Jumat, 31 Januari 2014

Pengajaran Tuhan

Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. … Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. (Ibrani 12 : 5-10)
… Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. … Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. (Ibrani 12 : 5-10) - See more at: http://www.nusahati.com/2014/01/hajaran-tuhan/#sthash.RngjOKlA.dpuf

Bagian yang baru kita baca memberikan kita suatu contoh yang mudah, supaya kita mengerti artinya, apabila kita dihajar oleh Tuhan. Saudara, nasihat di atas mengatakan, Tuhan menghajar orang-orang yang dikasihi-Nya sebagaimana seorang ayah mengajar anaknya. Seorang ayah mengajar anaknya menurut apa yang dia anggap baik, demikian kata Alkitab, tetapi Ayah kita di surga mengajar kita supaya kita menjadi baik, dan beroleh bagian di dalam kekudusan-Nya. Di sini kita melihat suatu tujuan akhir yang sangat tinggi nilainya.
Saudara, kita dihajar oleh Tuhan supaya kita beroleh bagian di dalam kekudusan Allah. Tujuan ini memberi pengharapan yang sangat menghibur kita masing-masing. Alkitab berkata, “Tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibr.12:14). Dengan segala kesedihan dan penyesalan saya harus mengatakan dengan jujur, bahwa kegagalan pelayanan Kristen sering kali disebabkan oleh hidup yang tidak suci. Maksudnya, orang yang tidak suci melayani Tuhan, akibatnya merugikan pekerjaan Tuhan. Gereja dicela, orang Kristen dicaci-maki dan kekristenan dihina di dalam dunia karena banyak pelayan Tuhan tidak mementingkan sifat kesucian sebagai hal yang pokok dan sebagai dasar yang penting untuk melayani Tuhan.
Di seluruh dunia, di tempat-tempat yang saya kunjungi, pemuda-pemudi ingin sekali saya menandatangani Alkitab mereka. Saya selalu melihat dulu berapa kira-kira umur mereka. Kalau mereka masih muda, saya suka memberikan ayat 2 Timotius 2:21, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, … ia dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” Saudara, dipakai oleh Tuhan adalah hak yang terbesar, suatu kemuliaan yang luar biasa, yang bisa diperoleh seorang Kristen. Namun Allah memberikan ayat yang penting ini, yaitu supaya kita menjadi suci, sehingga layak dipakai oleh Tuhan. Kesucian merupakan sifat Allah sendiri. Bukankah kita ingin melayani Tuhan, ingin giat bekerja dalam ladang Tuhan? Bagaimana kita dapat memakai tangan yang kotor untuk pekerjaan Tuhan yang suci? Bagaimana kita dapat dengan pikiran-pikiran yang najis memikirkan hal-hal surgawi? Sebab itu, kalau tanganmu kotor, bersihkan dirimu; kalau pikiranmu bercabang, konsentrasikan hatimu. Jika hati yang belum dibersihkan, sucikan dirimu di dalam rencana dan cara yang Tuhan tetapkan, sehingga kita boleh melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh! 
Gereja harus selalu menekankan, selalu memperingatkan orang Kristen tentang hidup dalam kesucian sebagai satu-satunya hal yang penting sekali untuk melayakkan kita melayani Tuhan. Jika gereja bertobat, orang Kristen bertobat, setiap pelayan Tuhan bertobat, meninggalkan hal-hal yang najis, hal-hal yang rendah, tidak mungkin kebangunan tidak datang kepada gereja; tidak mungkin kebangunan tidak tiba kepada setiap pelayan Tuhan secara pribadi, dan dia mendapatkan berkat besar.
Saudara, salah satu ajaran ibu saya sejak saya kecil ialah, “Hati-hati, jangan engkau dipakai oleh setan. Berbuat dosa gampang sekali, beberapa menit cukup engkau berzina, beberapa menit cukup engkau berbuat dosa, tetapi berpuluh-puluh tahun tidak cukup engkau menyesali apa yang sudah engkau perbuat.” Kalimat itu datang dari ibu yang setia. Sejak saya berumur tiga tahun, dia sudah menjadi janda. Dia sering berkata kepada kami, “Kalau engkau besar, engkau mau melayani Tuhan, engkau menjadi hamba Tuhan, jangan lupa: hidup suci, pikiran yang suci, perkataan yang suci, hati yang suci, motivasi yang suci, dengan jiwa yang suci, baru engkau bisa dipakai oleh Tuhan.”
Saudara, saya khusus membicarakan kesucian digabungkan dengan pengajaran. Allah menghajar anak-anak-Nya. Dia mencambuk. Ini perlu sekali untuk kita masing-masing. Dalam Amsal, Salomo berkata agar para ayah jangan takut memukul anaknya, agar dia tidak pergi kepada kebinasaan (Ams. 23:13, 14). Kalau anak kecil, anak remaja, tidak diajar dengan disiplin ketat, hari depannya akan ke mana? Dalam kebebasan yang tak terkendalikan, yang mencari kebuasan, berapa banyak kebudayaan, orang pribadi atau massa secara kolektif telah memilih kebinasaan bagi diri sendiri? Allah tidak mau orang Kristen yang santai-santai dan hidup sembarangan, tidak menerima pengajaran dan disiplin.
Saudara, mendisiplin anak merupakan tugas seorang ayah atau orang tua. Mendisiplinkan anak juga dikerjakan oleh Bapa segala roh. Oleh sebab itu, jangan dengan enteng memandang pengajaran Tuhan. Hal ini harus ditanggapi dengan serius sebagai suatu hal yang bermakna, suatu hal yang bersangkut-paut dengan kemajuan rohani dan suksesnya pelayanan kita masing-masing. Pada waktu Tuhan menghajar, kadang-kadang kita tidak bisa menerimanya karena seolah-olah terlalu berat. Kita protes, mengapa orang lain berdosa sama seperti saya, tetapi tidak dihajar sekeras ini?
Saudara, bersyukurlah kepada Tuhan, jika tangan Tuhan berat atas dirimu. Bersyukurlah kepada Tuhan, jika sedikit pun Tuhan tidak mau engkau menoleransi dosa. Makin keras, makin ketat disiplin atas dirimu, makin menyatakan kemungkinan engkau dipakai Tuhan lebih daripada orang lain. Calvin berkata, “Seorang suci bukan orang yang tidak berbuat dosa. Seorang suci adalah orang yang mempunyai kepekaan yang besar terhadap dosa.” Jika engkau tidak lagi peka terhadap dosa, karena engkau memandang enteng hajaran Tuhan berkali-kali, akhirnya Tuhan akan membiarkan engkau. Paling celakalah orang yang dengan bebas dan lancar berbuat dosa, tidak ada lagi suara hatinya menegur dia. Tetapi berbahagialah, jika tangan Tuhan masih mencampuri hidupmu, jika engkau masih dihajar oleh-Nya, jika Roh Kudus masih menegur hatimu, jika hati nuranimu masih digerakkan oleh terang firman Tuhan melalui Roh-Nya. Saudara, jangan pandang enteng, jangan meringankan, jangan anggap sepi pengajaran Tuhan Allah.


Saat engkau bertemu dengan orang yang menjengkelkan dalam pelayanan, itulah saatnya motivasi pelayananmu diuji. (Stephen Tong)

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong


See more at: http://www.nusahati.com/2014/01/hajaran-tuhan/

Tidak ada komentar: