Senin, 21 Mei 2012

Sepuluh Hukum – Hukum Keenam (Part 1)

Hukum keenam merupakan hukum yang menyangkut relasi manusia dengan manusia secara umum tanpa kualifikasi khusus, seperti orang tua dan anak, atau pimpinan dan anak buah. Demikian ini berlaku untuk seluruh sisa hukum Taurat ini.

Mengapa setelah perintah hormati ayah dan ibu, lalu dilanjutkan dengan “Jangan membunuh”? Allah ingin manusia menghargai sesamanya. Apalagi yang sedang dibicarakan tentang membunuh atau dibunuh adalah makhluk yang dicipta menurut peta teladan Allah. Semua kesulitan di dalam kehidupan masyarakat, baik itu ketidakadilan atau ketidakharmonisan antara seseorang terhadap orang lain adalah karena manusia kurang menghargai sesamanya. Setelah Adam jatuh ke dalam dosa, kejahatan merajalela di bumi dan mendarah-daging dalam sifat manusia. Ketika manusia menjadikan dirinya pusat dari segalanya, egosentris menjadi motivasi utama, dorongan hidup, dan kriteria kelakukan kita, muncullah ketidakadilan.

Orang membunuh orang lain karena merasa dirinya pantas hidup di dunia sementara orang lain tidak pantas hidup di dunia; atau kehadiran orang lain telah mengganggu keberadaan dirinya sehingga ia meniadakan orang itu. Itu sebabnya, setelah Allah memberikan perintah untuk menghormati orang tua, segera disusul dengan perintah jangan membunuh. Manusia tidak boleh membunuh karena yang menetapkan nilai setiap manusia bukanlah manusia, melainkan Allah. Allah yang mencipta, memberi, dan mengizinkan seseorang hidup, memahkotai dengan kehormatan dan kemuliaan, maka setiap orang patut dihargai. Tidak ada satu agama yang menetapkan nilai, harkat, identitas manusia lebih tinggi dari yang Allah berikan di Kitab Suci. Tidak ada filsafat, kebijaksanaan, dan kebudayaan dari zaman apa pun atau negara mana pun memberi nilai lebih tinggi dari yang Alkitab berikan. Sebelum Allah menciptakan manusia, Ia berkata, “Marilah kita menciptakan manusia menurut peta teladan Kita.” Maka diciptakan-Nya laki-laki dan perempuan seturut peta teladan-Nya. Tidak ada dan tidak mungkin ada agama yang mengajarkan seperti ini. Sebelum manusia dicipta sudah diberi harkat, nilai, dan harga. Pada umumnya, kita harus mengerjakan sesuatu terlebih dahulu barulah diberi nilai. Misalnya, seorang seniman menciptakan lagu, barulah orang menentukan harga jualnya. Begitu pula produsen mobil merancang dan memproduksi mobil baru, barulah orang menetapkan harga jualnya. Tetapi Tuhan tidak demikian. Ia telah menciptakan nilai sebelum menciptakan manusia.

Manusia diciptakan paling akhir dan mendapat nilai yang tertinggi. Allah menciptakan manusia sebagai tuan alam semesta juga sebagai makhluk yang menikmati semua yang telah Allah ciptakan sebelumnya baginya. Semua ciptaan dicipta untuk manusia dan manusia dicipta untuk Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Allah berada di atas manusia dan manusia berada di atas seluruh alam. Siapapun tidak berhak untuk mengubah urutan posisi ini. Barang siapa bergeser dari posisi yang Allah telah tetapkan, seumur hidup ia akan kacau, penuh kekhawatiran, bahkan merasa hidupnya tidak berarti. Allah menciptakan segalanya untuk dinikmati dan dipakai manusia untuk melayani manusia. Maka, kucing, sapi, langit, bumi, udara, oksigen, dan semua makanan yang bernutrisi diciptakan untuk manusia. Manusia boleh memiliki, menikmati, dan mengalami anugerah Tuhan yang begitu limpah, melampaui segala ciptaan-Nya yang mengisi semua kebutuhan tubuh maupun batinnya. Alam yang begitu indah diciptakan Allah untuk manusia, bahkan malaikat diciptakan untuk melayani anak-anak Tuhan yang mewarisi keselamatan. Itu sebabnya kita harus sadar dan bangga akan posisi yang Allah tetapkan yakni lebih tinggi dari segalanya. Jangan sekali-kali kita menurunkan derajat diri kita menjadi budak materi, budak uang. Orang kaya yang hidup hanya mencari uang dan tidak bisa hidup tanpa uang banyak adalah budak harta. Tetapi orang yang berpotensi menduduki jabatan tinggi, lalu rela menjadi guru yang honornya kecil, dia sudah terlepas dari belenggu harta. Itu sebabnya, orang Reformed tidak memandang berapa banyak kekayaan yang seorang miliki lalu mengagungkan dia sambil menginjak-injak orang miskin. Kita harus sadar bahwa setiap manusia sama-sama diciptakan menurut peta teladan Allah.

Tuhan menciptakan segala sesuatu termasuk materi untuk mencukupi kebutuhan kita. Jadi materi bersifat pasif dan rendah sedangkan manusia bersifat aktif dan tinggi derajatnya. Tetapi setinggi apa pun manusia, dia tetap berada di bawah Allah. Maka jika kita meletakkan sesuatu selain Allah di atas kita, kita telah menghina dan merampas kemuliaan Allah. Ajaran seperti ini tidak mungkin ada di ajaran agama lain bahkan Taurat karena pasti akan meletakkan manusia lebih rendah atau menjadi paling tinggi di atas segalanya. Atheisme meletakkan diri begitu tinggi sehingga tidak ada tempat bagi Allah di atas; dan materialisme meletakkan manusia begitu rendah menjadi budak materi, membiarkan materi berkuasa atas hidupnya. Maka seseorang yang konsep nilainya salah akan kacau, bingung, dan tersesat hidupnya.

Manusia adalah wakil Tuhan sehingga ia diciptakan menurut peta teladan-Nya. Inilah nilai manusia yang tepat. Manusia memancarkan dan merefleksikan kemuliaan dan kehormatan Allah. Di dalam Simfoni Ketiga, Kelima, Ketujuh dan Kesembilan dari Beethoven, kita bisa merasakan bagaimana dia berjuang melawan nasibnya yang malang tanpa kompromi. Ini ciri khas Beethoven yang tidak ditemui dalam karya Haydn dan Mendelssohn karena mereka hidup begitu nyaman dan lebih kaya. Sekalipun akhirnya Beethoven menjadi kaya, ia meninggal sebelum sempat menikmati kekayaannya. Karya Beethoven bisa kita lihat sebagai peta teladan Beethoven; karya Mozart memiliki peta teladan Mozart; karya Haydn memiliki peta teladan Haydn. Setiap orang besar meletakkan peta teladan mereka di dalam karya mereka. Dari manakah kita mengenal Tuhan? Dari manusia. Dari mana kita melihat aksi melawan Tuhan? Juga dari manusia. Maka manusia dapat menyatakan ketaatannya kepada Allah sehingga merefleksikan peta teladan-Nya, tetapi juga dapat memberontak, melawan, dan merefleksikan pembangkangan terhadap peta teladan Allah. Maka adalah bohong jika seseorang mengatakan ia mencintai Tuhan tetapi membenci sesamanya. Omong kosong jika seseorang yang tidak menghargai karya Allah yang memiliki peta teladan-Nya mengaku berbakti kepada Tuhan. Orang yang membunuh manusia demi agama adalah orang yang sama sekali tidak mengerti Tuhan dan tidak mengerti hukum keenam yang Ia berikan, yaitu: Jangan membunuh.

“Jangan membunuh” bukan berarti kita tidak boleh membunuh binatang. Sejak sebelum hukum keenam diberikan, Tuhan sudah mengizinkan manusia untuk makan daging binatang. Allah tidak mengizinkan manusia membunuh manusia, tetapi mengizinkan membunuh binatang. Manusia yang membunuh sesamanya jauh lebih kejam dari binatang. Hampir tidak ada (hanya sebagian kecil) binatang yang membunuh binatang yang sejenis dengannya, maka lebih tidak patut lagi jika manusia membunuh sesamanya. Tidak ada binatang yang sekejam manusia. Binatang ketika membunuh mangsanya, ia membunuh dengan cepat dan memangsanya; atau menggigit punuknya, bagian saraf utamanya, sehingga kehilangan rasa sakit, baru memangsanya. Manusia sering kali membunuh dengan begitu keji.

Tuhan Yesus berkata, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh isi dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat. 16:26). Itu berarti manusia jauh lebih tinggi nilainya dari seluruh isi dunia ini. Oleh karena itu, Tuhan mengajarkan kepada manusia untuk menghargai sesamanya, mulai dari menghargai orang tua, lalu menghargai semua orang lain.

Peta dan teladan merupakan alfa dan omega manusia. Peta adalah potensi diri sementara teladan merupakan tujuan. Peta (potensi) Allah menyebabkan tujuan hidupnya seperti Allah, meneladani Kristus. Di dalam Perjanjian Lama, manusia setara dengan manusia lainnya. Di dalam Perjanjian Baru, manusia lebih besar dari dunia dan seluruh isinya. Oleh karena itu, manusia tidak bisa membunuh manusia lalu menggantinya dengan uang sebesar Rp. 200 juta atau $200 juta karena manusia tidak identik dengan uang. Allah berkata kepada Musa, “Barangsiapa menumpahkan darah orang lain, darahnya sendiri juga akan ditumpahkan” (Kej. 9:6). Kita harus melihat manusia secara utuh. Ini merupakan hak asasi manusia, tidak peduli dia kaya atau miskin, berkedudukan tinggi atau rakyat jelata, orang yang sempurna atau cacat, pria atau wanita. Di hadapan Tuhan setiap manusia dipandang setara dengan semua manusia lainnya. Itu sebabnya, Allah berfirman, “Marilah Kita menciptakan manusia menurut peta teladan Kita,” yang diikuti ayat berikutnya, “lalu diciptakanlah mereka, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka menurut peta teladan-Nya” (Kej. 1:26-27). Maka yang pertama kali mencetuskan kesetaraan pria dan wanita di dalam sejarah adalah Alkitab, bukan perjuangan filsafat manusia, apalagi feminisme yang memperjuangkan kesetaraan wanita dengan pria saat ini.
Di dalam Perjanjian Baru, manusia bernilai begitu tinggi melampaui seluruh dunia dan isinya. Itu sebabnya Kristus rela mati untuk kita. Jika di dunia ini hanya ada satu orang maka Kristus tetap akan datang ke dunia untuk mati baginya, karena hanya Dialah nilai tertinggi yang dapat menebus dosa manusia. Itu membuat kita sadar, betapa besar cinta Tuhan bagi kita sampai Kristus mati di kayu salib. Nilai investasi Allah saat menciptakan manusia begitu besar. Orang yang mempermainkan diri sendiri dengan berjudi, berzina, melampiaskan nafsu dosanya, bukan hanya menurunkan harkat dirinya juga sangat melukai hati Allah yang begitu mencintainya dengan menciptakan dia menurut peta teladan-Nya. Hanya orang yang menyadari bahwa nilai manusia begitu tinggi yang tidak akan sembarangan menghancurkan diri dan hidup orang lain. Tuhan tidak mengizinkan kita merusak hidup orang lain. Bahkan di kitab Yohanes tertulis, “Barang siapa membunuh, dia tidak memiliki hidup kekal.” Bunuh diri juga harus dilihat dengan prinsip yang sama. Saat engkau membunuh orang lain, engkau membunuh manusia; saat engkau membunuh dirimu sendiri, engkau tetap membunuh manusia. Maka manusia tidak punya hak untuk membunuh orang lain maupun membunuh dirinya sendiri.

Di kebudayaan Gerika ada tiga aliran filsafat yang dominan, yaitu:
1. Epicureanism. Filsafat ini mengajarkan bahwa tujuan hidup adalah berbahagia. Pendirinya yaitu Epicurus adalah pencari bahagia. Bagi dia, bahagia identik dengan damai. Dia melihat a) damai dengan diri sendiri, b) damai dengan orang lain, dan c) damai dengan dunia. Apabila seluruh relasi kita damai maka kita bisa tidur nyenyak. Ketika engkau diperlakukan tidak adil, engkau mulai merasa relasi tidak beres, maka itu membuat engkau menjadi jengkel dan susah tidur. Menurut Epicurus, manusia baru bahagia jika berdamai dengan diri, sesama, dan alam. Itu sebabnya, seseorang harus menanam dan menuai sesuai musimnya, karena jika tidak maka tidak akan damai. Namun kemudian, Epicureanism diteruskan menjadi Hedonism, suatu pelampiasan nafsu liar dengan berzina dan menyebutnya bahagia. Pada masa kini, banyak pemuda pemudi yang merasa bahagia jika tidak dikekang oleh orang tua atau guru sehingga bisa menonton film porno, melakukan perbuatan terlarang dengan bebas. Ini bukan pikiran asli Epicurus. Epicurus hidup begitu sederhana, jauh dari hidup mewah karena bagi dia damai tidak diikat oleh segala nafsu dan kenikmatan pribadi. Pemikirannya mirip dengan Buddhism. Maka, banyak orang sakit, susah, khawatir, datang kepadanya, lalu mendapatkan ketenangan dan damai karena dilepaskan dari nafsu. Ini adalah konseling yang pertama di dunia. Tetapi konseling Kristen berbeda dari konseling yang berdasarkan filsafat atau psikologi yang hanya memberikan ketenangan.

2. Stoicism. Stoicism mengajarkan bahwa bahagia dicapai melalui perbuatan baik. Tokoh utama aliran ini adalah Zeno. Ajaran ini dimulai di Stoa, di mana mereka mendiskusikan bahagia dan berkesimpulan bahwa seseorang harus berbuat baik dan memberikan sesuatu kepada orang lain. Filsafat ini menjadi arus utama hingga 300 tahun setelah Aristoteles meninggal. Saat itu dunia tidak lagi mengutamakan astronomi, biologi, kosmologi, dan lain-lain, tetapi fokus kepada manusia. Di zaman Socrates, orang berhenti mencari tahu tentang alam semesta, lalu berusaha mengenal diri sendiri. Dan pada zaman Plato, berbalik orang mulai mengutamakan kosmologi. Di zaman Aristoteles orang mengutamakan epistemologi dan logika. Tiga ratus tahun setelah Aristoteles, di zaman Kristus dan Paulus, orang Gerika tidak lagi mementingkan kosmologi, epistemologi, astronomi, tetapi mulai mencari makna hidup. Manusia mulai mencari bahagia. Orang yang kehilangan makna hidup akan bunuh diri. Orang yang dianggap tidak ada maknanya akan dibunuh.

3. Skepticism. Skepticism adalah pikiran yang selalu meragukan semua kebenaran. Mereka meragukan semua definisi dan menganggap tidak ada yang bisa dipastikan sebagai benar.

Tiga pandangan ini mendominasi seluruh pengertian manusia tentang nilai hidupnya. Dari sini kita akan menelaah bagaimana hubungan manusia dengan manusia yang dikaitkan dengan nilai hidup diri dan orang lain.
1. Saya OK, kamu OK. Di sini saya dan engkau bisa hidup bersama karena kita sama-sama suka yang berbeda tetapi tidak memengaruhi satu terhadap yang lain. Saya suka bayam, kamu suka buncis, saya suka Islam, kamu suka Kristen, itu tidak menjadi masalah di mana apa pun juga OK.
2. Saya OK, kamu tidak OK. Saya beres, kamu tidak beres. Ini pandangan sebagian besar manusia. Hal ini yang membuat akhirnya terjadi perseteruan. Semua menjadi tidak benar, hanya saya yang benar.
3. Kamu OK, saya tidak OK. Pandangan ini selalu melihat orang lain yang beres, yang benar, sementara diri kita pasti salah, pasti kurang.
4. Kamu tidak OK, saya juga tidak OK. Itu berarti sama-sama merasa tidak beres dan melihat semuanya tidak ada yang beres.

Seseorang membunuh orang lain karena ia membenci orang itu; orang membunuh diri karena ia membenci dirinya sendiri. Jadi membunuh, baik membunuh diri maupun membunuh orang lain, terjadi karena salah menilai hidup manusia. Itu sebabnya, bagaimanapun susahnya hidupmu, begitu banyak hal yang tidak dapat engkau capai, begitu banyak kesulitan yang engkau hadapi, engkau tetap harus hidup. Jangan pernah mempunyai pikiran bunuh diri. Niat bunuh diri itu datang dari Iblis yang selalu mau melecehkan manusia, ciptaan Tuhan yang diciptakan menurut peta teladan-Nya. Di sini kita melihat bahwa konsep dan pengertian orang Kristen berbeda dari semua ajaran agama dan pikiran orang sekuler yang belum mengenal firman Tuhan.

Selama di dalam kaitan ini kita tidak terlalu memutlakkan salah satu dan tidak terlalu ekstrem, maka kita bisa hidup. Masalahnya, sikap OK dan tidak OK ini bisa berubah bahkan hingga ke tingkat radikal. Jika kita merasa kita mutlak OK dan kamu mutlak tidak OK, maka ini menjadi masalah yang sangat berbahaya. Orang bisa sama sekali tidak peduli akan semua kerusakan masyarakat karena menganggap semua itu OK. Sebaliknya, ada orang yang berjuang agar cepat kiamat dan berusaha menghancurkan seluruh dunia karena dia berpandangan semua dunia ini tidak OK. Ini bisa menjadi penyebab dari terorisme dan pembunuhan. Orang yang menganggap diri lebih penting dari orang lain, bahkan merasa punya hak lebih dari orang lain, akan menghancurkan orang lain. Negara Amerika Serikat, yang memiliki paling banyak sekolah tinggi, tidak banyak bisa menghasilkan orang Kristen yang berkarakter baik. Itu sebabnya Abraham Kuyper dan semua tokoh Reformed menyadari pentingnya pendidikan Kristen. Bagi saya, pendidikan Kristen yang serius harus dimulai dengan Theologi Reformed.

Ketika seseorang sudah mulai memutlakkan tidak OK, maka itu akan mulai mengarah kepada kemungkinan terjadinya pembunuhan. Orang membunuh orang lain karena beberapa sebab utama:

1. Dia beranggapan bahwa orang lain tidak beres sehingga lebih baik hidupnya dihentikan. Pada saat itu, si pembunuh sedang tidak beres karena memosisikan diri sebagai Allah yang berhak dan berkuasa untuk menghentikan hidup orang lain.

2. Dia membenci orang tertentu sehingga keberadaan orang itu dianggap mengganggu dan mengancam dirinya. Maka “keberadaannya menjadi neraka bagiku”, itu pernyataan Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis Perancis. Kebencian itu bisa berakhir dengan pembunuhan. Maka, di sini kita melihat Alkitab menyamakan membenci dengan membunuh.

3. Ketika yang dibenci adalah diri sendiri maka ia akan membunuh dirinya sendiri.

4. Karena terjepit di dalam situasi sulit. Ada peribahasa mengatakan, “Tidak bisa sama-sama hidup di bawah kolong langit. Kalau engkau ada, aku harus tidak ada; kalau aku ada, engkau harus tidak ada.” Maka kesimpulannya adalah engkau harus tidak ada. Di dalam sejarah politik, Kaisar Yongle dari Dinasti Ming pada tahun 1402 merebut kekuasaan dari keponakannya. Untuk menjaga supaya tidak ada balas dendam, ia mengirim Zheng He untuk mengejar dan memenggal keponakannya di depan matanya. Begitu juga setelah Lenin meninggal di tahun 1924, Rusia memiliki dua pemimpin besar, yaitu Stalin dan Trotsky. Akhirnya Stalin yang berkuasa dan ia mencari Trotsky yang menghilang bersembunyi, sampai akhirnya ditemukan dan yang mati di Meksiko. Orang begitu membenci orang lain dan membunuh dia, karena tidak mengizinkan dia hidup bersamanya di bawah kolong langit. Kebencian adalah emosi yang tidak terkendali, yang merusak seluruh kedamaian dunia. Kebencian adalah investasi Iblis untuk merobohkan seluruh keberadaanmu, nilai hidupmu, dan mengarahkan engkau kepada perbuatan membunuh manusia.

Sebelum seseorang membunuh orang lain, ia selalu tidak memikirkan terlebih dahulu apa akibatnya, sampai setelah membunuh, di mana dia pikir dia sudah mendapatkan jalan keluar dari masalahnya, kini ia sadar bahwa ia menghadapi masalah yang lebih besar. Semua tindakan pembunuhan itu sia-sia karena masalah yang dihadapinya jauh lebih besar. Setelah ia mengenyahkan musuhnya, banyak orang justru berbalik memusuhi dia. Sungguh suatu tindakan kebodohan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Oleh karena itu, Alkitab memerintahkan kita untuk jangan membunuh. Kiranya dengan mengenal nilai manusia terlebih dahulu, lalu kita mengetahui batasan hak yang kita miliki, kita bisa meminta kepada Tuhan untuk memberikan kita kasih, menjauhkan kita dari rasa benci, iri hati, dengki, dan dendam – api yang menghancurkan baik diri kita maupun orang lain. Kiranya Tuhan memimpin dan menolong hidup kita. Amin.

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/02/sepuluh-hukum-hukum-keenam-part-1/

Tidak ada komentar: