Rabu, 29 Februari 2012

Dilahirkan Untuk Menderita

Natal merupakan hari yang menyenangkan. Setiap Natal dirayakan di tempat yang begitu meriah, begitu indah, makan-makanan yang begitu mewah dan mahal. Namun jikalau kita memikirkan kembali Natal yang pertama, biarlah hati kita sekali lagi tertarik oleh cinta kasih Tuhan, karena Natal pertama merupakan hari yang sangat hina. “Christianity starts from the very humble beginning“. Inilah sebuah kalimat yangmenjadi introduksi dalam film Jesus dari LPMI, Campus Crusade. Benar! Christianity starts from the very humble beginning.

Kekristenan tidak tiba dengan sesuatu yang meriah, mewah, dan hormat; tetapi kekristenan dimulai dari tempat yang hina. Selama lebih 40 tahun saya melayani Tuhan, tidak pernah sekalipun Natal dirayakan dengan main-main; tetapi selalu saya rayakan dengan hati yang berat, karena ini merupakan satu titik permulaan Firman Tuhan yang paling klimaks yang mau dibicarakan kepada umat manusia.
Di dalam beribu-ribu tahun Allah mempersiapkan nabi-nabi, bernubuat dan bernubuat. Istilah nabi dalam bahasa Ibrani berarti: yang mewakili Tuhan untuk berbicara. Mereka dipakai menjadi suara Tuhan. Mereka dipakai untuk mencetuskan apa yang menjadi isi hati Tuhan, supaya perkataan-perkataan Tuhan boleh terdengar di dalam dunia yang sudah berdosa, yang sudah jauh dari Tuhan, yang sudah menyeleweng dari kebenaran. Tuhan ingin berkata-kata kepada manusia, tetapi manusia begitu tidak ingin mendengarkan perkataan-perkataan Tuhan. Tuhan ingin mencetuskan hati-Nya kepada manusia, seperti seorang tua yang tidak mau melihat anaknya menuju kepada jalan binasa. Nasihat, peringatan, ajaran, didikan dan kalimat-kalimat yang penuh dengan segala hal yang penting, begitu diabaikan oleh mereka yang tidak memerlukannya.Mereka bukan tidak memerlukannya, hanya merasa belum memerlukannya. Mengapakah kita harus menunggu sampai harus betul-betul hancur, bangkrut, sudah dibuang, baru mulai membuka telinga kepada Tuhan?

Setiap kali Natal, saya tidak mengecualikan, memakai kebaktian ini sebagai kebaktian penginjilan, karena Injil mulai sejak hari Natal. Injil mulai sejak kelahiran Kristus. Istilah Injil di dalam Bahasa Gerika adalah Euangelion. Euangelion berarti kabar kesukaan -kabar kesukaan yang hanya singular, satu saja – the only good news. Dalam dunia engkau melihat begitu banyak orang berani memakai kata: kabar kesukaan, kabar kesukaan – good news! Honda ready stock! Itu bukan goodnews. Itu adalah good news-good news dalam so many news goodnews, hanya ada satu kabar baik, yaitu: orang berdosa boleh kembali berdamai dengan Tuhan Allah. Dan kabar baik ini di mulai darimana? Dari Yesus yang lahir ke dalam dunia.
Yesus hadir di dalam sejarah. Yesus lahir kedalam dunia. Di dalam Kitab Suci dinyatakan sebagai Allah yang menyatakan diri di dalam daging. God manifested Himself in flesh – Allah menyatakan diri di dalam daging. Inilah yang disebut sebagai firman menjadi tubuh, yang disebut logos menjadi flesh, menjadi bertubuh seperti manusia. Mungkinkah ini? Ini tidak terdapat dalam agama manapun. Di dalam agama-agama diseluruh dunia tidak pernah diajarkan bahwa Allah sendiri menjadi manusia, pernah sungguh-sungguh dilahirkan, pernah sungguh-sungguh berdaging, berdarah. Tidak! Tidak ada agama yang mengajar ini kecuali Kitab Suci, Firman Tuhan yang berkata-kata kepada kita. Alangkah besarnya hal ini. Ini merupakan keajaiban besar rahasia ibadah, yaitu Allah menyatakan diri dalam daging.

Ibrani 2:14 mengatakan, “Sebagaimana saudara-saudara berdaging berdarah, maka Anak Allah yang tunggal, Yesus Kristus, datang ke dunia juga bersalutkan dengan daging dan darah, seperti engkau dan saya.” Siapakah yang mengerti sifat manusia kecuali manusia itu sendiri? Siapakah yang mengerti kesulitan-kesulitan, penderitaan, sengsara dan segala kepahitan yang boleh dialami oleh manusia, kecuali manusia itu sendiri? Dalam 1Kor. 2 dikatakan, selain roh manusia, siapakah yang mengerti manusia?Tetapi tidak berhenti di situ, ayat ini meloncat pada tingkatan yang lebih tinggi,’ tanpa roh Allah juga tidak ada orang mengerti Allah.’ Dalam psikologi, yang menjadi keindahan adalah pengertian antara manusia yang lebih berpengalaman menganalisa dan memberikan petunjuk kepada mereka yang kurang berpengalaman dan berada di dalam kesulitan. Itulah sifat konstruktif dari psikologi. Tetapiji kalau tidak berdasarkan kebenaran, tidak berdasarkan cinta kasih yang sesungguhnya, sebenarnya psikologi tidak bisa berbuat baik, tidak bisa berbuat banyak.

