Sabtu, 29 Desember 2012

Teladan Pelayanan Kristus (Bagian I)

Pada tahun 1995, Kamp Nasional Mahasiswa (KNM) mengumpulkan mahasiswa dari 27 propinsi. Kamp kali ini Cuma mengumpulkan 26 propinsi. Kita tidak tahu bagaimana keadaan pada hari depan. Setiap pertemuan adalah pertemuan yang tidak terulang lagi. Setiap kesempatan yang diberikan Tuhan adalah kesempatan yang mencatat sejarah, meskipun mungkin kita merasa ini adalah kesempatan yang sering ada. Tahun 1949, pada waktu komunis mengambil alih kekuasaan di Tiongkok, dari hari itu sampai sekarang sudah 51 tahun, namun belum pernah ada pertemuan dari mahasiswa-mahasiswa Kristen di manapun. Indonesia sedang menuju kepada kemungkinan perpecahan, separatis-separatis sedang bekerja untuk menghancurkan keutuhan negara ini. Maka biarlah kita sangat menghargai, menghormati, menyayangi, dan memakai baik-baik anugerah Tuhan untuk Kamp Nasional di Indonesia ini. Lima tahun yang lalu saya mengisi satu sesi di KNM. Barangsiapa yang mengikuti Kamp Nasional di sini 5 tahun yang lalu coba mengacungkan tangannya. Kira-kira hanya 2% yang mengangkat tangan. Jadi, setiap Kamp Nasional adalah Kamp Nasioanal yang tidak akan terulang lagi. Kiranya Tuhan bekerja terus menerus di dalam proses sejarah ini untuk memanggil, memilih, meneguhkan dan mengurapi pemuda pemudi yang akan dipakai oleh Tuhan.  Masa muda kita tidak akan kembali lagi. Dulu saya lebih muda dari Anda. Percaya tidak? Dulu saya jauh lebih muda daripada Anda. Waktu anak saya yang paling kecil menemukan foto saya di dalam laci, dia bertanya, “Siapa ini? Dia mudanya ganteng sekali ya Ma! Siapa ini? Di antara kelasku, di antara kawanku tidak ada yang ganteng seperti ini.” “Itu papamu,” nyonya saya menjawab. “Masa? Kok sekarang jadi jelek begitu, kok jadi tua begini?” Nah, jangan tertawa, karena dulu saya pernah lebih muda dari Anda dan esok mungkin engkau lebih tua dari saya.

Karena sejarah memproses, mendesak kita menuju kepada tepi waktu yang menjadi perbatasan kekekalan. The age in between eternity and temporary. Kita semua sedang melihat datangnya millennium baru, satu abad baru. Abad yang lama satu persatu digeser, sehingga tidak ada lagi di dalam sejarah. Yang ada hanyalah di dalam ingatan – tidak ada lagi di dalam kewujudan yang konkrit karena waktu dan abad yang lampau hanya tercatat di dalam catatan sejarah dan beberapa di dalam ingatan memori kita. Itu sebabnya kita harus menghargai waktu.  Abad ke-20 dianggap abad yang paling pintar, abad yang paling maju, abad yang paling muktahir, abad yang paling pesat perkembangan teknologinya. Kita harus mengakuinya. Tetapi bagi analisa saya, abad 20 adalah abad yang bodoh. Di dalam abad ke-20 tidak banyak pikiran yang kreatif, yang memajukan manusia dalam bidang moral, iman, kerohanian dan keanggunan karakter. Abad ke-20 telah menjadikan kita ditaklukan oleh abad ke-19, sehingga pikiran-pikiran ideologi, arus- arus filsafat abad ke-19 telah disembah sujud oleh orang-orang pintar abad ke-20 dan dibawa untuk mendidik anak-anak muda. Hal ini menyebabkan abad ke-20 menjadi tidak karu-karuan. Apa yang diajarkan di dalam abad ke-19, apa yang menjadi suatu pertumbuhan yang pesat untuk mempengaruhi pikiran-pikiran pemuda abad ke-20, semuanya itu diambil dari abad ke-19. Maka kita harus  mengerti bahwa abad ke-19 lebih kreatif. Abad ke-20 adalah abad pengikut. Kapan komunisme dimulai? Abad ke-19. Kapan dijalankan? Abad ke-20. Kapan eksistensialisme dimulai? Abad ke-19. Dan kapan dilaksanakan di seluruh dunia? Abad ke-20. Kapan logical positivism dimulai? Abad ke- 19. Lalu kapan dipraktekan? Abad ke-20. Jadi orang-orang abad ke-20 tidak  mempunyai pendirian sendiri. Kita ambil suatu pikiran dari Karl Marx, Darwin, Hegel, August Comte, kita ambil pikiran-pikiran dari abad ke-19 untuk menjajahi pikiran abad ke-20. Orang-orang abad ke-20 begitu mentaati, mengikuti jalan pikiran abad ke-19; lalu kita memakai 70 tahun atau lebih di daerah-daerah tertentu untuk mempraktekkan teori-teori dari Aufklarung ? Enlightenment. Akibatnya kita sadar bahwa evolusi tidak bisa diandalkan, scientism tidak bisa diandalkan, rasionalisme sangat terbatas, eksistensialisme banyak salahnya. Waktu kita sadar komunisme salah, evolusi salah, semua salah, kita sadar bahwa ternyata hari-hari di abad ke-20 hanya sisa beberapa tahun saja. Tahun 1989 komunis kolaps, terbukti jikalau teori ekonominya diadopsi dipraktekkan di negara apa saja, maka negara tersebut pasti bangkrut. Sekarang yang paling celaka bangkrut terakhir yaitu negara Korea Utara dan Kuba yang masih coba bercokol dan tidak mau bertobat dari komunisme. Abad ke-20 akhirnya sadar bahwa kita sudah salah. Sudah salah lalu bagaimana? Kita tidak mau bertobat, belum mau kembali kepada Tuhan. Kita belum kembali mengaku dosa kita dan minta cahaya kebenaran Firman Tuhan untuk mengoreksi kita. Abad ke-19 bukan saja hanya dalam hal-hal yang saya sebut tadi.

Abad ke-19 sudah menghasilkan modernisme, liberal dan akhirnya dipraktekkan di dalam abad ke-20. Akibatnya apa? Gereja- gereja menjadi kosong. Gedung-gedung yang besar hanya diisi oleh orang-orang yang tua dan hanya segelintir. Seorang dosen dari Universitas di Manado studi di Jerman. Sebelum pulang dia melewati suatu kota lalu mengikuti kebaktian hari Minggu di situ. Gedung Katedral itu mungkin bisa menampung 3.000 orang, namun yang mengikuti kebaktian belum sampai 50 orang. Waktu kebaktian selesai, di saat berjabat tangan dengan pendeta yang berkhotbah, pendeta tersebut mengatakan, “Puji Tuhan hari ini masih ada orang muda seperti engkau yang mengikuti kebaktian di sini.” Dosen ini umurnya 56 tahun! Puji Tuhan masih ada orang muda mau mengikuti kebaktian!  Waktu saya mendengar cerita itu saya ingin menangis. Kalau kita tidak menggarap para pemuda, tidak menggarap mahasiswa, tidak menggarap generasi yang akan datang, maka bukan saja generasi muda itu sendiri akan hilang untuk selama-lamanya tetapi penerus Injil juga tidak akan ada di dalam kesinambungan sejarah. Dan gereja akan mengalami Post Christian Era – zaman pasca kekristenan. Orang yang mengatakan, “Oh, dulu ada kekristenan, dulu ada iman Kristen. Dulu pernah ada gereja. Tapi itu kan dulu, yang kuno yang lama.” Seperti orang di Jawa Tengah yang tidak lagi mengerti apa itu Budhisme Hinduisme. Tetapi mereka boleh membanggakan, di sini ada Prambanan, di sini ada Borobudur. Dulu di sini pernah ada agama besar. Tapi sekarang daerah itu tidak lagi mempunyai kepercayaan seperti itu.

Mungkinkah kekristenan mengalami pasca kekristenan? Mungkin! Dan ini sudah diwanti-wanti oleh Francis Schaffer, sudah diberitakan oleh orang yang bersifat pelayanan nabiah dan kita harus hati-hati. Hari ini saya mau berbicara kepada Saudara agar Tuhan mau memakai engkau untuk  menyambung sinar cahaya Injil kepada abad ke-21. Empat puluh tiga tahun yang lalu saya menerima panggilan Tuhan dengan airmata membasahi seluruh pakaian dan berkata, “Tuhan pakailah saya. Jikalau aku menyerahkan diri, aku akan melayani Engkau dengan setia dan jujur, sungguh-sungguh sampai mati.” Saya janji dengan tangisan di hadapan Tuhan. Sekarang, jika saya cerita lagi, itu bukan teori, tapi suatu sharing hidup. Saya sudah melayani selama 43 tahun, dan sampai hari ini saya tetap melihat Tuhan setia dan tidak meninggalkan kami. Karena tertulis dalam Roma 11, bahwa panggilan Tuhan dan karunia dari Tuhan tidak pernah disesalkan oleh Tuhan sendiri. Tuhan memberikan panggilan, memberikan utusan, memberikan urapan, memberikan karunia. He never regret about that. God will never regret about the gift and the calling from Him. Maka kita berdoa agar di antara pemuda-pemudi di seluruh Indonesia ada telinga-telinga yang peka, ada hati yang peka, ada sikap-sikap yang terbuka untuk Tuhan. Tuhan pakai saya, panggil saya, utus saya, dan saya mau dipakai Tuhan.

Saya pernah di dalam International Preassembly di Korea, berkhotbah pada 70.000 orang. Yang berkhotbah bukan hanya saya sendiri, tapi banyak pengkhotbah internasional di situ. Dan saya mengatakan dengan teriakan, “Kita akan mendoakan ada 10 juta pemuda- pemudi yang  meneruskan penginjilan dan dipanggil oleh Tuhan.” Lalu ada seorang wartawan mengatakan, “Apakah yang kau katakan itu tidak terlalu besar? Ten millions to Him?” Saya menjawab, “Yes, ten millions. Ten millions is not a big number.” Karena apa? Karena orang yang mengaku diri Kristen ada 1.500 juta. Kalau di antara 1.500 juta, ada 150 juta orang Kristen yang menjadi Hamba Tuhan, terlalu banyak tidak? Tidak. Mestinya perpuluhan kan? Saudara-saudara berpikir perpuluhan itu uang saja. Mestinya jika ada 100 anggota, 10 yang menjadi Hamba Tuhan.  perpuluhan. Ten millions is less than point eight percent. Tidak sampai satu persen. Kalau 100 orang satu menjadi Hamba Tuhan, engkau kira terlalu banyak? Tidak!

Dan saya mengatakan, di antaranya saya harap paling sedikit ada 500 ribu orang dari Indonesia. Wah, 500 ribu orang dari Indonesia. Mungkin tidak? Mungkin! Jangan kira Tuhan tidak mungkin mengerjakan sesuatu yang ada di luar dugaan kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang mampu bekerja dan saya sepanjang 43 tahun ini memanggil, berteriak untuk menyerahkan diri menjadi Hamba Tuhan, memenuhi panggilan-Nya. Mungkin saudara tidak percaya selama 43 tahun di dalam pelayanan saya, yang pernah maju ke depan di dalam kebaktian- kebaktian yang saya pimpin yang mau menyerahkan diri melayani Tuhan, sudah lebih 150 ribu orang. Di mana mereka berada sekarang, saya tidak tahu. Apakah mereka masih melayani, saya tidak tahu. Tapi saya tahu Tuhan adalah Tuhan yang memanggil pemuda-pemudi untuk meneruskan pekerjaan-Nya, untuk dipakai oleh Tuhan.

Mari kita membaca Kitab Suci dari Yesaya 42:1-4, kita melihat hamba yang dipakai oleh Tuhan itu yang seperti apa. Lalu apakah mungkin diurapi oleh Tuhan, sehingga kita menjadi Hamba Tuhan yang semacam ini? Siapakah yang dikatakan di sini? Saya percaya Anak Allah yang Tunggal adalah Kristus sendiri mendapatkan pujian dari Bapa yang mengutus Dia dan menjadi contoh bagi siapapun yang diutus oleh Yesus sendiri. He pleased God and He’s the example for everybody sent by Him. Ini merupakan suatu syair, suatu sajak yang keluar dari mulut Allah Bapa, Tuhan sendiri, untuk memuji bagaimana Allah Anak menjadi Hamba-Nya. Dua kali waktu Yesus di dunia, langit terbuka dan Allah Bapa mengatakan inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarlah olehmu akan Dia. Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarlah kepada-Nya. Bapa demikian antusias, demikian sungguh-sungguh untuk memperkenalkan Kristus Anak-Nya, karena inilah Anak yang menyenangkan Bapa, inilah Anak yang menjalankan kehendak Bapa. Tetapi bagaimana kita bisa menguraikan Yesus menyenangkan Bapa, berkenan kepada Bapa? Kecuali engkau mengerti bagian yang engkau baca.

Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupegang. Istilah yang Kupegang adalah yang Kujunjung, yang Kulindungi, yang Kutegakkan. Ini berarti orang yang bagaimanapun lemah, tidak usah takut. Bagaimanapun tidak kuatnya kita tetap tidak usah kecewa, karena ada yang memegang kita, ada yang memimpin dan yang menegakkan kita, sehingga kita tidak jatuh. Banyak pemuda-pemudi yang merasa ada panggilan Tuhan, tapi tidak berani menginjakkan langkah pertama kepada pimpinan Tuhan hanya karena takut jatuh, takut lemah, takut tidak bias menjalaninya sampai selesai. Saya tahu ada orang yang terlalu berani menyerahkan diri menjadi Hamba Tuhan dan tidak kuatir, tidak takut, namun akhirnya jatuh. Tapi justru saya melihat ada orang-orang yang yang dari permulaan takut jatuh, takut lemah, takut tidak bisa selesaikan tugas yang Tuhan berikan, namun justru kalau orang itu menyerahkan diri pasti lebih baik dari mereka yang merasa diri sanggup. Karena Tuhan memberkati orang yang rendah hati. Tuhan akan melakukan mujizat atas orang yang merasa diri lemah. Tuhan akan menyatakan kuasa-Nya melalui kelemahan manusia. Karena kita menganggap diri hebat, menganggap diri kuat, menganggap diri sanggup, maka pelayanan kita selalu dihambat oleh kesombongan kita. Tapi jikalau kita merasa diri kurang, merasa diri miskin, merasa diri perlu Tuhan, di situlah engkau akan menjadi kuat karena Tuhan memegang engkau.

Lihatlah Hamba-Ku ini yang Kupegang. Tidak ada orang yang sanggup menjalankan kehendak Tuhan, kecuali dipegang dan dipimpin oleh Tuhan sendiri. Tidak ada seorang mungkin menjadi sempurna dan tidak jatuh, kecuali Tuhan memelihara dia sendiri. Dan Yesus dengan lembut mengatakan: Akulah pokok anggur atau Akulah pohon anggur. Anggur boleh disebut pokok anggur atau boleh disebut sebagai pohon? Kalau boleh, maka itu adalah pohon yang paling lemah di antara semua pohon yang paling lemah di antara semua pohon. Waktu Tuhan Yesus memilih suatu tumbuh-tumbuhan untuk mengibaratkan diri-Nya sendiri, maka Dia memilih yang paling lembut. Waktu Tuhan memilih sejenis binatang untuk melukiskan siapa dia, dia justru memilih domba yang paling lembut. Yesus tidak mengatakan: Akulah singa, Akulah badak, Akulah gajah yang besar, Akulah harimau! Tidak! Yesus mengatakan anak domba Allah-lah Dia. Alkitab memakai domba untuk mewakili Kristus. Yesus sendiri memakai pokok anggur untuk mengibaratkan diri. Begitu lembut maka dikatakan Tuhan Bapaku adalah yang membentuk Aku.

Pohon anggur adalah yang paling lembut dan yang paling tidak bermodel. Maka kalau engkau membuat pagar yang panjang untuk pokok anggur, pokok anggur itu akan menjadi pokok anggur yang panjang. Engkau membuat pagar yang tinggi, dia akan merambat menjadi tinggi. Yang lebar, maka dia akan menjadi lebar. Kalau yang kecil, dia akan menjadi kecil. Tidak ada kehendak sendiri di dalam pembentukannya. Dia tahu saya ada di tangan Bapa, biarlah Bapa yang telah mengutus aku, membentuk aku sesuai peta teladan yang Dia mau. Aku adalah pokok anggur dan Bapa-Kulah yang membentuknya. Lihatlah Hamba-Ku yang Kupegang. Janganlah takut menjadi Hamba Tuhan, karena Tuhan memegang engkau. Semua yang menyerahkan diri sungguh-sungguh akan membuktikan kalimat ini benar. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Tanyalah kepada semua orang yang sungguh-sungguh melayani Tuhan, adakah yang dibuang Tuhan? Tidak ada. Tapi tidak terlalu kaya tidak apa-apa, kan? Banyak orang kaya sekarang di mana? Liem Sioe Liong, Samadikun, Prayogo? Orang kaya buat apa? Pada waktu sombong dengan kekayaannya mereka tidak perlu dipegang oleh Tuhan, daripada orang kaya yang pegang uang. Jadilah Hamba yang dipegang oleh Tuhan!

Kalimat kedua, Tuhan memuji Kristus dengan perkataan bahwa Dia adalah yang Aku pilih. Dia adalah pilihan-Ku, yang dipilih oleh Tuhan. Setiap kali berbicara tentang pilihan, berbicaralah langsung tentang kedaulatan Allah. Dipilih berdasarkan kedaulatan Allah, dipilih berdasarkan kehendak Allah. Orang-orang dipilih bukan karena mereka cukup. Kaum pilihan bukan karena ada syarat dalam diri, sehingga kita dipilih. We are chosen not because our own qualification, our condition. No! Absolutely no! Definetely no! We are chosen because the wisdom and the power sovereignty of God Himself by His grace that we are chosen. Sola gratia. Lihatlah Hamba- Ku yang Kupilih. Seorang Hamba Tuhan yang berkenan kepada-Nya harus berpegang pada Tuhan, ditegakkan oleh Tuhan, dipelihara oleh Tuhan sendiri dan bukan bersandar diri. Seorang yang diperkenan oleh Tuhan adalah seorang yang menerima pilihan Tuhan. Bukan engkau yang memilih Aku. Dengan sesungguhnya Aku berkata kepadamu, “Akulah yang telah memilih engkau.” Dengan demikian setiap orang yang melayani Tuhan harus sadar, kalau kita dipilih, dipakai, dan masih dihargai oleh Tuhan. Jangan lari, tetapi terimalah pilihan Tuhan.

Di dalam pelatihan majelis ada pertanyaan, “Kalau saya dipilih menjadi majelis, bolehkah saya menolak?” Waktu saya menjawab pertanyaan ini, saya gentar. Ada orang yang tidak menghargai kesempatan yang dari Tuhan. Saya menjawab, jikalau engkau dipilih, lebih baik engkau  menerima. Ketika Livingstone meninggal, jantungnya dikuburkan di Afrika, lalu tubuhnya dikirim kembali ke London. Sewaktu dikebumikan upacaranya begitu mulia, begitu meriah, tetapi di pinggir peti yang sedang diusung, ada seorang tua yang terus menangis-nangis tak habis-habisnya. Maka seorang bertanya kepada dia, “Uncle, why are you crying all the way? Mengapa engkau begitu sedih?” Dia menjawab, “Sesungguhnya, aku dan Livingstone sama-sama dipanggil Tuhan. Dia taat, namun saya menolak. Dan sekarang saya melihat hidupku begitu gagal, sedangkan dia dipakai Tuhan dengan luar biasa. Sekarang dia sudah meninggal, saya melihat dengan mata sendiri begitu dihormati orang karena dia menjalankan Kehendak Allah.

Tapi saya pernah menolak Tuhan.” Orang tua ini menyesal, sedih di sepanjang jalan dan memegang peti Livingstone, dan menangis dengan tidak habis-habisnya. Jikalau engkau dipilih, janganlah menghina kepercayaan Tuhan kepadamu. Jikalau digerakkan Roh Kudus, janganlah menolak. Jikalau Tuhan tidak memakai engkau, tidak apa-apa. Bagi Tuhan tidak apa-apa, yang celaka adalah engkau. Tuhan tidak memerlukan saya, Tuhan tidak memerlukan engkau. Kalau Tuhan mau memakai, malaikat lebih cepat cara kerjanya. Tapi Tuhan justru mengindahkan kita yang berdosa, karena dia mengetahui kita perlu mengalami kematian, kebangkitan Kristus sebagai pengalaman diselamatkan yang tidak ada pada dunia malaikat. Maka Tuhan tidak mengutus malaikat untuk mengabarkan Injil. Tuhan mengutus anak-anak Adam yang berdosa dan bertobat, yang benar-benar sadar dan mengalami anugerah Tuhan untuk menjadi Hamba-Nya. Saudara-saudara sekalian yang Kupilih. Lihatlah Hamba-Ku yang Kupegang yang Kupilih.

Kalimat ketiga dari Tuhan Allah kepada Anak-Nya: yang kepada-Nya Aku berkenan. Anak yang menyenangkan Bapa, penghiburan terbesar terhadap Bapa yang berletih lesu, berbanting tulang untuk bekerja membesarkan dia. Orang Kristen yang menyenangkan hati Tuhan, menghibur Tuhan yang pernah mati dan dikuburkan dan yang pernah menerima kutukan, cambukan, pukulan, hukuman mengganti engkau dan saya. Yang berkenan kepada-Ku, Dia berkenan di mata-Ku, Dia menyenangkan Aku. Kalau kalimat ini keluar dari Tuhan tentang hamba siapapun, hamba itu adalah hamba yang sungguh-sungguh setia dan baik dan sukses dalam pelayanan. Anak yang baik menyenangkan Bapa. Hamba yang baik menyenangkan tuhannya. Yesus Kristus yang diutus ke dunia telah menjadi seorang hamba yang memperkenankan hati Bapa di surga dan Bapa mengatakan lihatlah Hamba-Ku yang berkenan kepada-Ku.

Kalimat keempat, pujian Tuhan kepada Yesus Kristus adalah: Aku telah menaruh Roh-Ku ke atas-Mu. Seorang hamba Tuhan yang baik, Hamba Tuhan diperlukan adalah Hamba Tuhan yang melayani di dalam kuasa Roh Kudus. Di dalam ayat ini kita langsung melihat Tritunggal muncul. Bapa memuji Anak karena menerima Roh Urapan. Bapa mengirim Yesus dengan urapan Roh Kudus yang berada di dalam diri-Nya. God sent Me with His Spirit. Allah mengirim Aku di dalam Roh-Nya. Roh Allah berada di diri-Ku. Kalimat ini sudah Tritunggal. Ini dikutip oleh Yesus pada waktu berada di rumah sembahyang di sinagoge di Kapernaum. Dia membaca Kitab Suci bahwa Yehovah mengirim Aku dengan Roh-Nya. Roh Allah berada di diri-Ku. Maka Yesus melayani dengan baik. Percayalah kalimat di bawah ini, bahwa tanpa Roh Kudus tak ada orang bisa menjadi Hamba Tuhan yang baik. Tetapi saya katakan satu kalimat. Sekarang banyak orang yang khusus berkhotbah tentang Roh Kudus, justru adalah orang yang salah mengerti makna Roh Kudus dalam Kitab Suci. Orang paling banyak berbicara tentang Roh Kudus, justru adalah orang yang paling tidak mengerti tentang Roh Kudus. Hal seperti Toronto Blessing, itu bukan blessing itu cursing. Itu kutukan, karena menjadikan anak-anak Tuhan makin tidak mengerti makna Alkitab. Makin menyeleweng kepada ajaran yang benar, makin kabur dengan kebenaran, makin mencampuri segala fenomena supranatural dengan pekerjaan Roh Kudus yang sah, sehingga gereja tidak bisa apa-apa. Di manakah Toronto Blessing sekarang? Sudah habis bukan? Engkau harus hati-hati. Engkau harus diurapi Roh Kudus. Engkau harus bersandarkan Roh Kudus. Engkau harus berkuasa Roh Kudus. Engkau harus taat kepada Roh Kudus. Engkau harus berjalan di dalam Roh Kudus. Engkau harus berani berkotbah berdasarkan kuasa Roh Kudus. Tetapi sebelum itu, pengertian doktrin Roh Kudus harus dibenahi terlebih dahulu. Yesus Kristus dipenuhi oleh Roh yang tidak terbatas. Yohanes 4 – Yesus Kristus diurapi oleh Roh, sehingga Dia membicarakan tentang Allah, tentang Firman Allah. Setiap kalimat bertanggung jawab dan sesuai dengan seluruh kasih karunia Roh yang telah mewahyukan Kitab Suci, yang membawa gereja masuk ke dalam segala kebenaran. Jangan percaya kalau Roh Kudus membuat kita tidak sadar. Jangan percaya kalau Roh Kudus datang, lalu kita pingsan tidak tahu apa-apa. Tidak ada ajaran seperti itu di dalam seluruh Kitab Suci tentang doktrin Roh Kudus. That is not biblical and not Christian. Itu bukan ajaran Kristen, itu bukan Alkitab, itu bukan ajaran bapa-bapa gereja. Itu bukan ajaran Rasul, itu bukan ajaran para Reformator yang senantiasa mengingatkan kita kembali kepada Alkitab, back to the Bible. Augustinus mengatakan jikalau Anda menemukan apa yang saya tulis tidak sesuai dengan Kitab Suci, tinggalkan saya. Kembali ke Alkitab. Para Reformator mengatakan: biarlah kita kembali kepada Alkitab – Sola Scriptura.

Di luar Kitab Suci yang diwahyukan, kita tidak terima ajaran apapun. Biarlah kita memegang prinsip yang penting seperti ini, jangan terlalu percaya kepada segala hal supranatural, yang kelihatan aneh, heran dan tidak pernah diketahui. Roh Kudus bekerja bukan dari apa yang kau lihat, tapi dari apa yang kau lihat, tapi dari apa yang kau baca dari Kitab Suci. Jikalau Roh itu datang, Yesus berkata, “Dia akan ingatkan kembali kepadamu apa saja yang pernah Aku bicarakan kepadamu.” Jadi Roh Kudus memimpin pikiran manusia ke dalam Firman. Roh Kudus membawa pikiran manusia kembali kepada apa yang dikatakan di dalam Firman Tuhan. Roh Kudus tidak akan membuat pikiranmu kabur atau membuat engkau pingsan di dalam keadaan yang tidak sadar. Tidak!

Marilah kita menjaga perintah Tuhan dan prinsip Alkitab dengan baik-baik. Bapa memberikan pujian tentang Anak-Nya. Secara prinsip, Dia dipegang oleh Tuhan, Dia menerima pilihan Tuhan, Dia diutus oleh Tuhan, Dia diberikan Roh Kudus oleh Tuhan, Dia berkenan kepada Tuhan. Lalu berkenan dalam hal apa? Dalam hal apa dia menjadi contoh bagi kita? Dalam terjemahan Alkitab yang lain ada 7 kali kata ‘tidak’ yang harus kita perhatikan. Dalam Alkitab terjemahan Indonesia hanya ada 5 kali kata ‘tidak’. Saya akan membacakan tentang kata ‘tidak’ yang ada di sini. Pertama dalam ayat kedua: Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara-Nya. Terjemahan lain: Ia tidak akan berteriak dan tidak menyaringkan suara-Nya. Yang ketiga: ‘tidak memperdengarkan suaranya di tengah-tengah jalan yang besar.” Tiga buah kata ‘tidak’ ini, berarti ada suatu sifat yang sangat indah dari Hamba Tuhan yang sangat setia. Bukan mau menonjolkan diri, bukan mau memuliakan diri, bukan terlalu cepat mau memperkenalkan diri. Hal ini sangat diperlukan. Terlalu banyak pemuda-pemudi yang mau menyerahkan diri dan sesudah menyerahkan diri langsung mau menonjolkan diri, langsung mau dikenal, langsung mau terkenal sejagad. Tuhan berkata, “Lihat, Hamba-Ku, Dia tidak menyaringkan suara, Dia tidak berteriak-teriak dan tidak memperdengarkan suaranya di jalan-jalan besar. Dia adalah seorang yang tahu diri, bagaimana lembut, bagaimana taat,  bagaimana menyembunyikan diri di belakang kemuliaan Tuhan Allah. Biar bukan Dia yang terdengar tapi Tuhan yang didengar. Bukan Dia yang terkenal, tapi Tuhan yang dikenal.”


Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Sumber : http://www.nusahati.com/2012/08/teladan-pelayanan-kristus-bagian-i/

Tidak ada komentar: