik dan tetap menjadi seorang manusia (bahasa Sansekerta yang berarti pikiran yang terkendali), bahkan bersedia berperan langsung dalam film yang mengisahkan dirinya.

Jean, tetap hidup dengan bahagia dan optimistis, dengan kondisinya yang seperti sosok mayat bernapas. Sedangkan kita yang hidup tanpa punya problem seberat Jean, sering menjadi manusia yang selalu mengeluh..! Coba ingat-ingat apa yang kita lakukan. Ketika mendapat cuaca hujan, biasanya menggerutu. Sebaliknya, mendapat cuaca panas juga menggerutu. Punya anak banyak mengeluh, tidak punya anak juga mengeluh. Carl Jung, pernah menulis demikian: “Bagian yang paling menakutkan dan sekaligus menyulitkan adalah menerima diri sendiri secara utuh, dan hal yang paling sulit dibuka adalah pikiran yang tertutup!”

Maka, betapapun kacaunya keadaan kita saat ini, bagi yang sedang stres berat, yang sedang berkelahi baik dengan diri sendiri maupun melawan orang lain, atau anggota keluarga yang sedang tidak bahagia karena kebutuhan hidupnya tidak terpenuhi, yang baru mendapat musibah kecelakaan atau bencana, bagi yang sedang di-PHK, ingatlah kita masih bisa menelan ludah, masih bisa makan dan menggerakkan anggota tubuh lainnya. Maka bersyukurlah, dan berbahagialah…! Jangan menjadi pengeluh, penggerutu, penuntut abadi, tapi bijaksanalah untuk bisa selalu think and thank (berpikir, kemudian berterima kasih/ bersyukurl).

Sumber : http://www.nusahati.com/2011/11/menulis-dengan-kedipan-mata/

Jumat, 09 Desember 2011

Motivasi Memberitakan Firman


Kita harus terlebih dahulu mengerti dengan jelas tentang istilah motivasi. Motivasi bukanlah tujuan, dan tujuan bukan motivasi. Motivasi adalah penyebab yang menghasilkan suatu tindakan, sedangkan tujuan adalah hasil yang diharapkan dapat tercapai melalui tindakan itu. Seringkali kita sudah mencampuradukkan kedua istilah tersebut. Misalnya, orang yang percaya kepada Yesus memperoleh hidup yang kekal. Hidup yang kekal adalah istilah hasil dari percaya, bukan motivasi dari untuk percaya. Motivasinya adalah: karena kasih karunia Allah telah dicurahkan kepada kita, Kristus telah mati bagi kita dan telah menebus kita supaya kita menjadi milik-Nya, maka terdorong oleh kasihNya itulah kita mau kembali kepadaNya. Itulah motivasi untuk percaya. Sedangkan masuk surga merupakan akibatnya atau hasilnya, bukan motivasinya.

Demikian pula motivasi dan tujuan pemberitaan Injil berbeda. Jika seseorang memiliki motivasi yang murni maka ia pasti memiliki jiwa yang lurus, baik antara Allah dan manusia, maupun antara langit dan bumi. Sebaliknya jika seseorang tak memiliki motivasi yang murni, betapapun banyaknya bakat dan talenta yang ia miliki, ia tidak akan dapat mencapai hasil yang positif menyeluruh. Motivasi memang sangat penting. Allah tidak akan menerima pelayanan yang bermotivasi campuran, oleh karena itu kita harus meniadakan unsur-unsur campuran dalam motivasi pelayanan kita.

Di dalam dunia kekristenan, banyak orang berbakat yang tidak mencapai hasil pelayanan yang seharusnya dicapainya. Salah satu penyebab utama ialah motivasi yang tidak murni. Paulus berkata, “Aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus” (2 Korintus 11:2). Kesucian dan kemurnian adalah hal yang terpenting pada saat kita melayani. Motivasi yang paling dasar dan paling minimal ini haruslah kita pertahankan.

Seorang yang bermotivasi murni tidak mudah mengalami depresi pada saat putus asa, tidak mudah berkompromi pada saat menghadapi musuh yang kuat, tidak mudah goyah pada saat menghadapi banyak godaan. Sebaliknya motivasi yang benar memberi kekuatan yang besar pada saat yang paling melelahkan, dan memberi keteguhan pada waktu penganiayaan menimpa, memberi suka cita pada waktu sengsara menekan; pada saat lingkungan menunjukkan kegelapan yang paling dahsyat, cahaya di dalam hati kita makin menjadi terang. Maka motivasi yang murni dan hati nurani yang suci adalah salah satu penyebab paling penting bagi suksesnya pelayanan kita. Kalau begitu, apakah sebenarnya motivasi yang murni dalam penginjilan?

1. KEHENDAK ALLAH

Kehendak Allah adalah unsur yang menentukan eksistensi dari segala sesuatu. Selain Allah sendiri, tidak ada hal lain yang lebih besar dari kehendak-Nya. Apakah kehendak Allah? Yaitu segala sesuatu yang telah ditetapkan di dalam hati Allah. Allah adalah Allah yang kekal, yang melampaui sejarah, yang menciptakan waktu dan ruang. Segala sesuatu yang telah direncanakan dan ditetapkan dalam hati Allah melampaui waktu dan ruang adalah hal-hal yang berhubung dengan kekekalan. Kehendak Allah tidak perlu dirundingkan dengan manusia, terlaksananyapun tidak perlu tergantung pada kerja sama manusia dengan-Nya. Dia adalah Allah yang melakukan segala sesuatu menurut kehendak sendiri. Sebagaimana perintah Raja harus dilaksanakan, terlebih lagi kehendak Allah pasti Dia genapi.

Orang Tionghoa menyebut perintah Raja sebagai perintah atau kehendak kudus. Karena itu ketika utusan raja membawa perintah raja dan memasuki sebuah kota, begitu juga menyebut perintah kudus, maka berlututlah kepala daerah dan semua orang kepadanya. Bolehlah mereka berkata, “Perintah raja yang bagaimana? Dapatkah kita mendiskusikannya sebentar, supaya kita tahu apakah perintah itu dapat dilaksanakan atau tidak?” Tentu tidak mungkin hal seperti itu terjadi. Yang ada hanya kewajiban untuk mematuhi, rakyat tidak diberi kesempatan untuk berdiskusi. Jika raja dunia yang salah berbuat demikian, lalu bagaimanakan sikap kita terhadap Allah yang tidak mungkin berbuat salah?

Saya tidak terlalu sering menggunakan istilah “kehendak”, karena banyak orang Kristen yang ceroboh memakai istilah “kehendak Allah” atau “pimpinan Roh Kudus”. “Dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (1Yohanes 2:17). Sebab itu kita harus membedakan dengan tegas antara kehendak dan pimpinan.

Kehendak Allah berbeda dengan pimpinan Roh Kudus, namun keduanya mempunyai hubungan. Pimpinan Roh Kudus akan membawa manusia memasuki kehendak Allah yang kekal; pimpinan adalah proses, sedangkan kehendak adalah ketetapan. Segala sesuatu yang direncanakan Allah dalam kekekalan merupakan keputusan yang tidak dapat diubah, tetapi bagaimana mungkin manusia yang berdosa dapat masuk ke dalam kehendak Allah? Untuk itu perlu pimpinan Roh Kudus. Siapakah yang dapat dipimpin oleh Roh Kudus kecuali anak-anak Allah? (Roma 8:14) Roh bukan saja memperanakkan kita, Ia juga memimpin kita yang diperanakkan-Nya masuk ke dalam kehendak Allah untuk disempurnakan- Nya.

Karena memberitakan Injil adalah hal yang sudah Allah tetapkan dalam kekekalan dan dipercayakan kepada kita untuk melaksanakannya, maka orang-orang yang dipredestinasikan oleh Allah akan menerima Injil dan menjadi anak-anak Allah. Apakah doktrin ini menghambat pemberitaan Injil? Tidak! Sebab predistinasi Allahlah yang menjamin kita berhasil dalam pemberitaan Injil. Jika kita sungguh-sungguh tahu bahwa penginjilan adalah menjalankan kehendak Allah, maka kita tidak terpengaruh oleh hasil kita. Bukankah Nuh sudah menjadi contoh bagi kita? Setelah 120 tahun memberitakan firman, yang menerima hanya keluarganya sendiri. Itu sebabnya saya anggap Nuh penginjil yang teragung sepanjang sejarah, karena dia memberitakan berdasarkan kehendak Allah, bukan terpengaruh oleh hasil pemberitaannya. Sekalipun demikian, faktanya pada saat kita memberitakan Injil tidak mungkin tanpa ada hasil.

2. PENGUTUSAN KRISTUS

Setelah Tuhan Yesus menang atas kuasa maut, Dia lalu mengutus gereja-Nya untuk memberitakan Injil. Jadi kita memberitakan Injil karena Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan telah mempercayakan tugas penginjilan kepada kita. Paulus berkata, “Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, … pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku” (1Korintus 9:17). Tuhan mempercayakan tugas itu pada diri kita, betapa mulia hal ini dan menakutkan! Siapakah yang telah menyerahkan tugas ini kepada kita? Pencipta semesta alam, Tuhan yang telah menyelamatkan saya, yang akan menghakimi saya bahkan menghakimi seluruh dunia! Tuhan yang begitu terhormat dan mulia menyerahkan tugas itu kepada kita, maka kita pun patut memiliki rasa tanggung jawab yang serius terhadapnya.

Gerakan penginjilan sepanjang sejarah merupakan kepatuhan anak-anak Tuhan kepada pengutusan Kristus ini. Sejak saat rasul-rasul menerima Amanat Agung di bukit Galilea sampai sekarang kita melihat dalil yang tidak pernah berubah, yaitu barang siapa mematuhi pengutusan ini, mereka menerima pertolongan Roh Kudus. Mereka menikmati penyertaan Allah dan mereka menjadi rekan Allah untuk memberitakan Injil kepada umat manusia.

3. DORONGAN KASIH KRISTUS

Paulus menyebutkan dengan jelas, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8). Di sini terlihat bahwa “Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2Korintus 5:15).

Ketika kasih hadir dalam hidup seseorang, dia akan menemukan bahwa hidupnya dilingkungi, dipegang dan diliputi oleh kasih. Kasih telah menguasai kebebasannya, juga telah menentukan arah langkahnya. Oleh sebab itu dirinya sendiri rela ia serahkan kepada Tuhan, dan segenap potensi yang ada pada dirinya ia serahkan sepenuhnya. Dengan kasih Allah inilah beribu-ribu misionaris rela meninggalkan keluarga mereka, bangsa mereka, dan menuju tempat yang jauh untuk memberitakan Injil.

Pada tahun 1969 saya pertama kali melintasi benua Asia menuju Eropa. Pada saat melewati Turki, karena terdorong oleh rasa ingin tahu, saya melihat keadaan di bawah melalui jendela pesawat terbang. Di situ terbentang propinsi Galatia, Atalia dan daerah-daerah lain, yang pernah dijelajahi oleh Paulus. Baru saya tahu daerah itu begitu tandus, begitu luas, begitu kering. Di daerah padang belantara yang kering kerontang semacam ini, bisakah kita membayangkan bagaimana Paulus telah pergi dengan kaki sebagai kendaraannya untuk memberitakan Injil. Jika bukan kasih Kristus yang mendorongnya, mungkinkah Paulus rela berkorban seperti ini?

Dalam hati para rasul terdapat suatu tekad yang agung yaitu pergi, pergi! Paulus pergi, Petrus pergi, Yohanes pergi, Thomas pergi. Pergi ke Afrika Utara, ke Arab, ke Eropa, ke India, ke Asia kecil. Baik di padang belantara, di hutan rimba mereka hanya tahu pergi, tanpa bertanya kemana mereka harus pergi, kapan mereka kembali, apakah dijamin dapat kembali. Asalkan bisa pergi, hati mereka sudah cukup puas. Bagi orang yang rela mati di tangan Tuhan, adakah tempat yang tak dapat dikunjunginya? Manusia semacam ini semakin berat jatuhnya, semakin besar aniaya yang dideritanya, justru mendesak dia untuk menyelinap ke dalam lengan Tuhan yang penuh kasih dan kelembutan. Itulah sebabnya mereka rela pergi.

Di sinilah letak rahasia rohani: berapa besar kasih seseorang terhadap Tuhan tergantung sampai berapa dalam dia menyelami kasih dan pengorbanan Tuhan di bukit Golgota. Bila seseorang sudah mengalami kasih itu dan menyelaminya dengan sungguh-sungguh, dengan sendirinya dia dapat mengasihi Tuhan dengan lebih mendalam.

Paulus mengalami pelbagai mara bahaya, baik yang berasal dari banjir, penyamun, saudara-saudara palsu, di darat, di laut, dari orang Yahudi dan bukan Yahudi; dalam keadaan telanjang, dihina, sengsara, kedinginan, diadili dan dipukul, mengalami penganiayaan dan penderitaan, tetapi dia tetap memberitakan Injil. Apakah sebabnya dia rela menanggung semua itu? Gilakah dia? Bodohkah dia? Sama sekali tidak! sebaliknya, Paulus tergolong kaum intelektual agung pada zaman itu. Sampai hari ini dia tetap termasuk salah seorang dari puluhan pemikir yang paling besar pengaruhnya terhadap umat manusia dalam sejarah. Tokoh yang demikian besar, ternyata telah melalui suatu kehidupan yang amat sangat menderita — dia dipukuli, dicaci-maki, dan dianiaya. Apakah sebabnya dia mau menderita penganiayaan dunia yang sementara ini? Paulus sendiri pasti merasa heran, sehingga dia menjawab, “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami ….” (2Korintus 5:14; dalam terjemahan lain: menggerakkan dan mendorong). Sebagaimana seorang ibu yang melahirkan tidak lagi bisa tahan ketika saatnya sudah tiba, demikian juga orang yang didorong oleh kasih Tuhan tak mungkin menahan diri untuk memberitakan Injil. Itulah arti dari “menggerakkan dan mendorong.”

4. PERASAAN BERHUTANG

Orang Kristen adalah orang yang menuju kesempurnaan melalui perasaan berhutang. Dalam Alkitab kita melihat hutang kemuliaan kita terhadap Allah, hutang kasih kita terhadap sesama, dan lebih dari itu kita masih mempunyai hutang terhadap dunia, yaitu hutang Injil. Bila gereja hari ini tidak maju, itu adalah karena gereja tidak memiliki perasaan berhutang. Paulus berkata, “Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar” (Roma 1:14). Perasaan berhutang semacam inilah yang selalu mendesak Paulus memberitakan Injil kepada manusia dari lapisan mana saja. Bagaimanakah dengan kita? Apakah kita juga menuju kesempurnaan melalui perasaan berhutang ini, atau merasa diri sudah kaya sehingga menuju kepada kemiskinan rohani kita? Bukankah kita yang seharusnya menginjili dunia, tidak peduli siapa mereka, baik kaum miskin, kaum kaya, orang intelektual, maupun rakyat jelata, yang sama-sama membutuhkan Injil? Bukankah perasaan berhutang ini harus diikuti oleh pembayarannya, yakni melaksanakan penginjilan? Apakah kita sudah memperlengkapi diri untuk mengisi kebutuhan setiap lapisan masyarakat dengan Injil secara relevan?

5. PENGHARAPAN MANUSIA

Alkitab dengan jelas memberitakan bahwa, “Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya” (Matius 24:14). Jadi apakah yang harus dilakukan oleh orang-orang yang mengharapkan kedatangan Tuhan kembali? Ada dua hal yang harus kita lakukan: yang pertama, menyucikan diri, dan yang kedua, menyelesaikan pekerjaan-Nya melalui pemberitaan Injil.

Bagaimanakah kita harus menyambut kedatangan Tuhan kembali? Bukankah dengan hati yang bersih dan tangan yang suci? Maka kita harus meniadakan kejahatan dari hati kita dan menghapus tipu daya dari tangan kita, menghapus segala kenajisan dan hati yang bercabang, supaya kita dapat menantikan kedatangan Yesus Kristus kembali dengan tulus, dengan tekad yang bulat, dengan hati nurani yang bersih, dengan kehidupan yang suci. Alkitab hampir tidak menyinggung berdasarkan apakah kita dipakai oleh Tuhan, kecuali menjadi kudus. “Jika orang menyucikan dirinya dengan hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia” (2Timotius 2:21). Taat kepada Roh Kudus, membiarkan Roh Kudus bekerja dalam diri kita, dengan itulah baru kita dapat mempunyai kehidupan yang kudus dan menghasilkan buah-buah Roh Kudus.

Hal yang kedua yaitu memberitakan Injil sampai Kristus datang kembali. Karena kedatangan Kristus yang kedua kali itu bukan dengan status Juruselamat, bukan lagi sebagai utusan perdamaian, melainkan sebagai Hakim yang terakhir, penghakiman dari yang Maha Kuasa. Itu sebabnya kita harus memberitakan firman Tuhan dengan serius, menasehati orang agar bertobat kembali kepada Kristus.

Dikutip dari:

Sumber : http://www.nusahati.com/2011/11/motivasi-memberitakan-firman/

Judul Buku : Konsultasi Pelayanan
Judul Artikel : Motivasi Memberitakan Injil
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : LPMI dan Gereja-gereja Mitra1996
Halaman : 21 — 26

Sekilas Tentang Pemilihan Pegawai Terbaik


Jika sebelumnya saya menulis ide dengan judul examples to follow yaitu tentang suatu wacana pemberian apresiasi terhadap pegawai dijajaran Direktorat Jenderal Pajak. Yang pasti adalah suatu kebetulan jika muncul surat S-1023/PJ.01/2011 tanggal 21 Oktober 2011 tentang Petunjuk Penggunan Anggaran, Pelaksanaan Seleksi dan Penilaian, serta Pelaporan dan Evaluasi Program Penghargaan Kinerja Pegawai Pada Jabatan Tertentu di Lingkungan DJP Tahun 2011. Maka akan timbul petanyaan, itu surat tentang apa? Saya pun tidak paham setelah menjadi korban yang berdekatan dihari korban kemaren.

Latar Belakang

Dalam rangka pelaksanaan reformasi dan modernisasi dibidang kepegawaian yang merupakan bagian dari reformasi dan modernisasi tahap kedua di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) perlu pengembangan system manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) bebasis kinerja dan kompetensi serta meningkatkan pembinaan dan pengawasan SDM.

Dalam rencana strategi SDM DJP perlu melembagakan pemberian penghargaan (reward) kepada pegawai.

Dalam rangka memberikan motivasi kepada pegawai khususnya yang berhubungan erat dengan tugas dan tanggung jawab mereka yang terkait langsung dengan pencapaian sasaran startegis DJP, yaitu Penerimaan Pajak Negara yang optimal dan Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak yang tinggi, oleh karena itulah diadakan program penghargaan kinerja pegawai pada jabatan tertentu dilingkungan DJP.

Dasar Hukum

  1. Peraturan Pemerintah nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5135.
  2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.01/2008 tentang Pedoman Penetapan, Evaluasi, Penilaian, Kenaikan dan Penurunan Jabatan dan Peringkat Bagi Pemangku Jabatan Pelaksanaan di Lingkungan Departemen Keuangan.
  3. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-233/PJ/2011 tentang Cetak Biru Manajemen Sumber Daya Manusia Direktorat Jenderal Pajak Tahun 2011.
  4. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-117/PJ/2009 tentang Tata Cara Penetapan, Evaluasi, Penilaian, Kenaikan dan Penurunan Jabatan dan Peningkatan Bagi Pemangku Jabatan pelaksana di Lingkungan Departemen Keuangan.
  5. S-1023/PJ.01/2011 tanggal 21 Oktober 2011 tentang Petunjuk Penggunan Anggaran, Pelaksanaan Seleksi dan Penilaian, serta Pelaporan dan Evaluasi Program Penghargaan Kinerja Pegawai Pada Jabatan Tertentu di Lingkungan DJP Tahun 2011.

Program penghargaan ini dilakukan berdasarkan pengelompokan (Clustering) jabatan, yang meliputi :

1. Account Representative; tidak sedang menjalani hukuman disiplin, dan telah dinilai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.01/2008 minimal 1(satu) periode penilaian yaitu pada semester pertama tahun 2011.

2. Fungsional Pemeriksa Pajak; tidak sedang menjalani hukuman disiplin, minimal sudah menduduki jabatan sebagai FPP selama 1(satu) tahun.

3. Penelaah Keberatan; tidak sedang menjalani hukuman disiplin, dan telah dinilai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.01/2008 minimal 1(satu) periode penilaian yaitu pada semester pertama tahun 2011.

Contoh Kasus, (Dalam kasus ini membahas tentang penghargaan untuk Account Representaitve.)

Seorang Kasi, menggambarkan produktivitas AR-nya dan memilih 3 orang dengan kriteria sesuai dengan fakta dilapangan.

  1. Berdasarkan tingkat pertumbuhan (periode semester pertama 2011) terhadap masing2 wajib pajaknya dengan membandingkan tahun lalu.
  2. Berdasarkan jumlah produktivitas analisa dan himbauan serta pencairan yang dilakukan (Semester pertama 2011).
  3. Berdasarkan Aktivitas Lainnya pada Approweb (Semester pertama 2011).
  4. Berdasarkan Evaluasi Kinerja (EK)

Lalu dilakukan voting di seksi Waskon tersebut. Pemenangnya diajukan sebagai unggulan dari waskon. Setelah semua unggulan diperoleh dari masing-masing waskon maka dilakukan pemilihan berdasarkan suara terbanyak di kantor tersebut (voting). Maka pemenang hasil pemilihan suara terbanyak (voting) berhak menyandang Predikat Pegawai Terbaik di KPP tersebut yang ditetapkan berdasarkan SK oleh kepala kantor, dan berhak maju ke pemilihat tahap II yaitu tingkat Kanwil.

Namun setelah KPP tersebut mengirimkan profile pegawai terbaiknya, kanwil membatalkan keputusan yang telah dilakukan secara objektif, fair dan transparan oleh KPP yang telah dibacakan diseluruh pegawai KPP tersebut. Alasannya adalah pemenangnya bukan Peringkat Tertinggi dalam Evaluasi Kinerja di waskon tersebut. Dan dengan inisiatif maka pemenang ke 2 (dua) hasil voting yang diajukan yang kebetulan EK nya tertinggi diwaskonnya.

Pembelajaran

Berdasarkan contoh kasus tersebut banyak hal yang dapat dijadikan pembelajaran, disini coba saya uraikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Kurangnya sosialisasi maupun pemahaman atas ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan. Seharusnya kantor pusat langsung memerintahkan KPP untuk memilih (voting) daftar nama yang sudah dipegang berdasarkan Evaluasi Kinerja yang ada. Sehingga unit eselon IV tersebut tidak perlu melakukan hal-hal tersebut di atas.
  2. Tim, melakukan penilaian kembali untuk menjadikan Evaluasi Kinerja sebagai dasar dan acuan dengan melakukan uji komparasi terhadap produktivitasnya, bukan kah semua ini bertujuan untuk pencapaian sasaran strategis DJP, yaitu Penerimaan Pajak Negara yang optimal dan Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak yang tinggi. Saya memang tidak mengetahui seperti apa pertanggung jawaban Evaluasi Kinerja tersebut. Menurut saya Evaluasi Kinerja yang kita miliki sangat subyektif.
  3. Saya melihat bahwa peristiwa ini adalah yang pertama sepanjang sejarah saya bekerja di Direktorat Jenderal Pajak yang dilakukan langsung dalam pengawasan Kantor Pusat. Peristiwa ini adalah sangat luar biasa dan Positif, tentu beberapa makna dilapangan pasti mengalami distorsi pengertian.
  4. Terbayangkah oleh kita doa yang tulus yang panjatkan oleh pemilih dan yang dipilih dalam melakukan voting, serta perasaan haru saat pemenang dibacakan diseluruh pegawai serta ucapan salam.

Quote : Suatu hal yang alami jika semua insan ingin dinilai baik oleh insan lainnya (Mr. Moonlight).

(Ditulis dalam rangka menuju Sumber Daya Manusia yang siap berkompetisi dan berintegritas ).

Berbagi Pelajaran


Kesabaran Seorang Pekerja

Beberapa bulan yg lalu di meja pemesanan kamar hotel Memphis, saya melihat suatu kejadian yg bagus sekali, bagaimana seseorang menghadapi orang yg penuh emosi.

Saat itu pukul 17:00 lebih sedikit, dan hotel sibuk mendaftar tamu-tamu baru. Orang di depan saya memberikan namanya kepada pegawai di belakang meja dengan nada memerintah. Pegawai tsb berkata, “Ya, Tuan, kami sediakan satu kamar ‘single’ untuk Anda.”
“Single,” bentak orang itu, “Saya memesan double.”
Pegawai tsb berkata dg sopan, “Coba saya periksa sebentar.” Ia menarik permintaan pesanan tamu dari arsip dan berkata, “Maaf, Tuan. Telegram Anda menyebutkan single. Saya akan senang sekali menempatkan Anda di kamar double, kalau memang ada. Tetapi semua kamar double sudah penuh.”
Tamu yg berang itu berkata, “Saya tidak peduli apa bunyi kertas itu, saya mau kamar double.”
Kemudian ia mulai bersikap “anda-tau-siapa-saya,” diikuti dengan “Saya akan usahakan agar Anda dipecat. Anda lihat nanti. Saya akan buat Anda dipecat.”
Di bawah serangan gencar, pegawai muda tsb menyela, “Tuan, kami menyesal sekali, tetapi kami bertindak berdasarkan instruksi Anda.”
Akhirnya, sang tamu yg benar2 marah itu berkata, “Saya tidak akan mau tinggal di kamar yg terbagus di hotel ini sekarang — manajemennya benar2 buruk,” dan ia pun keluar.

Saya menghampiri meja penerimaan sambil berpikir si pegawai pasti marah setelah baru saja dimarahi habis2an. Sebaliknya, ia menyambut semua dengan salam yg ramah sekali “Selamat malam, Tuan.”
Ketika ia mengerjakan rutin yg biasa dalam mengatur kamar untuk saya, saya berkata kepadanya, “Saya mengagumi cara Anda mengendalikan diri tadi. Anda benar2 sabar.”

“Ya, Tuan,” katanya, “Saya tidak dapat marah kepada orang seperti itu. Anda lihat, ia sebenarnya bukan marah kepada saya. Saya cuma korban pelampiasan kemarahannya. Orang yg malang tadi mungkin baru saja ribut dg istrinya, atau bisnisnya mungkin sedang lesu, atau barangkali ia merasa rendah diri, dan ini adalah peluang emasnya untuk melampiaskan kekesalannya.”

Pegawai tadi menambahkan, “Pada dasarnya ia mungkin orang yg sangat baik. Kebanyakan orang begitu.” Sambil melangkah menuju lift, saya mengulang-ulang perkataannya, “Pada dasarnya ia mungkin orang yg sangat baik. Kebanyakan orang begitu.”

Ingat dua kalimat itu kalau ada orang yg menyatakan perang pada Anda. Jangan membalas. Cara untuk menang dalam situasi seperti ini adalah membiarkan orang tsb melepaskan amarahnya, dan kemudian lupakan saja.

Sumber : http://clubbing.kapanlagi.com/threads/3926-Kesabaran-Karyawan-Hotel

Penyampai Pesan

Seorang wanita baru pindah ke sebuah kota kecil. Setelah berada di sana beberapa waktu, ia mengeluh kepada tetangganya tentang pelayanan buruk yang dialaminya di apotek setempat. Ia meminta pada tetangganya agar mau menyampaikan kritiknya pada pemilik apotek itu.

Beberapa hari kemudian wanita pendatang tersebut pergi lagi ke apotek itu. Pemilik apotek menyambutnya dengan senyum lebar sambil mengatakan betapa senangnya ia melihat wanita itu berkenan datang kembali ke apoteknya, dan berharap wanita dan suaminya menyukai kota mereka. Bukan hanya itu, pemilik apotek itu bahkan menawarkan diri membantu wanita dan suaminya menguruskan berbagai hal agar mereka bisa menetap di kota itu dengan nyaman. Lalu, ia pun mengirimkan apa yang dipesan wanita itu dengan cepat dan baik.

Wanita itu merasa senang dengan perubahan luar biasa yang ditunjukkan oleh pemilik apotek. Kemudian, ia melaporkan hal itu pada tetangganya. Katanya, “Anda tentu sudah menyampaikan kritik saya mengenai betapa buruk pelayanannya waktu itu.”

“Oh, tidak,” jawab tetangganya. “Sebenarnya saya tidak menyampaikan kritik anda pada mereka. Saya harap anda tidak keberatan. Saya katakan pada pemilik apotek itu betapa anda terkagum-kagum melihat caranya mendirikan apotek di kota kecil ini. Dan, anda merasa apoteknya adalah salah satu apotek dengan pelayanan terbaik yang pernah anda temui.”


Sahabat, seperti inilah kita akan dihargai oleh orang lain. Inilah gambaran tentang perilaku yang kita dapat dari perlakuan yang kita berikan pada orang lain. Sebuah penghargaan, dan juga penghormatan, akan lebih baik, dari sekedar kritik yang tak beralasan.

Ini adalah sebuah cermin, tentang siapa kita, tentang siapa sebenarnya berhak untuk mendapatkan harapan perbaikan. Kritik yang disampaikan dengan cara yang keliru, seringkali hanya menghancurkan harapan perbaikan. Sedangkan sebuah apresiasi (penghargaan) selalu mendorong orang lain untuk melakukan lebih baik lagi.

Jadi, sahabat, sampaikanlah kritik dengan lebih bijak.


Sumber : http://www.nusahati.com/2011/11/berbagi-pelajaran/