 Kecuali roh manusia, siapa yang mengerti manusia? Waktu membaca dan merenungkan, saya langsung memusatkan konsentrasi kepada Tuhan yang rela menjadi manusia. Hal ini tidak berarti jikalau Yesus tidak pernah datang ke dalam dunia, maka Allah tidak mungkin mengerti kesengsaraan hidup manusia. Bukan! Allah bisa mengerti karena Dia Mahatahu. Diatidak perlu harus mempunyai pengalaman ‘menjadi’ sebagai titik awal untuk pengertian. Tetapi Allah menyatakan diri hadir ke dalam dunia, menjelma menjadi manusia dan bersalut dengan daging dan darah, justru untuk memberitahu engkau dan saya bahwa Dia adalah Allah yang care, Dia adalah Allah yang peduli, Dia adalah Allah yang memelihara! Ibrani 2:14 menyatakan, ‘Ia berdaging dan berdarah agar khusus melalui kematian, berperang bagi kita untukmengalahkan si penguasa dari kematian, yaitu Iblis.’ Dari sini terbitlah sesuatu pikiran di dalam hati saya: ‘Mengapa Yesus lahir?’ Yesus dilahirkan untuk menderita.

 Di Indonesia ada lebih dari 50 juta orang mengalami hidup yang lebih pahit dari sebelumnya, setelah krisis moneter. Dan kali ini suara dan ajakan Tuhan bukan hanya ditujukan kepada orang miskin, tetapi kepada semua lapisan, termasuk orang kaya. Biarlah manusia mendengar!Bukalah telingamu kepada Tuhan! Mazmur 49 berkata, ‘Orang atasan, orang bawahan, orang kaya, orang miskin, biarlah semua yang bertelinga mendengar Firman Tuhan.’ Pemazmur mengatakan, ‘Aku akan mengatakan kalimat-kalimat yang berbijaksana melalui kecapi yang aku mainkan. Biarlah orang di aliran atas ataudi aliran bawah, semua mendengarkan dengan baik karena ini Firman Tuhan. ‘Kadang-kadang Tuhan memberikan pengajaran kepada satu lapisan, kadang-kadang kepada seluruh lapisan dunia ini. Biarlah kita mengerti suara Tuhan melalui Kristus yang lebih menderita dari siapapun yang ada di tengah-tengah kita.

 Tidak pernah ada satu orang yang hidup lebih miskin, lebih susah dari Yesus. Lahir di tempat binatang, meminjam palung anyang bau dan hina. Mati meminjam kuburan orang kaya yang belum pernah dipakai untuk menguburkan orang lain. Yesus meminjam kuburan tersebut selama beberapa hari, lalu Ia bangkit. Di tengah-tengah kelahiran dan kebangkitan ada:kesengsaraan, pencobaan, pergumulan, tersendiri dan ditolak, diejek, dan akhirnya dipaku di atas kayu salib. Tidak ada orang yang lebih susah dari pada Kristus, tidak ada orang yang lebih miskin dari Kristus, tidak ada orang yangl ebih menanggung berat daripada Yesus, tidak ada orang yang lebih tersendiri dibanding Yesus.

 Mengapa? Mengapa Anak Allah yang memempunyai kemuliaan dan kehormatan demikian besar di surga, harus turun untuk mencicipi, merasakan, mengalami, melewati semacam kehidupan yang begitu menderita? Begitu banyak sengsara? Jawabannya adalah karena kasih yang mendorong Dia turun dari surga ke dalam dunia. There is no greater love than the greatest love of Jesus Christ, come down from heaven to bear your sin, and hung on the cross to replace you and me. Waktu Yesus lahir ke dalam dunia, mari kita membayangkan apa yang menjadi persiapan hati Dia untuk turun ke dalam dunia.

 Pertama, Yesus dilahirkan dengan persiapan hati untuk dibatasi. Kalimat ini begitu mudah dimengerti, begitu mudah dibatasi, tetapi orang yang dari ketidakterbatasan masuk ke dalam keterbatasan, baru mengetahui apa artinya ‘dibatasi’. Saya mengambil contoh, jikalau engkau setiap bulan boleh memakai 50 juta untuk kehidupanmu, tapi mulai bulan depan engkau hanya boleh memakai 50 ribu, engkau akan mengerti apa maksud kata ‘dibatasi’ di atas. Bagi orang yang tadinya miskin lalu bebas boleh memakai uang sewenang-wenang, itu merupakan hal yang menyenangkan. Bagi orang yang dulunya terbatas, sekarang kebebasan menjadi begitu besar, itu menyenangkan. Tetapi Tuhan Yesus tidak demikian.

Orang miskin menjadi kaya, itu enak. Tetapi tidak ada orang yang bisa mengerti bagaimana susahnya Yesus Kristus, dari surga yang tidak terbatas menjadi seorang bayi di dalam palungan. Dari Allah yang mencipta menjadi seseorang di dalam dunia ciptaan yang hanya berpuluh kilo berat tubuh-Nya, hanya sekian liter darah di dalam tubuh-Nya dan berjalan di Galilea. Terbatas, terbatas, terbatas oleh apa? Terbatas oleh natural law, terbatas oleh physical law, terbatas oleh material law. Yesus dibatasi dalam hukum alam, hukum fisika, hukum tubuh, hukum materi. Yesus berada di dalam dunia dan hidup dalam keterbatasan. Dia berbeda dengan engkau. Memang engkau manusia dan saya manusia, tetapi Dia adalah Allah, Allah yang turun ke dalam dunia, Allah yang rela dibatasi. Inilah poin yang pertama dari ‘lahir untuk menderita.’

Kedua, waktu Yesus turun ke dalam dunia, Dia siap untuk diikat dan dilimitasi oleh segala hukum Taurat. Kita suka kebebasan. Kalau mengemudi mobil, kita mengharapkan setiap kali sampai di pesimpangan jalan, lampu berwarna hijau dan bukan merah. Setiap kali kalau sudah begitu cepat sampai di persimpangan jalan, dan lampunya merah saya sedikit jengkel. Lalu saya mengharapkan cepat-cepat kuning, cepat-cepat hijau dan langsung saya boleh berjalan lagi. Yesus bukan saja dibatasi secara materi, dibatasi hukum alam, dibatasi hukum fisika, tetapi sekarang dibatasi dalam segala hukum Taurat.

Yesus harus berada di bawah pengasuhan hukum Taurat 100%. Alkitab mengatakan, ‘Mengapa Yesus dibaptiskan oleh seorang manusia yang namanya Yohanes Pembaptis?’ Karena Dia harus menjalankan segala syariat Taurat. Alkitab mengatakan, ‘Yesus harus menunggu sampai umur 30 tahun, baru keluar menjadi Mesias.’ Mengapa demikian? Karena menurut Taurat, imam tidak boleh dilantik sebelum umur 30 tahun. Mengapa umur 12 tahun harus berjalan kaki berhari hari dari Nazaret menuju Yerusalem? Karena Taurat menuntut anak berumur 12 untuk pergi ke Bait Allah dan ditahbiskan menjadi Bar-Mitzvah. Mengapakah Yesus Kristus harus dipaku di atas kayu salib? Karena Dia menanggung dosa engkau dan saya. Menurut Taurat, yang berdosa harus mati. Inilah poin kedua.

Yesus dilahirkan melalui seorang wanita, dilahirkan di bawah penguasaan Taurat. Dalam Matius 5 Yesus mengatakan, ‘Jangan kira Anak manusia datang untuk meniadakan Hukum Taurat, bukan demikian. Aku datang justru untuk menggenapkan Taurat’ Dan Dia harus taat – setiap titik, setiap nada, setiap huruf, setiap garis dari apa yang dicatat di dalam Taurat. Orang-orang Farisi telah memperkembangkan pengertian Taurat dalam teologi orang PL, di mana makin lama makin rumit, makin lama makin complicated. Akhirnya menjadi ribuan topik, ribuan syariat Taurat dan Yesus tidak melanggar satu pun di antara segala perintah-perintah itu. Di dalam sejarah, dalam seluruh dunia, ada satu orang yang pernah menggenapi seluruh Taurat. Bukan orang Yahudi, bukan rabi, bukan orang Farisi, bukan Musa, justru hanya satu orang, yaitu Yesus Kristus. Berapa banyak pemimpin-pemimpin agama yang munafik? Berapa banyak dosa yang disimpan di belakang jubah agama? Berapa banyak pemuka agama yang berbicara suci, tetapi hidupnya najis?

Dalam dunia ada begitu banyak orang mengetahui hukum Taurat, agama, tetapi justru negara yang paling beragama adalah negara yang paling korupsi. Berapa banyak dosa disimpan di belakang jubah agama? Berapa banyak agama dipakai menjadi suatu kedok atau topeng yang menutup segala dosa? Ketika Yesus Kristus berada di dalam dunia, maka kalimat-kalimat yang paling sengit, perkataan-perkataan yang paling tajam, kritik-kritik yang paling ganas, paling kuat dari Dia dituduhkan kepada pemimpin-pemimpin agama; Celakahlah engkau, hai ahli Taurat! Celakalah engkau, hari orang Farisi! Kau pura-pura! Yang kau katakan dan kau jalankan itu berlainan. Tuhan Allah melihat ke dalam sedalam-dalamnya hati sanubari manusia. Dia mengetahui bagaimana hidup kita. Apakah kita setiap minggu datang ke gereja dengan pakaian yang begitu bagus, dengan perkataan yang begitu indah, dengan nyanyian yang begitu merdu, tetapi jiwa kita lebih jahat dari ateis, komunisme dan mereka yang melawan Tuhan? BERTOBATLAH! Supaya kita mendapatkan satu kali lagi perdamaian dengan Tuhan Allah.

Di seluruh Ibrani kalimat yang penting antara lain adalah kesejatian. Sungguh sejati, sungguh benar, menjadi tuntutan tertinggi dari orang-orang Yahudi. Tetapi justru kalimat itulah yang paling banyak dikritik oleh Yesus Kristus: engkau bukan sunat, engkau pura-pura, engkau munafik, engkau palsu adanya. Yesus datang ke dalam dunia, menjalankan hukum Taurat, dan satu titik, satu nada pun tidak dilanggar. Kadang-kadang saya tidak bisa membayangkan jikalau Yesus di dalam dunia selama 33½ tahun, pernah 1 menit atau 1 detik berdosa. Bagaimana jika itu terjadi? Ini menyangkut isu teologis yang penting. Mungkinkah Yesus berbuat dosa di dunia? Selama di dunia 33½ tahun, Dia mungkin berbuat dosa atau tidak? Jawabannya adalah Yes & No!

Jikalau kita mengatakan bahwa Yesus tidak mungkin berbuat dosa, Dia bermain sandiwara, bukan? Dia datang hanya berpura-pura menjadi manusia, padahal Dia tidak mungkin berbuat dosa. Berarti pasti Dia menang, bukan? Kalau demikian, semua pencobaan-pencobaan yang datang kepada Yesus Kristus tidak mempunyai arti apapun. Maka saya berkata, Yesus pasti punya kemungkinan berbuat dosa. Kalau tidak demikian, segala pencobaan yang diizinkan kepada Dia merupakan semacam permainan saja, sandiwara dari Tuhan Allah saja. Tetapi kalau ini dimutlakkan, menjadi bahaya besar. Alkitab mengatakan Yesus tidak berbuat dosa. Alkitab tidak mengatakan Yesus tidak mungkin tidak berbuat dosa. Alkitab hanya mengatakan Yesus tidak berbuat dosa, maka jawaban Yes & No harus dimengerti sebagai berikut: Onthologically: No!, Logically: Yes! Secara logika, Yesus mungkin berbuat dosa. Secara Ontologikal (secara being), Yesus tidak pernah berbuat dosa. Maka itu hanya menjadi suatu perbincangan teologis yang tidak pernah ada tunjangan dari fakta sejarah. Yesus tidak berdosa, kenapa? Karena Dia sudah menggenapi segala tuntutan Taurat. 100% tuntutan Taurat dijalankan oleh Dia, inilah poin kedua.

Ketiga, Yesus Kristus bersiap turun ke dalam dunia, bersiap untuk dipermalukan dan dihina di dalam dunia. Dalam Lukas dikatakan, ‘Tidak ada waktu bagi-Nya untuk makan.’ Kadang-kadang begitu sibuk sampai tidak ada waktu untuk makan, tidak ada tempat untuk berhenti. Pada waktu melayani, sekian banyak orang sakit datang kepada Dia, dan Dia terus melayani. Bukan saja demikian, setelah melayani apa yang menjadi imbalannya? Imbalan-Nya adalah penghinaan, ejekan, olokan, umpatan, fitnahan dari orang yang melawan Dia.

Memang menjadi manusia tidak mudah. Engkau menjadi orang jahat ada banyak pendukungnya, menjadi orang baik banyak musuhnya. Enak yang mana? Menjadi orang baik banyak musuh, tapi menjadi orang jahat ada pendukung. Kalau begini, baik atau jahat sama saja, pokoknya nasib. Kalau engkau berbuat jahat masih banyak pendukung, jahatnya pasti sukses. Kalau engkau begitu baik tapi masih banyak musuh, baikmu itu tetap gagal. Maka di dalam dunia ini sudah banyak orang yang hidup beyond good % evil. Tidak lagi mempunyai pikiran ‘harus berbuat baik atau jahat.’ Karena hal itu menjadi tidak praktis, tidak harus dipertahankan. Manusia hanya mencari untung dan rugi, tidak mementingkan mencari kebenaran atau tidak. Pemuda pemudi dalam mencari kawan adan sahabat, temuilah mereka dan hargai mereka yang mementingkan baik-jahat lebih daripada mementingkan untung-rugi. Mereka akan menjadi kawan yang sangat berguna. Jikalau engkau hanya berkawan dengan mereka yang mempunyai profit minded only, hanya memperhatikan keuntungan, di dalam keadaan rugi, mereka akan membuang engkau.

Yesus datang ke dalam dunia justru pada waktu paling susah, paling sengsara. Waktu ada keuntungan ada kerugian Dia maju ke depan. Orang seperti ini terlalu sedikit, bukan? Dari mana kita melihat ini? Alkitab mengatakan pada waktu sudah mengenyangkan 5.000 orang dengan roti, mereka mengatakan, ‘Kalau demikian, kita tidak usah lagi memilih raja yang mana, kita tidak perlu lagi memilih presiden yang mana. Ini saja, karena Dia bisa mengenyangkan kita, kalau Dia menjadi presiden, selesai. Sandang, pangan tidak menjadi persoalan lagi.’ Kalau Yesus menjadi presiden, semua kemiskinan akan dibasmi. Waktu Yesus mempunyai kesempatan politik menjadi tempat nomor satu, tempat yang paling tinggi, Alkitab mengatakan, ‘Dia mengundurkan diri, naik ke bukit dan sepanjang malam berdoa kepada Allah.’ Adakah politikus seperti ini? Adakah pemimpin masyarakat seperti ini? Terlalu sedikit.

Yesus telah memberikan pelajaran kepada kita dan menjadi contoh bagi kita. Waktu ada keuntungan, Ia tidak merebut, waktu ada kesulitan, Dia tampil ke depan. Satu kalimat yang sangat menggerakkan hati saya, yaitu pada waktu di Getsemani Yudas datang dengan musuh-musuh karena uang. Yudas menjual Gurunya. Para musuh, karena iri dan benci, ingin membunuh Yesus Kristus. Pada waktu menangkap Yesus Kristus di Getsemani, Dia mengatakan satu kalimat: ‘Jika engkau menangkap Aku, biarlah orang-orang-Ku ini pergi.’ Berarti Dia tidak mau bawahan-Nya dirugikan karena Dia. Orang seperti ini sangat sulit ditemukan. Biasanya seorang yang mempunyai bawahan, bawahan itu boleh mati untuk saya, tetapi saya tidak akan mati untuknya.

Alkitab mengajarkan kepada kita, barangsiapa menjadi pemimpin yang mengorbankan rakyat untuk keuntungan diri, pastilah didongkel habis. Barangsiapa rela berjuang sampai mati untuk rakyat, pasti dijadikan pahlawan. Hanya ada dua macam pemimpin. Yesus pemimpin seperti apa? Yesus pemimpin yang pada waktu hendak ditangkap, diadili, dan dipaku di atas kayu salib, mengatakan: ‘Kalau engkau mau menangkap Saya, biarkanlah bawahan Saya pergi, lepaskanlah mereka.’ Pemimpin seperti ini menggerakan hati manusia selama 2.000 tahun. Tidak ada orang lain yang mempunyai pengikut lebih banyak seperti Yesus Kristus, yang rela mati bagi kita. Yesus Kristus adalah pemimpin yang menyerahkan diri bagi orang lain, bukan pemimpin yang menyuruh orang lain mati bagi Dia. Inilah butir ketiga.

Keempat, ketika Yesus Kristus turun ke dalam dunia, Ia bersiap untuk menjadi budak yang taat – the Obedient Slave. Dia datang ke dalam dunia menjadi budak. Mengapa? Karena Dia datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani. Yesus Kristus berkata, ‘Bukankah engkau memanggil Aku Rabbi? Bukankah engkau memanggil Aku Tuhan? Tetapi di tengahtengah engkau, Aku seperti budak, Aku melayani.’ Dia betul-betul menyatakan hidup, fakta realita yang tidak bisa disangkal oleh siapapun. Sehari sebelum Yesus naik ke atas kayu salib, Dia masih menjongkokkan tubuh, masih membasahkan tangan, dan mencuci kaki murid-murid-Nya. Filipi 2 mengatakan, ‘ Dia taat sampai mati – obey to death. Dia taat sampai mati – lahir untuk taat – taat untuk mati. Inilah Yesus Kristus, inilah inkarnasi. Inilah hari Natal. Inilah yang disebut inkarnasi.

Pada waktu Yesus Kristus dilahirkan dalam dunia, malaikat berkata: ‘Namai Dia Immanuel.’ Imanu-el. El adalah Elohim, El adalah Allah, El adalah Tuhan Allah, dan Imanu berarti beserta – Tuhan beserta dengan kita. Kehadiran Kristus adalah kehadiran Allah. Kehadiran Kristus adalah kehadiran surga. Kehadiran Kristus adalah kehadiran semangat inkarnasi. Kehadiran Kristus adalah kehadiran pengorbanan. Kehadiran Kristus adalah kehadiran teladan, contoh, rela menyerahkan diri. Tuhan di surga akan melihat siapa yang seperti Anak Sulung-Nya. Anak-anak Allah, belajarlah dari Kakakmu yang sulung. Siapakah Anak Sulung? Siapakah Anak Sulung yang lebih daripada kita sebagai anak-anak  Allah? Dia adalah Yesus Kristus. Sebagaimana anak sulung taat mutlak 100%, Tuhan mengatakan, ‘Alangkah bersukacitanya jikalau menemukan di dalam gereja ada orang Kristen yang taat kepada Tuhan.’

Jangan kira Tuhan memerlukan uang kita, persembahan kita, sepertinya Dia pengemis yang paling besar. Segala sesuatu yang kau berikan kepada Tuhan adalah dari Tuhan Allah dan apa yang kau persembahkan tidak pernah satu sen pun dikirim ke surga. Itu hanya dipakai untuk sesamamu di dunia, di dalam berbakti, di dalam menginjili, di dalam diakonia, di dalam kesulitan dan di dalam segala pekerjaan yang membawa manusia kembali kepada kebenaran. Tuhan tidak memerlukan uang persembahanmu dan persembahanku untuk menyambung hidup-Nya. Tidak! Lalu mengapa Tuhan memberikan kepada kita kesempatan untuk mempesembahkan sesuatu? Itu untuk menguji sejauh mana ketaatanmu kepada-Nya. Itu adalah kesempatan, di mana kita boleh belajar seperti Yesus Kristus, menjadi anak Allah yang taat.

Dalam kitab Samuel dikatakan, ketaatan lebih indah dari persembahan. Kau mempersembahkan segala sesuatu lalu memberontak, lalu melawan Tuhan, Tuhan akan menanyakan kepadamu, ‘Apakah engkau mengira Aku memerlukan uangmu? Yang Aku tuntut daripadamu adalah hidup taat. Jalankan kehendak-Ku, sesudah itu baru memberikan pesembahan kepada-Ku.’ Puji Tuhan, Yesus menjadi contoh ketaatan!

Itu sebabnya Ibrani 5:7-8 mengatakan, ‘Meskipun Dia adalah anak, Dia telah mempelajari ketaatan melalui penderitaan supaya menjadi sempurna dan akhirnya boleh menjadi sumber keselamatan bagi segala bangsa yang taat kepada Dia.’ Our obedience in Jesus Christ is our obedience to the Lord, through Jesus’ obedience to His Father-Ketaatan kita kepada Yesus Kristus adalah ketaatan kita kepada Allah Bapa melalui ketaatan Kristus yang menjadi contoh. Dia adalah sumber dan dasar ketaatan. Dia adalah pangkalan dan fondasi ketaatan. Dia adalah segala ketaatan kita terhadap Dia. Ketaatan kita hanya diakui dan diterima oleh Allah Bapa, melalui ketaatan Anak-Nya yang tunggal. Yesus Kristus sebagai Anak Sulung yang membawa kita untuk menerima hak menjadi anak karena ketaatan kepada Dia. Inilah butir yang keempat.

Butir kelima, Yesus dilahirkan dengan mempersiapkan diri untuk dibuang, untuk diejek, ditolak, untuk tidak diterima dengan baik, untuk dilupakan dan untuk dilawan oleh orang. Sedikit bukan, orang melahirkan anak dan membiarkan anaknya boleh diejek, ditolak, difitnah, diumpat, dikritik dan dilawan oleh banyak orang seperti Yesus Kristus? Pada waktu Yesus masih kecil, kira-kira berumur 11 tahun, terjadi satu hal di kota asal-Nya, yaitu Nazaret. Kota Nazaret, karena melawan Kaisar Roma, mengakibatkan lebih dari 100 orang digantung di kayu salib. Di pinggir jalan sepanjang Nazaret, orang-orang itu ditancapkan seperti tiang lampu, satu orang demi satu disalibkan. Bayangkan bagaimana  Yesus berumur 11 tahun, masih kecil, berjalan-jalan dengan kawan-kawan-Nya. Di tengah-tengah jalan Dia melihat banyak kayu salib yang dipancangkan di situ. Dia menemukan arti itulah orang yang dipaku di atas kayu salib. Untuk pertama kalinya suatu fakta yang begitu riil, begitu kejam, begitu mengerikan, masuk ke dalam impression Yesus Kristus sebagai kanak-kanak. Dan Dia berkata, ‘Memang Aku datang untuk menjalankan kehendak Tuhan Allah.’

Di SAAT (Seminari Alkitab Asia Tenggara), ada sebuah ukiran yang melukiskan Yesus sebelum disalib, dua perampok sudah berada di atas, dan Yesus belum dipaku. Dia sedang berdiri, salib sudah ditaruh di tempat tersebut dan orangyang membawa palu sudah berada di dekat situ. Detik terakhir Yesus menengadah ke atas langit dan ada cahaya yang datang dari langit kepada Dia. Dia membuka mulut-Nya seolah-olah berkata, ‘Ya Bapa, Aku datang untuk menjalankan kehendak-Mu.’ Lukisan itu sangat mempengaruhi pelayanan saya.

Mudahkah menjalankan kehendak Tuhan? Tidak mudah! Jikalau engkau mau menjalankan kehendak setan, itu mudah. Jika engkau mau mentaati Tuhan, tidak mudah. Engkau harus bersiap. Bersiap untuk apa? Untuk diejek orang, dibuang orang, dihina orang, difitnah, diumpat orang. Pada waktu seseorang dalam kongres internasional mengatakan, ‘Do you know who is the most criticized Christian in the world? Siapakah yang paling banyak dikritik di seluruh dunia?’ Saya katakan: ‘I don’t know.’ Jawabnya adalah Billy Graham. Dia yang melayani Tuhan begitu besar, tapi dikritik, dimaki, dihina, diejek sana-sini. Saya bayangkan: mungkin kalau ada orang mempunyai banyak kawan, sekaligus mempunyai banyak lawan. Tetapi pernahkah Billy Graham diejek seperti Yesus Kristus? Tidak!

Yesus dipukul, dihina, dipasang mahkota duri! Waktu masih muda, Dia diejek, ‘Ini anak haram. Mama-Nya tidak malu, tidak malu, tidak menikah tapi sudah bersetubuh sampai melahirkan-Nya.’ Kalimat-kalimat yang menusuk hati-Nya sejak kecil, Dia tahu semuanya. Padahal itu adalah mujizat terbesar dalam dunia genetika, yaitu Maria, anak dara yang tidak menikah, dinaungi oleh Roh Kudus melahirkan Firman ke dalam dunia. Semua tusukan perkataan, hinaan, fitnahan, ejekan diterima-Nya. Yesus, seumur hidup, selama 33½ tahun dan detik-detik di kayu salib masih mendengar mereka berkata, ‘Turun! Turun dari salib! Jikalau Allah adalah Bapa-Mu, Dia akan menyelamatkan Engkau. Hai Tabib, Engkau bisa menyembuhkan orang lain, tapi tidak bisa menyembuhkan diri-Mu sendiri? Turun! Jika Kau turun, aku percaya kepada-Mu!’ Yesus turun atau tidak? Tidak! Mengapa? Karena Dia tahu, kalau Dia turun, hari ini engkau dan saya hanya menunggu masuk neraka. Dia tidak boleh turun, Dia harus menjalankan kepahitan itu sampai tuntas. Dia harus menghabisi setiap tetes kepahitan dari kemarahan Tuhan yang dijatuhkan kepada orang berdosa. Padahal Dia yang tidak berdosa telah dijadikan dosa. Karena engkau dan saya, Dia tidak turun. Yesus menerimanya dan karena ini Dia dilahirkan untuk menderita. Ini adalah butir yang kelima.

Butir keenam, Yesus dilahirkan untuk diadili secara tidak adil. Waktu Yesus berada di dalam dunia, Dia berada dalam posisi orang berdosa. Padahal Dia tidak berdosa. Kalau kita masuk ke dalam kamar Intensive Care Unit (ICU), biasanya kita disuruh memakai pakaian rumah sakit, setelah itu baru masuk. Waktu saya masuk ruangan ICU, mendoakan orang sakit, dan memakai pakaian rumah sakit, setelah itu baru masuk. Waktu saya masuk ruangan ICU, mendoakan orang sakit, dan memakai pakaian itu saya merasa tidak enak sekali. Saya rasa tidak sakit, dan ini bukan bajuku. Demikian juga kalau kita masuk ke dalam penjara, disuruh membuka jas dan memakai baju penjara baru boleh berkhotbah. Waktu saya memakai baju penjara, saya masuk dan semua orang melihat saya. Stephen Tong masuk penjara. Saya katakan, ‘Saya tidak masuk penjara yah, ini cuma mau berkhotbah, maka disuruh memakainya, nanti dicopot lagi.’ Itulah perasaan Yesus Kristus. Waktu Yesus turun ke dalam dunia bersalut dengan daging. Dia bersalutkan daging dari orang berdosa. Padahal Dia tidak berdosa. Ini tidak adilnya. Yang tidak berdosa bersalut dengan daging, berpeta teladan orang berdosa. Ini dicatat dalam Roma 8:3.

Dalam Filipi 2 ada istilah ‘Peta Teladan Budak’, juga ada istilah ‘Peta Teladan Allah’, dan di dalam Roma 8:3 ‘Peta Teladan Berdosa’. Yesus Kristus adalah peta teladan Allah yang asli, di mana kita semua dicopy dari Dia, sehingga kita menurut Peta Teladan Allah. Tetapi yang asli telah datang ke dalam dunia memakai peta teladan budak dan peta teladan dosa. Sewaktu saya membaca Roma 8:3, Filipi 2:5-7, saya ingin menangis, karena Dia yang tidak berdosa harus berpeta teladan seperti itu mengganti engkau dan saya, supaya suatu hari nanti kita boleh melepaskan peta teladan orang berdosa dan peta teladan budak, lalu boleh mendapatkan kebebasan, kemerdekaan peta teladan Allah. Inilah butir keenam. Dia diadili. Selama 24 jam, Dia diadili 6 kali oleh 4 macam manusia. Yang pertama, Herodes, mewakili politik yang tidak beres. Kedua, Pilatus, mewakili korupsi antara hukum dan politik. Ketiga, diadili oleh orang Yahudi yang mewakili massa yang buta. Keempat, Dia diadili oleh imam besar yang mewakili agama yang munafik. Yesus, di dalam 24 jam itu, sepanjang malam setelah keluar dari tempat perjamuan suci menuju Getsemani, setelah berdoa 3 kali, Dia meneteskan keringat seperti darah, ‘O Bapa, singkarkan cawan ini daripada-Ku.’ Sesudah itu Ia mengatakan, ‘Kehendak-Mu yang jadi, bukan kehendak-Ku.’ Lalu Yesus dibawa, sepanjang malam 6 kali diadili dan Dia tidak mengeluarkan satu kalimat pun membela diri. Satu kalimat pun tidak keluar dari mulut Yesus untuk membela diri. Dia diam, menyerahkan diri di hadapan Allah yang Mahaadil. Biar diejek, dipukul, ditolak, dihakimi, dihina, namun Dia tinggal diam.

Sampai pada kesempatan-Nya, Dia baru berbicara. ‘Apakah Kau Anak Allah?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ ‘Apakah Kau raja orang Yahudi?’ ‘Ya.’ Yesus tidak boleh tidak mengatakan ‘Ya’ pada saat-saat itu. Jikalau Yesus menyangkal, berarti seluruh ajaran-Nya selama 3 tahun itu adalah omong kosong. Yesus, pada saat paling krisis, harus mempertahankan kebenaran yang tidak tergoncangkan. Memang Saya Anak Allah. Memang Saya Kristus. Memang Saya dilahirkan sebagai raja. Dia menjawab pemimpin-pemimpin agama, pemimpin-pemimpin politik, dengan kalimat yang tegas. Dan hal itulah yang mengakibatkan Dia harus mati, tapi Dia sudah bersedia karena memang Dia dilahirkan untuk diadili. Terakhir, Yesus dilahirkan untuk dikorbankan di atas kayu salib. Dilahirkan untuk dipaku di atas Golgota. Dilahirkan untuk mati. Kita semua yang pernah menjadi ayah dan ibu, mengetahui bagaimana bersukacita mendapatkan anak,bukan? Pada waktu anak itu lahir, apa perasaanmu? Oh, semua orang yang pertama kali menjadi ayah mempunyai perasaan, ‘Saya menjadi papa, loh!’ Hati menjadi sangat senang. Siapa yang pada saat memperoleh anak mengatakan, ‘Anak kalau sudah dilahirkan, besok akan mati.’ Di hari pertama tentunya tidak yang berbicara seperti ini, bukan? Hanya ada satu yang dilahirkan pasti mati dan matinya bukan karena dosa sendiri. Mati karena orang lain. Siapakah? Yesus Kristus.

Mari kita merenungkan kembali malam pertama Natal. Perasaan-perasaan di surga, ada 2 macam. Satu macam perasaan adalah perasaan Sang Bapa dan Roh Kudus, Oknum Pertama dan ketiga Allah Tritunggal. Mereka melihat Oknum Kedua turun ke dalam dunia dan dengan segala keadaan yang serius menunggu bagaimana manusia menyambut Yesus Kristus. Dia tidak diterima di hotel yang indah, Dia tidak diterima di dalam istana, tetapi Dia diterima di kandang binatang. Pada waktu hari Natal, kita melihat kandang binatang di sini, coba lihat, bagus…bersih…baunya juga enak. Tapi waktu Yesus lahir bukan di tempat seperti ini! Ini cuma modelnya. Ada orang membuat baju gembala bagus sekali. Saya kira itu tidak benar. Meski membuat baju gembala seperti pengemis karena gembala-gembala waktu itu memang miskin. Sekarang kita memperindah semuanya, pohon Natal indah, semua indah. Ini semua omong kosong!

Waktu Yesus lahir, betul-betul berada di tempat binatang, bau, kotor. Kalau pada hari pertama Yesus lahir, engkau berada di kandang, pasti engkau lari. Apalagi yang suka pakai parfum. Engkau menjadi orang ‘Kristen parfum’, mau pikul salib? Saya tidak percaya engkau bisa memikul salib. Engkau omong kosong. Itulah poin terakhir, Dia dilahirkan untuk mati. Yesus Kristus dilahirkan untuk menderita.


Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong
Buletin MOMENTUM No. 45 – Desember 2000

Sumber : http://www.nusahati.com/2011/12/dilahirkan-untuk-menderita/

Tidak ada komentar: